- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#515
Biar gak pada bosen nungguin Updatenya. Biarkan saya yang cerita deh...
Alkisah saya sedang mengerjakan project di suatu perusahaan.
Biasanya, project lebih sering saya bawa ke rumah supaya konsentrasi lebih penuh. Tapi sayangnya, kali ini tidak bisa karena harus project tersebut berkaitan dengan data rahasia perusahaan yang tidak boleh sampai diakses dari luar.
Jadilah saya menempati suatu ruangan nyaman yang memang disediakan untuk saya, lengkap dengan asisten yang cuantik tenan (tapi hati saya masih milik Elisa kok, suwer dah)
Singkat cerita, project ini kebanyakan memerlukan akses penuh ke database perusahaan, karena itu terpaksalah jam kerja saya dan si Asisten cantik ini rencananya dipindah menjadi jam 4 sampai dengan jam 8. Dan sebenarnya, karena saya gentleman (plus tidak mau sampai terjadi skandal - belum pada tau sih kalau Elisa lagi marah, apalagi cemburu - ) saya sudah meminta ke perusahaan kalau tidak perlu menyediakan asisten buat saya, apalagi kasihan kalau perempuan tapi harus pulang malam-malam tiap hari.
Untungnya, perusahaan mengabulkan permintaan saya, tapi bukan meniadakan asisten, cuman diganti aja asistennya ke yang kurang cakepan dikit. Alasannya karena asisten yang ini rumahnya bisa dikatakan tinggal ngesot dari kantor.
Ya sutralah ya, intinya saya gak ngapa-ngapain kok sama asisten itu. gak percaya lagi? beneran, tapi kali ini bukan karena saya gentleman, bukan, tapi lebih tepatnya karena tidak ada satupun yang bilang kalau ini kantor kalo malem malah rame banget. Kayak pesta malah.
Dan saya tau di kemudian hari, kalau si asisten #1 yang cuantik tenan itu bukan bersedia diganti ke asisten #2 karena keberatan pulang telat, secara dia ngekost juga deket kantor, tapi alasannya adalah karena dia gak mau diajakin "ikut pesta" di kantor malem-malem.
Dan asisten #2 emang ternyata nyalinya 3x lipet lebih tebel dari saya. Plus imannya juga jauhhhh lebih tebel dari saya.
Jadi, di hari pertama saya kerja dengan jam kalong, alias orang udah pada pulang baru saya mulai kerja. Saya mulai berkerja dengan ditemani dengan si asisten #2 yang namanya Ria, dan beberapa tim Internal Control lainnya yang ada di ruangan terpisah, serta Koordinator Data Analyst yang kagak bisa pulang karena saya berurusan erat dengan dia, yaitu terkait database perusahaan.
Jadi saya mulai pekerjaan saya dengan fokus, dan kalau saya fokus berarti kedua telinga dalam keadaan tersumpal rapat dengan earphone. Saya bisa terfokus apabila di telinga hanya terdengar musik ballad.
Beberapa jam saya berkerja tanpa gangguan. Gangguan pertama dimulai ketika hari mulai lewat jam 7 malam.
"Krsskk... Krsssk..." terdengar suara noise dari earphone saya.
Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan suara itu, namun suara noise itu semakin jelas dan semakin menusuk telinga sehingga saya melepas kedua earphone saya.
Setelah melepas earphone, saya memeriksa handphone saya, tidak mungkin rasanya kalau file mp3 di handphone saya corrupt, biasanya tidak ada apa-apa kok. Setelah memeriksa dan menyetel kembali lagu, kali ini tanpa earphone, untuk menghemat baterai Handphone saya mematikan layarnya hingga hanya lagu yang terdengar.
"!!"
Saya terkejut ketika melihat pantulan seseorang yang tepat berdiri di belakang saya pada layar gelap handphone.
Secara reflek saya melihat ke belakang saya. Tapi tidak melihat apapun.
Kemudian saya menatap ke layar handphone saya yang gelap, namun tidak tampak apapun.
Jadi, saya melanjutkan perkerjaan saya. Mungkin hanya perasaan saja karena akhir-akhir ini sudah sering melihat yang seperti itu.
BRUKK!!
Tempat menaruh koran yang diletakkan di pojok ruangan terjatuh.
Oke, sudah jelas itu adalah hal yang aneh. Masalahnya, tempat koran itu terbuat dari kayu dan berat. Kalau bukan karena gempa yang besar tidak mungkin benda itu bisa jatuh begitu saja.
Saya bangkit dan berjalan menuju tempat koran itu.
Srekkk...
Ketika saya sedang mengangkat tempat koran yang ternyata memang berat banget itu, Lembaran kertas terjatuh dari meja saya.
Dan kemudian, tepat di depan mata kepala saya, saya melihat kursi saya berputar sendiri menghadap ke arah yang berlawanan dari arah saya.
Sepintas ketika kursi itu hampir berbalik sepenuhnya, saya melihat adanya bayangan seseorang yang duduk di kursi saya. Bayangan yang sama seperti bayangan yang saya lihat di pantulan layar tadi.
Kali ini sekilas saya dapat melihat seakan sosok itu sedang mengenakan setelan jas atau blazer berwarna abu-abu.
"Damn..." gumam saya.
Syiuutt.. gubrak...
Handphone saya yang saya letakkan di meja meluncur sendiri dan jatuh dari meja itu.
"Wah.. ta* banget..." ucap saya dengan gusar sambil berjalan cepat-cepat dan mengambil handphone saya yang, untungnya, terjatuh di lantai karpet.
"Misi, saya datang gak mau ganggu, jadi tolong jangan ganggu, maafin saya kalau datang gak permisi dulu" ucap saya ke bangku.
Sebenarnya saya merasa hampir separuh seperti orang gila, sampai pada saat bangku kosong itu bergeser sendiri, bukan hanya beberapa centi, tapi bergeser sampai memutari meja dan menabrak saya ringan.
"Maksudnya apa? saya tidak boleh kerja disini?"
Fuhhhh....
Terasa hembusan nafas yang berasal dari belakang leherku.
"Shi-!!" reflek saya memutar badan saya separuh untuk menengok ke arah hembusan nafas itu.
Dan pada saat itu, bangku yang menempel pada kaki saya maju dan menabrak belakang lutut saya hingga saya terduduk di bangku itu. Dan segera setelah saya terduduk di bangku itu, benda itu langsung berputar dan menghadap ke jendela besar yang memperlihatkan langit malam.
Dan pada pantulan langit malam itu, aku melihat sosok berjas abu-abu berdiri di belakangku. Dari pantulan di jendela itu aku melihat tangan dari sosok itu sedang memegang pinggiran bangkuku.
"Ya elah..." gumamku. Kemudian aku buru-buru berdiri dan berjalan cepat ke pintu ruanganku.
Untunglah 'mahluk' apapun yang sedang bersamaku di dalam tidak mengunci pintu ruangan ini.
"Lho pak? sudah telponnya?" Ria bertanya padaku ketika saya keluar ruangan.
"Telpon?" tanya saya. "Iya, tadi saya mau masuk, tapi saya dengar ada yang sedang berbicara jadi saya pikir bapak sedang online" kata gadis itu.
"Memangnya bukan bapak yang berbicara tadi?" tanya Ria lagi memastikan.
"O..ohh, iya memang saya tadi menelpon" saya berbohong, saya tidak mau asisten ini sampai ikut ketakutan juga.
"Oh memang menelpon, saya kira bapak juga diganggu" celetuk Ria dengan ringannya.
"Diganggu apaan?"
"Katanya sih di ruangan bapak itu setannya banyak"
"Setan?"
"Iya pak, ghost, spirit, devil, bapak ngerti kan?"
Saya mengangguk "tentu saja saya ngerti lah, maksudnya apaan nih? ruangan saya itu banyak setannya gitu?"
Sebelum sempat Ria menjawab pertanyaanku, 'BRUKK' lagi-lagi tempat koran itu terjatuh lagi.
"Nah, tuh udah dijawab sama setannya kali pak" kata Ria dengan senyuman jahil.
"Kamu gak takut ya?"
"Enggak, untungnya saya gak bisa lihat langsung kok"
"Tapi pernah lihat?"
"Yang kayak gitu?"
Ria menunjuk ke belakangku.
Di belakangku, tampak tempat sampah kecil berputar-putar sendiri.
"Yang kayak gitu mah sering pak" kata Ria "Kalau yang biasa lembur mah udah biasa pasti digangguin"
"Waaaa!!" teriak seseorang dari arah kubikel.
Seseorang dari divisi Internal Control yang sedang lembur berdiri di kubikelnya "Ah suwe!!" teriaknya.
"Kenapa Den?" tanya temannya.
"Sialan, ngeliat kepala di meja gue nih!!" kata si Den itu.
"Hah? seriusan lo?" kata temannya terdengar panik. "Oo.. pantes, udah jam 7 lewat cuy. Udahan yuk, bentar lagi jam 8 nih" kata temannya itu.
Seseorang yang dipanggil Den itu menjawab "Iya dah, ayuk buruan, jangan ampe keburu jam 8"
Lalu mereka buru-buru berberes dan dalam dua menit mereka sudah berpamitan padaku untuk pulang duluan.
Sebelum pulang, teman dari Den itu mengatakan ke Ria "Ri, lu gak pulang? lu belum cerita ya?" tanyanya.
"Gak papa, biar tau" kata Ria dengan senyuman yang sangat manis tapi bagiku terlihat agak jahil.
"Tau apaan?" saya bertanya pada gadis itu.
"Hmm... bentar lagi juga tau pak" katanya sambil melihat ke arlojinya.
"Ha?"
BRAAKKK!!
Tiba-tiba pintu ruanganku terbanting dengan amat keras.
"Anj*nk!!" teriakku kaget.
"Udah mulai tuh pak" kata Ria.
Segera setelah gadis itu bicara seperti itu,'PATS!' beberapa lampu di ruangan itu padam dan sebagian lagi menyala.
"The hell!?" saya berkomentar kebingungan.
'PATS!' kali ini bergantian, lampu yang tadinya mati menyala, dan yang tadinya menyala jadi padam.
"!!?"
'PATS'
'PATS'
'PATS'
Lampu-lampu itu bergantian menyala.
"Pak-pak, nih lihat deh" Ria memanggilku.
Dia menunjuk ke sesuatu di mejanya.
'tik-tik-tik-tik'
jelas terlihat di mataku kalau tuts-tuts keyboard komputer dari Ria tertekan sendiri.
"Pak, dapat pesan tuh" kata Ria sambil menunjuk monitornya.
- INI ADALAH JAM KAMI -
Barisan kata-kata itu terbentuk di notepad yang terbuka di layar Ria.
Setelah itu, suasanya menjadi ramai dan hiruk pikuk.
Suara ketikan pada tuts-tuts keyboard yang mengalun bagaikan suara hujan, kemudian suara berisik printer dot-matrix yang menyala, suara bangku-bangku bergeser.
"Nah pak, yuk kita pulang." kata Ria, dia terlihat sudah tampak rapi, siap untuk pulang "Kalau sudah begini sudah tidak bisa apa-apa lagi pak, percuma" katanya.
"Tiap hari begini?"
"Makanya kita lembur maksimal jam 8 kan?" katanya sambil tersenyum.
Kemudian Ria memandangiku sebentar "Waduh, tas bapak masih di dalam ya? wah ruangan itu gak bakalan bisa dibuka pak, sampai pagi" kata Ria lagi.
Aku memandang ke ruangan yang kupinjam untuk berkerja. Dan aku bisa merasakan udara dingin yang melebihi suhu AC keluar dari ruangan itu.
"Besok saja pak, nanti saya bilangin Desy buat simpenin barang-barang bapak" kata Ria lagi santai.
"Desy siapa?"
"Itu lho PA bapak yang pertama, yang bikin bapak bengong ngeliatinnya" katanya sambil tersenyum-senyum.
"Ohhh.." kataku."Ehh, sembarangan" semprotku ketika tersadar kalau gadis ini sedang meledekku.
"Ah gak apa-apa kok pak, tapi seksian saya lah ya? Desy kan cup A doang pak" kata Ria lagi.
"Oy, sembarangan kamu kalau ngomong!!"
"Ahahahaha" Ria tertawa "Yuk pulang pak, lanjut besok aja. Bapak bisa pulang kan? Kunci mobil di dalem ya?"
"Enggak, kunci mobil sama dompet selalu di kantong sih, cuman laptop aja di dalem"
"Ya udah, hari ini gak usah ngebokep dulu" kata Ria ringan.
"Huss, enak aja"
"Telpon saya aja kalo perlu pak" kata Ria "Udah tak kasih toh no hapenya?"
"Emang mau ngapain nyari kamu?"
"Manatau perlu" katanya sambil berjalan menuju lift "Ikut gak pak?" tanyanya sambil menahan pintu Lift agar tetap terbuka.
"Serah kamu dah" kataku sambil melangkah masuk ke Lift.
Saya menawarkan untuk mengantar Ria sampai ke depan kostnya, toh sekalian berputar masuk tol, pikir saya. Ria langsung mengiyakan dan berkata kalau dia berterimakasih sekali, karena kalau malam banyak orang mencurigakan, katanya.
Saya mengantar dia sampai ke depan kostnya, yang ternyata adalah sebuah apartment kelas menengah. Wow, sepertinya perusahaan ini bonafit juga ya.
"Thanks ya pak udah dianterin" kata Ria.
"Cuman nyebrang doang, gak masuk nganterin lah"
"Mayan lah pak, daripada serem nyebrang malem-malem" katanya "By the way, aku cup C loh, hahahahaha" katanya sambil menutup pintu dan keluar.
Aku hanya terbengong-bengong menatap gadis itu, yang tertawa-tawa dan melambai-lambaikan tangannya padaku sebelum akhirnya dia berbalik dan pergi menuju apartemennya.
Gawat ini.... ini masih hari pertama lagi....
Spoiler for Poltergeist? Jelas bukan, Karena keliatan Pelakunya:
Alkisah saya sedang mengerjakan project di suatu perusahaan.
Biasanya, project lebih sering saya bawa ke rumah supaya konsentrasi lebih penuh. Tapi sayangnya, kali ini tidak bisa karena harus project tersebut berkaitan dengan data rahasia perusahaan yang tidak boleh sampai diakses dari luar.
Jadilah saya menempati suatu ruangan nyaman yang memang disediakan untuk saya, lengkap dengan asisten yang cuantik tenan (tapi hati saya masih milik Elisa kok, suwer dah)
Singkat cerita, project ini kebanyakan memerlukan akses penuh ke database perusahaan, karena itu terpaksalah jam kerja saya dan si Asisten cantik ini rencananya dipindah menjadi jam 4 sampai dengan jam 8. Dan sebenarnya, karena saya gentleman (plus tidak mau sampai terjadi skandal - belum pada tau sih kalau Elisa lagi marah, apalagi cemburu - ) saya sudah meminta ke perusahaan kalau tidak perlu menyediakan asisten buat saya, apalagi kasihan kalau perempuan tapi harus pulang malam-malam tiap hari.
Untungnya, perusahaan mengabulkan permintaan saya, tapi bukan meniadakan asisten, cuman diganti aja asistennya ke yang kurang cakepan dikit. Alasannya karena asisten yang ini rumahnya bisa dikatakan tinggal ngesot dari kantor.
Ya sutralah ya, intinya saya gak ngapa-ngapain kok sama asisten itu. gak percaya lagi? beneran, tapi kali ini bukan karena saya gentleman, bukan, tapi lebih tepatnya karena tidak ada satupun yang bilang kalau ini kantor kalo malem malah rame banget. Kayak pesta malah.
Dan saya tau di kemudian hari, kalau si asisten #1 yang cuantik tenan itu bukan bersedia diganti ke asisten #2 karena keberatan pulang telat, secara dia ngekost juga deket kantor, tapi alasannya adalah karena dia gak mau diajakin "ikut pesta" di kantor malem-malem.
Dan asisten #2 emang ternyata nyalinya 3x lipet lebih tebel dari saya. Plus imannya juga jauhhhh lebih tebel dari saya.
Jadi, di hari pertama saya kerja dengan jam kalong, alias orang udah pada pulang baru saya mulai kerja. Saya mulai berkerja dengan ditemani dengan si asisten #2 yang namanya Ria, dan beberapa tim Internal Control lainnya yang ada di ruangan terpisah, serta Koordinator Data Analyst yang kagak bisa pulang karena saya berurusan erat dengan dia, yaitu terkait database perusahaan.
Jadi saya mulai pekerjaan saya dengan fokus, dan kalau saya fokus berarti kedua telinga dalam keadaan tersumpal rapat dengan earphone. Saya bisa terfokus apabila di telinga hanya terdengar musik ballad.
Beberapa jam saya berkerja tanpa gangguan. Gangguan pertama dimulai ketika hari mulai lewat jam 7 malam.
"Krsskk... Krsssk..." terdengar suara noise dari earphone saya.
Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan suara itu, namun suara noise itu semakin jelas dan semakin menusuk telinga sehingga saya melepas kedua earphone saya.
Setelah melepas earphone, saya memeriksa handphone saya, tidak mungkin rasanya kalau file mp3 di handphone saya corrupt, biasanya tidak ada apa-apa kok. Setelah memeriksa dan menyetel kembali lagu, kali ini tanpa earphone, untuk menghemat baterai Handphone saya mematikan layarnya hingga hanya lagu yang terdengar.
"!!"
Saya terkejut ketika melihat pantulan seseorang yang tepat berdiri di belakang saya pada layar gelap handphone.
Secara reflek saya melihat ke belakang saya. Tapi tidak melihat apapun.
Kemudian saya menatap ke layar handphone saya yang gelap, namun tidak tampak apapun.
Jadi, saya melanjutkan perkerjaan saya. Mungkin hanya perasaan saja karena akhir-akhir ini sudah sering melihat yang seperti itu.
BRUKK!!
Tempat menaruh koran yang diletakkan di pojok ruangan terjatuh.
Oke, sudah jelas itu adalah hal yang aneh. Masalahnya, tempat koran itu terbuat dari kayu dan berat. Kalau bukan karena gempa yang besar tidak mungkin benda itu bisa jatuh begitu saja.
Saya bangkit dan berjalan menuju tempat koran itu.
Srekkk...
Ketika saya sedang mengangkat tempat koran yang ternyata memang berat banget itu, Lembaran kertas terjatuh dari meja saya.
Dan kemudian, tepat di depan mata kepala saya, saya melihat kursi saya berputar sendiri menghadap ke arah yang berlawanan dari arah saya.
Sepintas ketika kursi itu hampir berbalik sepenuhnya, saya melihat adanya bayangan seseorang yang duduk di kursi saya. Bayangan yang sama seperti bayangan yang saya lihat di pantulan layar tadi.
Kali ini sekilas saya dapat melihat seakan sosok itu sedang mengenakan setelan jas atau blazer berwarna abu-abu.
"Damn..." gumam saya.
Syiuutt.. gubrak...
Handphone saya yang saya letakkan di meja meluncur sendiri dan jatuh dari meja itu.
"Wah.. ta* banget..." ucap saya dengan gusar sambil berjalan cepat-cepat dan mengambil handphone saya yang, untungnya, terjatuh di lantai karpet.
"Misi, saya datang gak mau ganggu, jadi tolong jangan ganggu, maafin saya kalau datang gak permisi dulu" ucap saya ke bangku.
Sebenarnya saya merasa hampir separuh seperti orang gila, sampai pada saat bangku kosong itu bergeser sendiri, bukan hanya beberapa centi, tapi bergeser sampai memutari meja dan menabrak saya ringan.
"Maksudnya apa? saya tidak boleh kerja disini?"
Fuhhhh....
Terasa hembusan nafas yang berasal dari belakang leherku.
"Shi-!!" reflek saya memutar badan saya separuh untuk menengok ke arah hembusan nafas itu.
Dan pada saat itu, bangku yang menempel pada kaki saya maju dan menabrak belakang lutut saya hingga saya terduduk di bangku itu. Dan segera setelah saya terduduk di bangku itu, benda itu langsung berputar dan menghadap ke jendela besar yang memperlihatkan langit malam.
Dan pada pantulan langit malam itu, aku melihat sosok berjas abu-abu berdiri di belakangku. Dari pantulan di jendela itu aku melihat tangan dari sosok itu sedang memegang pinggiran bangkuku.
"Ya elah..." gumamku. Kemudian aku buru-buru berdiri dan berjalan cepat ke pintu ruanganku.
Untunglah 'mahluk' apapun yang sedang bersamaku di dalam tidak mengunci pintu ruangan ini.
"Lho pak? sudah telponnya?" Ria bertanya padaku ketika saya keluar ruangan.
"Telpon?" tanya saya. "Iya, tadi saya mau masuk, tapi saya dengar ada yang sedang berbicara jadi saya pikir bapak sedang online" kata gadis itu.
"Memangnya bukan bapak yang berbicara tadi?" tanya Ria lagi memastikan.
"O..ohh, iya memang saya tadi menelpon" saya berbohong, saya tidak mau asisten ini sampai ikut ketakutan juga.
"Oh memang menelpon, saya kira bapak juga diganggu" celetuk Ria dengan ringannya.
"Diganggu apaan?"
"Katanya sih di ruangan bapak itu setannya banyak"
"Setan?"
"Iya pak, ghost, spirit, devil, bapak ngerti kan?"
Saya mengangguk "tentu saja saya ngerti lah, maksudnya apaan nih? ruangan saya itu banyak setannya gitu?"
Sebelum sempat Ria menjawab pertanyaanku, 'BRUKK' lagi-lagi tempat koran itu terjatuh lagi.
"Nah, tuh udah dijawab sama setannya kali pak" kata Ria dengan senyuman jahil.
"Kamu gak takut ya?"
"Enggak, untungnya saya gak bisa lihat langsung kok"
"Tapi pernah lihat?"
"Yang kayak gitu?"
Ria menunjuk ke belakangku.
Di belakangku, tampak tempat sampah kecil berputar-putar sendiri.
"Yang kayak gitu mah sering pak" kata Ria "Kalau yang biasa lembur mah udah biasa pasti digangguin"
"Waaaa!!" teriak seseorang dari arah kubikel.
Seseorang dari divisi Internal Control yang sedang lembur berdiri di kubikelnya "Ah suwe!!" teriaknya.
"Kenapa Den?" tanya temannya.
"Sialan, ngeliat kepala di meja gue nih!!" kata si Den itu.
"Hah? seriusan lo?" kata temannya terdengar panik. "Oo.. pantes, udah jam 7 lewat cuy. Udahan yuk, bentar lagi jam 8 nih" kata temannya itu.
Seseorang yang dipanggil Den itu menjawab "Iya dah, ayuk buruan, jangan ampe keburu jam 8"
Lalu mereka buru-buru berberes dan dalam dua menit mereka sudah berpamitan padaku untuk pulang duluan.
Sebelum pulang, teman dari Den itu mengatakan ke Ria "Ri, lu gak pulang? lu belum cerita ya?" tanyanya.
"Gak papa, biar tau" kata Ria dengan senyuman yang sangat manis tapi bagiku terlihat agak jahil.
"Tau apaan?" saya bertanya pada gadis itu.
"Hmm... bentar lagi juga tau pak" katanya sambil melihat ke arlojinya.
"Ha?"
BRAAKKK!!
Tiba-tiba pintu ruanganku terbanting dengan amat keras.
"Anj*nk!!" teriakku kaget.
"Udah mulai tuh pak" kata Ria.
Segera setelah gadis itu bicara seperti itu,'PATS!' beberapa lampu di ruangan itu padam dan sebagian lagi menyala.
"The hell!?" saya berkomentar kebingungan.
'PATS!' kali ini bergantian, lampu yang tadinya mati menyala, dan yang tadinya menyala jadi padam.
"!!?"
'PATS'
'PATS'
'PATS'
Lampu-lampu itu bergantian menyala.
"Pak-pak, nih lihat deh" Ria memanggilku.
Dia menunjuk ke sesuatu di mejanya.
'tik-tik-tik-tik'
jelas terlihat di mataku kalau tuts-tuts keyboard komputer dari Ria tertekan sendiri.
"Pak, dapat pesan tuh" kata Ria sambil menunjuk monitornya.
- INI ADALAH JAM KAMI -
Barisan kata-kata itu terbentuk di notepad yang terbuka di layar Ria.
Setelah itu, suasanya menjadi ramai dan hiruk pikuk.
Suara ketikan pada tuts-tuts keyboard yang mengalun bagaikan suara hujan, kemudian suara berisik printer dot-matrix yang menyala, suara bangku-bangku bergeser.
"Nah pak, yuk kita pulang." kata Ria, dia terlihat sudah tampak rapi, siap untuk pulang "Kalau sudah begini sudah tidak bisa apa-apa lagi pak, percuma" katanya.
"Tiap hari begini?"
"Makanya kita lembur maksimal jam 8 kan?" katanya sambil tersenyum.
Kemudian Ria memandangiku sebentar "Waduh, tas bapak masih di dalam ya? wah ruangan itu gak bakalan bisa dibuka pak, sampai pagi" kata Ria lagi.
Aku memandang ke ruangan yang kupinjam untuk berkerja. Dan aku bisa merasakan udara dingin yang melebihi suhu AC keluar dari ruangan itu.
"Besok saja pak, nanti saya bilangin Desy buat simpenin barang-barang bapak" kata Ria lagi santai.
"Desy siapa?"
"Itu lho PA bapak yang pertama, yang bikin bapak bengong ngeliatinnya" katanya sambil tersenyum-senyum.
"Ohhh.." kataku."Ehh, sembarangan" semprotku ketika tersadar kalau gadis ini sedang meledekku.
"Ah gak apa-apa kok pak, tapi seksian saya lah ya? Desy kan cup A doang pak" kata Ria lagi.
"Oy, sembarangan kamu kalau ngomong!!"
"Ahahahaha" Ria tertawa "Yuk pulang pak, lanjut besok aja. Bapak bisa pulang kan? Kunci mobil di dalem ya?"
"Enggak, kunci mobil sama dompet selalu di kantong sih, cuman laptop aja di dalem"
"Ya udah, hari ini gak usah ngebokep dulu" kata Ria ringan.
"Huss, enak aja"
"Telpon saya aja kalo perlu pak" kata Ria "Udah tak kasih toh no hapenya?"
"Emang mau ngapain nyari kamu?"
"Manatau perlu" katanya sambil berjalan menuju lift "Ikut gak pak?" tanyanya sambil menahan pintu Lift agar tetap terbuka.
"Serah kamu dah" kataku sambil melangkah masuk ke Lift.
Saya menawarkan untuk mengantar Ria sampai ke depan kostnya, toh sekalian berputar masuk tol, pikir saya. Ria langsung mengiyakan dan berkata kalau dia berterimakasih sekali, karena kalau malam banyak orang mencurigakan, katanya.
Saya mengantar dia sampai ke depan kostnya, yang ternyata adalah sebuah apartment kelas menengah. Wow, sepertinya perusahaan ini bonafit juga ya.
"Thanks ya pak udah dianterin" kata Ria.
"Cuman nyebrang doang, gak masuk nganterin lah"
"Mayan lah pak, daripada serem nyebrang malem-malem" katanya "By the way, aku cup C loh, hahahahaha" katanya sambil menutup pintu dan keluar.
Aku hanya terbengong-bengong menatap gadis itu, yang tertawa-tawa dan melambai-lambaikan tangannya padaku sebelum akhirnya dia berbalik dan pergi menuju apartemennya.
Gawat ini.... ini masih hari pertama lagi....
johny251976 memberi reputasi
1
Kutip
Balas