Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#2
PART 2


Hari sudah maghrib lewat sedikit. Habis mandi aku pergi membeli makan. Setelahnya aku pulang, lalu duduk-duduk di depan kamar sambil rokokan. Bosan begitu, aku pun menyalakan TV sambil tiduran. Tapi TV-nya bisa dibilang mubazir karena aku sama sekali tak menghiraukannya. Pikiranku malah tersita pada apa yang kulihat tadi sore. Otomatis aku pun kian penasaran dengan orang itu.

Aku nggak tahu dia siapa. Maksudku, dari semua penghuni kos cuma dialah yang namanya masih jadi tanda tanya. Bukan setahuku saja, dink, semua penghuni kos ini sepertinya juga sama. Orang itu pendiam, misterius, dan sama sekali tak pernah membaur dengan anak-anak kos lainnya. Beberapa kali dia lewat ketika kami gitar-gitaran di bawah. Dan jangankan menyapa, senyum pun dia nggak mau. Berapa lama dia sudah tinggal di sini, ya? Mmmm....sekitar dua tahunanlah.

Waktu itu suasana kos masih sepi. Sebenarnya sudah banyak yang pulang, tapi kamar-kamarnya masih pada tertutup. Ada yang masih beribadah, langsung tidur karena keletihan, macam-macam pokoknya. Nah, ketika itulah aku bisa mendengar suara pintu yang terbuka. Dari arah suaranya aku merasa yakin. Dan ketika kuintip lewat jendela, benar. Itu memang dia.

Dia berjalan dengan terburu-buru. Katakanlah aku bodoh, tapi aku benar-benar nggak tahu kenapa aku tiba-tiba punya pikiran untuk ngikutin dia. Aku pun langsung mengenakan baju guna menyusulnya. Motorku lalu kutuntun hingga ke dekat pagar. Aku mengintip, sengaja ingin membaca situasi. Saat itu aku bisa melihatnya puluhan meter di depan sana. Dia lagi berhenti di pinggir jalan. Tak lama kemudian, ia menaiki angkot yang juga menurunkan seorang penumpang. Motor kunyalakan dan aku pun melaju. Sampai di dekat mulut gang, aku berpapasan dengan orang yang turun dari angkot tadi. Seorang ibu-ibu, tetangga kos yang juga kukenal.

“Habis dari mana, Bu?”

“Dari tempat sodara. Mau ke mana kamu?”

“Mau ke tempat teman, Bu,” jawabku, sekaligus tahu angkot nomor berapa yang barusan dinaikinya.

Aku sudah melaju. Ketika kuperhatikan sekeliling, angkot yang jurusannya sama juga ada beberapa di jalan. Kebanyakan kacanya hitam, jadinya susah untuk menebak isi penumpangnya. Mau mepet untuk memeriksa juga susah karena lalu lintasnya lagi ramai. Otomatis, langkahku saat itu cuma jalan sesuai jurusan. Pelan-pelan dan awas, memperhatikan sebaik-baiknya barangkali bisa kelihatan. Tapi belum ada tanda-tanda. Saat itu, aku sudah melaju lumayan jauh.

Beruntung memang, aku bisa melihatnya. Orang itu tengah berjalan ke dalam gang yang entah apa namanya.

Aku kemudian mengikutinya. Pelan-pelan dan tetap menjaga jarak. Saat itu kami melewati pemukiman, tapi cuma sebentar. Sisanya, kami melewati daerah yang gelap dan sepi. Istilahnya, tempat ini seperti tempatnya jin buang anak. Tidak mau keberadaanku disadari, aku pun mematikan dan menuntun motorku. Terus kuikuti dia dengan sangat hati-hati. Daerah ini lumayan terisolir. Dan aku tak begitu kaget mengingat pembicaraan mereka tadi sore.

Akhirnya kegelapan yang mencolok mulai berkurang dikarenakan cahaya lampu dari sebuah gedung. Seperti omongannya tadi sore, tempat itu memang seperti gudang yang tak terurus. Di depannya sudah ada beberapa orang dengan jumlah motor yang jauh lebih banyak ketimbang tadi sore. Aku masih mengambil jarak dan mengintip sambil mengendap-endap. Mereka kulihat berbicara sebentar sebelum akhirnya masuk bersama-sama.

Aku terpaku. Apa-apaan aku ini, kupikir. Aku tahu ini sudah nggak beres. Tapi aku tak bisa bohong, kalau aku merasa begitu penasaran.

‘HUSSSSH!!!!’ mulutku menghembus kencang.

Aku pun memberanikan diri. Motorku kudiamkan dengan posisi menghadap arah pulang. Kemudian aku berlari kecil ke halaman yang sudah sepi itu. Pintu gedungnya besar dan tertutup rapat. Masih mengendap-endap, aku mencari celah supaya bisa mengintip ke dalam.

Ketemu!

Aku mencoba untuk melihat ke dalam. Dan lubang yang begitu kecil membuat penampakannya jadi tidak cukup jelas. Karena sudah kadung penasaran, aku pun memutar ke samping gedung untuk mencari lubang yang lain. Ketemu! Sedikit lebih kecil memang, tapi aku bisa mengintip dengan jarak yang lebih dekat. Dan di posisi ini, aku melihat seseorang yang lagi diikat di kursi. Wajahnya berdarah. Dia ditawan. Ini pasti yang namanya disebutkan tadi sore. Siapa namanya aku sudah lupa. Orang itu, yang juga satu kos denganku, berdiri tepat di depannya. Dan di sebelahnya ada.....siapa tadi namanya?

Oh, ya!

Rob.

Pemandangan semacam ini jelas yang pertamakali buatku. Jantungku berpacu membayangkan kengerian apa yang sebentar lagi akan terjadi. Dan aku merasa sulit untuk beranjak. Akal sehatku sudah tertutup rasa penasaran yang begitu besar.

“Sekarang apa?” orang yang diikat itu mulai bicara. “Kalian kira aku takut?! Ha?!! Kubunuh kalian semua di sini...”

‘DUG!!’

Rob melancarkan tinjunya. Orang itu meringis, tapi sebentar kemudian sudah tertawa. Tak ada takut sedikitpun yang terpancar dari wajahnya.

Gila juga orang ini, pikirku.

“Rob, uda,” kata orang itu.

Rob kemudian mundur ke tempatnya semula.

Orang itu maju sebelum membuka bajunya. Yang spontan membuatku terkejut, bergidik ngeri, merinding. Aku tak pernah melihatnya bertelanjang dada selama di kos. Dan sekarang, aku jadi tahu kalau badannya itu ternyata dipenuhi bermacam-macam bekas luka.

“Kenapa kamu nggak ngerti juga, Max? Aku udah nggak hidup di dunia ini lagi.”

Oh, ya. Namanya Max.

“ANJ#NG kamu! Cuuhh!” orang itu meludah.

‘DUG!!’

“Rob! Udah!”

“LEPASIN AKU ANJ#NG!!! KUBUNUH KAMU SEKARANG!!”

“Tentu. Kamu pasti dilepasin. Kamu pasti punya kesempatan buat ngebunuh aku, pakai tangan kamu sendiri.”

“BANYAK OMONG KAMU ANJ#NG!!! LEPASIN AKU SEKARANG! PENGECUT KAMU!!”

“Pengecut? Serius?” katanya sambil mundur beberapa langkah. “Kamu! Kamu! Kamu! Kamu!” ditunjuknya beberapa orang. Tanpa diperintah lagi, orang-orang itu pun mendekat. “Ayo! Sekarang!” dia mengisyaratkan agar keempat-empatnya maju melawan dirinya sendiri. Keempatnya spontan kebingungan.

“Jangan takut! Lakuin aja apa perintahnya!” Rob berseru. Dan orang-orang itu masih nampak takut. Jelas-jelas musuh mereka sudah terikat di kursi.

“Bodoh! SEKARANG!”

Keempatnya pun mulai menyerang. Dan di luar dugaan, orang itu justru membiarkan dirinya dipukuli. Hanya berlangsung sebentar.

“Maaf, Bang,” kata salah satunya ketakutan.

“DIA BELUM BILANG BERHENTI! TERUSKAN! JANGAN SETENGAH-SETENGAH!” Rob berseru lagi.

Keempatnya saling pandang. Kian kebingungan.

“BODOH!! TERUSKAN!!”

Pembantaian kembali berlanjut dan orang itu benar-benar tidak melawan. Dia tersungkur dan ditendangi. Satu orang memeganginya sementara sisanya bergantian menghujaninya dengan pukulan. Orang itu lalu dilepaskan. Tertidur di lantai sambil tetap ditendangi.

Aku benar-benar bingung. Ini sebenarnya lagi ngapain?!

Orang-orang itu akhirnya berhenti begitu melihat isyarat. “Maaf, Bang,” kata salah satu dari mereka lagi. Benar-benar bingung kenapa ia harus melakukan itu.

Orang itu kemudian bangkit. Dengan kondisinya yang sudah sedemikian babak belur, ia malah tersenyum. “Udah sama belum, Rob?!!” serunya sambil mengibas-ibaskan tangan, menghilangkan jejak-jejak tapak sepatu dan pasir yang melekat di seluruh badannya.

Rob turut tersenyum. Ia sudah menebak ini arahnya ke mana. Ia pun bersiap seperti akan menonton film yang seru. Dan senyumnya mengisyaratkan betapa ia rindu untuk menyaksikannya. Rob lalu mengangguk. “Lepasin dia!” Seruannya membuat anak buahnya kembali terlihat bingung. Melepaskan siapa? Membiarkannya pergi? Atau? “HE! LEPASKAN! serunya lagi sambil menggeleng ke arah tawanan mereka.

Semuanya kian heranan.

“MAX! Sekarang kau punya kesempatan untuk membunuhku dengan tanganmu sendiri,” dia sambil mengangkat kedua tinjunya. “Kita udah sama sekarang. Nggak ada alasan buatku ngalah.”

Aku tadinya terkejut. Tapi pelan-pelan aku mengerti kenapa ia sengaja membiarkan dirinya jadi babak belur.

“ANJ#NG!!!!” Max yang baru dilepaskan langsung mendekat dengan tatapan yang nanar. Ekspresinya begitu haus akan darah. “MATI KAMU SEKARANG!!!”

Max melayangkan tinjunya. Dan terlihat biasa, bahkan sia-sia karena orang itu bisa menangkisnya dengan mudah. Max kian kesetanan. Tinjunya dilancarkan beserta amarah yang meledak-ledak. Masih mengelak dan menangkis, orang itu lalu mengakhirinya dengan tangkapan berteknik tinggi. Gaya bertarungnya jelas. Tingkatannya jauh sekali di atas empat orang yang tadi menghajarnya, yang kini terperangah seolah terhipnotis.

‘GDEBUKK’

Max terbanting ke tanah, sebelum ditindih dan ditinju berkali-kali tepat di tengah wajahnya. Membuatnya kian terlihat mengenaskan. Darah segar mengalir dari hidungnya.

Orang itu memaksanya berdiri, lalu mengangkat badannya seolah bobotnya memang terasa ringan. Dan, ‘DGEBUUKK!!!!’ Anj#ng! Aku hapal gerakan ini. Ini mah ‘F-5’-nya Brock Lesnar, tapi diakhiri dengan hempasan ‘DDT’. Menghujamkan kepala Max dengan begitu telaknya. Max benar-benar berantakan. Jangankan meringis, bisa kembali sadar saja aku sudah sangsi. Max yang terkulai lemas kembali dipaksa berdiri.

Dan orang itu melakukannya lagi.

ANJ###NG!!! Entah aku ingin girang melihatnya, tapi itu.... barusan... juga gerakan khas pegulat favoritku di PS.

The Rock Bottom.

Orang itu berdiri. Ia lalu menoleh ke arah Rob, yang saat itu nampak begitu sumringah. Ia menatap Max sebentar sebelum kembali menoleh. Rob kemudian mengangguk. Dan dia akhirnya meloncat dengan satu kaki terangkat lebih tinggi. Sepertinya ia membidik kepala.

“JANGAAN!!!”

bodoh. Bisa-bisanya aku berteriak.

Semua menoleh ke sumber suara. Beberapa orang langsung bereaksi. Aku ingin lari tapi seluruh badanku mendadak lemas. Ta#k!! Ta#k!! Orang itu mati karena lehernya diinjak dengan tenaga penuh. Aku langsung merinding, nangis, mau pingsan. Pertamakalinya aku menyaksikan orang dibunuh.

“WOY!!!” beberapa orang sudah menemukanku.

Entah kalau aku bisa lari dari sini.

***
Diubah oleh kawmdwarfa 12-12-2016 08:48
redrices
fakhrie...
sormin180
sormin180 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.