- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#57
Part 10
“Sejak Begal Ireng dan gerombolannya membantai perguruanku, aku menyimpan dendam yang tak dapat kukuasai lagi. Lalu, aku bertekad menuntut balas. Untuk muncul terang-terangan,aku takut kaki tangan Begal Ireng mengenali. Bahkan bisa-bisa mereka menangkapku untuk dijadikan sandera, agar kau menyerahkan diri pada Begal Ireng. Maka itu, aku menyamar dengan pakaian lelaki dan caping lebar ini. Sengaja senjata kipasku tak kugunakan dengan alasan tadi. Sebagai gantinya, kugunakan pisau-pisau kecil sebagai senjataku,” jelas Ningrum.
“Tapi bagaimana kalau tokoh-tokoh golongan hitam yang bergabung dengan Begal Ireng menangkapmu, kemudian menyerahkan dirimu pada pemimpin mereka? Bukankah Begal Ireng sudah mengenalimu? Kalau sudah begitu, kau tetap akan dijadikan sandera!” penggal Andika keras.
Pendekar Slebor bukan takut menghadapi tokoh aliran sesat itu, tapi hanya khawatir keselamatan Ningrum. Ningrum kembali menancapkan pandangan ke lantai kamar. Mulutnya membisu, seperti juga lantai kamar yang ditatapnya. Dalam hati diakui kebenaran ucapan Andika barusan. Betapa bodohnya dia, hanya mengikuti gejolak dendam tanpa berpikir panjang!
“Lalu, kenapa kau menyerang Patih Ranggapati?” cukil Andika kembali.
“Pembesar itu berkhianat, Andika. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, dia sedang mengadakan pertemuan rahasia bersama seorang kaki tangan Begal Ireng. Aku mengenal kaki tangan Begal Ireng, karena dia juga ikut membantai Perguruan Naga Merah....”
“Astaga...,” desis Andika.
“Purwasih! Kau tahu, siapa yang berkhianat dalam kerajaan ini?” tanya Andika berbisik, ketika menemukan Purwasih sedang melatih jurus-jurus silat di halaman istana. Saat itu matahari tidak begitu ganas, karena memang belum lama lagi. Purwasih langsung menghentikan gerakan. Tanpa memasukkan pedang ke sarungnya kembali, ditatapnya Andika penuh keingintahuan.
“Siapa?” tanya gadis itu.
“Patih Ranggapati...,” jawab Andika hati-hati.
“Ha ha ha....”
Wanita itu mendadak tertawa keras-keras. Tentu saja Andika jadi kelimpungan menahan suara tawa yang begitu keras-.
“Ssst! Gila, kau! Bisa dicurigai pengkhianat itu!” Pendekar Slebor memperingatkan.
“Kau yang gila, Andika. Aku kenal betul lelaki itu. Dia sudah seperti pamanku sendiri. Itu sebabnya, kenapa dia memanggilku Purwasih saja, tanpa embel-embel tuan putri yang memuakkan itu,” tukas Purwasih, dan hendak melanjutkan latihannya.
“Hey! Aku sedang tidak ingin bercanda!” tegas Andika dengan wajah sungguh-sungguh.
“Kau sungguh-sungguh?” tanya Purwasih seraya menatap lelaki di depannya lekat-lekat.
“Ningrum yang menyaksikan Patih Ranggapati sedang mengadakan pertemuan rahasia bersama seorang kaki tangan Begal Ireng....”
Secara singkat, Andika menguraikan cerita tentang Ningrum pada Purwasih.
“Ah! Rasanya sulit sekali kupercayai berita ini, Andika,” desah Purwasih setelah Andika selesai bicara.
“Tapi, begitulah kenyataannya.”
“Tapi Patih Ranggapati sudah seperti keluargaku sendiri!” ucap Purwasih tak mau kalah.
“Aku yakin, pernah terjadi bentrokan antara ayahmu dengan lelaki itu,” duga Pendekar Slebor.
Lama mata Purwasih terhujam pada dinding benteng istana. Tampaknya dia sedang diusik sesuatu yang tersembul di benaknya. Beberapa kali wanita itu menghempas napas galau.
“Kau ingat sesuatu, Purwasih?” usik Andika.
“Ya. Patih Ranggapati memang pernah bersengketa dengan ayahku. Dia mencintai seorang wanita bernama Tanjungsari. Bertahun-tahun wanita itu berusaha untuk diperistrinya, tapi tidak berhasil. Dan wanita itu malah terpincut pada ayahku, sampai akhirnya keduanya menikah...,” cerita Purwasih.
Matanya tetap menerawang jauh.
“Wanita itu ibumu?”
Purwasih mengangguk lamat.
Jelas sudah bagi Andika, alasan Patih Ranggapati berkhianat pada Kerajaan Alengka...
Pagi baru berlalu sekian saat. Sang Raja Siang merayap perlahan menuju puncaknya. Panas terasa mulai tak bersahabat. Di sebuah jalan rumput yang membelah padang luas, terlihat arak-arakan kecil. Beberapa orang terlihat berjalan di belakang kereta kuda yang dihela seorang kusir bertubuh ramping. Empat orang di antaranya mengendarai kuda. Dua berada paling depan, sedangkan sisanya berada di barisan paling belakang. Melihat dari bendera yang dibawa, bisa ditebak kalau arak-arakan itu adalah rombongan kerajaan.
Dua hari yang lalu, Prabu Bratasena merencanakan pergi untuk menemui raja dari negeri tetangga yang akan bekerjasama dengannya memberantas gerombolan Begal Ireng. Menurut Prabu Bratasena, raja negeri tetangga mulai merasa khawatir oleh meluasnya kekuasaan Begal Ireng ke wilayahnya. Makanya, dia mengirim pesan rahasia pada Prabu Bratasena untuk mengadakan kerjasama. Tawaran itu tentu saja diterima gembira.
Agar kepergian ini tidak dicurigai mata-mata Begal Ireng, Prabu Bratasena memerintah para prajurit pengawal untuk mengenakan pakaian biasa. Pakaian kerajaan yang menandakan mereka sebagai prajurit istana harus ditanggalkan. Sementara pembesar kerajaan yang ikut bersama rombongan adalah Mahapatih Guntur Slaksa. Lima belas prajurit khusus serta tiga perwira istana langsung dipimpinnya. Dan seorang perwira yang
menyertainya adalah Patih Ranggapati.
“Berjalanlah perlahan, agar kita tidak dicurigai!” seru Prabu Bratasena dari dalam kereta kudanya yang tertutup.
“Mudah-mudahan pengkhianat ke-rajaan tidak mengetahui rencana kita.”
Tapi, apa benar begitu?
Di ujung padang rumput yang dibatasi deretan bukit kecil, Begal Ireng bersama beberapa orang pilihannya ternyata telah menunggu. Wajah pemimpin pemberontak itu terlihat berapi-api, diberontaki hasrat membunuh. Bibirnya sesekali menyeringai, seakan seekor serigala menunggu mangsa. Lelaki itu berpakaian hitam-hitam, terbuat dari sutera. Wajahnya tampan dan kelimis, namun berkesan amat dingin. Di bagian pinggangnya melilit
sebuah cemeti pusaka yang terbuat dari akar tumbuhan langka berduri tajam, seperti ekor ikan pari.
Dia duduk gagah di punggung kuda putihnya. Di sisi kanan dan kirinya, berdiri dua lelaki tangan kanannya. Mereka adalah, si Kembar dari Tiongkok yang berpenampilan serupa. Baik dari wajah, hingga pakaian mereka. Kepala mereka juga sama-sama gundul, dan mata mereka juga sipit. Ditambah oleh keadaan kulit yang kuning, sudah dapat diduga kalau keduanya berasal dari daratan Tiongkok. Dan sebenarnya, si Kembar dari Tiongkok adalah dua tokoh aliran sesat yang lari dari negerinya, karena menjadi buronan pihak kerajaan di Tiongkok. Bekal mereka ke nusantara ini adalah ilmu bela diri yang tinggi dan kekejaman.
Empat lelaki lain tampak berdiri dengan wajah tegang di belakang Begal Ireng. Mereka adalah tokoh sesat aliran hitam yang akan membantu penyerangan Begal Ireng terhadap rombongan kerajaan. Seperti juga Begal Ireng, keempat orang itu berpakaian hitam-hitam pula. Itu memang salah satu ciri khas gerombolan pemberontak di bawah perintah Begal Ireng. Dua orang yang tidak mengenakan pakaian hitam-hitam dalam gerombolan ini hanyalah si Kembar dari Tiongkok. Mereka justru berpakaian putih-putih.
Di balik bebatuan besar di kaki bukit, ketujuh lelaki itu mengintai. Mata mereka lepas ke padang rumput yang terhampar di depan. Dan ketika rombongan kerajaan mulai terlihat seperti titik kecil di kejauhan, Begal Ireng mengangkat tangannya.
“Saat Bratasena keparat dan pasukannya tiba di celah bukit, kita habisi mereka. Ingat! Habisi! Jangan biarkan ada yang tersisa!”
Si Kembar dari Tiongkok hanya mengangguk-angguk lamat. Sedangkan empat lelaki lain menjawab dengan suara dingin dan datar, seakan sedang menikmati gelora nafsu membunuh.
Sehari lalu, seorang kaki tangan Begal Ireng menyampaikan berita tentang kepergian Prabu Bratasena yang didapat dari si pengkhianat. Tak heran kalau kini mereka menghadang rombongan.
Sementara itu, rombongan kerajaan makin dekat menuju tempat persembunyian Begal Ireng dan pengikutnya yang berjumlah enam orang itu. Dugaan Andika beberapa waktu yang lalu memang tidak meleset. Begal Ireng memang tidak ingin membuang nyawa pasukannya. Tujuan sebenarnya adalah membunuh Prabu Bratasena, yang memiliki garis keturunan Pendekar Lembah Kutukan. Dia tak akan menyerang kerajaan secara langsung, dan hanya menunggu kesempatan yang baik untuk menghabisi raja bijaksana itu.
Setombak demi setombak, rombongan kerajaan makin menghampiri perangkap yang dipasang Begal Ireng. Saat mereka berada di celah antara dua bukit yang menjadi jalan tembus, Begal Ireng dan kaki tangannya siap akan menyergap. Saat itu, rombongan kerajaan sudah memasuki mulut celah bukit. Dan....
“Maju!” perintah Begal Ireng pada anak buahnya, penuh nafsu.
Seketika dari bebatuan besar yang menyembunyikan tubuh mereka, Begal Ireng dan anak buahnya berhamburan keluar. Bersama si Kembar dari Tiongkok, dia menghadang didepan. Sementara, empat anak buahnya yang lain menghadang di belakang. Rombongan kerajaan kini benar-benar terjepit, tanpa dapat meloloskan diri lagi. Bagaimana mereka bisa meloloskan diri kalau di sisi-sisi adalah tebing terjal menjulang yang mustahil didaki. Sedangkan di depan dan di belakang mereka, musuh sudah siap merencah. Celah bukit sepi, maut yang akan menjemput. Hanya desir angin yang meluncur di antara dinding
cadas.
“Bratasena! Akhirnya kau akan menyusul saudaramu Panji Agung ke dasar neraka!” seru Begal Ireng keras, namun dingin. Tak ada perubahan sedikit pun di wajahnya. Sementara, anak rambut dan ujung pakaiannya dipermainkan angin. Tak ada jawaban dari pihak kerajaan.
“Bratasena! Apakah kau sudah siap untuk menerima kematianmu. Atau, kau memang tuli?” bentak Begal Ireng sekali lagi.
“Hua ha ha...!”
Kali ini, terdengar tanggapan dari kereta kuda. Tapi hanya tawa.
“Kau pikir ini lucu, hah?!” bentak Begal Ireng kembali.
“Ya. Tapi aku tak tertawa karena ucapanmu. Aku hanya teringat pada syair Iagu. Kau mau dengar? Begini....”
Kemudian dari dalam kereta kuda terdengar senandung berisi pantun.
“Debrut-brut-brut kentut kuda.
Bikin ngantuk sejuta angsa.
'Cecurut tua 'yang awet muda.
Mengira mampu berkuasa...?”
“Keparat!” hardik Begal Ireng.
Memang, usia Begal Ireng sebenarnya hampir mencapai sembilan puluh tahun, tapi karena menganut ilmu awet muda, penampilannya masih tampak seperti lelaki berusia tiga puluhan.
Tanpa memerintah anak buahnya, Begal Ireng langsung meluruk ke arah kereta kuda. Tentu saja ini sangat mengejutkan Mahapatih Guntur Slaksa. Maka lelaki itu segera ikut melesat ke arah kereta kuda. Namun sebelum Begal Ireng atau Mahapatih Guntur Slaksa benar-benar sampai, tiba-tiba sesosok tubuh mencelat bagai bayangan hantu. Setelah berputar beberapa kali di udara, orang yang melesat dari kereta kerajaan itu menjejak persis setombak di depan Begal Ireng yang mendadak menghentikan larinya.
“Bakikuk!” seru orang itu.
Ternyata, dia adalah Andika! Tentu saja Begal Ireng terkesiap. Matanya terbelalak bagai kelereng. Sungguh tak diduga. Ternyata orang yang berada dalam kereta kuda itu bukan Prabu Bratasena. Memang, inilah rencana yang pernah dijanjikan Andika pada Purwasih. Dengan rencananya ini, dia berhasil memancing Begal Ireng keluar dari sarangnya.
Sengaja Andika mengatur agar Prabu Bratasena tampak sungguh-sungguh hendak me-nemui raja negeri tetangga. Dan hal itu, lalu dibicarakan di depan para pembesar kerajaan. Ternyata perhitungan Andika berjalan lancar. Rencana kepergian itu buktinya bocor, sampai ke telinga Begal Ireng. Hanya saja, orang yang berada dalam kereta sudah berganti. Bukan Prabu Bratasena, tapi Andika sendiri.
Bukan hanya Begal Ireng yang terkejut. Mahapatih Guntur Slaksa pun demikian. Bahkan telah melompat dari punggung kudanya, lalu melesat menuju kereta kuda. Namun langkahnya dihentikan seperti halnya Begal Ireng. Bahkan dua perwira dan lima belas prajurit kerajaan tadi membelalakkan mata. Apalagi, Patih Ranggapati.
Kenapa mereka bisa ikut terkecoh? Sekali lagi, ini akal bulus Pendekar Slebor itu. Andika memang mengatur rapi, agar kusir kereta kuda digantikan Ningrum yang mengenakan pakaian lelaki. Pada saat Prabu Bratasena sudah masuk ke dalam kereta kuda di hadapan para pembesar istana, Andika menjentikkan kerikil kecil ke tubuh salah seekor kuda. Akibatnya kuda itu langsung terkejut dan berlari sehingga ketiga kuda lain yang mengikutinya. Ketika kuda berlari sekian langkah di dekat sebuah pohon besar, Andika segera masuk ke dalam. Sedangkan, Prabu Bratasena keluar dan bersembunyi di balik pohon besar itu. Kejadian ini begitu cepat. Sehingga, beberapa perwira yang memburu untuk menghentikan lari kuda tak sempat melihatnya.
“Wah wah wah...! Kenapa matamu melotot seperti orang banyak hutang, Begal Ireng?” ejek Andika seraya memutar-mutar kain bercorak catur di depan dada, seperti orang kepanasan.
“Kau..., ternyata kau belum mati?” kata Begal Ireng, geram.
“Aku selalu punya nyawa cadangan yang kusimpan dalam perutku. Kau mau lihat nyawa cadanganku?” ujar Andika acuh.
“Nih....”
Truut... dut! Du... brot!
Andika mengeluarkan angin yang dikatakannya tadi sebagai nyawa cadangan. Dan angin itu dikeluarkan melalui lubang pantatnya!
“Hebat, bukan?”
“Keparat!” geram Begal Ireng amat memuncak.
Mata tokoh hitam ini mendadak memerah. Wajahnya pun terbakar kemurkaan. Karena dirinya telah dipermainkan anak muda bau kencur berpakaian hitam pupus ini.
“Kali ini kau tak akan lolos lagi dari maut, Anak Babi!” umpat Begal Ireng.
“Tapi kalau aku lolos lagi, bisa jadi kau yang akan dijemput maut, Bapak Babi!” timpal Andika, semakin membakar kemarahan lawannya.
Sampai di situ Begal Ireng tidak bisa lagi menahan kemurkaannya. Dengan satu genjotan, tubuhnya meluruk ke arah Pendekar Slebor. Di benaknya hanya terbayang bagaimana anak muda kurus itu tergeletak menjadi mayat.
“Adouw, tidak kena!” teriakAndika seraya bergeser ke samping. Namun, kaki kirinya yang masih tetap di tempat semula langsung menyapu kaki lawan.
Begal Ireng yang menyerang Andika dengan jurus 'Terkaman Naga', segera menghentak kakinya yang hendak disapu lawan. Tubuhnya langsung melenting ke udara. Setelah berputar di udara beberapa kali, kakinya kembali menjejak mantap di tanah. Dari sini bisa dilihat kehebatan ilmu meringankan tubuhnya.
“Kau bertempur menggunakan jurus apa, Begal Ireng? Apakah nama jurus itu 'Kodok Bisul Cari Makan'? Kalau begitu, aku harus menghadapimu dengan jurus 'Kupu-kupu Bingung',” kata Andika, pendekar muda yang mendapat julukan Pendekar Slebor ini.
Tubuh tegap pemuda itu bergerak. Kain bercorak papan catur yang tergenggam di tangannya terlihat dibentangkan. Sepasang kakinya melekuk keluar seperti seorang yang menahan sakit perut. Lalu, tubuhnya mulai berputar-putar setengah terhuyung dalam satu lingkaran kecil.
“Anak sinting cari mampus!” maki Begal Ireng ketika melihat lawannya mulai mengejek kembali.
Serangan selanjutnya dilancarkan Begal Ireng, langsung memasuki jurus kesepuluh 'Terkaman Naga'. Di samping karena sudah menduga kalau lawannya telah menjalani penyempurnaan, lelaki itu juga ingin secepatnya menyudahi pertarungan ini.
Sementara itu tanpa diduga Patih Ranggapati, dari kereta kuda meluncur seseorang berpakaian merah menyala dengan kepala ditutup caping pelepah kelapa. Dan dia tepat mendarat di depan Patih Ranggapati.
Tanpa diduga ternyata orang itu adalah ,,,,,
“Sejak Begal Ireng dan gerombolannya membantai perguruanku, aku menyimpan dendam yang tak dapat kukuasai lagi. Lalu, aku bertekad menuntut balas. Untuk muncul terang-terangan,aku takut kaki tangan Begal Ireng mengenali. Bahkan bisa-bisa mereka menangkapku untuk dijadikan sandera, agar kau menyerahkan diri pada Begal Ireng. Maka itu, aku menyamar dengan pakaian lelaki dan caping lebar ini. Sengaja senjata kipasku tak kugunakan dengan alasan tadi. Sebagai gantinya, kugunakan pisau-pisau kecil sebagai senjataku,” jelas Ningrum.
“Tapi bagaimana kalau tokoh-tokoh golongan hitam yang bergabung dengan Begal Ireng menangkapmu, kemudian menyerahkan dirimu pada pemimpin mereka? Bukankah Begal Ireng sudah mengenalimu? Kalau sudah begitu, kau tetap akan dijadikan sandera!” penggal Andika keras.
Pendekar Slebor bukan takut menghadapi tokoh aliran sesat itu, tapi hanya khawatir keselamatan Ningrum. Ningrum kembali menancapkan pandangan ke lantai kamar. Mulutnya membisu, seperti juga lantai kamar yang ditatapnya. Dalam hati diakui kebenaran ucapan Andika barusan. Betapa bodohnya dia, hanya mengikuti gejolak dendam tanpa berpikir panjang!
“Lalu, kenapa kau menyerang Patih Ranggapati?” cukil Andika kembali.
“Pembesar itu berkhianat, Andika. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, dia sedang mengadakan pertemuan rahasia bersama seorang kaki tangan Begal Ireng. Aku mengenal kaki tangan Begal Ireng, karena dia juga ikut membantai Perguruan Naga Merah....”
“Astaga...,” desis Andika.
***
“Purwasih! Kau tahu, siapa yang berkhianat dalam kerajaan ini?” tanya Andika berbisik, ketika menemukan Purwasih sedang melatih jurus-jurus silat di halaman istana. Saat itu matahari tidak begitu ganas, karena memang belum lama lagi. Purwasih langsung menghentikan gerakan. Tanpa memasukkan pedang ke sarungnya kembali, ditatapnya Andika penuh keingintahuan.
“Siapa?” tanya gadis itu.
“Patih Ranggapati...,” jawab Andika hati-hati.
“Ha ha ha....”
Wanita itu mendadak tertawa keras-keras. Tentu saja Andika jadi kelimpungan menahan suara tawa yang begitu keras-.
“Ssst! Gila, kau! Bisa dicurigai pengkhianat itu!” Pendekar Slebor memperingatkan.
“Kau yang gila, Andika. Aku kenal betul lelaki itu. Dia sudah seperti pamanku sendiri. Itu sebabnya, kenapa dia memanggilku Purwasih saja, tanpa embel-embel tuan putri yang memuakkan itu,” tukas Purwasih, dan hendak melanjutkan latihannya.
“Hey! Aku sedang tidak ingin bercanda!” tegas Andika dengan wajah sungguh-sungguh.
“Kau sungguh-sungguh?” tanya Purwasih seraya menatap lelaki di depannya lekat-lekat.
“Ningrum yang menyaksikan Patih Ranggapati sedang mengadakan pertemuan rahasia bersama seorang kaki tangan Begal Ireng....”
Secara singkat, Andika menguraikan cerita tentang Ningrum pada Purwasih.
“Ah! Rasanya sulit sekali kupercayai berita ini, Andika,” desah Purwasih setelah Andika selesai bicara.
“Tapi, begitulah kenyataannya.”
“Tapi Patih Ranggapati sudah seperti keluargaku sendiri!” ucap Purwasih tak mau kalah.
“Aku yakin, pernah terjadi bentrokan antara ayahmu dengan lelaki itu,” duga Pendekar Slebor.
Lama mata Purwasih terhujam pada dinding benteng istana. Tampaknya dia sedang diusik sesuatu yang tersembul di benaknya. Beberapa kali wanita itu menghempas napas galau.
“Kau ingat sesuatu, Purwasih?” usik Andika.
“Ya. Patih Ranggapati memang pernah bersengketa dengan ayahku. Dia mencintai seorang wanita bernama Tanjungsari. Bertahun-tahun wanita itu berusaha untuk diperistrinya, tapi tidak berhasil. Dan wanita itu malah terpincut pada ayahku, sampai akhirnya keduanya menikah...,” cerita Purwasih.
Matanya tetap menerawang jauh.
“Wanita itu ibumu?”
Purwasih mengangguk lamat.
Jelas sudah bagi Andika, alasan Patih Ranggapati berkhianat pada Kerajaan Alengka...
***
Pagi baru berlalu sekian saat. Sang Raja Siang merayap perlahan menuju puncaknya. Panas terasa mulai tak bersahabat. Di sebuah jalan rumput yang membelah padang luas, terlihat arak-arakan kecil. Beberapa orang terlihat berjalan di belakang kereta kuda yang dihela seorang kusir bertubuh ramping. Empat orang di antaranya mengendarai kuda. Dua berada paling depan, sedangkan sisanya berada di barisan paling belakang. Melihat dari bendera yang dibawa, bisa ditebak kalau arak-arakan itu adalah rombongan kerajaan.
Dua hari yang lalu, Prabu Bratasena merencanakan pergi untuk menemui raja dari negeri tetangga yang akan bekerjasama dengannya memberantas gerombolan Begal Ireng. Menurut Prabu Bratasena, raja negeri tetangga mulai merasa khawatir oleh meluasnya kekuasaan Begal Ireng ke wilayahnya. Makanya, dia mengirim pesan rahasia pada Prabu Bratasena untuk mengadakan kerjasama. Tawaran itu tentu saja diterima gembira.
Agar kepergian ini tidak dicurigai mata-mata Begal Ireng, Prabu Bratasena memerintah para prajurit pengawal untuk mengenakan pakaian biasa. Pakaian kerajaan yang menandakan mereka sebagai prajurit istana harus ditanggalkan. Sementara pembesar kerajaan yang ikut bersama rombongan adalah Mahapatih Guntur Slaksa. Lima belas prajurit khusus serta tiga perwira istana langsung dipimpinnya. Dan seorang perwira yang
menyertainya adalah Patih Ranggapati.
“Berjalanlah perlahan, agar kita tidak dicurigai!” seru Prabu Bratasena dari dalam kereta kudanya yang tertutup.
“Mudah-mudahan pengkhianat ke-rajaan tidak mengetahui rencana kita.”
Tapi, apa benar begitu?
***
Di ujung padang rumput yang dibatasi deretan bukit kecil, Begal Ireng bersama beberapa orang pilihannya ternyata telah menunggu. Wajah pemimpin pemberontak itu terlihat berapi-api, diberontaki hasrat membunuh. Bibirnya sesekali menyeringai, seakan seekor serigala menunggu mangsa. Lelaki itu berpakaian hitam-hitam, terbuat dari sutera. Wajahnya tampan dan kelimis, namun berkesan amat dingin. Di bagian pinggangnya melilit
sebuah cemeti pusaka yang terbuat dari akar tumbuhan langka berduri tajam, seperti ekor ikan pari.
Dia duduk gagah di punggung kuda putihnya. Di sisi kanan dan kirinya, berdiri dua lelaki tangan kanannya. Mereka adalah, si Kembar dari Tiongkok yang berpenampilan serupa. Baik dari wajah, hingga pakaian mereka. Kepala mereka juga sama-sama gundul, dan mata mereka juga sipit. Ditambah oleh keadaan kulit yang kuning, sudah dapat diduga kalau keduanya berasal dari daratan Tiongkok. Dan sebenarnya, si Kembar dari Tiongkok adalah dua tokoh aliran sesat yang lari dari negerinya, karena menjadi buronan pihak kerajaan di Tiongkok. Bekal mereka ke nusantara ini adalah ilmu bela diri yang tinggi dan kekejaman.
Empat lelaki lain tampak berdiri dengan wajah tegang di belakang Begal Ireng. Mereka adalah tokoh sesat aliran hitam yang akan membantu penyerangan Begal Ireng terhadap rombongan kerajaan. Seperti juga Begal Ireng, keempat orang itu berpakaian hitam-hitam pula. Itu memang salah satu ciri khas gerombolan pemberontak di bawah perintah Begal Ireng. Dua orang yang tidak mengenakan pakaian hitam-hitam dalam gerombolan ini hanyalah si Kembar dari Tiongkok. Mereka justru berpakaian putih-putih.
Di balik bebatuan besar di kaki bukit, ketujuh lelaki itu mengintai. Mata mereka lepas ke padang rumput yang terhampar di depan. Dan ketika rombongan kerajaan mulai terlihat seperti titik kecil di kejauhan, Begal Ireng mengangkat tangannya.
“Saat Bratasena keparat dan pasukannya tiba di celah bukit, kita habisi mereka. Ingat! Habisi! Jangan biarkan ada yang tersisa!”
Si Kembar dari Tiongkok hanya mengangguk-angguk lamat. Sedangkan empat lelaki lain menjawab dengan suara dingin dan datar, seakan sedang menikmati gelora nafsu membunuh.
Sehari lalu, seorang kaki tangan Begal Ireng menyampaikan berita tentang kepergian Prabu Bratasena yang didapat dari si pengkhianat. Tak heran kalau kini mereka menghadang rombongan.
Sementara itu, rombongan kerajaan makin dekat menuju tempat persembunyian Begal Ireng dan pengikutnya yang berjumlah enam orang itu. Dugaan Andika beberapa waktu yang lalu memang tidak meleset. Begal Ireng memang tidak ingin membuang nyawa pasukannya. Tujuan sebenarnya adalah membunuh Prabu Bratasena, yang memiliki garis keturunan Pendekar Lembah Kutukan. Dia tak akan menyerang kerajaan secara langsung, dan hanya menunggu kesempatan yang baik untuk menghabisi raja bijaksana itu.
Setombak demi setombak, rombongan kerajaan makin menghampiri perangkap yang dipasang Begal Ireng. Saat mereka berada di celah antara dua bukit yang menjadi jalan tembus, Begal Ireng dan kaki tangannya siap akan menyergap. Saat itu, rombongan kerajaan sudah memasuki mulut celah bukit. Dan....
“Maju!” perintah Begal Ireng pada anak buahnya, penuh nafsu.
Seketika dari bebatuan besar yang menyembunyikan tubuh mereka, Begal Ireng dan anak buahnya berhamburan keluar. Bersama si Kembar dari Tiongkok, dia menghadang didepan. Sementara, empat anak buahnya yang lain menghadang di belakang. Rombongan kerajaan kini benar-benar terjepit, tanpa dapat meloloskan diri lagi. Bagaimana mereka bisa meloloskan diri kalau di sisi-sisi adalah tebing terjal menjulang yang mustahil didaki. Sedangkan di depan dan di belakang mereka, musuh sudah siap merencah. Celah bukit sepi, maut yang akan menjemput. Hanya desir angin yang meluncur di antara dinding
cadas.
“Bratasena! Akhirnya kau akan menyusul saudaramu Panji Agung ke dasar neraka!” seru Begal Ireng keras, namun dingin. Tak ada perubahan sedikit pun di wajahnya. Sementara, anak rambut dan ujung pakaiannya dipermainkan angin. Tak ada jawaban dari pihak kerajaan.
“Bratasena! Apakah kau sudah siap untuk menerima kematianmu. Atau, kau memang tuli?” bentak Begal Ireng sekali lagi.
“Hua ha ha...!”
Kali ini, terdengar tanggapan dari kereta kuda. Tapi hanya tawa.
“Kau pikir ini lucu, hah?!” bentak Begal Ireng kembali.
“Ya. Tapi aku tak tertawa karena ucapanmu. Aku hanya teringat pada syair Iagu. Kau mau dengar? Begini....”
Kemudian dari dalam kereta kuda terdengar senandung berisi pantun.
“Debrut-brut-brut kentut kuda.
Bikin ngantuk sejuta angsa.
'Cecurut tua 'yang awet muda.
Mengira mampu berkuasa...?”
“Keparat!” hardik Begal Ireng.
Memang, usia Begal Ireng sebenarnya hampir mencapai sembilan puluh tahun, tapi karena menganut ilmu awet muda, penampilannya masih tampak seperti lelaki berusia tiga puluhan.
Tanpa memerintah anak buahnya, Begal Ireng langsung meluruk ke arah kereta kuda. Tentu saja ini sangat mengejutkan Mahapatih Guntur Slaksa. Maka lelaki itu segera ikut melesat ke arah kereta kuda. Namun sebelum Begal Ireng atau Mahapatih Guntur Slaksa benar-benar sampai, tiba-tiba sesosok tubuh mencelat bagai bayangan hantu. Setelah berputar beberapa kali di udara, orang yang melesat dari kereta kerajaan itu menjejak persis setombak di depan Begal Ireng yang mendadak menghentikan larinya.
“Bakikuk!” seru orang itu.
Ternyata, dia adalah Andika! Tentu saja Begal Ireng terkesiap. Matanya terbelalak bagai kelereng. Sungguh tak diduga. Ternyata orang yang berada dalam kereta kuda itu bukan Prabu Bratasena. Memang, inilah rencana yang pernah dijanjikan Andika pada Purwasih. Dengan rencananya ini, dia berhasil memancing Begal Ireng keluar dari sarangnya.
Sengaja Andika mengatur agar Prabu Bratasena tampak sungguh-sungguh hendak me-nemui raja negeri tetangga. Dan hal itu, lalu dibicarakan di depan para pembesar kerajaan. Ternyata perhitungan Andika berjalan lancar. Rencana kepergian itu buktinya bocor, sampai ke telinga Begal Ireng. Hanya saja, orang yang berada dalam kereta sudah berganti. Bukan Prabu Bratasena, tapi Andika sendiri.
Bukan hanya Begal Ireng yang terkejut. Mahapatih Guntur Slaksa pun demikian. Bahkan telah melompat dari punggung kudanya, lalu melesat menuju kereta kuda. Namun langkahnya dihentikan seperti halnya Begal Ireng. Bahkan dua perwira dan lima belas prajurit kerajaan tadi membelalakkan mata. Apalagi, Patih Ranggapati.
Kenapa mereka bisa ikut terkecoh? Sekali lagi, ini akal bulus Pendekar Slebor itu. Andika memang mengatur rapi, agar kusir kereta kuda digantikan Ningrum yang mengenakan pakaian lelaki. Pada saat Prabu Bratasena sudah masuk ke dalam kereta kuda di hadapan para pembesar istana, Andika menjentikkan kerikil kecil ke tubuh salah seekor kuda. Akibatnya kuda itu langsung terkejut dan berlari sehingga ketiga kuda lain yang mengikutinya. Ketika kuda berlari sekian langkah di dekat sebuah pohon besar, Andika segera masuk ke dalam. Sedangkan, Prabu Bratasena keluar dan bersembunyi di balik pohon besar itu. Kejadian ini begitu cepat. Sehingga, beberapa perwira yang memburu untuk menghentikan lari kuda tak sempat melihatnya.
“Wah wah wah...! Kenapa matamu melotot seperti orang banyak hutang, Begal Ireng?” ejek Andika seraya memutar-mutar kain bercorak catur di depan dada, seperti orang kepanasan.
“Kau..., ternyata kau belum mati?” kata Begal Ireng, geram.
“Aku selalu punya nyawa cadangan yang kusimpan dalam perutku. Kau mau lihat nyawa cadanganku?” ujar Andika acuh.
“Nih....”
Truut... dut! Du... brot!
Andika mengeluarkan angin yang dikatakannya tadi sebagai nyawa cadangan. Dan angin itu dikeluarkan melalui lubang pantatnya!
“Hebat, bukan?”
“Keparat!” geram Begal Ireng amat memuncak.
Mata tokoh hitam ini mendadak memerah. Wajahnya pun terbakar kemurkaan. Karena dirinya telah dipermainkan anak muda bau kencur berpakaian hitam pupus ini.
“Kali ini kau tak akan lolos lagi dari maut, Anak Babi!” umpat Begal Ireng.
“Tapi kalau aku lolos lagi, bisa jadi kau yang akan dijemput maut, Bapak Babi!” timpal Andika, semakin membakar kemarahan lawannya.
Sampai di situ Begal Ireng tidak bisa lagi menahan kemurkaannya. Dengan satu genjotan, tubuhnya meluruk ke arah Pendekar Slebor. Di benaknya hanya terbayang bagaimana anak muda kurus itu tergeletak menjadi mayat.
“Adouw, tidak kena!” teriakAndika seraya bergeser ke samping. Namun, kaki kirinya yang masih tetap di tempat semula langsung menyapu kaki lawan.
Begal Ireng yang menyerang Andika dengan jurus 'Terkaman Naga', segera menghentak kakinya yang hendak disapu lawan. Tubuhnya langsung melenting ke udara. Setelah berputar di udara beberapa kali, kakinya kembali menjejak mantap di tanah. Dari sini bisa dilihat kehebatan ilmu meringankan tubuhnya.
“Kau bertempur menggunakan jurus apa, Begal Ireng? Apakah nama jurus itu 'Kodok Bisul Cari Makan'? Kalau begitu, aku harus menghadapimu dengan jurus 'Kupu-kupu Bingung',” kata Andika, pendekar muda yang mendapat julukan Pendekar Slebor ini.
Tubuh tegap pemuda itu bergerak. Kain bercorak papan catur yang tergenggam di tangannya terlihat dibentangkan. Sepasang kakinya melekuk keluar seperti seorang yang menahan sakit perut. Lalu, tubuhnya mulai berputar-putar setengah terhuyung dalam satu lingkaran kecil.
“Anak sinting cari mampus!” maki Begal Ireng ketika melihat lawannya mulai mengejek kembali.
Serangan selanjutnya dilancarkan Begal Ireng, langsung memasuki jurus kesepuluh 'Terkaman Naga'. Di samping karena sudah menduga kalau lawannya telah menjalani penyempurnaan, lelaki itu juga ingin secepatnya menyudahi pertarungan ini.
Sementara itu tanpa diduga Patih Ranggapati, dari kereta kuda meluncur seseorang berpakaian merah menyala dengan kepala ditutup caping pelepah kelapa. Dan dia tepat mendarat di depan Patih Ranggapati.
Tanpa diduga ternyata orang itu adalah ,,,,,
0