- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#405
Updatean buat menikmati malam Jumat
18 Juni 2011
Diary…
Aku bingung bagaimana memulai cerita ini padamu.. pokoknya, hari ini benar-benar penuh dengan hal-hal baru yang kuketahui tentang orang-orang sepertiku deh…
Aku baru sekali ini mengalami hal seperti itu, terlepas dari banyaknya pengalamanku sendiri ataupun pengalamanku dengan Cindy, sepertinya belum pernah terjadi hal seperti yang kami alami dengan hadirnya Robert.
Hari ini, dari pagi-pagi benar Robert sudah menungguku di depan kost dengan mobilnya. Yang sontak membuat ramai kostku.
Robert tidak begitu tampan, tapi pembawaannya yang ramah dan tegas ditambah dengan selera berpakaian dan bentuk tubuhnya yang bagus membuat para cewek se-kostku penasaran.
Masalahnya ini berbeda dengan Brian yang menjemputku dengan menggunakan motor dan kenyataan bahwa Brian sendiri berpenampilan cuek dan sedikit berandalan, Robert yang tiba dengan mengendarai mobil sedan bermerk Mazda dan berpenampilan sangat modis tentu saja menghasilkan reaksi yang bagaikan bumi dan langit dengan reaksi pada Brian.
“Tau darimana kostku?” tanyaku.
“DIkasihtau Cindy” jawab Robert ringan sambil membukakan pintu untukku.
“Hah?” seruku kaget. Cindy? Wah, kacau ini anak, pikirku “Sebentar ya aku telpon dia”
“Dia?” tanya Robert.
“Cindy!” jawabku singkat seraya menempelkan Handphone pada telinga.
“Halo Lis” jawab Cindy setelah beberapa kali dering panggilan.
“Hei… maksud kamu apa sih?....” bisikku pada Cindy seraya sedikit menjauh dari Robert.
“Maksud apaan?” jawab Cindy berpura-pura tidak mengerti pada pertanyaanku.
“Kenapa kasihtau Robert kost aku segala!?” bisikku gusar pada Cindy lagi.
“Ohhh… hahahahahahaha” tawa Cindy meledak, cukup keras sehingga aku harus menjauhkan sedikit teleponku dari telinga.
“Ni anak malah tertawa…” aku merajuk.
“Dia tertarik sama kamu kayaknya” kata Cindy sambil berusaha menahan tawanya.
“Huhh..!! kamu lagi ngapain?” tanyaku.
“Lagi manasin mobil nih..” jawabnya, masih sedikit terkikik-kikik.
“Udah, aku sama Robert jemput kamu” kataku memutuskan.
“Ehh, jangan kalian berdua aja… hahahahahaha!!” ujar Cindy lagi sambil terbahak-bahak.
“15 menit ya aku datang ketempatmu, dandan sana buruan” kataku sambil mematikan sambungan telepon.
Aku berbalik dan berjalan ke tempat Robert menunggu di samping mobilnya. “Kita jemput Cindy ya” kataku sambil bergerak masuk ke kursi penumpang.
Robert hanya tersenyum dan berkata “Oke deh, kasitau ya di mana jemputnya” katanya.
“Deket kok, di *********” kataku menyebutkan daerah perumahan tempat tinggal Cindy.
“Ok deh” kata Robert sambil melajukan mobilnya.
Tidak lama kemudian kami menjemput Cindy yang sudah menunggu di depan rumahnya sambil tersenyum-senyum jahil.
Aku menatapnya dengan pandangan mengancam. Dan Cindy menjawabku dengan memberi isyarat kalau dia akan me-risleting mulutnya rapat-rapat. Meskipun wajahnya tampak setengah mati menahan tawa.
Untungnya sih Robert sepertinya tidak memperhatikan tingkah Cindy.
Perjalanan ke rumah sakit tempat mamaku melahirkan cukup jauh dan memakan waktu perjalanan sekitar satu setengah jam. Selama perjalanan, Robert ternyata seseorang yang… bagaimana aku mengatakannya? Intinya sepanjang perjalanan kami berbagi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan ‘mereka’.
Sebenarnya sih, Cindy yang banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman kami ke Robert, cowok itu hanya menjawab dan memberikan pendapat-pendapatnya.
Aku? Aku hanya nimbrung sedikit-sedikit saja, kebanyakan sih aku hanya mengangguk saja setiap Cindy bercerita.
Kami sempat mampir makan sebentar sebelum memasuki rumah sakit tempat mamaku melahirkan.
Ketika kami bertiga memasuki gerbang rumah sakit. Aku langsung merasakan mataku terasa hangat.
“Kamu merasakannya juga ya?” Robert menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.
“Hah? Oh… ‘mereka’ ya?” tanyaku.
“Iya, kamu merasakan hawa berat rumah sakit ini?” tanyanya lagi.
“Enggak sih, tapi mataku panas” kataku.
Ekspresi Robert terlihat menjadi bersemangat “Jangan-jangan ‘mahluk’ yang kamu lihat pas masih kecil ada di sini” katanya “Ayo, buruan deh!” serunya sambil menarik tanganku.
“Ciee.. ciee…” bisik Cindy pelan, cukup pelan untuk tidak terdengar Robert, tapi cukup keras untuk dapat kudengar.
Aku menatapnya dengan pandangan yang kurasa pandangan paling sadis yang bisa kulakukan, tapi bisa kulihat hal itu tidak berhasil kulakukan pada Cindy, karena kulihat dia malahan menyemburkan tawanya yang tertahan.
Aku digandeng oleh Robert memasuki pelataran rumah sakit hingga memasuki pintu lobby utama rumah sakit. Seperti biasanya, aku melihat banyak dari ‘mereka’ berkeliaran di sini. Dan yang mengherankan, aku melihat beberapa ‘mahluk’ dengan pakaian seperti… kau tau baju hujan yang berbentuk seperti boneka penangkal hujan? Bentuk poncho? Nah, para ‘mahluk’ dengan pakaian seperti itu berwarna hitam, abu-abu dan putih berdiri di sudut ruangan dan di depan beberapa ruangan.
‘Mereka’ tidak memiliki wajah, atau tepatnya aku tidak bisa melihat wajah mereka karena tertutup oleh tudung mereka, dan tidak juga kaki dan tangan mereka, karena poncho mereka yang panjang hingga tergerai di lantai.
Aku juga melihat beberapa dari ‘mereka’ yang berbentuk anak kecil bermain-main dan memanjat berbagai tempat di rumah sakit ini.
“Ini benar-benar ramai” celetuk Robert “Kamu tidak apa-apa kan? Matamu masih terasa panas?” tanyanya.
“Bukan panas, hangat… dan iya, masih terasa kok” jawabku.
“Gue mual nih… jangan deket-deket UGD yuk” kata Cindy.
Aku mengerti maksud dari Cindy, di depan ruangan UGD, tampak beberapa dari ‘mereka’ yang berwujud mengerikan. Ada dari mereka yang berjalan dengan menyeret tubuhnya dengan tangannya karena dari pinggang mereka kebawah sudah tidak ada, aku dapat melihat dengan jelas isi perut ‘mahluk’ itu menjuntai keluar dari pinggangnya. Kemudian adalagi yang kepalanya mengeluarkan sebagian dari isi otaknya, ada yang terbakar, dan masih banyak lainnya.
“Kayaknya aku setuju, ayo” kata Robert lagi seraya kembali menarik tanganku. Tanpa persetujuanku tentunya.
Kamipun kembali berjalan ke sayap lainnya dari rumah sakit itu, yaitu sayap tempat kamar bersalin dan kamar bayi.
“Mata kamu terasa makin panas ato enggak?” tanya Robert.
“Enggak juga sih, sama aja daritadi” jawabku.
“Hmm..” Robert tampak berpikir sejenak, kemudian menarik keluar kalung yang menggantung di lehernya dan menggenggamnya.
Robert berdoa sambil menggumam ke kalung yang digenggamnya.
Kau tahu Diary? Ini tampak seperti di film deh…
Robert membuka matanya, celingukan dan menatap lurus pada suatu lorong yang agak terbengkalai.
“Sini..” katanya, lagi-lagi menarik tanganku.
“Ada apa emangnya disitu?” tanyaku.
“Sesuatu yang paling kuat di rumah sakit ini” jelasnya singkat.
“Lu tau darimana?” timbrung Cindy.
Robert menatap Cindy dengan expresi serius campur jahil “Sebut saja… malaikat pelindungku”
Cindy berusaha menanyakan lebih jauh lagi perihal ‘malaikat pelindung’ Robert itu, namun Robert mengalihkan pertanyaan-pertanyaan Cindy. Kurasa Robert tidak ingin untuk membahas hal itu.
Kami bertiga tiba ke taman kecil di belakang rumah sakit setelah melalui lorong sepi itu.
Di taman kecil itu, hanya terdapat satu batu besar yang terletak tepat di sebelah pohon kecil.
“Di sini” kata Robert.
“Ada apa di sini?” tanyaku.
“Lihat saja” jawab Robert, dia berjalan beberapa langkah di depan kami. Melepas kalung yang dia pakai dan menggenggamnya dan mengacungkan tangannya ke arah batu dan pohon kecil itu.
Robert bergumam dalam kata-kata yang tidak bisa kudengar dengan sangat cepat. Aku hanya bisa mendengar desis bisikan dari kata-kata yang diucapkan olehnya.
‘DEGG’
Tiba-tiba jantungku bagai berdetak dengan sangat keras. Kemudian aku merasa sangat takut. Ketakutan yang entah darimana asalnya, ketakutan yang membuatku berdiri kaku di tempat.
Aku merasakan mataku semakin panas. “Ahhh!!” teriakku ketika kurasakan tiba-tiba panas di mataku meningkat dengan drastic.
‘ROOOOOOMM’
Kudengar suara rendah yang sangat besar langsung di dalam kepalaku. Setelah itu semuanya terasa sangat sunyi, suara desis bisikan Robert tidak terdengar lagi.
Aku merasakan rasa panas di mataku berangsur-angsur mereda. Aku membuka mataku.
Di sana, duduk di atas batu besar itu, sosok yang mengenakan mantel tebal berwarna coklat. Tidak ada satupun bagian tubuh sosok itu yang tidak tertutup oleh mantel itu kecuali mukanya. Wajahnya seperti wajah manusia lengkap dengan brewok yang sangat lebat di dagunya dan rambut yang keriting.
Tapi mata ‘mahluk’ itu berwarna hitam pekat, dengan pupil berwarna abu-abu yang hampir tersamarkan di dalam mata yang kelam itu. Dan tempat di mana seharusnya telinga berada, digantikan oleh tanduk yang besar yang mencuat ke atas kemudian menekuk turun dengan tajam hingga ujungnya berada tepat di samping kedua sisi rahang ‘mahluk’ itu.
‘Mahluk’ itu membuka mulutnya dan berbicara, namun aku tidak mengerti apapun yang dia katakan. Bahasa yang ‘mahluk’ itu pakai memiliki banyak bunyi seperti desisan pada kata-katanya.
“Robert… apa itu?” aku berbisik pada Robert yang sudah mundur sampai berada tepat di sisiku.
“Iblis..” katanya singkat, wajahnya sangat pucat ketika mengatakan itu.
Aku melihat Cindy, dia juga sama pucatnya seperti Robert, tatapannya kosong dan dipenuhi dengan ketakutan.
‘Mahluk’ itu berdesis lagi. Dan sekedipan mata, ‘dia’ sudah berada di depan aku dan Robert.
“Manusia”
Aku melihat ‘mahluk’ itu membuka mulutnya dan berbicara, tapi suara yang kudengar bukan berasal darinya, tapi dari belakangku.
Cindy…
“Cin?” panggilku.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Cindy berbicara dengan nada datar dan terkesan dingin.
“Cin?”
“LIHAT AKU!!” Cindy berteriak, dan serta merta leherku berputar sendiri dan menatap ke ‘mahluk’ itu.
‘Mahluk’ itu mendekatiku dan menatap erat mataku “Kau” kata ‘mahluk’ itu ketika dia menatap mataku.
Daguku tiba-tiba mendongak dengan sendirinya hingga wajahku menatap lurus pada ‘mahluk’ itu.
“Matamu milik M******” kata ‘mahluk’ itu dengan menggunakan mulut dan suara Cindy.
“HAHAHAHAHAHAHAHA” tawa ‘mahluk’ itu melalui Cindy, bersamaan dengan perubahan raut wajah ‘mahluk’ yang berada di hadapanku menjadi sangat bengis.
“PERGI KAU IBLIS!!” tiba-tiba Robert berteriak dengan keras sambil mengacungkan tangannya yang menggenggam kalung kea rah ‘mahluk’ itu.
“ATAS NAMA TUHAN YANG LEBIH TINGGI DARIPADAMU, AKU MEMERINTAHKAN KAU UNTUK PERGI!!” teriak Robert.
Tetapi ‘mahluk’ itu tidak bergeming.
“Kau mencoba mengusirku dengan memakai nama sang cahaya?” olok ‘mahluk’ itu lewat mulut Cindy.
‘Mahluk’ itu bergeser dengan cepat hingga ke sampai ke depan Robert “Kau takut padaku?” oloknya lagi.
“Kau bahkan lebih takut padaku daripada rasa percayamu” Kata ‘mahluk’ itu lagi sebelum kemudian dia terkekeh dengan menggunakan mulut Cindy.
Robert mengacungkan kepalannya yang menggenggam kalung miliknya ke wajah ‘mahluk’ itu “IBLIS, AKU MEMERINTAHMU ATAS NAMA-“
“DIAM!!”
Robert terpental seiring teriakan ‘mahluk’ itu, dan suara yang keluar dari mulut Cindy terdengar bagaikan suara lelaki dengan suara kasar dan berat ketimbang suara Cindy yang tinggi.
“KAU TIDAK BERHAK MENYEBUT NAMA SANG CAHAYA!!” Suara yang keluar dari mulut Cindy terdengar berat dan serak.
Kulit wajah ‘Mahluk’ itu berubah menjadi kemerahan.
“KAU PENDOSA!! PEMBUNUH!!” teriak ‘mahluk’ itu lagi melalui Cindy, suara yang keluar dari mulut Cindy terdengar semakin berat dan serak, bahkan cenderung pecah dan menggaung.
Pembunuh? Apa maksudnya Robert pembunuh?
“DIAM!!” teriak Robert, dia berusaha bangkit dan mengacungkan lagi kalung miliknya ke ‘mahluk’ itu “AKU BUKAN PEMBUNUH!! PERGI KAU IBLIS!!” teriaknya lagi.
Wajah ‘mahluk’ itu kembali ke wajah manusia seperti sebelumnya, tapi senyuman bengis tidak hilang dari wajahnya.
“Bukan? Bukan pembunuh?” Tanya ‘mahluk’ itu, dengan suara yang berat dari mulut Cindy.
“Bagaimana dengan Kiki? Apa kau tidak mau bertanggung jawab atas nyawanya?” ejek ‘mahluk’ itu.
Aku memperhatikan kejadian itu dengan bingung. Aku tidak bisa mengatakan apapun..
Atau tepatnya, aku bingung harus berkata apa..
“DIAM!! DIAMM!! DIAAAMMM!!!” Teriak Robert, wajahnya terlihat sangat gusar dan marah. Bulir-bulir keringat berjatuhan dengan deras dari wajahnya.
“Masih tidak mau mengaku? Kalau begitu, biar Kiki sendiri yang bicara” kata ‘mahluk’ itu, wajahnya sangat bengis dan jahat.
Aku melihat sesosok ‘gadis’ berbaju kuning muncul dengan menembus permukaan tanah. Gadis itu berumur sekitar 10 tahun atau sekitar itu.
Gadis itu berdiri di depan Robert, dan Robert terlihat sangat pucat melihat kemunculan gadis itu.
Kakak….
Suara gadis itu terasa bergema langsung di dalam kepalaku. Robert menutup telinga dan matanya sambil berteriak-teriak.
Kakak… kenapa kakak tinggalin Kiki dulu?
“HENTIKAAN!! HENTIKAAAN!!” teriak Robert.
Kiki sendirian kak… Kiki sakit kak, kenapa kakak tinggalin Kiki?
“TOLONG!! HENTIKAN!! PLEASE!!” Robert berteriak-teriak sambil mengiba-iba. Hatiku merasa sedikit iba melihat Robert seperti itu.
Kiki sudah bilang ke kakak, Kiki gak mau ikut tes keberanian ke kuburan… kenapa Kakak tinggalin Kiki sama mereka?...
“AHHHHH!!! STOPP!! STOOOOPPP!!” Robert mulai menangis meraung-raung sambil berguling-guling.
Kiki gak bisa kemana-kemana lagi kak… Kiki harus tinggal bersama mereka… Kiki sudah jadi milik mereka….
“AAAHHHHHHHH!!! MAAFIN KAKAK KI!! MAAFIN KAKAK!! Huuu..huuuu..huuuuu…” Robert sudah membungkuk lemas tidak bergerak, kedua tangannya memegang kepalanya yang menunduk hingga menyentuh tanah.
“Kau sudah mengaku sekarang Pembunuh?” aku terkesiap mendengar suara ‘mahluk’ itu kembali keluar dari mulut Cindy.
“Ampun .. please.. stop…!!” Robert memohon-mohon.
“Boleh, tapi ada bayarannya” kata ‘mahluk’ itu sambil tersenyum bengis.
“Please…. Please….” Robert memohon tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Bagus, sekarang hujat Tuhan yang kau puja itu, baru aku akan melepaskanmu” kata ‘mahluk’ itu.
*Sensor*
Robert mengatakannya… dia menghujat nama Tuhan yang dia percaya.
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA” ‘mahluk’ itu tertawa dengan keras, kali ini tawanya datang dari dua tempat, dari mulut Cindy dan langsung ke dalam kepalaku.
“BAGUS!!” teriak ‘mahluk’ itu dengan nada senang “Kalau begitu, akan kuberikan satu bonus!! Kiki akan kubebaskan dari jahanam kuburan tempat kau meninggalkan dia!!”
Aku terngaga mendengarnya. Apa tidak salah?
“TAPI, MULAI SEKARANG KAU HARUS SELALU MENGGENDONG KIKI DI PUNGGUNGMU!!” teriak ‘mahluk’ itu menggema melalui mulut Cindy.
Kakak… kita tidak berpisah lagi.. asyik…
Kemudian hantu gadis itu naik ke punggung Robert dan memeluknya dengan erat.
“AHHH!!!” Robert mengeluarkan teriakan terakhirnya sebelum akhirnya pingsan.
‘Mahluk’ itu menatapku.
Sekali lagi, dengan sekedip mata, ‘dia’ sudah berada di depanku.
“Kau ini apa?” tanyaku dengan suara gemetar.
“Aku ini adalah kegelapan besar” jawab ‘mahluk’ itu.
“Aku… aku tidak mengerti..” kataku.
“Kalian manusia memberikan aku angka untuk kebesaranku dari yang lainnya” kata ‘mahluk’ itu lagi.
“Angka?” tanyaku.
“Aku adalah yang ke – 33 dari legium, aku adalah penguasa atas mahluk yang sudah mati” katanya menggelegar.
“Apa?” hanya itu yang dapat kukatakan sebagai responku. Otakku tidak mampu mencerna apa yang dikatakan oleh ‘mahluk’ ini.
“Aku tidak akan menyentuhmu, kau adalah milik ‘M******’ “ kata ‘mahluk’ itu.
“ ‘M******? Apa maksudmu?” tanyaku keheranan.
“Pemilik dari matamu” kata ‘mahluk’ itu.
Kemudian aku merasakan perlahan-lahan pandanganku mengabur, dan akhirnya aku hanya ingat kegelapan.
Begitu tersadar, aku sudah berada di ruangan berwarna putih.
“Lu udah sadar?” Tanya suara di sampingku.
Aku mendapati Cindy sedang duduk di sisi tempat tidurku.
“Di mana ini?” tanyaku.
“Ruang kosong di rumah sakit, tadi gua liat lu tergeletak gitu ama si Robert pas gua sadar” kata Cindy.
“Kamu ingat?” tanyaku.
“Enggak… gua cuman inget sampe muncul tu mahluk di atas batu, abis tu kayaknya gua pingsan, terus sadar-sadar gua liat lu ama Robert yang kegeletak” jelas Cindy.
Jadi dia tidak sadar… pikirku.
“Mana Robert?” tanyaku pada Cindy setelah aku melihat ke tempat tidur lainnya yang kosong di ruangan ini.
“Dia udah sadar tadi, terus buru-buru pulang” kata Cindy “Gua udah bilang ke dia, kalo tungguin lu sadar, soalnya kan kita perginya bareng mobil dia tadi, masa kita pulang sendiri?” komentar Cindy sedikit terdengar kesal.
“Gak apa-apa, biarin Robert pulang duluan” kataku pada Cindy, tadi pasti sangat berat untuknya tambahku dalam pikiranku.
“Oh.. tapi gua liat samar-samar kayaknya pas si Robert jalan tadi, kayak ada anak kecil baju kuning jalan di samping dia” kata Cindy lagi.
Iya.. adiknya yang sudah mati… pikirku.
Akhirnya aku dan Cindy pulang dengan menggunakan taksi setelah aku cukup kuat untuk berdiri.
Barusan tadi, aku mencoba menghubungi nomor HP Robert, tapi sepertinya dimatikan karena tidak terdengar nada sambung sama sekali.
Mudah-mudahan cowok itu baik-baik saja deh…
Bagi yang mungkin tau nama dari 'mahluk' yang muncul di cerita ini, DILARANG KERAS menuliskan atau menyebutkan nama 'mahluk' itu di thread ini. Karena bisa membahayakan yang membaca nama 'mahluk' ini
Spoiler for WARNING:
Harap berdoa dulu sebelum baca bagian ini. Dan apabila agan-agan ada yang sulit mempercayai cerita ini, cukup simpan di dalam hati saja. Tidak perlu mempertanyakan tentang 'dia' yang muncul di cerita ini
Spoiler for Part XXII - Bagian 2:
18 Juni 2011
Diary…
Aku bingung bagaimana memulai cerita ini padamu.. pokoknya, hari ini benar-benar penuh dengan hal-hal baru yang kuketahui tentang orang-orang sepertiku deh…
Aku baru sekali ini mengalami hal seperti itu, terlepas dari banyaknya pengalamanku sendiri ataupun pengalamanku dengan Cindy, sepertinya belum pernah terjadi hal seperti yang kami alami dengan hadirnya Robert.
Hari ini, dari pagi-pagi benar Robert sudah menungguku di depan kost dengan mobilnya. Yang sontak membuat ramai kostku.
Robert tidak begitu tampan, tapi pembawaannya yang ramah dan tegas ditambah dengan selera berpakaian dan bentuk tubuhnya yang bagus membuat para cewek se-kostku penasaran.
Masalahnya ini berbeda dengan Brian yang menjemputku dengan menggunakan motor dan kenyataan bahwa Brian sendiri berpenampilan cuek dan sedikit berandalan, Robert yang tiba dengan mengendarai mobil sedan bermerk Mazda dan berpenampilan sangat modis tentu saja menghasilkan reaksi yang bagaikan bumi dan langit dengan reaksi pada Brian.
“Tau darimana kostku?” tanyaku.
“DIkasihtau Cindy” jawab Robert ringan sambil membukakan pintu untukku.
“Hah?” seruku kaget. Cindy? Wah, kacau ini anak, pikirku “Sebentar ya aku telpon dia”
“Dia?” tanya Robert.
“Cindy!” jawabku singkat seraya menempelkan Handphone pada telinga.
“Halo Lis” jawab Cindy setelah beberapa kali dering panggilan.
“Hei… maksud kamu apa sih?....” bisikku pada Cindy seraya sedikit menjauh dari Robert.
“Maksud apaan?” jawab Cindy berpura-pura tidak mengerti pada pertanyaanku.
“Kenapa kasihtau Robert kost aku segala!?” bisikku gusar pada Cindy lagi.
“Ohhh… hahahahahahaha” tawa Cindy meledak, cukup keras sehingga aku harus menjauhkan sedikit teleponku dari telinga.
“Ni anak malah tertawa…” aku merajuk.
“Dia tertarik sama kamu kayaknya” kata Cindy sambil berusaha menahan tawanya.
“Huhh..!! kamu lagi ngapain?” tanyaku.
“Lagi manasin mobil nih..” jawabnya, masih sedikit terkikik-kikik.
“Udah, aku sama Robert jemput kamu” kataku memutuskan.
“Ehh, jangan kalian berdua aja… hahahahahaha!!” ujar Cindy lagi sambil terbahak-bahak.
“15 menit ya aku datang ketempatmu, dandan sana buruan” kataku sambil mematikan sambungan telepon.
Aku berbalik dan berjalan ke tempat Robert menunggu di samping mobilnya. “Kita jemput Cindy ya” kataku sambil bergerak masuk ke kursi penumpang.
Robert hanya tersenyum dan berkata “Oke deh, kasitau ya di mana jemputnya” katanya.
“Deket kok, di *********” kataku menyebutkan daerah perumahan tempat tinggal Cindy.
“Ok deh” kata Robert sambil melajukan mobilnya.
Tidak lama kemudian kami menjemput Cindy yang sudah menunggu di depan rumahnya sambil tersenyum-senyum jahil.
Aku menatapnya dengan pandangan mengancam. Dan Cindy menjawabku dengan memberi isyarat kalau dia akan me-risleting mulutnya rapat-rapat. Meskipun wajahnya tampak setengah mati menahan tawa.
Untungnya sih Robert sepertinya tidak memperhatikan tingkah Cindy.
Perjalanan ke rumah sakit tempat mamaku melahirkan cukup jauh dan memakan waktu perjalanan sekitar satu setengah jam. Selama perjalanan, Robert ternyata seseorang yang… bagaimana aku mengatakannya? Intinya sepanjang perjalanan kami berbagi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan ‘mereka’.
Sebenarnya sih, Cindy yang banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman kami ke Robert, cowok itu hanya menjawab dan memberikan pendapat-pendapatnya.
Aku? Aku hanya nimbrung sedikit-sedikit saja, kebanyakan sih aku hanya mengangguk saja setiap Cindy bercerita.
Kami sempat mampir makan sebentar sebelum memasuki rumah sakit tempat mamaku melahirkan.
Ketika kami bertiga memasuki gerbang rumah sakit. Aku langsung merasakan mataku terasa hangat.
“Kamu merasakannya juga ya?” Robert menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.
“Hah? Oh… ‘mereka’ ya?” tanyaku.
“Iya, kamu merasakan hawa berat rumah sakit ini?” tanyanya lagi.
“Enggak sih, tapi mataku panas” kataku.
Ekspresi Robert terlihat menjadi bersemangat “Jangan-jangan ‘mahluk’ yang kamu lihat pas masih kecil ada di sini” katanya “Ayo, buruan deh!” serunya sambil menarik tanganku.
“Ciee.. ciee…” bisik Cindy pelan, cukup pelan untuk tidak terdengar Robert, tapi cukup keras untuk dapat kudengar.
Aku menatapnya dengan pandangan yang kurasa pandangan paling sadis yang bisa kulakukan, tapi bisa kulihat hal itu tidak berhasil kulakukan pada Cindy, karena kulihat dia malahan menyemburkan tawanya yang tertahan.
Aku digandeng oleh Robert memasuki pelataran rumah sakit hingga memasuki pintu lobby utama rumah sakit. Seperti biasanya, aku melihat banyak dari ‘mereka’ berkeliaran di sini. Dan yang mengherankan, aku melihat beberapa ‘mahluk’ dengan pakaian seperti… kau tau baju hujan yang berbentuk seperti boneka penangkal hujan? Bentuk poncho? Nah, para ‘mahluk’ dengan pakaian seperti itu berwarna hitam, abu-abu dan putih berdiri di sudut ruangan dan di depan beberapa ruangan.
‘Mereka’ tidak memiliki wajah, atau tepatnya aku tidak bisa melihat wajah mereka karena tertutup oleh tudung mereka, dan tidak juga kaki dan tangan mereka, karena poncho mereka yang panjang hingga tergerai di lantai.
Aku juga melihat beberapa dari ‘mereka’ yang berbentuk anak kecil bermain-main dan memanjat berbagai tempat di rumah sakit ini.
“Ini benar-benar ramai” celetuk Robert “Kamu tidak apa-apa kan? Matamu masih terasa panas?” tanyanya.
“Bukan panas, hangat… dan iya, masih terasa kok” jawabku.
“Gue mual nih… jangan deket-deket UGD yuk” kata Cindy.
Aku mengerti maksud dari Cindy, di depan ruangan UGD, tampak beberapa dari ‘mereka’ yang berwujud mengerikan. Ada dari mereka yang berjalan dengan menyeret tubuhnya dengan tangannya karena dari pinggang mereka kebawah sudah tidak ada, aku dapat melihat dengan jelas isi perut ‘mahluk’ itu menjuntai keluar dari pinggangnya. Kemudian adalagi yang kepalanya mengeluarkan sebagian dari isi otaknya, ada yang terbakar, dan masih banyak lainnya.
“Kayaknya aku setuju, ayo” kata Robert lagi seraya kembali menarik tanganku. Tanpa persetujuanku tentunya.
Kamipun kembali berjalan ke sayap lainnya dari rumah sakit itu, yaitu sayap tempat kamar bersalin dan kamar bayi.
“Mata kamu terasa makin panas ato enggak?” tanya Robert.
“Enggak juga sih, sama aja daritadi” jawabku.
“Hmm..” Robert tampak berpikir sejenak, kemudian menarik keluar kalung yang menggantung di lehernya dan menggenggamnya.
Robert berdoa sambil menggumam ke kalung yang digenggamnya.
Kau tahu Diary? Ini tampak seperti di film deh…
Robert membuka matanya, celingukan dan menatap lurus pada suatu lorong yang agak terbengkalai.
“Sini..” katanya, lagi-lagi menarik tanganku.
“Ada apa emangnya disitu?” tanyaku.
“Sesuatu yang paling kuat di rumah sakit ini” jelasnya singkat.
“Lu tau darimana?” timbrung Cindy.
Robert menatap Cindy dengan expresi serius campur jahil “Sebut saja… malaikat pelindungku”
Cindy berusaha menanyakan lebih jauh lagi perihal ‘malaikat pelindung’ Robert itu, namun Robert mengalihkan pertanyaan-pertanyaan Cindy. Kurasa Robert tidak ingin untuk membahas hal itu.
Kami bertiga tiba ke taman kecil di belakang rumah sakit setelah melalui lorong sepi itu.
Di taman kecil itu, hanya terdapat satu batu besar yang terletak tepat di sebelah pohon kecil.
“Di sini” kata Robert.
“Ada apa di sini?” tanyaku.
“Lihat saja” jawab Robert, dia berjalan beberapa langkah di depan kami. Melepas kalung yang dia pakai dan menggenggamnya dan mengacungkan tangannya ke arah batu dan pohon kecil itu.
Robert bergumam dalam kata-kata yang tidak bisa kudengar dengan sangat cepat. Aku hanya bisa mendengar desis bisikan dari kata-kata yang diucapkan olehnya.
‘DEGG’
Tiba-tiba jantungku bagai berdetak dengan sangat keras. Kemudian aku merasa sangat takut. Ketakutan yang entah darimana asalnya, ketakutan yang membuatku berdiri kaku di tempat.
Aku merasakan mataku semakin panas. “Ahhh!!” teriakku ketika kurasakan tiba-tiba panas di mataku meningkat dengan drastic.
‘ROOOOOOMM’
Kudengar suara rendah yang sangat besar langsung di dalam kepalaku. Setelah itu semuanya terasa sangat sunyi, suara desis bisikan Robert tidak terdengar lagi.
Aku merasakan rasa panas di mataku berangsur-angsur mereda. Aku membuka mataku.
Di sana, duduk di atas batu besar itu, sosok yang mengenakan mantel tebal berwarna coklat. Tidak ada satupun bagian tubuh sosok itu yang tidak tertutup oleh mantel itu kecuali mukanya. Wajahnya seperti wajah manusia lengkap dengan brewok yang sangat lebat di dagunya dan rambut yang keriting.
Tapi mata ‘mahluk’ itu berwarna hitam pekat, dengan pupil berwarna abu-abu yang hampir tersamarkan di dalam mata yang kelam itu. Dan tempat di mana seharusnya telinga berada, digantikan oleh tanduk yang besar yang mencuat ke atas kemudian menekuk turun dengan tajam hingga ujungnya berada tepat di samping kedua sisi rahang ‘mahluk’ itu.
‘Mahluk’ itu membuka mulutnya dan berbicara, namun aku tidak mengerti apapun yang dia katakan. Bahasa yang ‘mahluk’ itu pakai memiliki banyak bunyi seperti desisan pada kata-katanya.
“Robert… apa itu?” aku berbisik pada Robert yang sudah mundur sampai berada tepat di sisiku.
“Iblis..” katanya singkat, wajahnya sangat pucat ketika mengatakan itu.
Aku melihat Cindy, dia juga sama pucatnya seperti Robert, tatapannya kosong dan dipenuhi dengan ketakutan.
‘Mahluk’ itu berdesis lagi. Dan sekedipan mata, ‘dia’ sudah berada di depan aku dan Robert.
“Manusia”
Aku melihat ‘mahluk’ itu membuka mulutnya dan berbicara, tapi suara yang kudengar bukan berasal darinya, tapi dari belakangku.
Cindy…
“Cin?” panggilku.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Cindy berbicara dengan nada datar dan terkesan dingin.
“Cin?”
“LIHAT AKU!!” Cindy berteriak, dan serta merta leherku berputar sendiri dan menatap ke ‘mahluk’ itu.
‘Mahluk’ itu mendekatiku dan menatap erat mataku “Kau” kata ‘mahluk’ itu ketika dia menatap mataku.
Daguku tiba-tiba mendongak dengan sendirinya hingga wajahku menatap lurus pada ‘mahluk’ itu.
“Matamu milik M******” kata ‘mahluk’ itu dengan menggunakan mulut dan suara Cindy.
“HAHAHAHAHAHAHAHA” tawa ‘mahluk’ itu melalui Cindy, bersamaan dengan perubahan raut wajah ‘mahluk’ yang berada di hadapanku menjadi sangat bengis.
“PERGI KAU IBLIS!!” tiba-tiba Robert berteriak dengan keras sambil mengacungkan tangannya yang menggenggam kalung kea rah ‘mahluk’ itu.
“ATAS NAMA TUHAN YANG LEBIH TINGGI DARIPADAMU, AKU MEMERINTAHKAN KAU UNTUK PERGI!!” teriak Robert.
Tetapi ‘mahluk’ itu tidak bergeming.
“Kau mencoba mengusirku dengan memakai nama sang cahaya?” olok ‘mahluk’ itu lewat mulut Cindy.
‘Mahluk’ itu bergeser dengan cepat hingga ke sampai ke depan Robert “Kau takut padaku?” oloknya lagi.
“Kau bahkan lebih takut padaku daripada rasa percayamu” Kata ‘mahluk’ itu lagi sebelum kemudian dia terkekeh dengan menggunakan mulut Cindy.
Robert mengacungkan kepalannya yang menggenggam kalung miliknya ke wajah ‘mahluk’ itu “IBLIS, AKU MEMERINTAHMU ATAS NAMA-“
“DIAM!!”
Robert terpental seiring teriakan ‘mahluk’ itu, dan suara yang keluar dari mulut Cindy terdengar bagaikan suara lelaki dengan suara kasar dan berat ketimbang suara Cindy yang tinggi.
“KAU TIDAK BERHAK MENYEBUT NAMA SANG CAHAYA!!” Suara yang keluar dari mulut Cindy terdengar berat dan serak.
Kulit wajah ‘Mahluk’ itu berubah menjadi kemerahan.
“KAU PENDOSA!! PEMBUNUH!!” teriak ‘mahluk’ itu lagi melalui Cindy, suara yang keluar dari mulut Cindy terdengar semakin berat dan serak, bahkan cenderung pecah dan menggaung.
Pembunuh? Apa maksudnya Robert pembunuh?
“DIAM!!” teriak Robert, dia berusaha bangkit dan mengacungkan lagi kalung miliknya ke ‘mahluk’ itu “AKU BUKAN PEMBUNUH!! PERGI KAU IBLIS!!” teriaknya lagi.
Wajah ‘mahluk’ itu kembali ke wajah manusia seperti sebelumnya, tapi senyuman bengis tidak hilang dari wajahnya.
“Bukan? Bukan pembunuh?” Tanya ‘mahluk’ itu, dengan suara yang berat dari mulut Cindy.
“Bagaimana dengan Kiki? Apa kau tidak mau bertanggung jawab atas nyawanya?” ejek ‘mahluk’ itu.
Aku memperhatikan kejadian itu dengan bingung. Aku tidak bisa mengatakan apapun..
Atau tepatnya, aku bingung harus berkata apa..
“DIAM!! DIAMM!! DIAAAMMM!!!” Teriak Robert, wajahnya terlihat sangat gusar dan marah. Bulir-bulir keringat berjatuhan dengan deras dari wajahnya.
“Masih tidak mau mengaku? Kalau begitu, biar Kiki sendiri yang bicara” kata ‘mahluk’ itu, wajahnya sangat bengis dan jahat.
Aku melihat sesosok ‘gadis’ berbaju kuning muncul dengan menembus permukaan tanah. Gadis itu berumur sekitar 10 tahun atau sekitar itu.
Gadis itu berdiri di depan Robert, dan Robert terlihat sangat pucat melihat kemunculan gadis itu.
Kakak….
Suara gadis itu terasa bergema langsung di dalam kepalaku. Robert menutup telinga dan matanya sambil berteriak-teriak.
Kakak… kenapa kakak tinggalin Kiki dulu?
“HENTIKAAN!! HENTIKAAAN!!” teriak Robert.
Kiki sendirian kak… Kiki sakit kak, kenapa kakak tinggalin Kiki?
“TOLONG!! HENTIKAN!! PLEASE!!” Robert berteriak-teriak sambil mengiba-iba. Hatiku merasa sedikit iba melihat Robert seperti itu.
Kiki sudah bilang ke kakak, Kiki gak mau ikut tes keberanian ke kuburan… kenapa Kakak tinggalin Kiki sama mereka?...
“AHHHHH!!! STOPP!! STOOOOPPP!!” Robert mulai menangis meraung-raung sambil berguling-guling.
Kiki gak bisa kemana-kemana lagi kak… Kiki harus tinggal bersama mereka… Kiki sudah jadi milik mereka….
“AAAHHHHHHHH!!! MAAFIN KAKAK KI!! MAAFIN KAKAK!! Huuu..huuuu..huuuuu…” Robert sudah membungkuk lemas tidak bergerak, kedua tangannya memegang kepalanya yang menunduk hingga menyentuh tanah.
“Kau sudah mengaku sekarang Pembunuh?” aku terkesiap mendengar suara ‘mahluk’ itu kembali keluar dari mulut Cindy.
“Ampun .. please.. stop…!!” Robert memohon-mohon.
“Boleh, tapi ada bayarannya” kata ‘mahluk’ itu sambil tersenyum bengis.
“Please…. Please….” Robert memohon tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Bagus, sekarang hujat Tuhan yang kau puja itu, baru aku akan melepaskanmu” kata ‘mahluk’ itu.
*Sensor*
Robert mengatakannya… dia menghujat nama Tuhan yang dia percaya.
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA” ‘mahluk’ itu tertawa dengan keras, kali ini tawanya datang dari dua tempat, dari mulut Cindy dan langsung ke dalam kepalaku.
“BAGUS!!” teriak ‘mahluk’ itu dengan nada senang “Kalau begitu, akan kuberikan satu bonus!! Kiki akan kubebaskan dari jahanam kuburan tempat kau meninggalkan dia!!”
Aku terngaga mendengarnya. Apa tidak salah?
“TAPI, MULAI SEKARANG KAU HARUS SELALU MENGGENDONG KIKI DI PUNGGUNGMU!!” teriak ‘mahluk’ itu menggema melalui mulut Cindy.
Kakak… kita tidak berpisah lagi.. asyik…
Kemudian hantu gadis itu naik ke punggung Robert dan memeluknya dengan erat.
“AHHH!!!” Robert mengeluarkan teriakan terakhirnya sebelum akhirnya pingsan.
‘Mahluk’ itu menatapku.
Sekali lagi, dengan sekedip mata, ‘dia’ sudah berada di depanku.
“Kau ini apa?” tanyaku dengan suara gemetar.
“Aku ini adalah kegelapan besar” jawab ‘mahluk’ itu.
“Aku… aku tidak mengerti..” kataku.
“Kalian manusia memberikan aku angka untuk kebesaranku dari yang lainnya” kata ‘mahluk’ itu lagi.
“Angka?” tanyaku.
“Aku adalah yang ke – 33 dari legium, aku adalah penguasa atas mahluk yang sudah mati” katanya menggelegar.
“Apa?” hanya itu yang dapat kukatakan sebagai responku. Otakku tidak mampu mencerna apa yang dikatakan oleh ‘mahluk’ ini.
“Aku tidak akan menyentuhmu, kau adalah milik ‘M******’ “ kata ‘mahluk’ itu.
“ ‘M******? Apa maksudmu?” tanyaku keheranan.
“Pemilik dari matamu” kata ‘mahluk’ itu.
Kemudian aku merasakan perlahan-lahan pandanganku mengabur, dan akhirnya aku hanya ingat kegelapan.
Begitu tersadar, aku sudah berada di ruangan berwarna putih.
“Lu udah sadar?” Tanya suara di sampingku.
Aku mendapati Cindy sedang duduk di sisi tempat tidurku.
“Di mana ini?” tanyaku.
“Ruang kosong di rumah sakit, tadi gua liat lu tergeletak gitu ama si Robert pas gua sadar” kata Cindy.
“Kamu ingat?” tanyaku.
“Enggak… gua cuman inget sampe muncul tu mahluk di atas batu, abis tu kayaknya gua pingsan, terus sadar-sadar gua liat lu ama Robert yang kegeletak” jelas Cindy.
Jadi dia tidak sadar… pikirku.
“Mana Robert?” tanyaku pada Cindy setelah aku melihat ke tempat tidur lainnya yang kosong di ruangan ini.
“Dia udah sadar tadi, terus buru-buru pulang” kata Cindy “Gua udah bilang ke dia, kalo tungguin lu sadar, soalnya kan kita perginya bareng mobil dia tadi, masa kita pulang sendiri?” komentar Cindy sedikit terdengar kesal.
“Gak apa-apa, biarin Robert pulang duluan” kataku pada Cindy, tadi pasti sangat berat untuknya tambahku dalam pikiranku.
“Oh.. tapi gua liat samar-samar kayaknya pas si Robert jalan tadi, kayak ada anak kecil baju kuning jalan di samping dia” kata Cindy lagi.
Iya.. adiknya yang sudah mati… pikirku.
Akhirnya aku dan Cindy pulang dengan menggunakan taksi setelah aku cukup kuat untuk berdiri.
Barusan tadi, aku mencoba menghubungi nomor HP Robert, tapi sepertinya dimatikan karena tidak terdengar nada sambung sama sekali.
Mudah-mudahan cowok itu baik-baik saja deh…
Spoiler for Perhatian!! Buat yang Udah Baca:
Bagi yang mungkin tau nama dari 'mahluk' yang muncul di cerita ini, DILARANG KERAS menuliskan atau menyebutkan nama 'mahluk' itu di thread ini. Karena bisa membahayakan yang membaca nama 'mahluk' ini
Diubah oleh ayanokouji 18-08-2016 22:14
jenggalasunyi dan johny251976 memberi reputasi
2
Kutip
Balas