- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#52
Part 6
Untung saja Patih Ranggapati juga waspada. Dia berkelit dengan membuang tubuh ke sisi kiri. Hanya itu cara menghindari pisau terbang yang hendak memangsa tubuhnya. Tapi untuk itu, bahunya langsung membentur sebuah batang pohon cemara amat keras.
“Aaakh!”
Sementara itu, Andika dengan sigap menyerbu ke arah si pelempar pisau. Sekali genjot saja, tubuhnya sudah melenting ringan di antara rerimbunan daun cemara.
“Hei, jangan lari! Kujadikan makanan tikus, kau!”
seru Andika ketika matanya menangkap kelebatan seseorang berbaju merah darah, bercaping di kepala. Dan orang itu akhirnya menghilang di balik tebing curam.
Kerajaan Alengka mempunyai wilayah kekuasaan cukup luas. Sebelum Begal Ireng muncul kembali, rakyat di bawah kekuasaan Prabu Bratasena yang memerintah merasa sangat aman, tentram, dan berkecukupan. Namun sejak Begal Ireng kembali dengan kesaktian yang dimiliki, semuanya jadi kacau. Rakyat menderita dalam tekanan yang menyengsarakan.
Kerusuhan demi kerusuhan, pembunuhan demi pembunuhan. berlangsung di bawah tindak-tanduk Begal Ireng dan gerombolannya. Hukum yang selama ini dijalankan jadi limbung. Sedangkan kekuatan gerombolan Begal Ireng rupanya tidak mudah dilumpuhkan. Apalagi, tatkala pemimpin kerusuhan itu merangkul tokoh-tokoh golongan hitam. Maka gelombang petaka pun terus berlanjut.
Sementara itu, di bawah siraman cahaya matahari pagi. Andika, Purwasih, Patih Ranggapati, dan Bayureksa tiba di kotapraja. Dari gerbang masuk, mereka hanya perlu berjalan sekitar dua jam untuk tiba di Kerajaan Alengka. Karena peristiwa semalam, Patih Ranggapati terluka kembali. Dan sebenarnya, luka di bahunya yang banyak mengeluarkan darah, bukan karena tertumbuk batang cemara.
Purwasih sendiri agak heran ketika memeriksa luka yang diderita Patih Ranggapati. Karena, luka itu tampak seperti luka sayatan benda tajam! Menurut Patih Ranggapati, luka itu memang akibat sabetan golok ketika harus berhadapan dengan orang-orang Begal Ireng. Sebenarnya, lukanya sudah mengering andai saja tidak terbentur batang pohon cemara semalam.
Kini keempat orang itu tiba di pintu gerbang Kerajaan Alengka, yang dijaga ketat oleh enam prajurit dengan sikap siaga. Ketika melihat kedatangan empat orang itu, mereka segera menjura dalam-dalam.
Memasuki lingkungan istana, puluhan prajurit yang sedang berlatih perang-perangan langsung menghormat. Andika mengira, karena para prajurit menghormati Patih Ranggapati sebagai seorang perwira tinggi kerajaan. Tapi ketika lelaki setengah baya itu dibawa Bayureksa dan beberapa prajurit untuk dirawat, prajurit lain yang bertemu Purwasih dan Andika tetap menjura khidmat. Andika yakin, Purwasih memang memiliki pengaruh yang cukup besar di kerajaan itu. Dan Andika tak bisa menghindar dari keterpanaan ketika....
“Selamat datang Tuan Putri, Paduka Bratasena telah menunggu kedatangan Paduka...,” sambut seorang kepala prajurit, ketika mereka menuju ruang kehormatan Prabu Bratasena. Laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu membungkuk dalam-dalam.
“Jadi, kau putri Prabu Bratasena sendiri?” cetus Andika seraya menatap Purwasih lekat-lekat. Matanya tampak membesar tanpa berkedip.
“Ah! Jangan terlalu dipersoalkan,” tukas Purwasih tenang, sambil terus melangkah.
“Tapi kau telah membohongi aku selama ini,” sungut Andika, agak kesal.
“Memangnya sikapmu akan berbeda kalau tahu aku ini anak raja?” sergah Purwasih tanpa menoleh.
“Tentu saja tidak. Buat apa aku memperlakukanmu berlebihan. Biar kau anak raja sekalipun, kau tetap makan seperti yang aku makan juga,” jawab Andika, lebih mirip menggerutu.
Desa Karangwesi terletak di wilayah selatan, masih kekuasaan Kerajaan Alengka. Hamparan sawah luas mengelilingi desa itu. Padi yang menguning dan bergerak tertunduk-tunduk ditiup angin, adalah harapan penduduk desa yang memeras keringat demi melanjutkan hidup keluarga. Setiap orang yang singgah di Desa Karangwesi harus mengakui keindahannya. Sungai berarus deras yang membelah desa, bagai ular raksasa yang meliuk-liuk. Rumah-rumah tersusun dalam jarak teratur. Dan pepohonan hijau tumbuh di pekarangan setiap rumah.
Suasana damai desa itu tiba-tiba dipecahkan oleh gemuruh derap puluhan pengendara kuda yang memasuki gerbang perbatasan bersama kepulan asap yang merambah udara. Wajah para penunggang kuda itu menyimpan kebengisan. Sinar mata mereka pun berkilat garang. Terlebih, saat berteriak untuk menghela kuda yang ditunggangi. Pada pinggang masing-masing penunggang kuda, terselip senjata berlainan jenis yang membersit saat sinar matahari menimpa.
Dari cara memasuki desa terlihat jelas kalau niat mereka tidak baik. Dan itu makin jelas saja, ketika beberapa orang di antaranya turun di depan rumah pertama yang ditemui. Tanpa banyak cakap. mereka langsung mendobrak pintu rumah secara paksa.
“Jangan, tolong...! Tolong...!”
“Aaakh...!”
Beberapa saat kemudian, terdengar jerit mengenaskan seorang wanita tua. Kemudian disusul erangan seorang lelaki. Tak lama setelah itu, keempat lelaki tadi keluar dengan membopong barang-barang berharga. Sudah dapat diduga, apa yang dilakukan oleh para penunggang kuda itu.
“Perampoook!” jerit wanita tua pemilik rumah.
Jeritan itu merambah ke seluruh desa, mengusik telinga penduduknya. Dari sawah, puluhan lelaki desa yang kebetulan sedang istirahat siang, segera memburu ke asal jeritan. Namun belum lagi mereka sempat menyadari apa yang terjadi, para penunggang kuda sudah menyambut dengan sabetan-sabetan senjata haus darah.
Wet!
Sing!
Bret!
“Aaakh!”
Teriakan mengerikan kembali melengking ke angkasa. Kali ini tidak hanya sekali atau dua kali. Tapi, puluhan jeritan susul-menyusul terdengar dari orang-orang tak berdosa yang dijagal. Bau anyir darah membasahi tanah. Warna merah mulai menodai bumi, sebagai tanda keangkaramurkaan manusia. Tak cukup hanya membantai jiwa-jiwa manusia. Para penunggang kuda berjiwa iblis itu juga menjarah harta penduduk. Selesai menguras harta, rumah pun dibakar. Maka seketika api membumbung ke langit, memberi warna merah jelaga bercampur hitam di cakrawala.
Suasana makin hingar-bingar. Gemeletak kayu termakan api, jeritan ngeri para wanita, tangisan meninggi anak-anak kecil, ringkik derap kaki kuda, serta teriakan penunggangnya. telah membaur dalam sebuah untai kekacauan. Apakah jiwa manusia sudah terlalu tak berarti bagi sementara pihak? Atau nilai manusia sudah lebih hina daripada seekor anjing?
Dalam setiap peperangan dan kezaliman pertanyaan itu selalu pantas dilontarkan. Tapi bagi mereka yang telah menyatu dengan sifat durjana iblis, pertanyaan seperti tadi tak pernah hadir dalam hati. Mereka terus membantai. Dan liur haus darah mereka yang lebih menjijikkan daripada liur anjing kudis, terus menetes mengiringi.
Pada saat pesta pora gila tersebut makin menjadi....
“Berhenti!”
Tiba-tiba terdengar lantang seseorang lewat penyaluran tenaga dalam tingkat sempurna. Akibatnya, para penunggang kuda kontan menghentikan semua kegilaan itu. Di ujung jalan dekat gerbang desa, tampaklah seseorang berpakaian merah darah. Sulit ditentukan, siapa orang itu karena wajahnya tertutup caping pelepah kelapa lebar. Dia berdiri jumawa menghadap para begal, dengan sikap menantang!
“Manusia mana yang mencari mati ini?” geram pemimpin pasukan berkuda itu.
Dia seorang lelaki bertampang buruk, lebih buruk daripada seekor tikus buduk. Matanya yang besar terlihat seperti mata barong. Hidungnya melebar, seperti bibirnya. Sementara, garis matanya menampakkan kekejian dalam dirinya. Pakaian yang dikenakannya perlente, tapi tetap tak dapat menutupi kebusukan hatinya.
“Aku tak sekadar menyuruh kalian meninggalkan desa ini secepatnya. Aku juga akan memaksa kalian meninggalkan dunia ini sesegera mungkin,” kata orang yang baru datang penuh nada ancaman.
“Hua ha ha...!” laki-laki bertampang buruk yang merupakan pemimpin pasukan berkuda itu tertawa riuh.
“Apakah kau sudah merasa menjadi malaikat maut yang mampu mencabut nyawa kami?”
“Membunuh kalian sama mudahnya, seperti tikus-tikus sawah!”
“baik!”
“Ya! Makilah aku, selama masih sempat memaki!”
Dua lelaki penunggang kuda diperintahkan pemimpinnya untuk segera menghabisi orang yang baru datang itu. Keduanya segera menghentakkan kekang, sehingga kuda mereka meluncur bergemuruh seiring teriakan murka. Tapi sebelum keduanya mencapai lima tombak, pisau-pisau kecil sudah terlepas dari tangan lelaki bercaping yang berkelebat cepat ini.
Zing!
Jep!
Begitu cepat kebutan tangan orang bercaping itu, sehingga....
“Huaaa!”
Kuda mereka kontan terlonjak diiringi satu ringkikan panjang, melemparkan tubuh penunggangnya yang tertikam pisau-pisau yang melesat cepat. Tubuh keduanya pun mencium tanah tanpa nyawa, dengan darah mengucur dari bagian dada yang tertembus pisau.
“Kalian lihat! Aku telah menepati janjiku terhadap dua kawan kalian?” cemooh orang bercaping, dingin.
Menyadari kalau orang bercaping tak bisa diremehkan, pemimpin pasukan berkuda ini memberi perintah agar anak buahnya menyerbu orang bercaping itu.
Maka lima belas ekor kuda yang membawa penunggangnya seketika menyerbu serempak.
Sehingga, gemuruh dahsyat dari derap kaki kuda langsung tercipta. Dengan senjata terhunus, mereka berteriak liar dalam satu serangan maut.
“Hiaaat!”
“Hiaaat!”
Meski serbuan kelima belas lelaki itu makin dekat, tapi orang bercaping itu tampak masih berdiri tenang. Sedikit pun tak terlihat tubuhnya bergerak. Tapi ketika para penyerangnya tinggal tiga tombak dari tempatnya berdiri, tubuhnya melenting cepat, lalu berputar ke depan beberapa kali. Pada saat melayang di udara itulah, tangannya kembali bergerak. Dan....
Zing!
Zing!
Enam orang penyerang seketika rontok seperti daun kering, terhujam senjata rahasia orang bercaping ini. Tepat di dada masing-masing tampak menancap pisau kecil yang langsung menghentikan kerja jantung mereka. Kuda-kuda mereka menjadi panik, ketika enam tubuh berdebum menimpa tanah. Tanpa dapat dikendalikan, kuda-kuda itu menendang-nendang dengan kaki depan disertai ringkikan riuh. Pada saat itu orang bercaping ini sudah men-
jejakkan kaki di antara lawan-lawannya. Dan tanpa banyak kesulitan, sepasang pisau kecil di tangannya merobek perut para penunggang kuda itu.
Sret!
Sret!
“Aaakh!”
Darah kembali berhamburan dari perut dua lelaki yang terbabat pisau orang bercaping ini. Tidak hanya itu. Isi perut mereka pun terburai melalui sayatan tadi. Tanpa dapat menarik napas untuk kedua kali, mereka ambruk kehilangan nyawa. Dan seperti tak ingin memberi peluang pada para lawan untuk hidup lebih lama, orang bercaping terus menyabetkan pisau kecilnya, ke arah sisa penunggang kuda yang lain. Dengan begitu, makin besar kesempatan orang bercaping untuk membantai seluruh lawan. Maka satu persatu mereka tertebas dan mati, dengan darah berhamburan dari bagian yang terluka.
Di antara ringkikan kuda, teriakan mengerikan ikut mengimbangi. Sampai akhirnya, kuda-kuda itu berlarian liar tanpa penunggang sama sekali. Dan kini, tinggal pemimpin pasukan yang terpaku di atas kudanya, melihat seluruh anak buahnya berkalang tanah!
“Cepatlah kau ke sini! Aku tak mau membuang-buang waktu!” seru orang bercaping itu pada si pemimpin.
Menyadari keadaannya terjepit, pemimpin pasukan itu segera menghentakkan tali kekang kuda, hendak lari.
“Hiaaa...!”
Begitu kudanya berbalik ke belakang dengan kecepatan penuh, si pemimpin itu melesat cepat. Namun belum lagi jauh dia sudah terpental dari punggung kuda. Rupanya, orang bercaping telah melemparkan sepasang pisau di tangannya lalu menembus bokong pemimpin pasukan.
“Aaakh!”
Brukkk!
Sekali lagi, bumi dihantam oleh tubuh tak bernyawa. Darah mengalir tampak dari lubang tembusan pisau di tubuh pemimpin pasukan yang menyusul anak buahnya ke neraka.
Suasana kembali lengang. Sayup-sayup terdengar gemeretak puing-puing rumah yang habis termakan api. Di angkasa, asap hitam merayap dalam satu iring-iringap panjang. Demikian pula isak tangis kehilangan dari para istri, anak, atau saudara penduduk Desa Karangwesi.
“Mereka pantas membayar semua perbuatan ini dengan nyawa. Kalaupun mereka memiliki sepuluh nyawa tetap saja belum bisa melunasi petaka yang diciptakan,” desah orang bercaping.
Setelah itu, dia melangkah gontai di bawah terpaan terik mentari.
Waktu berlalu tanpa dapat ditahan. Suka atau tidak hari bergulir terus. Dan sudah sepuluh hari terlewati, sejak kejadian di Desa Karangwesi. Sementara di Kerajaan Alengka sedang diadakan pertemuan di dalam ruang kehormatan, setelah Purwasih mengusulkan untuk mengadakan penyambutan sederhana untuk kedatangan Andika. Itu pun tanpa sepengetahuan Andika. Purwasih tahu, Andika tidak bakal menyukainya. Dalam pribadinya yang sering ugal-ugalan. Andika memang menyimpan kerendahan hati.
Ruang kehormatan yang luas ini terletak di tengah istana, berbatasan dengan Taman Anjangsana keluarga raja. Di tengah ruangan tampak meja persegi yang besar dan panjang. Di sisinya tersusun kursi-kursi jati berukir, ditambah kursi khusus untuk Bayureksa di ujung meja. Dinding ruang itu diperindah oleh lukisan keluarga istana dan lukisan-lukisan panorama negeri Alengka.
Setelah para dayang menyajikan makanan serta minuman yang ditata dengan apik, para undangan memasuki ruangan besar ini. Satu persatu mereka masuk, termasuk Patih Ranggapati yang sudah tampak segar kembali setelah luka di bahunya dirawat dengan baik oleh tabib istana. Mahapatih Guntur Slaksa, dan beberapa pembesar lain juga terlihat disitu. Sedangkan Bayureksa masuk paling akhir, beriringan dengan Purwasih dan Andika.
Begitu tiba di istana, Purwasih langsung memperkenalkan Andika pada ayahandanya, Prabu Bratasena. Tentu saja beliau menjadi gembira ketika putrinya memberitahukan kalau anak muda yang bersamanya adalah seorang keturunan keluarga Pendekar Lembah Kutukan. Jadi tidak heran kalau ketika orang itu nampak sudah akrab ketika memasuki ruang kehormatan.
Andika dan Purwasih duduk di kursi di depan Prabu Bratasena, satu baris dengan undangan lain. Saat ketiganya mengambil tempat duduk, para pembesar kerajaan serentak berdiri seraya menjura hormat. Dan Prabu Bratasena membalas penghormatan, dengan senyum serta anggukan kepala. Begitu juga Purwasih. Kecuali, Andika. Anak muda itu malah ikut menjura. Purwasih berusaha menahan, karena menurutnya Andika adalah tamu kehormatan yang tak pantas menjura seperti itu.
Untung saja Patih Ranggapati juga waspada. Dia berkelit dengan membuang tubuh ke sisi kiri. Hanya itu cara menghindari pisau terbang yang hendak memangsa tubuhnya. Tapi untuk itu, bahunya langsung membentur sebuah batang pohon cemara amat keras.
“Aaakh!”
Sementara itu, Andika dengan sigap menyerbu ke arah si pelempar pisau. Sekali genjot saja, tubuhnya sudah melenting ringan di antara rerimbunan daun cemara.
“Hei, jangan lari! Kujadikan makanan tikus, kau!”
seru Andika ketika matanya menangkap kelebatan seseorang berbaju merah darah, bercaping di kepala. Dan orang itu akhirnya menghilang di balik tebing curam.
***
Kerajaan Alengka mempunyai wilayah kekuasaan cukup luas. Sebelum Begal Ireng muncul kembali, rakyat di bawah kekuasaan Prabu Bratasena yang memerintah merasa sangat aman, tentram, dan berkecukupan. Namun sejak Begal Ireng kembali dengan kesaktian yang dimiliki, semuanya jadi kacau. Rakyat menderita dalam tekanan yang menyengsarakan.
Kerusuhan demi kerusuhan, pembunuhan demi pembunuhan. berlangsung di bawah tindak-tanduk Begal Ireng dan gerombolannya. Hukum yang selama ini dijalankan jadi limbung. Sedangkan kekuatan gerombolan Begal Ireng rupanya tidak mudah dilumpuhkan. Apalagi, tatkala pemimpin kerusuhan itu merangkul tokoh-tokoh golongan hitam. Maka gelombang petaka pun terus berlanjut.
Sementara itu, di bawah siraman cahaya matahari pagi. Andika, Purwasih, Patih Ranggapati, dan Bayureksa tiba di kotapraja. Dari gerbang masuk, mereka hanya perlu berjalan sekitar dua jam untuk tiba di Kerajaan Alengka. Karena peristiwa semalam, Patih Ranggapati terluka kembali. Dan sebenarnya, luka di bahunya yang banyak mengeluarkan darah, bukan karena tertumbuk batang cemara.
Purwasih sendiri agak heran ketika memeriksa luka yang diderita Patih Ranggapati. Karena, luka itu tampak seperti luka sayatan benda tajam! Menurut Patih Ranggapati, luka itu memang akibat sabetan golok ketika harus berhadapan dengan orang-orang Begal Ireng. Sebenarnya, lukanya sudah mengering andai saja tidak terbentur batang pohon cemara semalam.
Kini keempat orang itu tiba di pintu gerbang Kerajaan Alengka, yang dijaga ketat oleh enam prajurit dengan sikap siaga. Ketika melihat kedatangan empat orang itu, mereka segera menjura dalam-dalam.
Memasuki lingkungan istana, puluhan prajurit yang sedang berlatih perang-perangan langsung menghormat. Andika mengira, karena para prajurit menghormati Patih Ranggapati sebagai seorang perwira tinggi kerajaan. Tapi ketika lelaki setengah baya itu dibawa Bayureksa dan beberapa prajurit untuk dirawat, prajurit lain yang bertemu Purwasih dan Andika tetap menjura khidmat. Andika yakin, Purwasih memang memiliki pengaruh yang cukup besar di kerajaan itu. Dan Andika tak bisa menghindar dari keterpanaan ketika....
“Selamat datang Tuan Putri, Paduka Bratasena telah menunggu kedatangan Paduka...,” sambut seorang kepala prajurit, ketika mereka menuju ruang kehormatan Prabu Bratasena. Laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu membungkuk dalam-dalam.
“Jadi, kau putri Prabu Bratasena sendiri?” cetus Andika seraya menatap Purwasih lekat-lekat. Matanya tampak membesar tanpa berkedip.
“Ah! Jangan terlalu dipersoalkan,” tukas Purwasih tenang, sambil terus melangkah.
“Tapi kau telah membohongi aku selama ini,” sungut Andika, agak kesal.
“Memangnya sikapmu akan berbeda kalau tahu aku ini anak raja?” sergah Purwasih tanpa menoleh.
“Tentu saja tidak. Buat apa aku memperlakukanmu berlebihan. Biar kau anak raja sekalipun, kau tetap makan seperti yang aku makan juga,” jawab Andika, lebih mirip menggerutu.
***
Desa Karangwesi terletak di wilayah selatan, masih kekuasaan Kerajaan Alengka. Hamparan sawah luas mengelilingi desa itu. Padi yang menguning dan bergerak tertunduk-tunduk ditiup angin, adalah harapan penduduk desa yang memeras keringat demi melanjutkan hidup keluarga. Setiap orang yang singgah di Desa Karangwesi harus mengakui keindahannya. Sungai berarus deras yang membelah desa, bagai ular raksasa yang meliuk-liuk. Rumah-rumah tersusun dalam jarak teratur. Dan pepohonan hijau tumbuh di pekarangan setiap rumah.
Suasana damai desa itu tiba-tiba dipecahkan oleh gemuruh derap puluhan pengendara kuda yang memasuki gerbang perbatasan bersama kepulan asap yang merambah udara. Wajah para penunggang kuda itu menyimpan kebengisan. Sinar mata mereka pun berkilat garang. Terlebih, saat berteriak untuk menghela kuda yang ditunggangi. Pada pinggang masing-masing penunggang kuda, terselip senjata berlainan jenis yang membersit saat sinar matahari menimpa.
Dari cara memasuki desa terlihat jelas kalau niat mereka tidak baik. Dan itu makin jelas saja, ketika beberapa orang di antaranya turun di depan rumah pertama yang ditemui. Tanpa banyak cakap. mereka langsung mendobrak pintu rumah secara paksa.
“Jangan, tolong...! Tolong...!”
“Aaakh...!”
Beberapa saat kemudian, terdengar jerit mengenaskan seorang wanita tua. Kemudian disusul erangan seorang lelaki. Tak lama setelah itu, keempat lelaki tadi keluar dengan membopong barang-barang berharga. Sudah dapat diduga, apa yang dilakukan oleh para penunggang kuda itu.
“Perampoook!” jerit wanita tua pemilik rumah.
Jeritan itu merambah ke seluruh desa, mengusik telinga penduduknya. Dari sawah, puluhan lelaki desa yang kebetulan sedang istirahat siang, segera memburu ke asal jeritan. Namun belum lagi mereka sempat menyadari apa yang terjadi, para penunggang kuda sudah menyambut dengan sabetan-sabetan senjata haus darah.
Wet!
Sing!
Bret!
“Aaakh!”
Teriakan mengerikan kembali melengking ke angkasa. Kali ini tidak hanya sekali atau dua kali. Tapi, puluhan jeritan susul-menyusul terdengar dari orang-orang tak berdosa yang dijagal. Bau anyir darah membasahi tanah. Warna merah mulai menodai bumi, sebagai tanda keangkaramurkaan manusia. Tak cukup hanya membantai jiwa-jiwa manusia. Para penunggang kuda berjiwa iblis itu juga menjarah harta penduduk. Selesai menguras harta, rumah pun dibakar. Maka seketika api membumbung ke langit, memberi warna merah jelaga bercampur hitam di cakrawala.
Suasana makin hingar-bingar. Gemeletak kayu termakan api, jeritan ngeri para wanita, tangisan meninggi anak-anak kecil, ringkik derap kaki kuda, serta teriakan penunggangnya. telah membaur dalam sebuah untai kekacauan. Apakah jiwa manusia sudah terlalu tak berarti bagi sementara pihak? Atau nilai manusia sudah lebih hina daripada seekor anjing?
Dalam setiap peperangan dan kezaliman pertanyaan itu selalu pantas dilontarkan. Tapi bagi mereka yang telah menyatu dengan sifat durjana iblis, pertanyaan seperti tadi tak pernah hadir dalam hati. Mereka terus membantai. Dan liur haus darah mereka yang lebih menjijikkan daripada liur anjing kudis, terus menetes mengiringi.
Pada saat pesta pora gila tersebut makin menjadi....
“Berhenti!”
Tiba-tiba terdengar lantang seseorang lewat penyaluran tenaga dalam tingkat sempurna. Akibatnya, para penunggang kuda kontan menghentikan semua kegilaan itu. Di ujung jalan dekat gerbang desa, tampaklah seseorang berpakaian merah darah. Sulit ditentukan, siapa orang itu karena wajahnya tertutup caping pelepah kelapa lebar. Dia berdiri jumawa menghadap para begal, dengan sikap menantang!
“Manusia mana yang mencari mati ini?” geram pemimpin pasukan berkuda itu.
Dia seorang lelaki bertampang buruk, lebih buruk daripada seekor tikus buduk. Matanya yang besar terlihat seperti mata barong. Hidungnya melebar, seperti bibirnya. Sementara, garis matanya menampakkan kekejian dalam dirinya. Pakaian yang dikenakannya perlente, tapi tetap tak dapat menutupi kebusukan hatinya.
“Aku tak sekadar menyuruh kalian meninggalkan desa ini secepatnya. Aku juga akan memaksa kalian meninggalkan dunia ini sesegera mungkin,” kata orang yang baru datang penuh nada ancaman.
“Hua ha ha...!” laki-laki bertampang buruk yang merupakan pemimpin pasukan berkuda itu tertawa riuh.
“Apakah kau sudah merasa menjadi malaikat maut yang mampu mencabut nyawa kami?”
“Membunuh kalian sama mudahnya, seperti tikus-tikus sawah!”
“baik!”
“Ya! Makilah aku, selama masih sempat memaki!”
Dua lelaki penunggang kuda diperintahkan pemimpinnya untuk segera menghabisi orang yang baru datang itu. Keduanya segera menghentakkan kekang, sehingga kuda mereka meluncur bergemuruh seiring teriakan murka. Tapi sebelum keduanya mencapai lima tombak, pisau-pisau kecil sudah terlepas dari tangan lelaki bercaping yang berkelebat cepat ini.
Zing!
Jep!
Begitu cepat kebutan tangan orang bercaping itu, sehingga....
“Huaaa!”
Kuda mereka kontan terlonjak diiringi satu ringkikan panjang, melemparkan tubuh penunggangnya yang tertikam pisau-pisau yang melesat cepat. Tubuh keduanya pun mencium tanah tanpa nyawa, dengan darah mengucur dari bagian dada yang tertembus pisau.
“Kalian lihat! Aku telah menepati janjiku terhadap dua kawan kalian?” cemooh orang bercaping, dingin.
Menyadari kalau orang bercaping tak bisa diremehkan, pemimpin pasukan berkuda ini memberi perintah agar anak buahnya menyerbu orang bercaping itu.
Maka lima belas ekor kuda yang membawa penunggangnya seketika menyerbu serempak.
Sehingga, gemuruh dahsyat dari derap kaki kuda langsung tercipta. Dengan senjata terhunus, mereka berteriak liar dalam satu serangan maut.
“Hiaaat!”
“Hiaaat!”
Meski serbuan kelima belas lelaki itu makin dekat, tapi orang bercaping itu tampak masih berdiri tenang. Sedikit pun tak terlihat tubuhnya bergerak. Tapi ketika para penyerangnya tinggal tiga tombak dari tempatnya berdiri, tubuhnya melenting cepat, lalu berputar ke depan beberapa kali. Pada saat melayang di udara itulah, tangannya kembali bergerak. Dan....
Zing!
Zing!
Enam orang penyerang seketika rontok seperti daun kering, terhujam senjata rahasia orang bercaping ini. Tepat di dada masing-masing tampak menancap pisau kecil yang langsung menghentikan kerja jantung mereka. Kuda-kuda mereka menjadi panik, ketika enam tubuh berdebum menimpa tanah. Tanpa dapat dikendalikan, kuda-kuda itu menendang-nendang dengan kaki depan disertai ringkikan riuh. Pada saat itu orang bercaping ini sudah men-
jejakkan kaki di antara lawan-lawannya. Dan tanpa banyak kesulitan, sepasang pisau kecil di tangannya merobek perut para penunggang kuda itu.
Sret!
Sret!
“Aaakh!”
Darah kembali berhamburan dari perut dua lelaki yang terbabat pisau orang bercaping ini. Tidak hanya itu. Isi perut mereka pun terburai melalui sayatan tadi. Tanpa dapat menarik napas untuk kedua kali, mereka ambruk kehilangan nyawa. Dan seperti tak ingin memberi peluang pada para lawan untuk hidup lebih lama, orang bercaping terus menyabetkan pisau kecilnya, ke arah sisa penunggang kuda yang lain. Dengan begitu, makin besar kesempatan orang bercaping untuk membantai seluruh lawan. Maka satu persatu mereka tertebas dan mati, dengan darah berhamburan dari bagian yang terluka.
Di antara ringkikan kuda, teriakan mengerikan ikut mengimbangi. Sampai akhirnya, kuda-kuda itu berlarian liar tanpa penunggang sama sekali. Dan kini, tinggal pemimpin pasukan yang terpaku di atas kudanya, melihat seluruh anak buahnya berkalang tanah!
“Cepatlah kau ke sini! Aku tak mau membuang-buang waktu!” seru orang bercaping itu pada si pemimpin.
Menyadari keadaannya terjepit, pemimpin pasukan itu segera menghentakkan tali kekang kuda, hendak lari.
“Hiaaa...!”
Begitu kudanya berbalik ke belakang dengan kecepatan penuh, si pemimpin itu melesat cepat. Namun belum lagi jauh dia sudah terpental dari punggung kuda. Rupanya, orang bercaping telah melemparkan sepasang pisau di tangannya lalu menembus bokong pemimpin pasukan.
“Aaakh!”
Brukkk!
Sekali lagi, bumi dihantam oleh tubuh tak bernyawa. Darah mengalir tampak dari lubang tembusan pisau di tubuh pemimpin pasukan yang menyusul anak buahnya ke neraka.
Suasana kembali lengang. Sayup-sayup terdengar gemeretak puing-puing rumah yang habis termakan api. Di angkasa, asap hitam merayap dalam satu iring-iringap panjang. Demikian pula isak tangis kehilangan dari para istri, anak, atau saudara penduduk Desa Karangwesi.
“Mereka pantas membayar semua perbuatan ini dengan nyawa. Kalaupun mereka memiliki sepuluh nyawa tetap saja belum bisa melunasi petaka yang diciptakan,” desah orang bercaping.
Setelah itu, dia melangkah gontai di bawah terpaan terik mentari.
***
Waktu berlalu tanpa dapat ditahan. Suka atau tidak hari bergulir terus. Dan sudah sepuluh hari terlewati, sejak kejadian di Desa Karangwesi. Sementara di Kerajaan Alengka sedang diadakan pertemuan di dalam ruang kehormatan, setelah Purwasih mengusulkan untuk mengadakan penyambutan sederhana untuk kedatangan Andika. Itu pun tanpa sepengetahuan Andika. Purwasih tahu, Andika tidak bakal menyukainya. Dalam pribadinya yang sering ugal-ugalan. Andika memang menyimpan kerendahan hati.
Ruang kehormatan yang luas ini terletak di tengah istana, berbatasan dengan Taman Anjangsana keluarga raja. Di tengah ruangan tampak meja persegi yang besar dan panjang. Di sisinya tersusun kursi-kursi jati berukir, ditambah kursi khusus untuk Bayureksa di ujung meja. Dinding ruang itu diperindah oleh lukisan keluarga istana dan lukisan-lukisan panorama negeri Alengka.
Setelah para dayang menyajikan makanan serta minuman yang ditata dengan apik, para undangan memasuki ruangan besar ini. Satu persatu mereka masuk, termasuk Patih Ranggapati yang sudah tampak segar kembali setelah luka di bahunya dirawat dengan baik oleh tabib istana. Mahapatih Guntur Slaksa, dan beberapa pembesar lain juga terlihat disitu. Sedangkan Bayureksa masuk paling akhir, beriringan dengan Purwasih dan Andika.
Begitu tiba di istana, Purwasih langsung memperkenalkan Andika pada ayahandanya, Prabu Bratasena. Tentu saja beliau menjadi gembira ketika putrinya memberitahukan kalau anak muda yang bersamanya adalah seorang keturunan keluarga Pendekar Lembah Kutukan. Jadi tidak heran kalau ketika orang itu nampak sudah akrab ketika memasuki ruang kehormatan.
Andika dan Purwasih duduk di kursi di depan Prabu Bratasena, satu baris dengan undangan lain. Saat ketiganya mengambil tempat duduk, para pembesar kerajaan serentak berdiri seraya menjura hormat. Dan Prabu Bratasena membalas penghormatan, dengan senyum serta anggukan kepala. Begitu juga Purwasih. Kecuali, Andika. Anak muda itu malah ikut menjura. Purwasih berusaha menahan, karena menurutnya Andika adalah tamu kehormatan yang tak pantas menjura seperti itu.
0