Quote:
Marlo terbangun di kamar apartemennya dengan tubuh telanjang bulat. Mata sipitnya bahkan masih terasa berat untuk terbuka sepenuhnya. Sekuat tenaga dia mencoba melirik jam weker di meja samping ranjang yang menunjukkan pukul delapan pagi.
Hari ini tak ada syuting. Jadi ada baiknya jika dia ajak saja Tabitha untuk menghabiskan hari dengan pergi ke suatu tempat. Namun wanita itu sudah menghilang, dan Marlo menyadari itu ketika tangan kanannya meraba-raba sisi di sampingnya, tempat terakhir kali Tabitha berada. Kosong.
Marlo terduduk. Kesadarannya kembali seketika. Kini dia sadar bahwa di atas ranjang besar ini, hanya tinggal ada dirinya seorang. Dia mengucek-ucek kedua matanya, dan kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tas, handphone dan baju Tabitha yang semalam tercecer di sekitaran ranjang juga sudah hilang.
Yang tertinggal, hanyalah segelas susu putih yang ditinggalkan Tabitha di samping jam weker. Marlo tersenyum manis sekali ketika menemukan segelas susu itu. Buatan Tabitha. Seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi. Bedanya kali ini, Tabitha -mungkin- terlalu tergesa-gesa pergi dan hanya sempat meninggalkan susu buatannya di meja. Tanpa sempat mengecup bibirnya dan membangunkannya seperti biasa.
Karena inilah Marlo begitu mencintai Tabitha. Bahkan perasaannya tumbuh semakin besar hari demi hari. Tabitha adalah seorang bidadari. Tanpa cela. Sebagai seorang aktor muda berwajah rupawan, Marlo telah banyak bertemu dan berhubungan dengan banyak wanita. Namun dia tak pernah menemukan yang seperti Tabitha. Wanita yang berumur lebih tua lima tahun darinya itu, tahu betul bagaimana merawat dan menerima Marlo apa adanya. Baik dan buruknya. Pertemuan pertama mereka di sebuah proses pembuatan film itu, bahkan begitu disyukuri Marlo. Setidaknya begitulah yang selalu ia ucapkan pada Tabitha setiap kali mereka menghabiskan waktu bersama.
“I love you, Tab…” Bisik Marlo lirih sambil meraih gelas berisi susu putih itu, yang lalu ditenggaknya sampai tak bersisa.
Quote:
Tabitha tersadar lima belas menit lalu dalam kondisi tangan dan kaki terikat serta kepala yang ditutup semacam karung goni. Mulutnya dibungkam dengan plester tebal berlapis-lapis sehingga jeritan histerisnya dan suara yang berusaha dia timbulkan dengan menendang-nendang apapun di sekitarnya tak terdengar sama sekali.
Kini, lima belas menit berlalu, Tabitha sudah mulai mampu menenangkan dirinya. Dia sudah bisa berfikir jernih dan dari dugaannya, kini tubuhnya berada di bagasi sebuah mobil yang sedang melaju. Dia tidak tahu siapa yang memasukkannya ke dalam ruangan sempit ini dan bagaimana dia bisa sampai di sini. Yang dia ingat terakhir kali hanyalah malam menggairahkan bersama si culun Marlo di apartemennya seusai mereka pulang dari lokasi syuting. Sesudah itu dia tertidur, dan bangun dalam kondisi seperti ini.
Ini penculikan! Fakta itu menghentak di pikiran Tabitha seketika. Dia diculik…dan bisa saja sebentar lagi dia terbunuh!
Mobil yang membawa tubuhnya berhenti, disusul suara mesin yang mati. Tabitha kembali meronta hebat. Ketenangan yang berusaha dia bangun dengan keras tadi, kini runtuh sudah. Nafasnya mulai memburu. Keringat dingin semakin deras mengucur.
Walaupun dengan kondisi mulut terbekap, Tabitha tetap berusaha berteriak sekencangnya ketika telinganya menangkap sebuah bunyi klik dan udara segar langsung menyerbu tubuhnya. Tiga detik kemudian, sepasang tangan menggenggam kedua belah kaki Tabitha dan berusaha menyeretnya keluar. Tabitha berontak, dan mungkin karena itulah si pemilik tangan menampar wajahnya yang terbungkus karung itu keras-keras. Empat kali.
“Tolooong!! Tolooonggg!! Jangan bunuh saya!!!” Setidaknya begitulah yang ingin dikatakan Tabitha pada orang itu. Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah rontaan-rontaan yang tak jelas. Terhalang oleh plester berlapis yang membungkam mulutnya. Dan orang itu tak peduli. Dia berhasil menggulingkan tubuh Tabitha ke tanah dan lalu menyeretnya. Seperti menyeret binatang.
“Saya akan berikan apapun yang kamu mau!! Apapun!! Tapi jangan sakiti saya!! Tolooonngg!!!”
Tentu saja si penculik tak mendengarnya. Dia tetap menyeret Tabitha tanpa mau tahu bagaimana perihnya ketika kulit mulus Tabitha bergesekan dengan tanah, kerikil dan…lantai semen?
Orang ini pasti membawaku ke sebuah ruangan, pikir Tabitha. Benar saja. Tak lama, si penculik melemparkan kedua kaki Tabitha begitu saja, dan gantian mengangkat tubuhnya. Dia didudukkan pada sebuah kursi. Tubuhnya dipaksa tenang dan lalu sebuah tali tambang diikat melingkar. Erat. Dan sekarang…Tabitha sama sekali tak bisa lagi bergerak.
Pada titik seperti ini, wanita pada normalnya akan merasakan suatu kepasrahan. Titik dimana ia akan memutuskan untuk menyerah sepenuhnya. Rela dan siap menghadapi apapun yang akan terjadi berikutnya. Walaupun itu adalah kematian.
Dan ketika karung goni yang menutupi kepalanya itu dibuka, yang pertama kali Tabitha alami adalah rasa perih yang menyerang kedua bola matanya akibat dari pancaran sinar matahari yang menerobos tiba-tiba. Beberapa saat, setelah matanya mulai mampu menerima terpaan cahaya, yang Tabitha lihat adalah sebuah tangan yang menggenggam pistol revolver berwarna hitam.
“Hai Tabitha…” Itulah kalimat pertama yang diucapkan si penculik, sambil melangkah mendekati Tabitha dan membuka sumpalan plester di mulutnya.
Dingin. Itulah yang dirasakan Tabitha ketika moncong revolver itu menyentuh dahinya.