Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#30
PART 13


Sesampainya di kos, seperti biasa aku berdiam di kamar. Di depan tv yang menyala, aku merokok bertemankan botol sofdrinkyang berdiri tegak. Pintunya sengaja kututup. Semua kamar di kos ini memang dilengkapi blower jadinya nggak akan kerasa pengap. Saat itu aku sambil berkirim pesan sama anak-anak. Membahas dan menertawakan kejadian tadi seolah kami memang merayakannya.

‘Tok tok tok.’

“Ya?”

‘Tok tok tok.’

“Siapa?”

Karena tak ada jawaban, seketika aku langsung keingat malam itu. Malam di mana aku hendak malmingan sama si Wiwid.

‘Bang Eljas?’ terkaku dalam hati.

Pintu terus diketuk selagi aku bangkit. Kuakui aku sedikit ragu. Dan perasaan itu spontan berubah ketika pintunya kubukakan.

“Yesi?” aku heran. "Kamu ngapain ke sini?"

Yesi tak menjawab. Tatapannya sarat akan rasa kesal. Rautku yang heran lalu melunak dengan sendirinya, pertanda paham kalau sedang diceramahi walau secara bisu. Masih belum mengatakan apapun, Yesi kemudian masuk tanpa disuruh.

“Ngapain kamu ke sini?” tanyaku lagi ketika akan duduk di sebelahnya.

“Kamu jadi berantem juga rupanya,” akhirnya dia bicara juga. Datar dan nggak nyambung. Setelahnya dia mengibas-ibas udara. Dan aku yakin kalau dia hanya lagi reaktif. Jelas-jelas sirkulasi kamarku baik sekalipun pintunya ditutup. Jadi dasarnya jelas kalau rokokku nggak akan kumatikan.

“Kamu ngapain ke sini?” lagi-lagi kutanya dia dengan pertanyaan yang sama.

“Kenapa emangnya?”

“Lha, kok malah kenapa?”

Yesi menoleh. Sebentar kemudian dia bangkit dan akan keluar. Maunya apa, entah. Aneh, jelas. Gila, palinganlah.

“Kamu ini kenapa sih?” kutangkap tangannya. “Datang-datang nggak jelas gini. Ditanyain malah pergi.”

Yesi masih diam selagi tangannya kugenggam. “Aku belum makan.”
............
.............
“Temenin ya,” katanya lagi.

Aku hanya mengangguk.

Kami kemudian pergi ke tempat makan di dekat kosku. Sebuah warung gado-gado yang letaknya di komplek perumahan, bukan di tepi jalan raya. Udah nggak bising, teduh lagi karena ada pohon besarnya. Kami memilih salah satu meja yang ada di luar. Persis di bawah pohon.

“Kamu anak tunggal kan?” kata Yesi di sela-selanya. Santapan kami saat itu udah tinggal setengah.

“Iya. Kan aku udah pernah bilang juga.”

“Kamu itu pernah kesepian nggak sih?”

“Nggak juga. Ada anak-anak.”

“Ya itu aku taulah o’on. Maksudku itu yang lain.”

“Yang lain gimananya?” aku bingung beneran sekarang.

“Maksudku itu kalau kamu di rumah.”

Aku terdiam sebentar. Pertanyaan Yesi membuatku keingat lagi soal situasi di rumah. Aku membencinya. Aku tahu ada begitu banyak anak yang senasib denganku. Kami berkecukupan dan kekurangan di waktu yang bersamaan. Aku benci berada di rumah. Biar kata besar, tapi buatku itu bukan rumah, melainkan gua. Kalau bukan musik yang kusetel keras-keras, asupan telingaku nggak jauh-jauh dari teriakan soal kesalahan masing-masing. Siapa lagi kalau bukan dua orang itu, sepasang manusia yang memperlakukan rumah itu layaknya tempat singgah. Aku berontak, aku bilang nggak betah di rumah dan aku nggak mau sekolah di sana. Kukira rencana ini akan berhasil. Tapi alih-alih berubah untuk menahanku di sana, mereka nyatanya mengizinkanku untuk sekolah di sini. Aku sempat dipaksa untuk tinggal bersama pamanku, tapi aku nggak mau.

“Ya kalau di rumah ya aku main ke tempat temenkulah.”

“Ish..susah banget sih ngomong sama kamu.”

Ponselku bergetar. Pesan masuknya langsung kubaca.

‘Kakak di mana? Kakak tadi habis berantem ya emoticon-Frown .

“Kayaknya enak banget ya kalau punya adik gitu.”

“Eh? Apa Yes?”

“Kayaknya enak banget kalau nggak cuma sendirian di rumah.”

“Ya....enak paling?” tanggapku sebelum mengetik, ‘lagi sama anak-anak. aku nggak apa-apa kok wid’.

“Aku itu pingin banget lagi, punya adik gitu. Ada yang bisa dimarahin.”

“Nggak ada bedanyalah perasaan,” sambil tersenyum aku coba menyindirnya. Kali aja dia ngerasa.

“Kamu kenapa sih ‘Ang? Kamu itu kan sekolahnya jauh dari orang tua. Udah kelas tiga lagi. Berubah kenapa sih.”

“Udahlah Yes. Jangan dibahas lagi. Kalau mau ya besok aja. Aku udah siaplah. Sekarang ini makan aja udah.”

Yesi ketawa. “Kayak yang mau diapain aja.”

“Kamu ini hobinya nyiksa orang. Nggak nyadar apa kamu?” aku pura-pura pasang raut kesal.

“Yeeee...itu mah memang kamunya aja yang pantes digituin.”

Kami masih berada di sana ketika selesai makan. Lebih tepatnya selama satu batang rokok. Kaum adam pastinya tau perut kencang ditambah nikotin itu rasanya seperti apa.

Setelahnya Yesi pun kuantarkan ke rumah.

“Helmnya?” aku sambil mengulurkan tanganku.

“Ngapain?”

“Ya baliklah.”

“Masuk dulu gih. Aku males kalo sendirian di rumah.”

“Emang lagi pada ke mana?”

“Ayah sama Ibu lagi keluar. Kakak juga. Baru dijemput pacarnya tadi.”

“Pulang aja sih.”

“Udaah,” Yesi sambil melepas kunci motorku. “Di rumah ada obat tuh buat bersihin muka.”

“Yaelah, mukaku nggak parah kali Yes," aku berkata heran. Dan Yesi sepertinya nggak peduli. Setelah membuka pintu pagar, ia kemudian mengambil kunci rumah yang sudah diletakkan di bawah pot bunga. Aku sendiri masih berada di atas motor. Sadar akan sesuatu, Yesi yang berdiri di teras pun menoleh lagi.

“Masuklah. Aku mau ngomongin sesuatu. Penting.”

Kenapa nggak sekalian tadi sih, aku membatin.

***
Diubah oleh kawmdwarfa 17-09-2016 09:03
ariefdias
ariefdias memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.