- Beranda
- Stories from the Heart
Serial Detektif Indigo (SDI): Pembunuhan “dr.Kemala” (bagian 1)
...
TS
shani.andras
Serial Detektif Indigo (SDI): Pembunuhan “dr.Kemala” (bagian 1)
Pembunuhan dr.Kemala
Sore ini adalah kunjungan rutinku bersama ayah ke psikiater di sebuah rumah sakit milik pemerintah daerah, kunjungan rutin setahun tiga kali dan akulah yang si pasien dari psikiater itu. Namaku Alvian, Alvian Chandra Sakti lengkapnya, usiaku 23 tahun dan baru saja lulus kuliah. Kenapa aku perlu kunjungan rutin ke psikiater? Yah karena ayah memaksaku sih sejak setahun kemarin, sedangkan penyebab utamanya adalah………
Sedari kecil aku ini sepertinya memiliki bakat khusus diluar bakat manusia pada umumnya, terlebih lagi bakatku ini membuatku sering membicarakan yang diluar nalar dan membuatku sering berbicara sendiri – kata orang. dimulai sejak masa puber hingga di usiaku yang sekarang aku semakin jelas merasakan dan menguasai bakatku ini, walau pu seringkali ada kalanya aku tidak bisa mengontrolnya hehe. Aku seringkali melihat kejadian-kejadian entah itu dari masa lalu atau masa depan hanya dari mendengar pembicaraan dan cerita orang, dan bisa juga dari sebuah sentuhan sengaja atau tidak disengaja pada sebuah benda atau makhluk hidup. Oh ya dan aku kadang waktu melihat makhluk selain manusia (gaib), mendengar bisikan-bisikan dan suara yang tanpa wujud penyuaranya. Sepertinya bakat ini yang membuat ayahku gerah dan memaksa diriku untuk memeriksakan diri ke klinik kejiwaan.
Psikiater untuk sesi kali ini adalah seorang dokter muda, dia menggantikan dokter terdahulu yang dinas ke daerah lain. Namanya dr. Arina, Sp.Kj usianya empat tahun diatasku, terlihat seperti tante-tante galak walau masih muda
. Aku memasuki ruang prakteknya dan dia menyapa ayah dan diriku dengan ramah, kami duduk lalu mulailah ayah menceritakan tentang diriku kepada dokter baru ini. Seperti biasa pikiranku berada di tempat lain daripada fokus mendengarkan ceramah dokter dan alasan-alasan hiperbola yang diucapkan ayah, entah mengapa mataku tiba-tiba terfokus pada sebuah foto dengan bingkai ukuran 6R yang dihiasi setangkai bunga mawar segar yang ditempelkan di pojok kanan atas, bingkai itu diletakkan di meja pas di belakang dokter Arina. terlihat di foto itu ada gambar dua wanita masih berusia awal 20an, yang disebelah kiri terlihat jelas dari romannya itu adalah dokter Arina sendiri waktu muda dulu, dan yang di sebelah kanan seorang wanita muda berhijab yang menurutku itu adalah teman dekatnya, sekejap aku sedikit pusing setelah menatap foto itu dan tiba-tiba aku menyeletuk “belum mati kenapa fotonya dikasih bunga mbak?”
Mendadak aku dijitak ayahku “ngomong sembarangan lagi, kamu ini sedang berobat, yang fokus dong” omel ayahku (*_*)a…..Sedangkan dokter Arina sedikit kaget dan bengong berucap “Kemala baru semingguan meninggal karena dibunuh susternya sendiri” dia mengucapkan dengan nada agak sinis. Aku hanya melongo sambil mengangguk, ayah dengan jengkel juga melihat kearahku (^o^). Gak terasa satu jam berlalu dans sesi “pengobatan” ini pun berakhir, ayah keluar dari ruangan terlebih dahulu, aku menyusul kemudian dan sebelum itu aku meminta kartu nama dokter Arina, dia memberikannya sambil berucap ketus “kalau mau sembuh berobatnya yang serius”, entah kenapa dengan sikapnya yang “galak” itu aku merasa jatuh hati sama dokter itu, padahal dia gak terlalu cakep dan lebih tua empat tahun dariku hihihi.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, di mobil aku mendadak merasakan rasa mual di perutku, pikirku sih paling juga cuma masuk angin, tapi samar-samar terdengar suara yang mengiba di dalam kepalaku. “Jangan……kumohon jangan pakai aku lagi..aaaaaaaaargh” dan diakhiri dengan teriakan yang memilukan. Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamarku untuk berbaring karena rasa mual ini masih terasa. Sambil berbaring aku memikirkan celetukanku pada dokter Arina tadi dan suara dari dalam kepalaku barusan di mobil, aku jadi makin tertarik tanpa sebab yang jelas dan mulai memikirkan koneksinya secara logis.
Aku mendapati diriku sedang berada di sebuah ruangan seperti laboratorium yang sudah terbengkalai dan kotor sekali, di lantainya terdapat banyak noda merah kehitaman yang mengeluarkan bau anyir darah. Aku melihat sebuah pintu, kudekati pintu itu dan kubuka…..aku memasuki sebuah lorong yang terlihat jelas bahwa ini adalah sebuah lorong rumah sakit. Ditemani rasa kaget dan ngeri aku melintasi lorong itu dan satu demi satu pintu pada sisi kanan dan kiri lorong itu terbuka, keluarlah satu persatu dari pintu itu…seorang pria dengan kedua kaki terpotong dan mengucurkan banyak darah duduk di kursi roda yang didorong oleh perawat pria tanpa kepala….lalu ada suster yang perutnya bolong dan mengeluarkan ular dan nanah segar….ada bocah-bocah gundul berlarian tanpa pakaian, mereka tidak memiliki wajah…..di dekat pintu yang paling ujung berdiri seorang wanita muda, seorang suster yang terlihat pucat namun kulihat tubuhnya masih utuh tak ada keganjilan sama sekali, tatapan matanya kosong dan terlihat memelas, kepalanya semakin menunduk dengan aku semakin mendekatinya. “Aku hanya sanggup sampai disini kak Kemala” ucapnya dihadapanku, kemudian kami memasuki pintu paling ujung di lorong rumah sakit itu. Suster itu kemudian berbaring di meja operasi dan mulai membuka seluruh pakaiannya, mendadak tanganku mengambil pisau bedah dan secara membabi buta langsung menikam seluruh badan suster itu…ya Tuhan ini sangat mengerikan sekali…..teriakan suster itu sangat mengerikan dan membuat iba namun tanganku tak bisa berhenti menghujamkan pisau bedah ini ke seluruh tubuhnya……dan sekejap kemudian pandanganku menjadi gelap, lalu aku merasakan diriku jatuh tak sadarkan diri……
Aku terbangun pada pukul 09.00 pagi dengan tubuh berkeringat dan tangan ini terasa sangat lemas, dan aku seperti kehabisan nafas karena mimpi buruk tadi. Lalu aku pun mandi dan mengambil sarapan sembari memikirkan mimpi yang sangat mengerikan tadi, sebetulnya aku tidak ingin makan namun tubuh ini lemas dan harus di isi energi. Setelah sarapan hatiku tergerak untuk menyalakan komputer dan iseng mengetik “pembunuhan dokter Kemala” di google, dan sekejap aku menemukan banyak artikel terkait yang berisi rangkuman kejadian, keterangan polisi sampai kesaksian-kesaksian orang terdekat korban. Dokter Kemala ditemukan tewas terbunuh di Kota Z dengan tubuh terbakar dan tulang rahang hancur (sengaja dihancurkan tepatnya) dan semua gigi tercabut , sebagai satu-satunya bukti identitas bahwa dia adalah dokter Kemala ditemukan cincin, kalung dan kartu identitas yang tidak sepenuhnya terbakar.
Mataku tertuju pada dompetku yang terletak di meja, pikiranku langsung fokus pada kartu nama dokter Arina kemarin. Entah mengapa aku jadi tertarik pada kematian dokter Kemala dan aku dengan sedikit harapan menghubungi dokter Arina untuk menanyakan apakah dia ada waktu di luar praktek untuk bisa aku temui, aku ingin mengajak dia kencan, alasanku asal nembak saja, mungkin sebuah kebetulan entah mengapa dokter Arina menerima ajakanku, mungkin karena aku mengajak makan dia di kafetaria rumah sakit tempat dia berkerja (*_*)v
– bersambung –
Aerith D Pus
BAGIAN 2
INDEX
Serial Detektif Indigo
CERMISKU
2016, Aerith D Pus
Sore ini adalah kunjungan rutinku bersama ayah ke psikiater di sebuah rumah sakit milik pemerintah daerah, kunjungan rutin setahun tiga kali dan akulah yang si pasien dari psikiater itu. Namaku Alvian, Alvian Chandra Sakti lengkapnya, usiaku 23 tahun dan baru saja lulus kuliah. Kenapa aku perlu kunjungan rutin ke psikiater? Yah karena ayah memaksaku sih sejak setahun kemarin, sedangkan penyebab utamanya adalah………
Sedari kecil aku ini sepertinya memiliki bakat khusus diluar bakat manusia pada umumnya, terlebih lagi bakatku ini membuatku sering membicarakan yang diluar nalar dan membuatku sering berbicara sendiri – kata orang. dimulai sejak masa puber hingga di usiaku yang sekarang aku semakin jelas merasakan dan menguasai bakatku ini, walau pu seringkali ada kalanya aku tidak bisa mengontrolnya hehe. Aku seringkali melihat kejadian-kejadian entah itu dari masa lalu atau masa depan hanya dari mendengar pembicaraan dan cerita orang, dan bisa juga dari sebuah sentuhan sengaja atau tidak disengaja pada sebuah benda atau makhluk hidup. Oh ya dan aku kadang waktu melihat makhluk selain manusia (gaib), mendengar bisikan-bisikan dan suara yang tanpa wujud penyuaranya. Sepertinya bakat ini yang membuat ayahku gerah dan memaksa diriku untuk memeriksakan diri ke klinik kejiwaan.
Psikiater untuk sesi kali ini adalah seorang dokter muda, dia menggantikan dokter terdahulu yang dinas ke daerah lain. Namanya dr. Arina, Sp.Kj usianya empat tahun diatasku, terlihat seperti tante-tante galak walau masih muda
. Aku memasuki ruang prakteknya dan dia menyapa ayah dan diriku dengan ramah, kami duduk lalu mulailah ayah menceritakan tentang diriku kepada dokter baru ini. Seperti biasa pikiranku berada di tempat lain daripada fokus mendengarkan ceramah dokter dan alasan-alasan hiperbola yang diucapkan ayah, entah mengapa mataku tiba-tiba terfokus pada sebuah foto dengan bingkai ukuran 6R yang dihiasi setangkai bunga mawar segar yang ditempelkan di pojok kanan atas, bingkai itu diletakkan di meja pas di belakang dokter Arina. terlihat di foto itu ada gambar dua wanita masih berusia awal 20an, yang disebelah kiri terlihat jelas dari romannya itu adalah dokter Arina sendiri waktu muda dulu, dan yang di sebelah kanan seorang wanita muda berhijab yang menurutku itu adalah teman dekatnya, sekejap aku sedikit pusing setelah menatap foto itu dan tiba-tiba aku menyeletuk “belum mati kenapa fotonya dikasih bunga mbak?”Mendadak aku dijitak ayahku “ngomong sembarangan lagi, kamu ini sedang berobat, yang fokus dong” omel ayahku (*_*)a…..Sedangkan dokter Arina sedikit kaget dan bengong berucap “Kemala baru semingguan meninggal karena dibunuh susternya sendiri” dia mengucapkan dengan nada agak sinis. Aku hanya melongo sambil mengangguk, ayah dengan jengkel juga melihat kearahku (^o^). Gak terasa satu jam berlalu dans sesi “pengobatan” ini pun berakhir, ayah keluar dari ruangan terlebih dahulu, aku menyusul kemudian dan sebelum itu aku meminta kartu nama dokter Arina, dia memberikannya sambil berucap ketus “kalau mau sembuh berobatnya yang serius”, entah kenapa dengan sikapnya yang “galak” itu aku merasa jatuh hati sama dokter itu, padahal dia gak terlalu cakep dan lebih tua empat tahun dariku hihihi.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, di mobil aku mendadak merasakan rasa mual di perutku, pikirku sih paling juga cuma masuk angin, tapi samar-samar terdengar suara yang mengiba di dalam kepalaku. “Jangan……kumohon jangan pakai aku lagi..aaaaaaaaargh” dan diakhiri dengan teriakan yang memilukan. Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamarku untuk berbaring karena rasa mual ini masih terasa. Sambil berbaring aku memikirkan celetukanku pada dokter Arina tadi dan suara dari dalam kepalaku barusan di mobil, aku jadi makin tertarik tanpa sebab yang jelas dan mulai memikirkan koneksinya secara logis.
Aku mendapati diriku sedang berada di sebuah ruangan seperti laboratorium yang sudah terbengkalai dan kotor sekali, di lantainya terdapat banyak noda merah kehitaman yang mengeluarkan bau anyir darah. Aku melihat sebuah pintu, kudekati pintu itu dan kubuka…..aku memasuki sebuah lorong yang terlihat jelas bahwa ini adalah sebuah lorong rumah sakit. Ditemani rasa kaget dan ngeri aku melintasi lorong itu dan satu demi satu pintu pada sisi kanan dan kiri lorong itu terbuka, keluarlah satu persatu dari pintu itu…seorang pria dengan kedua kaki terpotong dan mengucurkan banyak darah duduk di kursi roda yang didorong oleh perawat pria tanpa kepala….lalu ada suster yang perutnya bolong dan mengeluarkan ular dan nanah segar….ada bocah-bocah gundul berlarian tanpa pakaian, mereka tidak memiliki wajah…..di dekat pintu yang paling ujung berdiri seorang wanita muda, seorang suster yang terlihat pucat namun kulihat tubuhnya masih utuh tak ada keganjilan sama sekali, tatapan matanya kosong dan terlihat memelas, kepalanya semakin menunduk dengan aku semakin mendekatinya. “Aku hanya sanggup sampai disini kak Kemala” ucapnya dihadapanku, kemudian kami memasuki pintu paling ujung di lorong rumah sakit itu. Suster itu kemudian berbaring di meja operasi dan mulai membuka seluruh pakaiannya, mendadak tanganku mengambil pisau bedah dan secara membabi buta langsung menikam seluruh badan suster itu…ya Tuhan ini sangat mengerikan sekali…..teriakan suster itu sangat mengerikan dan membuat iba namun tanganku tak bisa berhenti menghujamkan pisau bedah ini ke seluruh tubuhnya……dan sekejap kemudian pandanganku menjadi gelap, lalu aku merasakan diriku jatuh tak sadarkan diri……
Aku terbangun pada pukul 09.00 pagi dengan tubuh berkeringat dan tangan ini terasa sangat lemas, dan aku seperti kehabisan nafas karena mimpi buruk tadi. Lalu aku pun mandi dan mengambil sarapan sembari memikirkan mimpi yang sangat mengerikan tadi, sebetulnya aku tidak ingin makan namun tubuh ini lemas dan harus di isi energi. Setelah sarapan hatiku tergerak untuk menyalakan komputer dan iseng mengetik “pembunuhan dokter Kemala” di google, dan sekejap aku menemukan banyak artikel terkait yang berisi rangkuman kejadian, keterangan polisi sampai kesaksian-kesaksian orang terdekat korban. Dokter Kemala ditemukan tewas terbunuh di Kota Z dengan tubuh terbakar dan tulang rahang hancur (sengaja dihancurkan tepatnya) dan semua gigi tercabut , sebagai satu-satunya bukti identitas bahwa dia adalah dokter Kemala ditemukan cincin, kalung dan kartu identitas yang tidak sepenuhnya terbakar.
Mataku tertuju pada dompetku yang terletak di meja, pikiranku langsung fokus pada kartu nama dokter Arina kemarin. Entah mengapa aku jadi tertarik pada kematian dokter Kemala dan aku dengan sedikit harapan menghubungi dokter Arina untuk menanyakan apakah dia ada waktu di luar praktek untuk bisa aku temui, aku ingin mengajak dia kencan, alasanku asal nembak saja, mungkin sebuah kebetulan entah mengapa dokter Arina menerima ajakanku, mungkin karena aku mengajak makan dia di kafetaria rumah sakit tempat dia berkerja (*_*)v
– bersambung –
Aerith D Pus
BAGIAN 2
INDEX
Spoiler for index Pembunuhan "dr.Kemala":
Serial Detektif Indigo
Spoiler for SDI:
CERMISKU
Spoiler for cerita kelana jiwa:
2016, Aerith D Pus
Spoiler for my blog:
Diubah oleh shani.andras 15-10-2019 08:41
bejo.gathel dan 7 lainnya memberi reputasi
8
69K
310
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shani.andras
#43
Pembunuhan “dr.Kemala” bagian 5:
Chronicles of Nina-2
(editor's cut, versi asli bisa dilihat di blog saya)
Sekejap di dalam gelap kudengar suara Kimi menuntunku
"Teruslah berjalan kedepan, sebentar lagi gerbang itu akan kau temukan" ucapnya
Perlahan mulai terlihat cahaya putih terang kebiru-biruan dan tanpa ragu kupercepat langkahku menuju cahaya itu, tetapi begitu mulai mendekati cahaya itu terdengar suara
"Siapa yang mengijinkanmu menggunakan pintu ini, manusia?" ucap suara tersebut yang lalu disertai kemunculan sosok seorang kakek berjubah hitam.
"Aku yang mengajaknya kesini Katir, dia si pangeran itu" jawab Kimi pada sosok kakek tadi.
"Oh ternyata yang mulia Ratu Kimi, hamba tak akan ikut campur lagi, namun apakah manusia ini tahu syarat untuk melewati pintu ini wahai Ratuku?" kata kakek itu.
"Dia belum tahu, tapi aku yakin dia bisa, bersiaplah untuk takjub Katir" jawab Kimi.
Diriku bertanya, "apa maksud kalian kakek Katir tadi, eh itu namamu kan kek? Kimi apa yang tidak aku ketahui disini ayo beritahu aku?" tanyaku dengan heran.
"Untuk bisa melewati pintu itu kau harus menyebutkan ketujuh nama mereka, kau pasti bisa, yakinlah pada hatimu dan ucapkanlah tanpa ragu, aku tak bisa membantumu memanggil mereka untukmu pangeran", balas Kimi.
Semakin membingunkan!
Akhirnya aku harus memutar otak untuk bisa memecahkan teka-teki aneh ini. Pelan-pelan aku paksa memoriku mundur kembali pada waktu diriku yang masih bocah itu menolong Kimi, lalu kugali dan kugali lagi hingga akhirnya teringat suatu kenangan yang tertancap dalam dihatiku, kenangan pada saat diriku akan dilahirkan oleh ibuku.
Entah bagaimana aku selalu mengingat sesaat sebelum diriku dilahirkan di kegelapan alam rahim, muncul sebuah terowongan cahaya yang di dalamnya ada tujuh cahaya putih, yang selanjutnya berubah menjadi sosok berbadan manusia.
Ketujuh sosok itu lalu menawarkan kepadaku untuk memilih terlahir mengikuti mereka dan menjadi pemimpin mereka, atau terlahir sebagai anak dari ibuku, dan kujawab:“aku pilih terlahir sebagai anak dari ibuku”.
Lalu mereka berpamitan dan pergi lenyap begitu saja menuju terowongan cahaya putih kebiruan. Dari situ aku mulai paham.
Namun bagaimana mungkin diriku mengetahui nama-nama mereka, mendengarnya saja belum pernah!? Atau aku sudah melupakannya?
Tanpa banyak tanya lagi, kudekati pintu cahaya itu dan secara asal mulutku menyebut tujuh nama yang belum pernah aku dengar sebelumnya:"Haaz, Alkariiq, Muzhaf, Sukho, Alkatiri, Syaam, Eezwan".
Setelah itu perlahan muncul tujuh bola cahaya mengelilingi tubuhku, ketujuhnya lalu perlahan berubah menyerupai tubuh manusia.
"Kau memanggil kami setelah sekian tahun, sekarang kau telah dewasa maka terimalah pemberian kami ini untukmu, pangeranku jaga dan bimbinglah Kimi, kami menyerahkannya padamu”, ucap mereka.
Salah satu dari mereka menyodorkan tangannya hingga menembus badanku, entah apa yang dimasukkannya, setelah itu mereka tiba-tiba lenyap.
Kimi mendekatiku dan mengajakku untuk melewati pintu itu, "pangeran, jagalah Ratu Kimi disana" ujar Katir kepadaku, aku menoleh padanya dan mengangguk, lalu kulangkahkan kakiku dan Kimi menuju sebuah terowongan cahaya.
Semenjak berjalan di dalam terowongan cahaya itu bersama Kimi, baru kusadari ternyata mata Kimi berlinang dengan airmata, "Jin juga bisa menangis ya?" tanyaku.
"Ketujuh leluhurku tadi begitu berharap padamu sebagai penyelamat dunia kami, mereka bahkan menyerahkanku kepadamu sejak kau belum lahir, kau adalah yang terpilih untuk mengakhiri perang di duniaku, di alam jin yang sudah terpecah ini" jawab Kimi sembari memelukku dari belakang dengan erat.
"Kimi....aku tak tahu bagaimana sesungguhnya situasi di duniamu, tapi dari beberapa tahun yang lalu sudah kurasakan sebuah ketidak seimbangan yang terjadi, dan hal itu berefek juga ke dunia manusia, alam fana yang juga rapuh karena perang di sebagian wilayahnya".
Mendekati pintu keluar terowongan cahaya,terasa ada yang tidak beres di seluruh badanku, sebuah rasa seperti sebuah kekangan yang menyulitkanku untuk bergerak.
"Kita sudah sampai, ikuti aku" kata Kimi dan kuikuti dia melewati pintu keluar dari terowongan cahaya.
Kami keluar dari terowongan itu dan langsung berada di sebuah ruangan berupa kamar yang kotor sekali, banyak noda menghiasi dinding serta lantainya. Entah kenapa mendadak aku pun merasa mual dan lemah sekali, sepertinya diriku belum terbiasa dengan alam ini.
Kimi yang mengetahui kondisiku memelukku dari samping,"Alvian kau belum terbiasa disini, kau harus beristirahat dulu, dan ada beberapa hal yang harus aku jelaskan padamu" ucap Kimi.
"Tak ada waktu untuk beristirahat, Nina harus segera kita temukan" balasku.
"Kamu tak perlu mengkhawatirkan tentang waktu, aliran waktu di duniaku dan duniamu berbeda, sekarang dengarkan aku, di dunia ini kau tidak akan merasa lapar atau pun haus, tapi kau masih bisa merasakan sakit, di duniaku ini energi menjadi sumber makanan utama, energi juga merupakan senjata, dan untuk berbicara ada kalanya kau tak perlu membuka mulutmu sama sekali, gunakan batinmu, hatimu, jin itu makhluk yang sangat sensitif jadi jagalah lisanmu di dunia ini”.
“Lalu ada pantangan bagi kami untuk dipanggil dengan nama asli oleh makhluk selain kami" ujar Kimi memberi penjelasan.
Setelah sebentar beristirahat badanku sudah mulai terasa lebi baik, lalu kulangkahkan kaki menuju sebuah pintu yang sepertinya menuju ke bagian lain dari tempat ini.
"Kimi, sebaiknya kau kembali saja ke tempatmu, aku bisa mengatasinya sendiri disini" ucapku pada Kimi.
"Aku tak akan membantahmu pangeran, semoga kau berhasil menemukan gadis itu, dan kau boleh memanggilku kapan saja apabila kau membutuhkan aku, walau pun tidak ada diriku kau pun tidak pernah sendiri, pangeran" balas Kimi.
Aku jadi berpikir apa maksud dari "diriku tidak pernah sendiri", ah sudahlah biar kupikirkan di lain waktu sajalah, Kimi pun berpamitan dan secara perlahan dia lenyap seperti angin di hadapanku, aku kembali menuju pintu dan bersiap untuk menelusuri tempat ini untuk mencari Nina.
Kubuka pintu itu dan melangkah memasuki sebuah lorong yang sangat panjang dengan beberapa pintu dari kayu yang sudah terlihat berlumut, terdapat gembok di masing-masing pintu tadi, langkahku terhenti ketika berada pas di tengah-tengah lorong itu, kurasakan hawa sangat jahat dari arah depanku.
Datanglah segerombolan asap hitam pekat dan berbau sangat busuk menerobos dari arah belakangku, asap itu lalu berkumpul menggumpal jadi satu di hadapanku dan mulai membentuk sebuah sosok, semakin jelas bentuk dari sosok itu dan semakin sangar pula hawa jahat yang kurasakan dan kurasakan lagi rasa mual serta rasa sakit di kepalaku, akhirnya lengkap sudah wujud fisik dari sosok tadi dia menyerupai seorang wanita tua bertubuh raksasa dengan rambut putih kekuningan yang terurai panjang sampai ke lantai, kulitnya di beberapa bagian bersisik, kukunya panjang-panjang dan sesekali mengeluarkan asap busuk berwarna coklat dari mulutnya yang bertaring, bola matanya melotot keluar dan makhluk ini hanya memakai sebuah celana dalam putih kotor dan bernoda dan sisanya tak mengenakan apa pun di tubuhnya.
"IHIHIHIHI, kau berani kemari manusia, lancang sekali kau memasuki rumahku tanpa permisi,tujuanmu kemari pasti untuk mengambil bocah manusia itu, lupakanlah, dia adalah budakku sekarang, jiwanya merupakan sumber energi untuk makananku WIHIHIHIHIHI!!"
Kata makhluk itu dengan sombong lalu dia mendekatiku dengan cepat, badanku yang menjadi lemah tiba-tiba diangkatnya dan dibanting.Perutku ditendangnya, aku benar-benar tidak berdaya menghadapi jin tua ini. Rambutku dijambak dan diseret tubuhku menuju sebuah kamar, kemudian kulihat dia dengan kukunya merobek perutnya sendiri dan keluar menjulur usus-ususnya yang meliuk-liuk sperti layaknya seekor ular.
Dengan ususnya tadi dia mengikatku di sebuah dipan yang sudah berkarat, laludipotongnya usus tersebut lalu dia beranjak meninggalkanku di kamar itu.
"Kau ini....kau ini pastilah yang disebut WEWE GOMBEL oleh para manusia" ucapku yang membuat makhluk itu berhenti melangkah dan menengok ke arahku.
"Masih bisa bicara juga kau manusia tengik, anggap saja seperti itu tapi aku jauh lebih tua dari ‘Wewe Gombel’ yang kau sebut itu hahahahaha", ujarnya sambil melangkah meninggalkan diriku yang terikat tak berdaya. Makhluk ini pastilah salah satu leluhur dari para "Wewe Gombel", golongan jin yang suka menculik anak manusia untuk diserap energinya untuk dijadikan sumber makanan, kataku dalam hati.
Dalam keadaan terikat dan tubuh yang melemah aku berpikir keras untuk bisa melepaskan diri dari ikatan ini, lalu teringat kata-kata Kimi:"di duniaku ini, energi menjadi sumber makanan utama, energi juga merupakan senjata".
Kuputar otakku untuk membuat siasat, dan mempelajari sesuatu bahwa apabila energi manusia bisa jadi makanan para jin, maka energi itu pun mampu dijadikan sebagai senjata juga, lalu kupejamkan mata dan sekilas kumelihat sebagaimana diriku waktu dulu menyelamatkan Kimi dari kepungan para jin jahat, kugenggam erat jari di kedua tanganku dan kufokuskan semua energi yang mampu kurasakan ke telapak tangan.
"Sudah saatnya kau gunakan kekuatanmu pangeran, dulu sewaktu engkau lahir kami menyegelnya di dalam tubuhmu, sehingga kau hanya mampu menggunakan sebagian kecil saja, lalu kami membuka kembali segelnya setelah kau dewasa, ingatkah engkau pangeran" sebuah suara dari beberapa orang terdengar di telingaku yang membawaku mengingat sewaktu diriku bertemu ketujuh leluhur Kimi di depan pintu cahaya, salah satu dari mereka mendekatiku dan tangannya "menembus" ke badanku, diriku pun semakin paham.
Kutingkatkan fokusku, kurasakan rasa hangat pada kaki dan tanganku yang terikat dan..
BLAAAR!!
Api biru yang keluar entah dari mana membakar usus-usus "Wewe Gombel" hingga kering dan aku bisa melepaskan diri dari ikatannya.
Selanjutnya aku fokus pada penyembuhan diri, dengan konsentrasi penuh kualirkan energi penyembuhan.
Tak berapa lama, aku sudah segar lagi, sekarang saatnya diriku bergegas untuk menemukan dimana Nina disekap oleh "Wewe Gombel", kumelangkah keluar dari kamar tempatku dikurung tadi dan menjelajahi rumah "Wewe Gombel".
Satu persatu pintu yang digembok kudobrak dengan energi yang kubalutkan di tangan kananku, hingga kujumpai sebuah pintu kayu yang dilapisi besi berkarat.
Meskipunsedikit mengalami kesulitan, tapi aku berhasil membukanya dengan paksa.
Sekejap dari balik pintu itu seekor kera hitam besar menyerangku diikuti dengan ratusan ular hitam, sontak diriku berlari menghindari serangan membabi buta hewan-hewan tadi, sembari menghindar kusiapkan serangan berbasis energi dan kulontarkan kearah gerombolan hewan-hewan buas tadi.
BLUAAAR!!
Suara ledakan energi yang sangat keras disertai serpihan tubuh hewan yang tercabik-cabik.
Kulangkahkan kaki kembali menuju ruangan tadi, begitu kakiku menginjak ruangan itu dari dinding- kamar muncul berbagai makhluk lagi, kali ini mulai dari pocong, kuntilanak sampai gendruwo sepertinya bersiap untuk menyerangku.
Kupejamkan mata, dengan pikiran dan mata batinku kusiapkan lagi sebuah serangan untuk memukul mundur jin kelas rendah yang mengambil wujud hantu-hantu lokal tadi, dan berhasil mereka terpental kembali ke dalam dinding-dinding itu.
"SIALAN KAU MANUSIA TENGIK, KAU TAK AKAN KUAMPUNI, KUBALAS KAU DAN KUSEKAP JIWAMU UNTUK SELAMANYA DISINI, DAKN KAU TAK AKAN BERHASIL MENEMUKAN BOCAH MANUSIA YANG KAU CARI" suara "Wewe Gombel" bergema di ruangan itu.
Perasaanku mengatakan ada sesuatu di ruangan ini yang menyembunyikan keberadaan Nina karena kurasakan hawa gadis itu sangat lemah di ruangan ini, kembali kupejamkan mata dan kubertanya dalam hati "Nina...Nina..apakah kamu berada di dekat sini?"
Lalu entah apa penyebabnya, salah satu sisi dinding di ruangan itu retak dan membawa kecurigaanku kesana, kudekati lalu kuamati tembok yang mendadak retak itu, kurasakan sebuah energi yang sepertinya menyegel sesuatu dari balik dinding ini.
Kubalutkan lagi energi di kedua tanganku untuk menjebol dinding yang sudah retak itu.
BRUAKK
Dinding itu runtuh dan di baliknya terdapat sebuah ruangan yang dipenuhi oleh tulisan-tulisan aneh.
"Inikah tulisan bangsa jin, sepertinya sebuah mantra penyegelan yang sudah sangat tua" gumamku dalam hati.
Di ujung ruangan itu kumelihat sebuah pintu berwana merah yang kondisinya masih sangat bagus tidak seperti pintu-pintu lainnya di rumah ini, kudekati dan kuamati......astaga!
Warna merah di pintu ini adalah cat dari darah segar!
Dengan jijik kucoba untuk membuka pintu itu yang terbuat dari besi, kucoba menendang tapi pintu itu tak bergeming, bahkan tidak mengeluarkan suara.
Kukerahkan seluruh energi pada seluruh tubuhku untuk mencoba mendobrak pintu itu sekali lagi........
Kudobrak pintu besi berwarna merah itu dengan sekuat tenaga
BRUAAAK!!
Pintu itu akhirnya terbuka, akhirnya aku memasuki ruang utama tempat Nina disekap oleh "Wewe Gombel".
Nina tergeletak lemah di atas sebuah tikar jerami tepat di depan jendela beruji yang sudah berkarat.
Akhirnya 'tubuh jiwa' Nina kutemukan, semoga diriku tidak terlambat.
Kuangkat tubuhnya yang sangat lemah itu, kugendong dan kakiku langsung bergerak cepat keluar dari kamar dan menuju terowongan cahaya tempatku datang menuju alam jin ini.
Sepanjang perjalananku menuju terowongan cahaya, dari kamar-kamar yang tadinya kosong sekarang keluar berbagai makhluk dalam beragam rupa mencoba untuk menghalangiku kabur.
Dengan membawa 'tubuh jiwa' Nina kau hanya bisa menghindari serangan-serangan mereka.
Aku hampir kepayahan, serangan-serangan itu tiada henti mendatangiku, akhirnya kucepatkan laju kakiku berlari.
Terowongan itu sudah terlihat dan aku berlari bergegas menuju kesana, namun tiba-tiba..
"WIHIHIHI!! kau tak akan mampu menghadapiku manusia, ayo lepaskan anak itu maka kuampuni nyawamu" ancam "Wewe Gombel" yang berdiri menghalangiku, tepat di depan terowongan cahaya.
"Ucapkanlah Alvian, ayo kau sangat membutuhkan pertolonganku saat ini" ucap Kimi yang mendadak muncul di samping kiriku --entah datang dari mana dia--.
"Tidak akan sampai kapan pun, dan kutegaskan sekali lagi padamu, kau tak berhutang apa pun pada diriku, ‘kejadian’ waktu itu kuanggap tak pernah terjadi, minggirlah Kimi, jin tua itu sudah berhasil membuatku "MARAH" dan aku yakin kau tahu apa yang akan segera terjadi padanya" ujarku pada Kimi dan dia pun sedikit menjauh kebelakangku.
"Biarkan aku membawa gadis itu ‘pangeran’”. Kimi selalu memanggilku pangeran apabila dia menunjukkan ketakutannya kepadaku.
"Aku percaya padamu untuk itu, lindungilah Nina dan lindungilah dirimu juga", balasku sembari menyerahkan Nina kepada Kimi.
Lalu kuberlari kearah "Wewe Gombel" dengan amarahku yang telah memuncak.
"Hahahaha kau berani melawanku manusia bodoh" tawa jin tua itu menyambutku.
DUAAAK!!
Tendanganku tepat mengenai kepala "Wewe Gombel" disertai petir-petir kecil yang keluar dari kakiku sedikit membakar kulitnya.
"KURANG AJAR KAU" teriaknya kesakitan, sembari jin tua itu mencoba untuk berdiri.
Diriku yang sudah telanjur marah mulai menyiapkan pukulan energi seperti yang dulu pernah Kimi perlihatkan, bola-bola energi berbagai warna yang disertai kilatan-kilatan ledakan energi mulai berkumpul di kepalan tangan kanan dan kiriku dan kuhantamkan semuanya ke tubuh "Wewe Gombel", hingga tercipta sebuah ledakan yang mencabik-cabik seluruh tubuh jin tua yang jahat itu.
"Tolonglah aku tuan, ampuni aku yang sudah tua ini...." ucap "Wewe Gombel" lemah.
Kudekati kepalanya yang tergeletak lemah itu "aku sudah memintamu dengan baik-baik bahkan memperingatkanmu, sekarang aku tak akan mengampunimu Khosyii" ucapku padanya.
"Darimana kau tahu nama itu, mana mungkin seorang manusia bisa mengetahui nama-nama asli bangsa kami, para jin" ujarnya ketakutan dan semakin lemah.
"Siapa kau manusia, siapakah dirimu yang sebenarnya??.........." teriaknya dengan penasaran.
"Keturunannku akan terus memburumu manusia...lihat saja kau...mereka akan membalas perbuatanmu kepadaku......mereka...mereka...aaaaaakh" dan Khosyii alias "Wewe Gombel" pun tewas, jin tua itu mati dengan dipenuhi rasa penasaran tentang diriku.
"Kimi ayo kita kembali ke alamku", Kimi pun mengikutiku ke terowongan cahaya.
"Seharusnya kau tadi tak perlu semarah itu, Khosyii itu bisa kau kalahkan dengan mudah, aku pun tak ingin melihatmu semarah itu pangeran" ucap Kimi sambil menundukkan wajahnya, lalu dia menyerahkan kembali Nina kepadaku.
Kami bertiga akhirnya kembali ke alam manusia, dan terowongan cahaya menghilang dengan sendirinya.
Segera aku melangkah menuju tubuh manusia Nina, kemudian kubaringkan 'tubuh jiwa' Nina disampingnya, dengan sendirinya 'tubuh jiwa' itu menyatu dengan tubuh manusianya.
Tak lama kemudian mata Nina terbuka, dengan lirih keluar ucapan dari bibirnya yang lama membisu, "mama.......mama..mamaaaaaa" ucapnya lemah.
"Ninaaaa, mama disini nak, Ninaku sayaaang kamu sudah kembali...." balas Arimbi sembari berlinang airmata.
Waktu itu sudah sore hari, Nina dengan selamat kembali ke alam manusia, Arimbi sangat bahagia berurai airmata, suaminya yang kebetulan baru pulang pun tak kalah kaget, dia juga menangis bahagia, sedangkan Arina yang pada mulanya ikut bahagia karena Nina sudah kembali mendadak menyadari satu hal.
"Viiin.....Alviaaaan, hei bangunlah Nina sudah kembali" teriaknya pelan sambil mengguncang-guncang tubuhku yang belum sadar. Arina panik karena tak tahu harus berbuat apa, aku belum sadar.
Lalu dia memperhatikan jari tangan kananku bergerak, seperti memberi isyarat, tanpa tahu apa artinya itu Arina kebingungan.
Suami Arimbi seakan tahu makna dari gerakan jari tanganku, dia berinisiatif mengambil handphonenya dan meletakkannya di jemariku yang bergerak-gerak tadi.
"BAWA TUBUH INI KE KAMAR MANDI, BASAHI KEPALA DAN USAP TENGKUKNYA, ALVIAN MASIH TERTAHAN DI ALAMKU", ketik jemariku di handphone suami Arimbi.
Arina yang ikut membaca pesan itu lalu membalas bertanya,"kau siapa, dimana sebenarnya Alvian, kenapa kami harus mempercayaimu?"
"AKU KIMI, TEMAN SEDARI KECILNYA, PERCAYALAH PADA KATA-KATAKU DAN SEGERALAH LAKUKAN YANG AKU SURUH TADI, KAU PUN JUGA INGIN ALVIAN SADAR KEMBALI KAN"
Tanpa pikir panjang suami Arimbi menggotong tubuhku ke kamar mandi bersama Arina, lalu mereka melakukan apa yang diberitahu oleh Kimi tadi..
BYUUUR
..dan aku pun sadar kembali.
Sore itu juga kami membawa Nina ke rumah sakit, untuk mendapatkan perawatan medis karena kondisinya masih lemah.
Di luar ruangan tempat Nina dirawat, kedua orang tua Ninamenemuiku.
"Saya pribadi ingin memberimu hadiah atas apa yang telah kau lakukan pada Nina, kami sangat berhutang besar padamu, saya sampai bingung harus membalas dengan apa untukmu" ucap suami Arimbi kepadaku.
"Sudahlah saya tidak megharapkan imbalan apa pun, itu pun tadi hanya sebuah kebetulan kok saya bermain ke rumah Arina terus diajak ke rumah anda" balasku.
"Eh.. sebentar.. bagaimana kalau kalian merestui hubunganku dengan Arina saja" lanjut ucapanku dengan percaya diri.
Arina yang berdiri di sampingku langsung mencubit pinggangku dengan keras.
"Seenaknya saja" omelnya padaku.
Arina lalu memaksaku berpamitan pada kakaknya dan langsung menyeretku pulang.
Arina mengantarku pulang, di dalam mobilnya dia berkata,"Terima kasih atas apa yang telah kau lakukan pada Nina" ujarnya sambil berlinang airmata.
"Sekarang aku siap untuk mendengarkan ceritamu tentang Kemala, aku sudah percaya kepadamu Vin, ceritakan semua yang kamu ketahui tentang Kemala dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kasusnya", sambungnya.
"Singkat saja penjelasanku, Kemala masih hidup dan dia telah melakukan tindak kejahatan yang serius".
-BERSAMBUNG-
BAGIAN 6
(editor's cut, versi asli bisa dilihat di blog saya)
Sekejap di dalam gelap kudengar suara Kimi menuntunku
"Teruslah berjalan kedepan, sebentar lagi gerbang itu akan kau temukan" ucapnya
Perlahan mulai terlihat cahaya putih terang kebiru-biruan dan tanpa ragu kupercepat langkahku menuju cahaya itu, tetapi begitu mulai mendekati cahaya itu terdengar suara
"Siapa yang mengijinkanmu menggunakan pintu ini, manusia?" ucap suara tersebut yang lalu disertai kemunculan sosok seorang kakek berjubah hitam.
"Aku yang mengajaknya kesini Katir, dia si pangeran itu" jawab Kimi pada sosok kakek tadi.
"Oh ternyata yang mulia Ratu Kimi, hamba tak akan ikut campur lagi, namun apakah manusia ini tahu syarat untuk melewati pintu ini wahai Ratuku?" kata kakek itu.
"Dia belum tahu, tapi aku yakin dia bisa, bersiaplah untuk takjub Katir" jawab Kimi.
Diriku bertanya, "apa maksud kalian kakek Katir tadi, eh itu namamu kan kek? Kimi apa yang tidak aku ketahui disini ayo beritahu aku?" tanyaku dengan heran.
"Untuk bisa melewati pintu itu kau harus menyebutkan ketujuh nama mereka, kau pasti bisa, yakinlah pada hatimu dan ucapkanlah tanpa ragu, aku tak bisa membantumu memanggil mereka untukmu pangeran", balas Kimi.
Semakin membingunkan!
Akhirnya aku harus memutar otak untuk bisa memecahkan teka-teki aneh ini. Pelan-pelan aku paksa memoriku mundur kembali pada waktu diriku yang masih bocah itu menolong Kimi, lalu kugali dan kugali lagi hingga akhirnya teringat suatu kenangan yang tertancap dalam dihatiku, kenangan pada saat diriku akan dilahirkan oleh ibuku.
Entah bagaimana aku selalu mengingat sesaat sebelum diriku dilahirkan di kegelapan alam rahim, muncul sebuah terowongan cahaya yang di dalamnya ada tujuh cahaya putih, yang selanjutnya berubah menjadi sosok berbadan manusia.
Ketujuh sosok itu lalu menawarkan kepadaku untuk memilih terlahir mengikuti mereka dan menjadi pemimpin mereka, atau terlahir sebagai anak dari ibuku, dan kujawab:“aku pilih terlahir sebagai anak dari ibuku”.
Lalu mereka berpamitan dan pergi lenyap begitu saja menuju terowongan cahaya putih kebiruan. Dari situ aku mulai paham.
Namun bagaimana mungkin diriku mengetahui nama-nama mereka, mendengarnya saja belum pernah!? Atau aku sudah melupakannya?
Tanpa banyak tanya lagi, kudekati pintu cahaya itu dan secara asal mulutku menyebut tujuh nama yang belum pernah aku dengar sebelumnya:"Haaz, Alkariiq, Muzhaf, Sukho, Alkatiri, Syaam, Eezwan".
Setelah itu perlahan muncul tujuh bola cahaya mengelilingi tubuhku, ketujuhnya lalu perlahan berubah menyerupai tubuh manusia.
"Kau memanggil kami setelah sekian tahun, sekarang kau telah dewasa maka terimalah pemberian kami ini untukmu, pangeranku jaga dan bimbinglah Kimi, kami menyerahkannya padamu”, ucap mereka.
Salah satu dari mereka menyodorkan tangannya hingga menembus badanku, entah apa yang dimasukkannya, setelah itu mereka tiba-tiba lenyap.
Kimi mendekatiku dan mengajakku untuk melewati pintu itu, "pangeran, jagalah Ratu Kimi disana" ujar Katir kepadaku, aku menoleh padanya dan mengangguk, lalu kulangkahkan kakiku dan Kimi menuju sebuah terowongan cahaya.
Semenjak berjalan di dalam terowongan cahaya itu bersama Kimi, baru kusadari ternyata mata Kimi berlinang dengan airmata, "Jin juga bisa menangis ya?" tanyaku.
"Ketujuh leluhurku tadi begitu berharap padamu sebagai penyelamat dunia kami, mereka bahkan menyerahkanku kepadamu sejak kau belum lahir, kau adalah yang terpilih untuk mengakhiri perang di duniaku, di alam jin yang sudah terpecah ini" jawab Kimi sembari memelukku dari belakang dengan erat.
"Kimi....aku tak tahu bagaimana sesungguhnya situasi di duniamu, tapi dari beberapa tahun yang lalu sudah kurasakan sebuah ketidak seimbangan yang terjadi, dan hal itu berefek juga ke dunia manusia, alam fana yang juga rapuh karena perang di sebagian wilayahnya".
Mendekati pintu keluar terowongan cahaya,terasa ada yang tidak beres di seluruh badanku, sebuah rasa seperti sebuah kekangan yang menyulitkanku untuk bergerak.
"Kita sudah sampai, ikuti aku" kata Kimi dan kuikuti dia melewati pintu keluar dari terowongan cahaya.
Kami keluar dari terowongan itu dan langsung berada di sebuah ruangan berupa kamar yang kotor sekali, banyak noda menghiasi dinding serta lantainya. Entah kenapa mendadak aku pun merasa mual dan lemah sekali, sepertinya diriku belum terbiasa dengan alam ini.
Kimi yang mengetahui kondisiku memelukku dari samping,"Alvian kau belum terbiasa disini, kau harus beristirahat dulu, dan ada beberapa hal yang harus aku jelaskan padamu" ucap Kimi.
"Tak ada waktu untuk beristirahat, Nina harus segera kita temukan" balasku.
"Kamu tak perlu mengkhawatirkan tentang waktu, aliran waktu di duniaku dan duniamu berbeda, sekarang dengarkan aku, di dunia ini kau tidak akan merasa lapar atau pun haus, tapi kau masih bisa merasakan sakit, di duniaku ini energi menjadi sumber makanan utama, energi juga merupakan senjata, dan untuk berbicara ada kalanya kau tak perlu membuka mulutmu sama sekali, gunakan batinmu, hatimu, jin itu makhluk yang sangat sensitif jadi jagalah lisanmu di dunia ini”.
“Lalu ada pantangan bagi kami untuk dipanggil dengan nama asli oleh makhluk selain kami" ujar Kimi memberi penjelasan.
Setelah sebentar beristirahat badanku sudah mulai terasa lebi baik, lalu kulangkahkan kaki menuju sebuah pintu yang sepertinya menuju ke bagian lain dari tempat ini.
"Kimi, sebaiknya kau kembali saja ke tempatmu, aku bisa mengatasinya sendiri disini" ucapku pada Kimi.
"Aku tak akan membantahmu pangeran, semoga kau berhasil menemukan gadis itu, dan kau boleh memanggilku kapan saja apabila kau membutuhkan aku, walau pun tidak ada diriku kau pun tidak pernah sendiri, pangeran" balas Kimi.
Aku jadi berpikir apa maksud dari "diriku tidak pernah sendiri", ah sudahlah biar kupikirkan di lain waktu sajalah, Kimi pun berpamitan dan secara perlahan dia lenyap seperti angin di hadapanku, aku kembali menuju pintu dan bersiap untuk menelusuri tempat ini untuk mencari Nina.
Kubuka pintu itu dan melangkah memasuki sebuah lorong yang sangat panjang dengan beberapa pintu dari kayu yang sudah terlihat berlumut, terdapat gembok di masing-masing pintu tadi, langkahku terhenti ketika berada pas di tengah-tengah lorong itu, kurasakan hawa sangat jahat dari arah depanku.
Datanglah segerombolan asap hitam pekat dan berbau sangat busuk menerobos dari arah belakangku, asap itu lalu berkumpul menggumpal jadi satu di hadapanku dan mulai membentuk sebuah sosok, semakin jelas bentuk dari sosok itu dan semakin sangar pula hawa jahat yang kurasakan dan kurasakan lagi rasa mual serta rasa sakit di kepalaku, akhirnya lengkap sudah wujud fisik dari sosok tadi dia menyerupai seorang wanita tua bertubuh raksasa dengan rambut putih kekuningan yang terurai panjang sampai ke lantai, kulitnya di beberapa bagian bersisik, kukunya panjang-panjang dan sesekali mengeluarkan asap busuk berwarna coklat dari mulutnya yang bertaring, bola matanya melotot keluar dan makhluk ini hanya memakai sebuah celana dalam putih kotor dan bernoda dan sisanya tak mengenakan apa pun di tubuhnya.
"IHIHIHIHI, kau berani kemari manusia, lancang sekali kau memasuki rumahku tanpa permisi,tujuanmu kemari pasti untuk mengambil bocah manusia itu, lupakanlah, dia adalah budakku sekarang, jiwanya merupakan sumber energi untuk makananku WIHIHIHIHIHI!!"
Kata makhluk itu dengan sombong lalu dia mendekatiku dengan cepat, badanku yang menjadi lemah tiba-tiba diangkatnya dan dibanting.Perutku ditendangnya, aku benar-benar tidak berdaya menghadapi jin tua ini. Rambutku dijambak dan diseret tubuhku menuju sebuah kamar, kemudian kulihat dia dengan kukunya merobek perutnya sendiri dan keluar menjulur usus-ususnya yang meliuk-liuk sperti layaknya seekor ular.
Dengan ususnya tadi dia mengikatku di sebuah dipan yang sudah berkarat, laludipotongnya usus tersebut lalu dia beranjak meninggalkanku di kamar itu.
"Kau ini....kau ini pastilah yang disebut WEWE GOMBEL oleh para manusia" ucapku yang membuat makhluk itu berhenti melangkah dan menengok ke arahku.
"Masih bisa bicara juga kau manusia tengik, anggap saja seperti itu tapi aku jauh lebih tua dari ‘Wewe Gombel’ yang kau sebut itu hahahahaha", ujarnya sambil melangkah meninggalkan diriku yang terikat tak berdaya. Makhluk ini pastilah salah satu leluhur dari para "Wewe Gombel", golongan jin yang suka menculik anak manusia untuk diserap energinya untuk dijadikan sumber makanan, kataku dalam hati.
Dalam keadaan terikat dan tubuh yang melemah aku berpikir keras untuk bisa melepaskan diri dari ikatan ini, lalu teringat kata-kata Kimi:"di duniaku ini, energi menjadi sumber makanan utama, energi juga merupakan senjata".
Kuputar otakku untuk membuat siasat, dan mempelajari sesuatu bahwa apabila energi manusia bisa jadi makanan para jin, maka energi itu pun mampu dijadikan sebagai senjata juga, lalu kupejamkan mata dan sekilas kumelihat sebagaimana diriku waktu dulu menyelamatkan Kimi dari kepungan para jin jahat, kugenggam erat jari di kedua tanganku dan kufokuskan semua energi yang mampu kurasakan ke telapak tangan.
"Sudah saatnya kau gunakan kekuatanmu pangeran, dulu sewaktu engkau lahir kami menyegelnya di dalam tubuhmu, sehingga kau hanya mampu menggunakan sebagian kecil saja, lalu kami membuka kembali segelnya setelah kau dewasa, ingatkah engkau pangeran" sebuah suara dari beberapa orang terdengar di telingaku yang membawaku mengingat sewaktu diriku bertemu ketujuh leluhur Kimi di depan pintu cahaya, salah satu dari mereka mendekatiku dan tangannya "menembus" ke badanku, diriku pun semakin paham.
Kutingkatkan fokusku, kurasakan rasa hangat pada kaki dan tanganku yang terikat dan..
BLAAAR!!
Api biru yang keluar entah dari mana membakar usus-usus "Wewe Gombel" hingga kering dan aku bisa melepaskan diri dari ikatannya.
Selanjutnya aku fokus pada penyembuhan diri, dengan konsentrasi penuh kualirkan energi penyembuhan.
Tak berapa lama, aku sudah segar lagi, sekarang saatnya diriku bergegas untuk menemukan dimana Nina disekap oleh "Wewe Gombel", kumelangkah keluar dari kamar tempatku dikurung tadi dan menjelajahi rumah "Wewe Gombel".
Satu persatu pintu yang digembok kudobrak dengan energi yang kubalutkan di tangan kananku, hingga kujumpai sebuah pintu kayu yang dilapisi besi berkarat.
Meskipunsedikit mengalami kesulitan, tapi aku berhasil membukanya dengan paksa.
Sekejap dari balik pintu itu seekor kera hitam besar menyerangku diikuti dengan ratusan ular hitam, sontak diriku berlari menghindari serangan membabi buta hewan-hewan tadi, sembari menghindar kusiapkan serangan berbasis energi dan kulontarkan kearah gerombolan hewan-hewan buas tadi.
BLUAAAR!!
Suara ledakan energi yang sangat keras disertai serpihan tubuh hewan yang tercabik-cabik.
Kulangkahkan kaki kembali menuju ruangan tadi, begitu kakiku menginjak ruangan itu dari dinding- kamar muncul berbagai makhluk lagi, kali ini mulai dari pocong, kuntilanak sampai gendruwo sepertinya bersiap untuk menyerangku.
Kupejamkan mata, dengan pikiran dan mata batinku kusiapkan lagi sebuah serangan untuk memukul mundur jin kelas rendah yang mengambil wujud hantu-hantu lokal tadi, dan berhasil mereka terpental kembali ke dalam dinding-dinding itu.
"SIALAN KAU MANUSIA TENGIK, KAU TAK AKAN KUAMPUNI, KUBALAS KAU DAN KUSEKAP JIWAMU UNTUK SELAMANYA DISINI, DAKN KAU TAK AKAN BERHASIL MENEMUKAN BOCAH MANUSIA YANG KAU CARI" suara "Wewe Gombel" bergema di ruangan itu.
Perasaanku mengatakan ada sesuatu di ruangan ini yang menyembunyikan keberadaan Nina karena kurasakan hawa gadis itu sangat lemah di ruangan ini, kembali kupejamkan mata dan kubertanya dalam hati "Nina...Nina..apakah kamu berada di dekat sini?"
Lalu entah apa penyebabnya, salah satu sisi dinding di ruangan itu retak dan membawa kecurigaanku kesana, kudekati lalu kuamati tembok yang mendadak retak itu, kurasakan sebuah energi yang sepertinya menyegel sesuatu dari balik dinding ini.
Kubalutkan lagi energi di kedua tanganku untuk menjebol dinding yang sudah retak itu.
BRUAKK
Dinding itu runtuh dan di baliknya terdapat sebuah ruangan yang dipenuhi oleh tulisan-tulisan aneh.
"Inikah tulisan bangsa jin, sepertinya sebuah mantra penyegelan yang sudah sangat tua" gumamku dalam hati.
Di ujung ruangan itu kumelihat sebuah pintu berwana merah yang kondisinya masih sangat bagus tidak seperti pintu-pintu lainnya di rumah ini, kudekati dan kuamati......astaga!
Warna merah di pintu ini adalah cat dari darah segar!
Dengan jijik kucoba untuk membuka pintu itu yang terbuat dari besi, kucoba menendang tapi pintu itu tak bergeming, bahkan tidak mengeluarkan suara.
Kukerahkan seluruh energi pada seluruh tubuhku untuk mencoba mendobrak pintu itu sekali lagi........
Kudobrak pintu besi berwarna merah itu dengan sekuat tenaga
BRUAAAK!!
Pintu itu akhirnya terbuka, akhirnya aku memasuki ruang utama tempat Nina disekap oleh "Wewe Gombel".
Nina tergeletak lemah di atas sebuah tikar jerami tepat di depan jendela beruji yang sudah berkarat.
Akhirnya 'tubuh jiwa' Nina kutemukan, semoga diriku tidak terlambat.
Kuangkat tubuhnya yang sangat lemah itu, kugendong dan kakiku langsung bergerak cepat keluar dari kamar dan menuju terowongan cahaya tempatku datang menuju alam jin ini.
Sepanjang perjalananku menuju terowongan cahaya, dari kamar-kamar yang tadinya kosong sekarang keluar berbagai makhluk dalam beragam rupa mencoba untuk menghalangiku kabur.
Dengan membawa 'tubuh jiwa' Nina kau hanya bisa menghindari serangan-serangan mereka.
Aku hampir kepayahan, serangan-serangan itu tiada henti mendatangiku, akhirnya kucepatkan laju kakiku berlari.
Terowongan itu sudah terlihat dan aku berlari bergegas menuju kesana, namun tiba-tiba..
"WIHIHIHI!! kau tak akan mampu menghadapiku manusia, ayo lepaskan anak itu maka kuampuni nyawamu" ancam "Wewe Gombel" yang berdiri menghalangiku, tepat di depan terowongan cahaya.
"Ucapkanlah Alvian, ayo kau sangat membutuhkan pertolonganku saat ini" ucap Kimi yang mendadak muncul di samping kiriku --entah datang dari mana dia--.
"Tidak akan sampai kapan pun, dan kutegaskan sekali lagi padamu, kau tak berhutang apa pun pada diriku, ‘kejadian’ waktu itu kuanggap tak pernah terjadi, minggirlah Kimi, jin tua itu sudah berhasil membuatku "MARAH" dan aku yakin kau tahu apa yang akan segera terjadi padanya" ujarku pada Kimi dan dia pun sedikit menjauh kebelakangku.
"Biarkan aku membawa gadis itu ‘pangeran’”. Kimi selalu memanggilku pangeran apabila dia menunjukkan ketakutannya kepadaku.
"Aku percaya padamu untuk itu, lindungilah Nina dan lindungilah dirimu juga", balasku sembari menyerahkan Nina kepada Kimi.
Lalu kuberlari kearah "Wewe Gombel" dengan amarahku yang telah memuncak.
"Hahahaha kau berani melawanku manusia bodoh" tawa jin tua itu menyambutku.
DUAAAK!!
Tendanganku tepat mengenai kepala "Wewe Gombel" disertai petir-petir kecil yang keluar dari kakiku sedikit membakar kulitnya.
"KURANG AJAR KAU" teriaknya kesakitan, sembari jin tua itu mencoba untuk berdiri.
Diriku yang sudah telanjur marah mulai menyiapkan pukulan energi seperti yang dulu pernah Kimi perlihatkan, bola-bola energi berbagai warna yang disertai kilatan-kilatan ledakan energi mulai berkumpul di kepalan tangan kanan dan kiriku dan kuhantamkan semuanya ke tubuh "Wewe Gombel", hingga tercipta sebuah ledakan yang mencabik-cabik seluruh tubuh jin tua yang jahat itu.
"Tolonglah aku tuan, ampuni aku yang sudah tua ini...." ucap "Wewe Gombel" lemah.
Kudekati kepalanya yang tergeletak lemah itu "aku sudah memintamu dengan baik-baik bahkan memperingatkanmu, sekarang aku tak akan mengampunimu Khosyii" ucapku padanya.
"Darimana kau tahu nama itu, mana mungkin seorang manusia bisa mengetahui nama-nama asli bangsa kami, para jin" ujarnya ketakutan dan semakin lemah.
"Siapa kau manusia, siapakah dirimu yang sebenarnya??.........." teriaknya dengan penasaran.
"Keturunannku akan terus memburumu manusia...lihat saja kau...mereka akan membalas perbuatanmu kepadaku......mereka...mereka...aaaaaakh" dan Khosyii alias "Wewe Gombel" pun tewas, jin tua itu mati dengan dipenuhi rasa penasaran tentang diriku.
"Kimi ayo kita kembali ke alamku", Kimi pun mengikutiku ke terowongan cahaya.
"Seharusnya kau tadi tak perlu semarah itu, Khosyii itu bisa kau kalahkan dengan mudah, aku pun tak ingin melihatmu semarah itu pangeran" ucap Kimi sambil menundukkan wajahnya, lalu dia menyerahkan kembali Nina kepadaku.
Kami bertiga akhirnya kembali ke alam manusia, dan terowongan cahaya menghilang dengan sendirinya.
Segera aku melangkah menuju tubuh manusia Nina, kemudian kubaringkan 'tubuh jiwa' Nina disampingnya, dengan sendirinya 'tubuh jiwa' itu menyatu dengan tubuh manusianya.
Tak lama kemudian mata Nina terbuka, dengan lirih keluar ucapan dari bibirnya yang lama membisu, "mama.......mama..mamaaaaaa" ucapnya lemah.
"Ninaaaa, mama disini nak, Ninaku sayaaang kamu sudah kembali...." balas Arimbi sembari berlinang airmata.
Waktu itu sudah sore hari, Nina dengan selamat kembali ke alam manusia, Arimbi sangat bahagia berurai airmata, suaminya yang kebetulan baru pulang pun tak kalah kaget, dia juga menangis bahagia, sedangkan Arina yang pada mulanya ikut bahagia karena Nina sudah kembali mendadak menyadari satu hal.
"Viiin.....Alviaaaan, hei bangunlah Nina sudah kembali" teriaknya pelan sambil mengguncang-guncang tubuhku yang belum sadar. Arina panik karena tak tahu harus berbuat apa, aku belum sadar.
Lalu dia memperhatikan jari tangan kananku bergerak, seperti memberi isyarat, tanpa tahu apa artinya itu Arina kebingungan.
Suami Arimbi seakan tahu makna dari gerakan jari tanganku, dia berinisiatif mengambil handphonenya dan meletakkannya di jemariku yang bergerak-gerak tadi.
"BAWA TUBUH INI KE KAMAR MANDI, BASAHI KEPALA DAN USAP TENGKUKNYA, ALVIAN MASIH TERTAHAN DI ALAMKU", ketik jemariku di handphone suami Arimbi.
Arina yang ikut membaca pesan itu lalu membalas bertanya,"kau siapa, dimana sebenarnya Alvian, kenapa kami harus mempercayaimu?"
"AKU KIMI, TEMAN SEDARI KECILNYA, PERCAYALAH PADA KATA-KATAKU DAN SEGERALAH LAKUKAN YANG AKU SURUH TADI, KAU PUN JUGA INGIN ALVIAN SADAR KEMBALI KAN"
Tanpa pikir panjang suami Arimbi menggotong tubuhku ke kamar mandi bersama Arina, lalu mereka melakukan apa yang diberitahu oleh Kimi tadi..
BYUUUR
..dan aku pun sadar kembali.
Sore itu juga kami membawa Nina ke rumah sakit, untuk mendapatkan perawatan medis karena kondisinya masih lemah.
Di luar ruangan tempat Nina dirawat, kedua orang tua Ninamenemuiku.
"Saya pribadi ingin memberimu hadiah atas apa yang telah kau lakukan pada Nina, kami sangat berhutang besar padamu, saya sampai bingung harus membalas dengan apa untukmu" ucap suami Arimbi kepadaku.
"Sudahlah saya tidak megharapkan imbalan apa pun, itu pun tadi hanya sebuah kebetulan kok saya bermain ke rumah Arina terus diajak ke rumah anda" balasku.
"Eh.. sebentar.. bagaimana kalau kalian merestui hubunganku dengan Arina saja" lanjut ucapanku dengan percaya diri.
Arina yang berdiri di sampingku langsung mencubit pinggangku dengan keras.
"Seenaknya saja" omelnya padaku.
Arina lalu memaksaku berpamitan pada kakaknya dan langsung menyeretku pulang.
Arina mengantarku pulang, di dalam mobilnya dia berkata,"Terima kasih atas apa yang telah kau lakukan pada Nina" ujarnya sambil berlinang airmata.
"Sekarang aku siap untuk mendengarkan ceritamu tentang Kemala, aku sudah percaya kepadamu Vin, ceritakan semua yang kamu ketahui tentang Kemala dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kasusnya", sambungnya.
"Singkat saja penjelasanku, Kemala masih hidup dan dia telah melakukan tindak kejahatan yang serius".
-BERSAMBUNG-
BAGIAN 6
Diubah oleh shani.andras 20-08-2016 23:21
bejo.gathel dan 4 lainnya memberi reputasi
5