- Beranda
- Stories from the Heart
Selamat Datang Dunia Nyata
...
TS
.gatack.
Selamat Datang Dunia Nyata
Quote:
Peraturan
1. Ikuti aturan Forum SFTH
2. Jangan kepo berlebihan
3. Jangan ngejunk
1. Ikuti aturan Forum SFTH
2. Jangan kepo berlebihan
3. Jangan ngejunk
Quote:
Pertanyaan Umum
1.Apakah ini cerita nyata ?
Iya, cerita beberapa tahun yang lalu. Kalau mau menganggap cerita ini fiksi silahkan.
2. Latar cerita ini dimana ?
Salah satu Kota di Kalimantan Selatan
3.Apa status agan sekarang ?
Bekerja dan sudah menjadi suami orang lain.

4.Penampilan agan bagaimana ?
Silahkan disimak ceritanya. yang jelas badan saya sekarang kecil (164 cm)
5.Kapan Updatenya ?
Enggak tentu, akan tetapi saya usahakan setiap hari.
Daftar Isi :
Chapter 00 - Mimpi di tengah hujan
Chapter 1 - Kembali ke masa sekolah
Chapter 1.5 - Kembali ke masa sekolah 2
Chapter 2 - Gadis yang mengerikan
Chapter 3 - Awal
Chapter 4 - 31 Desember
Chapter 5 - Kesenangan
Diubah oleh .gatack. 21-08-2016 13:27
anasabila memberi reputasi
1
3.6K
Kutip
24
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.gatack.
#23
Quote:
Chapter 4 - 31 Desember
Dari pagi hingga sekarang pukul dua puluh lebih, tidak ada tanda-tanda Erina akan datang ke rumah gue.
SMS dari gue pun tidak dibalas olehnya.
Sejak pagi pula gue bingung karena tak ada laptop lagi.
Apakah Erina ngambek karena gue enggak minta maaf kemarin ?
Gak mungkinlah dia ngambek.
Seadainya ngambek, dia engggak akan nyuruh nyokap buat memaksa gue ikut dia.
Saat ini gue duduk di depan TV
Entah sudah berapa kali gue memindah-mindah channel yang ada di TV
Tidak ada yang nyantol dengan gue.
Acara TV sekarang buruk.
Drrrt... Drrrt...
HP gue bergetar, sebuah SMS masuk.
Dari : Bayu
-Woi Ren, kau kok gak Online-online dari kemarin malam sampai sekarang ?
SMS tersebut gue balas.
~Laptop gue rusak.
-Wah serius ?
Bagus dong kalau kaya gitu, jadinya kau itu gak pacaran terus sama laptop.
Hahaha
Jangan sampai kau bunuh diri gara itu.
Kalau kau bunuh diri, nanti masuk koran dan judulnya
“Laptopnya rusak, pemuda ini stress, lalu gantung diri. Hasilnya ya Mati.”
Hahaha
~Ya enggaklah bodoh!
Mana mungkin gue sampai kaya gitu.
-Bagus... Bagus...
Ini kesempatan kau Ren buat berubah.
Setelah itu gue dan Bayu berhenti SMSan.
Bayu ini anaknya Ibu Wati teman nyokap gue sekaligus guru yang mencoba menyelamatkan gue, agar tidak dikeluarkan dari SMK dulu.
Selama gue mengasingkan diri dunia luar dia sering memberi nasehat agar gue merubah sifat gue saat ini.
Ketika SD dulu gue sering main ke rumah dia.
Gue, Bayu serta empat teman gue yang lain membudidayakan ikan cupang di samping rumahnya.
Ketika dirumah Bayu, gue sering di gangguin sama adik ceweknya yang satu SD sama gue.
Gue gak tahu sebabnya
Hasil ikan yang kami budidayakan, kami jual di sekolahan SD.
Sekolah kami berbeda-beda saat itu.
Akan tetapi ketika gue pindah rumah, gue gak pernah main ke rumah Bayu lagi.
Saat gue pindah kembali ke komplek yang sama dengan teman-teman gue, mereka sudah pisah-pisah.
Bayu berkuliah di salah satu universitas di depok.
Empat teman gue yang lain kerja di Kaltim, ada juga yang di Jakarta.
Apakah ini kesempatan gue untuk berubah ?
Tidak lama setelah gue berhenti SMSan dengan Bayu
Hape gue bergetar.
Dari : Erina
-Siap-siap...
Sebentar lagi aku sampai disitu.
Aku datang kesitu, pokoknya kamu harus sudah siap !
Setelah melihat SMS tersebut gue langsung mengenakan kaos abu-abu serta celana jeans denim yang sudah lama tidak gue pakai.
Tidak lupa juga gue mengenakan Jaket Hitam polos ditambah masker agar tidak ada orang yang mengenali gue.
Tidak ada perasaan sesak ketika mengenakannya sebab badan gue tidak terlalu mengalami perubahan yang signifikan.
TOK TOK TOK
Pintu rumah gue di ketok.
Gue yang sudah siap langsung turun ke bawah.
Sebelum membuka pintu, gue melihat ke lubang kecil yang ada pintu.
Oh Erina
Gue langsung membuka pintu.
Erina mengenakan sweater abu-abu dengan celana panjang hitam
“Sudah siapkan?”
“Udah kok. Eh Rin...Maafin gue yang kemaren ya” ucap gue meminta maaf.
“Udah...Jangan bahas itu lagi!”
Erina berkata dengan nada sedikit tinggi. Lalu melanjutkan perkataannya.
“Laptop kamu nanti aku ganti.Yuk jalan!” ujarnya tersenyum.
“Kita mau kemana?” ucap gue yang penasaran sejak kemarin.
“Udah kamu diem aja.”
Gue dan Erina berjalan keluar dari wilayah kontrakan.
Ah itu rumah gue .
Eh...
Bukan...
Itu rumah orang.
Rumahnya terlihat lebih bagus karena sudah di renovasi.
Awalnya kayu sekarang sudah beton dengan pagar menjulang tinggi.
Kami berdua berjalan melewati rumah yang pernah menjadi tempat tinggal gue itu dan pada akhirnya kami tiba di rumah Ibu Wati.
“Kok disini? Lo kenal sama Ibu Wati ?” ucap gue yang kaget.
“Ibu Wati?” Erina memiringkan kepalanya kesamping. ” Itu nama Ibunya Wulandari ya? ”
Kok Erina bisa kenal Wulan ?
“Lo kenal Wulan darimana?”
“Aku kenal karena satu kampus sama dia.” jawab Erina.
Jangan-jangan...
“Lo tahu keadaan gue dari Wulan?”
“Iya hehehe”
“Yaudah yuk, itu mobil aku ” Ujarnya menunjuk ke mobil yang ada di halaman rumah Ibu Wati.
Kok Wulan bisa cerita ke Erina ?
Gue Bingung...
Ibu Wati keluar dari Rumah.
Ketika melihat gue Ibu Wati tersenyum, sepertinya beliau senang karena gue mau mencoba untuk keluar rumah.
Entah kenapa gue sangat malu.
Sekalipun gue mengenakan masker.
Sekalipun orang yang melihat gue tidak berpikiran negatif mengenai gue.
Erina berbicara sebentar dengan Ibu Wati.
Wulan sedang tidak ada di rumah.
Itu kesimpulan yang gue tarik. Seandainya ada sudah pasti dia menemui Erina.
Selain itu ajakan Erina ditolak oleh Wulan, sudah pasti dia ada kegiatan lain.
Setelah perbincangan yang singkat Erina berpamitan ke Ibu Wati.
Kami berdua masuk ke dalam mobil buatan industri jepang.
“Aku aja yang nyetir.” ucap Erina
“Yaiyalah lo yang nyetir, masa gue sih.”
Erina tertawa.
“Udah diem aja kamu.Jangan banyak tanya!”
Itulah jawaban yang gue dapat ketika menanyakan “Kita mau kemana?”
Selama perjalanan Erina ngetawain gue karena badan gue gak tinggi.
Badan gue gak bertambah tinggi dengan pesat karena gue gk pernah olahraga selama tiga tahun .
Selain itu dirinya memuji warna kulit gue yang bertambah putih.
Dia juga cerita bahwa dirinya selama SMA mengikuti beberapa Ekskul.
Erina ikut Ekskul Paskibra, Karate, Pramuka.
Gue yakin gara-gara ekskul yang dia ikuti itu tubuhnya sekarang tidak gemuk lagi .
Bahkan cenderung langsing.
Mobil berjalan melewati Masjid, menaiki jembatan.
Pada hari minggu jalanan yang mengelilingi masjid itu dipadati oleh orang-orang untuk berolahraga.
Gue terakhir kali berolahraga disitu tujuh tahun yang lalu.
Mobil memasuki sebuah komplek dan berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar.
“Sampaaaaaaaaaii!” ucap Erina dengan senang.
“Kita dimana?” tanya gue.
“Rumah aku.”
Hah ?
Rumah Erina ?
Chapter 5 - Kesenangan
Dari pagi hingga sekarang pukul dua puluh lebih, tidak ada tanda-tanda Erina akan datang ke rumah gue.
SMS dari gue pun tidak dibalas olehnya.
Sejak pagi pula gue bingung karena tak ada laptop lagi.
Apakah Erina ngambek karena gue enggak minta maaf kemarin ?
Gak mungkinlah dia ngambek.
Seadainya ngambek, dia engggak akan nyuruh nyokap buat memaksa gue ikut dia.
Saat ini gue duduk di depan TV
Entah sudah berapa kali gue memindah-mindah channel yang ada di TV
Tidak ada yang nyantol dengan gue.
Acara TV sekarang buruk.
Drrrt... Drrrt...
HP gue bergetar, sebuah SMS masuk.
Dari : Bayu
-Woi Ren, kau kok gak Online-online dari kemarin malam sampai sekarang ?
SMS tersebut gue balas.
~Laptop gue rusak.
-Wah serius ?
Bagus dong kalau kaya gitu, jadinya kau itu gak pacaran terus sama laptop.
Hahaha
Jangan sampai kau bunuh diri gara itu.
Kalau kau bunuh diri, nanti masuk koran dan judulnya
“Laptopnya rusak, pemuda ini stress, lalu gantung diri. Hasilnya ya Mati.”
Hahaha
~Ya enggaklah bodoh!
Mana mungkin gue sampai kaya gitu.
-Bagus... Bagus...
Ini kesempatan kau Ren buat berubah.
Setelah itu gue dan Bayu berhenti SMSan.
Bayu ini anaknya Ibu Wati teman nyokap gue sekaligus guru yang mencoba menyelamatkan gue, agar tidak dikeluarkan dari SMK dulu.
Selama gue mengasingkan diri dunia luar dia sering memberi nasehat agar gue merubah sifat gue saat ini.
Ketika SD dulu gue sering main ke rumah dia.
Gue, Bayu serta empat teman gue yang lain membudidayakan ikan cupang di samping rumahnya.
Ketika dirumah Bayu, gue sering di gangguin sama adik ceweknya yang satu SD sama gue.
Gue gak tahu sebabnya
Hasil ikan yang kami budidayakan, kami jual di sekolahan SD.
Sekolah kami berbeda-beda saat itu.
Akan tetapi ketika gue pindah rumah, gue gak pernah main ke rumah Bayu lagi.
Saat gue pindah kembali ke komplek yang sama dengan teman-teman gue, mereka sudah pisah-pisah.
Bayu berkuliah di salah satu universitas di depok.
Empat teman gue yang lain kerja di Kaltim, ada juga yang di Jakarta.
Apakah ini kesempatan gue untuk berubah ?
Tidak lama setelah gue berhenti SMSan dengan Bayu
Hape gue bergetar.
Dari : Erina
-Siap-siap...
Sebentar lagi aku sampai disitu.
Aku datang kesitu, pokoknya kamu harus sudah siap !
Setelah melihat SMS tersebut gue langsung mengenakan kaos abu-abu serta celana jeans denim yang sudah lama tidak gue pakai.
Tidak lupa juga gue mengenakan Jaket Hitam polos ditambah masker agar tidak ada orang yang mengenali gue.
Tidak ada perasaan sesak ketika mengenakannya sebab badan gue tidak terlalu mengalami perubahan yang signifikan.
TOK TOK TOK
Pintu rumah gue di ketok.
Gue yang sudah siap langsung turun ke bawah.
Sebelum membuka pintu, gue melihat ke lubang kecil yang ada pintu.
Oh Erina
Gue langsung membuka pintu.
Erina mengenakan sweater abu-abu dengan celana panjang hitam
“Sudah siapkan?”
“Udah kok. Eh Rin...Maafin gue yang kemaren ya” ucap gue meminta maaf.
“Udah...Jangan bahas itu lagi!”
Erina berkata dengan nada sedikit tinggi. Lalu melanjutkan perkataannya.
“Laptop kamu nanti aku ganti.Yuk jalan!” ujarnya tersenyum.
“Kita mau kemana?” ucap gue yang penasaran sejak kemarin.
“Udah kamu diem aja.”
Gue dan Erina berjalan keluar dari wilayah kontrakan.
Ah itu rumah gue .
Eh...
Bukan...
Itu rumah orang.
Rumahnya terlihat lebih bagus karena sudah di renovasi.
Awalnya kayu sekarang sudah beton dengan pagar menjulang tinggi.
Kami berdua berjalan melewati rumah yang pernah menjadi tempat tinggal gue itu dan pada akhirnya kami tiba di rumah Ibu Wati.
“Kok disini? Lo kenal sama Ibu Wati ?” ucap gue yang kaget.
“Ibu Wati?” Erina memiringkan kepalanya kesamping. ” Itu nama Ibunya Wulandari ya? ”
Kok Erina bisa kenal Wulan ?
“Lo kenal Wulan darimana?”
“Aku kenal karena satu kampus sama dia.” jawab Erina.
Jangan-jangan...
“Lo tahu keadaan gue dari Wulan?”
“Iya hehehe”
“Yaudah yuk, itu mobil aku ” Ujarnya menunjuk ke mobil yang ada di halaman rumah Ibu Wati.
Kok Wulan bisa cerita ke Erina ?
Gue Bingung...
Ibu Wati keluar dari Rumah.
Ketika melihat gue Ibu Wati tersenyum, sepertinya beliau senang karena gue mau mencoba untuk keluar rumah.
Entah kenapa gue sangat malu.
Sekalipun gue mengenakan masker.
Sekalipun orang yang melihat gue tidak berpikiran negatif mengenai gue.
Erina berbicara sebentar dengan Ibu Wati.
Wulan sedang tidak ada di rumah.
Itu kesimpulan yang gue tarik. Seandainya ada sudah pasti dia menemui Erina.
Selain itu ajakan Erina ditolak oleh Wulan, sudah pasti dia ada kegiatan lain.
Setelah perbincangan yang singkat Erina berpamitan ke Ibu Wati.
Kami berdua masuk ke dalam mobil buatan industri jepang.
“Aku aja yang nyetir.” ucap Erina
“Yaiyalah lo yang nyetir, masa gue sih.”
Erina tertawa.
“Udah diem aja kamu.Jangan banyak tanya!”
Itulah jawaban yang gue dapat ketika menanyakan “Kita mau kemana?”
Selama perjalanan Erina ngetawain gue karena badan gue gak tinggi.
Badan gue gak bertambah tinggi dengan pesat karena gue gk pernah olahraga selama tiga tahun .
Selain itu dirinya memuji warna kulit gue yang bertambah putih.
Dia juga cerita bahwa dirinya selama SMA mengikuti beberapa Ekskul.
Erina ikut Ekskul Paskibra, Karate, Pramuka.
Gue yakin gara-gara ekskul yang dia ikuti itu tubuhnya sekarang tidak gemuk lagi .
Bahkan cenderung langsing.
Mobil berjalan melewati Masjid, menaiki jembatan.
Pada hari minggu jalanan yang mengelilingi masjid itu dipadati oleh orang-orang untuk berolahraga.
Gue terakhir kali berolahraga disitu tujuh tahun yang lalu.
Mobil memasuki sebuah komplek dan berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar.
“Sampaaaaaaaaaii!” ucap Erina dengan senang.
“Kita dimana?” tanya gue.
“Rumah aku.”
Hah ?
Rumah Erina ?
Chapter 5 - Kesenangan
Diubah oleh .gatack. 21-08-2016 13:29
0
Kutip
Balas