- Beranda
- Stories from the Heart
Selamat Datang Dunia Nyata
...
TS
.gatack.
Selamat Datang Dunia Nyata
Quote:
Peraturan
1. Ikuti aturan Forum SFTH
2. Jangan kepo berlebihan
3. Jangan ngejunk
1. Ikuti aturan Forum SFTH
2. Jangan kepo berlebihan
3. Jangan ngejunk
Quote:
Pertanyaan Umum
1.Apakah ini cerita nyata ?
Iya, cerita beberapa tahun yang lalu. Kalau mau menganggap cerita ini fiksi silahkan.
2. Latar cerita ini dimana ?
Salah satu Kota di Kalimantan Selatan
3.Apa status agan sekarang ?
Bekerja dan sudah menjadi suami orang lain.

4.Penampilan agan bagaimana ?
Silahkan disimak ceritanya. yang jelas badan saya sekarang kecil (164 cm)
5.Kapan Updatenya ?
Enggak tentu, akan tetapi saya usahakan setiap hari.
Daftar Isi :
Chapter 00 - Mimpi di tengah hujan
Chapter 1 - Kembali ke masa sekolah
Chapter 1.5 - Kembali ke masa sekolah 2
Chapter 2 - Gadis yang mengerikan
Chapter 3 - Awal
Chapter 4 - 31 Desember
Chapter 5 - Kesenangan
Diubah oleh .gatack. 21-08-2016 13:27
anasabila memberi reputasi
1
3.6K
Kutip
24
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.gatack.
#21
Quote:
Chapter 3 - Awal
Klakson yang berbunyi tadi berasal dari sepeda motor nyokap gue.
Saat ini gue, Erina dan nyokap sedang duduk di atas sofa.
Tadinya gue mengira Erina langsung pulang setelah membuat lubang di dinding kamar serta menghancurkan laptop kesayangan gue.
Dugaan gue salah ternyata Erina malah menunduk menangis di depan Rumah bertepatan dengan datangnya nyokap gue.
Nyokap dan Adek cowo gue yang masih SD kelas 4 tinggal di rumah nenek gue karena kesehatan nenek gue mulai menurun semenjak kakek meninggal.
Nyokap gue ini beberapa hari sekali pulang kesini buat ngasih gue bahan makanan.
Sejak enam bulan yang lalu, Nyokap gue sudah pisah dengan bokap.
Hanya pisah rumah, bukan bercerai.
Padahal gue sudah menyarankan untuk bercerai.
Satu tahun setelah gue berhenti sekolah, usaha bokap gue bangkrut.
Bokap gue menganggur dan tidak mau bekerja lagi. Sedangkan nyokap gue seorang PNS dan Punya bisnis pakaian.
Nyokap gue ini terlalu baik kepada suaminya.
Selama menganggur bokap gue sering marah ke nyokap.
Setahun setelah menganggur bokap gue kena diabetes
Bokap bertambah sering marah gak jelas dan beberapa kali memukul nyokap.
Ketika ketiga kalinya bokap memukul nyokap, gue langsung marah dan terjadilah perkelahian.
Perkelahian yang mengerikan, bokap gue babak belur.
Gue baru berhenti memukuli bokap setelah beberapa tetangga memegang tubuh gue.
Gue marah ke bokap gara-gara beliau jadi ringan tangan ditambah ketika gue mau masuk SMP dulu, bokap gue menjual rumah tempat tinggal sekeluarga secara diam-diam.
Bokap menjual rumah untuk ikut bisnis yang berujung pada penipuan.
Nyokap gue marah saat itu akan tetapi beliau memaafkan kesalahan bokap.
Gue memaafkan bokap saat rumah dijual, akan tetapi hanya di mulut saja.
Kemarahan itu gue pendam dan meledak ketika terjadi perkelahian itu.
Rumah di jual, gue sekeluarga pindah ke komplek yang jaraknya lumayan jauh dari SMP gue dulu.
Pindah rumah, gue gak ada teman.
Setiap hari gue hanya bermain di dalam rumah ataupun pergi ke warnet.
Seusai perkelahian bokap dengan gue, nyokap menyarankan bokap untuk tinggal di tempat lain untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan.
Ngomong-ngomong setelah gue berhenti sekolah, gue sekeluarga pindah lagi ke komplek yang sama dengan rumah yang dijual dulu.
Tempat yang gue tinggali sekarang ini satu komplek dengan rumah yang di jual dulu.
“Ini siapa? Kamu apain dia sampai nangis begini?” Ucap nyokap gue
“Aku gak ngapa-ngain dia kok, ma” ucap gue.
“Kamu jangan bohong sama mama, kalau enggak kamu apa-apain kok dia bisa nangis?”
Setelah nyokap mengatakan itu, Erina mengosok matanya dan mulai membisikan sesuatu kepada nyokap.
Gue tidak mendengar apa yang Erina bisikkan.
“Minta maaf!” nyokap gue berkata dengan nada tinggi.
“Ngapain minta maaf? dia sudah ngancurin laptop aku ma” ucap gue sambil menunjuk ke Erina yang sudah berhenti menangis.
“Kamu kan liat dia gak pake baju tadi, Minta maaf sama dia !”
“Enggak mau !”
Setelah mengatakan itu gue langsung pergi menuju ke kamar, panggilan nyokap tidak gue pedulikan.
Kamar gue kunci.
Lemari pakaian gue geser agar lubang yang dibuat Erina terhalangi.
Laptop yang ada di lantai gue pencet akan tetapi masih tidak bisa menyala.
Dada gue sakit
Gue ingin menangis karena satu-satunya sarana hiburan yang gue punya sudah tidak ada lagi.
Gue bingung apa yang harus gue lakukan besok ?
Gue yakin kalau gue minta laptop lagi, pasti gak akan di kasih, karena nyokap tidak ingin gue berada di dalam rumah terus.
Jujur saja, gue pengen keluar rumah akan tetapi gue merasa diri gue seperti sampah.
Gue takut dengan penilaian orang lain.
Penilaian seperti
‘Oh itukan si Reno yang pintar itu, kok dia sekarang jadi kaya gitu ya ?’
Setelah menggeser lemari, gue langsung tertidur di atas kasur.
Gue terbangun dengan mata yang basah akibat mimpi buruk.
Sangat buruk.
Gue mimpi nyokap meninggal.
TOK TOK TOK
“Reno bangun! sholat maghrib dulu.” Nyokap gue berkata sambil mengetuk pintu.
“Iya ma” ucap gue sambil berdiri menuju pintu.
Nyokap gue ngasih tahu kalau Erina sudah pulang tiga puluh menit yang lalu.
Gue turun ke bawah dan langsung mengambil air wudhu,
Selesai sholat
“Laptop kamu rusak?” tanya nyokap.
“Iya. Kacanya pecah, gak bisa nyala lagi. Mama gak mau beliin Reno laptop baru lagi kan?”
“Mama mau kok beliin yang baru, tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya ma?” tanya gue yang penasaran.
“Kamu berubah dulu, baru mama belikan.
Pikirkan masa depanmu. Jangan hidup di dalam rumah terus. Seandainnya mama meninggal kamu gimana?”
Gue terdiam teringat mimpi yang baru saja gue alami tadi.
“Tadi mama ngomong banyak hal sama Erina. Kamu bisa masak, kan?
Nah...mendingan besok kamu ikut Erina!”
“T...tapi kan-”
“Huss, gak usah protes kalau kamu mau laptop baru!” perintah nyokap gue.
“Yaudah, mama mau ke rumah nenek lagi. Bahan makanan ada di kulkas.” ucap nyokap gue menunjuk ke kulkas.
Setelah mengucapkan salam, nyokap gue langsung pergi lagi.
Apa bisa gue berubah ?
Dan...
Besok gue harus ikut Erina ?
Kemana ?
Chapter 4 - 31 Desember
Klakson yang berbunyi tadi berasal dari sepeda motor nyokap gue.
Saat ini gue, Erina dan nyokap sedang duduk di atas sofa.
Tadinya gue mengira Erina langsung pulang setelah membuat lubang di dinding kamar serta menghancurkan laptop kesayangan gue.
Dugaan gue salah ternyata Erina malah menunduk menangis di depan Rumah bertepatan dengan datangnya nyokap gue.
Nyokap dan Adek cowo gue yang masih SD kelas 4 tinggal di rumah nenek gue karena kesehatan nenek gue mulai menurun semenjak kakek meninggal.
Nyokap gue ini beberapa hari sekali pulang kesini buat ngasih gue bahan makanan.
Sejak enam bulan yang lalu, Nyokap gue sudah pisah dengan bokap.
Hanya pisah rumah, bukan bercerai.
Padahal gue sudah menyarankan untuk bercerai.
Satu tahun setelah gue berhenti sekolah, usaha bokap gue bangkrut.
Bokap gue menganggur dan tidak mau bekerja lagi. Sedangkan nyokap gue seorang PNS dan Punya bisnis pakaian.
Nyokap gue ini terlalu baik kepada suaminya.
Selama menganggur bokap gue sering marah ke nyokap.
Setahun setelah menganggur bokap gue kena diabetes
Bokap bertambah sering marah gak jelas dan beberapa kali memukul nyokap.
Ketika ketiga kalinya bokap memukul nyokap, gue langsung marah dan terjadilah perkelahian.
Perkelahian yang mengerikan, bokap gue babak belur.
Gue baru berhenti memukuli bokap setelah beberapa tetangga memegang tubuh gue.
Gue marah ke bokap gara-gara beliau jadi ringan tangan ditambah ketika gue mau masuk SMP dulu, bokap gue menjual rumah tempat tinggal sekeluarga secara diam-diam.
Bokap menjual rumah untuk ikut bisnis yang berujung pada penipuan.
Nyokap gue marah saat itu akan tetapi beliau memaafkan kesalahan bokap.
Gue memaafkan bokap saat rumah dijual, akan tetapi hanya di mulut saja.
Kemarahan itu gue pendam dan meledak ketika terjadi perkelahian itu.
Rumah di jual, gue sekeluarga pindah ke komplek yang jaraknya lumayan jauh dari SMP gue dulu.
Pindah rumah, gue gak ada teman.
Setiap hari gue hanya bermain di dalam rumah ataupun pergi ke warnet.
Seusai perkelahian bokap dengan gue, nyokap menyarankan bokap untuk tinggal di tempat lain untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan.
Ngomong-ngomong setelah gue berhenti sekolah, gue sekeluarga pindah lagi ke komplek yang sama dengan rumah yang dijual dulu.
Tempat yang gue tinggali sekarang ini satu komplek dengan rumah yang di jual dulu.
“Ini siapa? Kamu apain dia sampai nangis begini?” Ucap nyokap gue
“Aku gak ngapa-ngain dia kok, ma” ucap gue.
“Kamu jangan bohong sama mama, kalau enggak kamu apa-apain kok dia bisa nangis?”
Setelah nyokap mengatakan itu, Erina mengosok matanya dan mulai membisikan sesuatu kepada nyokap.
Gue tidak mendengar apa yang Erina bisikkan.
“Minta maaf!” nyokap gue berkata dengan nada tinggi.
“Ngapain minta maaf? dia sudah ngancurin laptop aku ma” ucap gue sambil menunjuk ke Erina yang sudah berhenti menangis.
“Kamu kan liat dia gak pake baju tadi, Minta maaf sama dia !”
“Enggak mau !”
Setelah mengatakan itu gue langsung pergi menuju ke kamar, panggilan nyokap tidak gue pedulikan.
Kamar gue kunci.
Lemari pakaian gue geser agar lubang yang dibuat Erina terhalangi.
Laptop yang ada di lantai gue pencet akan tetapi masih tidak bisa menyala.
Dada gue sakit
Gue ingin menangis karena satu-satunya sarana hiburan yang gue punya sudah tidak ada lagi.
Gue bingung apa yang harus gue lakukan besok ?
Gue yakin kalau gue minta laptop lagi, pasti gak akan di kasih, karena nyokap tidak ingin gue berada di dalam rumah terus.
Jujur saja, gue pengen keluar rumah akan tetapi gue merasa diri gue seperti sampah.
Gue takut dengan penilaian orang lain.
Penilaian seperti
‘Oh itukan si Reno yang pintar itu, kok dia sekarang jadi kaya gitu ya ?’
Setelah menggeser lemari, gue langsung tertidur di atas kasur.
Gue terbangun dengan mata yang basah akibat mimpi buruk.
Sangat buruk.
Gue mimpi nyokap meninggal.
TOK TOK TOK
“Reno bangun! sholat maghrib dulu.” Nyokap gue berkata sambil mengetuk pintu.
“Iya ma” ucap gue sambil berdiri menuju pintu.
Nyokap gue ngasih tahu kalau Erina sudah pulang tiga puluh menit yang lalu.
Gue turun ke bawah dan langsung mengambil air wudhu,
Selesai sholat
“Laptop kamu rusak?” tanya nyokap.
“Iya. Kacanya pecah, gak bisa nyala lagi. Mama gak mau beliin Reno laptop baru lagi kan?”
“Mama mau kok beliin yang baru, tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya ma?” tanya gue yang penasaran.
“Kamu berubah dulu, baru mama belikan.
Pikirkan masa depanmu. Jangan hidup di dalam rumah terus. Seandainnya mama meninggal kamu gimana?”
Gue terdiam teringat mimpi yang baru saja gue alami tadi.
“Tadi mama ngomong banyak hal sama Erina. Kamu bisa masak, kan?
Nah...mendingan besok kamu ikut Erina!”
“T...tapi kan-”
“Huss, gak usah protes kalau kamu mau laptop baru!” perintah nyokap gue.
“Yaudah, mama mau ke rumah nenek lagi. Bahan makanan ada di kulkas.” ucap nyokap gue menunjuk ke kulkas.
Setelah mengucapkan salam, nyokap gue langsung pergi lagi.
Apa bisa gue berubah ?
Dan...
Besok gue harus ikut Erina ?
Kemana ?
Chapter 4 - 31 Desember
Diubah oleh .gatack. 21-08-2016 13:01
0
Kutip
Balas