Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#24
PART 11


Hari itu pelajaran (baca: siksaan) berlangsung seperti biasa. Satu hal yang kubenci selain mengikuti guru yang mendiktekan catatan, adalah mengikuti juru tulis kelas yang sedang mencatat di papan tulis. Tapi untungnya saat itu bisa kulewati tanpa kebosanan yang berlebih, malah bisa dibilang tidak sama sekali. Soalnya hari itu aku duduk di tempat lain. Menduduki bangku di baris terpisah karena orangnya lagi nggak masuk. Alasannya jelas. Aku nggak mau kalau si Yesi tiba-tiba teriak ngaduin aku karena nggak ikut mencatat. Dan ternyata pisah sama Yesi itu enak. Semejaku kali ini juga perempuan, tapi sikapnya jauh lebih asyik. Alhasil, jam pelajaran pun kami lalui dengan bergosip secara bisik-bisik.

Bel istirahat akhirnya berbunyi. Aku langsung ke meja untuk mengambil tasku. Fix, seharian ini aku pingin duduk di sana.

“Ngapain kamu? Pulang?” kata Yesi yang masih berada di bangkunya.

“Enggak. Mau pindah ke sana.”

“Ooo. Eh, ‘Ang, nanti kamu sibuk nggak pulang sekolah?”

“Kenapa emangnya?”

“Ya kamunya sibuk nggak?”

“Ya mau ngapain dulu?”

“Temenin ke rumah sodaraku yuk.”

“Oh....kalo gitu aku sibuk,” jawabku enteng. Langsung pergi.

“Eh, ‘Ang..”

“Daa..”

Aku tersenyum puas. Biar tau rasa dia.

Setelah memindahkan tas, aku dan anak-anak pergi ke depan lab. Saat itu lagi ada yang bermain volly. Mulainya dari sebelum bel istirahat. Kami duduk di sana kali aja ada kesempatan bermain. Dan setelah setnya selesai, kami pun kebagian giliran. Kami akan melawan anak-anak kelas XII IPA. Tiga lawan tiga.

“Manamana?” Jhon mengutip uang taruhan sebelum pertandingan dimulai.

“Lha kamu mana?” kataku.

“Udah. Menang kita ini. Tenang aja,” jawabnya. Nggak nyambung.

Iuran akhirnya terkumpul sebanyak 30 ribu. Sumbangan rata dari kami berempat, tanpa Jhon.

“30 ribu ya,” seru Choki. Mengonfirmasi jumlah taruhan.

“Oke,” kata salah satu dari mereka.

Masing-masing tim kemudian memasuki lapangan. Bersamaan dengan itu, uang taruhan juga ikut diserahkan ke satu orang yang jadi wasit. Di tim kami ada aku, Jhon, dan Choki. Sementara dari tim lawan, salah satunya adalah tosser tim volly sekolah. Kami tahu ini nggak akan berjalan mudah secara anak itu licik. Dia pintar nipu.

“Berapa ini samaku? 10 ya?” tanya si wasit.

“Ta#k. Taruhan juga cuma 30,” Jhon protes. “5 ribu ajalah.”

Orang itu nyengir. “Iya, iya. Oke.”

Pertandingan pun dimulai. Karena ini pertandingan tiga melawan tiga, kami buat aturan kalau bola harus disentuh sebanyak tiga kali, tidak boleh kurang. Jadinya masing-masing tim tidak bisa menipu. Tapi pada kenyataannya, seperti yang sempat kubilang tadi, situasi tim lawan lebih menguntungkan karena punya tosseryang unggul. Apalagi tukang pukul mereka pun sama liciknya. Kami yang kemampuannya pas-pasan ini pun kerap ditipu. Gayanya aja yang mau nyemash, tapi giliran Choki naik buat nge-block, bolanya malah dilambungkan ke daerah belakang. Dan ketika aku bersiap untuk menahan smash-nya di posisi belakang, bolanya malah ditinju pelan ke daerah garis serang. Kami masih bermain ketika bel masuk berbunyi. Dan kami sepakat buat bolos pelajaran akuntansi. Ikmal dan Dani kemudian masuk. Mereka bilang bakal keluar kalau situasinya memang kondusif.

Di tengah-tengah permainan, bolanya melebar karena smash bertenaga tapi akurasinya ngawur. Bolanya lantas menggelinding ke arah lab komputer, di mana terdapat beberapa orang yang lagi seru-seruan bercanda. Mereka melihat kami, dan mereka nampaknya paham kalau kami sedang mengharapkan kesediaan mereka untuk melempar bolanya. Tapi karena tak melihat adanya itikad, Jhon pun akhinya mendekat. Dan ketika Jhon sudah semakin dekat ke bola, satu orang dari mereka tiba-tiba sengaja menendang bolanya dengan begitu keras. Bolanya jadi menjauh nggak karuan. Dan orang itu hanya tertawa seolah kejadian itu begitu lucu buatnya.

Perasaanku langsung nggak enak. Aku tahu kalau orang itu adalah salah satu anteknya si Hendro. Jadinya jelas kenapa tingkahnya begitu tengik. Jhon mematung di sana. Aku nggak bisa lihat ekspresi Jhon kayak apa. Tapi aku bisa paham kalau mereka sedang saling melemparkan sinyal konflik lewat tatapan masing-masing.

Ini jelas nggak bagus. Aku pun spontan mendekat.

“Jhon. Udah,” kutarik bahunya.

“Kenapa? Nggak terima?” seru orang itu. Entah siapa yang ia maksud, aku nggak tau. Nggak perduli juga. Jhon yang sudah mau kutarik spontan berbalik lagi. Melihat kami begitu, Choki pun jadi ikut-ikutan mendekat.

“Woy. Udah, udah,” aku menahan Choki dan Jhon sekaligus. Untungnya orang itu nggak nerusin provokasinya, kecuali lewat senyumnya yang begitu sengak.

Kami pun melanjutkan permainan. Set pertama ini kami kalah. Di set yang terakhir kami berpindah posisi. Dan selang sebentar kami bermain, kami bisa melihat orang-orang yang tadi mendatangi lapangan. Dan kali ini dengan orang yang tadinya nggak kelihatan. Hendro.

Mampus ini, pikirku.

Orang-orang itu mengelilingi lapangan layaknya penonton biasa. Dan aku paham kalau mereka hanya ingin mengintimidasi kami. Berkali-kali aku mendapati Hendro dan Jhon saling menatap. Jhon memang diam tapi wajahnya berbicara banyak. Hendro sendiri cuma senyum-senyum nggak jelas. Sampai akhirnya ia bersuara ketika kami dikalahkan lagi.

“Main lagi yok.”

Kami saling pandang. Menunggu siapapun di antara kami untuk memutuskan. Tapi karena kami udah kehilangan mood, otomatis kami hanya berlalu meninggalkan mereka.

“Woy!”

“Lain kali aja,” Jhon menyahut dengan nada malas.

Kami kembali menjauh dari lapangan. Aku bersyukur karena masalahnya masih terhindarkan. Tapi aku salah. Beberapa langkah setelah kami menjauh, kami kaget karena bolanya melayang dekat sekali ke arah kami. Sepertinya baru ditendang oleh entah siapa. Kepala si Jhon hampir kena. Dan sialnya lagi, kami malah ditertawakan.

Choki langsung mendekat. Begitupun Hendro dan teman-temannya.

“Maumu apa?”

“Nggak terima apa? Ayo. Pulang sekolah,” Hendro kali ini melotot.

Choki belum menjawab. Tatapannya menebar kesan jika ia sedang tidak takut. Aku lantas kepikiran soal omongannya di rumah Ikmal waktu itu. Aku benar-benar percaya kini. Tapi serius. Ini semua nggak perlu dilakukan.

“Heh! Ngapain kalian?!”

Kami menoleh. Rupanya kami lagi dilihatin satpam.

"Aman Bos," Hendro yang menjawab.

“Masuk, masuk!”

“Pre-les Bos,” kata Hendro lagi.

“Apanya yang pre-les?! Bu Imel kalian sekarang, kan?!” si satpam jelas tak percaya.

“Serahlah Njing,” kata Hendro lagi. Sengaja dan tak perduli kalaupun si satpam bisa mendengarnya.

Kami pun berlalu buat beli minuman di kantin. Di sana, kami beritahu Ikmal dan Dani soal kejadian barusan. Bukan kami juga sih, lebih tepatnya cuma si Jhon dan Choki. Kalau disuruh milih, jelas aja aku pinginnya langsung pulang.

“Siapa lagi ini?” Jhon memegang ponselnya. Hendak menyebar ‘undangan’ buat koalisi.

“Alah...siapa yang lagi emang yang mau. Ya kita ajalah.”

“Chok. Serius ini?” tanyaku. Moga-moga berhasil. “Ntar Abangnya gimana?”

“Udaah. Urusan belakang itu mah. Sah ini ‘Ang. Siap-siap aja,” kata Choki sebelum menenggak minumannya.

“Gitu ya? Mmmm....ya udah,” jawabku sok tenang. Aslinya aku jantungan.

Gimana ini. emoticon-Frown

***

Diubah oleh kawmdwarfa 25-08-2016 09:56
ariefdias
pulaukapok
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.