Bagian Satu
Quote:
Malam-malam yang tak pernah mati. Gelap-gelap yang masih menyisakan ruang untuk gemerlap Ibukota yang warna-warni.
Di satu sudut yang remang, pria itu berjalan dengan tubuh yang terlihat terbungkuk. Melangkah tergesa dengan kaki yang terseret, menyusuri trotoar tempat dimana para gelandangan sedang tertidur pulas. Tubuh pria itu dibalut dengan kaos putih polos yang tak lagi benar-benar berwarna putih, serta sehelai celana jeans belel dengan sebuah sobek yang menganga di bagian lutut. Sedangkan sebuah topi berwarna hitam menutupi kepalanya, terpasang dengan posisi agak turun ke bawah. Seakan si pria berusaha menghalangi wajahnya yang penuh garis-garis kasar kerutan itu dari cahaya lampu jalan.
Malam ini dingin. Hujan baru saja berhenti mengguyur jalanan beberapa jam yang lalu. Dan Yuda Hariadi, nama pria itu, terus melangkah menyusuri trotoar sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam kantong celana jeansnya. Berusaha meredam hawa dingin yang merasuki sekujur tubuh.
Tempat yang menjadi tujuannya masih berada di ujung sana. Di salah satu sudut perempatan besar. Sebuah apotik yang membuka pelayanan dua puluh empat jam.
Namanya Apotik Husada. Yuda membaca nama itu di sebuah papan besar di bagian atas ketika langkahnya terhenti tepat di depan ruko yang ternyata berukuran tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah apotik. Dari posisinya sekarang, dia mengamati keadaan apotik yang terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang pria, yang duduk sambil membaca koran di balik etalase kaca yang penuh dengan berbagai jenis obat.
Yuda sempat ragu beberapa waktu. Langkahnya seakan terpaku di depan Apotik Husada, dan niatnya untuk masuk ke dalam sedikit goyah. Terbesit sekilas sebuah pikiran untuk membatalkan semuanya dan kembali pulang ke kontrakan kecilnya yang berjarak tak begitu jauh dari tempat ini.
Namun, ketika pria di balik etalase itu menutup korannya dan menatap langsung ke arah Yuda yang berdiri termangu di depan situ, dia tahu bahwa sudah terlambat untuk membatalkan semuanya. Dengan ragu, Yuda lalu melangkahkan kakinya memasuki ruko sambil memposisikan topi hitamnya semakin ke bawah. Dia harus waspada. Dia tak tahu apa yang akan terjadi, atau apa yang akan dilakukan oleh pria yang kini berdiri dari duduknya. Menyambut kedatangannya.
“Selamat malam.” Suara pria itu terdengar begitu ramah.
Ada jeda beberapa saat. Yuda terdiam, dan si pria apoteker (yang dari wajahnya sama sekali tak tampak seperti apoteker) itu lebih memilih menunggunya berbicara terlebih dahulu.
Yuda sedikit menoleh ke belakang, memastikan tak ada orang lain yang memasuki apotik ini, atau mengikutinya dari belakang diam-diam. Setelah benar-benar yakin, dia membuka topinya dan menatap si apoteker lekat-lekat. “Ada yang…ada yang salah dengan kepala saya.”
Ada yang aneh dari cara Yuda mengucapkan kalimat barusan. Selain dia berucap dengan begitu buru-buru dan nafasnya memburu karena tegang, tangan kanan Yuda menyentuh dadanya sendiri. Dia menyentuh dadanya ketika dia mengeluh ada yang salah dengan kepalanya.
Si apoteker, yang awalnya tadi menyambut Yuda dengan senyum keramahan, kini berubah menatapnya dengan cara pandang menyelidik. Tangan kanannya, yang sedari tadi tampak dia letakkan di atas meja etalase, perlahan-lahan dia turunkan. Entah apa yang coba diraihnya dari bawah situ.
Melihat hal itu, Yuda semakin gugup. Jantungnya berdegup semakin kencang dan nafasnya memburu tak karuan. Bahkan, keringat dingin mulai membasahi wajahnya yang tampak jauh terlihat lebih tua daripada umurnya yang sebenarnya.
Ini semua tidak betul, batin Yuda dalam hati. Dia lalu buru-buru balik badan dan berniat membatalkan niatnya.
“Tunggu!!” Suara serak itu menghentikan langkahnya. “Balik sini! Gue cuma mau tahu, siapa yang ngasih lo informasi!”
baik! Yuda kepalang berhenti. Dia berbalik dan menuruti perkataan si apoteker.
“Siapa yang ngasih tahu lo kalau gue punya obat buat sakit kepala lo itu?” Si apoteker kembali bertanya dengan nada yang dingin. Kali ini, kalimat obat buat sakit kepala lo itu diucapkannya dengan sebuah penekanan yang terlalu kentara.
“Lu..Lu…”
“Lutfi?”
“Ya…ya…Lutfi!” Dalam hati, Yuda memaki-maki dirinya sendiri yang tampak bodoh. Bahkan dia terbata-bata mengucapkan nama itu saking paniknya.
“Oke, tenang. Lo tunggu di sini, gue ke belakang sebentar. Ambil obat lo.”
Tak ada seorangpun apoteker yang menggunakan istilah lo gue kepada pelanggannya. Yuda sadar akan hal itu. Berarti kalimat pertama yang dia ucapkan tadi, memang benar sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Lutfi kepadanya. Kali ini, si baik itu memang tidak membohonginya.
“Gue enggak ngasih saran lo buat pergi ke sana. Tapi kalau emang elo udah benar-benar nekad, gue kasih tahu…lo enggak bisa datang kesana tiba-tiba dan ngomong soal tujuan lo sebenarnya. Ada etikanya. Ada kode-kode yang enggak semua orang tahu. Kenapa? Karena ini mainan kotor. Dan itu semua…aturan-aturan mainnya…buat jagain agar bau busuknya enggak nyebar kemana-mana.” Begitu ucap Lutfi dua minggu lalu. Dua minggu dimana sepanjang itu, Yuda berpikir keras. Menimbang-nimbang keputusan yang akhirnya dia lakukan juga hari ini. Malam ini.
Tak sampai semenit, si apoteker tadi kembali muncul dari belakang. Kini, di tangan kanannya tergenggam sebuah kotak obat warna merah. Yuda terkesiap dan maju beberapa langkah mendekati meja etalase.
“Ini barangnya. Di dalamnya ada kertas berisi cara minum obat ini.” Kata si apoteker sambil meletakkan kotak itu di atas meja. Tepat di depan Yuda.
“Berapa?”
Ada sebuah senyum tipis di bibir kering si apoteker ketika dia mendengar pertanyaan Yuda. Bukannya langsung menjawab, si apoteker malah menatap wajah Yuda lekat-lekat. Membuatnya waspada dan mundur sedikit ke belakang.
“Kenapa?” Tanya Yuda dengan nada yang menunjukkan ketidaknyamanannya ditatap dengan cara seperti itu.
Si apoteker malah tertawa kecil, sebelum dia akhirnya bicara. “Kayaknya gue tahu siapa lo. Tapi itu enggak penting, kan? Hahaha! Oke, sekarang bicarain harga. Biayanya 50 juta. Lo bayar setengahnya dulu di sini. Sisanya besok kalau sakit kepala lo udah sembuh. Oh, ya…soal bagaimana dan dimana lo harus bayar sisanya, semuanya ada di kertas di dalem situ. Dan gue pikir Lutfi juga udah ngasih tahu apa-apa aja yang boleh dan yang enggak boleh lo lakuin sesudah lo pergi dari sini.”
“Gue tahu!” Secepat kilat, Yuda meraih kotak obat itu dan meletakkan sebuah amplop berukuran sedang yang dari tadi dia selipkan di celana bagian belakang. Sesudahnya, segera saja Yuda berlalu meninggalkan Apotek Husada. Pulang kembali ke kontrakan kecilnya. Kembali menyusuri trotoar dengan tubuh terbungkuk dan langkah terseret.
Di sana, saat ini, Yuda Hariadi memang terlihat tak lebih dari seonggok sampah. Tak ada bedanya dengan pecundang-pecundang lain yang memenuhi setiap sudut Ibukota. Tapi, dulu, 20 tahun lalu, Yuda adalah sosok yang berbeda. Benar-benar berbeda dari dirinya yang sekarang ini. Dia dulu memiliki semuanya…memenangi banyak hal dalam hidup. Sebelum pengkhianatan merenggut kejayaannya tanpa menyisakan apapun, kecuali dendam kesumat yang berkobar-kobar hingga terpancar jelas di kedua matanya.
Dendam kesumat dan pengkhianatan. Ya…dua hal itulah yang menjadi alasan utama kenapa dia nekad mendatangi Apotek Husada malam ini.