- Beranda
- Stories from the Heart
TERNYATA DIA DISINI (HORROR STORY)
...
TS
watashiwapsycho
TERNYATA DIA DISINI (HORROR STORY)
Percaya atau tidak, dia ada disini dan memperhatikanmu dari balik gelap gulitanya malam yang akan membuat rasa penasaranmu terjawab. 
Mungkin kalian akan berfikir "Seperti tuan yang menceritakan kisahnya."
PART 1 A - Sambutan malam
PART 1 B - Sambutan Malam
PART 2 - Kolam Renang
PART 3 - Pocong 3 Meter [BEST STORY]
PART 4 - Selamat Tinggal Pemilik Villa
PART 5 - Bapak Pengendara Motor
PART 6 - Pengalaman Kakek
PART 7 - Sendirian
PART 8 - Dibalik Gelapnya Desa
PART 9 - Makam
PART 10 - Kuntilanak Laut
PART 11 - Kelapa Atau Kepala
PART 12 - Stasiun Kereta
PART 13 - Siluman Kera
PART 14 - Rumah Sakit
PART 15 - Wanita Tanpa Nama
PART 16 - ON GOING
Terimakasih telah mengikuti alur cerita ini.
Agar saya lebih sering update, tolong di apresiasi dengan cara memberi Rate bintang 5
tinggalkan comment, kritik, dan saran yang positif.
Cerita ini juga terbit di Wattpad.com
baca lebih mudah dengan cara klik link dibawah ini.
link : https://www.wattpad.com/story/820305...ata-dia-disini

Mungkin kalian akan berfikir "Seperti tuan yang menceritakan kisahnya."
PART 1 A - Sambutan malam
PART 1 B - Sambutan Malam
PART 2 - Kolam Renang
PART 3 - Pocong 3 Meter [BEST STORY]
PART 4 - Selamat Tinggal Pemilik Villa
PART 5 - Bapak Pengendara Motor
PART 6 - Pengalaman Kakek
PART 7 - Sendirian
PART 8 - Dibalik Gelapnya Desa
PART 9 - Makam
PART 10 - Kuntilanak Laut
PART 11 - Kelapa Atau Kepala
PART 12 - Stasiun Kereta
PART 13 - Siluman Kera
PART 14 - Rumah Sakit
PART 15 - Wanita Tanpa Nama
PART 16 - ON GOING
Terimakasih telah mengikuti alur cerita ini.
Agar saya lebih sering update, tolong di apresiasi dengan cara memberi Rate bintang 5

tinggalkan comment, kritik, dan saran yang positif.

Cerita ini juga terbit di Wattpad.com
baca lebih mudah dengan cara klik link dibawah ini.
link : https://www.wattpad.com/story/820305...ata-dia-disini

Diubah oleh watashiwapsycho 14-10-2016 19:01
danjau dan anasabila memberi reputasi
2
99.5K
317
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watashiwapsycho
#52
Makam [PART 9]
Gue akhirnya tiba dikampung halaman gue.
Rumah nenek gue itu masih banyak pohon, terutama pohon bambu, hampir di tiap jalan pasti ada pohon bambu.
Saat tiba dirumah nenek gue, sekitar pukul 10.00 waktu setempat.
Ternyata gue dan nyokap gue telat dateng. Alm kakek gue sudah di kebumikan sejak pagi
Nyokap gue nangis sejadi-jadinya, bahkan sempet pingsan.
Akhirnya gue dan nyokap gue memutuskan untuk datang kekuburan kakek gue dengan ditemani adik sepupu gue yang bernama Adit.
Lokasi makam kakek gue lumayan jauh. Karna saat itu kerabat belum memiliki motor, dan hanya memiliki mobil tua yang masih dapat beroperasi. Namun rute ke makam tidak memungkinkan untuk menggunakan mobil, akhirnya kita memutuskan untuk jalan kaki.
Gue harus melewati sebuah pabrik tua yang sudah ditinggal pemiliknya karna bangkrut. Suasana pabrik lumayan membuat gue merinding. Banyak bangunan kosong.
Yang bikin gue parno adalah setiap bangunan tidak memiliki pintu, jadi gue bisa lihat suasana dalam bangunan yang memiliki banyak ruang. Bisa aja seketika muncul sekelebat bayangan. Inilah pikiran negatif dari rasa takut yang akan menjadi masalah nantinya.
Setelah melewati pabrik dengan rasa parno. Gue melewati hamparan sawah yang lumayan jauh. Dari kejauhan gue udah melihat kumpulan pohon besar yang sudah mati namun dengan posisi tidak tumbang. Bukan hanya satu, namun hampir semua pohon dalam kondisi seperti itu. Mungkin sudah masuk musim kemarau.
Suasana pemakaman sangat mencekam, sepi, dan hanya terdengar kicauan dari burung.
Adit menunjukan lokasi makam kakel gue.
Saat sedang mencari makam kakek gue. Gue melihat sebuah pohon besar yang sudah mati. Sangat besar bahkan dibanding pohon yang lain. Gue melihat sesuatu yang aneh dari pohon tersebut.
Terdapat sebuah lubang di pohon tersebut.
Nyokap gue lagi duduk mendoakan kakek gue. Nyokap gue sedih banget rupanya sampai nangis tersedu-sedu. Adit menemani nyokap gue duduk disampingnya.
Gue sambil duduk dibatu yang ada didekat makam kakek gue membacakan surat Alfatihah.
Rasa penasaran gue makin besar tentang lubang pohon tadi.
"Ma, Dit, tunggu disini sebentar ya. Aku mau kesitu sebentar." Celetuk gue.
"Yaudah jangan lama-lama." Ucap nyokap gue sambil menangis.
Akhirnya gue menghampiri pohon besar berlubang itu.
Yang bikin gue penasaran adalah pohon itu mengeluarkan asap.
Gue makin mendekat.
Saat sudah kurang lebih 5 langkah dari pohon, gue melihat gumpalan kain putih yang lumayan kotor yang terselip dilubang pohon tersebut.
Gue gak berani ambil, karna gue yakin pasti akan menjadi masalah.
Akhirnya gue penasaran. Gue mengelilingi pohon tersebut.
Dan gue menemukan...
SESAJEN! lengkap dengan kemenyan yang sedang dibakar.
Gue yakin banget ini sesajen baru diletaka disitu.
Rasa penasaran gue terjawab. Ternyata asap itu berasal dari kemenyan yang dibakar.
Akhirnya gue memutuskan kembali.
"Lama banget kamu mas." Celetuk Adit dengan wajah sedikit kesal.
"Yaudah yuk pulang." Ucap nyokap gue.
Saat sudah keluar dari makam. Gue baru sadar. Ternyata hp gue ketinggalan diatas batu tadi saat gue duduk.
"Yahh Ma hp saya ketinggalan, tunggu sebentar ya saya lari mau ambil hp saya." Ucap gue kenyokap.
"Teledor sih, buruan ambil, mama sama Adit jalan pelan-pelan nih."
Akhirnya gue lari.
Saat memasuki makam. Gue merinding dengan suasana yang ada disana. Suasananya beda banget dari yang tadi. Sampai akhirnya gue sampai dibatu tadi.
Gue mengambil hp gue.
Dari kejauhan gue melihat punggung seseorang yang sedang duduk dengan kepala teralingi oleh pohon besar tadi. Akhirnya gue memutuskan untuk mendekat. Gue mendekati dengan berlawanan arah.
Gue sedikit mengintip sebelumnya dari samping pohon.
GUE MELIHAT SESOSOK KAKEK-KAKEK SEDANG MEMAKAN SESAJEN TADI!
MATANYA FULL HITAM! Ada darah mengalir dari mulutnya.
Sesajen yang tadi rapi kini berantakan.
Itu bukan sosok seorang kakek biasa yang kelaparan.
Namun sesosok kakek tua yang sedang jongkok, dengan tangan yang sangat panjang!
"Monggo mas dimakan Segone." Ucap kakek itu dengan senyum yang sangat lebar.
Yang dapat diartikan "silahkan mas dimakan nasinya."
Gue hampir mau muntah. Gue lari dengan perasaan takut, cemas, dan rasa mual akibat melihat kakek tadi makan.
Gue lari sambil menoleh kebelakang.
Kakel tadi pun berdiri, saat berdiri. ternyata bukan hanya tangannya yang panjang sampai menyentuh tanah. Namun kakinya juga panjang.
Orang Malaysia biasa menyebutnya 'Hantu Gala'
Karna sosoknya yang tinggi. Gue berlari secepat mungkin karna takut dikejar dengan langkahnya yang jauh.
Seketika gue denger gini. Gue lupa bahasa jawanya, tapi gue tau artinya. Dan bahasa jawanya kalo gak salah denger gini.
"Wes nduduki ndasku, saiki tak ajak makan ora gelem."
"Sesusah kamu duduki kepala saya, kini saya ajak makan tidak mau."
Makin takut. Gue lari makin cepet nyusul nyokap gue yang udah hampir sampai pabrik.
"Lama banget sih mas?" Ucap Adit dengan heran yang melihat gue basah keringetan.
Gue pun gak ngejawab.
Saat lewat pabrik.
Ada sebuah bangunan yang bikin gue makin merinding. Karna yang tadi aja masih bikin merinding, gue melihat sesosok anak kecil dengan kulit pucat, kepala botak. Tidak mengenakan sehelai kainpun, bahkan berlaro seperti hewan, dengan menggunakan kedua tangan sebagai kaki depan. Berlari dari bangunan yang satu kebangunan yang lain dengan sangat cepat.
Padahal saat itu kurang lebih jam 13.00 siang.
Gue cuma bisa menunduk, mata gue terpejam dan gue memegang pundak Adit sebagai penuntun jalan.
Sekitar 10 menit gue memejamkan mata. Akhirnya gue udah ngelewatin pabrik itu.
Gue gak berani nengok, gue ga mau kejadian yang kaya kuntilanak merah terjadi lagi. Gue ga mau saat nengok, dia makin deket.
Gak, gue gak mau.
Rumah nenek gue itu masih banyak pohon, terutama pohon bambu, hampir di tiap jalan pasti ada pohon bambu.
Saat tiba dirumah nenek gue, sekitar pukul 10.00 waktu setempat.
Ternyata gue dan nyokap gue telat dateng. Alm kakek gue sudah di kebumikan sejak pagi
Nyokap gue nangis sejadi-jadinya, bahkan sempet pingsan.
Akhirnya gue dan nyokap gue memutuskan untuk datang kekuburan kakek gue dengan ditemani adik sepupu gue yang bernama Adit.
Lokasi makam kakek gue lumayan jauh. Karna saat itu kerabat belum memiliki motor, dan hanya memiliki mobil tua yang masih dapat beroperasi. Namun rute ke makam tidak memungkinkan untuk menggunakan mobil, akhirnya kita memutuskan untuk jalan kaki.
Gue harus melewati sebuah pabrik tua yang sudah ditinggal pemiliknya karna bangkrut. Suasana pabrik lumayan membuat gue merinding. Banyak bangunan kosong.
Yang bikin gue parno adalah setiap bangunan tidak memiliki pintu, jadi gue bisa lihat suasana dalam bangunan yang memiliki banyak ruang. Bisa aja seketika muncul sekelebat bayangan. Inilah pikiran negatif dari rasa takut yang akan menjadi masalah nantinya.
Setelah melewati pabrik dengan rasa parno. Gue melewati hamparan sawah yang lumayan jauh. Dari kejauhan gue udah melihat kumpulan pohon besar yang sudah mati namun dengan posisi tidak tumbang. Bukan hanya satu, namun hampir semua pohon dalam kondisi seperti itu. Mungkin sudah masuk musim kemarau.
Suasana pemakaman sangat mencekam, sepi, dan hanya terdengar kicauan dari burung.
Adit menunjukan lokasi makam kakel gue.
Saat sedang mencari makam kakek gue. Gue melihat sebuah pohon besar yang sudah mati. Sangat besar bahkan dibanding pohon yang lain. Gue melihat sesuatu yang aneh dari pohon tersebut.
Terdapat sebuah lubang di pohon tersebut.
Nyokap gue lagi duduk mendoakan kakek gue. Nyokap gue sedih banget rupanya sampai nangis tersedu-sedu. Adit menemani nyokap gue duduk disampingnya.
Gue sambil duduk dibatu yang ada didekat makam kakek gue membacakan surat Alfatihah.
Rasa penasaran gue makin besar tentang lubang pohon tadi.
"Ma, Dit, tunggu disini sebentar ya. Aku mau kesitu sebentar." Celetuk gue.
"Yaudah jangan lama-lama." Ucap nyokap gue sambil menangis.
Akhirnya gue menghampiri pohon besar berlubang itu.
Yang bikin gue penasaran adalah pohon itu mengeluarkan asap.
Gue makin mendekat.
Saat sudah kurang lebih 5 langkah dari pohon, gue melihat gumpalan kain putih yang lumayan kotor yang terselip dilubang pohon tersebut.
Gue gak berani ambil, karna gue yakin pasti akan menjadi masalah.
Akhirnya gue penasaran. Gue mengelilingi pohon tersebut.
Dan gue menemukan...
SESAJEN! lengkap dengan kemenyan yang sedang dibakar.
Gue yakin banget ini sesajen baru diletaka disitu.
Rasa penasaran gue terjawab. Ternyata asap itu berasal dari kemenyan yang dibakar.
Akhirnya gue memutuskan kembali.
"Lama banget kamu mas." Celetuk Adit dengan wajah sedikit kesal.
"Yaudah yuk pulang." Ucap nyokap gue.
Saat sudah keluar dari makam. Gue baru sadar. Ternyata hp gue ketinggalan diatas batu tadi saat gue duduk.
"Yahh Ma hp saya ketinggalan, tunggu sebentar ya saya lari mau ambil hp saya." Ucap gue kenyokap.
"Teledor sih, buruan ambil, mama sama Adit jalan pelan-pelan nih."
Akhirnya gue lari.
Saat memasuki makam. Gue merinding dengan suasana yang ada disana. Suasananya beda banget dari yang tadi. Sampai akhirnya gue sampai dibatu tadi.
Gue mengambil hp gue.
Dari kejauhan gue melihat punggung seseorang yang sedang duduk dengan kepala teralingi oleh pohon besar tadi. Akhirnya gue memutuskan untuk mendekat. Gue mendekati dengan berlawanan arah.
Gue sedikit mengintip sebelumnya dari samping pohon.
GUE MELIHAT SESOSOK KAKEK-KAKEK SEDANG MEMAKAN SESAJEN TADI!
MATANYA FULL HITAM! Ada darah mengalir dari mulutnya.
Sesajen yang tadi rapi kini berantakan.
Itu bukan sosok seorang kakek biasa yang kelaparan.
Namun sesosok kakek tua yang sedang jongkok, dengan tangan yang sangat panjang!
"Monggo mas dimakan Segone." Ucap kakek itu dengan senyum yang sangat lebar.
Yang dapat diartikan "silahkan mas dimakan nasinya."
Gue hampir mau muntah. Gue lari dengan perasaan takut, cemas, dan rasa mual akibat melihat kakek tadi makan.
Gue lari sambil menoleh kebelakang.
Kakel tadi pun berdiri, saat berdiri. ternyata bukan hanya tangannya yang panjang sampai menyentuh tanah. Namun kakinya juga panjang.
Orang Malaysia biasa menyebutnya 'Hantu Gala'
Karna sosoknya yang tinggi. Gue berlari secepat mungkin karna takut dikejar dengan langkahnya yang jauh.
Seketika gue denger gini. Gue lupa bahasa jawanya, tapi gue tau artinya. Dan bahasa jawanya kalo gak salah denger gini.
"Wes nduduki ndasku, saiki tak ajak makan ora gelem."
"Sesusah kamu duduki kepala saya, kini saya ajak makan tidak mau."
Makin takut. Gue lari makin cepet nyusul nyokap gue yang udah hampir sampai pabrik.
"Lama banget sih mas?" Ucap Adit dengan heran yang melihat gue basah keringetan.
Gue pun gak ngejawab.
Saat lewat pabrik.
Ada sebuah bangunan yang bikin gue makin merinding. Karna yang tadi aja masih bikin merinding, gue melihat sesosok anak kecil dengan kulit pucat, kepala botak. Tidak mengenakan sehelai kainpun, bahkan berlaro seperti hewan, dengan menggunakan kedua tangan sebagai kaki depan. Berlari dari bangunan yang satu kebangunan yang lain dengan sangat cepat.
Padahal saat itu kurang lebih jam 13.00 siang.
Gue cuma bisa menunduk, mata gue terpejam dan gue memegang pundak Adit sebagai penuntun jalan.
Sekitar 10 menit gue memejamkan mata. Akhirnya gue udah ngelewatin pabrik itu.
Gue gak berani nengok, gue ga mau kejadian yang kaya kuntilanak merah terjadi lagi. Gue ga mau saat nengok, dia makin deket.
Gak, gue gak mau.
Diubah oleh watashiwapsycho 24-08-2016 04:42
1