- Beranda
- Stories from the Heart
Serial Detektif Indigo (SDI): Pembunuhan “dr.Kemala” (bagian 1)
...
TS
shani.andras
Serial Detektif Indigo (SDI): Pembunuhan “dr.Kemala” (bagian 1)
Pembunuhan dr.Kemala
Sore ini adalah kunjungan rutinku bersama ayah ke psikiater di sebuah rumah sakit milik pemerintah daerah, kunjungan rutin setahun tiga kali dan akulah yang si pasien dari psikiater itu. Namaku Alvian, Alvian Chandra Sakti lengkapnya, usiaku 23 tahun dan baru saja lulus kuliah. Kenapa aku perlu kunjungan rutin ke psikiater? Yah karena ayah memaksaku sih sejak setahun kemarin, sedangkan penyebab utamanya adalah………
Sedari kecil aku ini sepertinya memiliki bakat khusus diluar bakat manusia pada umumnya, terlebih lagi bakatku ini membuatku sering membicarakan yang diluar nalar dan membuatku sering berbicara sendiri – kata orang. dimulai sejak masa puber hingga di usiaku yang sekarang aku semakin jelas merasakan dan menguasai bakatku ini, walau pu seringkali ada kalanya aku tidak bisa mengontrolnya hehe. Aku seringkali melihat kejadian-kejadian entah itu dari masa lalu atau masa depan hanya dari mendengar pembicaraan dan cerita orang, dan bisa juga dari sebuah sentuhan sengaja atau tidak disengaja pada sebuah benda atau makhluk hidup. Oh ya dan aku kadang waktu melihat makhluk selain manusia (gaib), mendengar bisikan-bisikan dan suara yang tanpa wujud penyuaranya. Sepertinya bakat ini yang membuat ayahku gerah dan memaksa diriku untuk memeriksakan diri ke klinik kejiwaan.
Psikiater untuk sesi kali ini adalah seorang dokter muda, dia menggantikan dokter terdahulu yang dinas ke daerah lain. Namanya dr. Arina, Sp.Kj usianya empat tahun diatasku, terlihat seperti tante-tante galak walau masih muda
. Aku memasuki ruang prakteknya dan dia menyapa ayah dan diriku dengan ramah, kami duduk lalu mulailah ayah menceritakan tentang diriku kepada dokter baru ini. Seperti biasa pikiranku berada di tempat lain daripada fokus mendengarkan ceramah dokter dan alasan-alasan hiperbola yang diucapkan ayah, entah mengapa mataku tiba-tiba terfokus pada sebuah foto dengan bingkai ukuran 6R yang dihiasi setangkai bunga mawar segar yang ditempelkan di pojok kanan atas, bingkai itu diletakkan di meja pas di belakang dokter Arina. terlihat di foto itu ada gambar dua wanita masih berusia awal 20an, yang disebelah kiri terlihat jelas dari romannya itu adalah dokter Arina sendiri waktu muda dulu, dan yang di sebelah kanan seorang wanita muda berhijab yang menurutku itu adalah teman dekatnya, sekejap aku sedikit pusing setelah menatap foto itu dan tiba-tiba aku menyeletuk “belum mati kenapa fotonya dikasih bunga mbak?”
Mendadak aku dijitak ayahku “ngomong sembarangan lagi, kamu ini sedang berobat, yang fokus dong” omel ayahku (*_*)a…..Sedangkan dokter Arina sedikit kaget dan bengong berucap “Kemala baru semingguan meninggal karena dibunuh susternya sendiri” dia mengucapkan dengan nada agak sinis. Aku hanya melongo sambil mengangguk, ayah dengan jengkel juga melihat kearahku (^o^). Gak terasa satu jam berlalu dans sesi “pengobatan” ini pun berakhir, ayah keluar dari ruangan terlebih dahulu, aku menyusul kemudian dan sebelum itu aku meminta kartu nama dokter Arina, dia memberikannya sambil berucap ketus “kalau mau sembuh berobatnya yang serius”, entah kenapa dengan sikapnya yang “galak” itu aku merasa jatuh hati sama dokter itu, padahal dia gak terlalu cakep dan lebih tua empat tahun dariku hihihi.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, di mobil aku mendadak merasakan rasa mual di perutku, pikirku sih paling juga cuma masuk angin, tapi samar-samar terdengar suara yang mengiba di dalam kepalaku. “Jangan……kumohon jangan pakai aku lagi..aaaaaaaaargh” dan diakhiri dengan teriakan yang memilukan. Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamarku untuk berbaring karena rasa mual ini masih terasa. Sambil berbaring aku memikirkan celetukanku pada dokter Arina tadi dan suara dari dalam kepalaku barusan di mobil, aku jadi makin tertarik tanpa sebab yang jelas dan mulai memikirkan koneksinya secara logis.
Aku mendapati diriku sedang berada di sebuah ruangan seperti laboratorium yang sudah terbengkalai dan kotor sekali, di lantainya terdapat banyak noda merah kehitaman yang mengeluarkan bau anyir darah. Aku melihat sebuah pintu, kudekati pintu itu dan kubuka…..aku memasuki sebuah lorong yang terlihat jelas bahwa ini adalah sebuah lorong rumah sakit. Ditemani rasa kaget dan ngeri aku melintasi lorong itu dan satu demi satu pintu pada sisi kanan dan kiri lorong itu terbuka, keluarlah satu persatu dari pintu itu…seorang pria dengan kedua kaki terpotong dan mengucurkan banyak darah duduk di kursi roda yang didorong oleh perawat pria tanpa kepala….lalu ada suster yang perutnya bolong dan mengeluarkan ular dan nanah segar….ada bocah-bocah gundul berlarian tanpa pakaian, mereka tidak memiliki wajah…..di dekat pintu yang paling ujung berdiri seorang wanita muda, seorang suster yang terlihat pucat namun kulihat tubuhnya masih utuh tak ada keganjilan sama sekali, tatapan matanya kosong dan terlihat memelas, kepalanya semakin menunduk dengan aku semakin mendekatinya. “Aku hanya sanggup sampai disini kak Kemala” ucapnya dihadapanku, kemudian kami memasuki pintu paling ujung di lorong rumah sakit itu. Suster itu kemudian berbaring di meja operasi dan mulai membuka seluruh pakaiannya, mendadak tanganku mengambil pisau bedah dan secara membabi buta langsung menikam seluruh badan suster itu…ya Tuhan ini sangat mengerikan sekali…..teriakan suster itu sangat mengerikan dan membuat iba namun tanganku tak bisa berhenti menghujamkan pisau bedah ini ke seluruh tubuhnya……dan sekejap kemudian pandanganku menjadi gelap, lalu aku merasakan diriku jatuh tak sadarkan diri……
Aku terbangun pada pukul 09.00 pagi dengan tubuh berkeringat dan tangan ini terasa sangat lemas, dan aku seperti kehabisan nafas karena mimpi buruk tadi. Lalu aku pun mandi dan mengambil sarapan sembari memikirkan mimpi yang sangat mengerikan tadi, sebetulnya aku tidak ingin makan namun tubuh ini lemas dan harus di isi energi. Setelah sarapan hatiku tergerak untuk menyalakan komputer dan iseng mengetik “pembunuhan dokter Kemala” di google, dan sekejap aku menemukan banyak artikel terkait yang berisi rangkuman kejadian, keterangan polisi sampai kesaksian-kesaksian orang terdekat korban. Dokter Kemala ditemukan tewas terbunuh di Kota Z dengan tubuh terbakar dan tulang rahang hancur (sengaja dihancurkan tepatnya) dan semua gigi tercabut , sebagai satu-satunya bukti identitas bahwa dia adalah dokter Kemala ditemukan cincin, kalung dan kartu identitas yang tidak sepenuhnya terbakar.
Mataku tertuju pada dompetku yang terletak di meja, pikiranku langsung fokus pada kartu nama dokter Arina kemarin. Entah mengapa aku jadi tertarik pada kematian dokter Kemala dan aku dengan sedikit harapan menghubungi dokter Arina untuk menanyakan apakah dia ada waktu di luar praktek untuk bisa aku temui, aku ingin mengajak dia kencan, alasanku asal nembak saja, mungkin sebuah kebetulan entah mengapa dokter Arina menerima ajakanku, mungkin karena aku mengajak makan dia di kafetaria rumah sakit tempat dia berkerja (*_*)v
– bersambung –
Aerith D Pus
BAGIAN 2
INDEX
Serial Detektif Indigo
CERMISKU
2016, Aerith D Pus
Sore ini adalah kunjungan rutinku bersama ayah ke psikiater di sebuah rumah sakit milik pemerintah daerah, kunjungan rutin setahun tiga kali dan akulah yang si pasien dari psikiater itu. Namaku Alvian, Alvian Chandra Sakti lengkapnya, usiaku 23 tahun dan baru saja lulus kuliah. Kenapa aku perlu kunjungan rutin ke psikiater? Yah karena ayah memaksaku sih sejak setahun kemarin, sedangkan penyebab utamanya adalah………
Sedari kecil aku ini sepertinya memiliki bakat khusus diluar bakat manusia pada umumnya, terlebih lagi bakatku ini membuatku sering membicarakan yang diluar nalar dan membuatku sering berbicara sendiri – kata orang. dimulai sejak masa puber hingga di usiaku yang sekarang aku semakin jelas merasakan dan menguasai bakatku ini, walau pu seringkali ada kalanya aku tidak bisa mengontrolnya hehe. Aku seringkali melihat kejadian-kejadian entah itu dari masa lalu atau masa depan hanya dari mendengar pembicaraan dan cerita orang, dan bisa juga dari sebuah sentuhan sengaja atau tidak disengaja pada sebuah benda atau makhluk hidup. Oh ya dan aku kadang waktu melihat makhluk selain manusia (gaib), mendengar bisikan-bisikan dan suara yang tanpa wujud penyuaranya. Sepertinya bakat ini yang membuat ayahku gerah dan memaksa diriku untuk memeriksakan diri ke klinik kejiwaan.
Psikiater untuk sesi kali ini adalah seorang dokter muda, dia menggantikan dokter terdahulu yang dinas ke daerah lain. Namanya dr. Arina, Sp.Kj usianya empat tahun diatasku, terlihat seperti tante-tante galak walau masih muda
. Aku memasuki ruang prakteknya dan dia menyapa ayah dan diriku dengan ramah, kami duduk lalu mulailah ayah menceritakan tentang diriku kepada dokter baru ini. Seperti biasa pikiranku berada di tempat lain daripada fokus mendengarkan ceramah dokter dan alasan-alasan hiperbola yang diucapkan ayah, entah mengapa mataku tiba-tiba terfokus pada sebuah foto dengan bingkai ukuran 6R yang dihiasi setangkai bunga mawar segar yang ditempelkan di pojok kanan atas, bingkai itu diletakkan di meja pas di belakang dokter Arina. terlihat di foto itu ada gambar dua wanita masih berusia awal 20an, yang disebelah kiri terlihat jelas dari romannya itu adalah dokter Arina sendiri waktu muda dulu, dan yang di sebelah kanan seorang wanita muda berhijab yang menurutku itu adalah teman dekatnya, sekejap aku sedikit pusing setelah menatap foto itu dan tiba-tiba aku menyeletuk “belum mati kenapa fotonya dikasih bunga mbak?”Mendadak aku dijitak ayahku “ngomong sembarangan lagi, kamu ini sedang berobat, yang fokus dong” omel ayahku (*_*)a…..Sedangkan dokter Arina sedikit kaget dan bengong berucap “Kemala baru semingguan meninggal karena dibunuh susternya sendiri” dia mengucapkan dengan nada agak sinis. Aku hanya melongo sambil mengangguk, ayah dengan jengkel juga melihat kearahku (^o^). Gak terasa satu jam berlalu dans sesi “pengobatan” ini pun berakhir, ayah keluar dari ruangan terlebih dahulu, aku menyusul kemudian dan sebelum itu aku meminta kartu nama dokter Arina, dia memberikannya sambil berucap ketus “kalau mau sembuh berobatnya yang serius”, entah kenapa dengan sikapnya yang “galak” itu aku merasa jatuh hati sama dokter itu, padahal dia gak terlalu cakep dan lebih tua empat tahun dariku hihihi.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, di mobil aku mendadak merasakan rasa mual di perutku, pikirku sih paling juga cuma masuk angin, tapi samar-samar terdengar suara yang mengiba di dalam kepalaku. “Jangan……kumohon jangan pakai aku lagi..aaaaaaaaargh” dan diakhiri dengan teriakan yang memilukan. Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamarku untuk berbaring karena rasa mual ini masih terasa. Sambil berbaring aku memikirkan celetukanku pada dokter Arina tadi dan suara dari dalam kepalaku barusan di mobil, aku jadi makin tertarik tanpa sebab yang jelas dan mulai memikirkan koneksinya secara logis.
Aku mendapati diriku sedang berada di sebuah ruangan seperti laboratorium yang sudah terbengkalai dan kotor sekali, di lantainya terdapat banyak noda merah kehitaman yang mengeluarkan bau anyir darah. Aku melihat sebuah pintu, kudekati pintu itu dan kubuka…..aku memasuki sebuah lorong yang terlihat jelas bahwa ini adalah sebuah lorong rumah sakit. Ditemani rasa kaget dan ngeri aku melintasi lorong itu dan satu demi satu pintu pada sisi kanan dan kiri lorong itu terbuka, keluarlah satu persatu dari pintu itu…seorang pria dengan kedua kaki terpotong dan mengucurkan banyak darah duduk di kursi roda yang didorong oleh perawat pria tanpa kepala….lalu ada suster yang perutnya bolong dan mengeluarkan ular dan nanah segar….ada bocah-bocah gundul berlarian tanpa pakaian, mereka tidak memiliki wajah…..di dekat pintu yang paling ujung berdiri seorang wanita muda, seorang suster yang terlihat pucat namun kulihat tubuhnya masih utuh tak ada keganjilan sama sekali, tatapan matanya kosong dan terlihat memelas, kepalanya semakin menunduk dengan aku semakin mendekatinya. “Aku hanya sanggup sampai disini kak Kemala” ucapnya dihadapanku, kemudian kami memasuki pintu paling ujung di lorong rumah sakit itu. Suster itu kemudian berbaring di meja operasi dan mulai membuka seluruh pakaiannya, mendadak tanganku mengambil pisau bedah dan secara membabi buta langsung menikam seluruh badan suster itu…ya Tuhan ini sangat mengerikan sekali…..teriakan suster itu sangat mengerikan dan membuat iba namun tanganku tak bisa berhenti menghujamkan pisau bedah ini ke seluruh tubuhnya……dan sekejap kemudian pandanganku menjadi gelap, lalu aku merasakan diriku jatuh tak sadarkan diri……
Aku terbangun pada pukul 09.00 pagi dengan tubuh berkeringat dan tangan ini terasa sangat lemas, dan aku seperti kehabisan nafas karena mimpi buruk tadi. Lalu aku pun mandi dan mengambil sarapan sembari memikirkan mimpi yang sangat mengerikan tadi, sebetulnya aku tidak ingin makan namun tubuh ini lemas dan harus di isi energi. Setelah sarapan hatiku tergerak untuk menyalakan komputer dan iseng mengetik “pembunuhan dokter Kemala” di google, dan sekejap aku menemukan banyak artikel terkait yang berisi rangkuman kejadian, keterangan polisi sampai kesaksian-kesaksian orang terdekat korban. Dokter Kemala ditemukan tewas terbunuh di Kota Z dengan tubuh terbakar dan tulang rahang hancur (sengaja dihancurkan tepatnya) dan semua gigi tercabut , sebagai satu-satunya bukti identitas bahwa dia adalah dokter Kemala ditemukan cincin, kalung dan kartu identitas yang tidak sepenuhnya terbakar.
Mataku tertuju pada dompetku yang terletak di meja, pikiranku langsung fokus pada kartu nama dokter Arina kemarin. Entah mengapa aku jadi tertarik pada kematian dokter Kemala dan aku dengan sedikit harapan menghubungi dokter Arina untuk menanyakan apakah dia ada waktu di luar praktek untuk bisa aku temui, aku ingin mengajak dia kencan, alasanku asal nembak saja, mungkin sebuah kebetulan entah mengapa dokter Arina menerima ajakanku, mungkin karena aku mengajak makan dia di kafetaria rumah sakit tempat dia berkerja (*_*)v
– bersambung –
Aerith D Pus
BAGIAN 2
INDEX
Spoiler for index Pembunuhan "dr.Kemala":
Serial Detektif Indigo
Spoiler for SDI:
CERMISKU
Spoiler for cerita kelana jiwa:
2016, Aerith D Pus
Spoiler for my blog:
Diubah oleh shani.andras 15-10-2019 08:41
bejo.gathel dan 7 lainnya memberi reputasi
8
69K
310
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
shani.andras
#71
Pembunuhan “dr.Kemala” (Finale)
Akhir Yang Biasa
Sore di hari yang sama, kuputuskan untuk menemui Arina di rumahnya, disana aku disambut oleh ayahnya.
"Arina sedang dalam perjalanan pulang, tunggulah disini kita sambil mengobrol ya, aku belum berterima kasih padamu tentang Nina cucuku" sambut bapaknya ramah, sepertinya Arimbi atau Arina sudah menceritakan perihal masalah Nina kemarin.
Untuk pertama kalinya aku dipersilahkan masuk ke dalam rumah ini, di dinding ruang tamunya ada sebuah foto yang menarik perhatianku.
"Maaf pak, apakah lelaki yang berseragam polisi itu bapak?" tanyaku.
"Hahaha iya... itu fotoku 15 tahun yang lalu nak, bapak ini pensiunan polisi, Arina nggak cerita padamu ya" jawab bapak tersebut.
"Anu pak, saya belum tahu nama bapak ini siapa, apa..." tanyaku yang langsung dibalas.
"Namaku Irwan, panggil saja pak atau om Irwan, pokoknya jangan panggil pakdhe atau mbah, ketuaan hehehe" balasnya ramah.
Selama menunggu Arina pulang itu, pak Irwan minta diceritakan tentang bagaimana sebenarnya diriku menolong Nina, dan aku adalah termasuk orang yang ceplas ceplos jadi kuceritakan dengan apa adanya termasuk 'kegaiban' yang terjadi itu.
Pak Irwan juga sedikit menceritakan kalau beliau ini semasa masih aktif berdinas juga beberapa kali pernah menangani kasus-kasus yang diluar logika sehingga terpaksa mendatangkan paranormal untuk membantu mengungkapnya.
"Arina itu anak yang berpegang pada logika, terutama setelah kejadian sakitnya Nina, selepas menjadi dokter muda dia memutuskan untuk mengambil spesialisasi kejiwaan, tapi ya beruntung banget sih dia bisa bertemu kamu nak Alvian" cerita pak Irwan.
"Aku sendiri juga mengoleksi beberapa keris pusaka dan guci-guci, sebagian peninggalan kakeknya Arina, jadi kalau diajak ngobrol yang gaib atau klenik masih paham" sambungnya.
"Pantas aja di rumah ini ada hawa yang tidak biasa" mulutku keceplosan.
Langsung pak Irwan bertanya kepadaku,"Oh ya? Ceritakan dong gak apa-apa kok, mumpung anakku belum pulang", pintanya serius.
"Ada 'putri kuning' di rumah bapak, dia berasal dari salah satu keris bapak yang seluruhnya terbuat dari pohon bambu, warangkanya dari bambu kuning yang dirajah dan sarungnya dari bambu wulung" ceritaku.
"Be..betul sekali, aku punya yang seperti itu, pintar sekali kamu bisa menebak dengan tepat" jawabnya seraya kagum.
Lalu kuceritakan juga deh tentang yang 'lainnya', untuk mengulur waktu menunggu Arina pulang. Satu jam lebih menemani pak Irwan mengobrol di ruang tamu iseng, kubertanya mengenai istrinya.
"Ibunya Arina sedang menginap di rumah Arimbi, sekalian bantu-bantu untuk acara selamatan besok sore, eh kamu ikut datang juga yah, biar nanti Arina yang jemput ya"
Tak lama Arina pun sampai juga di rumahnya, sebetulnya dia sedikit kaget karena melihat diriku sedang mengobrol akrab dengan bapaknya, ditambah aku datang tanpa janjian dulu sih.
Selesai mandi dan mengisi perut, Arina mendatangiku, pak Irwan seakan paham lalu pergi meninggalkan kami menuju ke ruang keluarga.
"Nekat banget datang kesini, kamu apain bapakku bisa sampe akrab begitu" tanyanya dengan menyindir.
"Ngaco ah, kebetulan saja bapakmu dan aku punya ketertarikan di beberapa hal" jawabku enteng. Setelah sedikit basa-basi kucing kujelaskan maksudku untuk menemui Arina, kuceritakan semua hasil 'penyelidikanku' siang tadi bersama Kimi, tiba-tiba Arina memotong penjelasanku.
"Kimi, siapa itu, waktu dirimu tak sadarkan diri nama itu juga muncul, dia memberitahukan padaku dan mas Anjas (suaminya Arimbi, kakaknya Arina)cara untuk 'membangunkanmu', dia peliharaanmu ya?" tanya Arina sedikit galak.
Dengan hati-hati kuceritakan juga siapa itu Kimi, tentu saja wanita sekaliber Arina gak akan langsung percaya, tapi lumayan dia bisa sedikit melunak ketika kuberitahu bahwa Kimi juga berperan dalam 'pembebasan' Nina. Kemudian kulanjutkan tentang penerawanganku pada Kemala, ceritaku tentang Kemala sungguh memang diluar akal sehat, namun lama-lama Arina mulai serius menerimanya.
Tak lupa kuberitahukan juga tentang blog pribadi Kemala yang dirahasiakannya, sungguh diriku tak habis pikir perlu cara apalagi untuk meyakinkan Arina untuk mengungkap kasus ini.
Pak Irwan yang diam-diam ternyata mendengarkan perbincanganku dengan Arina mendadak memotong pembicaraan.
"Aku ada teman yang bisa diandalkan kalau itu semua benar dan ada buktinya" tawar beliau.
"Kasus ini belum berjalan dua minggu pak, dan buktinya adalah luka tusuk di perut Kemala, dan tulisan-tulisan yang dia tulis di blog itu bisa digunakan untukmembuatnya mengaku, dan bukti yang paling utama adalah dokter Kemala itu sendiri ternyata masih hidup, tampaknya dia sengaja menghilangkan identitas karena takut ditangkap atas kejahatannya" jawabku.
"Lalu bagaimana untuk membuktikan kalau yang mayat yang ditmukan itu adalah suster Devi?" tanya Arina, mendadak aku terbengong tak mampu menjawab.
"Nah saatnya kita bermain dengan logika" ucap pak Irwan memecah kebuntuan.
""P..pa..pakaian suster Devi!!, pakaian suster Devi yang diambil kemala, pakaian itu mungkin masih ada" ujarku secara asal.
"Bagaimana kalau Kemala membuangnya atau membakarnya?" sanggah Arina membuatku buntu untuk berpikir lagi".
"Sebenarnya bisa nanti di cros check bila saja Kemala bisa ditemukan keberadaannya" ujar pak Irwan.
“Jika yang terbunuh itu memang Devi, kemungkinan besar ada laporan orang hilang dari kerabat terdekat Devi. Rekan kerja bisa kita mintai keterangan. Begitu juga dengan keluarga. Kapan mereka terakhir melakukan kontak dengan Devi, segala keanehan dan semua informasi-informasi seputar kehilangannya dari mereka bisa kita cocokkan dengan ‘penglihatan’ kamu Alvin”, lanjut pak Irwan.
"Kita bisa saja menjebaknya dengan berpura-pura menjadi penerbit buku yang tertarik pada tulisan-tulisan di blognya, lalu untuk membuktikan bahwa mayat yang ditemukan itu adalah Devi bisa dilakukan uji kecocokan DNA kan pak", pemikiran cerdas yang terucap dari mulut Arina.
"Betul sekali, cara itu juga bisa kita lakukan, dan untuk meyakinkan pihak kepolisian bahwa Kemala itu layak untuk dikejar adalah dengan melakukan tes DNA dulu terhadap mayat yang kita duga adalah suster Devi itu nak. Dengan demikian, kunjungan terhadap keluarga Devi sangat diperlukan. Selain informasi yang berkaitan dengan menghilangnya Devi, kita juga dapat menggunakan data DNA dari anggota keluarga sebagai pembanding data DNA mayat yang diduga Devi itu", sambung pak Irwan, aku hanya mampu melongo melihat bapak dan anak itu saling menyambung argumen.
Malam itu pak Irwan memberikan sejumlah informasi yang kami bahas tadi, dan menyerahkan penyelidikan selanjutnya pada orang kepercayaan beliau di kepolisian, tanpa ragu aku setuju saja sih karena memang ruwet dan merepotkan kalau diriku sendiri yang ikut turun terlibat. (>_<
Dua bulan lebih telah berlalu, entah kenapa pikiranku enteng tanpa memikirkan masalah tentang Kemala ini dan aktifitasku bermain game serta berjualan online kembali berjalan.
Suatu siang aku menerima pesan dari Arina untuk menemuinya di kafetaria rumah sakit, dia ingin membicarakan sesuatu denganku. Di pertemuan itu Arina menceritakan kalau Kemala telah tertangkap di pulau Batam, semua berawal dari uji DNA mayat yang 100% teridentifikasi sebagai suster Devi Kurnia, dan benar di perut Kemala terdapat luka robek bekas tusukan, semua alibinya mampu dibongkar oleh kepolisian, dan tulisan-tulisan Kemala dipakai sebagai alat bukti.
"Aku tak menyangka Kemala itu berubah menjadi psikopat karena cinta sejenis, tak bisa kubayangkan seandainya waktu itu dia tertarik padaku Vin" ucap Arina dengan tatapan kosong.
"Ah tak mungkin itu, kamu kan berjodoh denganku, dokterku sayang" balasku yang diikuti dengan cubitan Arina di pipiku.
"Auuuuh mbakmu dan bapakmu kan sudah ngasih lampu hijau padaku Rin". (T_T)
-Tamat-
tunggu cerita kedua rilis ya om & tante
special thanks for om bay, om ir, dek siti, bu tri, mbak ratna serta kawan2 indigo yg kenal saya (ato saya kenal tapi lupa banget namanya
)
Sore di hari yang sama, kuputuskan untuk menemui Arina di rumahnya, disana aku disambut oleh ayahnya.
"Arina sedang dalam perjalanan pulang, tunggulah disini kita sambil mengobrol ya, aku belum berterima kasih padamu tentang Nina cucuku" sambut bapaknya ramah, sepertinya Arimbi atau Arina sudah menceritakan perihal masalah Nina kemarin.
Untuk pertama kalinya aku dipersilahkan masuk ke dalam rumah ini, di dinding ruang tamunya ada sebuah foto yang menarik perhatianku.
"Maaf pak, apakah lelaki yang berseragam polisi itu bapak?" tanyaku.
"Hahaha iya... itu fotoku 15 tahun yang lalu nak, bapak ini pensiunan polisi, Arina nggak cerita padamu ya" jawab bapak tersebut.
"Anu pak, saya belum tahu nama bapak ini siapa, apa..." tanyaku yang langsung dibalas.
"Namaku Irwan, panggil saja pak atau om Irwan, pokoknya jangan panggil pakdhe atau mbah, ketuaan hehehe" balasnya ramah.
Selama menunggu Arina pulang itu, pak Irwan minta diceritakan tentang bagaimana sebenarnya diriku menolong Nina, dan aku adalah termasuk orang yang ceplas ceplos jadi kuceritakan dengan apa adanya termasuk 'kegaiban' yang terjadi itu.
Pak Irwan juga sedikit menceritakan kalau beliau ini semasa masih aktif berdinas juga beberapa kali pernah menangani kasus-kasus yang diluar logika sehingga terpaksa mendatangkan paranormal untuk membantu mengungkapnya.
"Arina itu anak yang berpegang pada logika, terutama setelah kejadian sakitnya Nina, selepas menjadi dokter muda dia memutuskan untuk mengambil spesialisasi kejiwaan, tapi ya beruntung banget sih dia bisa bertemu kamu nak Alvian" cerita pak Irwan.
"Aku sendiri juga mengoleksi beberapa keris pusaka dan guci-guci, sebagian peninggalan kakeknya Arina, jadi kalau diajak ngobrol yang gaib atau klenik masih paham" sambungnya.
"Pantas aja di rumah ini ada hawa yang tidak biasa" mulutku keceplosan.
Langsung pak Irwan bertanya kepadaku,"Oh ya? Ceritakan dong gak apa-apa kok, mumpung anakku belum pulang", pintanya serius.
"Ada 'putri kuning' di rumah bapak, dia berasal dari salah satu keris bapak yang seluruhnya terbuat dari pohon bambu, warangkanya dari bambu kuning yang dirajah dan sarungnya dari bambu wulung" ceritaku.
"Be..betul sekali, aku punya yang seperti itu, pintar sekali kamu bisa menebak dengan tepat" jawabnya seraya kagum.
Lalu kuceritakan juga deh tentang yang 'lainnya', untuk mengulur waktu menunggu Arina pulang. Satu jam lebih menemani pak Irwan mengobrol di ruang tamu iseng, kubertanya mengenai istrinya.
"Ibunya Arina sedang menginap di rumah Arimbi, sekalian bantu-bantu untuk acara selamatan besok sore, eh kamu ikut datang juga yah, biar nanti Arina yang jemput ya"
Tak lama Arina pun sampai juga di rumahnya, sebetulnya dia sedikit kaget karena melihat diriku sedang mengobrol akrab dengan bapaknya, ditambah aku datang tanpa janjian dulu sih.
Selesai mandi dan mengisi perut, Arina mendatangiku, pak Irwan seakan paham lalu pergi meninggalkan kami menuju ke ruang keluarga.
"Nekat banget datang kesini, kamu apain bapakku bisa sampe akrab begitu" tanyanya dengan menyindir.
"Ngaco ah, kebetulan saja bapakmu dan aku punya ketertarikan di beberapa hal" jawabku enteng. Setelah sedikit basa-basi kucing kujelaskan maksudku untuk menemui Arina, kuceritakan semua hasil 'penyelidikanku' siang tadi bersama Kimi, tiba-tiba Arina memotong penjelasanku.
"Kimi, siapa itu, waktu dirimu tak sadarkan diri nama itu juga muncul, dia memberitahukan padaku dan mas Anjas (suaminya Arimbi, kakaknya Arina)cara untuk 'membangunkanmu', dia peliharaanmu ya?" tanya Arina sedikit galak.
Dengan hati-hati kuceritakan juga siapa itu Kimi, tentu saja wanita sekaliber Arina gak akan langsung percaya, tapi lumayan dia bisa sedikit melunak ketika kuberitahu bahwa Kimi juga berperan dalam 'pembebasan' Nina. Kemudian kulanjutkan tentang penerawanganku pada Kemala, ceritaku tentang Kemala sungguh memang diluar akal sehat, namun lama-lama Arina mulai serius menerimanya.
Tak lupa kuberitahukan juga tentang blog pribadi Kemala yang dirahasiakannya, sungguh diriku tak habis pikir perlu cara apalagi untuk meyakinkan Arina untuk mengungkap kasus ini.
Pak Irwan yang diam-diam ternyata mendengarkan perbincanganku dengan Arina mendadak memotong pembicaraan.
"Aku ada teman yang bisa diandalkan kalau itu semua benar dan ada buktinya" tawar beliau.
"Kasus ini belum berjalan dua minggu pak, dan buktinya adalah luka tusuk di perut Kemala, dan tulisan-tulisan yang dia tulis di blog itu bisa digunakan untukmembuatnya mengaku, dan bukti yang paling utama adalah dokter Kemala itu sendiri ternyata masih hidup, tampaknya dia sengaja menghilangkan identitas karena takut ditangkap atas kejahatannya" jawabku.
"Lalu bagaimana untuk membuktikan kalau yang mayat yang ditmukan itu adalah suster Devi?" tanya Arina, mendadak aku terbengong tak mampu menjawab.
"Nah saatnya kita bermain dengan logika" ucap pak Irwan memecah kebuntuan.
""P..pa..pakaian suster Devi!!, pakaian suster Devi yang diambil kemala, pakaian itu mungkin masih ada" ujarku secara asal.
"Bagaimana kalau Kemala membuangnya atau membakarnya?" sanggah Arina membuatku buntu untuk berpikir lagi".
"Sebenarnya bisa nanti di cros check bila saja Kemala bisa ditemukan keberadaannya" ujar pak Irwan.
“Jika yang terbunuh itu memang Devi, kemungkinan besar ada laporan orang hilang dari kerabat terdekat Devi. Rekan kerja bisa kita mintai keterangan. Begitu juga dengan keluarga. Kapan mereka terakhir melakukan kontak dengan Devi, segala keanehan dan semua informasi-informasi seputar kehilangannya dari mereka bisa kita cocokkan dengan ‘penglihatan’ kamu Alvin”, lanjut pak Irwan.
"Kita bisa saja menjebaknya dengan berpura-pura menjadi penerbit buku yang tertarik pada tulisan-tulisan di blognya, lalu untuk membuktikan bahwa mayat yang ditemukan itu adalah Devi bisa dilakukan uji kecocokan DNA kan pak", pemikiran cerdas yang terucap dari mulut Arina.
"Betul sekali, cara itu juga bisa kita lakukan, dan untuk meyakinkan pihak kepolisian bahwa Kemala itu layak untuk dikejar adalah dengan melakukan tes DNA dulu terhadap mayat yang kita duga adalah suster Devi itu nak. Dengan demikian, kunjungan terhadap keluarga Devi sangat diperlukan. Selain informasi yang berkaitan dengan menghilangnya Devi, kita juga dapat menggunakan data DNA dari anggota keluarga sebagai pembanding data DNA mayat yang diduga Devi itu", sambung pak Irwan, aku hanya mampu melongo melihat bapak dan anak itu saling menyambung argumen.
Malam itu pak Irwan memberikan sejumlah informasi yang kami bahas tadi, dan menyerahkan penyelidikan selanjutnya pada orang kepercayaan beliau di kepolisian, tanpa ragu aku setuju saja sih karena memang ruwet dan merepotkan kalau diriku sendiri yang ikut turun terlibat. (>_<

Dua bulan lebih telah berlalu, entah kenapa pikiranku enteng tanpa memikirkan masalah tentang Kemala ini dan aktifitasku bermain game serta berjualan online kembali berjalan.
Suatu siang aku menerima pesan dari Arina untuk menemuinya di kafetaria rumah sakit, dia ingin membicarakan sesuatu denganku. Di pertemuan itu Arina menceritakan kalau Kemala telah tertangkap di pulau Batam, semua berawal dari uji DNA mayat yang 100% teridentifikasi sebagai suster Devi Kurnia, dan benar di perut Kemala terdapat luka robek bekas tusukan, semua alibinya mampu dibongkar oleh kepolisian, dan tulisan-tulisan Kemala dipakai sebagai alat bukti.
"Aku tak menyangka Kemala itu berubah menjadi psikopat karena cinta sejenis, tak bisa kubayangkan seandainya waktu itu dia tertarik padaku Vin" ucap Arina dengan tatapan kosong.
"Ah tak mungkin itu, kamu kan berjodoh denganku, dokterku sayang" balasku yang diikuti dengan cubitan Arina di pipiku.
"Auuuuh mbakmu dan bapakmu kan sudah ngasih lampu hijau padaku Rin". (T_T)
-Tamat-
tunggu cerita kedua rilis ya om & tante
special thanks for om bay, om ir, dek siti, bu tri, mbak ratna serta kawan2 indigo yg kenal saya (ato saya kenal tapi lupa banget namanya
)Diubah oleh shani.andras 22-08-2016 18:15
bejo.gathel dan 4 lainnya memberi reputasi
5