Kaskus

Story

uclnAvatar border
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR
PENDEKAR SLEBOR


Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta



Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.

Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).

Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan

Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.

Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..

Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.

Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..

And Here We Go.....

I N D E K S


Spoiler for Indeks 1:



TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya


GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
anasabilaAvatar border
regmekujoAvatar border
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.9K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
uclnAvatar border
TS
ucln
#66
Part 2

Sementara itu jauh dari pasar, seorang anak tengah duduk santai di atas dahan pohon yang tumbuh di
sisi jalan setapak. Dia tak lain Walet, bocah sakti yang baru saja mengecoh Jiran. Jemarinya terus memainkan seruling, seperti tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Sengaja Walet duduk di sana, karena ada seseorang yang ditunggunya. Tentu saja orang yang dimaksud adalah Jiran. Walet amat tahu, lelaki itu akan melintasi jalan tempatnya menunggu. Jalan ini memang biasa dilewati, jika Jiran hendak pulang ke tempat tuan tanah Sumpena, majikannya.

Tak lama Walet menunggu. Kini, Jiran tampak melintas tepat di bawah dahan tempat Walet duduk. Lelaki bertampang kasar itu melangkah tenang. Bibirnya memperdengarkan siulan berirama kacau, seakan prajurit menang perang. Dan ketika mendengar tiupan seruling dari atas pohon yang menurut cerita penduduk setempat amat angker, Jiran menghentikan langkah sekaligus siulannya. Desas-desus tentang dedemit yang bersarang di pohon itu, berseliweran di benak Jiran. Dan seketika matanya melirik tegang ke kanan dan kiri.

Sementara di atas dahan, Walet bisa menangkap garis ketakutan di wajah Jiran. Memang, biarpun sanggup berlaku bengis, Jiran amat percaya pada takhayul. Betapa takutnya dia, jika membayangkan bentuk genderuwo yang suka mengunyah jantung manusia. Dan Walet tahu akan ketakutan laki-laki itu. Maka, ada baiknya dimanfaatkannya kepercayaan Jiran pada takhayul.

“Jiran...,” desah Walet dengan suara dibuat-buat.

Mendengar namanya disebut, Jiran makin tegang. Sebenarnya, laki-laki itu tak begitu merasa takut melewati tempat ini bila siang hari. Terangnya sinar matahari, membuatnya yakin kalau para dedemit tidak bakal gentayangan. Tapi kalau hari sudah termakan senja, apalagi ditambah mendung gelap di langit seperti itu? Jelas, jantungnya akan berdetak-detak keras bagai tabuhan gendang.

“Jiraaan...!”

Sekali lagi Walet memperdengarkan suara berat. Lebih keterlaluan lagi, suaranya sengaja dibuat bergetar, seperti rintihan dari alam kubur. Sedangkan lelaki bertampang kasar di bawahnya mulai blingsatan. Kepalanya menoleh takut-takut kesatu sudut paling gelap di dekat batang pohon sebesar kerbau itu. Napasnya pun mulai turun naik tak teratur. Kemudian menyusul keringat dingin membasahi keningnya.

“Jiii... raaannnthhh...,” goda Walet, kian dibuat seseram mungkin.

Sekejap, Jiran menghentikan gerak tubuhnya. Dipasangnya telinga jelas-jelas, untuk menentukan asal suara mendirikan bulu roma yang tertangkap telinganya. Yakin suara itu dari atas pohon, kepalanya segera mendongak. Untunglah, lebatnya dedaunan pohon mampu melindungi Walet. Sehingga, mata Jiran tak sempat menangkap kehadirannya. Terlebih, hari sudah demikian sunyi. Sehingga membuat kepekatan merayapi sekitarnya.

“Jirrraaannnthhh, aku hauuusss. Aku ingin me-minum darahhhmuuu, Jiran. Dan aku juga lapar. Jantungmu tentu amat lembut bila kukunyahhh....”

Napas Jiran langsung terhenti. Begitu pula detak jantungnya. Rasanya, dia bisa mati berdiri tanpa darah di wajahnya. Wajahnya benar-benar menjadi pucat melebihi mayat. Saat berikutnya....

Srak!

Walet tiba-tiba membuang tubuhnya ke bawah. Gesekan dengan dedaunan yang menimbulkan suara cukup keras, membuat Jiran tersentak bukan alang kepalang. Dan ketika matanya menangkap sesosok tubuh melayang dari atas pohon, kontan saja kedua kakinya yang sudah sejak tadi bergetar hebat bergerak. Lelaki bengis berhati kodok itu kontan lari tunggang langgang.

“Wuaaa, ampun Mbah! Jantungku jangan dimakaaan!” jerit laki-laki bertampang seram itu amat keras.

Tanpa menoleh sedikit pun, Jiran terus lari sampai tubuhnya menghilang di ujung jalan setapak. Sepeninggaran Jiran, Walet kontan tertawa terbahak-bahak. Perutnya bahkan sampai terasa sakit, melihat kejadian lucu tadi.

Plok! Plok! Plok!

Tiba-tiba tawa bocah kecil itu terpenggal oleh tepukan seseorang. Masih dengan wajah merah menahan geli, Walet cepat menoleh. Dilihatnya seorang pemuda gagah dan tampan berdiri tak jauh dari tempatnya. Pemuda berpakaian hijau muda itu dipundaknya tersampir kain bercorak catur. Sementara, rambutnya yang panjang sebahu tak teratur, membuat penampilannya makin terlihat gagah.

“Siapa Kakang ini?” sapa Walet sopan.
“Aku Andika. Kau siapa?” sahut pemuda itu, tak kalah ramah.

Siapa lagi pemuda ini kalau bukan Andika, yang kesohor dengan julukan Pendekar Slebor. Keduanya kemudian saling berjabatan tangan dengan hangat. Sesaat kemudian keduanya terlibat percakapan ringan sambil melangkah beriringan.

***


Di sebuah pondok terbengkalai di pinggir desa tampak dua orang berbeda usia sedang bercakap-cakap.
Suara mereka lamat-lamat menembus curahan hujan gerimis di luar pondok. Dan mereka memang Walet dan Andika. Keduanya tampak akrab bertukar cerita setelah tadi berkenalan. Andika sudah memperhatikan seluruh sepak terjang Walet sejak di pasar. Pemuda itu terkesan melihat keberanian bocah kurus ini dalam membela orang lemah terhadap tangan kejam Jiran. Makanya, Pendekar Slebor tertarik untuk mengenal lebih jauh.

Seperti juga Sentana, Andika pun merasa tidak ada salahnya bersahabat dengan seseorang yang usianya jauh lebih muda. Nilai sebuah persahabatan, toh tak bisa hanya dinilai dengan perbedaan usia. Secara jujur, Andika mengakui kalau ketertarikannya pada Walet, dikarenakan ada kesamaan sewaktu kecil dulu. Mereka sama-sama gelandangan, tak memiliki siapa-siapa. Dan mereka merasa senasib hingga persahabatan itu sudah seperti keluarga sendiri. Dan mereka pun sama-sama tak sudi melihat ketidakadilan, kesemena-menaan, dan kekejaman yang terjadi di depan mata. Bedanya, Andika kecil memilih jalan menjarahi pundi-pundi uang milik para penguasa lalim. Sedangkan Walet menentang orang-orang lalim dengan kekuatan batinnya.

“Jadi, Kang Andika tak tertipu oleh kekuatan batinku?” tanya Walet seraya merapatkan kain pusaka pinjaman Andika ke tubuhnya.

Andika mengangguk.

“Aku juga tidak mengerti, kenapa orang lain tertipu sedang aku tidak,” jawab Andika.
“Mmm, mungkin karena Kakang memiliki hati bersih,” duga Walet.

“0, ya?”
“Bersihnya hati Kakang Andika, karena berpegang teguh pada kebenaran sebagai amanat Tuhan. Keimanan pada Tuhan, tidak membuat orang mudah terpengaruh sesuatu...,” tutur Walet.

Mendengar ucapan bijaksana bocah kecil di depannya, Andika tertawa renyah. Dikucek-kuceknya rambut Walet seperti sikap seorang kakak pada adiknya. Andika tidak bermaksud meledek Walet. Dia tertawa, karena merasa tak percaya kalau ucapan penuh makna tadi terlontar dari bibir seorang anak sebelas tahun.

“Kau anak yang hebat. Let!” puji Andika tulus.

“Ah, masa? Setiap orang bisa berkata seperti itu, Kang. Asal dia bisa memperhatikan hidup yang dijalaninya,” sergah Walet, menghindari pujian Andika.

Lama keduanya berbincang simpang siur, berbagai kisah duka atau suka. Namun....

“Tunggu, Let...,” tukas Andika tiba-tiba.

Mata pemuda itu menyipit dan terarah ke tempat yang cukup gelap di depannya. Seolah dia hendak menembus rintik-rintik gerimis di luar.

“Ada apa, Kang?” tanya Walet heran.
“Aku melihat seorang berdiri di sana tadi. Kau tunggu saja di sini. Aku ingin menyelidikinya,” ujar Andika seraya beranjak dari pondok tua ini.

Tanpa mempedulikan kepungan hujan, Andika berlari menuju tempat seseorang yang dilihatnya tadi. Wajar saja jika kecurigaannya timbul, karena tidak biasanya seseorang berdiri di bawah curahan gerimis dan kungkungan udara dingin.

Begitu cepat Andika berkelebat, sehingga sebentar saja tubuhnya tiba di tempat tujuan. Namun ternyata di situ Andika tidak melihat orang tadi. Bagi pemuda itu, hal ini tergolong aneh. Bagaimana tidak? Tempat itu berupa padang rumput luas, yang tidak memungkinkan seserang bersembunyi. Satu-satunya tempat bersembunyi, hanya pohon besar di dekatnya.

Tapi ketika seluruh penjuru pohon diawasi, tidak juga diketemukan orang yang dicari.

“Apa mungkin dia melarikan diri?” tanya hati Andika.
“Ah! Sepertinya tidak mungkin!”

Sewaktu mendekati tempat itu, Andika telah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Di dunia persilatan, kecepatan gerak warisan dari buyutnya yang berjuluk Pendekar Lembah Kutukan, memang sulit dicari tandingan. Bila orang itu melarikan diri, tentu masih sempat terlihat. Lalu kenapa tiba-tiba orang itu menghilang bagai menyatu dengan desir angin malam?

“Aneh...,” bisik Andika, tidak mengerti.

Belum lagi keheranannya terjawab, mendadak saja ada teguran lembut di belakang Andika.

“Tuan....”

Meski sapaan itu tak terdengar keras, Andika tetap tersentak. Lagi-lagi benaknya digerayangi keheranan. Kenapa tiba-tiba pula orang itu muncul lagr? Tak ada suara sekecil apa pun yang tertangkap telinga Andika. Bahkan desah napasnya sekalipun.

Dengan gumpalan keheranan dalam benaknya, Andika menoleh ke belakang. Tampak seorang wanita cantik nan anggun berdiri tepat dua tombak di dekatnya. Saat mata Andika bertumbukan dengan wajahnya, pendekar muda itu menjadi terpukau. Tak pernah dalam hidupnya wajah secantik itu dilihatnya.

Kulitnya putih agak berpendar terang, meski suasana saat ini dirundung gelap. Matanya berhias bulu-bulu lentik, seolah menggapai langsung ke hati Andika. Hidungnya bangir dan bibirnya merekah merah delima. Rambutnya yang hitam legam sebatas pinggang, terurai bak hamparan permadani surga. Tubuhnya yang tinggi sintal diselimuti gaun kuning rembulan. Andika menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai getaran asing yang mendadak menyeruak dalam relung batinnya.

“Dia benar-benar sempurna...,” desah Andika tak sabar.

“Tuan...,” sapa wanita itu sekali lagi.

Andika terkesiap dari keterpesonaannya. Sambil mengutuki dirinya yang bersikap seperti orang bodoh, bergegas dilontarkannya senyum ramah. Namun yang terlihat di bibirnya ternyata lebih mirip ringisan seekor kuda pikun. Maklum saja, dia begitu kikuk.

“Kau..., kau ini siapa?” tanya Andika, agak tergagap.

Tak, terdengar jawaban dari bibir wanita cantik itu, kecuali membalas senyum Andika dengan keranuman bibirnya. Sehingga, memaksa jantung Andika kian berdetak tak karuan.

“Ng..., anu kau. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, kan?” kata Andika.
“Tolong aku, Tuan Pendekar,” pinta wanita itu, tak sedikit pun menjawab pertanyaan Andika sebelumnya.

Sepasang alis sayap elang pemuda gagah itu bertaut.

“Tolong? Tolong bagaimana?” bisik batin Andika lagi.
“Bencana itu..., bencana itu. Aku terpaksa melakukannya. Tolong aku, Tuan Pendekar,” lanjut wanita
cantik itu, makin membingungkan Andika.

“Tunggu dulu, Dik. Bisakah kau jelaskan padaku satu persatu?” tanggap Andika sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya kali ini menangkap bias kemurungan di wajah wanita itu.

Cukup lama Andika menunggu jawaban, tapi wanita di hadapannya tetap tertunduk dalam-dalam. Andika menggeleng-geleng kepala. Dan saat menggeleng, matanya terlempar ke arah lain.

“Bagaimana aku bi....”

Andika tak melanjutkan ucapannya, karena begitu matanya kembali pada wanita itu, dia tak menemukan siapa-siapa lagi.

“Hei.... Ke mana kau?!” panggil Andika.

Seketika Andika menyadari sesuatu yang ganjil. Ternyata wanita itu menghilang begitu saja dalam waktu demikian singkat! Padahal, Andika hanya sempat mengalihkan pandangan saat menggeleng. Maka saat berikutnya bulu roma Andika meremang.

“Siapa wanita itu?” bisik pemuda itu amat samar.

***


Wilayah Kadipaten Karangwaja yang luas, terbentang dari kaki Gunung Srandil di sebelah timur hingga Pesisir Pantai Laut Selatan. Di kadipaten itu berdiri empat perguruan besar. Masing-masing Perguruan Elang Hitam di wilayah timur, Perguruan Tangan Wesi di sebelah barat, Perguruan Naga Langit di wilayah selatan, dan Perguruan Ular Iblis di wilayah utara. Dari keempat perguruan ini, hanya Perguruan Ular Iblis yang kerap kali menimbulkan masalah di kadipaten itu. Kadipaten yang yang dipimpin Adipati Tunggul Manik ini sering dibuat susah oleh para murid

Perguruan Ular Iblis yang melanggar hukum. Kerusuhan sering diciptakan di beberapa kampung. Tabiat ugal-ugalan dan semena-mena adalah hal biasa bagi murid perguruan itu. Untuk melakukan penangkapan, para prajurit kadipaten malah dibuat kewalahan. Karena, murid-murid perguruan itu rata-rata memiliki ilmu kesaktian tinggi

Dengan alasan inilah, Adipati Tunggul Manik berulang kali mengirim utusan ke tiga perguruan lain, untuk memohon bantuan mengatasi sepak terjang Perguruan Ular Iblis. Meski begitu, persoalan demi persoalan yang ditimbulkan para murid Perguruan Ular Iblis tak kunjung selesai.

Seperti halnya hari ini, dua lelaki dari Perguruan Ular Iblis terlihat memasuki gerbang desa. Keduanya berpakaian serupa. Rompi merah tua dengan rajutan ular bertaring besar di bagian belakangnya. Pakaian itu masih dipadu dengan celana panjang warna kelabu. Kepala mereka diikat kain merah bergambar lambang perguruan, seperti di baju bagian belakang yang dikenakannya. Kegagahan tampak pada kedua lelaki muda berwajah tampan itu. Sayang, sinar mata mereka berbinar culas.

Mereka terus melangkah angkuh, memasuki jalan desa yang lengang siang ini. Tak heran, karena para penduduk yang terutama laki-laki sedang pergi ke sawah. Sedangkan para wanitanya sedang mempersiapkan makan siang untuk dibawa ke sawah nanti.

Ketika kedua lelaki itu melewati jembatan bambu yang membelah anak Sungai Lanang, seorang gadis desa berwajah cantik dan bertubuh molek kebetulan melintasi jembatan pula. Maka ketiganya berpapasan di tengah jembatan bambu.

“Ada anak kelinci, Kang Wisesa,” seloroh lelaki yang berwajah lebih muda.
“Anak kelinci yang montok dan manis, Karta,” timpal laki-laki yang dipanggil Wisesa seraya terbahak-bahak keras.

Sedangkan gadis desa yang digoda menjadi tersurut ketakutan ke sisi jembatan. Matanya membeliak ngeri, mendapati seringai nakal Karta dan Wisesa. Dia berniat lari menerobos sisi kiri jembatan, tapi Wisesa dengan sigap menghalang-halanginya.

“Kenapa terburu-buru, Nyai?” tanya Wisesa.
“Apa tidak sebaiknya kita berkenalan dulu? Siapanamamu?
“Marni,” sahut gadis itu, cepat.
“Marilah, kita ngobrol-ngobrol dulu,” ajak Karta.

Marni menggelengkan kepala. Rambutnya yang panjang tergerai bergoyang-goyang mengikuti irama gelengan kepalanya.

“Maaf, aku terburu-buru, Kang. Mau ngantar makanan buat Ayah di sawah,” tukas Marni, berusaha menolak ajakan Wisesa.

“Aaah! Hanya ngobrol saja kan tidak lama,” selak Karta sambil menjulurkan tangan untuk menjamah pangkal lengan Marni.

“Tapi, Emak sudah menunggu di rumah. Masakan buat Ayah pasti sudah matang,” tolak Marni lagi seraya berusaha mundur, menghindari tangan liar Karta dengan wajah mulai memucat.

Merasa usahanya untuk melintasi jembatan sia-sia, Marni perlahan-lahan melangkah mundur. Pikirnya, lebih baik kembali ketimbang harus berurusan dengan dua lelaki hidung belang ini. Terlebih dia tahu kalau mereka adalah anggota Perguruan Ular Iblis, biang kekacauan di Kadipaten Karangwaja.

Melihat Marni siap-siap melarikan diri, Karta mendekatkan wajahnya pada telinga Wisesa.

“Kang, mumpung tidak ada orang. Bagaimana kalau kita bawa lari perempuan ini?” bisik Karta, memberi usulan.

Wisesa melirik kawannya sesaat. Entah apa yang dipikirkannya saat itu. Yang pasti, bibirnya menyeringai jalang. Setelah itu, kepalanya mengangguk, memberi persetujuan atas usul Karta tadi. Marni tahu, gelagat itu tidak baik. Ia memang sering bertemu orang-orang seperti Karta dan Wisesa yang selalu memperlihatkan tingkah mencurigakan jika menyimpan niat busuk pada dirinya yang menjadi kembang desa.

Menyadari hal ini, Marni segera berbalik, dan lari sekuat tenaga di atas jembatan bambu. Sehingga, membuat jembatan itu bergoyang-goyang bersama suara berderit.

“Mang, kejar!” seru Karta setengah berteriak, dan langsung mengejar Marni.

Saat berikutnya, Wisesa pun mengejar gadis itu. Tiga orang berlari di atas jembatan, mengakibatkan kerangka bambu itu nyaris roboh. Deritnya riuh, seperti oleng ke kiri dan kanan, sehingga Marni terhuyung-huyung. Sementara di bawah sana, anak sungai berbatu sebesar kerbau siap menanti. Bagi Karta maupun Wisesa, jarak setinggi tujuh tombak dari jembatan ke permukaan sungai bukan masalah. Dengan tingkat meringankan tubuh yang mereka miliki, ketinggian yang lebih dari itu pun sanggup
ditaklukkan.

Tapi buat Marni, yang tak memiliki ilmu bela diri sekalipun? Ancaman terenggut maut di atas batu besar bisa saja menimpa dirinya. Rasa bingung Marni membuat keseimbangan tubuhnya tidak bisa terkuasai lagi. Tubuhnya oleng ke kiri, langsung melanggar sisi jembatan dari bilah bambu memanjang. Dorongan tubuhnya yang begitu keras, menyebabkan bambu di sisi jembatan tak kuasa menahannya.

Krak!
Bambu sisi jembatan itu patah, dan....

“Aaa...!”’

Tak ayal lagi, Marni terlempar ke bawah. Jeritan melengking yang terdengar menyayat keluar dari tenggorokannya, sehingga tercipta gema ke setiap penjuru, seperti panggilan maut.

“Bodoh! Kenapa tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menangkapnya?!” bentak Wisesa menyesali keterlambatan Karta mengejar gadis desa itu.

“Mak..., maksudku tadi hanya ingin mempermainkan dia, Kang,” jawab Karta tergagap.
“Tapi akibatnya dia jatuh ke sana!” hardik Wisesa kembali seraya menunjuk ke anak sungai. Di sana, tubuh Marni tergolek tanpa bergerak sedikitpun setelah menghantam permukaan sebongkah batu besar.

“Jadi apa harus diperbuat, Kang? Apa penduduk kampung bakal tahu?” tanya Karta, tertunduk-tunduk.
“bodoh! Aku memarahimu bukan karena takut pada penduduk kampung!”
“Jadi apa, Kang?”
“Karena kita tak jadi menikmati tubuh gadis cantik itu!”
“Ooo, aku kira apa. Kalau itu sih, aku juga menyesal, Kang,” tukas Karta seraya meringis-ringis takut.
“Ayo kita pergi! Aku tak ingin buang-buang tenaga jika penduduk desa tahu kejadian ini...,” ajak Wisesa pada Karta.

Keduanya baru hendak melangkah tapi segera diurungkan. Karena, mata mereka menemukan seseorang berdiri di ujung jembatan. Tangannya terlipat di depan dada, seperti menantang Karta dan Wisesa.
regmekujo
regmekujo memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.