- Beranda
- Stories from the Heart
Irreplacable Memories
...
TS
realmann
Irreplacable Memories
Halo sobat-sobat setia SFTH Kaskus
Seperti judul yang tertera di atas, thread ini berisi sepucuk kisah dalam hidup ane yang sudah menjadi kenangan yang tak tergantikan dan tak akan terlupakan dalam hidup ane.
Seperti judul yang tertera di atas, thread ini berisi sepucuk kisah dalam hidup ane yang sudah menjadi kenangan yang tak tergantikan dan tak akan terlupakan dalam hidup ane.
Quote:
Dikarenakan ane masih coba-coba menulis, ane sangat terbuka dengan kritik dan saran agan-agan senior dan sesepuh
Jujur ane punya mimpi untuk suatu saat nanti bisa menerbitkan sebuah buku.
Ane merasa, kaskus adalah media yang baik untuk ane memulai mimpi ane tersebut
langsung saja kita mulai dari..
Spoiler for Part 1:
Diubah oleh realmann 29-08-2016 01:10
anasabila memberi reputasi
1
5.2K
50
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
realmann
#46
Chapter 7: Kakak
Aku terbangun.
Suara Cila terdengar begitu nyata di kepalaku.
"Aduhhh, Cila tuh udah bukan siapa-siapa di hidup lu fa. Apapun yang udah dia alamin, gak usah lu peduliin lagi!" Kataku kepada diriku sendiri.
"... Tapi memang yang dilakukan cowok brengsek itu jahat. "
Ada orang di dunia ini yang mencintai dengan tulus namun dicampakkan dengan kejam. Tetapi, ada orang di dunia ini yang memperlakukan orang yang dia sukai seperti mainan yang dapat dibuang kapan saja. Ironis.
...
"oh sudah jam 8 pagi. Lebih baik aku mandi sekarang."
Celly, hari ini gereja bareng gak?
Bolehh, mau ketemuan langsung atau bareng dari apartemen aja?
Bareng aj ketemuan di MRT yoo
Aku tinggal bersama kakak mamaku dan dua sepupuku di sini. Celly adalah sepupu yang paling akrab denganku. Perawakannya ideal, berambut hitam lurus terawat, matanya sipit manis, dan sifatnya mandiri. Walau terkadang otaknya konslet karena terlalu banyak berfikir, kelucuannya itu yang membuatnya menjadi semakin menawan.
Sampai detik ini penulis menuliskan cerita, Celly masih jomblo (29 Agustus 2016, 00:41 AM)
Entah apa yang membuatnya tidak menemukan orang yang tepat baginya sampai sekarang. Terakhir Celly Pacaran adalah saat dia SMP dulu. Tidak seperti kebanyakan perempuan idola yang bergonta-ganti pasangan. Walau perlu diakui, saat SMP dulu, Celly sering bergonta-ganti pasangan karena banyak cowok yang tertarik dengannya.
Namun, menurut cerita yang diceritakan Celly kepadaku, ia tidak pernah ada hubungan serius semenjak SMA sampai sekarang. Aku tidak begitu ingat, tapi yang pasti Celly bercerita kepadaku bahwa pacar terakhirnya diputuskan karena suatu alasan yang sepele.
Benarkah begitu faktanya? Atau mungkin ada sesuatu yang lain yang tidak dapat Celly ceritakan kepadaku?
...
Seharian itu aku menghabiskan waktu dengan Celly. Makan siang berdua di restoran yang nyaman, menemani Celly membeli keperluannya, berjalan-jalan sambil asik saling bercerita, kadang kami juga bertukar pikiran mengenai suatu hal yang menarik untuk didiskusikan. Mungkin, orang yang berpapasan dengan kami berdua mengira kalau kami pacaran.
Yah, memang aku selalu merangkulnya saat berada di tempat ramai. Tapi tetap saja dia kakak sepupuku.
Namun kadang, terbesit di pikiranku senyum manis dan tawa riang Cila saat memandang muka Celly yang saat itu sedang bercanda ria denganku.
Secara objektif, sebenarnya kepribadian Celly dan Cila itu cukup jauh berbeda. Tapi begitulah perasaan orang yang kehilangan. Sedikit saja terlihat kesamaan sifat Cila yang ada pada diri orang lain, membuatku merasa bahwa Cila itu benar-benar mirip dengan orang lain itu. Memang ironis.
...
Sesampainya di apartemen, aku dan Celly melanjutkan pembicaraan kami di ruang makan.
" ... bener kann? Walau aborsi itu sama aja dengan membunuh, kalo orang itu belum ada uang untuk ngebiayain calon keluarganya, mau gak mau anak itu diaborsi dong?"
" Yaaa tapi tetep aja, selama kita mau usaha, sebenarnya pasti ada jalan kokk. Kerja serabutan kek, part-time kek, apa kek. Kan kasihan anak itu ingin lahir juga di dunia.." Ujar Celly
"Ginii, coba lu pikir deh. Sebenarnya anak itu ingin lahir atau enggak? Rasanya sih, dia bahkan belum tau rasa 'ingin' itu seperti apa. Justru, sebelum saraf-saraf di otaknya mulai menyambung dan dia bisa merasakan sakit, anak itu mesti lekas diaborsi. Lebih baik dongg daripada udah lahir terus dibuang begitu aja? Kayak di sinetron-sinetron SCTV, ada gadis ketemu anak dibuang di hutan, terus dirawat karena kasihan, tapi gadis itu dikecam karena dikira ada hubungan terlarang, terus nangis-nangis. Terus anaknya waktu udah gede dia durhaka, terus mamanya ditinggal, nangis-nangis lagi deh. Gak berapa lama kemudian, anak itu jadi batu. Tamat." Ucapku.
"HAHAHA apaan sih imajinasi lu. Lu kira malin kundang?? Malin kundang jg bukan anak pungut kalii. Ah udahlah, ini kenapa omongannya jadi serius banget sih. Tapi emang lu orangnya pemikir yah, fa"
"Begitulahh. Tapi banyak gak enaknya sih jadi orang yang pemikir loh. Terkadang gw ngiri sama orang yang bisa cuek aj sama hidupnya. Jadi, saat dia lagi diteken masalah, dia fine aj gitu."
"Loh, lu emang bisa baca pikiran dia? Biasa orang yang kayak begitu sebenarnya sedih juga tauu. Cuman dari mukanya aja cuek"
"CIYEE, itu lu yeh waktu SMP?? Pengalaman pribadi nih yaaa"
"NGGAA WOI. Itu menurut pendapat gw ajaa. Eh, lu sendiri juga ada pengalaman pribadi nih kayaknya ya? Lu sempet ngomong sekilas-sekilas begitu dulu."
"Ada sih ..."
Suara Cila terdengar begitu nyata di kepalaku.
"Aduhhh, Cila tuh udah bukan siapa-siapa di hidup lu fa. Apapun yang udah dia alamin, gak usah lu peduliin lagi!" Kataku kepada diriku sendiri.
"... Tapi memang yang dilakukan cowok brengsek itu jahat. "
Ada orang di dunia ini yang mencintai dengan tulus namun dicampakkan dengan kejam. Tetapi, ada orang di dunia ini yang memperlakukan orang yang dia sukai seperti mainan yang dapat dibuang kapan saja. Ironis.
...
"oh sudah jam 8 pagi. Lebih baik aku mandi sekarang."
Celly, hari ini gereja bareng gak?
Bolehh, mau ketemuan langsung atau bareng dari apartemen aja?
Bareng aj ketemuan di MRT yoo
Aku tinggal bersama kakak mamaku dan dua sepupuku di sini. Celly adalah sepupu yang paling akrab denganku. Perawakannya ideal, berambut hitam lurus terawat, matanya sipit manis, dan sifatnya mandiri. Walau terkadang otaknya konslet karena terlalu banyak berfikir, kelucuannya itu yang membuatnya menjadi semakin menawan.
Sampai detik ini penulis menuliskan cerita, Celly masih jomblo (29 Agustus 2016, 00:41 AM)
Entah apa yang membuatnya tidak menemukan orang yang tepat baginya sampai sekarang. Terakhir Celly Pacaran adalah saat dia SMP dulu. Tidak seperti kebanyakan perempuan idola yang bergonta-ganti pasangan. Walau perlu diakui, saat SMP dulu, Celly sering bergonta-ganti pasangan karena banyak cowok yang tertarik dengannya.
Namun, menurut cerita yang diceritakan Celly kepadaku, ia tidak pernah ada hubungan serius semenjak SMA sampai sekarang. Aku tidak begitu ingat, tapi yang pasti Celly bercerita kepadaku bahwa pacar terakhirnya diputuskan karena suatu alasan yang sepele.
Benarkah begitu faktanya? Atau mungkin ada sesuatu yang lain yang tidak dapat Celly ceritakan kepadaku?
...
Seharian itu aku menghabiskan waktu dengan Celly. Makan siang berdua di restoran yang nyaman, menemani Celly membeli keperluannya, berjalan-jalan sambil asik saling bercerita, kadang kami juga bertukar pikiran mengenai suatu hal yang menarik untuk didiskusikan. Mungkin, orang yang berpapasan dengan kami berdua mengira kalau kami pacaran.
Yah, memang aku selalu merangkulnya saat berada di tempat ramai. Tapi tetap saja dia kakak sepupuku.
Namun kadang, terbesit di pikiranku senyum manis dan tawa riang Cila saat memandang muka Celly yang saat itu sedang bercanda ria denganku.
Secara objektif, sebenarnya kepribadian Celly dan Cila itu cukup jauh berbeda. Tapi begitulah perasaan orang yang kehilangan. Sedikit saja terlihat kesamaan sifat Cila yang ada pada diri orang lain, membuatku merasa bahwa Cila itu benar-benar mirip dengan orang lain itu. Memang ironis.
...
Sesampainya di apartemen, aku dan Celly melanjutkan pembicaraan kami di ruang makan.
" ... bener kann? Walau aborsi itu sama aja dengan membunuh, kalo orang itu belum ada uang untuk ngebiayain calon keluarganya, mau gak mau anak itu diaborsi dong?"
" Yaaa tapi tetep aja, selama kita mau usaha, sebenarnya pasti ada jalan kokk. Kerja serabutan kek, part-time kek, apa kek. Kan kasihan anak itu ingin lahir juga di dunia.." Ujar Celly
"Ginii, coba lu pikir deh. Sebenarnya anak itu ingin lahir atau enggak? Rasanya sih, dia bahkan belum tau rasa 'ingin' itu seperti apa. Justru, sebelum saraf-saraf di otaknya mulai menyambung dan dia bisa merasakan sakit, anak itu mesti lekas diaborsi. Lebih baik dongg daripada udah lahir terus dibuang begitu aja? Kayak di sinetron-sinetron SCTV, ada gadis ketemu anak dibuang di hutan, terus dirawat karena kasihan, tapi gadis itu dikecam karena dikira ada hubungan terlarang, terus nangis-nangis. Terus anaknya waktu udah gede dia durhaka, terus mamanya ditinggal, nangis-nangis lagi deh. Gak berapa lama kemudian, anak itu jadi batu. Tamat." Ucapku.
"HAHAHA apaan sih imajinasi lu. Lu kira malin kundang?? Malin kundang jg bukan anak pungut kalii. Ah udahlah, ini kenapa omongannya jadi serius banget sih. Tapi emang lu orangnya pemikir yah, fa"
"Begitulahh. Tapi banyak gak enaknya sih jadi orang yang pemikir loh. Terkadang gw ngiri sama orang yang bisa cuek aj sama hidupnya. Jadi, saat dia lagi diteken masalah, dia fine aj gitu."
"Loh, lu emang bisa baca pikiran dia? Biasa orang yang kayak begitu sebenarnya sedih juga tauu. Cuman dari mukanya aja cuek"
"CIYEE, itu lu yeh waktu SMP?? Pengalaman pribadi nih yaaa"
"NGGAA WOI. Itu menurut pendapat gw ajaa. Eh, lu sendiri juga ada pengalaman pribadi nih kayaknya ya? Lu sempet ngomong sekilas-sekilas begitu dulu."
"Ada sih ..."
Diubah oleh realmann 26-12-2016 21:50
0
