- Beranda
- Stories from the Heart
TERNYATA DIA DISINI (HORROR STORY)
...
TS
watashiwapsycho
TERNYATA DIA DISINI (HORROR STORY)
Percaya atau tidak, dia ada disini dan memperhatikanmu dari balik gelap gulitanya malam yang akan membuat rasa penasaranmu terjawab. 
Mungkin kalian akan berfikir "Seperti tuan yang menceritakan kisahnya."
PART 1 A - Sambutan malam
PART 1 B - Sambutan Malam
PART 2 - Kolam Renang
PART 3 - Pocong 3 Meter [BEST STORY]
PART 4 - Selamat Tinggal Pemilik Villa
PART 5 - Bapak Pengendara Motor
PART 6 - Pengalaman Kakek
PART 7 - Sendirian
PART 8 - Dibalik Gelapnya Desa
PART 9 - Makam
PART 10 - Kuntilanak Laut
PART 11 - Kelapa Atau Kepala
PART 12 - Stasiun Kereta
PART 13 - Siluman Kera
PART 14 - Rumah Sakit
PART 15 - Wanita Tanpa Nama
PART 16 - ON GOING
Terimakasih telah mengikuti alur cerita ini.
Agar saya lebih sering update, tolong di apresiasi dengan cara memberi Rate bintang 5
tinggalkan comment, kritik, dan saran yang positif.
Cerita ini juga terbit di Wattpad.com
baca lebih mudah dengan cara klik link dibawah ini.
link : https://www.wattpad.com/story/820305...ata-dia-disini

Mungkin kalian akan berfikir "Seperti tuan yang menceritakan kisahnya."
PART 1 A - Sambutan malam
PART 1 B - Sambutan Malam
PART 2 - Kolam Renang
PART 3 - Pocong 3 Meter [BEST STORY]
PART 4 - Selamat Tinggal Pemilik Villa
PART 5 - Bapak Pengendara Motor
PART 6 - Pengalaman Kakek
PART 7 - Sendirian
PART 8 - Dibalik Gelapnya Desa
PART 9 - Makam
PART 10 - Kuntilanak Laut
PART 11 - Kelapa Atau Kepala
PART 12 - Stasiun Kereta
PART 13 - Siluman Kera
PART 14 - Rumah Sakit
PART 15 - Wanita Tanpa Nama
PART 16 - ON GOING
Terimakasih telah mengikuti alur cerita ini.
Agar saya lebih sering update, tolong di apresiasi dengan cara memberi Rate bintang 5

tinggalkan comment, kritik, dan saran yang positif.

Cerita ini juga terbit di Wattpad.com
baca lebih mudah dengan cara klik link dibawah ini.
link : https://www.wattpad.com/story/820305...ata-dia-disini

Diubah oleh watashiwapsycho 14-10-2016 19:01
danjau dan anasabila memberi reputasi
2
99.5K
317
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watashiwapsycho
#12
Selamat Tinggal Pemilik Villa [PART 4]
Sudah memasuki hari ketiga. Yaitu hari dimana gue dan rekan-rekan gue harus meninggakan villa itu.
Banyak kejadian yang sangat menyeramkan yang terjadi selama 2 hari terakhir.
Akhirnya gue memutuskan untuk mencari informasi tentang villa tersebut.
Bapak Ahmad. Penjaga villa tersebut, atau juga bisa disebut sebagai juru kunci yang mengetahui sejarah villa tersebut.
Rombongan bis akan kembali ke Jakarta, dan berangkat pukul 16.00.
Saat jam 12 siang, gue memutuskan untuk bertanya kepada pak Ahmad tentang villa ini.
Saat itu pak Ahmad sedang duduk di teras villa bersama dengan Bapak Guru gue yang sempet memperingati gue untuk jangan cerita kesiapapun.
"Pak Ahmad, bisa ngobrol sebentar?."
"Naon Jang?." Jawab pak Ahmad
"Pak Aziz, boleh kan saya ceritain pengalaman saya kepada pak Ahmad?." Tanya gue kepada pak Aziz.
"Boleh aja deh, toh kita gak akan kembali lagi ketempat ini." Jawab pak Aziz.
"Makasih pak Aziz." Ucap gue.
"Jadi gini Pak Ahmad, saya dari perjalanan dari tol sampai disini, saya mengalami banyak kejadian aneh, yang bahkan saya sendiri baru alami sekarang, kata Pak Aziz, itu sambutan untuk kita, tapi kenapa cuma saya aja yang dikasih liat?."
"Emang adek liat apa aja?." Tanya pak Ahmad penasaran.
"Saya melihat tiga makhluk halus pak. Yang pertama wanita pakaian putih dengan wajah tertutup rambut, kedua saya melihat sesosok seperti kingkong, badannya berbulu lebat, matanya merah bulat seperti tidak ada kelopak matanya di dekat pohon beringin itu pak, yang ketiga saya ngeliat pocong, saya gak liat persis wajahnya, soalnya itu pocong tinggi banget, sekitar 3 meter pak. Saya cuma lihat sampai ikat tali pocongnya yang ditangan."
"Tapi Adek belum liat wajah si kunti dan pocong belakang makam kan?."
"Belum pak, emangnya kenapa?." Tanya gue dengan penasaran.
"Dulu waktu bapak masih muda, saat pertama kali di kasih kepercayaan untuk jaga villa ini, bapak sampai pingsan liat wajah si kunti, wajahnya hancur seperti habis tertabrak."
Belum sempat gue bicara, pak Ahmad cerita lagi.
"Konon kata orang sini, dulu ada wanita tertimpa truk di jalan raya depan. Dan wanita itu dibawa kesini, dan meninggal disini sebelum mayatnya dibawa ambulan, tapi saat dibawa kesini, tangannya yang kanan udah gak ada, pas dicari di tkp, tangannya gak ketemu"
"Kalo yang pocong pak?." Rasa penasaran gue bercampur dengan rasa takut.
"Kalo yang pocong saya gak tau, kata pemilik villa, makam itu udah ada sebelum villa dibangun, sudah berbagai cara dipakai untuk memindahkan makam itu, tapi gak bisa, digali pakai cangkul aja pasti cangkulnya patah."
"Nah, kalo yang tinggal di pohon beringin itu, dia rajanya. Pernah ada yang coba mau tebang pohon itu, tapi orangnya sakit seminggu, dan akhirnya meninggal."
"Udah pak cukup jangan dilanjutin." Celetuk gua dengan rasa yang teramat amat sangat takut.
"Alasan kenapa aden di kasih liat, mungkin iman aden yang paling lemah dibanding yang lain."
Harus gue akui, gue jarang beribadah.
Saat pak Ahmad mau ngelanjutin ceritanya, tiba-tiba dia ngomong.
"Tuh kan, cium aroma kembang melati gak?."
"Eh iya pak bener." Jawab gue. Emang bener seketika kecium bau melati sekilas dengan ditandai sedikit adanya angin berhembus.
"Kalo udah kaya gini, bapak udah gak bisa ngelanjutin cerita. Setiap bapak beres-beres villa ini, pasti salah satu dari mereka nemenin bapak, ya ga usil sih cuma memperhatikan aja, makannya aden banyakin sholat." Ucap pak Ahmad sambil menyeruput kopi hitam.
Waktu menunjukan pukul 16.00 sudah waktunya untuk rombongan bis kembali ke Jakarta. Sebelum gue pergi menaiki bis, pak Ahmad berpesan, jika ingin kembali, jangan pernah ceritakan pengalaman seram ini kepada siapapun.
Gue udah di posisi bis, tempat duduknya sama kaya kemarin saat gue melihat si kunti.
Dan gue kaget buat yang terakhir.
Saat gue sedang memperhatikan pohon beringin itu dari dalam mobil yang sedang melaju.
Dan kali ini gue ngeliat si kunti lagi.
Dia duduk di atas ranting kecil dan sedang mengayun-ayunkan kedua kakinya.
Gue cuma bisa duduk terdiam. Gue gak berani cerita kesiapapun, leher gua seperti terkunci dan gak bisa ngalihin pandangan gue.
Lalu si kunti melambai-lambaikan tangannya kearah bis yang sedang gue tumpangi.
Bukan, bukan kearah bis.
TAPI KEARAH GUE!!!
Pundak gue lalu di tepuk.
Ternyata pak Aziz yang nepuk pundak gue.
"Kok di diemin aja? Dia itu ngucapin selamat tinggal loh." Ucap pak Aziz dengan nada berbisik.
Lalu tangan kiri gue dipegang sama pak Aziz dan diangkat.
Lalu digoyang-koyangkan seperti melambaikan balik ke arah si kunti.
"Makannya Mam banyakin Ibadah. Enak kan punya temen kaya gitu?." Ucap pak Aziz dengan nada sedikit tertawa.
Tapi tetap saja gue merasa mengalami kesialan dalam 3 hari terakhir dan gak akan pernah bisa gue lupain.
Banyak kejadian yang sangat menyeramkan yang terjadi selama 2 hari terakhir.
Akhirnya gue memutuskan untuk mencari informasi tentang villa tersebut.
Bapak Ahmad. Penjaga villa tersebut, atau juga bisa disebut sebagai juru kunci yang mengetahui sejarah villa tersebut.
Rombongan bis akan kembali ke Jakarta, dan berangkat pukul 16.00.
Saat jam 12 siang, gue memutuskan untuk bertanya kepada pak Ahmad tentang villa ini.
Saat itu pak Ahmad sedang duduk di teras villa bersama dengan Bapak Guru gue yang sempet memperingati gue untuk jangan cerita kesiapapun.
"Pak Ahmad, bisa ngobrol sebentar?."
"Naon Jang?." Jawab pak Ahmad
"Pak Aziz, boleh kan saya ceritain pengalaman saya kepada pak Ahmad?." Tanya gue kepada pak Aziz.
"Boleh aja deh, toh kita gak akan kembali lagi ketempat ini." Jawab pak Aziz.
"Makasih pak Aziz." Ucap gue.
"Jadi gini Pak Ahmad, saya dari perjalanan dari tol sampai disini, saya mengalami banyak kejadian aneh, yang bahkan saya sendiri baru alami sekarang, kata Pak Aziz, itu sambutan untuk kita, tapi kenapa cuma saya aja yang dikasih liat?."
"Emang adek liat apa aja?." Tanya pak Ahmad penasaran.
"Saya melihat tiga makhluk halus pak. Yang pertama wanita pakaian putih dengan wajah tertutup rambut, kedua saya melihat sesosok seperti kingkong, badannya berbulu lebat, matanya merah bulat seperti tidak ada kelopak matanya di dekat pohon beringin itu pak, yang ketiga saya ngeliat pocong, saya gak liat persis wajahnya, soalnya itu pocong tinggi banget, sekitar 3 meter pak. Saya cuma lihat sampai ikat tali pocongnya yang ditangan."
"Tapi Adek belum liat wajah si kunti dan pocong belakang makam kan?."
"Belum pak, emangnya kenapa?." Tanya gue dengan penasaran.
"Dulu waktu bapak masih muda, saat pertama kali di kasih kepercayaan untuk jaga villa ini, bapak sampai pingsan liat wajah si kunti, wajahnya hancur seperti habis tertabrak."
Belum sempat gue bicara, pak Ahmad cerita lagi.
"Konon kata orang sini, dulu ada wanita tertimpa truk di jalan raya depan. Dan wanita itu dibawa kesini, dan meninggal disini sebelum mayatnya dibawa ambulan, tapi saat dibawa kesini, tangannya yang kanan udah gak ada, pas dicari di tkp, tangannya gak ketemu"
"Kalo yang pocong pak?." Rasa penasaran gue bercampur dengan rasa takut.
"Kalo yang pocong saya gak tau, kata pemilik villa, makam itu udah ada sebelum villa dibangun, sudah berbagai cara dipakai untuk memindahkan makam itu, tapi gak bisa, digali pakai cangkul aja pasti cangkulnya patah."
"Nah, kalo yang tinggal di pohon beringin itu, dia rajanya. Pernah ada yang coba mau tebang pohon itu, tapi orangnya sakit seminggu, dan akhirnya meninggal."
"Udah pak cukup jangan dilanjutin." Celetuk gua dengan rasa yang teramat amat sangat takut.
"Alasan kenapa aden di kasih liat, mungkin iman aden yang paling lemah dibanding yang lain."
Harus gue akui, gue jarang beribadah.
Saat pak Ahmad mau ngelanjutin ceritanya, tiba-tiba dia ngomong.
"Tuh kan, cium aroma kembang melati gak?."
"Eh iya pak bener." Jawab gue. Emang bener seketika kecium bau melati sekilas dengan ditandai sedikit adanya angin berhembus.
"Kalo udah kaya gini, bapak udah gak bisa ngelanjutin cerita. Setiap bapak beres-beres villa ini, pasti salah satu dari mereka nemenin bapak, ya ga usil sih cuma memperhatikan aja, makannya aden banyakin sholat." Ucap pak Ahmad sambil menyeruput kopi hitam.
Waktu menunjukan pukul 16.00 sudah waktunya untuk rombongan bis kembali ke Jakarta. Sebelum gue pergi menaiki bis, pak Ahmad berpesan, jika ingin kembali, jangan pernah ceritakan pengalaman seram ini kepada siapapun.
Gue udah di posisi bis, tempat duduknya sama kaya kemarin saat gue melihat si kunti.
Dan gue kaget buat yang terakhir.
Saat gue sedang memperhatikan pohon beringin itu dari dalam mobil yang sedang melaju.
Dan kali ini gue ngeliat si kunti lagi.
Dia duduk di atas ranting kecil dan sedang mengayun-ayunkan kedua kakinya.
Gue cuma bisa duduk terdiam. Gue gak berani cerita kesiapapun, leher gua seperti terkunci dan gak bisa ngalihin pandangan gue.
Lalu si kunti melambai-lambaikan tangannya kearah bis yang sedang gue tumpangi.
Bukan, bukan kearah bis.
TAPI KEARAH GUE!!!
Pundak gue lalu di tepuk.
Ternyata pak Aziz yang nepuk pundak gue.
"Kok di diemin aja? Dia itu ngucapin selamat tinggal loh." Ucap pak Aziz dengan nada berbisik.
Lalu tangan kiri gue dipegang sama pak Aziz dan diangkat.
Lalu digoyang-koyangkan seperti melambaikan balik ke arah si kunti.
"Makannya Mam banyakin Ibadah. Enak kan punya temen kaya gitu?." Ucap pak Aziz dengan nada sedikit tertawa.
Tapi tetap saja gue merasa mengalami kesialan dalam 3 hari terakhir dan gak akan pernah bisa gue lupain.
Diubah oleh watashiwapsycho 20-08-2016 13:04
1