Kaskus

Story

rain31Avatar border
TS
rain31
Empat Dan Satu [Fiction and a little action]
Halo agan2 reader SFTH yang terhormat. ini thread pertama ane dimari. setelha thread ane yang dulu ane hapus karena masih acakadul. emoticon-Ngakak (S)
Jadi, tanpa banyak bicara, ane posting aja lah. semoga berkenan untuk dibaca, komeng & kripik pedasnya ditunggu gan...
emoticon-Toast

RESUME :
Quote:

DAPTAR ISI:
Quote:
Diubah oleh rain31 21-08-2016 19:19
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
2.5K
24
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
rain31Avatar border
TS
rain31
#9
PART 04

“Eh ? ayah tahu siapa dia ?” Kamila bertanya tidak kalah herannya dengan aku.

“Kamu putra Al dan Sarah kan ?” ia tidak menghiraukan pertanyaan putrinya. Malah mencondongkan badannya kedepan. Menatapku dengan lebih seksama.

“Iya. Mereka memang orangtua saya. Bapak siapa...

“Ha-ha-ha. Sudah kuduga. Wajahmu tidak asing dimataku. Kamu benar-benar mirip dengan ayahmu. Kecuali matamu, matamu coklat seperti ibumu. Sarah.” Tidak bisa dipercaya. Orangtua ini memotong kata-kataku lagi.

“Jadi, bagaimana kabar orangtuamu ?” tanyanya lagi. “Sudah lama sekali aku tak berjumpa dengan mereka.”

Jika tadi jantungku terasa berhenti sesaat saat mendengar nama orangtuaku disebut. Sekarang aku tak bisa bernafas. Bagaimana aku menjawab pertanyaan orangtua ini ? dia terlihat kenal dekat dengan ayah. Wajahnya bahkan terlihat sangat gembira saat mengenaliku sebagai anak dari Al. Aku termenung.

“Maafkan orangtua yang tak tahu sopan santun ini. Sampai lupa tidak mengenalkan diri. Namaku Bahri, ini putriku Kamila.” Pak Bahri menangkap sedikit awan duka di mataku. Ia segera mengalihakn pembicaraan.

“Kamila, ini Insan. Dia putra sahabat bapak dulu waktu kuliah di Malang. Kalau tidak salah Insan ini lebih tua empat tahun dari kamu.” Jelasnya kepada Kamila yang terheran-heran.

Suasana jadi terasa sedikit canggung. Aku masih membisu tak tahu harus berkata apa.

“Mila, bantu ibumu di belakang.” Pak Bahri menyuruh putrinya ke belakang. Ia ingin bicara berdua denganku.

Kamila bangkit berdiri lalu melangkah masuk ke dalam. Ia berbalik dan memberikan senyum manisnya padaku sebelum hilang dibalik pintu.

“Sekarang ceritakan pada bapak. Dimana orangtuamu sekarang ?” pak Bahri bicara dengan nada serius.

“Mereka sudah meninggal.” Aku menjawab dengan suara lirih.

“Innalillahiwainnailaihirojiun. Kapan mereka meninggal ?” wajah pak Bahri terlihat terkejut.

“Sepuluh tahun yang lalu pak.” Sekarang aku tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihanku.

“Bagaimana mereka meninggal ?” mata pak Bahri ikut berkaca-kaca. Kehilangan seorang sahabat memang membawa kesedihan tersendiri.

“Mereka... mereka meninggal...

Aku bahkan tak tahu bagaimana harus menceritakan kepergian ayah dan ibu. Jangankan untuk bercerita. Mengenang mereka saja sudah cukup membuat hatiku kembali meneteskan darah. Kepergian mereka menyisakan dua lubang dihati. Tak ada yang bisa menggantikan atau mengisi lubang yang kosong itu.

“Aku mengerti. Maaf sudah bertanya nak. Ayahmu dan aku sudah bersahabat selama puluhan tahun. Tak kusangka ia pergi lebih dulu dariku.”

Sejenak ia mengenang masa-masa ia masih bujang. Begitu sering Bahri muda menghabiskan waktu bersama Al. Sekarang salah satu dari mereka telah berpulang. Untuk sesaat waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin mereka masih begitu muda. Duduk berdua menikmati secangkir kopi dan bertukar cerita. Canda tawa yang kini hanya tinggal kenangan. Bagaimana akan lupa ?

“Kamu masih tinggal dirumah orangtuamu ?” pak Bahri kembali bertanya, berusaha memecahkan suasana duka.

“Setelah ayah ibu tiada, saya juga pergi dari rumah. Selama sepuluh tahun ini saya bepergian kemana-mana. Rumah hanya akan mengingatkan akan ayah dan ibu.” Pak bahri manggut-manggut mendengar jawabanku.

“Kamila tadi bercerita kamu mau ke Malang. Ada urusan apa ?”

Dengan singkat aku menceritakan tujuanku ke Malang. Aku juga menceritakan bagaimana aku bisa tertembak. Tentang penyerangan di Pujon tadi malam.

“Kalau begitu tinggallah disini untuk beberapa hari. Aku mungkin bisa membantumu mencari informasi dari pemuda disini. Setidaknya sampai lukamu sembuh.” Sejujurnya aku ingin menolak tawaran pak Bahri. Tapi ia sudah kembali membuka mulut sebelum aku sempat bicara.

“Jangan menolak. Kamu putra sahabatku. Itu artinya kamu seperti putraku sendiri.”

Bagaimana aku bisa menolak ? ketulusan hatinya yang terpancar dari tatapan matanya menyentuhku. Aku penasaran untuk mendengar ceritanya dulu saat masih muda. Seperti apa ayah dulu ? aku yakin kisah sepasang sahabat ini pasti sangat menarik.

Kamila muncul, masih dengan senyum manisnya. Ia memberitahu kami kalau makanan sudah siap. Pak Bahri mengajak aku untuk masuk dan ikut makan pagi bersama mereka. Ia juga mengenalkanku dengan ibu Lina. Istri pak Bahri, ibunya Kamila. Pak Bahri juga menceritakan pada istri dan putrinya siapa aku sembari menikmati makan nasi goreng buatan ibu Lina. Pak Bahri berhasil membuatku salah tingkah dengan menceritakan bagaiman aku mengalahkan perampok bersenjata seorang diri.

Selesai makan pak Bahri menyuruh Kamila menyiapkan kamar tamu untukku. Aku meminta izin untuk beristirahat. Mataku terasa berat menahan kantuk. Aku tidak tidur semalaman ditambah efek pil pereda sakit yang bu Lina tadi.

$$$


5 Maret 2046

Hari ini tepat lima hari aku tinggal dirumah keluarga pak Bahri. Mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Aku tidur dikamar yang bersih dan indah. Bu Lina memperlakukanku layaknya seorang anak kandung. Pak Bahri banyak bercerita tentang masa mudanya. Yang paling sering ia ceritakan adalah kelakuan gilanya bersama ayah. Aku sama sekali tak terkejut mendengarnya. Aku tertawa saja mendengar ceritanya. Aku jadi ingat betapa konyol dan gilanya ayah dulu. Ia juga bercerita bagaimana ayah dan ibuku bertemu.

Lima hari sudah cukup membuatku seperti sedang berada dirumah sendiri. Setiap kali pak Bahri mendapat giliran jaga malam ia selalu mengajak aku ikut. Penduduk disini juga menerimaku dengan baik. Aku juga baru tahu kalau pak Bahri adalah kepala desa disini. Di desa Kaliputih.

Setiap pagi atau sore, aku pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Bu Lina sering memintaku membantunya menyiapkan obat-obatan untuk pasiennya. Atau sekedar menyapu halaman belakang rumah. Juga ada Kamila yang selalu mengajak ku berjalan-jalan ke sawah, sungai, bahkan ke hutan. Ia memanggilku ‘abang’, sebuah panggilan yang terdengar begitu manis di telingaku. Kamila seperti sosok adik perempuan yang tak pernah aku miliki. Pak Bahri dan bu Lina mengingatkanku akan rumah. Mengingatkan aku akan keluarga, akan ayah dan bunda.
Jika aku diizinkan untuk tinggal disini selamanya. Aku pasti akan sangat berbahagia. Tapi, aku juga ingat apa tujuan awalku pergi ke Malang. Aku punya pekerjaan yang harus aku selesaikan. Lagi pula, tidak bijaksana rasanya jika harus terus-terusan merepotkan orang lain. Baru kemarin Rudi, pemuda desa yang diminta pak Bahri mencari informasi tentang pria dengan luka bakar di leher kembali dari Malang. Tidak banyak informasi yang ia dapat. Tapi aku menyimpulkan kalau pria ini adalah jenis manusia yang tidak pernah melakukan pekerjaan kotornya sendiri. Ia selalu bersembunyi di kegelapan. Memberi perintah kepada bawahan-bawahannya. Yang artinya, pria ini memiliki pengaruh yang besar. Dan juga ditakuti.

Berarti aku harus segera ke Malang dan menyelesaikan semua masalah ini. Tapi aku berjanji suatu hari nanti. Aku akan kembali kesini, mengunjungi mereka. Keluarga keduaku.


$$$


Ini adalah malam terakhirku disini. Aku sudah mengutarakan keinginanku untuk melanjutkan pergi ke Malang pada pak Bahri. Petang tadi selepas makan malam. Dari raut wajahnya aku tahu ia ingin menahanku lebih lama disini. Tapi pada akhirnya pak Bahri mengiyakan keinginanku. Kamila belum tahu akan rencanaku ini. Aku ingin berpamitan langsung padanya. Pak Bahri tidak keberatan.

Dan disinilah aku sekarang. Duduk seorang diri di teras belakang. Menikmati hembusan angin malam. Di temani bintang-bintang yang malam ini tak berkawan. Entah pergi kemana sang bulan. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya berpamitan dengan Kamila. Beberapa hari ini kemanapun aku pergi ia pasti disampingku. Kamila bahkan memintaku menemaninya berlatih bela diri. Akhirnya aku hanya bisa menghela nafas. Berat rasanya pergi.

Tanganku meraih gitar tua yang tergeletak di kursi. Gitar tua pak Bahri, cerita Kamila. Dulu waktu ia masih kecil ayahnya sering memainkannya untuknya. Jari-jariku mulai bergerak memetik senar gitar perlahan. Aku hanya bermain asal-asalan. Tak tahu ingin bernyanyi apa. Alangkah lucunya. Hanya butuh lima hari. Lima hari yang membuatku begitu berat untuk pergi.

“Hai... abang belum tidur ?” aku tidak sadar Kamila sudah berdiri di depan pintu. Dengan baju tidurnya. Rambut panjangnya tampak berantakan.

“Maaf. Aku berisik ya ?”

“Aku juga belum tidur kok. Aku sedang membaca buku tadi, dikamar.” Aku bergeser memberinya ruang untuk duduk disampingku.

“Aku gak tahu abang bisa main gitar ?” seru Kamila setelah duduk disampingku.

“Sedikit. Dulu diajarin sama teman.”

“Mainin dong bang.” Pinta Kamila

“Mau lagu apa ?” tanyaku.

“Apa saja. Yang abang suka.”

“Ehmm... apa ya ? ini aja deh, lagu yang udah lama banget.” Kataku setelah berfikir. Ada satu lagu yang dulu sangat aku suka. Jemariku bergerak memainkan intro. Dengan suara perlahan aku bernyanyi.

I got enough on my mind
That when she pulls me by the hair
She hasn't much to hold onto
She keeping count on her hand
One, two, three days that I've been sleeping on my side

I finished kissing my death
So now I head back up the steps
Thinking about where I've been
I mean the sun was never like this

So I wanna feel with the seasons
I guess it makes sense 'cause my life's become as vapid as
A night out in Los Angeles
And I just wanna stay in bed

I hold you like I used to
You know that I am home
So darling if you love me
Would you let me know?

Or go on, go on, go on
If you were thinking that the worst is yet to come
Why am I the one always packing up my stuff?
For once, for once, for once
I get the feeling that I'm right where I belong
Why am I the one always packing all my stuff?

She got enough on her mind
That she feel no sorrow
I let my fate fill the air
So now she rollin' down the window
Never been one to hold on
But I need a last breath, so I ask if she remembers when
She used to come and visit me
We were fools to think that nothing could go wrong

Go on, go on, go on
If you were thinking that the worst is yet to come
Why am I the one always packing up my stuff?
For once, for once, for once
I get the feeling that I'm right where I belong
Why am I the one always packing all my stuff?
I think I kinda like it but I might of had too much

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.