- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#490
Maaf lama updatenya.
1 Juli 2011
Hari ini benar-benar terlalu banyak yang terjadi secara bersamaan sehingga aku bingung darimana aku harus memulainya…
Hari ini dimulai dari serba kebetulan…
Kebetulan hari ini semua dosen yang harusnya memberikan kuliah mengundurkan jadwalnya..
Kebetulan hari ini aku berangkat terlalu pagi sehingga sudah terlanjur datang sampai di kampus sebelum ketua angkatanku mengirimi sms pemberitahuan kalau satu-satunya kuliah yang tersisa hari ini juga dibatalkan…
Kebetulan hari ini Cindy memutuskan untuk bolos kuliah sehingga dia tidak datang ke kampus…
Kebetulan juga hari ini Robert memutuskan untuk kembali datang ke kampus setelah sekian lama dia tidak menampakkan dirinya sama sekali di kampus…
Dan kebetulan terakhir, adalah kemunculan kembali ‘mahluk’ itu…
Jadi, seperti yang telah kuceritakan tadi, aku sudah tiba di kampus jam 7:30 pagi dan memutuskan untuk sarapan sekenanya yaitu bubur.
Kemudian aku menunggu hingga jam 8 hanya untuk mendapatkan sms dari ketua tingkatku kalau kuliah pak H***** dimundurkan ke hari rabu depan jam ke-3.
Ampun deh… jadi untuk apa aku bangun pagi-pagi tadi.
Dengan hati masih agak kesal aku menelepon Cindy, daripada sia-sia datang ke kampus, mungkin sebaiknya aku menebeng kelas Cindy saja deh. Toh dia juga hanya kuliah jam ke-1 saja hari ini.
“Halo…” suara Cindy menjawab dari seberang telepon.
“Lho… kamu baru bangun tidur ya?” tanyaku.
“Haa?” suara Cindy bingung kemudian tak lama kudengar suara berisik Cindy sedang beranjak bangun dari tempat tidurnya.
“Wah.. iya telat bangun gue” jawabnya ringan.
“Lalu kamu gimana dong datang kesininya? Telat dong?” rumah Cindy berjarak sekitar 45 menit dari kampus walaupun dia melalui jalan tol.
“Yah… gue gak masuk deh sekalian, paling tar siang aja sekalian ngajak lo makan siang sekalian” katanya.
“Ohh…” ucapku kecewa, tapi buru-buru aku melanjutkan “Eh..eh, gak usah Cin, aku gak ada kuliah juga kok, ini mau pulang.”
“Oh gitu, loh kuliah jam-A lo batal juga?” tanya Cindy.
“Iya nih, aku baru dikasih tau barusan, tapi gak apa lah, itung-itung sarapan” jawabku.
“Hmm.. yowes kalo gitu, gue tidur cantik lagi deh kalo gitu, ntar sore aja gue ke kost lo yah” kata Cindy.
“Ke kost aku? Ngapain?” tanyaku.
“Mau rudapaksa lo, hahahahahahaha… enggak lah, katanya mo cobain Ragusa?” canda Cindy.
“Oh iya lupa, ya sudah nanti sore ya” kataku.
“Sipp… oke kalo gitu goodnight again” seru Cindy seraya memutuskan sambungan telepon.
Meskipun aku berkata ke Cindy kalau aku akan pulang, tapi aku menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sedikit di kampus.
Untungnya penjual buku komik dan penjual DVD sudah mulai berdagang meskipun pagi begini.
Setelah puas memborong beberapa buku komik dan dua puluh judul DVD film dan karaoke, aku berjalan kembali ke kantin kampus untuk membeli makanan untuk nanti siang.
Dan di kantin aku melihat cowok itu. Robert.
Tadinya aku hampir-hampir tidak mengenali dia, penampilannya yang rapi kini terlihat sedikit lusuh dan berantakan, tubuhnya yang tadinya terawat terlihat sangat kurus, dan wajahnya sangat-sangat pucat.
Aku termenung beberapa saat melihat cowok itu sampai kudengar suara datang dari sisiku.
“Kakak..”
Aku menengok ke samping, dan tidak menemukan siapa-siapa.
“Kakak…” suara itu terdengar lagi, tapi kali ini aku merasakan sentuhan dingin di kulit tanganku.
Aku menengok ke bawah, ke arah tanganku.
Berdiri di sampingku, adalah hantu dari adiknya Robert. Kiki.
Penampilannya masih seperti terakhir kali aku melihatnya ketika kejadian beberapa minggu lalu. Mengenakan baju anak-anak berwarna kuning dengan rambut sebahu.
Wajahnya terlihat sangat polos tapi aku bisa merasakan kalau anak ini lebih dewasa dari kelihatannya, pandangan matanya terlihat sangat serius.
“Kakak bisa melihatku kan?” tanya Kiki.
Aku mengangguk.
“Kakak temannya koko kan?” tanya anak itu lagi.
Aku menatap ke arah Robert yang sepertinya sedang tertidur sambil bersender pada bangku kantin.
Aku mengangguk sekali lagi.
“Tolong koko..” kata Kiki padaku dengan raut serius dan terlihat khawatir.
“Tolong?” tanyaku.
“Koko bisa mati karena Kiki…” kata anak itu sambil menatap khawatir ke arah kakaknya sedang tidur.
“Mati!?” tanyaku terkejut.
Kiki mengangguk.
“Apa maksudnya? Robert bisa mati? apa dia sakit?” tanyaku pada Kiki.
“Kiki yang membuat koko sakit” jawabnya.
“Aku.. kakak tidak mengerti maksud Kiki..” kataku bingung.
“Kakak bisa lihat Kiki seperti saat Kiki masih hidup… tapi koko, koko cuma bisa lihat Kiki jadi bentuk yang serem… koko selalu ketakutan kalau Kiki ada di dekat koko” kata Kiki padaku.
Aku menatap bergantian di antara mereka berdua. Kakak dan adik yang malang… pikirku.
“Kiki udah enggak benci koko kan?” tanyaku.
Kiki menggeleng “enggak, Kiki sayang koko” jawabnya sungguh-sungguh.
“Kalau begitu, Kiki mau mencoba pergi ke surga? Supaya koko lebih tenang?” tanyaku.
“Kiki mau.. tapi gak bisa kak..” jawab Kiki, matanya tampak sedikit berkaca-kaca.
“Enggak bisa? Kenapa?” tanyaku, Kiki tampak sangat sedih.
“Kiki… mahluk jahat yang mengurung Kiki yang bikin Kiki gak bisa pergi dari koko…” jelas anak itu “Kiki cuma bisa pergi segini aja… gak bisa lebih jauh lagi” anak itu berjalan sedikit ke belakangku, dan dengan tangannya dia menyentuh semacam dinding yang tidak tampak.
“Tuh.. lihat..” katanya, “Tapi, anehnya Kiki bisa di dekat kakak tanpa harus ketarik balik ke Koko… biasanya kalau Kiki pergi agak jauhan, rasanya Kiki selalu mau ketarik balik ke Koko…” Kiki menyentuh-nyentuh tanganku, terasa dingin di kulitku “Tapi anehnya enggak tuh sama Kakak, Kiki bebas dekat-dekat kakak begini”
Aku mengangguk. “Lalu kakak harus ngapain?” tanyaku.
“Kiki gak tau, tapi koko kan suka kakak… jadi mungkin…” Kiki menatapku penuh harap.
“Hahh?? Ro-Ro-Robert suka aku?” tanyaku terbata-bata.
“Iya!” Kiki mengangguk mantap.
“Kiki jangan bercanda ah, darimana tahu itu coba?” tanyaku masih gugup.
“Tau kok, Handphone koko aja wallpapernya foto kakak, fotonya diambil dari belakang kakak sih” jawab Kiki dengan senyuman sedikit jahil.
“Ehh??” secara reflek aku melihat ke arah Robert yang mulai mendengkur dalam tidurnya.
“Koko gak keren ya? Apalagi boboknya begitu…” komentar Kiki “Maaf ya kak, tapi kalau malam koko gak bisa tidur karena ada aku..” katanya setengah berbisik, wajahnya terlihat khawatir dan terluka.
Aku menggeleng “Bukan.. bukan itu.. kakak cuma khawatir kalau kakak tidak bisa berbuat banyak juga” kataku pada Kiki. “Tapi kakak coba sebisa kakak ya?” kataku.
Kiki mengangguk dengan penuh semangat.
Dan itu malah semakin membuatku gugup.
Aku mengambil tempat duduk di depan Robert.
Robert sepertinya menyadari kehadiranku, dia mulai terbangun dan membuka matanya perlahan-lahan.
Aku belum pernah melihat orang dengan perubahan ekspresi secepat perubahan ekspresi Robert ketika dia menyadari kalau aku duduk di depannya.
Mulai dari wajah mengantuk, kaget, panik, berpura-pura tenang, kemudian mencoba berbicara namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menggeleng-geleng kepala, mengintipku dari sela jarinya, menarik nafas panjang, mencoba berbicara lagi dan kembali gagal, sampai akhirnya dia menghantamkan kepalanya ke meja karena frustasi.
Dan itu hanya terjadi dalam selang waktu kurang dari 3 menit…
“He..hey.. barusan bunyinya kenceng banget, kamu enggak apa?” tanyaku sedikit khawatir karena Robert menghantamkan kepalanya ke meja kantin. Untungnya meja kantin kami bukan terbuat dari kayu.
Robert menarik nafas panjang lagi dan menghembuskannya, dalam posisi wajah masih menempel pada meja kantin.
Kemudian dia mengangkat kepalanya perlahan dan menatapku.
“Lisa..” bisiknya pelan.
“Uhm..” aku mengangguk.
“Kenapa kamu di sini?” tanyanya.
“Ini kan kampus?” jawabku.
“Oh iya ya..” Robert menggumam sambil celingukan melihat sekelilingnya. Sepertinya dia masih belum tersadar sepenuhnya.
“Kamu enggak kuliah?” tanyaku.
Robert menggeleng “hari ini gak ada kuliah.. kita kan sekelas jam – A…” katanya.
Ohh.. iya… pikirku, baru teringat akan hal itu.
“Iya, kamu kebanyakan bolos sih, lupa deh..” kataku.
Di luar dugaanku, Robert hanya mengangguk “Ehm.. aku masih rada nyesuaiin diri deh..”
Aku hanya diam menunggu kata-kata Robert yang masih menggantung.
“Kamu tau kan? Soal Kiki?” sambungnya.
Aku mengangguk. “Iya, aku tau kok” kataku “Sebenarnya sih, tadi aku sudah bertemu dengan Kiki”
Robert sedikit terbelalak mendengar kata-kataku, kemudian wajahnya terlihat tidak enak dan tampak bersalah “sorry ya, Kiki gak nakutin kamu kan?”
“Gak sih.. di mataku Kiki kelihatan seperti anak-anak biasa kok” kataku yang kembali membuat Robert terlihat kaget.
“Ooohh… begitu…” katanya akhirnya.
“Dia.. maksudku Kiki, dia sudah bilang tentang aku ya?” tanya Robert.
Aku mengangguk.
“Bukan salah anak itu..” kata Robert sambil menengadahkan pandangannya. Matanya tampak sendu dan menatap jauh.
“Iya..” kataku.
“Bukan mau Kiki juga aku jadi begini…” kata Robert tanpa menurunkan pandangannya “Malahan… semuanya ini salahku”
“Sudahlah, jangan bilang begitu, Kiki tidak membenci kamu kok” kataku.
“Hmm..” Robert mengangguk tipis.
“Kamu.. tidak bisa tidur?”
Robert menatapku dengan pandangan lelah “Bukan salah Kiki..” katanya singkat.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku selalu mimpi mengenai…. Saat aku meninggalkan Kiki sendirian di kuburan dulu…” kata Robert sedih.
Aku sebenarnya sangat-sangat penasaran akan cerita mereka berdua dulu. Tapi memutuskan untuk menahan rasa penasaranku untuk sekarang.
“Kamu… sudah coba melakukan sesuatu?” tanyaku.
Robert menggeleng “sudah gak bisa lagi..” katanya.
“Maksudnya?”
“Aku… sudah gak bisa ngelakuin pengusiran… kemampuanku udah ilang sepenuhnya” jelas Robert.
“Ohh…” hanya itulah yang bisa kukatakan mendengar perkataan Robert itu.
“Aku… aku udah menghujat Tuhan.. aku sudah jatuh di kuasa kegelapan” Robert bercerita “Aku tidak bisa mendengar lagi suara dari Malaikat… aku sama sekali tuli sekarang, aku tidak mendengar lagi suara atau petunjuk apapun lagi… aku sudah terbuang…”
Air mata mulai mengalir di wajah Robert.
“Sorry…” kataku.
Robert menggeleng “Enggak, aku sih gak keberatan soal itu” kata Robert dengan suara bergetar “Tapi, aku malah jadi gak bisa melakukan apa-apa soal Kiki, aku bahkan gak bisa membantu dia melanjutkan perjalanannya”
“Maaf aku juga tidak bisa apa-apa” kataku.
“Enggak juga, kamu gak salah apa-apa kok, ini memang hasil perbuatanku sendiri..” kata Robert.
Setelah itu kami berdua terdiam dengan canggung. Aku tidak menemukan kata-kata apapun untuk menghibur Robert.
“Umm.. setelah ini kamu kemana?” tanyaku mencoba memecah keheningan canggung ini.
“Entahlah.. mungkin aku akan di sini sampai sore..”
Aku lalu mengajaknya.. atau lebih tepatnya memaksanya untuk menemaniku ke mall C******* dengan dalih untuk menemaniku belanja bulanan.
Hari sudah hampir sore ketika aku selesai berbelanja kebutuhan bulananku. Berhubung sekitar dua jam lagi Cindy akan datang ke kostku, aku mengajak Robert untuk ikut dengan kami sekalian ke Ragusa. Sekali lagi, dengan setengah memaksa tentunya. Aku tidak sampai hati setiap berserobok pandang dengan Kiki yang menatapku penuh harapan dari balik bahu Robert.
Robert setuju dengan alasan kalau memang sebaiknya dia mengantar aku pulang ke kost dulu dengan belanjaanku yang sangat banyak.
Sesampainya kami di kostku, yang lebih tepat dikatakan sebagai rumah kontrakan, aku meminta Robert menunggu di depan kamarku sementara aku memasukkan belanjaan makanan-makanan ke dalam kulkas.
Selagi aku memasukkan bahan-bahan makanan di dalam kulkasku, aku merasakan bulu kudukku merinding. Bahkan bukan hanya merinding biasa, tapi seakan bulu kudukku menegang.
Dan tanpa peringatan apa-apa, leher bajuku ditarik dengan keras hingga aku tersentak ke belakang.
“Ahh!!?” teriakku kaget sembari badanku terhempas ke lantai.
Aku berusaha duduk dan melihat sekelilingku. Tidak ada apa-apa…
Aku ketakutan… hanya sedikit dari ‘mereka’ yang bisa melakukan kontak langsung seperti ini. Kalau bukan ‘mahluk’ yang benar-benar sangat kuat, tidak akan bisa melakukan kontak fisik sejelas ini, Pikirku.
Aku berdiri perlahan-lahan sambil masih memperhatikan sekelilingku…
Tidak terlihat apapun…
Tapi bulu kudukku masih berdiri dengan tegangnya…
Seakan-akan seluruh tubuhnya mengirimkan sinyal adanya bahaya..
Dan tiba-tiba, sesuatu mencengkram kakiku.
Bersambung di bawah, enggak muat soalnya
Spoiler for Part XXIV - Part I:
1 Juli 2011
Hari ini benar-benar terlalu banyak yang terjadi secara bersamaan sehingga aku bingung darimana aku harus memulainya…
Hari ini dimulai dari serba kebetulan…
Kebetulan hari ini semua dosen yang harusnya memberikan kuliah mengundurkan jadwalnya..
Kebetulan hari ini aku berangkat terlalu pagi sehingga sudah terlanjur datang sampai di kampus sebelum ketua angkatanku mengirimi sms pemberitahuan kalau satu-satunya kuliah yang tersisa hari ini juga dibatalkan…
Kebetulan hari ini Cindy memutuskan untuk bolos kuliah sehingga dia tidak datang ke kampus…
Kebetulan juga hari ini Robert memutuskan untuk kembali datang ke kampus setelah sekian lama dia tidak menampakkan dirinya sama sekali di kampus…
Dan kebetulan terakhir, adalah kemunculan kembali ‘mahluk’ itu…
Jadi, seperti yang telah kuceritakan tadi, aku sudah tiba di kampus jam 7:30 pagi dan memutuskan untuk sarapan sekenanya yaitu bubur.
Kemudian aku menunggu hingga jam 8 hanya untuk mendapatkan sms dari ketua tingkatku kalau kuliah pak H***** dimundurkan ke hari rabu depan jam ke-3.
Ampun deh… jadi untuk apa aku bangun pagi-pagi tadi.
Dengan hati masih agak kesal aku menelepon Cindy, daripada sia-sia datang ke kampus, mungkin sebaiknya aku menebeng kelas Cindy saja deh. Toh dia juga hanya kuliah jam ke-1 saja hari ini.
“Halo…” suara Cindy menjawab dari seberang telepon.
“Lho… kamu baru bangun tidur ya?” tanyaku.
“Haa?” suara Cindy bingung kemudian tak lama kudengar suara berisik Cindy sedang beranjak bangun dari tempat tidurnya.
“Wah.. iya telat bangun gue” jawabnya ringan.
“Lalu kamu gimana dong datang kesininya? Telat dong?” rumah Cindy berjarak sekitar 45 menit dari kampus walaupun dia melalui jalan tol.
“Yah… gue gak masuk deh sekalian, paling tar siang aja sekalian ngajak lo makan siang sekalian” katanya.
“Ohh…” ucapku kecewa, tapi buru-buru aku melanjutkan “Eh..eh, gak usah Cin, aku gak ada kuliah juga kok, ini mau pulang.”
“Oh gitu, loh kuliah jam-A lo batal juga?” tanya Cindy.
“Iya nih, aku baru dikasih tau barusan, tapi gak apa lah, itung-itung sarapan” jawabku.
“Hmm.. yowes kalo gitu, gue tidur cantik lagi deh kalo gitu, ntar sore aja gue ke kost lo yah” kata Cindy.
“Ke kost aku? Ngapain?” tanyaku.
“Mau rudapaksa lo, hahahahahahaha… enggak lah, katanya mo cobain Ragusa?” canda Cindy.
“Oh iya lupa, ya sudah nanti sore ya” kataku.
“Sipp… oke kalo gitu goodnight again” seru Cindy seraya memutuskan sambungan telepon.
Meskipun aku berkata ke Cindy kalau aku akan pulang, tapi aku menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sedikit di kampus.
Untungnya penjual buku komik dan penjual DVD sudah mulai berdagang meskipun pagi begini.
Setelah puas memborong beberapa buku komik dan dua puluh judul DVD film dan karaoke, aku berjalan kembali ke kantin kampus untuk membeli makanan untuk nanti siang.
Dan di kantin aku melihat cowok itu. Robert.
Tadinya aku hampir-hampir tidak mengenali dia, penampilannya yang rapi kini terlihat sedikit lusuh dan berantakan, tubuhnya yang tadinya terawat terlihat sangat kurus, dan wajahnya sangat-sangat pucat.
Aku termenung beberapa saat melihat cowok itu sampai kudengar suara datang dari sisiku.
“Kakak..”
Aku menengok ke samping, dan tidak menemukan siapa-siapa.
“Kakak…” suara itu terdengar lagi, tapi kali ini aku merasakan sentuhan dingin di kulit tanganku.
Aku menengok ke bawah, ke arah tanganku.
Berdiri di sampingku, adalah hantu dari adiknya Robert. Kiki.
Penampilannya masih seperti terakhir kali aku melihatnya ketika kejadian beberapa minggu lalu. Mengenakan baju anak-anak berwarna kuning dengan rambut sebahu.
Wajahnya terlihat sangat polos tapi aku bisa merasakan kalau anak ini lebih dewasa dari kelihatannya, pandangan matanya terlihat sangat serius.
“Kakak bisa melihatku kan?” tanya Kiki.
Aku mengangguk.
“Kakak temannya koko kan?” tanya anak itu lagi.
Aku menatap ke arah Robert yang sepertinya sedang tertidur sambil bersender pada bangku kantin.
Aku mengangguk sekali lagi.
“Tolong koko..” kata Kiki padaku dengan raut serius dan terlihat khawatir.
“Tolong?” tanyaku.
“Koko bisa mati karena Kiki…” kata anak itu sambil menatap khawatir ke arah kakaknya sedang tidur.
“Mati!?” tanyaku terkejut.
Kiki mengangguk.
“Apa maksudnya? Robert bisa mati? apa dia sakit?” tanyaku pada Kiki.
“Kiki yang membuat koko sakit” jawabnya.
“Aku.. kakak tidak mengerti maksud Kiki..” kataku bingung.
“Kakak bisa lihat Kiki seperti saat Kiki masih hidup… tapi koko, koko cuma bisa lihat Kiki jadi bentuk yang serem… koko selalu ketakutan kalau Kiki ada di dekat koko” kata Kiki padaku.
Aku menatap bergantian di antara mereka berdua. Kakak dan adik yang malang… pikirku.
“Kiki udah enggak benci koko kan?” tanyaku.
Kiki menggeleng “enggak, Kiki sayang koko” jawabnya sungguh-sungguh.
“Kalau begitu, Kiki mau mencoba pergi ke surga? Supaya koko lebih tenang?” tanyaku.
“Kiki mau.. tapi gak bisa kak..” jawab Kiki, matanya tampak sedikit berkaca-kaca.
“Enggak bisa? Kenapa?” tanyaku, Kiki tampak sangat sedih.
“Kiki… mahluk jahat yang mengurung Kiki yang bikin Kiki gak bisa pergi dari koko…” jelas anak itu “Kiki cuma bisa pergi segini aja… gak bisa lebih jauh lagi” anak itu berjalan sedikit ke belakangku, dan dengan tangannya dia menyentuh semacam dinding yang tidak tampak.
“Tuh.. lihat..” katanya, “Tapi, anehnya Kiki bisa di dekat kakak tanpa harus ketarik balik ke Koko… biasanya kalau Kiki pergi agak jauhan, rasanya Kiki selalu mau ketarik balik ke Koko…” Kiki menyentuh-nyentuh tanganku, terasa dingin di kulitku “Tapi anehnya enggak tuh sama Kakak, Kiki bebas dekat-dekat kakak begini”
Aku mengangguk. “Lalu kakak harus ngapain?” tanyaku.
“Kiki gak tau, tapi koko kan suka kakak… jadi mungkin…” Kiki menatapku penuh harap.
“Hahh?? Ro-Ro-Robert suka aku?” tanyaku terbata-bata.
“Iya!” Kiki mengangguk mantap.
“Kiki jangan bercanda ah, darimana tahu itu coba?” tanyaku masih gugup.
“Tau kok, Handphone koko aja wallpapernya foto kakak, fotonya diambil dari belakang kakak sih” jawab Kiki dengan senyuman sedikit jahil.
“Ehh??” secara reflek aku melihat ke arah Robert yang mulai mendengkur dalam tidurnya.
“Koko gak keren ya? Apalagi boboknya begitu…” komentar Kiki “Maaf ya kak, tapi kalau malam koko gak bisa tidur karena ada aku..” katanya setengah berbisik, wajahnya terlihat khawatir dan terluka.
Aku menggeleng “Bukan.. bukan itu.. kakak cuma khawatir kalau kakak tidak bisa berbuat banyak juga” kataku pada Kiki. “Tapi kakak coba sebisa kakak ya?” kataku.
Kiki mengangguk dengan penuh semangat.
Dan itu malah semakin membuatku gugup.
Aku mengambil tempat duduk di depan Robert.
Robert sepertinya menyadari kehadiranku, dia mulai terbangun dan membuka matanya perlahan-lahan.
Aku belum pernah melihat orang dengan perubahan ekspresi secepat perubahan ekspresi Robert ketika dia menyadari kalau aku duduk di depannya.
Mulai dari wajah mengantuk, kaget, panik, berpura-pura tenang, kemudian mencoba berbicara namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menggeleng-geleng kepala, mengintipku dari sela jarinya, menarik nafas panjang, mencoba berbicara lagi dan kembali gagal, sampai akhirnya dia menghantamkan kepalanya ke meja karena frustasi.
Dan itu hanya terjadi dalam selang waktu kurang dari 3 menit…
“He..hey.. barusan bunyinya kenceng banget, kamu enggak apa?” tanyaku sedikit khawatir karena Robert menghantamkan kepalanya ke meja kantin. Untungnya meja kantin kami bukan terbuat dari kayu.
Robert menarik nafas panjang lagi dan menghembuskannya, dalam posisi wajah masih menempel pada meja kantin.
Kemudian dia mengangkat kepalanya perlahan dan menatapku.
“Lisa..” bisiknya pelan.
“Uhm..” aku mengangguk.
“Kenapa kamu di sini?” tanyanya.
“Ini kan kampus?” jawabku.
“Oh iya ya..” Robert menggumam sambil celingukan melihat sekelilingnya. Sepertinya dia masih belum tersadar sepenuhnya.
“Kamu enggak kuliah?” tanyaku.
Robert menggeleng “hari ini gak ada kuliah.. kita kan sekelas jam – A…” katanya.
Ohh.. iya… pikirku, baru teringat akan hal itu.
“Iya, kamu kebanyakan bolos sih, lupa deh..” kataku.
Di luar dugaanku, Robert hanya mengangguk “Ehm.. aku masih rada nyesuaiin diri deh..”
Aku hanya diam menunggu kata-kata Robert yang masih menggantung.
“Kamu tau kan? Soal Kiki?” sambungnya.
Aku mengangguk. “Iya, aku tau kok” kataku “Sebenarnya sih, tadi aku sudah bertemu dengan Kiki”
Robert sedikit terbelalak mendengar kata-kataku, kemudian wajahnya terlihat tidak enak dan tampak bersalah “sorry ya, Kiki gak nakutin kamu kan?”
“Gak sih.. di mataku Kiki kelihatan seperti anak-anak biasa kok” kataku yang kembali membuat Robert terlihat kaget.
“Ooohh… begitu…” katanya akhirnya.
“Dia.. maksudku Kiki, dia sudah bilang tentang aku ya?” tanya Robert.
Aku mengangguk.
“Bukan salah anak itu..” kata Robert sambil menengadahkan pandangannya. Matanya tampak sendu dan menatap jauh.
“Iya..” kataku.
“Bukan mau Kiki juga aku jadi begini…” kata Robert tanpa menurunkan pandangannya “Malahan… semuanya ini salahku”
“Sudahlah, jangan bilang begitu, Kiki tidak membenci kamu kok” kataku.
“Hmm..” Robert mengangguk tipis.
“Kamu.. tidak bisa tidur?”
Robert menatapku dengan pandangan lelah “Bukan salah Kiki..” katanya singkat.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku selalu mimpi mengenai…. Saat aku meninggalkan Kiki sendirian di kuburan dulu…” kata Robert sedih.
Aku sebenarnya sangat-sangat penasaran akan cerita mereka berdua dulu. Tapi memutuskan untuk menahan rasa penasaranku untuk sekarang.
“Kamu… sudah coba melakukan sesuatu?” tanyaku.
Robert menggeleng “sudah gak bisa lagi..” katanya.
“Maksudnya?”
“Aku… sudah gak bisa ngelakuin pengusiran… kemampuanku udah ilang sepenuhnya” jelas Robert.
“Ohh…” hanya itulah yang bisa kukatakan mendengar perkataan Robert itu.
“Aku… aku udah menghujat Tuhan.. aku sudah jatuh di kuasa kegelapan” Robert bercerita “Aku tidak bisa mendengar lagi suara dari Malaikat… aku sama sekali tuli sekarang, aku tidak mendengar lagi suara atau petunjuk apapun lagi… aku sudah terbuang…”
Air mata mulai mengalir di wajah Robert.
“Sorry…” kataku.
Robert menggeleng “Enggak, aku sih gak keberatan soal itu” kata Robert dengan suara bergetar “Tapi, aku malah jadi gak bisa melakukan apa-apa soal Kiki, aku bahkan gak bisa membantu dia melanjutkan perjalanannya”
“Maaf aku juga tidak bisa apa-apa” kataku.
“Enggak juga, kamu gak salah apa-apa kok, ini memang hasil perbuatanku sendiri..” kata Robert.
Setelah itu kami berdua terdiam dengan canggung. Aku tidak menemukan kata-kata apapun untuk menghibur Robert.
“Umm.. setelah ini kamu kemana?” tanyaku mencoba memecah keheningan canggung ini.
“Entahlah.. mungkin aku akan di sini sampai sore..”
Aku lalu mengajaknya.. atau lebih tepatnya memaksanya untuk menemaniku ke mall C******* dengan dalih untuk menemaniku belanja bulanan.
Hari sudah hampir sore ketika aku selesai berbelanja kebutuhan bulananku. Berhubung sekitar dua jam lagi Cindy akan datang ke kostku, aku mengajak Robert untuk ikut dengan kami sekalian ke Ragusa. Sekali lagi, dengan setengah memaksa tentunya. Aku tidak sampai hati setiap berserobok pandang dengan Kiki yang menatapku penuh harapan dari balik bahu Robert.
Robert setuju dengan alasan kalau memang sebaiknya dia mengantar aku pulang ke kost dulu dengan belanjaanku yang sangat banyak.
Sesampainya kami di kostku, yang lebih tepat dikatakan sebagai rumah kontrakan, aku meminta Robert menunggu di depan kamarku sementara aku memasukkan belanjaan makanan-makanan ke dalam kulkas.
Selagi aku memasukkan bahan-bahan makanan di dalam kulkasku, aku merasakan bulu kudukku merinding. Bahkan bukan hanya merinding biasa, tapi seakan bulu kudukku menegang.
Dan tanpa peringatan apa-apa, leher bajuku ditarik dengan keras hingga aku tersentak ke belakang.
“Ahh!!?” teriakku kaget sembari badanku terhempas ke lantai.
Aku berusaha duduk dan melihat sekelilingku. Tidak ada apa-apa…
Aku ketakutan… hanya sedikit dari ‘mereka’ yang bisa melakukan kontak langsung seperti ini. Kalau bukan ‘mahluk’ yang benar-benar sangat kuat, tidak akan bisa melakukan kontak fisik sejelas ini, Pikirku.
Aku berdiri perlahan-lahan sambil masih memperhatikan sekelilingku…
Tidak terlihat apapun…
Tapi bulu kudukku masih berdiri dengan tegangnya…
Seakan-akan seluruh tubuhnya mengirimkan sinyal adanya bahaya..
Dan tiba-tiba, sesuatu mencengkram kakiku.
Bersambung di bawah, enggak muat soalnya
jenggalasunyi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas