Kaskus

Story

watashiwapsychoAvatar border
TS
watashiwapsycho
TERNYATA DIA DISINI (HORROR STORY)
Percaya atau tidak, dia ada disini dan memperhatikanmu dari balik gelap gulitanya malam yang akan membuat rasa penasaranmu terjawab. emoticon-Takut

Mungkin kalian akan berfikir "Seperti tuan yang menceritakan kisahnya."

PART 1 A - Sambutan malam

PART 1 B - Sambutan Malam

PART 2 - Kolam Renang

PART 3 - Pocong 3 Meter [BEST STORY]

PART 4 - Selamat Tinggal Pemilik Villa

PART 5 - Bapak Pengendara Motor

PART 6 - Pengalaman Kakek

PART 7 - Sendirian

PART 8 - Dibalik Gelapnya Desa

PART 9 - Makam

PART 10 - Kuntilanak Laut

PART 11 - Kelapa Atau Kepala

PART 12 - Stasiun Kereta

PART 13 - Siluman Kera

PART 14 - Rumah Sakit

PART 15 - Wanita Tanpa Nama

PART 16 - ON GOING

Terimakasih telah mengikuti alur cerita ini.

Agar saya lebih sering update, tolong di apresiasi dengan cara memberi Rate bintang 5 emoticon-Rate 5 Star
tinggalkan comment, kritik, dan saran yang positif. emoticon-Toast

Cerita ini juga terbit di Wattpad.com
baca lebih mudah dengan cara klik link dibawah ini.
link : https://www.wattpad.com/story/820305...ata-dia-disini emoticon-Sundul Up
Diubah oleh watashiwapsycho 14-10-2016 19:01
anasabilaAvatar border
danjauAvatar border
danjau dan anasabila memberi reputasi
2
99.5K
317
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
watashiwapsychoAvatar border
TS
watashiwapsycho
#90
Kelapa Atau Kepala [PART 11]
Udah gak tau berapa lama gue di desa ini. Padahal izin dari sekolah cuma di kasih 10 hari. Namun hampir 2 minggu gue dan nyokap gue disini.

Desa gue itu masih minim penerangan. Jadi setiap jalannya itu gelap. Sekalinya ada rumah yang pasang lampu didepan rumahnya. Pasti warna kuning, jadi sedikit redup.

Pada suatu malam, gue melihat ke jam yang ada di dinding teryata sekitar jam 8 malam. Gue kebelet pengen buang air besar. Padahal gue selalu mengusahakan setelah jam 4 sore, gue stop makan biar gak mules tengah malam, karna gue takut banget.

Belum ada toilet yang memadai.
Cuma ada jamban di belakang rumah yang jaraknya gak terlalu jauh. Dan gak terlalu deket pula.

Dinding jamban hanya terbuat dari plastik hitam. Dan tingginya hanya sepinggang orang dewasa.

Yang bikin gue takut adalah letak jambannya yang gak sesuai banget. Persis dibawah pohon bambu yang rimbun. Entah mungkin agar kotoran agar dapat dicerna tanaman atau apalah itu. Intinya gue takut banget.

Malam itu gue mencoba untuk tahan. Namun makin ditahan malah makin melilit.

Akhirnya gue mengajak Adit untuk nemenin gue buang air besar di jamban belakang.

Jujur aja meskipun gue sering ngeliat hantu, gue tetep seorang penakut.

Saat gue mengajak Adit untuk nemenin gue, awalnya dia gak mau. Karna gue sedikit memaksa. Dengan terpaksa akhirya dia nemenin gue.

Bermodalkan senter redup dengan lampu berwarna kuning. Akhirnya Adit nemenin gue.

Suasana beneran gelap total. Jalan setapakpun cuma disinari cahaya rembulan.

Saking penakutnya, gue sempet ngajak Adit buat nemenin gue buang air besar persis disamping jamban.

Namun dia gak mau. Tau lah alesannya. Jamban kan wangi banget.

Akhirnya Adit hanya menemani gue dari kejauhan.

Sebelumnya gue udah membawa seember air untuk, ya kamu pasti tau.

Gue buang hajat dalam keadaan takut. Karna gak tahan urusan sampah belakang.

Gue cuma bisa merem.

"Mas, aku mau kencing. Nih kamu pegang senternya." Ucap Adit sambil memberikan senternya ke gue sambil dia menjepit hidungnya dengan tangan kiri.

Gue ngeliatin arah kemana dia pergi.
Ternyata dia pipis dibawah pohon kelapa.

Lalu terdengar sebuah suara. Benda jatuh "Buukkk!"

"Mas ono kelapa muda jatuh." Ucap Adit dari kejauhan.

"Yaudah ambil aja." Ucap gue.

Gak lama setelah gue ucap. Terdengar kembali suara Adit.

"Mas Imam, kesini!" Ucap Adit dengan nada sedikit keras.

Karna gue udah gak ngerasa mules lagi. Akhirnya gue selesaikan buang hajat tadi dan segera nyamperin si Adit.

"Ada apaan Dit?" Ucap gue.

"Nganu Mas, kelapanya berat banget." Jawab Adit dengan muka heran.

Dalam hati gue berkata kalau Adit cuma mau nakut-nakutin gue.

Saat gue angkat. Dan ternyata emang berat banget. Gue dan Adit mencoba angkat bersama-sama, namun tetap berat.

Saat gue dan Adit sedang berusaha mengangkat. Tiba-tiba kelapa tadi menjadi empuk. Dan dengan cepat tumbuh rambut yang sangat panjang dengan cepat.

Seketika gue dan Adit melepaskan kelapa tadi.

Saat gue lihat telapak tangan gue.

Tangan gue dipunuhi cairan hitam lengket berbau busuk. Gue yakin banget itu adalah darah.

Gue dan Adit mulai panik dan bersiap untuk lari.

Seketika kelapa itu melayang. Dan ternyata, itu adalah sebuah kepala!

Tidak jelas nampak wajahnya, hanya terlihat hitam, seakan sudah membusuk, diwaktu yang bersamaan, keluar sesosok tubuh tanpa kepala dari sela-sela pohon bambu yang tadi tempat gue buang hajat.

SESOSOK TUBUH TANPA KELAPA AKHIRNYA SEPENUHNYA KELUAR DARI POHON BAMBU!

Dengan pakaian jubah serba hitam. Kepala tadi terbang kearah tubuh tadi.

Seketika kepala tadi terpasang! Namun dengan posisi terbalik!

Gue dan Adit lari tunggang larang.

Saat sampai dirumah nenek, ternyata semuanya sudah pada tidur. Dan gue melihat kedua tangan gue. Cairan lengket tadi sudah menghilang. Lalu saat melihat ke jam yang ada di dinding. Ternyata waktu menunjukkan pukul 12.00 malam. Gue dan Adit langsung lari kekamar dan 'kerebongan' dengan sarung.

Gue paksain untuk tidur. Adit persis tidur mepet disamping gue.

Dan saat paginya, gue berharap itu adalah cuma mimpi.
Gue dan Adit gak bicara soal kejadian semalem.
Namun saat sedang makan pagi.
Seketika nyokap gue bertanya.

"Kamu kenapa?" Tanya nyokap gue.

"Ah enggak kenapa-napa kok Ma." Ucap gue.

"Ah bohong, kamu mimisan ya?"
Ucap nyokap gue seraya menunjukkan tetesan noda merah yang ada di baju gue.

Seketika Adit melihat gue dengan wajah merinding dan ketakutan.

"Ternyata semalem bukan mimpi." Ucap gue berbisik kepada Adit.
Diubah oleh watashiwapsycho 25-08-2016 16:24
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.