- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#367
Permintaan maaf karena kemarin Updatenya lama. Langsung Update lagi deh.
15 Juni 2011
Diary, kadang kala penasaran itu membawa petaka. Seperti kata pepatah Curiousity kills the cat.
Dan entah mengapa, ketertarikan orang-orang pada hantu atau mahluk-mahluk tidak kasat mata lainnya itu benar-benar mengagumkan.
Mengagumkan dalam artian, mereka mencari ketegangan dan ketakutan dari film-film ataupun hal-hal yang berhubungan dengan horror, sedangkan ‘mereka’ yang begitu ingin dilihat oleh orang-orang itu ada di sekitar kita tanpa disadari oleh para penggemar horror itu.
Dan ketika para penggemar horror itu dihadapkan pada ‘mereka’ secara langsung?
Seperti kejadian pada temanku yang sangat tergila-gila pada hal-hal yang berbau horror, ternyata melihat ‘mereka’ yang tidak nyata pada layar film dan dibandingkan dengan bertemu ‘mereka’ dengan langsung sangat berbeda.
Dan hari ini, aku membawa seseorang lagi untuk melihat ‘mereka’.
Jujur Diary, aku melakukannya karena merasa kesal dengan orang itu.
Aku merasa kesal karena sikapnya yang menganggapku tukang berhalusinasi dan setengah gila karena bisa melihat ‘mereka’.
Tapi aku lebih kesal lagi karena dia menghina Cindy, yang sama-sama bisa melihat ‘mereka’, sama sepertiku.
Karena itu, aku membawa orang itu untuk melihat ‘mereka’.
Dan lagi-lagi aku menyesal sekarang….
Jadi, tadi saat jam siang, si Anton (*sudah disamarkan - TS*) sedang membahas film horror yang sedang diputar di bioskop. Kemudian salah satu dari grupnya, Amel, berkata kalau aku dan Cindy bisa melihat ‘mereka’ sungguhan.
Kemudian, dengan congkaknya Anton mengatakan kalau hantu atau semacamnya itu tidak ada, dan orang-orang yang mengatakan bisa melihat ‘mereka’ adalah hoax dan fraud, alias pembohong dan penipu.
Karena kesal, Cindy langsung menantang Anton untuk melihat ‘mereka’ langsung. Dan saya mendukungnya.
Membawa mereka bertemu dengan si gadis merah di toilet perempuan terlalu berbahaya dan tidak mungkin membawa Anton masuk ke dalam, sedangkan penampakan lainnya, aku tidak yakin kalau Anton dan kawan-kawannya akan melihat ‘mereka’ karena bahkan aku sendiripun sering tidak bisa menemukan ‘mereka’ apabila ‘mereka’ tidak ingin menampakkan diri. Oleh karena itu, Aku dan Cindy memutuskan untuk mengajak Anton dan teman-temannya ke perpustakaan kami. Karena setidaknya para ‘mahluk’ yang berada di sana paling jinak dan paling tidak berbahaya…
Atau setidaknya begitulah menurutku dan Cindy.
Kami menunggu sampai jam 5 sore, sampai setidaknya sebagian besar mahasiswa sudah tidak berkumpul di area perpustakaan.
Dan sesuai dengan perkiraan kami, suasana di areal perpustakaan sangat sepi, bahkan lorong tempat para mahasiswa duduk berkumpul untuk membahas kuliah dan tugas mereka tidak ada seorangpun disana.
Kami masuk ke perpustakaan secara terpisah agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pengawas perpustakaan.
Setelah itu, kami langsung naik ke lantai 3 perpustakaan. Tempat ‘mereka’ paling sering menampakkan diri.
“Kosong tuh..” simpul Anton.
Tidak sih, sebenarnya tempat ini tidak kosong. Bahkan tanpa melihat langsungpun aku bisa merasakan perasaan geli pada tengkukku dan ditambah lagi dengan meremangnya bulu kudukku menandakan kalau setidaknya beberapa dari ‘mereka’ ada di sekitar kami.
“Tunggu aja” kata Cindy singkat sambil menarik tempat duduk di meja paling pinggir. Aku segera melakukan hal yang sama dengannya dan duduk di sebelahnya.
“Mana setan? Ayo dong keluar, sini berantem ama gue kalo berani, hahahahaha!” kata Anton dengan lantang.
‘BRRRR’
Tengkukku terasa sangat dingin. Aku menengok ke Cindy dan sepertinya dari raut wajahnya, dia juga merasakan sesuatu.
“Lis, kok gue jadi takut ya” kata Cindy
Aku hanya mengangguk gugup.
Selama ini aku dan Cindy pernah beberapa kali diganggu di perpustakaan ini. Tapi mereka semua tidak menganggu secara langsung melainkan hanya mengagetkan saja dengan muncul tiba-tiba.
Tapi baru kali ini kami merasakan udara yang begitu berat di perpustakaan ini.
“Ssst!!” Amel memberikan kode pada teman-temannya. Dia menunjuk pada sebuah rak buku yang terisi separuh.
Aku juga melihatnya.
Sesosok yang tampak sedang berdiri dibalik rak buku yang mengenakan pakaian berwarna abu-abu. Aku tidak bisa melihat kaki dan wajahnya karena tertutup buku.
Anton segera berlari menuju rak buku itu, diikuti oleh Amel dan ketiga temannya.
“Gak ada!” teriak Anton setelah dia mencapai rak buku tempat sosok itu tampak.
“Ahh!!” teriak Amel.
“Kenapa Mel?” tanya seorang gadis lagi di kelompok itu, aku lupa namanya.
“Barusan ada yang lewat cepet banget di rak sebelah sana” kata Amel.
“Perasaan lu doang kali?” ledek Anton setelah dia berjalan ke sisi dimana Amel melihat sosok itu.
Amel dan kawan-kawan Anton yang lain bergerak melewati rak buku ke sisi dimana Amel melihat sosok yang lewat itu.
“Mungkin bener kata Anton, Mel… cuman perasaan lu doang kali” kata si gadis teman Amel.
“Mungkin” jawab Amel.
Kemudian mereka semua berbalik menuju ke tempat aku dan Cindy sedang duduk.
Dan aku melihatnya. Dengan sangat jelas….
Sosok dengan pakaian dari kepala sampai ke kaki seluruhnya berwarna abu-abu meluncur dengan cepat dari dinding menuju ke Amel dan menepuk bahunya.
Amel menengok ke belakang “AHHHH!!” teriak Amel histeris sambil berjongkok dan menutup telinga dan matanya.
“Hah!?”
“Amel!?”
“Mel!?”
Kawanan Anton kaget mendengar teriakan Amel, semuanya berkumpul mengelilingi Amel yang masih berteriak-teriak histeris.
“Mel.. Mel… lu kenapa?” tanya gadis teman Amel yang berusaha menenangkan temannya yang histeris itu.
“AAHHH!! ANJ*NG!!” teriak salah seorang dari kawanan itu, lelaki yang bertubuh gempal dan berkulit gelap.
“Kenapa lagi lu!?” tanya Anton kepada temannya itu.
“Ah! Bangs*t lah Ton, gua gak mau ikutan lagi dah!!” teriak temannya itu “Ayo, Mel, ….. (sorry aku lupa nama yang disebut cowok itu) gak beres nih disini” lanjut cowok itu sambil menarik tangan Amel dan teman gadisnya itu.
“Ada apa sih sebenernya?” tanya teman gadis Amel itu.
“Gua ngeliat muka nemplok di jendela, Anj**rrrr!! Muka bonyok berdarah semua gitu” kata si cowok itu.
“Lu jangan bercanda dong, gua kaga seneng nih” kata si Anton masih kekeuh dengan pendapatnya kalau hantu itu tidak ada.
“Seriusan? Maksudnya tadi Amel juga ngeliat?” tanya si gadis teman Amel ke cowok gempal itu.
“Pasti deh, kalo enggak mana mungkin ampe gitu kan dia? Uda deh, bawa keluarnya si Amel bareng kita. Lu kalo mau lanjut silahkan Ton, gua kaga kuat kayaknya” cerocos si cowok gempal sambil menarik kedua gadis kawanan itu keluar.
“Eh.. eh… seriusan ini? Pada ngeliat apa sih?” tanya si gadis itu lagi sambil ditarik-tarik keluar oleh si cowok gempal.
“Tadi gua liat.. AHHH!!! Ngeh*kk!!!” teriak si cowok gempal lagi ketika dia berbalik menghadap ke arah Anton, tangannya yang hendak mengacungkan telunjuk masih terangkat separuh.
“Ton!! Di belakang lu!!” teriak si cowok gempal.
Ya… aku melihatnya dari tadi sih, di belakang Anton berdiri sosok dengan rambut yang bagaikan pohon beringin yang menutupi seluruh tubuhnya, yang terlihat hanya tangannya yang keluar dari antara rambut-rambut itu dan bergerak perlahan hendak menggapai bahu Anton.
Oh.. dan sosok berbaju abu-abu itu ternyata wanita.. Aku mengetahuinya dari bentuk tubuhnya. Dan aku sangat mengerti kenapa Amel begitu ketakutan. Wajah wanita itu sudah membusuk hingga berwarna hitam dan berkeriput, Separuh kepalanya berwarna abu-abu, rambut dari wanita itu sudah hampir habis sama sekali, hanya menyisakan beberapa helai rambut yang mencuat dari kepalanya. Sebelah matanya menggelantung lemas dari lubang matanya yang menganga. Sedangkan mata sebelah lagi bahkan sudah tidak memiliki bola mata sama sekali, hanya lubang kosong yang tersisa.
Dan sosok itu berdiri di samping Anton juga sekarang.
Anehnya si Anton tidak merasakan keberadaan ‘mereka’ sama sekali.
“AHHH!!” teriak si gadis teman Amel.
Sepertinya dia bisa melihat sosok di belakang Anton.
Gadis itu menarik lengan Amel dan berlari kencang keluar perpustakaan, disusul oleh si cowok gempal.
Anton mendatangi kami dengan wajah marah.
“Lu orang kerjasama ya?” tuduh Anton.
“Maksud lu apa?” tantang Cindy.
“Lu orang kerjasama ama kelompok gua buat nakutin gua kan? Biar gua percaya juga ama hantu-hantuan?” tuduhnya lagi.
“Eh, sorry aja ya, perasaan kenal aja kagak tuh gua ama temen-temen lu” bantah Cindy.
Anton menunjukku “Temen lu ini kenal Amel kok” tuding Anton.
“Aku sama Amel cuman pernah sekelas di semester 3, itu juga cuma sekelas, gak pernah ngobrol” jawabku. Aku sudah mulai kesal.
“Pokoknya apapun yang kalian mo lakuin pecuma” teriak Anton “Gua gak bakal percaya ama setan, sini lawan gua, tunjukin wujud ke gua kalo berani, celakain gua kalau bisa” teriaknya.
‘OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO’
“Ahh!?” Cindy dan aku berbarengan menutup telinga kami. Kami mendengar sesuatu di dalam kepala kami. Suara itu mirip seperti suara.. entahlah aku membayangkan suara angin yang melalui lorong panjang.
“Lu orang mau sandiwara apa lagi?” Anton menatap kami dengan mata meremehkan.
“Lu!!” Cindy baru saja hendak membalas perkataan tapi kami berdua mendengar suara di telinga kami.
‘PERGI!! SERAHKAN DIA KE KAMI, DIA MILIK KAMI’
Aku dan Cindy saling bertatapan.
“Udah, Cukup!!” teriak Anton sambil beranjak pergi “Sialan kalian semua, liat aja besok bakal gua bales. Berani-beraninya ngebohongin gua” ceracau Anton sambil beranjak pergi dari perpustakaan.
“Eh, Ton!!..” Cindy memanggil Anton, kurasa dia hendak memperingatkan Anton tapi sudah terlambat, cowok itu sudah keburu turun menggunakan elevator.
Kamipun pulang dengan hati ragu-ragu dan takut. Terutama karena ada kata-kata yang kami dengar tadi.
Dan benar saja, ketakutan kami terbukti. Amel meneleponku, entah darimana dia mendapat nomor HPku, tapi dia mengabarkan kalau Anton mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah.
Dia harus dirawat di rumah sakit karena luka-luka yang cukup parah.
Untungnya Anton tidak sampai kehilangan kesadaran.
Yang membuatku jadi kepikiran, adalah katanya Amel, Anton sekarang ini berteriak-teriak histeris di kamar Gawat Darurat tempatnya di rawat, katanya “Pergi.. Pergi!!” dan menurut cerita Amel, saat ini terpaksa Anton diberikan obat penenang terus menerus karena selalu berteriak-teriak ketakutan setiap kali dia sadar.
Aku… maksudku kami sepertinya telah melakukan kesalahan yang fatal…
Spoiler for Part XXII:
15 Juni 2011
Diary, kadang kala penasaran itu membawa petaka. Seperti kata pepatah Curiousity kills the cat.
Dan entah mengapa, ketertarikan orang-orang pada hantu atau mahluk-mahluk tidak kasat mata lainnya itu benar-benar mengagumkan.
Mengagumkan dalam artian, mereka mencari ketegangan dan ketakutan dari film-film ataupun hal-hal yang berhubungan dengan horror, sedangkan ‘mereka’ yang begitu ingin dilihat oleh orang-orang itu ada di sekitar kita tanpa disadari oleh para penggemar horror itu.
Dan ketika para penggemar horror itu dihadapkan pada ‘mereka’ secara langsung?
Seperti kejadian pada temanku yang sangat tergila-gila pada hal-hal yang berbau horror, ternyata melihat ‘mereka’ yang tidak nyata pada layar film dan dibandingkan dengan bertemu ‘mereka’ dengan langsung sangat berbeda.
Dan hari ini, aku membawa seseorang lagi untuk melihat ‘mereka’.
Jujur Diary, aku melakukannya karena merasa kesal dengan orang itu.
Aku merasa kesal karena sikapnya yang menganggapku tukang berhalusinasi dan setengah gila karena bisa melihat ‘mereka’.
Tapi aku lebih kesal lagi karena dia menghina Cindy, yang sama-sama bisa melihat ‘mereka’, sama sepertiku.
Karena itu, aku membawa orang itu untuk melihat ‘mereka’.
Dan lagi-lagi aku menyesal sekarang….
Jadi, tadi saat jam siang, si Anton (*sudah disamarkan - TS*) sedang membahas film horror yang sedang diputar di bioskop. Kemudian salah satu dari grupnya, Amel, berkata kalau aku dan Cindy bisa melihat ‘mereka’ sungguhan.
Kemudian, dengan congkaknya Anton mengatakan kalau hantu atau semacamnya itu tidak ada, dan orang-orang yang mengatakan bisa melihat ‘mereka’ adalah hoax dan fraud, alias pembohong dan penipu.
Karena kesal, Cindy langsung menantang Anton untuk melihat ‘mereka’ langsung. Dan saya mendukungnya.
Membawa mereka bertemu dengan si gadis merah di toilet perempuan terlalu berbahaya dan tidak mungkin membawa Anton masuk ke dalam, sedangkan penampakan lainnya, aku tidak yakin kalau Anton dan kawan-kawannya akan melihat ‘mereka’ karena bahkan aku sendiripun sering tidak bisa menemukan ‘mereka’ apabila ‘mereka’ tidak ingin menampakkan diri. Oleh karena itu, Aku dan Cindy memutuskan untuk mengajak Anton dan teman-temannya ke perpustakaan kami. Karena setidaknya para ‘mahluk’ yang berada di sana paling jinak dan paling tidak berbahaya…
Atau setidaknya begitulah menurutku dan Cindy.
Kami menunggu sampai jam 5 sore, sampai setidaknya sebagian besar mahasiswa sudah tidak berkumpul di area perpustakaan.
Dan sesuai dengan perkiraan kami, suasana di areal perpustakaan sangat sepi, bahkan lorong tempat para mahasiswa duduk berkumpul untuk membahas kuliah dan tugas mereka tidak ada seorangpun disana.
Kami masuk ke perpustakaan secara terpisah agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pengawas perpustakaan.
Setelah itu, kami langsung naik ke lantai 3 perpustakaan. Tempat ‘mereka’ paling sering menampakkan diri.
“Kosong tuh..” simpul Anton.
Tidak sih, sebenarnya tempat ini tidak kosong. Bahkan tanpa melihat langsungpun aku bisa merasakan perasaan geli pada tengkukku dan ditambah lagi dengan meremangnya bulu kudukku menandakan kalau setidaknya beberapa dari ‘mereka’ ada di sekitar kami.
“Tunggu aja” kata Cindy singkat sambil menarik tempat duduk di meja paling pinggir. Aku segera melakukan hal yang sama dengannya dan duduk di sebelahnya.
“Mana setan? Ayo dong keluar, sini berantem ama gue kalo berani, hahahahaha!” kata Anton dengan lantang.
‘BRRRR’
Tengkukku terasa sangat dingin. Aku menengok ke Cindy dan sepertinya dari raut wajahnya, dia juga merasakan sesuatu.
“Lis, kok gue jadi takut ya” kata Cindy
Aku hanya mengangguk gugup.
Selama ini aku dan Cindy pernah beberapa kali diganggu di perpustakaan ini. Tapi mereka semua tidak menganggu secara langsung melainkan hanya mengagetkan saja dengan muncul tiba-tiba.
Tapi baru kali ini kami merasakan udara yang begitu berat di perpustakaan ini.
“Ssst!!” Amel memberikan kode pada teman-temannya. Dia menunjuk pada sebuah rak buku yang terisi separuh.
Aku juga melihatnya.
Sesosok yang tampak sedang berdiri dibalik rak buku yang mengenakan pakaian berwarna abu-abu. Aku tidak bisa melihat kaki dan wajahnya karena tertutup buku.
Anton segera berlari menuju rak buku itu, diikuti oleh Amel dan ketiga temannya.
“Gak ada!” teriak Anton setelah dia mencapai rak buku tempat sosok itu tampak.
“Ahh!!” teriak Amel.
“Kenapa Mel?” tanya seorang gadis lagi di kelompok itu, aku lupa namanya.
“Barusan ada yang lewat cepet banget di rak sebelah sana” kata Amel.
“Perasaan lu doang kali?” ledek Anton setelah dia berjalan ke sisi dimana Amel melihat sosok itu.
Amel dan kawan-kawan Anton yang lain bergerak melewati rak buku ke sisi dimana Amel melihat sosok yang lewat itu.
“Mungkin bener kata Anton, Mel… cuman perasaan lu doang kali” kata si gadis teman Amel.
“Mungkin” jawab Amel.
Kemudian mereka semua berbalik menuju ke tempat aku dan Cindy sedang duduk.
Dan aku melihatnya. Dengan sangat jelas….
Sosok dengan pakaian dari kepala sampai ke kaki seluruhnya berwarna abu-abu meluncur dengan cepat dari dinding menuju ke Amel dan menepuk bahunya.
Amel menengok ke belakang “AHHHH!!” teriak Amel histeris sambil berjongkok dan menutup telinga dan matanya.
“Hah!?”
“Amel!?”
“Mel!?”
Kawanan Anton kaget mendengar teriakan Amel, semuanya berkumpul mengelilingi Amel yang masih berteriak-teriak histeris.
“Mel.. Mel… lu kenapa?” tanya gadis teman Amel yang berusaha menenangkan temannya yang histeris itu.
“AAHHH!! ANJ*NG!!” teriak salah seorang dari kawanan itu, lelaki yang bertubuh gempal dan berkulit gelap.
“Kenapa lagi lu!?” tanya Anton kepada temannya itu.
“Ah! Bangs*t lah Ton, gua gak mau ikutan lagi dah!!” teriak temannya itu “Ayo, Mel, ….. (sorry aku lupa nama yang disebut cowok itu) gak beres nih disini” lanjut cowok itu sambil menarik tangan Amel dan teman gadisnya itu.
“Ada apa sih sebenernya?” tanya teman gadis Amel itu.
“Gua ngeliat muka nemplok di jendela, Anj**rrrr!! Muka bonyok berdarah semua gitu” kata si cowok itu.
“Lu jangan bercanda dong, gua kaga seneng nih” kata si Anton masih kekeuh dengan pendapatnya kalau hantu itu tidak ada.
“Seriusan? Maksudnya tadi Amel juga ngeliat?” tanya si gadis teman Amel ke cowok gempal itu.
“Pasti deh, kalo enggak mana mungkin ampe gitu kan dia? Uda deh, bawa keluarnya si Amel bareng kita. Lu kalo mau lanjut silahkan Ton, gua kaga kuat kayaknya” cerocos si cowok gempal sambil menarik kedua gadis kawanan itu keluar.
“Eh.. eh… seriusan ini? Pada ngeliat apa sih?” tanya si gadis itu lagi sambil ditarik-tarik keluar oleh si cowok gempal.
“Tadi gua liat.. AHHH!!! Ngeh*kk!!!” teriak si cowok gempal lagi ketika dia berbalik menghadap ke arah Anton, tangannya yang hendak mengacungkan telunjuk masih terangkat separuh.
“Ton!! Di belakang lu!!” teriak si cowok gempal.
Ya… aku melihatnya dari tadi sih, di belakang Anton berdiri sosok dengan rambut yang bagaikan pohon beringin yang menutupi seluruh tubuhnya, yang terlihat hanya tangannya yang keluar dari antara rambut-rambut itu dan bergerak perlahan hendak menggapai bahu Anton.
Oh.. dan sosok berbaju abu-abu itu ternyata wanita.. Aku mengetahuinya dari bentuk tubuhnya. Dan aku sangat mengerti kenapa Amel begitu ketakutan. Wajah wanita itu sudah membusuk hingga berwarna hitam dan berkeriput, Separuh kepalanya berwarna abu-abu, rambut dari wanita itu sudah hampir habis sama sekali, hanya menyisakan beberapa helai rambut yang mencuat dari kepalanya. Sebelah matanya menggelantung lemas dari lubang matanya yang menganga. Sedangkan mata sebelah lagi bahkan sudah tidak memiliki bola mata sama sekali, hanya lubang kosong yang tersisa.
Dan sosok itu berdiri di samping Anton juga sekarang.
Anehnya si Anton tidak merasakan keberadaan ‘mereka’ sama sekali.
“AHHH!!” teriak si gadis teman Amel.
Sepertinya dia bisa melihat sosok di belakang Anton.
Gadis itu menarik lengan Amel dan berlari kencang keluar perpustakaan, disusul oleh si cowok gempal.
Anton mendatangi kami dengan wajah marah.
“Lu orang kerjasama ya?” tuduh Anton.
“Maksud lu apa?” tantang Cindy.
“Lu orang kerjasama ama kelompok gua buat nakutin gua kan? Biar gua percaya juga ama hantu-hantuan?” tuduhnya lagi.
“Eh, sorry aja ya, perasaan kenal aja kagak tuh gua ama temen-temen lu” bantah Cindy.
Anton menunjukku “Temen lu ini kenal Amel kok” tuding Anton.
“Aku sama Amel cuman pernah sekelas di semester 3, itu juga cuma sekelas, gak pernah ngobrol” jawabku. Aku sudah mulai kesal.
“Pokoknya apapun yang kalian mo lakuin pecuma” teriak Anton “Gua gak bakal percaya ama setan, sini lawan gua, tunjukin wujud ke gua kalo berani, celakain gua kalau bisa” teriaknya.
‘OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO’
“Ahh!?” Cindy dan aku berbarengan menutup telinga kami. Kami mendengar sesuatu di dalam kepala kami. Suara itu mirip seperti suara.. entahlah aku membayangkan suara angin yang melalui lorong panjang.
“Lu orang mau sandiwara apa lagi?” Anton menatap kami dengan mata meremehkan.
“Lu!!” Cindy baru saja hendak membalas perkataan tapi kami berdua mendengar suara di telinga kami.
‘PERGI!! SERAHKAN DIA KE KAMI, DIA MILIK KAMI’
Aku dan Cindy saling bertatapan.
“Udah, Cukup!!” teriak Anton sambil beranjak pergi “Sialan kalian semua, liat aja besok bakal gua bales. Berani-beraninya ngebohongin gua” ceracau Anton sambil beranjak pergi dari perpustakaan.
“Eh, Ton!!..” Cindy memanggil Anton, kurasa dia hendak memperingatkan Anton tapi sudah terlambat, cowok itu sudah keburu turun menggunakan elevator.
Kamipun pulang dengan hati ragu-ragu dan takut. Terutama karena ada kata-kata yang kami dengar tadi.
Dan benar saja, ketakutan kami terbukti. Amel meneleponku, entah darimana dia mendapat nomor HPku, tapi dia mengabarkan kalau Anton mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah.
Dia harus dirawat di rumah sakit karena luka-luka yang cukup parah.
Untungnya Anton tidak sampai kehilangan kesadaran.
Yang membuatku jadi kepikiran, adalah katanya Amel, Anton sekarang ini berteriak-teriak histeris di kamar Gawat Darurat tempatnya di rawat, katanya “Pergi.. Pergi!!” dan menurut cerita Amel, saat ini terpaksa Anton diberikan obat penenang terus menerus karena selalu berteriak-teriak ketakutan setiap kali dia sadar.
Aku… maksudku kami sepertinya telah melakukan kesalahan yang fatal…
Diubah oleh ayanokouji 18-08-2016 10:28
jenggalasunyi dan johny251976 memberi reputasi
2
Kutip
Balas