Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.7K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#23
PART 10


Sehari setelahnya, aku memenuhi janjiku untuk jalan dengan Wiwid. Sore-sore kami berangkat menuju rumah pamanku. Beliau ini adiknya ayahku. Dari 4 bersaudara, ayahku adalah saudara tertua. Masing-masing dari mereka sekarang hidup di pulau yang berbeda, kecuali ayah dan pamanku.

Aku sebenarnya malas. Maksudnya bukan dengan Wiwid, tapi aku cuma lagi belum ingin ke sana. Biasanya aku ke sana tiga bulan sekali. Atau, paling tidak sampai ayahku menelpon dan memaksaku untuk bersilaturahmi ke sana. Aku sendiri udah nyaranin buat pergi ke tempat lain, tapi Wiwidnya terus memaksa. Katanya pingin aja kenal sama sodaraku. Wiwid sendiri pernah bilang kalau dia ingin mengenalku lebih jauh. Dan terus terang, aku nggak pernah nganggap omongannya itu sebagai langkah ‘selanjutnya’ atas hubungan kami. Toh kami juga masih SMA. Beda keyakinan lagi. Tapi jika dipikir-pikir, datang bersama Wiwid itu punya keuntungan tersendiri. Aku bisa menghabiskan waktu kunjungan dengan ngobrol sama Wiwid. Jadinya aku nggak bakal dipanggil buat ngomong berdua sama pamanku. Ujung-ujungnya pasti bakalan diceramahi.

Sekitar 40 menitan kami melaju, kami pun akhirnya sampai di sana. Begitu berhenti di halaman rumah, kami langsung melihat sepupu kecilku sedang bermain dengan anjingnya. Seekor English Bulldog yang diberi nama Rambo. Melihat kami datang, Rambo langsung menyalak dan berlari ke arah kami.

“Heeey,” aku langsung mengelus kepala Rambo. Wiwid juga ikut-ikutan. “Papa mana, Don?”

“Masih keluar, Kak. Paling bentar lagi juga pulang.”

“Ke mana emangnya?”

“Beli siraman.”

“Siraman?”

“Itu...buat siram tanaman itu.”

“Oooh. Ya udah. Yuk Wid, masuk dulu.”

“Iya Kak.”

Di ruang tamu, Wiwid kusuruh duduk sementara aku langsung membuatkan minuman. Di rumah ini sebenarnya ada pembantu, tapi ya nggak perlu nyuruh jugalah kupikir.

Aku kembali dengan dua gelas kosong dan jus kemasan. Saat itu Wiwid lagi celingukan memperhatikan seisi ruangan.

“Gede ya Kak rumahnya.”

“Yaa...ginilah. Nih, diminum.”

“Iya Kak.”

“Bentar ya. Ambil cemilan dulu.”

“Iya Kak.”

Aku ke dapur lagi karena nggak bisa bawa semuanya sekaligus. Di dapur, aku bertemu dengan pembantu rumah ini. Tadi aku nggak melihatnya. Mungkin sedang ke kamar mandi.

“Eh, Mas Yohan. Kapan nyampenya?”

“Baru aja Bi. Sehat Bi?” jawabku sembari menyalami.

“Alhamdulillah sehat. Sama siapa Mas ke sininya?”

“Temen.”

“Udah pada makan?”

“Udah kok Bi,” kataku sambil membuka kulkas.

Aku kembali dengan dua bungkus cemilan. Lagi-lagi, Wiwid kudapati tengah celingukan.

“Biasa aja sih ngelihatinnya.”

Wiwid tersenyum. “Iya Kak. Rumahnya gede banget. Coba aja rumahku kayak gini.”

“Bisa aja kamu. Nih, dimakan,” kataku sambil meletakkan cemilannya di meja.

Kami pun mulai mengobrol sambil mengunyah. Beberapa lama kemudian ada mobil yang masuk ke halaman. Pamanku pulang. Dari dalam aku bisa dengar kalau sepupuku memberitahukan kedatangan kami.

“Yohan,” pamanku masuk beserta istri dan anaknya yang masih balita. Aku langsung berdiri untuk menyalim mereka. Wiwid pun demikian.

“Udah lama sampenya kamu?”

“Enggak kok Om.”

“Udah pada makan? Diambilin makan dong itu temennya.”

“Enggak Om. Udah ini aja. Tadi juga udah makan kok sebelum ke sini,” jawabku.

“Ya udah. Kalau mau apa-apa ambil aja ya di dalam. Kalau mau yang lain, suruh aja si Bibi masak buat kalian.”

“Udahlah Om. Kita juga nggak lama kok di sini,” kataku.

“Ya udah. Om masuk dulu. Oh ya, ini siapa namanya?”

“Wiwid Om.”

“Anggap rumah sendiri ya Wid. Jangan malu-malu.”

“Iya Om. Makasih Om.”

Kami lanjut ngobrol lagi. Kemudian aku izin ke kamar mandi karena panggilan alam. Ketika akan kembali ke ruang tamu, aku melihat pamanku sedang teleponan di sofa ruang nonton. Dan di sebelahnya ada tanteku yang sedang melawani anaknya. Seorang balita yang namanya Selly. Sudah bisa berceloteh.

Aku sudah di dekat mereka ketika panggilannya ditutup.

“Yo.”

“Ya Om?”

“Siapa itu? Pacarmu?”

“Iya, Om,” jawabku malu-malu.

Beliau tersenyum. “Boleh-boleh aja buat nambah semangat. Jangan mbablas ya.”

“Enggaklah Om,” jawabku sambil nyengir. “Aman kok.”

“Suruh duduk sini ajalah Yo,” kata tanteku.

“Iya Tan,” jawabku sebelum membuka lengan. “Sini sama Om yok.” Anak itu pun kugendong dan kubawa ke ruang tamu. Untungnya dia mau. Gak gampang nangis.

Wiwid nampak senang ketika aku kembali. "Sini sini Kak," ucapnya sambil membuka lengan.

"Eh disuruh masuk tuh sama Tanteku," aku sambil menyerahkan Selly.

"Bentar lagi deh. Di sini aja dulu. Siapa Kak namanya?"

"Selly."

“Kak, kalau nanti kita punya anak, enaknya dikasih nama siapa ya?”

Eh?

***

ariefdias
pulaukapok
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.