- Beranda
- Buat Latihan Posting
Coffee Lover
...
TS
kruingputih2
Coffee Lover
Menikmati secangkir kopi bersama teman dan sahabat

Silahkan dilanjutkan obrolannya disini
Jejak Warkop Lama
Warung Kopi BLP Raya !
Warung Kopi BLP Raya ! - Part 1
Warung Kopi BLP Raya ! - Part 2
Daftar Tamu (1 s/d 113)
Cerita & Tips
Dongeng,puisi,dan tips dari anak-anak warkop :
Cerita Bersambung
1. Juwandana part 1 | Ndemun75
2. Juwandana part 2 | Ndemun75
3. Juwandana part 3 | Ndemun75
4. Juwandana part 4 | Ndemun75
5. Juwandana part 5 | Ndemun 75
6. Juwandana part 6 | Ndemun75
7. Juwandana part 7 | Ndemun75
8. Juwandana part 8 | Ndemun75
9. Juwandana part 9 | l Ndemun75
10. Juwandana part 10 l Ndemun 75
11. Juwandana part 11 l Ndemun 75
1. Distrik-18-prolog l Lithium.rusak
2. Distrik 18 part 2 l Lithium.rusak
Tutorial & Tips
1. Kopi-1 | Kruingputih2
2. AC Freon R32 | Kruingputih2
3. Tips bir ga dikadalin tukang AC | Kruingputih2
4. SURVIVAL DINAMIS | Kruingputih2
5. Mengenal Kopi Nusantara | Kruingputih2
Puisi
1.Fatamorgana | Afx98
1. PFAPB
2. KamuJahatBagobo
3. Approve.cc
4. Rizal.Maulana1
5. Eryckputra
6. Antokoplak
7. Ron12ron
8. Enda.roses
9. Yudhi2001
10. Iceblast46
11. Elderelf
12. Zha898
13. Gondoks
14. Mbehwekill666
15. Kruingputih2
16. Tatankgalaw
17. Anggargc
18. Poncoajah
19. No.2nd.chance
20. Jaransekarat
21. Akutanvam
22. Andryx360
23. Paperj
24. Kamalmalika
25. Akatsukiunivers
26. Okeguasalah17
27. Wahyusee
28. Masaokagami
29. Jibaypoetrapria
30. Adiwigno
61. Naomi_quin
62. Premanrempong
63. Bafomet
64. Fan507
65. Luqman.Id
67. Yogi.P
68. Cms88
69. Cahkapal
70. Venomoth17
71. Zayncosmic
72. Anggifdlh21
73. Olympianovus
74. Dewinurafni13
75. Dhio22
76. Afx98
77. Feryvai.patrick
78. Azzamdllah
79. BlueMinder
80. Kamunakalbagobo
81. Teguh555
82. Bocahdepresi
83. Aruj
84. Bayantulla
85. Omsena
86. Manaldani
87. Terongkikil
88. Kasyad.Knight
89. Ndemun75
90. ReiVenom

Silahkan dilanjutkan obrolannya disini
Jejak Warkop Lama
Warung Kopi BLP Raya !
Warung Kopi BLP Raya ! - Part 1
Warung Kopi BLP Raya ! - Part 2
Daftar Tamu (1 s/d 113)
Cerita & Tips
Dongeng,puisi,dan tips dari anak-anak warkop :
Cerita Bersambung
1. Juwandana part 1 | Ndemun75
2. Juwandana part 2 | Ndemun75
3. Juwandana part 3 | Ndemun75
4. Juwandana part 4 | Ndemun75
5. Juwandana part 5 | Ndemun 75
6. Juwandana part 6 | Ndemun75
7. Juwandana part 7 | Ndemun75
8. Juwandana part 8 | Ndemun75
9. Juwandana part 9 | l Ndemun75
10. Juwandana part 10 l Ndemun 75
11. Juwandana part 11 l Ndemun 75
1. Distrik-18-prolog l Lithium.rusak
2. Distrik 18 part 2 l Lithium.rusak
Tutorial & Tips
1. Kopi-1 | Kruingputih2
2. AC Freon R32 | Kruingputih2
3. Tips bir ga dikadalin tukang AC | Kruingputih2
4. SURVIVAL DINAMIS | Kruingputih2
5. Mengenal Kopi Nusantara | Kruingputih2
Puisi
1.Fatamorgana | Afx98
DAFTAR BUKU TAMU
1. PFAPB
2. KamuJahatBagobo
3. Approve.cc
4. Rizal.Maulana1
5. Eryckputra
6. Antokoplak
7. Ron12ron
8. Enda.roses
9. Yudhi2001
10. Iceblast46
11. Elderelf
12. Zha898
13. Gondoks
14. Mbehwekill666
15. Kruingputih2
16. Tatankgalaw
17. Anggargc
18. Poncoajah
19. No.2nd.chance
20. Jaransekarat
21. Akutanvam
22. Andryx360
23. Paperj
24. Kamalmalika
25. Akatsukiunivers
26. Okeguasalah17
27. Wahyusee
28. Masaokagami
29. Jibaypoetrapria
30. Adiwigno
31.Whatever.i.am
32. Evrus
33.Iturhamun
34.Azelhc
35.Dqnoval
36.Brams007
37. Wawawawa2016
38. Edolbogel
39. .Z5.
40. Mr.Ayah
41. Den.pasopati32
42. Allcoholyzm
43. Olanyu
44. Whiteseito
45. Matrializen
46. Gpandita
47. Nendinendot
48. Ambuhjahat21
49. Roleplay
50. Bona1707
51. Brizzle
52. Steycun69
53. Wawaw17
54. Fadhil.15
55. M00n2718
56. Pembotol
57. Ibeyqueena
58. Tukang.Keren23
59. Kazeo.Chan
60. .Suigetsu.
32. Evrus
33.Iturhamun
34.Azelhc
35.Dqnoval
36.Brams007
37. Wawawawa2016
38. Edolbogel
39. .Z5.
40. Mr.Ayah
41. Den.pasopati32
42. Allcoholyzm
43. Olanyu
44. Whiteseito
45. Matrializen
46. Gpandita
47. Nendinendot
48. Ambuhjahat21
49. Roleplay
50. Bona1707
51. Brizzle
52. Steycun69
53. Wawaw17
54. Fadhil.15
55. M00n2718
56. Pembotol
57. Ibeyqueena
58. Tukang.Keren23
59. Kazeo.Chan
60. .Suigetsu.
61. Naomi_quin
62. Premanrempong
63. Bafomet
64. Fan507
65. Luqman.Id
67. Yogi.P
68. Cms88
69. Cahkapal
70. Venomoth17
71. Zayncosmic
72. Anggifdlh21
73. Olympianovus
74. Dewinurafni13
75. Dhio22
76. Afx98
77. Feryvai.patrick
78. Azzamdllah
79. BlueMinder
80. Kamunakalbagobo
81. Teguh555
82. Bocahdepresi
83. Aruj
84. Bayantulla
85. Omsena
86. Manaldani
87. Terongkikil
88. Kasyad.Knight
89. Ndemun75
90. ReiVenom
91. Laziestgulzz
92. Silvvvyy
93. Cithatha
94. Ebonkotranus
95. papajahat69
96. Darkside212
97. Griefer14
98. Toileee
99. GELAP
100. Hadiyanarif
101. boled.mwgel
102. Garwet
103. febrikeys007
104. Jqwerty
105. Sapson
106. Zellim
107. Rafc
108. Cimakcimik
109. Counter.Strike
110. Ibnu5tey
111. Sambalgorengan
112. Ryolantara
113. Hi.adam.here
114. kleponis
92. Silvvvyy
93. Cithatha
94. Ebonkotranus
95. papajahat69
96. Darkside212
97. Griefer14
98. Toileee
99. GELAP
100. Hadiyanarif
101. boled.mwgel
102. Garwet
103. febrikeys007
104. Jqwerty
105. Sapson
106. Zellim
107. Rafc
108. Cimakcimik
109. Counter.Strike
110. Ibnu5tey
111. Sambalgorengan
112. Ryolantara
113. Hi.adam.here
114. kleponis
Diubah oleh kruingputih2 11-11-2016 19:32
Kruingputih4 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
296.7K
Kutip
7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buat Latihan Posting
35.7KThread•1.9KAnggota
Tampilkan semua post
ndemun75
#2025
JUWANDANA
part 10:
bersambung...
part 10:
Quote:
Surobendo sangat tidak terima, nyawanya hampir saja melayang. Sebilah pedang yang dilempar jayasegara walaupun bisa dihindari, ternyata tetap mampu memberikan luka yang sangat perih. Pimpinan rampok itu merasa isi kepalanya seperti dibakar, panas dan penuh dengan amarah. Surobendo melangkah perlahan kedepan, ia menatap lekat-lekat jayasegara, kemudian berjalan ke arah kiri, jayasegara juga melangkah ke kiri, namun tatapan mata keduanya seolah tak bisa dialihkan, saling tatap dengan tajam. Surobendo tetap memasang wajah marahnya.
Surobendo menunggu jawaban umpatan yang dilontarkan ke pemuda dihadapannya. Namun jayasegara memilih diam, akhirnya surobendo berbicara lagi.
"Sirep tadi pasti mainanmu!"
"Ya", jayasegara menjawab singkat.
"Kewanen koe, (terlalu berani kamu) Siapa kau?!", tanya surobendo setengah membentak.
"Namaku jayasegara", jayasegara menjawab singkat.
"Berani sekali, kau bermaksud menidurkan semua orang lalu mengambil hasil rampokanku bukan, sayang sekali bocah keparat...sirep yang kau andalkan itu tak mampu menjamahku! ingat bocah, perbuatanmu ini tak bisa dimaafkan!"
"Aku bukan maling, bukan juga rampok biadab sepertimu yang membunuh dan merudapaksa seenaknya, kau ini hanya seorang pengecut yang beraninya hanya melawan orang lemah dan anak kecil saja. Kelakuanmu mirip binatang. Kau itu tak ubahnya seperti air ludah", jayasegara meludah ke tanah dan kemudian menginjaknya.
"Orang sepertimu lebih layak mati, kalau dibiarkan hidup kau pasti membahayakan orang banyak, entah pedukuhan mana lagi yang akan menjadi korban kebiadabanmu", lanjut jayasegara.
Surobendo sedikit terkejut, tidak menyangka, ada seorang pemuda yang terang-terangan berani melawannya. Selama ia menjadi rampok, jarang sekali orang yang berani menghadapinya, hanya beberapa orang saja dan itupun selalu berhasil ia kalahkan.
"Punya nyali besar rupanya, apa yang kau inginkan, ingin menjajal ilmu kanuraganku begitu?!", surobendo bertanya.
"Aku hanya ingin memisahkan sukmamu dari tubuhmu, itu saja", balas jayasegara dengan nada datar seolah tanpa beban.
"Laknat!", Lagi-lagi surobendo mengeluarkan umpatannya.
"Memangnya kau ini bisa apa selain bermain dengan ilmu sirepmu itu bocah, ha! Tak sadarkah kalau saat ini kau sedang dalam bahaya, beraninya membuatku marah, akan kupecahkan kepalamu!", surobendo benar-benar sudah menggapai puncak amarahnya, rasa sakit yang berasal dari telinganya sudah tak dipedulikannya lagi.
Tangannya mengepal, dari sela-sela jarinya keluar asap putih. Tangan itu apabila dibenturkan ke sebuah pohon, maka akan langsung tumbang pohon itu. Suaranya yang besar menggelegar menandakan kalau pimpinan rampok itu sudah menggunakan aji gelap sayuto.
Nyali jayasegara sama sekali tak ciut saat mendengar suara surobendo yang mampu menggetarkan udara itu, ilmu seperti itu ia juga memilikinya. Tapi, jayasegara melangkah mundur, ia mengambil jarak kalau-kalau surobendo tiba-tiba melancarkan serangan.
"Bahaya apa? aku tak takut padamu, aku tak pernah takut pada siapapun, ayo keluarkan seluruh ajian kesaktianmu, aku ingin mencobanya!", jayasegara melontarkan tantangan. Ia tak perlu merasa takut dengan seorang rampok walaupun punya ilmu kanuragan yang tinggi. Lagipula ia merasa ilmu yang dimilikinya cukup untuk menghadapi pimpinan rampok itu.
Pedang yang ada di tangan kirinya perlahan dicabut dari sarungnya, pedang yang ia dapatkan dari rampok yang mencegatnya di ujung pedukuhan. Jayasegara ingin memulai pertarungan. Melihat musuhnya mengeluarkan pedang, surobendo melakukan hal yang sama, sebilah pedang yang tajam di kedua sisinya nampak siap meneguk darah jayasegara.
"Heyaaaahhh....!!!", jayasegara berteriak dan melenting ke depan menyerang surobendo.
Surobendo sedikit terkejut dengan suara jayasegara yang mendadak menjadi besar dan menggema, mirip dengan ajian gelap sayuto yang ia kuasai, tapi rasa terkejut itu hanya sebentar saja. Surobendo segera teralihkan perhatiannya kepada pemuda didepannya yang sudah siap untuk mencabut nyawanya. Dengan sigap, surobendo menyongsong datangnya serangan dari bocah kesayangan nyai sekar wangi itu.
"Mati koe!" (mati kamu), surobendo berteriak seraya menyerang jayasegara.
Kedua orang itu mengayunkan pedangnya bersamaan, pedang tajam itupun berbenturan. Karena saking kuatnya tenaga jayasegara dan surobendo saat mengayunkan pedangnya, kedua pedang itupun patah.
Sejurus kemudian, surobendo melepaskan genggaman tangannya dari pangkal pedangnya. Kepalan tangannya lurus menjulur kedepan berusaha menggapai kepala jayasegara. Tapi, belum sampai mengenai kepala, dengan tangkas jayasegara menangkis serangan dari surobendo menggunakan tangan kirinya.
Tangan kiri surobendo gantian mengayun ke depan, kali ini pukulannya lebih kuat karena dilapisi oleh tenaga dalam. Kepalan tangannya sangat keras seperti batu, kalau pukulan itu mengenai kepala, bisa dipastikan kepala itu akan hancur lebur tanpa sisa. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan jayasegara bila terkena pukulan maut itu.
Alih-alih berniat menangkis atau menghindarinya, jayasegara justru malah membenturkan tangannya dengan kepalan tangan surobendo. Jayasegara ingin menguji seberapa kuat dan keras tangan dan tenaganya jika dibenturkan dengan musuhnya.
Kedua tangan yang saling hantam itu dilapisi tenaga dalam dan juga ilmu kesaktian menjadikan pukulan itu berkali-kali lipat lebih keras dan kuat dari pukulan biasa. Tenaga dan ajian jaya kawijayan bercampur menjadi satu mengalir di tangan para pemiliknya untuk kemudian saling adu kuat. Membuktikan siapa yang lebih unggul.
Jayasegara dan surobendo kemudian terpelanting ke belakang, akibat dari berbenturannya adu kekuatan yang sama hebat. Jayasegara berusaha agar badannya tak terjatuh berguling, ia lalu memijakkan kakinya ke tanah dan kemudian melompat memutar ke arah belakang dan mendarat dengan kaki tegak lurus dan sedikit terbuka.
Sementara surobendo mendaratkan tubuhnya dengan kakinya yang ditekuk dan badan yang sedikit membungkuk, dampak dari hempasan adu kekuatan membuatnya terseret kebelakang tapi kaki surobendo yang kuat menghujam ke tanah membuatnya mampu menguasai keadaan, jadi ia tidak terhempas terlalu jauh.
"Setan alas! bocah precil (anak katak) itu ternyata punya tenaga yang besar, pukulannya sangat keras. Bagaimana ia yang masih muda itu mempunyai ilmu kanuragan yang mumpuni, siapa gurunya?", kata surobendo dalam hati.
Surobendo sama sekali tidak menyangka, ada seseorang yang mempunyai ilmu kanuragan yang cukup mumpuni walaupun umurnya masih muda, bahkan mampu mengimbangi kekuatan pukulannya. Surobendo sebenarnya menyimpan rasa kagum terhadap jayasegara. Masih berusia muda tapi sudah hebat dalam bertarung.
Jayasegara berdiri tegak sambil meremas-remas jari tangan kanannya, ia merasakan sedikit nyeri setelah mengadu kekuatan dengan surobendo. Tapi, dari situlah jayasegara bisa mengukur tingkat kesaktian lawan yang dihadapinya. Kali ini musuhnya memang bukan orang sembarangan.
"Tanganku terasa nyeri sampai menusuk tulang hanya karna adu kepalan tangan. Gila, ilmu macam apa yang dia gunakan", desis jayasegara, jayasegara tak habis pikir, hanya sekali serang dirinya sudah merasakan sakit, padahal ia juga menggunakan ilmu kesaktiannya.
Jayasegara merasa miris melihat musuh yang dihadapinya begitu kuat. Kali ini ia harus lebih berhati-hati saat melakukan serangan, karena bukan tidak mungkin musuhnya mengeluarkan sebuah ajian yang sangat membahayakan.
"Tapi...sebesar dan sehebat apapun ilmu kanuragan yang ia kuasai, apa yang bisa ia perbuat bila matanya buta, aku ingin tau apa yang akan dia lakukan jika matanya tak bisa melihat", lanjut jayasegara.
Ia bermaksud menggunakan ajian mendung peteng kepada surobendo, sebuah ilmu kesaktian jaya kawijayan yang bisa membuat orang yang terkena akan menjadi buta dan merasakan perih pada matanya. Sungguh ilmu yang berbahaya jika digunakan sembarangan, apalagi kalau penggunanya mempunyai watak yang buruk, dan suka berbuat kejahatan.
"Boleh juga kau bocah, aku kagum padamu, tapi...sebaiknya kau menyerah saja, kau tak mungkin mampu melawan seorang surobendo. Ikutlah denganku, kau akan kujadikan wakil pimpinan, langsung dibawah kendaliku, bagaimana?", surobendo berkata sambil menepuk-nepuk dadanya. Ia berkeinginan menjadikan jayasegara sebagai anak buahnya, sebagai tangan kanannya.
Surobendo tau kalau pemuda yang dihadapannya itu bukan pemuda sembarangan, tentunya akan sangat menguntungkan bila jayasegara mau bergabung dengannya. Surobendo berjalan mendekat ke arah jayasegara tetapi tetap menjaga jarak. Kini, tatapan matanya mengarah ke tangan kanan jayasegara, pemuda yang jadi musuhnya itu sedang meremas-remas jari tangannya dan memutar-mutar pergelangannya, pimpinan rampok itu tau kalau musuhnya sedang merasakan dampak dari pukulannya. Surobendo tersenyum remeh.
"Baiklah, aku terima tawaranmu, jika aku kalah aku akan mengabdi padamu. Tapi, jika aku yang menang, kau harus menuruti semua perintah dan keinginanku", jawab jayasegara. Ia bermaksud untuk mengalahkan sekaligus menundukkan pimpinan rampok itu beserta semua anak buahnya agar berhenti untuk berbuat hal yang hina dan meninggalkan dunia perampokan yang kelam.
Jika pimpinannya bisa dikalahkan, maka seluruh anak buahnya pasti akan ikut tunduk.
"Bicaramu seolah kau mampu mengalahkan ku, aku tak mungkin kalah darimu bocah precil!", surobendo kembali membentak jayasegara, ia menjadi bertambah kesal.
Tanpa diduga, sebuah hal yang mengejutkan terjadi. Satu bongkahan batu besar yang ada di halaman rumah diangkat oleh surobendo menggunakan kedua tangannya. Batu berbentuk persegi panjang yang biasanya digunakan untuk duduk santai di depan rumah mampu diangkat seorang diri. Kini, batu besar itu dipegang dengan satu tangan saja dan nampak akan dilempar ke udara.
Jayasegara terus memperhatikan tingkah polah musuhnya, ia merasa kalau tindakan surobendo bisa membahayakan penduduk pedukuhan.
"Ajian bolo sewu, sudah lama aku tak menggunakan ilmu itu, ternyata dia juga memilikinya", jayasegara berkata dalam hati.
"Dia menggunakan tidak pada tempatnya, benar-benar orang yang berbahaya, akan aku pancing dia keluar dari pedukuhan", lanjutnya.
Jayasegara melompat tinggi, ia lalu menjejakkan kakinya di atap salah satu rumah untuk kemudian melompat lagi dan mengayunkan kakinya seolah berlari di udara. Yang dituju adalah semak-semak yang terdapat beberapa rimbun pohon bambu di sebelah pedukuhan.
Tak ingin musuhnya lari menghindar begitu saja, surobendo lantas melompat sambil membawa batu besar yang ada ditangannya, surobendo nampak mengambang di udara. Dengan aji bolo sewu yang dimilikinya ia memukul batu besar itu hingga pecah berkeping-keping. Dan dengan cepat pula kedua tangannya dijulurkan ke depan menghempaskan kepingan-kepingan batu itu ke arah jayasegara.
Jayasegara blingsatan melompat ke sana kemari menghindari serpihan batu-batu yang meluncur ke arahnya karena dilempar bersamaan menggunakan ilmu kesaktian. Sebuah serpihan paling besar nampak akan menghantam tubuhnya, kali ini ia tak bisa menghindar, jayasegara memusatkan kekuatannya di kedua tangan.
Saat batu itu mendekat, ia menjulurkan kedua tangannya ke arah batu itu. Hancur lebur batu itu tanpa sisa. Kalau terlambat sedikit saja jayasegara melakukan tindakan, maka ia akan celaka.
"Hampir saja aku kena, sialan! awas kau surobendo!", jayasegara mulai terpancing amarahnya karena ia hampir saja celaka oleh ulah musuhnya, matanya melotot tajam, wajahnya berubah menjadi kemerahan. Amarah nampaknya sudah tak terbendung lagi, butuh penyaluran.
"Menarik sekali, si precil itu mampu mengimbangiku", pimpinan rampok itu semakin penasaran dengan kemampuan jayasegara.
Tanpa disadari, pertarungan itu disaksikan oleh seseorang. Baik jayasegara ataupun surobendo tak menyadari kehadiran orang lain di dekat mereka. Dengan meringankan tubuhnya, ia berdiri tegak sambil melihat pertarungan dari atas salah satu pohon bambu. Orang itu sudah berumur tua, tongkat kesayangannya selalu melekat di tangan, semua helai rambut dan jenggotnya berwarna putih sama dengan pakaian yang ia gunakan.
Dengan ilmu kesaktian yang ia miliki, orang tua itu bisa menghilang, tak tampak oleh mata. Ajian pinangesti yang ia gunakan menutup dengan sempurna seluruh tubuhnya, sebuah ajian yang terdengar seperti mitos, ada yang percaya orang bisa menghilang, ada pula yang tidak, sebenarnya hanya ada segelintir saja orang yang menguasai ilmu itu. Orang tua itu adalah guru jayasegara, dang hyang kencono. Dang hyang kencono menarik napas panjang, menunggu apa yang akan dilakukan oleh muridnya yang sudah diliputi kemarahan.
Pertarungan antara surobendo dan jayasegara berlanjut, surobendo bersiap melakukan serangan lanjutan, surobendo yang tadinya mengambang di udara turun ke semak-semak dimana jayasegara berada, ia kembali memijak di tanah. Dari jarak beberapa langkah, surobendo melihat jayasegara sedang marah besar.
"Ilmumu tak sebesar amarahmu bocah precil, hahaha...!", surobendo menertawakan jayasegara yang sedang marah, ia memang sengaja membuat amarah jayasegara lebih meledak lagi.
"Kuhabisi kau surobendo!", jayasegara berteriak keras, teriakan yang ia lambari dengan aji gelap sayuto menggelegar dan menggema ke semua penjuru, semak-semak dan pohon bambu bahkan sampai bergetar dibuatnya.
Jayasegara merendahkan badannya dengan cara menekuk kedua kakinya, atau biasa disebut dengan posisi kuda-kuda, kaki kiri maju kedepan sedangkan kaki kanan di belakang. Tangan kirinya ia majukan ke depan sedangkan yang kanan ada di depan dada. Ia bermaksud menggunakan tiga ajian sekaligus. Ajian mendung peteng, ajian topeng wojo yang berguna untuk membuat tubuh menjadi kebal, dan yang ketiga keluk geni yang digunakan untuk menyerang.
Kedua tangan jayasegara mengeluarkan asap putih yang membawa hawa panas, mirip dengan awan panas yang dikeluarkan gunung berapi yang akan meletus, ajian keluk geni ditangannya siap digunakan.
"Aku tau, asap itu sangat berbahaya...", gumam surobendo.
"Kau memintaku untuk mengeluarkan seluruh ilmu kanuraganku, baiklah...aku turuti permintaanmu!", surobendo berteriak lantang.
surobendo mengangkat tangan kanannya ke atas, tangan kirinya ia letakkan di belakang pinggang. Wajahnya menengadah ke atas, dan menahan napas. Tak lama kemudian, tangan kanannya mengeluarkan sebuah letusan besar. Asap yang diakibatkan dari letusan itu baunya mirip darah, sangat menyengat menusuk hidung. Telapak tangan surobendo menjadi merah. Jayasegara belum pernah melihat ajian itu sebelumnya.
"Gada yamadipati! (yamadipati = dewa kematian di pewayangan)", teriak surobendo menyebut nama ajiannya. "Tidak ada yang selamat bila berani melawanku, akan aku sumpal mulutmu dengan ini!".
Surobendo bersiap melesat menyerang jayasegara, tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Dalam penglihatannya, sebuah awan yang pekat yang biasanya membawa hujan, turun terlalu rendah, tepat diatas kepalanya. Sebuah kejadian yang janggal. Ajian mendung peteng mulai menunjukkan perannya.
"Apa ini, mendung bisa sedekat ini?", kata surobendo dalam kebingungan.
Awan yang semula ada di atas kepalanya kini merambat turun ke wajah, menutupi pandangan. Mata surobendo menjadi buram, tidak jelas apa yang ada didepannya, lalu ia juga merasakan perih di kedua matanya. Surobendo benar-benar terkejut dengan keadaan ini.
Surobendo berusaha agar matanya tidak buta, ia melawan rasa perih yang teramat sangat. Ilmu kesaktiannya ia pusatkan di mata, menjaga agar tetap bisa melihat walaupun hanya remang-remang. Kini ia mulai menggunakan mata batinnya. Pendengarannya juga mulai dipertajam.
"Dancok tenan...opo meneh iki! bocah laknat!"(dancok benar, apalagi ini!), teriak surobendo mewakili kekesalannya.
Disaat seperti itulah jayasegara maju menyerang surobendo. Ia berlari mendekat ke arah musuhnya. Namun, surobendo bukan rampok bodoh, walaupun tak bisa melihat jelas, ia tahu jayasegara akan segera menyerangnya. Surobendo bisa mendengar jelas gerakan-gerakan jayasegara.
Keponakan mahapatih kebo mbranang itu melompat dan menyerang dengan tangan kanannya yang dipenuhi asap dari ajian keluk geni. Apabila ada orang yang terkena maka orang itu akan hangus seperti terbakar. Jayasegara muncul dari sebelah kanan surobendo, bukan dari arah depan. Jayasegara tidak terlalu mengkhawatirkan serangan balasan yang nantinya akan dilancarkan oleh surobendo, ia percaya aji topeng wojo miliknya mampu melindungi tubuhnya dari bahaya apapun.
Surobendo tau dari arah mana serangan itu datang, asap yang ada di tangan kanan jayasegara menyembur deras. Surobendo langsung menjulurkan tangan kanannya, dari tangan itu keluar cahaya berwarna merah melesat menyongsong ajian keluk geni milik jayasegara.
Ledakan keras kemudian terdengar akibat bertemunya dua ajian yang sangat ampuh itu, asap keluk geni menjadi berhamburan kemana-mana menyebabkan semak-semak dan beberapa pohon bambu langsung hangus terbakar. Tangan jayasegara kembali mengeluarkan asap, kali ini lebih tebal dan banyak dari sebelumnya.
Surobendo pun berujar, "asapmu itu sulit ditembus rupanya", pimpinan dunia perampokan itu nampak kesulitan melawan jayasegara.
"Ajian yang kau andalkan itu sepertinya tak bisa digunakan untuk melawanku, kau menyerah saja surobendo", balas jayasegara.
"Jangan sombong dulu kau bocah, walaupun ajian anehmu ini mampu membuat mataku buram, aku masih mampu mencabut nyawamu!"
"Buktikan saja omonganmu, jangan banyak bicara, ayo!"
"Tak sigar ndasmu koe!" (aku belah kepalamu!)
Kali ini seluruh bagian tubuh jayasegara mampu mengeluarkan asap putih yang tebal hingga membuat dirinya tak terlihat karena tertutup asap, jayasegara membuat pertahanan ganda. Pertama dari ajian topeng wojo yang melekat di tubuhnya, yang kedua berasal dari keluk geni yang membungkus tubuhnya. Kedua telapak tangannya melekat didepan dada.
"Hiyaaaa....!!", surobendo kembali mengeluarkan cahaya merah dari tangannya. Ledakan keras kembali terdengar.
Surobendo berharap ajiannya mampu menembus tebalnya asap buatan musuhnya, namun nyatanya asap itu tetap melindungi jayasegara dengan rapat, tidak seperti sebelumnya yang langsung buyar kemana-mana.
Tak menyerah, surobendo mengepalkan tangannya. Ajian gada yamadipati kini jauh lebih sempurna, cahaya merah membungkus kepalan tangannya. Dengan mengandalkan mata batinnya, Surobendo melenting cepat menyerang jayasegara, gerakannya sulit diikuti pandangan mata. Ia bermaksud menghantam dinding asap dengan ajiannya yang kini sudah lebih sempurna.
Tapi, ternyata asap milik jayasegara itu selain untuk bertahan bisa digunakan untuk menyerang, asap putih tebal itu seolah mempunyai nyawa sendiri, asap itupun menyembur ke arah surobendo, surobendo terpaksa bergeliat menghindar dari jangkauan ajian keluk geni. Begitu surobendo kembali mendekat, asap itu kembali menyembur ke arahnya, keadaan seperti itu terus-menerus berlanjut, bahkan surobendo hampir terbakar karena nyaris terkena asap itu. Sungguh pertahanan yang sulit ditembus. Surobendo kesal dibuatnya, umpatannya kembali ia keluarkan.
"Tai asu! baik! iblis laknat...!"
Surobendo semakin geram
Surobendo adalah orang yang mempunyai perbendaharaan umpatan yang banyak, jadi tak heran jika ia selalu mendengungkannya.
"Baiklah...akan aku gunakan cara yang paling ampuh", kata surobendo dalam hati.
Sesaat, mulut surobendo komat-kamit membacakan sebuah mantra, matanya terpejam. Setelah ia selesai membaca mantra, matanya kembali terbuka.
"Jayasegara!", surobendo berteriak, "disinilah akhir hidupmu, aku akan mencabut nyawamu layaknya yamadipati!".
Jayasegara diam tak bersuara, asap putih tebal masih tetap membungkus tubuhnya. Tak terlihat sama sekali tubuh pemuda itu. Dengan berdiri tegak, kedua telapak tangannya masih melekat didepan dada.
"Gada yamadipati...!!", surobendo maju menyerang jayasegara, tangan kanannya yang seolah seperti sebuah gada siap dikesakkan menembus pertahanan jayasegara.
Surobendo menunggu jawaban umpatan yang dilontarkan ke pemuda dihadapannya. Namun jayasegara memilih diam, akhirnya surobendo berbicara lagi.
"Sirep tadi pasti mainanmu!"
"Ya", jayasegara menjawab singkat.
"Kewanen koe, (terlalu berani kamu) Siapa kau?!", tanya surobendo setengah membentak.
"Namaku jayasegara", jayasegara menjawab singkat.
"Berani sekali, kau bermaksud menidurkan semua orang lalu mengambil hasil rampokanku bukan, sayang sekali bocah keparat...sirep yang kau andalkan itu tak mampu menjamahku! ingat bocah, perbuatanmu ini tak bisa dimaafkan!"
"Aku bukan maling, bukan juga rampok biadab sepertimu yang membunuh dan merudapaksa seenaknya, kau ini hanya seorang pengecut yang beraninya hanya melawan orang lemah dan anak kecil saja. Kelakuanmu mirip binatang. Kau itu tak ubahnya seperti air ludah", jayasegara meludah ke tanah dan kemudian menginjaknya.
"Orang sepertimu lebih layak mati, kalau dibiarkan hidup kau pasti membahayakan orang banyak, entah pedukuhan mana lagi yang akan menjadi korban kebiadabanmu", lanjut jayasegara.
Surobendo sedikit terkejut, tidak menyangka, ada seorang pemuda yang terang-terangan berani melawannya. Selama ia menjadi rampok, jarang sekali orang yang berani menghadapinya, hanya beberapa orang saja dan itupun selalu berhasil ia kalahkan.
"Punya nyali besar rupanya, apa yang kau inginkan, ingin menjajal ilmu kanuraganku begitu?!", surobendo bertanya.
"Aku hanya ingin memisahkan sukmamu dari tubuhmu, itu saja", balas jayasegara dengan nada datar seolah tanpa beban.
"Laknat!", Lagi-lagi surobendo mengeluarkan umpatannya.
"Memangnya kau ini bisa apa selain bermain dengan ilmu sirepmu itu bocah, ha! Tak sadarkah kalau saat ini kau sedang dalam bahaya, beraninya membuatku marah, akan kupecahkan kepalamu!", surobendo benar-benar sudah menggapai puncak amarahnya, rasa sakit yang berasal dari telinganya sudah tak dipedulikannya lagi.
Tangannya mengepal, dari sela-sela jarinya keluar asap putih. Tangan itu apabila dibenturkan ke sebuah pohon, maka akan langsung tumbang pohon itu. Suaranya yang besar menggelegar menandakan kalau pimpinan rampok itu sudah menggunakan aji gelap sayuto.
Nyali jayasegara sama sekali tak ciut saat mendengar suara surobendo yang mampu menggetarkan udara itu, ilmu seperti itu ia juga memilikinya. Tapi, jayasegara melangkah mundur, ia mengambil jarak kalau-kalau surobendo tiba-tiba melancarkan serangan.
"Bahaya apa? aku tak takut padamu, aku tak pernah takut pada siapapun, ayo keluarkan seluruh ajian kesaktianmu, aku ingin mencobanya!", jayasegara melontarkan tantangan. Ia tak perlu merasa takut dengan seorang rampok walaupun punya ilmu kanuragan yang tinggi. Lagipula ia merasa ilmu yang dimilikinya cukup untuk menghadapi pimpinan rampok itu.
Pedang yang ada di tangan kirinya perlahan dicabut dari sarungnya, pedang yang ia dapatkan dari rampok yang mencegatnya di ujung pedukuhan. Jayasegara ingin memulai pertarungan. Melihat musuhnya mengeluarkan pedang, surobendo melakukan hal yang sama, sebilah pedang yang tajam di kedua sisinya nampak siap meneguk darah jayasegara.
"Heyaaaahhh....!!!", jayasegara berteriak dan melenting ke depan menyerang surobendo.
Surobendo sedikit terkejut dengan suara jayasegara yang mendadak menjadi besar dan menggema, mirip dengan ajian gelap sayuto yang ia kuasai, tapi rasa terkejut itu hanya sebentar saja. Surobendo segera teralihkan perhatiannya kepada pemuda didepannya yang sudah siap untuk mencabut nyawanya. Dengan sigap, surobendo menyongsong datangnya serangan dari bocah kesayangan nyai sekar wangi itu.
"Mati koe!" (mati kamu), surobendo berteriak seraya menyerang jayasegara.
Kedua orang itu mengayunkan pedangnya bersamaan, pedang tajam itupun berbenturan. Karena saking kuatnya tenaga jayasegara dan surobendo saat mengayunkan pedangnya, kedua pedang itupun patah.
Sejurus kemudian, surobendo melepaskan genggaman tangannya dari pangkal pedangnya. Kepalan tangannya lurus menjulur kedepan berusaha menggapai kepala jayasegara. Tapi, belum sampai mengenai kepala, dengan tangkas jayasegara menangkis serangan dari surobendo menggunakan tangan kirinya.
Tangan kiri surobendo gantian mengayun ke depan, kali ini pukulannya lebih kuat karena dilapisi oleh tenaga dalam. Kepalan tangannya sangat keras seperti batu, kalau pukulan itu mengenai kepala, bisa dipastikan kepala itu akan hancur lebur tanpa sisa. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan jayasegara bila terkena pukulan maut itu.
Alih-alih berniat menangkis atau menghindarinya, jayasegara justru malah membenturkan tangannya dengan kepalan tangan surobendo. Jayasegara ingin menguji seberapa kuat dan keras tangan dan tenaganya jika dibenturkan dengan musuhnya.
Kedua tangan yang saling hantam itu dilapisi tenaga dalam dan juga ilmu kesaktian menjadikan pukulan itu berkali-kali lipat lebih keras dan kuat dari pukulan biasa. Tenaga dan ajian jaya kawijayan bercampur menjadi satu mengalir di tangan para pemiliknya untuk kemudian saling adu kuat. Membuktikan siapa yang lebih unggul.
Jayasegara dan surobendo kemudian terpelanting ke belakang, akibat dari berbenturannya adu kekuatan yang sama hebat. Jayasegara berusaha agar badannya tak terjatuh berguling, ia lalu memijakkan kakinya ke tanah dan kemudian melompat memutar ke arah belakang dan mendarat dengan kaki tegak lurus dan sedikit terbuka.
Sementara surobendo mendaratkan tubuhnya dengan kakinya yang ditekuk dan badan yang sedikit membungkuk, dampak dari hempasan adu kekuatan membuatnya terseret kebelakang tapi kaki surobendo yang kuat menghujam ke tanah membuatnya mampu menguasai keadaan, jadi ia tidak terhempas terlalu jauh.
"Setan alas! bocah precil (anak katak) itu ternyata punya tenaga yang besar, pukulannya sangat keras. Bagaimana ia yang masih muda itu mempunyai ilmu kanuragan yang mumpuni, siapa gurunya?", kata surobendo dalam hati.
Surobendo sama sekali tidak menyangka, ada seseorang yang mempunyai ilmu kanuragan yang cukup mumpuni walaupun umurnya masih muda, bahkan mampu mengimbangi kekuatan pukulannya. Surobendo sebenarnya menyimpan rasa kagum terhadap jayasegara. Masih berusia muda tapi sudah hebat dalam bertarung.
Jayasegara berdiri tegak sambil meremas-remas jari tangan kanannya, ia merasakan sedikit nyeri setelah mengadu kekuatan dengan surobendo. Tapi, dari situlah jayasegara bisa mengukur tingkat kesaktian lawan yang dihadapinya. Kali ini musuhnya memang bukan orang sembarangan.
"Tanganku terasa nyeri sampai menusuk tulang hanya karna adu kepalan tangan. Gila, ilmu macam apa yang dia gunakan", desis jayasegara, jayasegara tak habis pikir, hanya sekali serang dirinya sudah merasakan sakit, padahal ia juga menggunakan ilmu kesaktiannya.
Jayasegara merasa miris melihat musuh yang dihadapinya begitu kuat. Kali ini ia harus lebih berhati-hati saat melakukan serangan, karena bukan tidak mungkin musuhnya mengeluarkan sebuah ajian yang sangat membahayakan.
"Tapi...sebesar dan sehebat apapun ilmu kanuragan yang ia kuasai, apa yang bisa ia perbuat bila matanya buta, aku ingin tau apa yang akan dia lakukan jika matanya tak bisa melihat", lanjut jayasegara.
Ia bermaksud menggunakan ajian mendung peteng kepada surobendo, sebuah ilmu kesaktian jaya kawijayan yang bisa membuat orang yang terkena akan menjadi buta dan merasakan perih pada matanya. Sungguh ilmu yang berbahaya jika digunakan sembarangan, apalagi kalau penggunanya mempunyai watak yang buruk, dan suka berbuat kejahatan.
"Boleh juga kau bocah, aku kagum padamu, tapi...sebaiknya kau menyerah saja, kau tak mungkin mampu melawan seorang surobendo. Ikutlah denganku, kau akan kujadikan wakil pimpinan, langsung dibawah kendaliku, bagaimana?", surobendo berkata sambil menepuk-nepuk dadanya. Ia berkeinginan menjadikan jayasegara sebagai anak buahnya, sebagai tangan kanannya.
Surobendo tau kalau pemuda yang dihadapannya itu bukan pemuda sembarangan, tentunya akan sangat menguntungkan bila jayasegara mau bergabung dengannya. Surobendo berjalan mendekat ke arah jayasegara tetapi tetap menjaga jarak. Kini, tatapan matanya mengarah ke tangan kanan jayasegara, pemuda yang jadi musuhnya itu sedang meremas-remas jari tangannya dan memutar-mutar pergelangannya, pimpinan rampok itu tau kalau musuhnya sedang merasakan dampak dari pukulannya. Surobendo tersenyum remeh.
"Baiklah, aku terima tawaranmu, jika aku kalah aku akan mengabdi padamu. Tapi, jika aku yang menang, kau harus menuruti semua perintah dan keinginanku", jawab jayasegara. Ia bermaksud untuk mengalahkan sekaligus menundukkan pimpinan rampok itu beserta semua anak buahnya agar berhenti untuk berbuat hal yang hina dan meninggalkan dunia perampokan yang kelam.
Jika pimpinannya bisa dikalahkan, maka seluruh anak buahnya pasti akan ikut tunduk.
"Bicaramu seolah kau mampu mengalahkan ku, aku tak mungkin kalah darimu bocah precil!", surobendo kembali membentak jayasegara, ia menjadi bertambah kesal.
Tanpa diduga, sebuah hal yang mengejutkan terjadi. Satu bongkahan batu besar yang ada di halaman rumah diangkat oleh surobendo menggunakan kedua tangannya. Batu berbentuk persegi panjang yang biasanya digunakan untuk duduk santai di depan rumah mampu diangkat seorang diri. Kini, batu besar itu dipegang dengan satu tangan saja dan nampak akan dilempar ke udara.
Jayasegara terus memperhatikan tingkah polah musuhnya, ia merasa kalau tindakan surobendo bisa membahayakan penduduk pedukuhan.
"Ajian bolo sewu, sudah lama aku tak menggunakan ilmu itu, ternyata dia juga memilikinya", jayasegara berkata dalam hati.
"Dia menggunakan tidak pada tempatnya, benar-benar orang yang berbahaya, akan aku pancing dia keluar dari pedukuhan", lanjutnya.
Jayasegara melompat tinggi, ia lalu menjejakkan kakinya di atap salah satu rumah untuk kemudian melompat lagi dan mengayunkan kakinya seolah berlari di udara. Yang dituju adalah semak-semak yang terdapat beberapa rimbun pohon bambu di sebelah pedukuhan.
Tak ingin musuhnya lari menghindar begitu saja, surobendo lantas melompat sambil membawa batu besar yang ada ditangannya, surobendo nampak mengambang di udara. Dengan aji bolo sewu yang dimilikinya ia memukul batu besar itu hingga pecah berkeping-keping. Dan dengan cepat pula kedua tangannya dijulurkan ke depan menghempaskan kepingan-kepingan batu itu ke arah jayasegara.
Jayasegara blingsatan melompat ke sana kemari menghindari serpihan batu-batu yang meluncur ke arahnya karena dilempar bersamaan menggunakan ilmu kesaktian. Sebuah serpihan paling besar nampak akan menghantam tubuhnya, kali ini ia tak bisa menghindar, jayasegara memusatkan kekuatannya di kedua tangan.
Saat batu itu mendekat, ia menjulurkan kedua tangannya ke arah batu itu. Hancur lebur batu itu tanpa sisa. Kalau terlambat sedikit saja jayasegara melakukan tindakan, maka ia akan celaka.
"Hampir saja aku kena, sialan! awas kau surobendo!", jayasegara mulai terpancing amarahnya karena ia hampir saja celaka oleh ulah musuhnya, matanya melotot tajam, wajahnya berubah menjadi kemerahan. Amarah nampaknya sudah tak terbendung lagi, butuh penyaluran.
"Menarik sekali, si precil itu mampu mengimbangiku", pimpinan rampok itu semakin penasaran dengan kemampuan jayasegara.
Tanpa disadari, pertarungan itu disaksikan oleh seseorang. Baik jayasegara ataupun surobendo tak menyadari kehadiran orang lain di dekat mereka. Dengan meringankan tubuhnya, ia berdiri tegak sambil melihat pertarungan dari atas salah satu pohon bambu. Orang itu sudah berumur tua, tongkat kesayangannya selalu melekat di tangan, semua helai rambut dan jenggotnya berwarna putih sama dengan pakaian yang ia gunakan.
Dengan ilmu kesaktian yang ia miliki, orang tua itu bisa menghilang, tak tampak oleh mata. Ajian pinangesti yang ia gunakan menutup dengan sempurna seluruh tubuhnya, sebuah ajian yang terdengar seperti mitos, ada yang percaya orang bisa menghilang, ada pula yang tidak, sebenarnya hanya ada segelintir saja orang yang menguasai ilmu itu. Orang tua itu adalah guru jayasegara, dang hyang kencono. Dang hyang kencono menarik napas panjang, menunggu apa yang akan dilakukan oleh muridnya yang sudah diliputi kemarahan.
Pertarungan antara surobendo dan jayasegara berlanjut, surobendo bersiap melakukan serangan lanjutan, surobendo yang tadinya mengambang di udara turun ke semak-semak dimana jayasegara berada, ia kembali memijak di tanah. Dari jarak beberapa langkah, surobendo melihat jayasegara sedang marah besar.
"Ilmumu tak sebesar amarahmu bocah precil, hahaha...!", surobendo menertawakan jayasegara yang sedang marah, ia memang sengaja membuat amarah jayasegara lebih meledak lagi.
"Kuhabisi kau surobendo!", jayasegara berteriak keras, teriakan yang ia lambari dengan aji gelap sayuto menggelegar dan menggema ke semua penjuru, semak-semak dan pohon bambu bahkan sampai bergetar dibuatnya.
Jayasegara merendahkan badannya dengan cara menekuk kedua kakinya, atau biasa disebut dengan posisi kuda-kuda, kaki kiri maju kedepan sedangkan kaki kanan di belakang. Tangan kirinya ia majukan ke depan sedangkan yang kanan ada di depan dada. Ia bermaksud menggunakan tiga ajian sekaligus. Ajian mendung peteng, ajian topeng wojo yang berguna untuk membuat tubuh menjadi kebal, dan yang ketiga keluk geni yang digunakan untuk menyerang.
Kedua tangan jayasegara mengeluarkan asap putih yang membawa hawa panas, mirip dengan awan panas yang dikeluarkan gunung berapi yang akan meletus, ajian keluk geni ditangannya siap digunakan.
"Aku tau, asap itu sangat berbahaya...", gumam surobendo.
"Kau memintaku untuk mengeluarkan seluruh ilmu kanuraganku, baiklah...aku turuti permintaanmu!", surobendo berteriak lantang.
surobendo mengangkat tangan kanannya ke atas, tangan kirinya ia letakkan di belakang pinggang. Wajahnya menengadah ke atas, dan menahan napas. Tak lama kemudian, tangan kanannya mengeluarkan sebuah letusan besar. Asap yang diakibatkan dari letusan itu baunya mirip darah, sangat menyengat menusuk hidung. Telapak tangan surobendo menjadi merah. Jayasegara belum pernah melihat ajian itu sebelumnya.
"Gada yamadipati! (yamadipati = dewa kematian di pewayangan)", teriak surobendo menyebut nama ajiannya. "Tidak ada yang selamat bila berani melawanku, akan aku sumpal mulutmu dengan ini!".
Surobendo bersiap melesat menyerang jayasegara, tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Dalam penglihatannya, sebuah awan yang pekat yang biasanya membawa hujan, turun terlalu rendah, tepat diatas kepalanya. Sebuah kejadian yang janggal. Ajian mendung peteng mulai menunjukkan perannya.
"Apa ini, mendung bisa sedekat ini?", kata surobendo dalam kebingungan.
Awan yang semula ada di atas kepalanya kini merambat turun ke wajah, menutupi pandangan. Mata surobendo menjadi buram, tidak jelas apa yang ada didepannya, lalu ia juga merasakan perih di kedua matanya. Surobendo benar-benar terkejut dengan keadaan ini.
Surobendo berusaha agar matanya tidak buta, ia melawan rasa perih yang teramat sangat. Ilmu kesaktiannya ia pusatkan di mata, menjaga agar tetap bisa melihat walaupun hanya remang-remang. Kini ia mulai menggunakan mata batinnya. Pendengarannya juga mulai dipertajam.
"Dancok tenan...opo meneh iki! bocah laknat!"(dancok benar, apalagi ini!), teriak surobendo mewakili kekesalannya.
Disaat seperti itulah jayasegara maju menyerang surobendo. Ia berlari mendekat ke arah musuhnya. Namun, surobendo bukan rampok bodoh, walaupun tak bisa melihat jelas, ia tahu jayasegara akan segera menyerangnya. Surobendo bisa mendengar jelas gerakan-gerakan jayasegara.
Keponakan mahapatih kebo mbranang itu melompat dan menyerang dengan tangan kanannya yang dipenuhi asap dari ajian keluk geni. Apabila ada orang yang terkena maka orang itu akan hangus seperti terbakar. Jayasegara muncul dari sebelah kanan surobendo, bukan dari arah depan. Jayasegara tidak terlalu mengkhawatirkan serangan balasan yang nantinya akan dilancarkan oleh surobendo, ia percaya aji topeng wojo miliknya mampu melindungi tubuhnya dari bahaya apapun.
Surobendo tau dari arah mana serangan itu datang, asap yang ada di tangan kanan jayasegara menyembur deras. Surobendo langsung menjulurkan tangan kanannya, dari tangan itu keluar cahaya berwarna merah melesat menyongsong ajian keluk geni milik jayasegara.
Ledakan keras kemudian terdengar akibat bertemunya dua ajian yang sangat ampuh itu, asap keluk geni menjadi berhamburan kemana-mana menyebabkan semak-semak dan beberapa pohon bambu langsung hangus terbakar. Tangan jayasegara kembali mengeluarkan asap, kali ini lebih tebal dan banyak dari sebelumnya.
Surobendo pun berujar, "asapmu itu sulit ditembus rupanya", pimpinan dunia perampokan itu nampak kesulitan melawan jayasegara.
"Ajian yang kau andalkan itu sepertinya tak bisa digunakan untuk melawanku, kau menyerah saja surobendo", balas jayasegara.
"Jangan sombong dulu kau bocah, walaupun ajian anehmu ini mampu membuat mataku buram, aku masih mampu mencabut nyawamu!"
"Buktikan saja omonganmu, jangan banyak bicara, ayo!"
"Tak sigar ndasmu koe!" (aku belah kepalamu!)
Kali ini seluruh bagian tubuh jayasegara mampu mengeluarkan asap putih yang tebal hingga membuat dirinya tak terlihat karena tertutup asap, jayasegara membuat pertahanan ganda. Pertama dari ajian topeng wojo yang melekat di tubuhnya, yang kedua berasal dari keluk geni yang membungkus tubuhnya. Kedua telapak tangannya melekat didepan dada.
"Hiyaaaa....!!", surobendo kembali mengeluarkan cahaya merah dari tangannya. Ledakan keras kembali terdengar.
Surobendo berharap ajiannya mampu menembus tebalnya asap buatan musuhnya, namun nyatanya asap itu tetap melindungi jayasegara dengan rapat, tidak seperti sebelumnya yang langsung buyar kemana-mana.
Tak menyerah, surobendo mengepalkan tangannya. Ajian gada yamadipati kini jauh lebih sempurna, cahaya merah membungkus kepalan tangannya. Dengan mengandalkan mata batinnya, Surobendo melenting cepat menyerang jayasegara, gerakannya sulit diikuti pandangan mata. Ia bermaksud menghantam dinding asap dengan ajiannya yang kini sudah lebih sempurna.
Tapi, ternyata asap milik jayasegara itu selain untuk bertahan bisa digunakan untuk menyerang, asap putih tebal itu seolah mempunyai nyawa sendiri, asap itupun menyembur ke arah surobendo, surobendo terpaksa bergeliat menghindar dari jangkauan ajian keluk geni. Begitu surobendo kembali mendekat, asap itu kembali menyembur ke arahnya, keadaan seperti itu terus-menerus berlanjut, bahkan surobendo hampir terbakar karena nyaris terkena asap itu. Sungguh pertahanan yang sulit ditembus. Surobendo kesal dibuatnya, umpatannya kembali ia keluarkan.
"Tai asu! baik! iblis laknat...!"
Surobendo semakin geram
Surobendo adalah orang yang mempunyai perbendaharaan umpatan yang banyak, jadi tak heran jika ia selalu mendengungkannya.
"Baiklah...akan aku gunakan cara yang paling ampuh", kata surobendo dalam hati.
Sesaat, mulut surobendo komat-kamit membacakan sebuah mantra, matanya terpejam. Setelah ia selesai membaca mantra, matanya kembali terbuka.
"Jayasegara!", surobendo berteriak, "disinilah akhir hidupmu, aku akan mencabut nyawamu layaknya yamadipati!".
Jayasegara diam tak bersuara, asap putih tebal masih tetap membungkus tubuhnya. Tak terlihat sama sekali tubuh pemuda itu. Dengan berdiri tegak, kedua telapak tangannya masih melekat didepan dada.
"Gada yamadipati...!!", surobendo maju menyerang jayasegara, tangan kanannya yang seolah seperti sebuah gada siap dikesakkan menembus pertahanan jayasegara.
bersambung...

Diubah oleh ndemun75 24-08-2016 18:16
0
Kutip
Balas