Quote:
Elo udah abis!! Abis!!!
Lo bukan siapa-siapa lagi sekarang!!!
Kalimat yang dilontarkan Anton kepadanya ketika malam premiere itu masih keras mengiang di telinga. Nyaris delapan bulan berlalu sejak peristiwa itu, tapi entah mengapa kalimat itu masih terus saja mengganggunya. Meremuk redamkan hatinya.
Yuda terduduk di sebuah meja warung kopi yang nyaris tutup. Kepalanya tertunduk. Lemas. Hanya dia sendirian di sana dan dua orang pemilik warung yang sibuk membereskan meja-meja lain yang sudah kosong. Di sisi lain, seorang gadis remaja -yang Yuda kira adalah anak si pemilik warung- sedang asyik menonton televisi kecil di balik meja kasir yang sama sekali tidak mirip dengan meja kasir. Kopi hitamnya tinggal tersisa setengah dan jarum jam berdetak di angka dua belas lewat lima menit. Tengah malam.
Jadi, apa benar semuanya sudah berubah? Apa benar dirinya kini tak lebih dari pecundang yang telah kehilangan segala hal yang dulu sempat ia miliki? Memang begitu adanya, batin Yuda dalam hati. Kini dia tersingkirkan. Terpinggirkan. Semua yang dia cintai terenggut. Hilang, tanpa menyisakan apapun.
Dia tegakkan kepalanya. Dia edarkan pandangannya ke sekeliling.
Dulu…dulu ketika waktu dan keberuntungan masih berpihak kepadanya, dia seringkali menghabiskan malam di diskotik kelas atas. Makan malam bersama wanita-wanita cantik di restoran dengan menu-menu Eropa. Tapi yang sedang terjadi kini adalah, dia sedang duduk sendirian dengan satu gelas kopi hitam murahan yang dia hirup sedikit-sedikit, di sebuah warung berukuran kecil dengan tembok yang mulai berjamur. Bahkan kursi kayu yang dia duduki selalu mengeluarkan derit setiap kali dia membenarkan posisi.
Inikah rasanya jatuh? Inikah rasanya menjadi orang paling kalah di dunia? Ya, Yuda adalah orang yang kalah. Di masa keemasannya, dia bertaruh terlalu banyak. Terlalu sering, hingga dia tak menyadari ketika dia mulai bodoh dan orang-orang yang dia kira bisa dipercaya mulai menggerogotinya sedikit demi sedikit. Lalu, ketika semuanya habis, satu persatu dari mereka mulai meninggalkannya. Sendirian. Dalam kemalangan.
Ada setitik air mata yang jatuh di pipi Yuda. Tapi itu bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata kebencian. Air mata dendam. Dendam kesumat atas segala yang telah dicuri darinya. Dendam kesumat atas kecurangan yang ditujukan kepada dirinya. Dendam kesumat untuk pengkhianatan, penistaan dan penghancuran.
“Maaf, Mas…”
Yuda terkaget. Secepat mungkin dia usap air mata itu dengan tangan kanannya. Sang pemilik warung, yang kini sudah berdiri di hadapan Yuda, tampak tersenyum. Seakan ingin mengatakan bahwa dia sudah harus pergi.
Bahkan kini oleh tukang kopi saja dia diusir. Yuda berdiri dari duduknya, mengeluarkan selembar uang lima ribuan kumal dari dalam kantong celana jeansnya yang tak kalah kumalnya, lalu segera beranjak keluar warung.
Tapi…langkahnya seketika terhenti tepat di depan meja kasir, dimana si gadis anak pemilik warung masih sibuk dengan televisinya. Entah telinga si gadis itu tuli atau memang volume televisi butut itu tidak bisa diturunkan, yang pasti Yuda mampu mendengarnya dengan amat jelas…
Berita berikutnya datang dari Jakarta. Seorang sutradara senior, Anton Sihombing, ditemukan meninggal dunia di dalam mobil Toyota Etios miliknya. Polisi, dalam penyelidikannya, menyatakan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban. Dugaan sementara, korban kehabisan oksigen di dalam mobil. Dugaan itu menguat terkait penemuan sebotol minuman keras…
Yuda melanjutkan langkahnya keluar, kali ini dengan sebuah senyuman kecil tersungging di bibir keringnya.
Quote:
“Andai gue coba main film lagi, menurut lo gimana, Ton?”
“Main film lagi? Hahaha…lo bercanda?? Ini 2016 Lan…siapa juga yang masih kenal sama lo?? Enggak ada. Hahaha…!! Maaf maaf aja ya, tapi daripada lo mikir yang aneh-aneh kayak barusan, mending lo pikirin gimana caranya bayar semua utang lo sama gue.”
“Tapi, Ton…”
“Iyaaaa…gue ngerti lo temen gue. Almarhum bokap lo punya jasa besar di awal-awal karir gue dan almarhumah nyokap lo yang ngasih gue kepercayaan buat ngerjain salah satu filmnya. Tapi ini bisnis. Lo dan gue tahu ini bisnis dan apa artinya itu buat kita berdua. Dan asal lo tahu utang lo sama gue…ditambah bunga yang terus naik karena lo ngeles mulu tiap bulan…itu bukan jumlah yang kecil.”
Anton Sihombing. Sang sutradara yang nama dan jam terbangnya disegani oleh sesama insan perfilman itu, adalah sahabat masa kecilnya. Yuda mengenalnya lebih dari siapapun. Si gendut yang lahir dari rahim seorang penyanyi café yang meninggal karena HIV Aids ketika dia masih berumur 10 tahun itu dipungut oleh paman Yuda dan lalu menjadi sahabatnya. Bahkan mereka bersekolah di SMP dan SMA yang sama.
Hingga akhirnya, selepas masa SMA, bakat dan ketertarikan Anton pada dunia penyutradaraan membuat ayah Yuda simpatik dan lalu mendidiknya. Dia dikenalkan dengan seorang sutradara sahabat ayah Yuda dan di sana dia banyak belajar. Hingga akhirnya, nasib baik menaungi Anton. Karirnya terus naik dan pada satu titik, namanya menjadi salah satu dari sedikit sutradara muda paling kreatif dan inovatif. Salah satu film tersukses Yuda, adalah hasil karya Anton, walaupun mereka berdua terhitung amat jarang bekerja bersama dalam satu film.
Tapi, jika hidup diumpamakan seperti proses mendaki gunung, maka Yuda adalah seorang pendaki yang jatuh ke tebing maha dalam ketika dia masih berada di tengah-tengah perjalanan, sedangkan Anton masih saja terus mendaki. Semakin cepat menapak menuju puncak.
Yuda masih ingat betul, Antonlah orang yang pertama memberinya saran untuk mengalihkan perhatian ke dunia sutradara, setelah beberapa kali dia gagal mendapatkan peran utama. Yuda yang kala itu mulai sedikit frustasi, menuruti saran Anton karena Yuda menganggapnya sebagai sahabat lama. Tapi, pada akhirnya, semua orang tahu bahwa film-film -lebih tepatnya tiga butir film- yang dihasilkan oleh Yuda nyaris tidak menghasilkan apa-apa. Jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil karya Anton.
Dan berikutnya, kejatuhan itu terjadi tanpa bisa dicegah lagi.
Tiga filmnya gagal, hartanya tergerus sedikit demi sedikit, dan hutangnya kepada Anton semakin menggunung. Tabitha, harapan satu-satunya bagi Yuda untuk tetap menghasilkan uang baginya, secara halus direbut dari genggamannya. Oleh Anton. Dan si baik Marlo, anak muda yang namanya sedang bersinar terang menjadi idola para remaja.
Apartemen mewahnya disita. Dua buah mobil mewahnya laku terbeli. Dan sisa hartanya yang lain hilang begitu saja. Sebagian dilelang oleh pengadilan. Yang lainnya masuk ke kantong Anton.
Dan jika ada yang masih tersisa, maka itu adalah beberapa perhiasan emas mendiang ibunya, yang pada akhirnya terpaksa Yuda jual dan menghasilkan uang 50 juta rupiah. 50 juta rupiah yang kini -Yuda tak peduli lagi- akan dia berikan kepada satu nama yang bahkan tidak dia kenal. 50 juta rupiah yang dia percayakan pada satu sosok yang bahkan Yuda sendiri tak pernah menatap wajahnya. Satu nama yang akan melampiaskan dendam besarnya; menghabisi musuh-musuhnya.
Ya. Anton bukanlah seorang sahabat lagi bagi Yuda. Sahabat tentu akan mengulurkan tangan dan mempertaruhkan nyawa ketika melihat sang kawan jatuh ke tebing curam. Sahabat tentu akan memberikan pertolongan…tapi Anton malah mendorongnya.