Kaskus

Story

uclnAvatar border
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR
PENDEKAR SLEBOR


Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta



Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.

Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).

Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan

Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.

Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..

Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.

Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..

And Here We Go.....

I N D E K S


Spoiler for Indeks 1:



TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya


GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
anasabilaAvatar border
regmekujoAvatar border
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
uclnAvatar border
TS
ucln
#40
Part 10


Andika berusaha bangkit, tapi lantas tubuhnya limbung. Perlahan-lahan dia mencoba tegak. Mata tajam Andika menyambar langsung ke mata Begal Ireng, bagai seekor rajawali terluka.

Sebelum Andika sempat menggerakkan otot-ototnya yang mengejang untuk menyerang Begal Ireng, suatu benda keras mendadak menembus dada kiri bagian belakang. Dan bumi tiba-tiba terayun di mata Andika. Lalu,,,

gelap... gelap…

***


"Disorgakah aku?"

Pertanyaan pertama di hati Andika muncul, ketika matanya membuka. Pandangannya sedikit kabur. Tampak ruangan di sekitarnya berwarna merah menyala. Sebuah meja kayu jati berukir indah, berada tak jauh dari tempatnya tergeletak. Dari jendela besar di ruang itu, Andika dapat melihat taman indah, dilatarbelakangi deretan pegunungan. Pemuda tanggung itu mencoba bangkit. Tapi......

"Uuuh...," keluh Andika.

Memang masih terasa sakit di beberapa bagian di tubuhnya. Ketika merasa bagian dadanya, didapati kain putih membalut rapat.

“Berarti aku masih hidup. Tapi, di mana aku?" tanya Andika dalam hati.
"Kau sudah siuman, rupanya...."

Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya. Ketika Andika menoleh agak susah, tampaklah seseorang yang amat dikenalnya, baru saja masuk dari satu pintu.

"Ningrum?" bisik Andika ragu.

Perempuan itu tersenyum ramah. Sambil berjalan mendekati Andika.

"Bukan. Aku bukan Ningrum. Aku Ningsih, saudara kembarnya...," kata gadis yang baru datang.
Ternyata dia memang bukan Ningrum.

"Lalu...."
"Dia kutemukan tewas di depan sebuah kedai. Tergeletak tak jauh dari tubuhmu," jelas gadis yang mengaku bernama Ningsih, sebelumnAndika tuntas dengan pertanyaannya.

Dada Andika mendadak jadi bertambah sakit mendengar penjelasan itu. Rasanya seperti sayatan beribu sembilu. Napasnya sesak, tatkala membayangkan bagaimana Ningrum dihabisi Begal Ireng saat itu. Semua tentang diri gadis muda itu pun satu persatu tergambar jelas di benaknya. Keayuannya, pandangan matanya, kelembutannya....

"Ah! Mengapa dia harus mati? Ini semua salahku,"desah Andika, menyalahkan diri sendiri.
"Aku tak mau mendengar pertimbangannya waktu itu. Kalau saja aku mendengarnya, tentu dia tidak mati. Bodoh! Aku memang teramat bodoh!"
"Jangan salahkan dirimu. Kalau memang maut datang pada waktunya, tak ada seorang pun yang dapat menghindar," ucap Ningsih lembut.

Andika menatap gadis yang semula dikiranya Ningrum itu. Amat lekat.

"Kau mirip sekali dengan Ningrum."
"Kalau kau merasa lebih senang untuk mengang-gapku Ningrum, silakan saja," kata gadis itu seperti paham apa yang ada dalam pikiran Andika.

"Tapi kau tetap bukan Ningrum...," keluh Andika penuh rasa kehilangan.

Beberapa saat, setelah Andika mampu menguasai diri, barulah pikiran jernihnya mulai terbuka.

"Sekarang, di mana aku?" tanya Andika.
"Perguruan Naga Merah."
"'Penjaga Pintu”?
"Ya."
"Bagaimana kau bisa menemukan kami waktu itu?"
"Waktu itu, aku sedang memulai tugas dari guruku untuk menyusul Ningrum. Dia sudah begitu lama
meninggalkan tempat ini, namun belum ada kabar sedikitpun. Ketika melewati kota kabupaten, aku menemukanmu dan Ningrum," jelas Ningsih.

Andika mendapatkan suatu keganjilan dari penuturanNingsih.

"Hanya aku dan Ningrum? Lalu, bagaimana nasib Purwasih, si Naga Wanita itu?" Andika bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Sesaat kening pemuda tanggung itu berkerut, memikirkan kejadian yang menimpanya. Dia berusaha meyakinkan diri, kalau saat itu ada gadis lain yang bersamanya.

"Kau yakin tidak melihat wanita lain, selain saudara kembarmu itu?" tanya Andika lagi.

Gadis seayu dan seanggun Ningrum di hadapannya menggelengkan kepala.

"Aneh!" gumam Andika.
"Apakah dia ditahan Begal Ireng? Kalau melarikan diri, rasanya tak mungkin untuk pendekar wanita macam dia."
"Boleh aku tanya sesuatu...."
"Andika," potong Andika, memperkenalkan diri agar Ningsih tidak begitu canggung memanggilnya.
"Boleh aku tanya sesuatu, Andika?" ulang Ningsih.
Andika mengangguk.
"Ada urusan apa sebenarnya kau dengan Naga Wanita?" tanya Ningsih, sehingga membuat Andika heran.

"Dari mana kau tahu?"

Ningsih lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian berwarna putih bersulam naga merah miliknya. Tampak sebuah belati berukir naga tanpa gagang. Pang-kalnya hanya diberi semacam pita berwarna keemasan.

"Senjata rahasia Naga Wanita ini kutemukan menembus punggungmu...."
"Apa?!" Andika membelalakkan matanya.
"Sedikit saja benda ini menembus lebih ke bawah, maka jantungmu berhenti bekerja. Untung hal itu tak terjadi," lanjut Ningsih.

Andika jadi bingung. Timbullah pertanyaan dalam hatinya, "Kenapa Purwasih ingin membunuhnya? Benarkah dia sungguh-sungguh orang kepercayaan prabu? Atau, dia adalah salah seorang kaki tangan Begal Ireng yang telah berusaha menggiring dirinya dan Ningrum ke kedai itu, agar dapat dihabisi?"

Dada Andika jadi sesak kembali. Pukulan telak Begal Ireng rupanya membuat luka dalam yang cukup parah didadanya. Dan seketika mulutnya memperdengarkan erangan tertahan. Sedangkan tangannya meraba dadanya yang sakit.

“Istirahatlah dulu, Andika. Luka dalammu mungkin baru akan sembuh lima hari ini dengan obat-obatan kami,"

saran Ningsih seraya memberi seulas senyum bening pada Andika. Mirip sekali dengan senyum Ningrum yang amat dikagumi Andika.

***


Lembah Kutukan memang tempat yang mengerikan. Dari namanya saja, orang bisa saja memperkirakan kalau tempat itu menyeramkan. Kenyataannya, bahkan lebih menyeramkan dari bayangan orang. Dan di tempat itulah Andika akan menjalani penyempurnaan ilmu ke saktiannya.

Dari bangunan Perguruan Naga Merah yang diapit dua bukit terjal yang membentuk gerbang masuk ke Lembah Kutukan. Andika dilepas oleh guru Perguruan Naga Merah. Dia adalah seorang wanita tua berwibawa. Dan keluarga wanita tua berjuluk Naga Biru itu adalah sahabat turun-temurun keluarga Pendekar Lembah Kutukan. Tugasnya adalah menjaga pintu masuk Lembah Kutukan, sekaligus mengantar setiap keturunan pewaris kesaktian Pendekar Lembah Kutukan untuk menjalani penyempurnaan.

"Ikuti terus celah yang diapit bukit yang memanjang ini," pesan Naga Biru.
"Setelah kau sampai pada suatu lembah yang dikelilingi gunung, bersiaplah untuk melewatinya. Itulah Lembah Kutukan yang tak pernah ada satu manusia pun berhasil melaluinya, kecuali para pewaris kesaktian Pendekar Lembah Kutukan."

Sejenak wanita itu menatap Andika, lalu kembali menatap ke arah Lembah Kutukan.

“Persiapkan seluruh kesaktian yang telah diwarisi padamu untuk melewatinya hingga mencapai satu goa. Dan setelah berhasil melewatinya, kauakan mendapatkan jurus-jurus sakti yang akan menjadi milikmu," jelas Nyi Nagageni.

Maka dengan dilepas saudara kembar Ningrum, Andika melangkah masuk pada celah yang dibentuk oleh apitan dua bukit. Sebenarnya, Andika sudah tidak lagi berkeinginan untuk menjalani hal itu. Semangat hidupnyapun bahkan telah pupus, sejak kehilangan orang terakhir yang dicintainya. Ningrum!

Kalau dulu Soma dan Ki Sanca yang sudah dirasakan sebagai keluarganya, disingkirkan secara keji oleh Begal Ireng, kini menyusul orang yangsudah dianggap sebagai kekasihnya! Andika merasa kematian mereka disebabkan semata-mata oleh dirinya. Itulah yang membuatnya menjadi enggan untuk terus hidup. Rasa kehilangan yang berbaur dendam dan perasaan bersalah, menghantui dirinya.

Kalau saja Nyi Naga geni yang tak hanya berwibawa namun juga bijak itu tidak mencegahnya dan memberikan wejangan yang meresap sampai ke akar hatinya, tentu Andika akan pergi lagi untuk mencari dan mengadu jiwa dengan Begal Ireng tanpa berharap suatu kemenangan pun, kecuali menyusul orang-orang yang dicintainya.

Kini mulailah Andika melangkahkan kaki selangkah demi selangkah. Dadanya yang kini sudah pulih, berdetak keras. Otot-otot di tubuh kurusnya menegang, menyadari dirinya harus menjalani ujian antara hidup dan mati. Meski masih ada keinginannya untuk mati saja, namun itu sama sekali tidak membuatnya sembarangan.

Belum berapa jauh Andika melangkah, peluh sudah bersimbah membanjiri wajah dan tubuhnya. Raut wajah tampan yang tirus itu bagai seorang yang melihat malaikat maut tepat di depan mata.

Setelah sekian jauh melangkah menyusuri celah sempit selebar rentangan tangan dan berliku, barulah Andika tiba pada ujung celah. Dari ujung celah itu, tampak suatu pemandangan yang tampak sebagai suatu alam lain. Sementara langit di atas lembah ini sama sekali dikepung gumpalan-gumpalan awan hitam raksasa yang bergerak berputar di tempat itu juga. Setiap kali segumpal besar menabrak gumpalan lain, lidah petir langsung menukik ke dataran lembah. Dalam satu kedipan mata saja, beberapa petir menyalak sahut-menyahut. Tak kalah mengerikan sekaligus menakjubkan, petir itu satu demi satu menyambar batu-batu sebesar telapak kaki yang tersusun dalam jarak teratur di seluruh dataran lembah.

Pantas, belum ada seorang manusia pun selamat melewati lembah itu untuk tiba di dalam goa. Mereka harus memiliki ketajaman mata dan kecepatan gerak, yang mampu menandingi sambaran-sambaran lidah petir. Tampaknya, kecepatan dari kesaktian yang telah diwariskan pada Andika, mampu menandingi sambaran lidah petiritu. Dan Andika benar-benar mengaguminya.

Pantas pula kalau hanya para pewaris kesaktian itu yang mampu melewati lembah ini, termasuk Ki Panji Agung. Namun, itu bukan berarti menjamin Andika secara pasti untuk bisa melewati lembah mengerikan itu. Segalanya harus dipersiapkan, dan perhatiannya dipusatkan habis-habisan, jika tidak ingin dipanggang lidah petir.

Sebenarnya, Andika jadi bergidik juga. Tapi kebulatan tekadnya untuk dapat menjalani penyempurnaan ilmu kesaktian agar dapat mengenyahkan iblis jahanam Begal Ireng, membuatnya tidak begitu peduli terhadap kengerian yang sebentar-sebentar memberontak.

Mulailah Andika menenangkan dirinya. Seluruh perhatian dipusatkan pada matanya. Pada taraf puncak pemusatan pikirannya, hingga merasa dirinya benar-benar kosong, barulah ia mulai menggerakkan kakinya kembali. Perlahan-lahan tubuhnya keluar dari celah, dan mulai menjejakkan kaki di permukaan lembah yang dipenuhi batu-batu tersusun rata dan teratur. Pada celah antara dua batu itu, Andika menjejakkan kaki untuk melangkah. Pada langkah ketiga, satu sambaran berkelebat dari arah depan.

"Uts!"

Namun dengan pengerahan ilmu meringankan tubuh, Andika bisa menghindari, meski harus mundur dua langkah ke belakang. Kembali Andika mulai melangkah. Kali ini, dia tidak mau tanggung-tanggung. Dilangkahinya beberapa deret batu untuk tiba pada satu sela batu. Baru saja kakinya menjejak, satu lidah petir melesat dari arah samping, mengarah kehagian kepalanya.

Srattt!

Andika tidak mau lagi melangkah mundur, karena berarti harus mengulangi melewati beberapa deret balu yang kini sudah terlampaui. Maka....

"Hiaaat...!"

Andika langsung melenting, seraya meliukkan tubuhnya. Lalu, manis sekali kakinya menjejak tidak berubah pada deret batu itu. Setombak demi setombak, Andika maju. Semakin maju menuju goa di kejauhan sana, semakin gencar pula sambaran-sambaran lidah petir ke arahnya. Sehingga, dia harus begerak meliuk-liuk dalam satu gerakan aneh. Namun tiba-tiba datang sambaran kilat lagi, sebelum Andika bersiap.

Srat!
Glarrr!

Satu sambaran ternyata tidak bisa dihindarinya lagi. Tangannya yang terpentang seketika tersambar kilat. Tangannya seketika terasa bagai ditempeli baja membara, menghanguskan sebagian kulitnya. Bukan hanya itu, seluruh bagian tubuhnya bagai disengat kekuatan yang membuatnya merasa dipereteli sebagian demi sebagian.

Andika menjerit sejadi-jadinya, bersahutan dengan petir yang terus saja menyalak di sekeliling lembah. Tanpa menunggu lebih lama, kakinya dihentakkan penuh kekuatan. Maka tubuhnya seketika berputaran beberapa kali di udara dalam kesakitan yang masih mendera di sekujur tubuhnya. Andika melenting mundur beberapa langkah. Itu berarti dia gagal lagi. Anehnya, dalam keadaan mundur seperti itu tak ada satu lidah petir pun yang mengarah ke tubuhnya.

Masih dengan tubuh limbung, Andika berhasil menjejakkan kaki di ujung celah yang tadi ditinggalkan. Diperiksa segera tangannya. Ada bagian yang terpanggang hangus. Kulit itu tersobek tanpa darah sedikit pun. Wajah Andika meringis menahan pedih. Mulutnya sendiri mengumpat kesal.

"Sompret! Baru saja beberapa tombak, aku sudah seperti ini. Bagaimana lagi kalau sudah hampir tiba di goa itu? Bisa-bisa aku sudah jadi kambing guling!" dengus Andika.

Tak lama kemudian, pemuda tanggung itu sudah mencoba kembali. Untunglah, dia termasuk anak keras kepala. Jadi, kata kapok tidak pernah mampir di benaknya. Usahanya kali ini makin membuat Andika lebih berhati-hati dan lebih memusatkan perhatian. Itu tak sia-sia. Andika telah tiba di tengah-tengah lembah. Di sana, makin menggila saja serangan dari kekuatan alam itu.

Semakin disambar bertubi-tubi, Andika semakin gesit menggerakkan tubuhnya, membentuk gerakan demi gerakan yang sudah tidak disadarinya lagi. Dan dia makin terbiasa.

"Hiaaat...!"

Gerakan pemuda itu makin mantap untuk berkelit dari sambaran lidah petir. Bahkan gerakannya sampai terlihat seperti menghilang karena begitu cepatnya. Dan ketika goa yang ditujunya hampir dijangkau, tubuhnya jadi tidak terlihat lagi, kecuali bersit-bersit lidah petir yang tak putus-putus diikuti gelegarnya yang angkuh.

Teppp!
"Fhuuuh...."

Andika membuang napas lega. Akhimya tiba juga dia di muka goa tanpa harus jadi kambing guling.
Diperhatikannya rongga goa itu. Tampak remangdi dalamnya, dan hanya diterangi pelita-pelita kecil yang kelihatannya dihidupi oleh gas alam. Goa itu nampak tidak terlalu dalam.

"Hm.... Ada kejutan apa lagi di dalamnya?!" tanya hati Andika. Sejenak dia hanya mengusap-usap tangan yang tersambar petir tadi. Masih terasa pedih.

Andika kembali melangkah. Kewaspadaan tetap dijaga seperti saat melewati lembah dibelakangnya.
Matanya bergerak ke sana kemari, menjaga setiap kemungkinan yang bisa mencelakakan dirinya.

"Aku yakin, di sinilah Pendekar Lembah Kutukan yang kesohor hingga sekarang ini menyembunyikan kitab jurus-jurus saktinya," duga Andika yakin.

Tapi, belum ada sesuatu pun yang mencurigakan meski dia sudah hampir tiba di ujung goa.

"Hm.... Kenapa goa ini tampaknya tidak menampakkan tanda-tanda kalau tempat ini berbahaya?" tanya Andika lagi, dalam hati.

Keadaan itu tak berubah sampai Andika tiba di ujung goa. Matanya lurus memandang sekeliling goa yang kini melebar. Luasnya kira-kira seluas padepokan. Pelita-pelita kecil menyala di pinggir-pinggirnya, membentuk lingkaran.

Tepat di tengah ruang goa, tampakada mata air yang luar biasa jernihnya. Begitu jernihnya, hingga dasarnya jelas terlihat. Di tepi mata air itu, tumbuh-tumbuhan menjalar yang menyelimuti batuan di sekitarnya. Buahnya amat mengundang selera. Merah ranum, mirip tomat.

"Pohon apa ini? Kalau tomat, aku jelas tahu...," gumam Andika lagi.

Mulut Andika berdecak-decak seperti kagum. Padahal, dia tidak peduli pada sebentuk keindahan yang terpampang di depan hidungnya. Dan mulutnya berdecak karena kecewa. Tidak ada satu kitab pun yang terlihat di tempat itu.

"Huh! Mana jurus-jurus sakti seperti yang dikatakan guru besar Naga Merah?" cibir Andika dengan wajah kecut. Tubuhnya yang lemas, segera diletakkan di sebuah batu yang menjorok keluar.

"Tapi, tak mungkin guru Naga Merah itu berbohong padaku!" gumam pemuda itu setelah cukup lama duduk merenung. Andika terus bertanya-tanya sendiri dalam hati.

"Kalaupun ada kitab jurus-jurus sakti itu, tak mungkin para pendekar keturunan Pendekar Lembah Kutukan memiliki jurus-jurus yang berbeda satu dengan yang lain," pikir Andika lagi, ketika ingat penjelasan Purwasih dulu, mengenai tokoh-tokoh keturunan Pendekar Lembah Kutukan. Termasuk, Ki Panji Agung, orang tua yang datang dalam mimpinya.

Dan mendadak saja Andika terlonjak. Wajahnya memancarkan kesan kegembiraan teramat sangat.

"Kenapa aku jadi bodoh!" maki Andika dengan bibir tersungging lebar.

Memang tidak ada kitab jurus-jurus sakti itu. Sampai goa ini runtuh pun, kitab itu tak akan didapat! Jurus-jurus sakti itu justru lahir dari setiap gerakan menghindar dari serangan sambaran lidah petir! Dengan kata lain, setiap pendekar keturunan Pendekar Lembah Kutukan yang mengalami penyempurnaan, dituntun oleh alam untuk menciptakan jurus-jurus baru. Makanya, mereka memiliki
jurus-jurus yang berbeda satu dengan lain.

Dari duduknya yang tadi tak bergairah, Andika langsung melompat-lompat tak beda dengan tingkah orang kesetanan.

"Yaaa...! Aku dapat! Aku dapat!" teriak Andika, menggema ke seluruh ruangan goa.

Dua goa ini memang bukan tempat jurus-jurus itu tersimpan. Di sini, bukan tempat penyempurnaan itu. Di sini hanya tempat untuk beristirahat dan makan!

***


Enam purnama berlalu. Selama itu, di Lembah Kutukan yang merupakan tempat bunuh diri selain bagi pewaris kesaktian Pendekar Lembah Kutukan, seseorang berkelebat dalam gencamya tukikan-tukikan lidah petir. Di tempat itu, tidak bisa dibedakan antara siang dan malam. Gelap dengan kerjap-kerjap petir yang datang bertubi-tubi.

Dari sanalah akan lahir seorang pendekar belia yang akan menggemparkan seluruh napas dunia persilatan. Anak muda tanggung yang akan muncul didahului oleh cemoohan dan anggapan enteng. Kemudian, dia terus membuat goncangan di dunia persilatan, lewat jurus-jurus aneh yang telah berhasil diciptakannya sendiri dengan tuntunan alam dan ketajaman otaknya.

Berkat keganjilan jurus-jurusnya, serta kesleboran tingkahnya yang seringkali memaksa kawan tertawa atau lawan menggeram jengkel, dia akan dikenal sebagai Pendekar Slebor! Pendekar yang malang melintang dengan seribu satu akal bulus!

***


Lalu, bagaimanakah rencana jahat BegalIreng untuk menggulingkan prabu? Apakah Andika akan benar-benar mampu menandingi kesaktian tokoh nomor satu golongan hitam itu?

Bagaimana dengan Purwasih alias Naga Merah? Mengapa dia mencoba membunuh Andika?
Lalu, kenapa hal yang sebenarnya tentang perbedaan jurus-jurus tokoh keturunan Pendekar Lembah Kutukan diceritakannya pada Andika? Sehingga, anak muda tanggung itu mampu memecahkan teka-teki di Lembah Kutukan? Benarkah dia adalah orang kepercayaan prabu yang ditugaskan untuk menyelidiki pemberontakan Begal Ireng?

Bagaimana nasib Ningrum? Benarkah dia telah mati seperti yang dikatakan saudara kembarnya, Ningsih!

Dan bagaimana dengan kitab kayu milik Andika? Siapa yang mencurinya?

Apakah kerahasiaan tempat Perguruan Naga Merah dan Lembah Kutukan akan terbongkar oleh Begal Ireng yang bertekad akan menghabisi seluruh keturunan keluarga Pendekar Lembah Kutukan?

Lalu, siapakah orangtua Andika sesungguhnya?

Silakan simak kelanjutan pada episode: 'Dendam dan Asmara'


S E L E S A I



emoticon-rose
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.