Kaskus

Story

natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.

Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.


I Am (NOT) Your Sister

Big thanks to quatzlcoatlfor cover emoticon-Smilie

Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
imamarbaiAvatar border
pulaukapokAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
#1879
A Part 69

Tega banget kak Fe kepadaku. Mendengar ucapannya barusan perasaanku makin sakit aja. Bukanya simpati atau peduli, ini mah malah ngejek. Sakit..sakit..sakit… dasar kakak yang jahat.

“Loh.. Ani kenapa nangis?”

Heh! Ada suara orang lain… Aku yang lagi nangis ini gak bisa menebak itu suara siapa, tapi suaranya begitu familiar. Siapa yaa…
Sekarang ada kak Fe disini tingal menunggu waktu aja buat aku untuk dibully oleh dia. Dia pasti seneng kalau aku nangis kayak gini. Aku yang sudah biasa tersakiti ini sudah pasrah saja.

“Ani.. kamu gak kenapa-napa?” Seseorang menghampiriku, melihat mukaku. Aku sekarang bisa melihat orang lain selain kak Fe di ruang tamu dan ternyata itu kak Andrea. Astaga, aku malu diliat kak Andrea seperti ini. Idung aku udah bengek kayak gini, mata juga udah sembab gini karena nangis Aku malu diliat kak Andrea soalnya aku respect banget sama dia, dia itu baik banget sama aku, masih teringat di ingatanku ketika kak Andrea ini membantuku kemarin-kemarin pas berantem sama si Susi. Ah,,, tuh kan aku mah memalukan banget. Aku pun langsung berdiri ketika tahu kalau kak Andrea ada di disini, pas aku berdiri aku gak ngeliat kak Fe, padahal aku tadi udah siap menerima ledekanya di ruang tamu, tapi orangnya entah kemana menghilang. Aku pun segera berlari ke kamarku meninggalkan tasku dan juga kak Andrea di ruang tamu.

***

Di kamar aku tiduran telungkup di kasur dan tetap masih saja nangis. Aku juga gak tau aku mau nangis sampai kapan, rasanya stok air mata di tubuhku ini sangat melimpah. Bantal yang jadi alas kepalaku ini aja sudah basah.

Aku masih kepikiran kok kenapat tadi ibu jahat banget kepadaku, kata-katanya itu loh nyelekit banget, terutama yang bilang “Kalau mau masih disini…” atau semacam itu, itu beneran sakit banget buat aku. Padahal kan cuman main aja pas kemarin, kak Fe malahan sering main keluar bahkan tak jarang dia pulang malam juga. Tapi kenapa pas giliran aku, ibu marah banget sama aku, sampai ngancam-ngancam kalau mau masih disini harus ikuti perintahnya. Sedih… asli sedih hati ini.

Tok….tok…tok…

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Dipikiranku aku harap orang itu ibu, aku berharap ibu tadi khilaf kepadaku dan sekarang mau minta maaf kepadaku karena terlalu keras memarahiku.

“Nangisnya udahan? Mau ikut gak?”

Harapanku sirna sudah, ternyata itu kak Fe. Tanpa seizinku kak Fe rupanya langsung membuka pintu kamarku, ya salahku sih lupa tadi gak dikunci sebelum masuk kamar.

“Idih.. jangan nangis terus atuh!” Ujar dia sambil melempariku dengan bantal. Bantal yang dilempar tepat mengenai kepalaku. Aduh memang gak sopan ya dia tapi ya aku yang masih terpuruk gak bisa ngelawan. Aku bisa merasakan kehadiran kak Fe yang mulai mendekatiku, dia kemudian naik ke atas kasur. Aku mulai berpikir yang aneh-aneh, aku takut digebukin dengan guling.

“Hey.. udahan nangisnya.” Ujar kak Fe sambil mengelus rambutku dari belakang.

“Tenang aja, gak apa-apa kok.” Kata dia dengan lembutnya. Entah kenapa aku menjadi tenang ketika kepalaku dielus-elus oleh dia. Rasanya nyaman dan tenang aja apalagi dengan lembutnya dia mengelus kepalaku. Aku memang suka kalau kepalaku dielus, dari dulu ketika aku sedang bersedih dan nangis, ayahku suka mengelus kepalaku.

“Sini.. liat gue..”

Aku lalu bangkit dari kasur dan menyamakan posisiku seperti kak Fe yaitu duduk diatas kasur.

“Yuk, ikut jalan-jalan ke ITB bareng gue dan Andrea.”

“Tapi kak….” Kataku. Aku takut ibu ngelarang aku buat main.

“Tapi apa, ah tenang aja.. Ibu gak marah kok, ibu marahin kamu itu karena dia sayang sama kamu.”

“…..”

Sebenarnya aku agak kurang percaya dengan omongan kak Fe barusan, dari dulu sering bilang begitu, tapi tetap aja aku selalu kena batunya.

“Jadi gimana? Ikut gak?” Tanya dia lagi.

Tapi nyatanya nada bicara kak Fe yang pelan dan lembut itu membuatku luluh. Jika aku pernah mendengar suara kak Fe paling lembut dan ramah kepadaku, mungkin saat inilah.

“….”

Aku tak berbicara, cuman aku menjawabnya dengan anggukan. Dengan anggukan seharusnya dia tau kalau aku setuju ikut dengannya.

“Nah… gitu dong.” Ujar dia tersenyum dan langsung mengacak-ngacak rambutku. Aku juga tersenyum ketika melihat senyumannya kepadaku. Ah.. memang dasar dia ini, gak bisa ketebak perbuatannya kepadaku. Aku kira dia tadi mau mengejek aku habis-habisan tapi ternyata dia itu sangat peduli kepadaku dan baik kepadaku.

“Ganti baju Ni.. kamu jelek kalau nangis. Hahaha.” Kata kak Andrea dari dekat pintu kamarku. Astaga, rupanya tadi kak Andrea juga menyaksikan diriku yang tiduran sambil nangis.

Aku pun bangkit dari kasur lalu menuju lemari buat ganti baju, sementara kak Fe juga langsung keluar kamarku bersama kak Andrea menuju kamarnya.

***

“Ngapain kak ke ITB” Tanyaku kepada mereka yang di depan. Aku di mobil duduk dibelakang sendirian.

“Mau main aja ke kampus impian.” Jawab kak Andrea.

“Wah.. kak Andrea mau masuk ITB.” Kataku

“Iya, doain ya Ni.”

“Amin… Amin. Semoga kakak bisa masuk ITB.” Kataku sambil berdoa dalam hati, mendoakan kak Andrea semoga masuk ke Institut Teknologi Bandung, amin ya alloh.

“Kak Fe… juga mau masuk ITB?” Tanyaku sekali kepada kak Fe. Cuman kak Fe tidak menjawabnya, entah itu emang gak kedengeran atau emang dia pura-pura budek.
***

Sekitar pukul 4tan baru sampai di ITB. Aku baru pertama kali masuk ITB. Wah rasanya gimana ya, banyak orang, dan pasti semua orang disini pada hebat dan pinter-pinter, calon insyinyur gitu loh. Aku minder, mana mungkin aku bisa masuk ITB, masuk 10 besar rangking pun pas semester kemarin juga engak aku mah. Tapi aku senang sih bisa main kesini, aku jadi bisa melupakan perasaan sedihku tadi. Malahan aku jadi termotivasi buat belajar lebih giat lagi setelah aku berdua bersama kak Andrea berjalan-jalan mengelilingi ITB.

Loh kok berdua? Benar, terus kak Fe kemana? pas masuk pintu gerbang tadi ada seorang laki-laki datang menghampiri kami bertiga, lalu kak Fe memisahkan diri dan berjalan berdua bersama laki-laki itu. Entah itu siapa, aku juga gak kenal sama orang itu.

“Kak Andrea, yang tadi itu siapa?” Tanyaku kepada kak Andrea pas lagi duduk beristirahat.

Pacar kak Fe kah? Ah, masa, selama ini aku belum pernah melihat kak Fe pergi berdua bersama anak laki-laki. Bahkan berita kak Fe punya pacar lagi setelah kak Bram pun aku belum pernah mendengarnya. Aku jadi penasaran, siapakah laki-laki itu.

khodzimzz
khodzimzz memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.