Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#28
PART 12


Kami berada di kantin hingga bel pergantian pelajaran berbunyi. Langsung masuk ke kelas setelah gurunya kami lihat masuk ke kantor. Kedua orang itu kembali meja mereka, sedang aku kembali ke bangkunya Risma, orang yang hari ini nggak masuk entah karena apa.

“Serius tadi Chok?” sambut Ikmal ketika Choki sudah duduk di kursinya. Aku bisa dengar karena barisan mejanya memang bersebelahan.

“Seriuslah.”

“Trus gimana?”

“Ya nggak gimana-gimana,” jawab Choki lagi.

“Beneran ya ‘Ang?” Yesi tahu-tahu sudah berdiri di sebelahku.

“Apanya?” kujawab dia tanpa menoleh.

“Kalian mau berantem?”

“Siapa yang bilang?”

“Aku denger ya mereka ngomongin apa.”

“Percaya amat. Becandaan doang itu.”

“Jangan bodoh sih jadi orang,” Yesi tiba-tiba jadi ketus.

“Apaan sih.”

“Ngapain sih kalian pake berantem-berantem? Didiemin aja udah.”

“Kamu ini tau apa sih Yes?”

“Nggak tau apanya? Kalian di mana-mana sama aja. Gengsi kan kalian kalau dibilang takut. bodoh mah iya.”

Yesi sepenuhnya benar. Aku memang takut. Dan aku nggak mungkin ngaku karena dia udah bikin aku tambah kesal.

“Kamu tau apa soal kebersamaan? Kamu nggak tau apa-apa. Udahlah diem aja.”

Anjriiit. Bawa-bawa kebersamaan lagi.

“Idiiih. Ngayaaa,” sahutnya enteng. Senyumnya asli nggak ngenakin banget. “Ya udah, terserahlahlah ya. Syukur-syukur masuk rumah sakit, apa ditangkap polisi sekalian. Biar nggak usah lulus sekalian kamunya,” katanya lagi sebelum kembali ke mejanya.

Sialan ini anak.

“Kalian mau berantem ‘Ang?” tanya teman semejaku, khusus untuk hari ini.

Aku lalu menoleh. Dan sepertinya dia paham sekalipun aku nggak menjawab. Aku yang malas bicara ini udah kebantu sama raut wajahku sendiri.

Guru masuk ke kelas tak lama setelah itu. Pelajaran berlangsung sama seperti yang sudah-sudah. Aku nggak tahu sama anak-anak, tapi aku melewatkan jam pelajarannya dengan memikirkan soal nanti. Menerka-nerka akan sebonyok apa wajahku nanti, dan itu belum termasuk apa yang akan kami alami setelahnya mengingat kami udah dikasih gara-gara sama adiknya seorang anggota geng motor.

‘Ya Tuhaaan,’ aku membatin. Aku yang hampir nggak pernah ke gereja ini seketika jadi religius. Terakhir kali perasaan ini muncul adalah ketika aku berada di dalam pesawat.
....................
....................
....................
....................
‘TEEEET’

Hah? Dilangkap langsung ke pulang sekolah?

Memang bangke nih penulisnya!!! emoticon-Nohope

Kami berlima jadi orang yang terakhir keluar dari kelas. Kami nggak melihat keberadaan Hendro dekaka mulai dari keluar kelas sampai ke parkiran. Terus terang aku lega. Harapku itu mereka lupa, atau memang udah pulang duluan. Aku sempat lega tapi cuma sebentar. Ketika kami udah ngambil motor masing-masing, kami rupanya nggak langsung pulang. Choki menyuruh kami untuk berhenti di satu kios kecil di depan sekolah.

“Mau ngapain Chok?”

“Kita tunggu aja di sini.”

“Nggak pulang aja?”

“Sama aja ‘Ang. Aku tau si Hendro kayak apa. Nggak jadi sekarang pun, kita pasti diincer terus. Lebih cepat lebih bagus.”

“Oh......okelah.”

Siaal emoticon-Frown

Dengan batang sigaret di sela jari, kami berdiri di sebelah motor masing-masing, berbarengan dengan anak-anak lain yang tengah menunggu angkutan. Dani juga ada di sana. Sebelumnya Choki sempat bilang kalau dia nggak perlu ikut. Dia nggak mau kalau Dani sampe kenapa-kenapa.

Aku kira ini nggak adil.

Sejauh yang bisa kukira, mungkin karena Choki ngerasa nggak enak secara Dani ini anak yang paling baik dan lurus dibandingkan kami berempat. Dia nggak ngerokok dan minum. Kemarin waktu ulang tahun si Choki pun, dia tetap ikut kami ke rumah Ikmal tapi dia nggak ikut minum. Kelakuannya selaras sama wajahnya yang....gimana ya ngomonginya? Pokoknya kayak teduh gitulah. Beda sama Choki, Jhon, Ikmal, yang punya tampang degil dengan kadarnya masing-masing. Aku sendiri nggak tau mendeskripsikan wajahku seperti apa, tapi anak-anak pernah bilang kalau wajahku rada oriental gitu. Aku kira ya itu karena gen titipan ibuku, yang keluarganya berasal dari pulau Nias. Dan Dani pernah bilang kalau namaku itu harusnya bukan Yohan, tapi Li Ceung Su, kepanjangan dari P#li Ngaceung Suwi.

Asyik-asyiknya kami bercerita, ada satu orang yang terlihat dari seberang jalan. Seragamnya berbeda. Ia lalu menyebrang seperti biasa.

Memang disengaja.

“Woy anj#ng!!!” dia langsung nyerapah sambil menunjuk ke arah kami. Kami yang tadinya nggak gitu memperhatikan seketika terkejut. Jelas udah, ini pasti anteknya si Hendro juga. Dan kami tambah kaget karena kawanan itu muncul tiba-tiba dari arah pemukiman warga di sekitar kios.

Kami disergap.

Pelajar asing tadi langsung menyerang Choki sedang sisanya menyerang kami. Suasana seketika jadi rusuh. Kami terpecah karena dikejar-kejar. Perempuan-perempuan yang saat itu tengah menunggu angkutan langsung histeris ketakutan. Bangs#t, semuanya terjadi begitu cepat. Aku bisa melihat Jhon sedang menginjak-injak seseorang sebelum ia kena terjang dari belakang. Choki yang dikepung tiga orang termasuk Hendro bertahan sebisanya. Apapun yang ada di dekatnya ia pakai menjadi senjata. Ikmal sendiri sudah tersungkur di tanah berikut injakan-injakan. Dan aku sendiri hendak diserang seseorang dari arah samping. Refleks mengelak, tapi pukulannya masih bisa menyambar telingaku. Rasanya panas. Aku terus diserang tapi aku hanya bisa lari-lari nggak jelas. Dani untungnya bisa selamat. Ia sempat ke kios tepat sebelum situasinya menjadi rusuh. Hendro dan kawan-kawannya otomatis terlalu sibuk buat merhatiin Dani.

Situasi itu tak berlangsung lama. Kejadian itu dengan cepatnya sampai ke guru dan satpam yang belum pulang. Mereka spontan datang dan teriak marah-marah untuk membubarkan kami. Penolong bagiku, pengganggu bagi mereka yang membenci ‘kentang’.

Kami pun bubar. Hendro dan antek-anteknya berlalu berikut isyarat kalau ini masih belum selesai. Kami kemudian pulang, tapi bukan ke rumah masing-masing, lebih-lebih rumahnya Ikmal. Berniat untuk mendinginkan kepala, kami pun mencari kios kecil yang jaraknya jauh dari sekolah. Sengaja menjauhi area yang kami rasa cukup rawan. Kami nggak mau ada serangan susulan. Kami harus benar-benar beristirahat. Di kios itu kami kami bersantai dengan minuman ringan dan tentunya rokok. Dari kami semua, wajahnya Choki jadi yang paling parah. Disusul Ikmal, Jhon, dan tentu saja aku di urutan terakhir.

Aku terus terang malu.

***
Diubah oleh kawmdwarfa 31-08-2016 15:36
ariefdias
ariefdias memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.