- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#472
Update Part XXIII
25 Juni 2011
Hari ini aku dan Cindy kembali main ke rumah Rina. Tentu saja untuk satu tujuan, kolam renangnya.
Selain karena tidak perlu terganggu karena orang lain, juga karena aku masih sedikit malu untuk mengenakan baju renang di kolam renang umum.
Jadi aku dan Cindy kembali seharian bermain-main di kolam renang pribadi Rina.
Sampai ketika jam 2 siang, karena terlalu keasyikan bermain di kolam renang, Rina melupakan rencananya untuk memesan makanan untuk kita bertiga.
Akhirnya Rina dan Cindy memutuskan untuk pergi sebentar membeli makanan karena perut yang sudah sangat keroncongan.
Tadinya aku juga diajak oleh mereka, tapi karena kelelahan setelah bermain-main selama dua jam di kolam, aku jadi malas menggerakkan tubuhku yang sedang berbaring di kursi malas di pinggir kolam renang, he..he..he..
Tapi sekarang, aku jadi berpikir seharusnya dari awal aku memaksakan diriku untuk ikut dengan mereka berdua.
Ketika aku sedang bermalas-malasan di kursi itu sambil terkantuk-kantuk, samar-samar aku mendengarkan suara yang samar-samar kukenal.
‘Buoooo’
“Uh?” keluhku sembari berusaha mengusir kantukku untuk membuka mata.
Aku merasakan sentuhan yang dingin pada pergelangan kakiku.
‘Buooooo’
“Hah?” aku memusatkan pandangan pada asal sentuhan dingin itu.
Dan aku langsung mengingat suara itu. Karena tepat di samping kakiku yang terjulur di kursi malas, berlutut ‘mahluk’ itu.
Penampilannya masih sama, dengan wajah sangat berkeriput, warna rambut dan alis berwarna putih, dan lubang kosong sebagai pengganti mata dan mulut.
‘Buooooo’
“AH!?” teriakku ketika tangan ‘mahluk’ itu menggenggam pergelangan kakiku.
‘Buooooooo!!’
“AHH!!”
‘Mahluk’ itu menarikku turun dengan paksa dari kursi malas tempatku berbaring.
“AWW!!” teriakku kesakitan ketika aku merasakan kepalaku terantuk ketika tubuhku terhempas ke lantai.
‘BUOOO!’
“Ah!! Auw!!” aku hanya bisa berteriak selama ‘mahluk’ itu menyeretku di lantai yang licin.
Kemudian aku merasakan tubuhku melayang.
‘BYURR’ dan aku terjatuh dengan punggungku terlebih dulu pada kolam renang.
Aku menggelepar-gelepar panik di kolam renang karena berusaha mendapatkan penapak pada kakiku.
Sialnya, bagian kolam tempat aku terjatuh ini sepertinya cukup dalam.
Sebenarnya aku bisa berenang, tapi hantaman air ketika aku masuk ke dalam kolam renang itu mengeluarkan semua cadangan oksigen pada paru-paruku. Aku panik karena masuk ke dalam air tanpa persiapan sehingga paru-paruku terasa memberontak mencari oksigen.
Kakiku menyentuh lantai kolam, dan aku segera menendang dasar kolam sekuatnya hingga kepalaku mencapai permukaan kolam.
Aku menarik nafas sedalam-dalamnya, hingga paru-paruku terisi penuh dengan oksigen.
“Hahh…” aku menghembuskan nafas lega. Kemudian melihat ke sekelilingku. ‘Dia’ tidak ada, ‘mahluk’ itu tidak ada.
Kemana dia? Pikirku panik.
Jawabannya datang tidak lebih dari beberapa detik kemudian.
“Ah!!?” teriakku ketika kakiku ditarik oleh sesuatu.
Aku melihat ke bawah, dan kulihat ‘mahluk’ itu sedang berjongkok di dasar kolam dan menarik kakiku.
‘Buooooooooooohhhhhhhhh’
Suara ‘mahluk’ itu bergema di dalam air, gelembung-gelembung air keluar dari kedua mata dan mulut ‘mahluk’ itu layaknya pipa oksigen yang biasa terpasang di aquarium.
“Ahh!! Tolong!!”
“Tolong!!”
Teriakku panik sambil menggelepar-gelepar hampir tenggelam. ‘Mahluk’ itu mulai memeluk kakiku dan menariknya dengan tenaga yang lebih kuat lagi.
“Ahh!!....” bleb..bleb…bleb…. “To-!!!” bleb..bleb…bleb….
Aku berteriak-teriak semampunya dengan kondisi kepalaku hampir tenggelam seluruhnya. Hidungku beberapa kali kemasukan air sehingga aku mulai merasa sangat panik.
‘BUOOOOO!!!!’
‘Mahluk’ itu berteriak sangat keras di dalam air, kemudian aku merasakan ‘dia’ mencengkeram kakiku dengan keras.
Aku tenggelam..
Aku ditarik dengan kencang di dalam air, tapi bukan ditarik ke dasar kolam, melainkan aku merasakan badanku meluncur sangat kencang.
Dan sesaat kemudian, air meninggalkan tubuhku…
Aku kembali melayang…. Aku ditarik keluar dari dalam air dengan ‘mahluk’ itu masih mencengkeram erat di kakiku.
“Ukhh!!” teriakku teredam ketika aku terbanting ringan di lantai kolam lagi.
‘BUOOO!!’
‘BUOOOOO!!’
‘BUOOOOOOO!!!’
Aku mendengar suara ‘mahluk’ itu melolong-lolong, beserta dengan suara lain...
Suara manusia?...
Aku memaksakan diriku bangun.
Tidak beberapa jauh dari tempatku terbaring, aku melihat si ‘mahluk’ berkeriput itu sedang bersama sesosok kakek tua yang mengenakan semacam baju rompi dengan bawahan berbentuk seperti hakama jepang bermotif bunga teratai.
Kakek itu memandangku, aku dapat melihat kumis dan jenggotnya yang panjang dan berwarna putih. Mata kakek itu terlihat sangat garang, namun aku tidak merasakan ketakutan, malahan anehnya, aku merasakan rasa aman di hatiku.
Aku mendengar suaranya yang menggema dalam kepalaku.
Dia mengatakan sesuatu dalam Bahasa jawa, kalau aku tidak salah “Galuh, mboten punapa?” atau semacam itulah.
Aku tidak paham apa arti kata-kata itu, tapi aku merasakan kalau kakek yang sedang menatapku ini menanyakan apakah aku tidak apa-apa, walaupun aku tidak mengerti siapa yang dimaksud kakek itu dengan Galuh…
Jadi aku mengangguk.
Kemudian kakek itu mengatakan hal lainnya dengan Bahasa yang sama, sambil menunjuk marah ke ‘mahluk’ keriput itu.
‘BUOOOOO…’
‘Mahluk’ keriput itu melolong ketika sang kakek menarik sesuatu yang mengikat leher ‘mahluk’ itu.
Sesuatu itu adalah tali emas yang terjalin seperti sebuah tali tambang.
Tali emas itu sepertinya mengikat leher ‘mahluk’ satunya itu dengan erat. Kakek itu mengatakan sesuatu lagi yang aku tidak mengerti. Aku hanya menangkap kalau kakek itu mengatakan kata Galuh beberapa kali sambil menunjuk ‘mahluk’ itu dan menggeleng. Kemudian aku melihat kakek itu tersenyum melalui matanya.
Kemudian sang kakek menarik ‘mahluk’ itu ke arah kolam renang dan keduanya menghilang di telan air kolam itu.
‘BUOOOOOOOOOOOO’
Aku hanya mendengar suara lolongan terakhir dari ‘mahluk’ itu.
Hal selanjutnya yang kuingat adalah guncangan-guncangan pada badanku.
Aku terbangun dengan keheranan.
“Enak banget tidur lu” ejek Cindy.
Aku tidur? Daritadi aku cuma bermimpi?
Aku masih kebingungan ketika Rina mengajakku untuk makan dulu sebelum istirahat. Dia mengatakan kalau mukaku sedikit pucat dan sebaiknya aku segera makan.
Akupun bangkit dan berjalan ke meja makan.
“Oi.. Lis, paha lu kenapa itu?” Cindy berteriak sambil menunjuk ke arah pahaku.
“Paha? Kenapa?” Aku melihat ke arah yang ditunjuk Cindy. “Oh!?” seruku kaget.
Aku melihat ada bekas melingkar pada pahaku. Tepat di tempat ‘mahluk’ keriput itu memeluk kakiku erat.
“Girls…” panggil Rina setengah berbisik, aku berbalik dan melihat wajahnya menjadi sedikit pucat.
“Kenapa Rin?” tanya Cindy.
Rina tidak menjawab kami, tapi dia menunjuk di suatu tempat pada lantai kolam.
Kami mendekati Rina untuk melihat apa yang dia tunjuk agar terlihat lebih jelas.
Di lantai kolam itu, terdapat bekas berwarna hitam bagaikan arang yang tercecer di pinggir kolam, tidak jauh dari bekas arang itu, terdapat dua bekas telapak kaki.
Masalahnya, bekas tapak kaki itu berupa pasir berwarna keemasan yang membentuk cetakan tapak kaki kiri dan kanan manusia dengan sempurna.
Setelah itu, aku merasa lemas.
Dan aku mendengar suara yang seakan datang dari jauh menggema di telingaku. Kata-kata itu masih kuingat sangat jelas bagaikan terus terngiang di kepalaku.
Suara itu mengatakan “Galuh, sakmenika sampun mboten punapa” yang terulang-ulang bagaikan gema di telingaku.
Spoiler for part XXIII:
25 Juni 2011
Hari ini aku dan Cindy kembali main ke rumah Rina. Tentu saja untuk satu tujuan, kolam renangnya.
Selain karena tidak perlu terganggu karena orang lain, juga karena aku masih sedikit malu untuk mengenakan baju renang di kolam renang umum.
Jadi aku dan Cindy kembali seharian bermain-main di kolam renang pribadi Rina.
Sampai ketika jam 2 siang, karena terlalu keasyikan bermain di kolam renang, Rina melupakan rencananya untuk memesan makanan untuk kita bertiga.
Akhirnya Rina dan Cindy memutuskan untuk pergi sebentar membeli makanan karena perut yang sudah sangat keroncongan.
Tadinya aku juga diajak oleh mereka, tapi karena kelelahan setelah bermain-main selama dua jam di kolam, aku jadi malas menggerakkan tubuhku yang sedang berbaring di kursi malas di pinggir kolam renang, he..he..he..
Tapi sekarang, aku jadi berpikir seharusnya dari awal aku memaksakan diriku untuk ikut dengan mereka berdua.
Ketika aku sedang bermalas-malasan di kursi itu sambil terkantuk-kantuk, samar-samar aku mendengarkan suara yang samar-samar kukenal.
‘Buoooo’
“Uh?” keluhku sembari berusaha mengusir kantukku untuk membuka mata.
Aku merasakan sentuhan yang dingin pada pergelangan kakiku.
‘Buooooo’
“Hah?” aku memusatkan pandangan pada asal sentuhan dingin itu.
Dan aku langsung mengingat suara itu. Karena tepat di samping kakiku yang terjulur di kursi malas, berlutut ‘mahluk’ itu.
Penampilannya masih sama, dengan wajah sangat berkeriput, warna rambut dan alis berwarna putih, dan lubang kosong sebagai pengganti mata dan mulut.
‘Buooooo’
“AH!?” teriakku ketika tangan ‘mahluk’ itu menggenggam pergelangan kakiku.
‘Buooooooo!!’
“AHH!!”
‘Mahluk’ itu menarikku turun dengan paksa dari kursi malas tempatku berbaring.
“AWW!!” teriakku kesakitan ketika aku merasakan kepalaku terantuk ketika tubuhku terhempas ke lantai.
‘BUOOO!’
“Ah!! Auw!!” aku hanya bisa berteriak selama ‘mahluk’ itu menyeretku di lantai yang licin.
Kemudian aku merasakan tubuhku melayang.
‘BYURR’ dan aku terjatuh dengan punggungku terlebih dulu pada kolam renang.
Aku menggelepar-gelepar panik di kolam renang karena berusaha mendapatkan penapak pada kakiku.
Sialnya, bagian kolam tempat aku terjatuh ini sepertinya cukup dalam.
Sebenarnya aku bisa berenang, tapi hantaman air ketika aku masuk ke dalam kolam renang itu mengeluarkan semua cadangan oksigen pada paru-paruku. Aku panik karena masuk ke dalam air tanpa persiapan sehingga paru-paruku terasa memberontak mencari oksigen.
Kakiku menyentuh lantai kolam, dan aku segera menendang dasar kolam sekuatnya hingga kepalaku mencapai permukaan kolam.
Aku menarik nafas sedalam-dalamnya, hingga paru-paruku terisi penuh dengan oksigen.
“Hahh…” aku menghembuskan nafas lega. Kemudian melihat ke sekelilingku. ‘Dia’ tidak ada, ‘mahluk’ itu tidak ada.
Kemana dia? Pikirku panik.
Jawabannya datang tidak lebih dari beberapa detik kemudian.
“Ah!!?” teriakku ketika kakiku ditarik oleh sesuatu.
Aku melihat ke bawah, dan kulihat ‘mahluk’ itu sedang berjongkok di dasar kolam dan menarik kakiku.
‘Buooooooooooohhhhhhhhh’
Suara ‘mahluk’ itu bergema di dalam air, gelembung-gelembung air keluar dari kedua mata dan mulut ‘mahluk’ itu layaknya pipa oksigen yang biasa terpasang di aquarium.
“Ahh!! Tolong!!”
“Tolong!!”
Teriakku panik sambil menggelepar-gelepar hampir tenggelam. ‘Mahluk’ itu mulai memeluk kakiku dan menariknya dengan tenaga yang lebih kuat lagi.
“Ahh!!....” bleb..bleb…bleb…. “To-!!!” bleb..bleb…bleb….
Aku berteriak-teriak semampunya dengan kondisi kepalaku hampir tenggelam seluruhnya. Hidungku beberapa kali kemasukan air sehingga aku mulai merasa sangat panik.
‘BUOOOOO!!!!’
‘Mahluk’ itu berteriak sangat keras di dalam air, kemudian aku merasakan ‘dia’ mencengkeram kakiku dengan keras.
Aku tenggelam..
Aku ditarik dengan kencang di dalam air, tapi bukan ditarik ke dasar kolam, melainkan aku merasakan badanku meluncur sangat kencang.
Dan sesaat kemudian, air meninggalkan tubuhku…
Aku kembali melayang…. Aku ditarik keluar dari dalam air dengan ‘mahluk’ itu masih mencengkeram erat di kakiku.
“Ukhh!!” teriakku teredam ketika aku terbanting ringan di lantai kolam lagi.
‘BUOOO!!’
‘BUOOOOO!!’
‘BUOOOOOOO!!!’
Aku mendengar suara ‘mahluk’ itu melolong-lolong, beserta dengan suara lain...
Suara manusia?...
Aku memaksakan diriku bangun.
Tidak beberapa jauh dari tempatku terbaring, aku melihat si ‘mahluk’ berkeriput itu sedang bersama sesosok kakek tua yang mengenakan semacam baju rompi dengan bawahan berbentuk seperti hakama jepang bermotif bunga teratai.
Kakek itu memandangku, aku dapat melihat kumis dan jenggotnya yang panjang dan berwarna putih. Mata kakek itu terlihat sangat garang, namun aku tidak merasakan ketakutan, malahan anehnya, aku merasakan rasa aman di hatiku.
Aku mendengar suaranya yang menggema dalam kepalaku.
Dia mengatakan sesuatu dalam Bahasa jawa, kalau aku tidak salah “Galuh, mboten punapa?” atau semacam itulah.
Aku tidak paham apa arti kata-kata itu, tapi aku merasakan kalau kakek yang sedang menatapku ini menanyakan apakah aku tidak apa-apa, walaupun aku tidak mengerti siapa yang dimaksud kakek itu dengan Galuh…
Jadi aku mengangguk.
Kemudian kakek itu mengatakan hal lainnya dengan Bahasa yang sama, sambil menunjuk marah ke ‘mahluk’ keriput itu.
‘BUOOOOO…’
‘Mahluk’ keriput itu melolong ketika sang kakek menarik sesuatu yang mengikat leher ‘mahluk’ itu.
Sesuatu itu adalah tali emas yang terjalin seperti sebuah tali tambang.
Tali emas itu sepertinya mengikat leher ‘mahluk’ satunya itu dengan erat. Kakek itu mengatakan sesuatu lagi yang aku tidak mengerti. Aku hanya menangkap kalau kakek itu mengatakan kata Galuh beberapa kali sambil menunjuk ‘mahluk’ itu dan menggeleng. Kemudian aku melihat kakek itu tersenyum melalui matanya.
Kemudian sang kakek menarik ‘mahluk’ itu ke arah kolam renang dan keduanya menghilang di telan air kolam itu.
‘BUOOOOOOOOOOOO’
Aku hanya mendengar suara lolongan terakhir dari ‘mahluk’ itu.
Hal selanjutnya yang kuingat adalah guncangan-guncangan pada badanku.
Aku terbangun dengan keheranan.
“Enak banget tidur lu” ejek Cindy.
Aku tidur? Daritadi aku cuma bermimpi?
Aku masih kebingungan ketika Rina mengajakku untuk makan dulu sebelum istirahat. Dia mengatakan kalau mukaku sedikit pucat dan sebaiknya aku segera makan.
Akupun bangkit dan berjalan ke meja makan.
“Oi.. Lis, paha lu kenapa itu?” Cindy berteriak sambil menunjuk ke arah pahaku.
“Paha? Kenapa?” Aku melihat ke arah yang ditunjuk Cindy. “Oh!?” seruku kaget.
Aku melihat ada bekas melingkar pada pahaku. Tepat di tempat ‘mahluk’ keriput itu memeluk kakiku erat.
“Girls…” panggil Rina setengah berbisik, aku berbalik dan melihat wajahnya menjadi sedikit pucat.
“Kenapa Rin?” tanya Cindy.
Rina tidak menjawab kami, tapi dia menunjuk di suatu tempat pada lantai kolam.
Kami mendekati Rina untuk melihat apa yang dia tunjuk agar terlihat lebih jelas.
Di lantai kolam itu, terdapat bekas berwarna hitam bagaikan arang yang tercecer di pinggir kolam, tidak jauh dari bekas arang itu, terdapat dua bekas telapak kaki.
Masalahnya, bekas tapak kaki itu berupa pasir berwarna keemasan yang membentuk cetakan tapak kaki kiri dan kanan manusia dengan sempurna.
Setelah itu, aku merasa lemas.
Dan aku mendengar suara yang seakan datang dari jauh menggema di telingaku. Kata-kata itu masih kuingat sangat jelas bagaikan terus terngiang di kepalaku.
Suara itu mengatakan “Galuh, sakmenika sampun mboten punapa” yang terulang-ulang bagaikan gema di telingaku.
jenggalasunyi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas