- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#59
Part 11
Tanpa diduga ternyata orang itu adalah ,,,,, Purwasih
Memang, rupanya Andika tidak mau tanggung-tanggung menjalankan rencananya untuk memancing pengkhianat Kerajaan Alengka. Secara sembunyi-sembunyi, Purwasih disuruhnya untuk naik kereta, setelah diminta untuk mengenakan pakaian Ningrum berikut capingnya.
Lagi-lagi semua orang di sekitar tempat itu menjadi terperanjat. Terlebih Patih Ranggapati. Dan matanya jadi terbelalak untuk yang kedua kali!
“Kau terkejut, Paman Patih?” tanya Purwasih seraya membuka caping penutup wajahnya.
“Purwasih?” sahut Patih Ranggapati, tanpa sadar.
“Ya, aku Purwasih, putri Prabu Bratasena yang kau khianati. Aku juga seorang yang menganggap kau adalah pamanku, tapi mulai saat ini dengan berat hati kau kuanggap sebagai musuh negeri Alengka....”
“Purwasih! Apa-apaan kau ini?!” kata Patih Ranggapati, bergetar.
“Paman Guntur Slaksa, periksalah bahu kiri Patih Ranggapati! Sewaktu pulang bersamaku dulu, dia mengatakan kalau luka di bahunya adalah akibat serangan orang-orang Begal Ireng. Sesungguhnya, luka itu akibat sayatan Kipas Naga milik Ningrum, yang kini menjadi kusir kereta kuda kita...,” sambung Purwasih pada Mahapatih Guntur Slaksa, tanpa mempedulikan keterkejutan Patih Ranggapati.
Rupanya, Purwasih sudah mulai mempercayai siasat yang diterapkan Andika, untuk membuktikan keterlibatan Patih Ranggapati dalam menebar bencana di Kerajaan Alengka.
Lelaki tinggi besar bernama Mahapatih Guntur Slaksa menatap Patih Ranggapati dengan sinar mata tidak percaya. Bagaimana mungkin orang yang selama ini dikenal baik sebagai perwira kerajaan dengan kesetiaannya yang tak diragukan itu berkhianat? Namun mengingat yang memerintah adalah putri raja, mau tak mau Mahapatih Guntur Slaksa mengabulkannya.
“Kemarilah, Patih Ranggapati!” ujar Mahapatih Guntur Slaksa.
Dia berusaha menjangkau pakaian Patih Ranggapati untuk melihat bahu sebelah kirinya, tapi ternyata lelaki yang dicurigai sebagai pengkhianat kerajaan ini menghindar cepat.
“Kenapa kau menghindar, Patih Ranggapati? Apa memang benar ucapan Tuan Putri Purwasih kalau kau adalah pengkhianat kerajaan?” desis Mahapatih Guntur Slaksa penuh tekanan.
Melihat tindakan Patih Ranggapati, Purwasih makin yakin kalau laki-laki yang selama ini sudah dianggap pamannya adalah seorang pengkhianat. Pantas saja selama ini segala kegiatan kerajaan selalu bocor ke telinga Begal Ireng. Dan kini, jelas pancingan Andika mengena.
Sementara Patih Ranggapati hanya menatap Mahapatih Guntur Slaksa dengan wajah memerah. Setapak demi setapak kudanya melangkah ke belakang seperti siap hendak melarikan diri.
“Tangkap pengkhianat itu, Paman Guntur Slaksa!” seru Purwasih.
“Hiaaa...!”
Tubuh Mahapatih Guntur Slaksa langsung melenting tinggi ke arah Patih Ranggapati. Sementara, orang yang diserang juga tidak tinggal diam. Dia juga langsung melenting, memapak serangan Mahapatih Guntur Slaksa. Kini kancah pertempuran makin hingar-bingar karena pertarungan meluas menjadi beberapa bagian. Andika melawan Begal Ireng, Mahapatih Guntur Slaksa dengan Patih Ranggapati, menyusul Purwasih dan Ningrum yang menyerbu ke arah si Kembar dari Tiongkok. Sedangkan prajurit khusus kerajaan menyerang empat kaki tangan Begal Ireng yang lain.
Sementara itu, pertempuran Andika melawan Begal Ireng makin sengit. Keduanya bertukar jurus bertubi-tubi dalam satu kelebatan yang sulit ditangkap mata orang awam. Berkali-kali Begal Ireng dibuat penasaran oleh jurus-jurus Pendekar Slebor yang tampak seperti main-main. Dan setiap kali Begal Ireng melabrak, selalu saja dapat dipatahkan Andika.
Sampai suatu saat....
Begal Ireng mencoba melepaskan tendangan tipuan ke arah pinggang Pendekar Slebor. Dan begitu melihat lawannya menghindar dengan melenting ke atas, Begal Ireng tak menyia-nyiakannya. Seketika tenaga dalamnya kini digenjot. Lalu, tubuhnya melesat sambil melepaskan pukulan maut ke arah Andika yang masih berputaran di udara.
Melihat serangan mendadak ini, Pendekar Slebor rupaya memang sudah menduga. Dalam keadaan masih di udara, langsung dipapaknya serangan Begal Ireng dengan tangan kanannya. Sehingga....
Plak!
Begitu kuat tenaga dalam yang dikerahkan Pendekar Slebor, sehingga tangan kanannya yang tak tergoyah langsung meluruk dengan jari-jari lurus ke arah dada Begal Ireng. Tak ada kesempatan bagi tokoh hitam ini untuk menghindar. Apalagi, keseimbangannya cukup goyah akibat benturan tangan tadi. Akibatnya....
Des!
Tak ayal lagi, dada Begal Ireng kontan terhantam jari-jari tangan kanan Andika dengan telak. Tubuhnya terdorong deras, dan jatuh keras di tanah, menimbulkan debu-debu yang berterbangan di sekitarnya. Bukan main terkejutnya Begal Ireng menerima totokan jari Pendekar Slebor. Sambil menahan sesak luar biasa, dia berusaha bangkit. Sebenarnya jurus-jurus Pendekar Slebor memang sulit diduga. Bahkan seringkali terlihat ngawur.
Namun akibat yang dihasilkannya sungguh sulit dipercaya. Padahal, benteng pertahanan Begal Ireng selama ini tidak bisa ditembus oleh tokoh sakti mana pun. Ki Panji Agung lawannya dulu pun harus bertempur lebih dari ratusan jurus untuk bisa menembus pertahanannya. Tapi lawannya yang berusia belasan tahun ini mampu membobol pertahanan Begal Ireng tak kurang dari tiga puluh jurus!
“Kenapa kaget? Sekarangkau baru berkenalan dengan Pendekar Slebor yang baru turun gunung. Kau ingin lihat kekonyolanku? Lihatlah....”
Selesai berkata demikian, Andika melabrak lawan seperti orang gila yang sedang mengamuk sejadi-jadinya. Sepasang tangannya mengebut kian kemari dengan telapak dan jari tangan terbuka lebar-lebar. Kakinya menendang-nendang kacau seperti seekor kuda liar. Sedangkan kepalanya berputar-putar, sehingga rambutnya berantakan tak karuan.
“Hus... hus! Hus... hus!” Andika menggusah.
Seakan-akan menganggap Begal Ireng, tokoh sakti papan atas aliran hitam itu sebagai ayam miliknya yang hendak digiring ke dalam kandang.
Begal Ireng menjadi kalang kabut menghadapi serangan ganjil lawannya. Selama menjadi tokoh sakti, dia hanya berhadapan dengan lawan yang mengerahkan jurus-jurus terarah. Tapi lawannya kali ini sungguh membingungkan. Serangan yang dikira mengarah ke biji mata, ternyata menyempong ke biji 'terlarang'. Serangan yang mengarah ke ulu hati, ternyata meliuk ke ubun-ubun. Gerakannya seperti daun kering tertiup angin, sewaktu-waktu dapat berubah arah tanpa terduga! Itulah jurus 'Memapak Petir Membabibuta'! Jurus yang berhasil diciptakannya dalam purnama kedua di Lembah Kutukan.
Maka akibatnya....
Duk!
Plak!
Plak!
Secara beruntun, serangan gencar Pendekar Slebor bersarang di tubuh lawan. Kepalanya berhasil menyeruduk kening lawan. Sedangkan telapak tangannya yang terbuka mengenai dua belahan pantat lawan. Tubuh Begal Ireng langsung terjengkang, lalu kembali menghantam tanah dengan keras. Sesaat mata tokoh hitam ini mengerjap-ngerjap dan kepalanya digerak-gerakkan. Kepalanya pusing bukan kepalang akibat benturan kepala lawannya pada bagian kening. Sedangkan kedua tangannya memegangi bagian pantatnya yang terasa seperti tersayat.
“Hua ha ha...!” Andika tergelak-gelak sambil memegangi perut.
“Kau seperti anak kecil yang sedang antri di jamban, Begal Ireng!”
“Anjing kurap!” Begal Ireng bangkit kembali.
Kemarahan tokoh sesat ini sudah membakar seluruh dadanya. Ubun-ubunnya pun sudah seperti mau meledak. Segera dilepasnya cemeti dari pinggang. Dia tak mau tanggung-tanggung lagi meng-hadapi lawannya yang ganjil ini.
“Waduh! Kau mulai main-main dengan buntut tuyulmu itu, ya? Hati-hati, nanti bisa dimarahi abahmu!” Andika berkoar seenak udel.
“Hiaaat!”
Wut!
Pertempuran berlanjut. Tapi kali ini lebih ganas, karena masing-masing telah mengeluarkan senjata. Begal Ireng yang telah kalap, tak peduli lagi dengan lawannya yang masih muda. Yang jelas, keturunan Pendekar Lembah Kutukan harus dilenyapkan.
Begal Ireng cepat mengebutkan cemetinya ke bagian kepala Andika, lewat jurus ketujuh 'Sabetan Ekor Iblis”. Namun, tubuh Pendekar Slebor itu justru mencelat ke atas menuju kepala lawan. Di udara, tangannya yang telah memegangi kain catur pusaka memecutkan senjata itu ke tangan Begal Ireng. setelah terlebih dahulu meliukkan tubuhnya meng-hindari jilatan cemeti.
Ctar!
Cemeti di tangan Begal Ireng terlepas seketika. Sedangkan tubuh Pendekar Slebor meluncur turun dibelakang Begal Ireng. Begitu mendarat, dengan satu gerakan sulit dihindari, kain catur pusakanya menyergap wajah Begal Ireng saat masih di udara. Akibatnya Begal Ireng tidak dapat melihat apa-apa lagi. Kain itu berusaha dilepaskan dari wajahnya dengan melempar tubuh ke belakang. Tapi, dengan segera Andika mengikuti gerakannya. Beberapa kali tubuh mereka bergantian berputaran. Dan ternyata Begal Ireng tetap tak dapat melepaskan cengkeraman kain catur pusaka yang membelit seluruh
wajahnya.
Sampai suatu ketika....
“Aaakh!”
Dalam keadaan begitu, mata Pendekar Slebor melihat tubuh Ningrum melayang mengerikan. Rupanya, seorang dari si Kembar dari Tiongkok berhasil menghempaskan tubuh gadis itu dengan pukulan jarak jauh yang pernah dipakai untuk melumpuhkan Ki Panji Agung dulu.
“Ningrum!” teriak Andika terkejut.
Pada saat itu, perhatiannya pada Begal Ireng buyar. Sehingga, pegangan pada kain catur pusaka mengendor.
“Hiaaat!”
Berbareng satu gerakan berputar, Begal Ireng yang berjuluk Pencabut Nyawa berhasil melepaskan kain catur pusaka milik Andika dari wajahnya. Setelah tubuhnya menghadap ke arah Pendekar Slebor, tangannya bergerak bergantian secara beruntun.
Des! Des! Des! Des!
Empat pukulan sakti ajian 'Brajamusti' menghantam dada pendekar itu. Jika satu pukulan itu dapat meremukkan batu karang sebesar benteng, bisa dibayangkan bagaimana parahnya luka yang diderita Andika menerima empat pukulan sekaligus!
“Aaakh!”
Tubuh Andika terjengkang menyusul Ningrum yang lebih dulu menghantam sisi bukit karang. Tubuh Pendekar Slebor lunglai setelah menabrak tebing terlebih dahulu. Dari celah bibirnya mengalir darah kental kehitam-hitaman. Sedangkan dari dadanya tampak mengepul asap tipis.
“Andikaaa!” pekik Purwasih, melihat pemuda yang dicintainya tergeletak tanpa gerak.
“Hua ha ha...! Jangan dikira dapat mengalahkanku, Bocah Ingusan,” ledek Begal Ireng puas.
Pertempuran terhenti ketika Purwasih berlari menuju tubuh Andika dengan derai air mata di pipi. Semuanya tertegun menyaksikan seorang pendekar dari keluarga Pendekar Lembah Kutukan ternyata mengalami nasib mengerikan di tangan Begal Ireng.
Di langit, awan gelap yang pekat berarak menutupi seluruh celah bukit. Warnanya yang menyeramkan, sedikit pun tidak membiarkan sinar matahari menerobos. Gumpalan raksasa berkekuatan sengatan alam yang mana dahsyat itu saling berbenturan. Dan....
Jlegar! Jlegar! Jlegar! Jlegar!
Empat jilatan lidah petir mengkerjap, menyengat tubuh lunglai Andika, sebelum Purwasih sempat memeluknya. Bahkan tubuh wanita itu terhempas karena ledakan petir yang merasuki tubuh Andika secara aneh.
Krttt!
Dari tempat yang agak jauh, semua mata menyaksikan bagaimana tubuh pendekar muda itu menyala terang bagai disinari ribuan lidah api. Warnanya merah kebiru-biruan, memancar hingga sepuluh tombak dari tubuhnya. Purwasih yang berada paling dekat dengan Andika langsung Cumiik nyaring, seraya menutupi kedua mata dengan tangan. Bahkan para prajurit yang berada di ujung celah ikut menyipitkan mata karena silau.
Sesaat berikutnya tubuh Andika mengejang, lalu bergetar hebat. Sebuah kekuatan alam yang maha dahsyat telah bergolak dalam tubuhnya. Itulah akibat yang terjadi, setelah beberapa waktu lalu Pendekar Slebor ini memakan buah langka Inti Petir warisan Ki Saptacakra. Dan mendadak saja tubuhnya bangkit dalam satu erangan panjang.
“Ngrh!”
Dengan tubuh masih berpijar menyilaukan, sepasang tangan Pendekar Slebor menyilang ke depan dalam getaran keras. Dari sepasang telapaknya, tiba-tiba saja meluncur dua larik sinar tebal berwarna kebiru-biruan seperti petir, menuju ke arah Begal Ireng.
Tokoh berjuluk si Pencabut Nyawa yang tertegun menyaksikan keajaiban itu, tak mampu lagi meng-hindar. Dia benar-benar terpaku melihat kejadian itu.
Ctarrr!
“Aaakh!”
Lengkingan tinggi menguak angkasa terdengar. Hanya sesaat mulut tokoh sakti itu melontarkan teriakan menggidikkan. lalu tubuhnya ambruk dan telah hangus matang di atas tanah. Asap tipis berbau menjijikkan menyebar di celah bukit, lalu hilang tersapu angin.
Melihat kenyataan yang mengendorkan keberanian mereka, anak buah Begal Ireng langsung mengambil keputusan untuk melarikan diri. Termasuk, si Kembar dari Tiongkok. Mereka tidak mau menjadi korban berikutnya dari ilmu aneh Pendekar Slebor! Begitu cepat mereka melesat, sesaat kemudian keenam lelaki itu sudah menghilang di balik bukit tanpa ada yang bisa mencegahnya.
Sementara, tubuh Andika kini telah biasa kembali. Sinar menyilaukan telah menghilang perlahan beberapa saat lalu, bagai diisap bumi. Lalu, Pendekar Slebor melangkah menghampiri Ningrum.
“Bawa Patih Panggapati ke istana, Paman Guntur Slaksa,” ujar Purwasih memecah kesunyian celah bukit.
Mahapatih Guntur Slaksa mengangguk. Dengan cukup hormat, diajak Patih Ranggapati yang telah menyerah untuk ikut ke istana untuk diadili. Bersama dua perwira dan sembilan prajurit yang masih hidup, mereka meninggalkan celah bukit.
Di pangkuan Andika, Ningrum tersengal-sengal mempertahankan nyawa yang di ambang maut. Darah membasahi sebagian pakaiannya, setelah mengalir dari mulutnya yang tersapu warna merah.
“Andika. Rupanya takdir akan memisahkan kita. Kalau dulu aku bisa diselamatkan guruku, kini aku tak yakin akan ada orang yang bisa menyelamatkanku. Aku mencintaimu, Andika. Dan aku yakin, kau memang mencintaiku. Tapi ketika aku tahu kalau kau ternyata seorang keluarga kerajaan, aku merasa tidak berharga di matamu. Dan itu kuketahui sewaktu berada di ruang kehormatan untuk melihat lukisan Ki Saptacakra. Barangkali, kau harus menerima cinta Purwasih, Andika....”
Setelah itu, Ningrum meregang. Nyawanyapun hanyut dalam alunan irama kematian. Kelopak matanya yang mengatur perlahan bersama hembusan napas terakhir.
“Ningrum...,” desis Andika.
Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dada Andika.
“Walaupun dia keluarga kerajaan, tapi siapakah orangtuanya yang sebenarnya? Dan
mengapa dia dibuang di pinggir hutan?” ini yang menjadi beban pikirannya.
Awan gelap beringsut diatas sana. Sinar matahari sore menerabas lembut di celah bukit yang bisu, menyinari Andika yang memeluk tubuh Ningrum. Tak ada kata yang ingin diucapkannya. Tak ada sesuatu pun yang ingin diperbuatnya. Kecuali, memeluk erat
tubuh beku Ningrum, untuk mengantar kepergiannya ke alam abadi.
Tanpa diduga ternyata orang itu adalah ,,,,, Purwasih
Memang, rupanya Andika tidak mau tanggung-tanggung menjalankan rencananya untuk memancing pengkhianat Kerajaan Alengka. Secara sembunyi-sembunyi, Purwasih disuruhnya untuk naik kereta, setelah diminta untuk mengenakan pakaian Ningrum berikut capingnya.
Lagi-lagi semua orang di sekitar tempat itu menjadi terperanjat. Terlebih Patih Ranggapati. Dan matanya jadi terbelalak untuk yang kedua kali!
“Kau terkejut, Paman Patih?” tanya Purwasih seraya membuka caping penutup wajahnya.
“Purwasih?” sahut Patih Ranggapati, tanpa sadar.
“Ya, aku Purwasih, putri Prabu Bratasena yang kau khianati. Aku juga seorang yang menganggap kau adalah pamanku, tapi mulai saat ini dengan berat hati kau kuanggap sebagai musuh negeri Alengka....”
“Purwasih! Apa-apaan kau ini?!” kata Patih Ranggapati, bergetar.
“Paman Guntur Slaksa, periksalah bahu kiri Patih Ranggapati! Sewaktu pulang bersamaku dulu, dia mengatakan kalau luka di bahunya adalah akibat serangan orang-orang Begal Ireng. Sesungguhnya, luka itu akibat sayatan Kipas Naga milik Ningrum, yang kini menjadi kusir kereta kuda kita...,” sambung Purwasih pada Mahapatih Guntur Slaksa, tanpa mempedulikan keterkejutan Patih Ranggapati.
Rupanya, Purwasih sudah mulai mempercayai siasat yang diterapkan Andika, untuk membuktikan keterlibatan Patih Ranggapati dalam menebar bencana di Kerajaan Alengka.
Lelaki tinggi besar bernama Mahapatih Guntur Slaksa menatap Patih Ranggapati dengan sinar mata tidak percaya. Bagaimana mungkin orang yang selama ini dikenal baik sebagai perwira kerajaan dengan kesetiaannya yang tak diragukan itu berkhianat? Namun mengingat yang memerintah adalah putri raja, mau tak mau Mahapatih Guntur Slaksa mengabulkannya.
“Kemarilah, Patih Ranggapati!” ujar Mahapatih Guntur Slaksa.
Dia berusaha menjangkau pakaian Patih Ranggapati untuk melihat bahu sebelah kirinya, tapi ternyata lelaki yang dicurigai sebagai pengkhianat kerajaan ini menghindar cepat.
“Kenapa kau menghindar, Patih Ranggapati? Apa memang benar ucapan Tuan Putri Purwasih kalau kau adalah pengkhianat kerajaan?” desis Mahapatih Guntur Slaksa penuh tekanan.
Melihat tindakan Patih Ranggapati, Purwasih makin yakin kalau laki-laki yang selama ini sudah dianggap pamannya adalah seorang pengkhianat. Pantas saja selama ini segala kegiatan kerajaan selalu bocor ke telinga Begal Ireng. Dan kini, jelas pancingan Andika mengena.
Sementara Patih Ranggapati hanya menatap Mahapatih Guntur Slaksa dengan wajah memerah. Setapak demi setapak kudanya melangkah ke belakang seperti siap hendak melarikan diri.
“Tangkap pengkhianat itu, Paman Guntur Slaksa!” seru Purwasih.
“Hiaaa...!”
Tubuh Mahapatih Guntur Slaksa langsung melenting tinggi ke arah Patih Ranggapati. Sementara, orang yang diserang juga tidak tinggal diam. Dia juga langsung melenting, memapak serangan Mahapatih Guntur Slaksa. Kini kancah pertempuran makin hingar-bingar karena pertarungan meluas menjadi beberapa bagian. Andika melawan Begal Ireng, Mahapatih Guntur Slaksa dengan Patih Ranggapati, menyusul Purwasih dan Ningrum yang menyerbu ke arah si Kembar dari Tiongkok. Sedangkan prajurit khusus kerajaan menyerang empat kaki tangan Begal Ireng yang lain.
Sementara itu, pertempuran Andika melawan Begal Ireng makin sengit. Keduanya bertukar jurus bertubi-tubi dalam satu kelebatan yang sulit ditangkap mata orang awam. Berkali-kali Begal Ireng dibuat penasaran oleh jurus-jurus Pendekar Slebor yang tampak seperti main-main. Dan setiap kali Begal Ireng melabrak, selalu saja dapat dipatahkan Andika.
Sampai suatu saat....
Begal Ireng mencoba melepaskan tendangan tipuan ke arah pinggang Pendekar Slebor. Dan begitu melihat lawannya menghindar dengan melenting ke atas, Begal Ireng tak menyia-nyiakannya. Seketika tenaga dalamnya kini digenjot. Lalu, tubuhnya melesat sambil melepaskan pukulan maut ke arah Andika yang masih berputaran di udara.
Melihat serangan mendadak ini, Pendekar Slebor rupaya memang sudah menduga. Dalam keadaan masih di udara, langsung dipapaknya serangan Begal Ireng dengan tangan kanannya. Sehingga....
Plak!
Begitu kuat tenaga dalam yang dikerahkan Pendekar Slebor, sehingga tangan kanannya yang tak tergoyah langsung meluruk dengan jari-jari lurus ke arah dada Begal Ireng. Tak ada kesempatan bagi tokoh hitam ini untuk menghindar. Apalagi, keseimbangannya cukup goyah akibat benturan tangan tadi. Akibatnya....
Des!
Tak ayal lagi, dada Begal Ireng kontan terhantam jari-jari tangan kanan Andika dengan telak. Tubuhnya terdorong deras, dan jatuh keras di tanah, menimbulkan debu-debu yang berterbangan di sekitarnya. Bukan main terkejutnya Begal Ireng menerima totokan jari Pendekar Slebor. Sambil menahan sesak luar biasa, dia berusaha bangkit. Sebenarnya jurus-jurus Pendekar Slebor memang sulit diduga. Bahkan seringkali terlihat ngawur.
Namun akibat yang dihasilkannya sungguh sulit dipercaya. Padahal, benteng pertahanan Begal Ireng selama ini tidak bisa ditembus oleh tokoh sakti mana pun. Ki Panji Agung lawannya dulu pun harus bertempur lebih dari ratusan jurus untuk bisa menembus pertahanannya. Tapi lawannya yang berusia belasan tahun ini mampu membobol pertahanan Begal Ireng tak kurang dari tiga puluh jurus!
“Kenapa kaget? Sekarangkau baru berkenalan dengan Pendekar Slebor yang baru turun gunung. Kau ingin lihat kekonyolanku? Lihatlah....”
Selesai berkata demikian, Andika melabrak lawan seperti orang gila yang sedang mengamuk sejadi-jadinya. Sepasang tangannya mengebut kian kemari dengan telapak dan jari tangan terbuka lebar-lebar. Kakinya menendang-nendang kacau seperti seekor kuda liar. Sedangkan kepalanya berputar-putar, sehingga rambutnya berantakan tak karuan.
“Hus... hus! Hus... hus!” Andika menggusah.
Seakan-akan menganggap Begal Ireng, tokoh sakti papan atas aliran hitam itu sebagai ayam miliknya yang hendak digiring ke dalam kandang.
Begal Ireng menjadi kalang kabut menghadapi serangan ganjil lawannya. Selama menjadi tokoh sakti, dia hanya berhadapan dengan lawan yang mengerahkan jurus-jurus terarah. Tapi lawannya kali ini sungguh membingungkan. Serangan yang dikira mengarah ke biji mata, ternyata menyempong ke biji 'terlarang'. Serangan yang mengarah ke ulu hati, ternyata meliuk ke ubun-ubun. Gerakannya seperti daun kering tertiup angin, sewaktu-waktu dapat berubah arah tanpa terduga! Itulah jurus 'Memapak Petir Membabibuta'! Jurus yang berhasil diciptakannya dalam purnama kedua di Lembah Kutukan.
Maka akibatnya....
Duk!
Plak!
Plak!
Secara beruntun, serangan gencar Pendekar Slebor bersarang di tubuh lawan. Kepalanya berhasil menyeruduk kening lawan. Sedangkan telapak tangannya yang terbuka mengenai dua belahan pantat lawan. Tubuh Begal Ireng langsung terjengkang, lalu kembali menghantam tanah dengan keras. Sesaat mata tokoh hitam ini mengerjap-ngerjap dan kepalanya digerak-gerakkan. Kepalanya pusing bukan kepalang akibat benturan kepala lawannya pada bagian kening. Sedangkan kedua tangannya memegangi bagian pantatnya yang terasa seperti tersayat.
“Hua ha ha...!” Andika tergelak-gelak sambil memegangi perut.
“Kau seperti anak kecil yang sedang antri di jamban, Begal Ireng!”
“Anjing kurap!” Begal Ireng bangkit kembali.
Kemarahan tokoh sesat ini sudah membakar seluruh dadanya. Ubun-ubunnya pun sudah seperti mau meledak. Segera dilepasnya cemeti dari pinggang. Dia tak mau tanggung-tanggung lagi meng-hadapi lawannya yang ganjil ini.
“Waduh! Kau mulai main-main dengan buntut tuyulmu itu, ya? Hati-hati, nanti bisa dimarahi abahmu!” Andika berkoar seenak udel.
“Hiaaat!”
Wut!
Pertempuran berlanjut. Tapi kali ini lebih ganas, karena masing-masing telah mengeluarkan senjata. Begal Ireng yang telah kalap, tak peduli lagi dengan lawannya yang masih muda. Yang jelas, keturunan Pendekar Lembah Kutukan harus dilenyapkan.
Begal Ireng cepat mengebutkan cemetinya ke bagian kepala Andika, lewat jurus ketujuh 'Sabetan Ekor Iblis”. Namun, tubuh Pendekar Slebor itu justru mencelat ke atas menuju kepala lawan. Di udara, tangannya yang telah memegangi kain catur pusaka memecutkan senjata itu ke tangan Begal Ireng. setelah terlebih dahulu meliukkan tubuhnya meng-hindari jilatan cemeti.
Ctar!
Cemeti di tangan Begal Ireng terlepas seketika. Sedangkan tubuh Pendekar Slebor meluncur turun dibelakang Begal Ireng. Begitu mendarat, dengan satu gerakan sulit dihindari, kain catur pusakanya menyergap wajah Begal Ireng saat masih di udara. Akibatnya Begal Ireng tidak dapat melihat apa-apa lagi. Kain itu berusaha dilepaskan dari wajahnya dengan melempar tubuh ke belakang. Tapi, dengan segera Andika mengikuti gerakannya. Beberapa kali tubuh mereka bergantian berputaran. Dan ternyata Begal Ireng tetap tak dapat melepaskan cengkeraman kain catur pusaka yang membelit seluruh
wajahnya.
Sampai suatu ketika....
“Aaakh!”
Dalam keadaan begitu, mata Pendekar Slebor melihat tubuh Ningrum melayang mengerikan. Rupanya, seorang dari si Kembar dari Tiongkok berhasil menghempaskan tubuh gadis itu dengan pukulan jarak jauh yang pernah dipakai untuk melumpuhkan Ki Panji Agung dulu.
“Ningrum!” teriak Andika terkejut.
Pada saat itu, perhatiannya pada Begal Ireng buyar. Sehingga, pegangan pada kain catur pusaka mengendor.
“Hiaaat!”
Berbareng satu gerakan berputar, Begal Ireng yang berjuluk Pencabut Nyawa berhasil melepaskan kain catur pusaka milik Andika dari wajahnya. Setelah tubuhnya menghadap ke arah Pendekar Slebor, tangannya bergerak bergantian secara beruntun.
Des! Des! Des! Des!
Empat pukulan sakti ajian 'Brajamusti' menghantam dada pendekar itu. Jika satu pukulan itu dapat meremukkan batu karang sebesar benteng, bisa dibayangkan bagaimana parahnya luka yang diderita Andika menerima empat pukulan sekaligus!
“Aaakh!”
Tubuh Andika terjengkang menyusul Ningrum yang lebih dulu menghantam sisi bukit karang. Tubuh Pendekar Slebor lunglai setelah menabrak tebing terlebih dahulu. Dari celah bibirnya mengalir darah kental kehitam-hitaman. Sedangkan dari dadanya tampak mengepul asap tipis.
“Andikaaa!” pekik Purwasih, melihat pemuda yang dicintainya tergeletak tanpa gerak.
“Hua ha ha...! Jangan dikira dapat mengalahkanku, Bocah Ingusan,” ledek Begal Ireng puas.
Pertempuran terhenti ketika Purwasih berlari menuju tubuh Andika dengan derai air mata di pipi. Semuanya tertegun menyaksikan seorang pendekar dari keluarga Pendekar Lembah Kutukan ternyata mengalami nasib mengerikan di tangan Begal Ireng.
Di langit, awan gelap yang pekat berarak menutupi seluruh celah bukit. Warnanya yang menyeramkan, sedikit pun tidak membiarkan sinar matahari menerobos. Gumpalan raksasa berkekuatan sengatan alam yang mana dahsyat itu saling berbenturan. Dan....
Jlegar! Jlegar! Jlegar! Jlegar!
Empat jilatan lidah petir mengkerjap, menyengat tubuh lunglai Andika, sebelum Purwasih sempat memeluknya. Bahkan tubuh wanita itu terhempas karena ledakan petir yang merasuki tubuh Andika secara aneh.
Krttt!
Dari tempat yang agak jauh, semua mata menyaksikan bagaimana tubuh pendekar muda itu menyala terang bagai disinari ribuan lidah api. Warnanya merah kebiru-biruan, memancar hingga sepuluh tombak dari tubuhnya. Purwasih yang berada paling dekat dengan Andika langsung Cumiik nyaring, seraya menutupi kedua mata dengan tangan. Bahkan para prajurit yang berada di ujung celah ikut menyipitkan mata karena silau.
Sesaat berikutnya tubuh Andika mengejang, lalu bergetar hebat. Sebuah kekuatan alam yang maha dahsyat telah bergolak dalam tubuhnya. Itulah akibat yang terjadi, setelah beberapa waktu lalu Pendekar Slebor ini memakan buah langka Inti Petir warisan Ki Saptacakra. Dan mendadak saja tubuhnya bangkit dalam satu erangan panjang.
“Ngrh!”
Dengan tubuh masih berpijar menyilaukan, sepasang tangan Pendekar Slebor menyilang ke depan dalam getaran keras. Dari sepasang telapaknya, tiba-tiba saja meluncur dua larik sinar tebal berwarna kebiru-biruan seperti petir, menuju ke arah Begal Ireng.
Tokoh berjuluk si Pencabut Nyawa yang tertegun menyaksikan keajaiban itu, tak mampu lagi meng-hindar. Dia benar-benar terpaku melihat kejadian itu.
Ctarrr!
“Aaakh!”
Lengkingan tinggi menguak angkasa terdengar. Hanya sesaat mulut tokoh sakti itu melontarkan teriakan menggidikkan. lalu tubuhnya ambruk dan telah hangus matang di atas tanah. Asap tipis berbau menjijikkan menyebar di celah bukit, lalu hilang tersapu angin.
Melihat kenyataan yang mengendorkan keberanian mereka, anak buah Begal Ireng langsung mengambil keputusan untuk melarikan diri. Termasuk, si Kembar dari Tiongkok. Mereka tidak mau menjadi korban berikutnya dari ilmu aneh Pendekar Slebor! Begitu cepat mereka melesat, sesaat kemudian keenam lelaki itu sudah menghilang di balik bukit tanpa ada yang bisa mencegahnya.
Sementara, tubuh Andika kini telah biasa kembali. Sinar menyilaukan telah menghilang perlahan beberapa saat lalu, bagai diisap bumi. Lalu, Pendekar Slebor melangkah menghampiri Ningrum.
“Bawa Patih Panggapati ke istana, Paman Guntur Slaksa,” ujar Purwasih memecah kesunyian celah bukit.
Mahapatih Guntur Slaksa mengangguk. Dengan cukup hormat, diajak Patih Ranggapati yang telah menyerah untuk ikut ke istana untuk diadili. Bersama dua perwira dan sembilan prajurit yang masih hidup, mereka meninggalkan celah bukit.
Di pangkuan Andika, Ningrum tersengal-sengal mempertahankan nyawa yang di ambang maut. Darah membasahi sebagian pakaiannya, setelah mengalir dari mulutnya yang tersapu warna merah.
“Andika. Rupanya takdir akan memisahkan kita. Kalau dulu aku bisa diselamatkan guruku, kini aku tak yakin akan ada orang yang bisa menyelamatkanku. Aku mencintaimu, Andika. Dan aku yakin, kau memang mencintaiku. Tapi ketika aku tahu kalau kau ternyata seorang keluarga kerajaan, aku merasa tidak berharga di matamu. Dan itu kuketahui sewaktu berada di ruang kehormatan untuk melihat lukisan Ki Saptacakra. Barangkali, kau harus menerima cinta Purwasih, Andika....”
Setelah itu, Ningrum meregang. Nyawanyapun hanyut dalam alunan irama kematian. Kelopak matanya yang mengatur perlahan bersama hembusan napas terakhir.
“Ningrum...,” desis Andika.
Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dada Andika.
“Walaupun dia keluarga kerajaan, tapi siapakah orangtuanya yang sebenarnya? Dan
mengapa dia dibuang di pinggir hutan?” ini yang menjadi beban pikirannya.
Awan gelap beringsut diatas sana. Sinar matahari sore menerabas lembut di celah bukit yang bisu, menyinari Andika yang memeluk tubuh Ningrum. Tak ada kata yang ingin diucapkannya. Tak ada sesuatu pun yang ingin diperbuatnya. Kecuali, memeluk erat
tubuh beku Ningrum, untuk mengantar kepergiannya ke alam abadi.
SELESAI
Diubah oleh ucln 24-08-2016 20:47
m.y.h memberi reputasi
-1