- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.9K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#46
Part 2
Andika segera melepaskan genggaman tangannya pada buah catur tadi dengan wajah tertekuk.
“Aku tak sudi melanjutkan permainan konyol ini,” gerutu pemuda itu.
“Itu artinya kau menyerah,” cemooh Ki Saptacakra.
“Suka-sukamulah, Ki. Toh, tak ada seorang pun yang menyaksikan kekalahanku...,” kata Andika, lesu.
“Jadi kau mau menerima warisanku, kan?” Ki Saptacakra tersenyum geli. Sedangkan Andika makin menekuk wajah.
“Tapi sebelum menerimanya, kau harus berusaha mencari jalan keluar dari tempat ini,” kata Ki Saptacakra kembali. Wajahnya yang semula cerah karena tersenyum, kini mulai memutih lagi.
“Permainan macam apa lagi yang kau berikan padaku, Ki?” tanya Andika.
“Kalau begitu caranya, aku lebih suka tidak menerima warisanmu.”
Sementara, Andika terus mondar-mandir di depan Ki Saptacakra yang masih duduk tenang.
“Itu sama artinya kau tidak ingin keluar dari tempat ini.”
“Apa maksudmu?” Andika menghentikan langkahnya.
“Ya! Karena hanya dengan menerima persyaratanku tadi, kau bisa keluar dari tempat ini.
Sekaligus, menerima warisanku,” jelas Ki Saptacakra datar.
“Ini benar-benar menyebalkan! Menjengkelkan! Mendongkolkan!” umpat Andika seraya melanjutkan langkah.
Kembali pemuda itu mondar-mandir. Sementara, tangannya mengacak-ngacak rambut sendiri, seakan mulai dirasuki setan kudis.
“Aku tidak mau tinggal di tempat ini sepanjang hidup. Aku masih ingin makan tempe. Dan, aku juga mau kimpoi!” teriak Andika.
“Kalau begitu, cari jalan keluarnya. Aku akan melanjutkan semadiku,” ujar Ki Saptacakra.
Laki-laki tua itu seperti tidak mengindahkan kesewotan Andika yang memuncak. Matanya kembali terpejam, lalu perlahan napasnya tak terdengar.
“Hei, Ki. Kau harus memberitahuku jalan keluar dari tempat ini.”
Tapi, Ki Saptacakra sudah larut kembali dalam kekhusyukan semadinya.
“Aku tak ingin kurang ajar dengan orang tua sepertimu, Ki. Tapi kau mempermainkanku, maaf kalau aku sampai memakimu.... Setan Belang! Kentut Tuyul! Tua bangka brengsek, kau!”
Telah dua hari dua malam Andika terkurung di dalam goa, tempat Ki Saptacakra bersemadi. Selama itu, tak ada sepotong makanan pun yang dapat dimakan, kecuali menelan air yang merembas diantara dinding cadas. Selama itu pula, dia telah berusaha mencari jalan keluar. Tentu saja hasilnya sia-sia.
Kini Andika terduduk lesu di salah satu sudut ruangan. Dipandangnya Ki Saptacakra dengan tatapan kesal. Kalau saja masih punya tenaga, akan dimakinya orang tua yang tetap tenang dalam semadi itu. Sekarang, jangankan untuk berteriak-teriak mengumpat. Untuk berdiri saja, dia sudah begitu lemah. Perutnya yang kosong jelas membuatnya demikian.
Berkali-kali Andika menarik napas, melepas rasa putus asa yang mulai menelusup dalam rongga hatinya. Untunglah dia anak muda keras kepala. Meski tubuhnya sudah lemas, namun otaknya masih tetap bekerja.
“Kalau aku mencoba keluar dari lubang yang mem-bawa tubuhku ke tempat ini, belum tentu masih terbuka. Bisa saja lubang itu telah tertimbun reruntuhan tanah kembali. Apa mungkin tidak ada jalan keluar lagi? Ah, mustahil! Udara yang tetap sejuk dan tak pengap di ruangan ini jelas membuktikan kalau ada bagian terbuka yang menjadi tempat keluar masuknya udara. Itu pasti pintu keluar yang dimaksud orang tua brengsek ini. Tapi di mana?” gumam Andika, bicara pada diri sendiri.
Lama pemuda itu memutar otak, mencari kemungkinan letak pintu keluar. Sampai suatu saat, matanya terantuk pada meja catur di depan Ki Saptacakra.
“Catur itu!” pekik pemuda itu girang.
“Langkah-langkah catur itu pasti petunjuk menuju jalan keluar!”
Bergegas Andika menghampiri meja catur kembali. Diperhatikannya buah catur di atasnya. Tampak buah catur hitam milik Ki Saptacakra dalam keadaan terdesak. Rajanya terancam dalam beberapa jurus. Otaknya yang memang cerdas mulai berjalan lagi.
“Dengan membebaskan buah raja, pasti aku akan mendapat arah menuju pintu keluar,” gumam pemuda itu yakin.
Mulailah pemuda itu mereka-reka buah catur yang mana yang harus digerakkan untuk menyelamatkan buah raja. Beberapa waktu kemudian....
“Dapat!”
Segera tangan pemuda itu bergerak menuju buah catur. Kali ini tak ada kesulitan dalam mengangkat buah catur itu. Setelah memindahkan beberapa buah catur, Andika dapat membebaskan buah raja yang terancam.
“Kuda makan prajurit. Prajurit maju satu langkah, perdana menteri selangkah ke kanan, dan raja maju selangkah ke depan,” bisik Andika, mengingat-ingat.
Tak lama, Andika bangkit berdiri. Dan dia mulai melangkah sesuai langkah catur yang telah dijalankannya. Sampai akhirnya, berdiri tepat di belakang tubuh Ki Saptacakra.
“Sekarang bagaimana lagi?” gumam pemuda itu.
Andika terdiam dengan otak mereka-reka kembali. Matanya menyipit. Sementara telunjuk tangan kanannya menempel di pelipis.
“Tanah yang kupijak ini pasti merupakan kunci pembuka jalan keluar.”
Andika memperhatikan tanah tempat yang dipijaknya. Semakin diperhatikan, semakin tampak jelas kalau ada bagian yang menjorok ke dalam di tanah itu. Dan bagian itu segera diinjaknya. Kemudian....
Grrr!
Dinding di sisi kiri Andika perlahan terkuak, memperdengarkan deram bagai geraman naga.
“Yah! Aku berhasil, Ki! Aku berhasil! Aku bisa kimpoi!” teriak Andika seperti orang gila.
Kakinya cepat melangkah mendekati Ki Saptacakra. Andika menjulurkan kedua tangannya, memegang bahu Ki Saptacakra.
“Ki...! Hei, Ki! Aku berhasil!” seru Andika seraya menggoyang-goyangkan tubuh Ki Saptacakra. Namun, tubuh Ki Saptacakra tetap terdiam seperti patung.
“Aaah! Kau jangan berpura-pura mati lagi, Ki! Aku sudah tahu....”
Ketika tangan Andika melepaskan tubuh orang tua itu, Ki Saptacakra terjatuh dari duduknya dalam keadaan kaku.
“Ki....”
Andika berhasil keluar dari tempat Ki Saptacakra, dan segera memasuki sebuah ruang lain dengan melewati pintu batu yang terbuka, setelah menginjak bagian yang menjorok ke bawah. Di ruangan yang baru dimasukinya itu, Andika melihat sebuah kolam alam kecil seperti dalam Goa Lembah Kutukan. Kalau tepian kolam di Goa Lembah Kutukan dipenuhi tumbuhan berbuah seperti tomat, maka di ruang ini tepian kolam itu dipenuhi peti-peti berukir.
Pemuda itu segera melangkah mendekati tepi kolam. Tubuhnya segera membungkuk, mengambil sebuah peti. Begitu seterusnya. Dan setiap kali satu peti dibuka, mata pemuda itu terbelalak lebar. Andika benar-benar terperangah, karena peti-peti itu ternyata berisi tumpukan emas permata. Dan pada peti terakhir yang dibukanya, ternyata ada satu peti yang isinya berbeda. Di dalamnya hanya ada buah ranum berwarna hijau pekat, sebesar
kepalan tangan. Saat itu Andika benar-benar dibuat bingung. Apa maksud Ki Saptacakra dengan mengatakan kalau mau memberi warisan? Kalau emas permata yang bertumpuk dalam peti, Andika benar-benar tak berminat. Sebab disadari banyak manusia yang menjadi bejat karena harta.
Otak Andika sudah demikian lelah diperas terus-menerus untuk memecahkan teka-teki agar dapat keluar dari ruang semadi Ki Saptacakra. Sehingga, dia tidak peduli lagi dengan warisan yang dikatakan orang tua itu. Yang jelas, dia ingin secepatnya pergi dari tempat itu. Apalagi, perutnya terasa sangat lapar, maka tanpa pikir panjang, tangannya langsung mengambil buah dari peti itu. Sebentar kemudian, mulutnya telah mengunyah dengan nikmat.
Tanpa disadari, Andika sebenarnya telah memakan buah langka bernama Inti Petir. Buah itu tumbuh di Lembah Kutukan dalam waktu seratus tahun sekali. Seseorang yang memakan buah berwarna merah yang tumbuh di Goa Lembah Kutukan, sekaligus memakan buah hijau dari dalam peti itu, tubuhnya akan mampu menyerap kekuatan petir! Sesungguhnya, itulah yang hendak diwariskan Ki Saptacakra alias Pendekar Lembah Kutukan yang telah menjadi cerita rakyat.
Ketika menemukan buah Inti Petir, Ki Saptacakra sudah mulai menyingkir dari hingar-bingar dunia persilatan. Dia kemudian bersemadi berpuluh tahun. Tujuannya adalah memohon pada Tuhan, agar diberi kesempatan untuk bertemu salah seorang keturunannya yang akan diwarisi buah langka itu. Sebagai salah seorang keturunan Ki Saptacakra, Andika beruntung. Hanya dia yang rupanya dapat bertemu langsung dengan buyutnya yang sudah menjadi dongeng kepahlawanan itu. Sekaligus menerima warisan terakhirnya yang amat dahsyat!
Maka ketika Andika telah berhasil membuka pintu batu dalam ruang semadinya, Ki Saptacakra pun menyerahkan jiwanya ke hadirat Tuhan. Dia wafat bersama senyum puas di bibir keriputnya.
Setelah perutnya tidak lapar lagi, Andika harus menemui jalan keluar kembali. Sebentar matanya beredar ke sekeliling ruang yang hanya diterangi nyala obor yang terpancar di dinding. Sebenarnya, pemuda itu heran juga, karena obor itu seperti tak kunjung padam. Pemuda itu jadi tertarik, kemudian mendekati obor. Lalu, diraihnya tangkai obor. Dan begitu tangannya mencabut obor, tiba-tiba....
Derrr!
Mendadak, dinding batu cadas di hadapan Andika bergeser ke kiri bersama obor yang baru saja ditarik. Perlahan-lahan dinding itu bergerak, hingga akhirnya membentuk lubang yang menembus langsung ke dunia luar.
“He?!”
Andika terhenyak kaget. Buru-buru kakinya melangkah, mendekati lubang itu. Tubuhnya lalu membungkuk, karena lubang itu hanya setinggi anak kecil berusia tujuh tahun, dengan lebar tak lebih dari setengah tombak. Dan begitu diterobos, ternyata Andika telah berada di puncak bukit, di atas Lembah Kutukan!
Di kaki langit sebelah timur, matahari tersembul memantulkan sinar rona jingga. Ayam jantan liar mengumandangkan kokoknya yang gagah, menyapa hari di ambang pagi. Gumpalan awan berarak di cakrawala. Sementara, tiupan angin sejuk melengkapi lahirnya hari ini.
Dalam terpaan lembut hawa pagi, Andika mematung di puncak bukit yang memagari Lembah Kutukan. Tubuhnya terlihat bagai tonggak kayu tak bernyawa saja. Di bawah sana, di Lembah Kutukan, dia telah menyelesaikan masa penyempurnaannya sebagai seorang pendekar dari Lembah Kutukan.
Ya! Penyempurnaan dirinya memang telah selesai. Tapi hatinya tak pernah berhenti bertanya, “Benarkah aku telah benar-benar sempurna?”
Andika takut kalau telah melalaikan sesuatu saat di Lembah Kutukan, hingga tidak mampu mengemban amanat yang diserahkan padanya. Sementara amanat tersebut bukanlah sesuatu yang ringan. Panji-panji keadilan dan kebenaran harus ditegakkan. Betapa takut Andika jika ternyata gagal dalam tugas suci itu, hanya karena kelalaiannya dalam menjalani penyempurnaan.
“Telah sempurnakah aku?!” bisik hati pemuda itu.
Namun sisi hatinya yang lain berbisik, kalau penyempurnaan kedigdayaan yang telah dilakukannya di Lembah Kutukan memang tidak menjamin. Bukankah di dunia ini tak ada manusia yang sempurna?
“Ya! Aku tak perlu mengkhawatirkan kegagalan dalam setiap langkah perjuanganku. Yang penting aku mesti melaksanakan yang terbaik sebatas kemampuan,” tekad batin Andika dalam bisik samar yang tersapu angin lalu. Kakinya mulai melangkah menuruni pegunungan berbatu.
Siang di Desa Sariadi. Pasar di tengah desa itu masih ramai oleh kesibukan. Para pedagang tetap gigih menjajakan barang, meski sinar matahari terus menusuk di atas kepala. Sama halnya para pembeli yang datang kesiangan. Mereka menyatu dalam satu
irama bising.
Di antara orang-orang yang lalu-lalang, tampak seorang pemuda berjubah putih yang sudah sangat lusuh. Dan orang itu ternyata Andika yang baru saja tiba di desa ini. Penampilannya amat tak sedap dipandang. Jubah peninggalan Ki Saptacakra yang dikenakannya sudah seperti kain lusuh. Di samping karena sering dibakar sambaran petir ketika di Lembah Kutukan, juga karena selama dia menciptakan jurus-jurus silat. Gerakannya yang dahsyat, berkali-kali mengoyak pakaiannya.
Langkah pemuda itu tampak gontai ketika memasuki bagian pasar yang agak ramai. Di kanan kirinya, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing tanpa mempedulikan kehadirannya. Barang-kali mereka sudah terlalu sering menemukan pengemis yang berpakaian compang-camping seperti Andika di pasar ini.
Andika tidak tahu, apa tujuannya ke pasar yang memusingkan ini. Bahkan tidak tahu ke mana tujuannya yang pasti. Dia hanya ingin berjalan sampai benaknya menemukan rencana untuk memulai tugas yang diemban. Lebih jauh memasuki pasar, beberapa pedagang yang tak mendapat pembeli memperhatikan Andika. Mereka berbisik satu sama lain, lalu memperdengarkan tawa tertahan sampai ke telinga Andika.
Makin memasuki pasar, makin banyak orang yang memperhatikannya. Seakan-akan dirinya adalah tontonan menarik. Sialnya lagi, ada beberapa orang yang tak sungkan-sungkan tertawa terbahak-bahak persis di depan hidung Andika. Jelas saja Andika kebingungan. Alis legamnya terangkat tinggi. Sementara, tangannya terangkat ke
depan dada dengan telapak terbuka, seperti hendak bertanya.
“Hua ha ha...! Pengemis sinting!” ledek seorang pedagang sayur.
“Pengemis? Sinting pula? Sialan! Mimpi apa semalam, sampai orang menganggap aku pengemis sinting...,” gumam Andika dongkol.
Kedongkolan Andika makin memuncak tatkala banyak gadis cantik yang terkikik menahan tawa, saat melihat dirinya. Wajahnya yang tirus dan agak pucat, mendadak merah matang. Hidungnya pun sudah kembang-kempis seperti hidung kelinci. Rasanya, saat itu dia ingin mendengus berkali-kali agar panas dalam dirinya bisa terbuang.
“Apa salahku?!” bentak Andika tiba-tiba.
Dua gadis desa yang menggendong bakul sayur langsung terlonjak kaget. Wajah mereka meringis ngeri, saat menemukan mata Andika membelalak sejadi-jadinya.
“Kalau kalian naksir aku, kenapa tidak bicara langsung saja?! Atau kalian tidak pernah menemukan lelaki setampan aku?” omel Andika seraya mencak-mencak.
Dua gadis desa itu menatap Andika takut-takut, dengan wajah pucat.
“Maaf, Kang. Anu...,” kata salah seorang gadis, mencoba menjawab.
“Anunya siapa?! Eh, anu apa?!” potong Andika, galak.
Gadis itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, karena mulutnya sibuk menelan ludah. Hanya jari tangannya saja yang bergerak, menunjuk bagian belakang tubuh Andika. Setelah itu, tubuhnya langsung berbalik dan kabur bersama kawannya yang menjerit-jerit minta ditunggu.
“Hei! Tunggu!” seru Andika.
Namun, mereka makin tunggang-langgang. Sementara, puluhan pasang mata lain memandang Andika dengan takut. Sedangkan Andika hanya terbengong-bengong. Lalu, tangan kirinya mencoba meraba pantatnya.
“Kutu koreng! Rupanya ini penyakitnya,” gerutu Andika.
“Tentu kain ini tersangkut di ikat pinggangku sewaktu membopong tubuh Ki Saptacakra untuk dikuburkan.”
Pantas saja mereka menganggap Andika sebagai orang sinting. Bagaimana tidak? Ternyata persis di pantatnya menjulur kain bercorak papan catur yang terlihat seperti ekor. Kain itulah yang dimaksud gadis tadi. Andika menggoyang-goyangkan pantatnya, mem-buat kain itu bergerak-gerak gemulai.
“Ah! Ekor kuda pun tak sebagus ekorku,” gumam pemuda itu, menghibur diri di sela kejengkelan.
Setelah kain alas catur milik Ki Saptacakra dipindahkan ke bahu, Andika melanjutkan langkahnya. Tidak dipedulikannya lagi beberapa orang yang masih menertawakan di sepanjang jalan. Perutnya sudah berontak minta diisi. Menurutnya, perut inilah yang lebih baik diurus.
Belum sempat menemukan kedai nasi, Andika dikejutkan oleh kegaduhan yang mendadak tercipta beberapa puluh tombak di belakangnya. Semula pemuda berpenampilan mengharukan ini tidak peduli. Karena dipikirnya, orang-orang di pasar mulai meledek lagi. Tapi ketika keramaian itu diwarnai jeritan-jeritan ngeri, tubuhnya lantas ber-balik.
Dan….,,,
Andika segera melepaskan genggaman tangannya pada buah catur tadi dengan wajah tertekuk.
“Aku tak sudi melanjutkan permainan konyol ini,” gerutu pemuda itu.
“Itu artinya kau menyerah,” cemooh Ki Saptacakra.
“Suka-sukamulah, Ki. Toh, tak ada seorang pun yang menyaksikan kekalahanku...,” kata Andika, lesu.
“Jadi kau mau menerima warisanku, kan?” Ki Saptacakra tersenyum geli. Sedangkan Andika makin menekuk wajah.
“Tapi sebelum menerimanya, kau harus berusaha mencari jalan keluar dari tempat ini,” kata Ki Saptacakra kembali. Wajahnya yang semula cerah karena tersenyum, kini mulai memutih lagi.
“Permainan macam apa lagi yang kau berikan padaku, Ki?” tanya Andika.
“Kalau begitu caranya, aku lebih suka tidak menerima warisanmu.”
Sementara, Andika terus mondar-mandir di depan Ki Saptacakra yang masih duduk tenang.
“Itu sama artinya kau tidak ingin keluar dari tempat ini.”
“Apa maksudmu?” Andika menghentikan langkahnya.
“Ya! Karena hanya dengan menerima persyaratanku tadi, kau bisa keluar dari tempat ini.
Sekaligus, menerima warisanku,” jelas Ki Saptacakra datar.
“Ini benar-benar menyebalkan! Menjengkelkan! Mendongkolkan!” umpat Andika seraya melanjutkan langkah.
Kembali pemuda itu mondar-mandir. Sementara, tangannya mengacak-ngacak rambut sendiri, seakan mulai dirasuki setan kudis.
“Aku tidak mau tinggal di tempat ini sepanjang hidup. Aku masih ingin makan tempe. Dan, aku juga mau kimpoi!” teriak Andika.
“Kalau begitu, cari jalan keluarnya. Aku akan melanjutkan semadiku,” ujar Ki Saptacakra.
Laki-laki tua itu seperti tidak mengindahkan kesewotan Andika yang memuncak. Matanya kembali terpejam, lalu perlahan napasnya tak terdengar.
“Hei, Ki. Kau harus memberitahuku jalan keluar dari tempat ini.”
Tapi, Ki Saptacakra sudah larut kembali dalam kekhusyukan semadinya.
“Aku tak ingin kurang ajar dengan orang tua sepertimu, Ki. Tapi kau mempermainkanku, maaf kalau aku sampai memakimu.... Setan Belang! Kentut Tuyul! Tua bangka brengsek, kau!”
***
Telah dua hari dua malam Andika terkurung di dalam goa, tempat Ki Saptacakra bersemadi. Selama itu, tak ada sepotong makanan pun yang dapat dimakan, kecuali menelan air yang merembas diantara dinding cadas. Selama itu pula, dia telah berusaha mencari jalan keluar. Tentu saja hasilnya sia-sia.
Kini Andika terduduk lesu di salah satu sudut ruangan. Dipandangnya Ki Saptacakra dengan tatapan kesal. Kalau saja masih punya tenaga, akan dimakinya orang tua yang tetap tenang dalam semadi itu. Sekarang, jangankan untuk berteriak-teriak mengumpat. Untuk berdiri saja, dia sudah begitu lemah. Perutnya yang kosong jelas membuatnya demikian.
Berkali-kali Andika menarik napas, melepas rasa putus asa yang mulai menelusup dalam rongga hatinya. Untunglah dia anak muda keras kepala. Meski tubuhnya sudah lemas, namun otaknya masih tetap bekerja.
“Kalau aku mencoba keluar dari lubang yang mem-bawa tubuhku ke tempat ini, belum tentu masih terbuka. Bisa saja lubang itu telah tertimbun reruntuhan tanah kembali. Apa mungkin tidak ada jalan keluar lagi? Ah, mustahil! Udara yang tetap sejuk dan tak pengap di ruangan ini jelas membuktikan kalau ada bagian terbuka yang menjadi tempat keluar masuknya udara. Itu pasti pintu keluar yang dimaksud orang tua brengsek ini. Tapi di mana?” gumam Andika, bicara pada diri sendiri.
Lama pemuda itu memutar otak, mencari kemungkinan letak pintu keluar. Sampai suatu saat, matanya terantuk pada meja catur di depan Ki Saptacakra.
“Catur itu!” pekik pemuda itu girang.
“Langkah-langkah catur itu pasti petunjuk menuju jalan keluar!”
Bergegas Andika menghampiri meja catur kembali. Diperhatikannya buah catur di atasnya. Tampak buah catur hitam milik Ki Saptacakra dalam keadaan terdesak. Rajanya terancam dalam beberapa jurus. Otaknya yang memang cerdas mulai berjalan lagi.
“Dengan membebaskan buah raja, pasti aku akan mendapat arah menuju pintu keluar,” gumam pemuda itu yakin.
Mulailah pemuda itu mereka-reka buah catur yang mana yang harus digerakkan untuk menyelamatkan buah raja. Beberapa waktu kemudian....
“Dapat!”
Segera tangan pemuda itu bergerak menuju buah catur. Kali ini tak ada kesulitan dalam mengangkat buah catur itu. Setelah memindahkan beberapa buah catur, Andika dapat membebaskan buah raja yang terancam.
“Kuda makan prajurit. Prajurit maju satu langkah, perdana menteri selangkah ke kanan, dan raja maju selangkah ke depan,” bisik Andika, mengingat-ingat.
Tak lama, Andika bangkit berdiri. Dan dia mulai melangkah sesuai langkah catur yang telah dijalankannya. Sampai akhirnya, berdiri tepat di belakang tubuh Ki Saptacakra.
“Sekarang bagaimana lagi?” gumam pemuda itu.
Andika terdiam dengan otak mereka-reka kembali. Matanya menyipit. Sementara telunjuk tangan kanannya menempel di pelipis.
“Tanah yang kupijak ini pasti merupakan kunci pembuka jalan keluar.”
Andika memperhatikan tanah tempat yang dipijaknya. Semakin diperhatikan, semakin tampak jelas kalau ada bagian yang menjorok ke dalam di tanah itu. Dan bagian itu segera diinjaknya. Kemudian....
Grrr!
Dinding di sisi kiri Andika perlahan terkuak, memperdengarkan deram bagai geraman naga.
“Yah! Aku berhasil, Ki! Aku berhasil! Aku bisa kimpoi!” teriak Andika seperti orang gila.
Kakinya cepat melangkah mendekati Ki Saptacakra. Andika menjulurkan kedua tangannya, memegang bahu Ki Saptacakra.
“Ki...! Hei, Ki! Aku berhasil!” seru Andika seraya menggoyang-goyangkan tubuh Ki Saptacakra. Namun, tubuh Ki Saptacakra tetap terdiam seperti patung.
“Aaah! Kau jangan berpura-pura mati lagi, Ki! Aku sudah tahu....”
Ketika tangan Andika melepaskan tubuh orang tua itu, Ki Saptacakra terjatuh dari duduknya dalam keadaan kaku.
“Ki....”
***
Andika berhasil keluar dari tempat Ki Saptacakra, dan segera memasuki sebuah ruang lain dengan melewati pintu batu yang terbuka, setelah menginjak bagian yang menjorok ke bawah. Di ruangan yang baru dimasukinya itu, Andika melihat sebuah kolam alam kecil seperti dalam Goa Lembah Kutukan. Kalau tepian kolam di Goa Lembah Kutukan dipenuhi tumbuhan berbuah seperti tomat, maka di ruang ini tepian kolam itu dipenuhi peti-peti berukir.
Pemuda itu segera melangkah mendekati tepi kolam. Tubuhnya segera membungkuk, mengambil sebuah peti. Begitu seterusnya. Dan setiap kali satu peti dibuka, mata pemuda itu terbelalak lebar. Andika benar-benar terperangah, karena peti-peti itu ternyata berisi tumpukan emas permata. Dan pada peti terakhir yang dibukanya, ternyata ada satu peti yang isinya berbeda. Di dalamnya hanya ada buah ranum berwarna hijau pekat, sebesar
kepalan tangan. Saat itu Andika benar-benar dibuat bingung. Apa maksud Ki Saptacakra dengan mengatakan kalau mau memberi warisan? Kalau emas permata yang bertumpuk dalam peti, Andika benar-benar tak berminat. Sebab disadari banyak manusia yang menjadi bejat karena harta.
Otak Andika sudah demikian lelah diperas terus-menerus untuk memecahkan teka-teki agar dapat keluar dari ruang semadi Ki Saptacakra. Sehingga, dia tidak peduli lagi dengan warisan yang dikatakan orang tua itu. Yang jelas, dia ingin secepatnya pergi dari tempat itu. Apalagi, perutnya terasa sangat lapar, maka tanpa pikir panjang, tangannya langsung mengambil buah dari peti itu. Sebentar kemudian, mulutnya telah mengunyah dengan nikmat.
Tanpa disadari, Andika sebenarnya telah memakan buah langka bernama Inti Petir. Buah itu tumbuh di Lembah Kutukan dalam waktu seratus tahun sekali. Seseorang yang memakan buah berwarna merah yang tumbuh di Goa Lembah Kutukan, sekaligus memakan buah hijau dari dalam peti itu, tubuhnya akan mampu menyerap kekuatan petir! Sesungguhnya, itulah yang hendak diwariskan Ki Saptacakra alias Pendekar Lembah Kutukan yang telah menjadi cerita rakyat.
Ketika menemukan buah Inti Petir, Ki Saptacakra sudah mulai menyingkir dari hingar-bingar dunia persilatan. Dia kemudian bersemadi berpuluh tahun. Tujuannya adalah memohon pada Tuhan, agar diberi kesempatan untuk bertemu salah seorang keturunannya yang akan diwarisi buah langka itu. Sebagai salah seorang keturunan Ki Saptacakra, Andika beruntung. Hanya dia yang rupanya dapat bertemu langsung dengan buyutnya yang sudah menjadi dongeng kepahlawanan itu. Sekaligus menerima warisan terakhirnya yang amat dahsyat!
Maka ketika Andika telah berhasil membuka pintu batu dalam ruang semadinya, Ki Saptacakra pun menyerahkan jiwanya ke hadirat Tuhan. Dia wafat bersama senyum puas di bibir keriputnya.
Setelah perutnya tidak lapar lagi, Andika harus menemui jalan keluar kembali. Sebentar matanya beredar ke sekeliling ruang yang hanya diterangi nyala obor yang terpancar di dinding. Sebenarnya, pemuda itu heran juga, karena obor itu seperti tak kunjung padam. Pemuda itu jadi tertarik, kemudian mendekati obor. Lalu, diraihnya tangkai obor. Dan begitu tangannya mencabut obor, tiba-tiba....
Derrr!
Mendadak, dinding batu cadas di hadapan Andika bergeser ke kiri bersama obor yang baru saja ditarik. Perlahan-lahan dinding itu bergerak, hingga akhirnya membentuk lubang yang menembus langsung ke dunia luar.
“He?!”
Andika terhenyak kaget. Buru-buru kakinya melangkah, mendekati lubang itu. Tubuhnya lalu membungkuk, karena lubang itu hanya setinggi anak kecil berusia tujuh tahun, dengan lebar tak lebih dari setengah tombak. Dan begitu diterobos, ternyata Andika telah berada di puncak bukit, di atas Lembah Kutukan!
***
Di kaki langit sebelah timur, matahari tersembul memantulkan sinar rona jingga. Ayam jantan liar mengumandangkan kokoknya yang gagah, menyapa hari di ambang pagi. Gumpalan awan berarak di cakrawala. Sementara, tiupan angin sejuk melengkapi lahirnya hari ini.
Dalam terpaan lembut hawa pagi, Andika mematung di puncak bukit yang memagari Lembah Kutukan. Tubuhnya terlihat bagai tonggak kayu tak bernyawa saja. Di bawah sana, di Lembah Kutukan, dia telah menyelesaikan masa penyempurnaannya sebagai seorang pendekar dari Lembah Kutukan.
Ya! Penyempurnaan dirinya memang telah selesai. Tapi hatinya tak pernah berhenti bertanya, “Benarkah aku telah benar-benar sempurna?”
Andika takut kalau telah melalaikan sesuatu saat di Lembah Kutukan, hingga tidak mampu mengemban amanat yang diserahkan padanya. Sementara amanat tersebut bukanlah sesuatu yang ringan. Panji-panji keadilan dan kebenaran harus ditegakkan. Betapa takut Andika jika ternyata gagal dalam tugas suci itu, hanya karena kelalaiannya dalam menjalani penyempurnaan.
“Telah sempurnakah aku?!” bisik hati pemuda itu.
Namun sisi hatinya yang lain berbisik, kalau penyempurnaan kedigdayaan yang telah dilakukannya di Lembah Kutukan memang tidak menjamin. Bukankah di dunia ini tak ada manusia yang sempurna?
“Ya! Aku tak perlu mengkhawatirkan kegagalan dalam setiap langkah perjuanganku. Yang penting aku mesti melaksanakan yang terbaik sebatas kemampuan,” tekad batin Andika dalam bisik samar yang tersapu angin lalu. Kakinya mulai melangkah menuruni pegunungan berbatu.
***
Siang di Desa Sariadi. Pasar di tengah desa itu masih ramai oleh kesibukan. Para pedagang tetap gigih menjajakan barang, meski sinar matahari terus menusuk di atas kepala. Sama halnya para pembeli yang datang kesiangan. Mereka menyatu dalam satu
irama bising.
Di antara orang-orang yang lalu-lalang, tampak seorang pemuda berjubah putih yang sudah sangat lusuh. Dan orang itu ternyata Andika yang baru saja tiba di desa ini. Penampilannya amat tak sedap dipandang. Jubah peninggalan Ki Saptacakra yang dikenakannya sudah seperti kain lusuh. Di samping karena sering dibakar sambaran petir ketika di Lembah Kutukan, juga karena selama dia menciptakan jurus-jurus silat. Gerakannya yang dahsyat, berkali-kali mengoyak pakaiannya.
Langkah pemuda itu tampak gontai ketika memasuki bagian pasar yang agak ramai. Di kanan kirinya, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing tanpa mempedulikan kehadirannya. Barang-kali mereka sudah terlalu sering menemukan pengemis yang berpakaian compang-camping seperti Andika di pasar ini.
Andika tidak tahu, apa tujuannya ke pasar yang memusingkan ini. Bahkan tidak tahu ke mana tujuannya yang pasti. Dia hanya ingin berjalan sampai benaknya menemukan rencana untuk memulai tugas yang diemban. Lebih jauh memasuki pasar, beberapa pedagang yang tak mendapat pembeli memperhatikan Andika. Mereka berbisik satu sama lain, lalu memperdengarkan tawa tertahan sampai ke telinga Andika.
Makin memasuki pasar, makin banyak orang yang memperhatikannya. Seakan-akan dirinya adalah tontonan menarik. Sialnya lagi, ada beberapa orang yang tak sungkan-sungkan tertawa terbahak-bahak persis di depan hidung Andika. Jelas saja Andika kebingungan. Alis legamnya terangkat tinggi. Sementara, tangannya terangkat ke
depan dada dengan telapak terbuka, seperti hendak bertanya.
“Hua ha ha...! Pengemis sinting!” ledek seorang pedagang sayur.
“Pengemis? Sinting pula? Sialan! Mimpi apa semalam, sampai orang menganggap aku pengemis sinting...,” gumam Andika dongkol.
Kedongkolan Andika makin memuncak tatkala banyak gadis cantik yang terkikik menahan tawa, saat melihat dirinya. Wajahnya yang tirus dan agak pucat, mendadak merah matang. Hidungnya pun sudah kembang-kempis seperti hidung kelinci. Rasanya, saat itu dia ingin mendengus berkali-kali agar panas dalam dirinya bisa terbuang.
“Apa salahku?!” bentak Andika tiba-tiba.
Dua gadis desa yang menggendong bakul sayur langsung terlonjak kaget. Wajah mereka meringis ngeri, saat menemukan mata Andika membelalak sejadi-jadinya.
“Kalau kalian naksir aku, kenapa tidak bicara langsung saja?! Atau kalian tidak pernah menemukan lelaki setampan aku?” omel Andika seraya mencak-mencak.
Dua gadis desa itu menatap Andika takut-takut, dengan wajah pucat.
“Maaf, Kang. Anu...,” kata salah seorang gadis, mencoba menjawab.
“Anunya siapa?! Eh, anu apa?!” potong Andika, galak.
Gadis itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, karena mulutnya sibuk menelan ludah. Hanya jari tangannya saja yang bergerak, menunjuk bagian belakang tubuh Andika. Setelah itu, tubuhnya langsung berbalik dan kabur bersama kawannya yang menjerit-jerit minta ditunggu.
“Hei! Tunggu!” seru Andika.
Namun, mereka makin tunggang-langgang. Sementara, puluhan pasang mata lain memandang Andika dengan takut. Sedangkan Andika hanya terbengong-bengong. Lalu, tangan kirinya mencoba meraba pantatnya.
“Kutu koreng! Rupanya ini penyakitnya,” gerutu Andika.
“Tentu kain ini tersangkut di ikat pinggangku sewaktu membopong tubuh Ki Saptacakra untuk dikuburkan.”
Pantas saja mereka menganggap Andika sebagai orang sinting. Bagaimana tidak? Ternyata persis di pantatnya menjulur kain bercorak papan catur yang terlihat seperti ekor. Kain itulah yang dimaksud gadis tadi. Andika menggoyang-goyangkan pantatnya, mem-buat kain itu bergerak-gerak gemulai.
“Ah! Ekor kuda pun tak sebagus ekorku,” gumam pemuda itu, menghibur diri di sela kejengkelan.
Setelah kain alas catur milik Ki Saptacakra dipindahkan ke bahu, Andika melanjutkan langkahnya. Tidak dipedulikannya lagi beberapa orang yang masih menertawakan di sepanjang jalan. Perutnya sudah berontak minta diisi. Menurutnya, perut inilah yang lebih baik diurus.
Belum sempat menemukan kedai nasi, Andika dikejutkan oleh kegaduhan yang mendadak tercipta beberapa puluh tombak di belakangnya. Semula pemuda berpenampilan mengharukan ini tidak peduli. Karena dipikirnya, orang-orang di pasar mulai meledek lagi. Tapi ketika keramaian itu diwarnai jeritan-jeritan ngeri, tubuhnya lantas ber-balik.
Dan….,,,
0