Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#21
PART 8


Kami nongkrong di rumah Ikmal sampai sore. Sebelum pulang, kami udah janjian buat main billiard nanti malamnya, yang sebenarnya adalah rencana kami buat ngerjain salah satu dari kami. Dia ulang tahun udah dari dua minggu yang lalu.

Begitulah kebiasaannya, kami nggak akan ngerjain pas di hari-H. Selain udah terlalu biasa, pastinya rada susah juga. Orangnya pasti siaga penuh, bawaannya curigaan melulu. Makanya kami nunggu sampe pertahanannya kendor, dan kami sepakat nanti malamlah waktunya. Sejauh ini belum pernah ada yang selamat. Kalau aku sendiri waktu itu dikerjain biarpun ultahku udah kelewatan sebulan. Dan si Dani sendiri malahan udah dikerjain duluan, padahal ultahnya masih seminggu lagi.

Begitu nyampe di kos, kami langsung kordinasi lewat sms. Alasannya jelas. Kami nggak bisa mbahas itu di jalan karena pulangnya barengan sama si target. Sesuai kesepakatan, sekitar jam tujuh malam aku pun sudah akan berangkat. Tapi sebelum itu, aku lebih dulu nemuin bapak pemillik kos. Biasalah, urusan sewa.

“Permisiiii,” seruku dari pintu belakang. “Permisiii!” kuulangi lagi setelah tak mendengar respon. “Paaak!”

“Iya?!” beliau menyahut dari dalam. Sebentar kemudian beliau pun keluar. “Eh, Yohan, ada apa?”

“Ini Pak, mau bayar uang kos.”

“Ooo..iya iya. Ayo masuk dulu. Di dalam aja.”

“Iya Pak,” jawabku dan aku pun mengekor.

“Duduk dulu sana,” beliau menunjuk ruang tamu. Dia sudah lebih dulu memasuki ruang nonton sedangkan aku masih melewati dapur.

“Iya Pak,” jawabku. Dan ketika memasuki ke ruang nonton, aku langsung kaget. Rupanya ada Eljas di ruang tamu. Dia lagi duduk di sofa. Dia melihatku dan aku nggak berani melihatnya. Aku tetap berdiam di tempat sampai bapak kos keluar dari kamar dengan buku dan kwitansi di tangannya.

“Lho. Kenapa berdiri? Ayo duduk di sana,”

“Iya pak,” jawabku. Kalau boleh digambarkan, saat itu aku seperti disuruh memegang binatang liar yang dipelihara. Aman. Nggak bakal digigit.

Aku pun mengikuti bapak kos dan duduk di sebelah Eljas.

“Mau ke mana kamu rapi-rapi?” kata bapak kos sambil membolak-balik buku tersebut. Berisikan tempelan dari wajah para penghuni dengan ekspresi datarnya. Eljas diam. Dan ekor mataku membuatku yakin kalau aku sedang ditatapnya.

“Mau ke tempat temen Pak.”

“Sekolah gimana?”

“Lancar Pak,” jawabku lagi.

“Yohan Andreas,” eja beliau begitu menemukan halaman di mana kopian KTP-ku ditempelkan. “Mmmm...udah telat tiga hari ya?”

“Iya Pak. Maaf Pak soalnya baru dapat kiriman tadi,” jawabku. Bohong.

“Nggak apa-apa.”

“Ini Pak. Saya bayar buat dua bulan,” kataku sambil nyerahin uangnya. Beliau kemudian menulisi bukunya sebelum kwitansi.

“Iya. Makasih ya,” jawab beliau. Kami pun bertukar uang dan kwitansi.

“Ya udah Pak. Saya balik dulu ya,” Eljas bangkit dari sofa.

“Oh. Iya, iya,” jawab bapak kos.

Eljas kemudian pergi, dan bukan lewat pintu belakang tapi depan.

“Ya udah. Makasih ya Yo. Rajin-rajin kamu sekolahnya. Udah jauh-jauh juga.”

“Iya Pak.”

Aku hendak akan bangkit, tapi sekejap kemudian pikiranku berubah.

“Abang itu...tadi habis bayar kos juga Pak?” bicaraku sudah lebih pelan.

“Dia? Ya...sama. Kayak kamu juga.”

“Mmmm,” aku mengangguk. “Sebenarnya Abang itu kerja apa ya Pak?”

“Kalau nggak salah, dia pernah bilang kalau kerjanya itu jagain toko sepatu."

“Mmmm,” aku mengangguk. Aslinya aku nggak gitu percaya. Masa iya sih?

“Nggak ada masalah kan?”

“Enggak kok Pak. Nggak ada apa-apa Pak.”

“Tambah kamu jadinya lengkap. Soalnya yang nanyain bukan cuma kamu. Seisi kos ini juga gitu. Takutnya ada apa-apa, makanya saya pingin mastiin kalau sesama penghuni itu nggak ada masalah.”

“Nggak kok Pak. Nggak ada masalah apa-apa.”

“Ya sudah. Bagus kalau begitu. Ya udah, kamu tadi mau keluar toh? Ingat, jangan keasikan maen. Kasihan orang tua kamu.”

“Iya Pak. Ya sudah Pak. Saya pamit dulu. Makasih Pak.”

“Iya.”

***


Aku langsung berangkat ke tempat billiard. Ketika aku sampai jumlah anak-anak sudah lengkap semua. Saat itu Ikmal tengah bermain melawan Dani. Dani yang kalah kemudian digantikan oleh Jhon.

“Anjriiit. Keren, keren,” kata Jhon di tengah-tengah permainan. “Sah udah. The Master. Udah jago nelen asap, jago nyodok lagi.”

“Weh, ya dong.”

Ikmal menang lagi. Aku yang kemudian menggantikan Jhon malah memberikan kemenangan yang jauh lebih mudah. Aku kemudian diganti. Dan setelah 3 set kemudian, kami memutuskan untuk bermain bola delapan, jadinya bisa dua lawan dua. Pasangan yang kalah salah satunya harus diganti. Begitu terus hingga kami merasa bosan.

Setelah iuran buat membayar bill, kami pun keluar. Semuanya sudah siap.

Eksekusi pun terjadi di parkiran.

“Woywoywoywoy!” Choki kaget. Jhon tiba-tiba memiting lehernya. Kami pun membantu Jhon dengan memegangi Choki. Choki melawan sebisanya tapi sia-sia. Asli kami kayak lagi nenangin orang kesurupan. Choki ngelakuin apapun biar dia bisa lepas. Nendang-nendang, ngeludah, teriak-teriak minta tolong, tapi sia-sia. Kami jadi pusat perhatian dan orang-orang di parkiran mulai senyum-senyum.
Ikmal bergerak cepat selagi kami memegangi Choki. Lalu dia kembali dari motor dengan segulung tali plastik. Kami langsung mengikat pergelangan tangan dan kaki Choki. Setelahnya kami angkat dia ke tengah jalan, dan kami ikatkan badan juga lututnya di tiang rambu. Choki teriak-teriak minta ampun dan kami jelas nggak perduli. Dimulai dari yang standar, kami pun mulai memecahkan beberapa telur yang sudah kami siapkan di kepalanya. Lalu dilanjut dengan tepung dan minyak jelanta. Celana jeans Choki kami pelorotkan. Tepung dan minyaknya kemudian kami tuangkan juga ke dalam boxernya.

“Mantap, Chok. Tinggal digoreng aja ini udah,” Ikmal nampaknya puas sekali.

Jhon langsung menyisih sebentar ke pinggir jalan. Sementara sisanya mengabadikan Choki lewat foto dan video.

“Monggo teh angetnya Mas Choki,” Jhon yang kembali tahu-tahu langsung mengguyur.

“Siaal,” Choki ngumpat. Masih bisa senyum. Dan cuma soal waktu sampai ia menyadarinya. “ANJ#NGG! KENCING INI,” teriaknya sambil mengendus-endus. “PESING BANGET. TA#K! NGENT##T! ANJ#NG!! BANGS#T KAMU JHON! ANJ#NGG! TA#K! WUEEEK! WUEEEEK!!!!

Kami terus tertawa melihat Choki tersiksa. Semakin tersiksa si Choki, semakin lucu buat kami. Kesenangannya hampir sama dengan melihat teman gelagapan karena bau kentut kita.

Bosan menyiksa Choki, kami pun pulang. Dan tentunya kami udah persiapan. Kami udah atur supaya Choki bisa bawa motor sendirian. Masih dalam posisi terikat, kami mengambil motor dan berhenti di depannya. Kami bertiga di posisi siaga dan Ikmal turun untuk mendekati Choki. Malam itu kami udah nyiapin dua buah cutter di jok motor. Satunya diletakkan di bawah kaki Choki, satunya lagi dipakai Ikmal buat motongin beberapa tali di belakang badan Choki. Ikatan sudah longgar dan Choki langsung berontak.

Ikmal pun loncat ke boncengan.

“KABARIN KALO UDAH MANDI. KITA NONGKRONG LAGI. AWAS KAMU KALO NGGAK NRAKTIR!”

“BANGS#T! WOY JANGAN LARI KALIAN TA#K!” Choki masih berjuang ngedapetin pisaunya.

‘BABAAAAY!!!!”

***
ariefdias
pulaukapok
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.