Kaskus

Story

ichol88Avatar border
TS
ichol88
Ketika Aku belum menikah......
Halo, nama ku Arfa, nama samaran yak. Soalnya ane juga mau jaga privasi.

Aku anak pertama dari 2 bersaudara, adikku perempuan, selisih 1,5 tahun. Bapak ibuku cerai sejak aku belum masuk TK. Aku dan adikku tinggal di Yogyakarta, diasuh oleh kakek-nenek dari ibuku. Waktu itu bapakku lgsg nikah lg dan menetap di Palembang, sementara ibuku menjadi TKW/I di Malaysia. Kakekku berprofesi sbg makelar motor, sapi, dsb dan jg sbg petani jg. Nha, nenekku kerjanya jd Kepala Sekolah, yg aktivitasnya super duper sibuk sekali. Pulang sekolah lgsg ada acara PKK di Kelurahan, malemnya keroncongan, karawitan, nembang, dll. Nenekku cukup berprestasi, di almari nya aja ada 50an lebih piala. Dahsyat.....

ini true story ya guys. cuma namanya pd aku samarin. ohiya, harap maklum kalau tulisan saya kurang greget, ataupun gak seru. di real life pun aku gak pinter ngomong... apalagi di tulisan, hehe. harapan aku sih, dari cerita pengalamanku ini, temen2 bisa ngambil hikmahnya. sukur2 bisa ngasih solusi yg kasusnya hampir mirip dg kasus dalam ceritaku, hehe.

Aku cerita dari jaman SD sekalian ya, singkat aja. Dan berlanjut...

Monggo disimak... emoticon-Smilie

Spoiler for klik satu per satu ya gan sis /:)/:




Spoiler for Catatan Kecil:
Diubah oleh ichol88 25-08-2017 11:18
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
49.1K
269
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.2KAnggota
Tampilkan semua post
ichol88Avatar border
TS
ichol88
#51
PART 19


27 Mei 2006. Pukul 05.55 WIB.

Mataku masih sayu, belum 100 persen tersadar. Sambil meraba tuner radio, hendak mencari gelombang 101.70 FM.

Tiba2...

Bumi Jogja bergerak. Dinding rumah sempoyongan menyangga rapatnya genteng atap rumah. Segala macam suara terdengar saat itu, mulai dari genteng pecah, almari ambruk, perabotan berserakan, jeritan2 spontan, maupun mantra “kukuh bakuh” terucap berulang2. Hampir 1 menit, yaitu 57 detik. Cukup memporak porandakan Jogjakarta dan sekitarnya.

Ar: cil! Bangun cil! Bangun! Gempa... lari cil, keluar!
Adek: (mata masih belum melek, ngucek mata. Dia santai saja menanggapi kepanikanku).
Ar: mbah, lari mbah, keluar mbahhhhh!! (aku mengajak Kakekku keluar rumah).

Nenekku kebetulan sudah diluar rumah, menyapu halaman. Sementara ibuku n bapak 2 tidur di rumah bapak 2.

Sesampainya diluar rumah, bumi masih bergetar ntah membentuk pola apa. Aku, kakek, nenek, dan beberapa tetanggaku berada di jalan perkampungan sambil melihat genteng berhamburan. Asbes maupun seng berbenturan. Pagar bumi bergoyang hampir ambruk.

Nenek: le, adekmu mana?
Ar: td udah aku bangunin mbah, bentar mbah aku susul adek.
Kakek: gak usah le, bahaya.
Ar: tapi mbah........ adek.......

57 detik kemudian. Gempa selesai. Terdengar jerit dan tangis dari berbagai penjuru arah. Terlihat banyak ketakutan dr semua wajah yg terlihat di kampungku, yg sepertinya melanda seluruh Jogjakarta.

Aku, Kakek, dan Nenek segera masuk kerumah mencari adekku yg tidak kunjung keluar. Baru saja masuk ruang tamu, piala nenekku yg jumlahnya saya taksir sekitar 50an berserakan bersama perabotan porselen koleksi nenekku. Pecahan genteng terlihat memenuhi lantai rumah. Bahkan sudut ruangan kamar tamu ada yg retak-bongkah.

Sesampainya di kamar adekku, dia tanpa ekspresi mengucek matanya. Seolah2 dia tidak merasakan kepanikan sama sekali. Padahal, dikasurnya ada genteng pecah yg tak terhitung jumlahnya.

NeneK: nok... oni Gempa kok ra mlayu to...?
Adek: kata mas Arfa kalo ada gempa jgn panik. Nanti bahaya kalau panik, lari keluar malah bs jatuh.
Nenek: ini td kan gempanya gede nok, getarannya jg lama. Kalo di dalam rumah bahaya, bs ambruk rumahnya.
Adek: mas Arfa itu mbah, kalo mau dimarahin...
Arfa: (speechless, aku mengajarkan sesuatu yg sesat).

***ceritanya flashback***
Ar: dik, kalo suatu saat ada gempa jgn panik ya. Sembunyi di bawah kasur aja kalo gempanya kenceng.
Adek: kok gak lari keluar aja mas?
Ar: kalo lari keluar, malah bahaya. Apalagi larinya panik, bisa nubruk2...
Adek: masa bodoh mas...
Ntah itu aku punya firasat apa memberikan nasehat ke adekku seperti itu, ternyata ga selang berapa lama kejadian gempanya.
***flashback berakhir***

Pasca gempa pukul 05.55 WIB, semua orang tidak ada yg berani masuk rumah. Semua mencoba menenangkan diri keluarga masing2.

Aku melihat HP, mau mencari tau kabar dari teman2 sekolahku. Rupanya sinyal lgsg terputus saat itu. Aliran listrik jg diputus oleh pihak berwenang, menghindari kejadian yg tidak diinginkan. Hanya satu alat komunikasi yg bs beroperasi saat itu, Radio.

Mendengar berita dari Radio, rupanya gempa pagi itu sangat dahsyat. Beberapa daerah di bantul bahkan ada yg hampir semua rumahnya rata tanah. Di kampungku sendiri ada 1 rumah yg benar2 roboh rata tanah. Yg retak dan bongkah banyak.

Pada saat yg lain tidak berani masuk rumah, beda dg adekku. Mentalnya benar2 bermental baja. Dia masuk kerumah, mandi. Tidak berselang lama, dia udah rapi dengan seragam dan tas ransel.

Ar: gempa2 mau kemana cil?
Adek: ke sekolah lah mas.
Ar: kok bawa tas ransel?
Adek: wah, kamu ini memang gak perhatian sm adek sendiri... sekolahku kan hari ini mau piknik ke Bali.
Ar: wuiiisss... mantab, tp sekolahmu gak libur po dek?
Adek: yo dicoba berangkat ke sekolah dulu mas, rugi ntar kaloternyata jadi berangkat, soalnya udah bayar.
Ar: yaudah ati2 ya cil, berangkat sm siapa?
Adek: nunggu bapak aja, nanti biar diantar...
Ar: yaudah aku berangkat gotong royong dulu dik...
Adek: ya mas...

Kira2 pukul 09.00 WIB, warga di kampung sibuk gotong royong, kerja bakti membantu warga yg rumahnya rusak parah. Tiba2..........................

BANYUNE WiS TEKAN PALBAPAAAANGGG!!!!!! (airnya sudah sampai perempatan Palbapang).
BANYUNE TEKAN GOSEEEE!!!!! (airnya sudah sampai perempatan Gose).
BANYUNE WIS TEKAN RUMAH SAKIIITTT!!!


Teriakan2 tersebut sontak terasa bagaikan terompet sangsakakala mini waktu itu. Benar2 suasana saat itu hampir seperti kiamat. Warga yg bergotong royong berhamburan melarikan diri. Bahkan ada beberapa korban meninggal yg diikat ke suatu pohon. Mengindari air rob yg menerjang Jogja.

Tidak sedikit orang2 yg melarikan diri saling berjatuhan. Hingga melakukan hal konyol, banyak yg berniat melarikan diri dari terjangan tsunami, mereka punya motor, tp mereka memilih lari daripada mengendarai motor.
Aku panik, dan mulai linglung. Mau lari tp bingung mau menuju kearah mana. Hingga akhirnya kakekku datang mengendarai motor Yamaha L2 Super dengan santai menghampiriku. Aku bonceng kakekku. Bukannya diajak melaju kearah utara, malah ke selatan. Balik kerumah.

Adek dan nenekku sudah tidak ada dirumah, nampaknya ikut panik. Tidak berselang lama, bapak 2 datang kerumah.

Bapak 2: wis le, gak usah kemana2... itu td Cuma isu.
Ar: bener om? Kata siapa isu om?
Bapak 2: td ada himbauan dari polisi di perempatan2, kalau tsunami cm isu.
Kakek: bener le, cm isu. Wis rasah wedi (udah ga usah takut).

Benar2 suatu kejahatan yg tak terampuni. Sungguh tega. Kejam. Pembuat isu tsunami yg menggegerkan rakyat Jogja saat itu. Sungguh tak punya hati nurani. Isu yg tercipta efeknya lebih mengerikan daripada gempa yg terjadi. Membuat psikologis warga Jogja yg rapuh saat itu, menjadi semakin hancur. Belum lagi, ditambah ulah para pencari harta dunia picik, yg menjual bensin eceran /liter 10-15rb. Banyak SPBU yg tidak beroperasi membuat bensin sempat langka.

Di kampungku saat itu benar2 sepi. Banyak motor bergelimpangan ditinggal pemiliknya.

Bapak 2: le, ambilkan botol air mineral.
Ar: ya Om. (aku mengiyakan permintaan Bapak 2, sementara Bapak 2 mencari obeng)

Ar: ini botolnya Pak, untuk apa?
Bapak 2: sekarang bensin langka le, mahal. Jd kita ambil dari motor2 ini. Sekalian dikosongkan, biar motor ini gak diambil orang jahat.
Ar: ya Om.

Ntah apa yg kulakukan berdua dengan Bapak 2 waktu itu bisa dianggap suatu perbuatan dosa karena mencuri bensin, atau perbuatan kebaikan karena mengamankan motor orang lain. Oke, yg terakhir alibi, pembelaan.

Pada hari itu, beberapa gempa susulan masih sering terjadi. Benar saja, psikologis warga memang sudah terpengaruh isu tsunami.

Malam harinya jg sangat mencekam, selain listrik padam, malam itu juga turun hujan. Warga bergotong royong membuat tenda darurat di lapangan, halaman sekolah, beberapa warga jg ada yg mendirikan tenda di halaman rumah masing2, termasuk keluargaku.



_________________________________________
aku memanggil adekku dg sebutan "kancil".
Diubah oleh ichol88 17-08-2016 11:44
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.