- Beranda
- Stories from the Heart
Penjelajah Langit, Tanah Timah
...
TS
ifanksense
Penjelajah Langit, Tanah Timah
Penjelajah Langit, Tanah Timah
Quote:
PROLOGUE
Bagi beberapa orang menjadi penerbang adalah sebuah hal bergengsi dan profesi impian.
Sisanya, mencoba peruntungan untuk merubah taraf hidup yang semakin hari semakin sadis. Beribu cara dilakukan oleh mereka yang bermimpi terbang tinggi, tapi tak punya daya. Jangankan terbang, bisa melangkah saja sudah alhamdullilah.
Hanya saja, kadang cita-cita yang sering membutakan mata membuat kita melakukan segalanya. Ya, biaya mendapatkan surat izin membawa pesawat lebih dari sekedar ratusan ribu. Silahkan menjual rumah dan menggadai sawah untuk bisa mengenyam indahnya terbang rendah. Tulisan ini merupakan tutur kisah saya, yang beruntung. Melepaskan atribut sebagai seorang pembuat ide di sebuah stasiun televisi, dengan angan tinggi saya berangkat ke pulau kecil sebelah barat Sumatera. Persetan dengan semua kendala dan kata orang, yang terpenting saat itu adalah berseragam putih biru.
Bagi beberapa orang menjadi penerbang adalah sebuah hal bergengsi dan profesi impian.
Sisanya, mencoba peruntungan untuk merubah taraf hidup yang semakin hari semakin sadis. Beribu cara dilakukan oleh mereka yang bermimpi terbang tinggi, tapi tak punya daya. Jangankan terbang, bisa melangkah saja sudah alhamdullilah.
Hanya saja, kadang cita-cita yang sering membutakan mata membuat kita melakukan segalanya. Ya, biaya mendapatkan surat izin membawa pesawat lebih dari sekedar ratusan ribu. Silahkan menjual rumah dan menggadai sawah untuk bisa mengenyam indahnya terbang rendah. Tulisan ini merupakan tutur kisah saya, yang beruntung. Melepaskan atribut sebagai seorang pembuat ide di sebuah stasiun televisi, dengan angan tinggi saya berangkat ke pulau kecil sebelah barat Sumatera. Persetan dengan semua kendala dan kata orang, yang terpenting saat itu adalah berseragam putih biru.
Quote:
Basa-Basi
Kisah ini adalah sebuah catatan manis dan lika-liku dunia pendidikan aviasi di indonesia. Perjalanan saya menyelami awan selama satu tahun di langit kepulauan Bangka Belitung. Kisah persahabatan dan persaudaraan tak sedarah. Sebuah pembelajaran kehidupan dan mental dari orang-orang yang lebih dari sekedar instruktur. Nama saya, masih saya rahasiakan, tapi sebut saja saya Roy. Apa yang saya tulis bukan untuk menjelekan suatu instansi ataupun lebih. Catatan ini hanyalah sebuah kisah yang mungkin bisa dibagi kepada mereka yang memiliki cita-cita terbang tinggi.
Saya merahasiakan nama saya, karena saya belum siap menceritakan kisah ini kepada beberapa sahabat, di tempat saya bekerja saat ini. Ya, saat ini saya masih menjadi penerbang yang belum terbang secara komersil. Doakan TS cepet dapet pekerjaan jadi Pilot ya Gan, sekarang susah soalnya (curhat banyak).
Kisah ini adalah sebuah catatan manis dan lika-liku dunia pendidikan aviasi di indonesia. Perjalanan saya menyelami awan selama satu tahun di langit kepulauan Bangka Belitung. Kisah persahabatan dan persaudaraan tak sedarah. Sebuah pembelajaran kehidupan dan mental dari orang-orang yang lebih dari sekedar instruktur. Nama saya, masih saya rahasiakan, tapi sebut saja saya Roy. Apa yang saya tulis bukan untuk menjelekan suatu instansi ataupun lebih. Catatan ini hanyalah sebuah kisah yang mungkin bisa dibagi kepada mereka yang memiliki cita-cita terbang tinggi.
Saya merahasiakan nama saya, karena saya belum siap menceritakan kisah ini kepada beberapa sahabat, di tempat saya bekerja saat ini. Ya, saat ini saya masih menjadi penerbang yang belum terbang secara komersil. Doakan TS cepet dapet pekerjaan jadi Pilot ya Gan, sekarang susah soalnya (curhat banyak).
Quote:
Notes
TS akan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk me-update tulisan ini. Setiap tanggapan dan apresiasi dari teman-teman Kaskuser merupakan sebuah support yang tak ternilai. Semoga kisah ini dapat bersuara hingga selesai, dan bagi mereka yang ingin terbang tinggi bisa mengambil hikmah dari kisah ini.
TS akan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk me-update tulisan ini. Setiap tanggapan dan apresiasi dari teman-teman Kaskuser merupakan sebuah support yang tak ternilai. Semoga kisah ini dapat bersuara hingga selesai, dan bagi mereka yang ingin terbang tinggi bisa mengambil hikmah dari kisah ini.
Quote:
Chapter I
Apa Kamu Yakin dengan Pilihanmu?

Apa Kamu Yakin dengan Pilihanmu?

Pagi itu tidak ada yang salah dengan Jakarta. Matahari muncul bersamaan dengan aktifitas kami para kelas pekerja. Sudah hampir dua tahun ini aku berkendara menerobos lingkar luar Jakarta, yang jarang dijejali kendaraan. Lancar tanpa hambatan. Hanya saja semenjak tol penghubung ke lingkar luar telah selesai, ribuan tronton berebut memadati jalan itu.
Macet, lagi-lagi tidak bergerak. Aku hanya bisa pasrah sambil mendengarkan siaran radio favorit, untuk menjaga mood. Mendadak, handphone yang aku selipkan di selah-selah transmisi berdering.
"Hello, am i talking to (sebut saja Roy)?" Hah Pagi-pagi gerah gini sudah ada orang mabuk? pikirku. Tanpa punya petunjuk siapa lelaki dengan logat kental Amerika di seberang telepon, aku menjawab, "yes Sir, it's me (sebut saja Roy), pardon me, who am i talking to?" Lalu dia pun menjawab, "I'm ashleey from VFS (baca:Vancouver Film School), i have received your fellowship application, do you still interest with us?"
Mendadak aku terbengong mendengar penjelasan dia yang tidak jelas." Sure, i'm totally want to join with VFS, but how it's possible i can join with VFS?" Jawabku. "Okay, we're looking for a member from South East Asia about ten representative, and you're shortlisted from Indonesia. If you still want join with this fellowship program, you have to send us a creative video by your own creativity. About 90 seconds duration, and the deadline till end of month" Ashleey memaparkan padaku.
Entah aku harus menjawab apa, tiba-tiba jalanan yang macet terlihat kosong. Ini kesempatan yang langka, apalagi aku memang memiliki mimpi mendalami produksi film.
"Sure, i would produce my video as soon as posibble, hopefully within next week you can receive my video," jawabku dengan bibir bergetar.
"Well, we're looking forward to it, thanks for the time, i will send you an email about the terms and condition, have a nice day," tutup Ashleey. "Okay sir, understood. Have a nice day too," jawabku tanpa berfikir mungkin disana hari sudah senja.
Masih shock dengan apa yang baru saja terjadi aku terus mengemudi. Selang empat puluh lima menit aku tiba di pelataran parkir kantor yang sudah penuh.
***
Sepulang dari kantor, aku pun langsung menceritakan mengenai VFS kepada Ayah dan Ibu. Mereka paham dengan apa yang aku inginkan. Mereka juga mengerti aku seorang anak lelaki yang memiliki mimpi. Tapi, mereka ragu apa aku bisa bertahan di Kanada yang jauh di sana bila terpilih untuk berangkat. "Apa kamu yakin sama pilihan kamu? Jauh loh itu," tanya ibu dengan tenang. Jujur, aku pun sebenarnya tidak yakin dengan ini. Terkesan tanpa rencana dan terburu-buru. Kurang persiapan, terlebih kemampuan bahasa Inggris-ku biasa saja. Boborok malahan.
"Ya yakin gak yakin, harus yakin Bu. Kan ini yang aku mau," jawabku dengan ragu. "Jangan sampai keputusan kamu ini karena, rasa kesal tidak bisa menggapai apa yang benar-benar kamu inginkan," Ibu membalas pernyataanku dengan yakin.
Memang, mendalami dunia film itu mimpiku. Namun, bisa terbang tinggi adalah cita-cita yang aku kejar sampai akhirnya aku hampir menyerah.
Aku ingin bisa duduk di depan kursi yang dulu ayah duduki. Ya, kursi sebelah kanan di cokpit.
Saat Ayah yang seorang Flight Engineer duduk di belakang kursi pilot.
Egois sekali pikirku, saat aku meminta restu dan dukungan untuk sekolah penerbang. Bagaimana tidak? Tepat setelah lulus SMA (kala itu tahun 2008) sebenarnya Ayah sudah memberikan penawaran untuk mengenyam ilmu di sekolah penerbang. Terlebih biaya sekolah saat itu, bisa dibilang masih terjangkau. Ayah berpikir agar aku sekalian menemaninya yang ditempatkan di Filipina. Tapi, dengan gagahnya aku menolak.
Bodoh sekali aku waktu itu, menjadi remaja yang tidak punya arah. Masih ingin main, bersenang-senang, dan terlihat keren. Apa daya, aku tidak bisa menyalahkan masa lalu. Pun, menyesalinya sudah terlambat.
Rasa percaya diri ini bukan tanpa alasan. Aku cukup beruntung, lantaran bisa mengenyam bangku kuliah di salah satu Universitas Negeri kenamaan di Yogyakarta.
Bangga sekali bisa menjadi bagian dari mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas tersebut. Pikirku, siapa yang tidak iri dengan diriku saat itu. Toh, aku juga tidak menyesali keputusan memilih untuk kuliah kala itu. Malah aku harus berterima kasih atas segala hal yang aku dapat disana.
Masalahnya, keyakinanku bisa hidup dari Ilmu Komunikasi mulai goyah pada semester ke-empat. Mungkin aku kaget dengan tumpukan tugas dan puluhan halaman "paper". Hingga sering keluar masuk rumah sakit, dan cabut tusuk jarum infus.
Dari situ aku tersadar, betapa bodohnya aku. Melewatkan hal yang sebenarnya aku tahu, bahwa itu tujuan hidupku. Aku pun menanyakan kemungkinan untuk bisa menawar kembali tawaran untuk sekolah penerbang kepada Ayah. "Selesaikan dulu apa yang ada di depan kamu, baru kita bicara." Mau tidak mau aku pun harus menyelesaikan gelar ke-sarjana-an ini dulu.
Alhmdullilah pendidikan strata satu ini bisa aku selesaikan dalam kurun waktu empat tahun.
Ayah pun menepati janjinya, dan memberikan aku kesempatan untuk menjalani tes-tes di sekolah penerbang. Sayangnya, mungkin saat itu keinginanku belum kuat untuk menjadi pilot. Dua kali aku harus gagal di tahapan terakhir. Aku memang mendaftar di sekolah yang menjamin kerjasama dengan maskapai kenamaan di dalam negeri. Sungguh, itu sulit sekali. Aku sadar bahwa tidak mudah menjadi penerbang.
Dua tahung berlalu, hingga akhirnya waktu membawa aku ke saat ini. Seorang tim kreatif di salah satu stasiun televisi.
Ayah pun akhirnya mengambil keputusan, "daripada kamu kayak orang bingung disana(Kanada), silahkan pilih sekolah penerbang yang kamu mau." Sakit kepala ini rasanya, saat kata-kata tersebut keluar dari mulut Ayah.
Sepanjang malam aku pun berfikir, apa keputusanku.
Esoknya, aku mengatakan kepada Ibu, "Bu, restui aku sekolah pilot ya, dukung dan doakan yang terbaik." Akhirnya Ibu pun tersenyum dan memelukku.
Keputusan dan pernyataan itu menjadi awal dari kisahku di Pangkal Pinang.
Bersambung ke Chapter selanjutnya.
(Jika antusias dan rasa penasaran Agan semua tinggi, TS akan update lanjutannya)
Terima kasih.

(Jika antusias dan rasa penasaran Agan semua tinggi, TS akan update lanjutannya)
Terima kasih.

Diubah oleh ifanksense 26-08-2016 17:09
anasabila memberi reputasi
1
3.3K
Kutip
25
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ifanksense
#6
Update Chapter II Gan!
Siapin Kopi, Extra Joss, Kacang, atau kampak Gan takut-takut ceritanya boring, (semoga enggak ya Gan)
Silahkan disimak!


Siapin Kopi, Extra Joss, Kacang, atau kampak Gan takut-takut ceritanya boring, (semoga enggak ya Gan)
Silahkan disimak!


Quote:
Chapter II
Selamat Datang Taruna!
Selamat Datang Taruna!

Dua tahun sudah aku bergelut dengan dunia televisi. Akhirnya, tepat bulan kedua kala itu aku mengajukan pengunduran diri. Banyak sekali pengalaman, ilmu dan kenangan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Keputusan yang aku ambil sudah bulat, menjadi penerbang.
Setelah melakukan riset sana-sini, aku pun memutuskan untuk memilih 'Flying School' yang berlokasi di Pangkal Pinang sebagai tempat mengenyam pendidikan terbang. Proses tahapan seleksi berhasil aku lalui tanpa ada kendala berarti. Bersyukur, aku bisa menjadi bagian dari dua puluh tujuh Taruna-Taruniyang akan berangkat ke Pangkal Pinang.
Kami adalah dua puluh enam saudara dengan satu wanita perkasa, tergabung dalam batch 9. Kompisisi yang cukup adil, satu saudara perempuan itu akan dijaga oleh dua puluh enam laki-laki berprinsip.
Katakter kami tidak semuanya sama, mungkin karena faktor ketimpangan umur yang cukup kontras. Banyak yang bilang angkatan ganjil memang memiliki komposisi seperti itu.
Mungkin diriku sendiri termasuk ke dalam angkatan tua. Mengingat tahun ini usiaku genap 25 tahun. Tapi, bukan berarti aku menjadi paling tua. Kami terbagi rata, 50% baru lulus SMA dan 50% sisanya lulus dari pekerjaan masing-masing.
Sebelum resmi berangkat ke pulau timah yang akan kami sambangi, calon penerbang harus mengikuti pelatihan Radio Telephony. Atau lebih dikenal dengan"RTF". Ya, disinilah awal perjuangan kami. RTF merupakan hal yang penting, berkaitan dengan keselamatan dan lalu lintas udara. Mempelajari mengenai proses dan aturan-aturan komunikasi antara penerbang dengan pengatur lalu lintas udara.
Pelatihan RTF yang kami jalani dilangsungkan di Training Center milik Flying School kami, tepatnya di belakang bandar udara Soekarno Hatta.
Disitu awal pertemuanku dengan sahabat-sahabat terdekat selayaknya adik dan kakak bagiku.
***
Pagi itu matahari tidak terlalu gagah, cahaya terangnya lebih banyak bersembunyi dibalik awan mendung. Tepat jam delapan pagi, aku sudah selesai bersiap menyambut hal yang benar-benar baru. Sambil memanaskan motor, pikiranku melayang kemana-mana. Banyak pertanyaan muncul dan rasa ragu. Apa iya aku bisa mengikuti proses pelatihan ini, apa aku bisa bertahan? Sambil mengendara aku mencoba menenangkan diri, hingga akhirnya aku tiba di pusat pelatihan.
Kaku, pertama kali aku berkenalan dengan Taruna-Taruna lain. Ya, aku yang terlalu luwes mungkin membuat mereka heran dengan tingkahku.
Hari pertama tidak terlalu berat, pelatihan pun masih bisa aku terima dengan mudah.
Sampai hari ke-empat kami lebih banyak membahas mengenai Annex 9 dan 10. Tentang frasologi dalam komunikasi udara serta istilah istilah yang umum digunakan. Mulai memasuki hari ke-lima, instrkutur kami Pak Irawan mulai melakukan praktek komunikasi radio telephony. Salah satu dari kami ada yang berperan sebagai menara pengawas dan satunya menjadi Pilot.
Bisa dibilang ini gampang gampang susah, karena bahasa Inggris yang digunakan sangat sederhana. Hanya saja, pengetahuan kami tentang materi pelatihan lain yang masih sedikit membuat bingung. Belum lagi, jika pada keadaan terbang nanti gangguan sinyal radio sering membuat salah kaprah. Walaupun sebenarnya ini cuma masalah membiasakan diri. Dengan jam terbang tinggi harusnya RTF tidak menjadi masalah.
"Roy, yok latihan. Gue jadi pilotnya lo jadi tower ya," ajak Mas Aryo Captain Coursekami. "Boleh Mas, kita coba dari yang simple dulu. Circuit," jawabku. Aku memanggil Aryo dengan "Mas", lantaran usianya terpaut empat tahun dariku. Belum lagi otot dan tatotnya sempat membuatku berfikir dia residivis. Tapi siapa yang sangka, Aryo adalah seorang sahabat terbaik yang sudah kuanggap kakak sendiri.
"Halim tower, Papa Kilo Delta Foxtrot November request starting engine for dual training circuit," ucap Aryo sambil membaca kertas yang dia genggam. "Negative for circuit due to three traffic incoming, request your intention," jawabku. Wajah Aryo nampak kebingungan dengan jawabanku, karena yang aku ucapkan tidak ada di kertas. "Lah itu gimana jawabnya? Gak ada di kertas nih Roy," ucap Aryo. "Iya Mas itu cuma bikin kondisi aja kalo ga boleh sirkuit," jawabku.
"Oh gitu ya, yaudah itu nanti aja. Kita lancarin yang ada di kertas aja dulu buat check nanti Roy," ucap Mas Aryo berusaha meyakinkanku. "Oke Mas kalo gitu, yang penting apa yang lagi kita praktekin ini bisa kebayang. No problem," aku menjawab sambil membolak balik kertas yang sudah kusut.
***
Selama menjalani pelatihan RTF aku mulai dekat dengan sahabat-sahabat yang jauh lebih muda dariku. Kebanyakan dari mereka lebih muda enam tahun, dan wajahnya masih lugu-lugu.
Hal paling penting yang harus dipahami ketika kita memutuskan menjadi penerbang, gelar Sarjana hanyalah sekedar hiasan nama. Kecuali, ilmu yang di-enyam sebelumnya adalah teknik penerbangan, atau teknik mesin. Sisanya, ijazah kita hanya akan berdebu di lemari.
Itulah yang menjadi alasan aku menanggalkan semua atribut pekerjaan sebelumnya dan gelar yang aku miliki.
***
"Roy, gimana sih rasanya kerja di TV?"tanya Vano yang nantinya menjadi room-mate-ku. Fun, menyenangkan, dan pastinya ketemu banyak Artis. Ya, walaupun gue seringnya ketemu artis Dangdut," jelasku sambil bergurau. "Capek gak sih? Soalnya kayaknya seru dan keren aja gitu kerja di TV," tambahnya. "Capek itu relatif, apakah kita menikmati pekerjaannya atau enggak, kalau gue sih enggak kerasa capek, karena gue enjoy dan lingkungan kerjanya sangat menyenangkan," lanjutku menjawab.
Obrolan kami mengenai latar belakang masing-masing semakin membuat kami merasa sudah saling kenal lama. Hingga akhirnya tidak terasa, pelatihan RTF tiba pada ujungnya.
***
"Jadi mungkin waktu kita yang cuma seminggu ini tidak cukup untuk membahas semua materi, tapi saya yakin kalo teman-teman sekalian sudah bisa mempelajari materi check masing-masing," jelas Pak Irawan mengenai check yang akan kami hadapi.
Tidak terasa check RTF sudah di depan mata, tahap pertama yang menentukan jejak langkah kita sebagai Taruna.
Bersambung ke Chapter III ya Gan!
Semoga Agan-Agan gak bosan dan selalu support kisah yang apa adanya ini.


Semoga Agan-Agan gak bosan dan selalu support kisah yang apa adanya ini.


Diubah oleh ifanksense 16-08-2016 23:36
0
Kutip
Balas