- Beranda
- Stories from the Heart
Selamat Datang Dunia Nyata
...
TS
.gatack.
Selamat Datang Dunia Nyata
Quote:
Peraturan
1. Ikuti aturan Forum SFTH
2. Jangan kepo berlebihan
3. Jangan ngejunk
1. Ikuti aturan Forum SFTH
2. Jangan kepo berlebihan
3. Jangan ngejunk
Quote:
Pertanyaan Umum
1.Apakah ini cerita nyata ?
Iya, cerita beberapa tahun yang lalu. Kalau mau menganggap cerita ini fiksi silahkan.
2. Latar cerita ini dimana ?
Salah satu Kota di Kalimantan Selatan
3.Apa status agan sekarang ?
Bekerja dan sudah menjadi suami orang lain.

4.Penampilan agan bagaimana ?
Silahkan disimak ceritanya. yang jelas badan saya sekarang kecil (164 cm)
5.Kapan Updatenya ?
Enggak tentu, akan tetapi saya usahakan setiap hari.
Daftar Isi :
Chapter 00 - Mimpi di tengah hujan
Chapter 1 - Kembali ke masa sekolah
Chapter 1.5 - Kembali ke masa sekolah 2
Chapter 2 - Gadis yang mengerikan
Chapter 3 - Awal
Chapter 4 - 31 Desember
Chapter 5 - Kesenangan
Diubah oleh .gatack. 21-08-2016 13:27
anasabila memberi reputasi
1
3.6K
Kutip
24
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.gatack.
#2
Quote:
Chapter 1 - Kembali ke masa sekolah
“Kenapa Ren?’ Adelia memiringkan kepalanya menengok ke arah gue yang berada di samping kiri.
“Tumben lo ngerjain PR di sekolahan”
“Oh ini? ujar Adelia menunjuk buku yang ada di depannya “Gue lupa gara-gara nemenin sepupu gue beli tas kemaren”
“Bukannya masih bisa pas malam di kerjain?”
“Ya bisa sih, tapi gue udah cape hehehe” ujar Adelia tertawa kecil.
“Lagian gue kemaren selesai mengerjakan tugas bahasa inggris, langsung ngerjain PR ini.” tambah Adelia
“Wih rajin hahaha”
“Yang rajin kan elo. Belum setengah tujuh sudah ada di kelas, selalu peringkat satu;selain itu gak pernah ngerjain PR di sekolahan.”
Wow, sebuah pujian buat gue di pagi hari ini.
Apakah hari ini akan menjadi hari yang baik buat gue ?
Apakah Ini hari keberuntungan gue ?
Semoga saja
“Lah bukannya lo juga sama? belum setengah tujuh udah datang ke sekolahan.” tanya gue.
Gue menanyakan itu karena Adelia ini sering datang setelah gue menaruh tas di atas kursi
“Ya tetap aja masih cepetan lo datangnya.” katanya sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah gue.
“Yah, tapi kan lo juga murid—”
“Stop...” Ujar Adelia memotong kalimat gue.
Dia mengatakan itu sambil mengarahkan kelima jarinya yang terbuka lebar ke arah gue.
Lalu dia melanjutkan perkataanya.
“ ...Udah ah Ren daritadi lo ngajakin gue ngobrol terus, ntar gak kelar-kelar ini tugas. Sekarang lo diem aja ya, murid teladan dilarang mengganggu hahaha.”
“Yaudah, gue mau keluar. Hati hati ada penunggu di belakang” kata gue sedikit tertawa.
“Bagus deh kalau lo keluar. ada lo disini gue jadi gak konsen.Gak usah nakutin gue ya Ren, gue gak percaya yang begituan. bwee ” ledek Adelia.
“Terserah lo aja del, gue cuman ngasih tau.” kata gue yang sudah berdiri dari kursi.
Gue berkata seperti itu karena gue pernah melihat benda putih menembus dinding ke warung yang berada di samping kelas delapan ini.
Adelia Putri
Dia adalah ketua kelas
Badannya tinggi, lebih tinggi dari gue.
Kulitnya sangat putih berbeda dengan gue yang kuning langsat cenderung ke coklat karena terlalu banyak bermain di luar rumah ketika SD dulu..
Dia adalah gadis yang cantik dengan rambut bobcut.
Selain itu dirinya juga ramah, gampang bergaul dengan semua orang, suka bercanda, supel, taat aturan, terkenal diantara para guru,membuat banyak lelaki jatuh cinta berlebihan. Termasuk sebagian besar kakak-kakak kelas. Bahkan kakak-kakak kelas dari sekolah lain yang berada di sekitar sekolah ini. Dirinya juga pintar, walaupun masih berada di bawah peringkat gue.
Salah satu alasan gue berteman dengan Adelia karena dia satu-satunya orang yang memanggil gue dengan nama, bukan dengan sebutan ‘Arab’ di sekolah ini.
Walaupun gue memiliki wajah khas orang arab dengan hidung mancung, alis yang lebat, serta bola mata tajam yang hitam; tetap saja gue tidak menyukai panggilan itu.
Gue dan Adelia berada di kelas yang berbeda ketika kelas 7 dan baru di kelas 8 semester awal gue berteman dengannya karena tempat duduk gue dengan dia bersebelahan.
Seandainya dia memanggil gue ‘Arab’ seperti yang lain lakukan, mungkin gue gak mau berteman dengan dia.
Sesudah percakapan kami berakhir, Adelia melanjutkan PR yang belum tuntas dia kerjakan.
Sedangkan gue langsung berjalan menuju bangku panjang yang berada di depan kelas.
Bangku itu menyatu dengan bagian dinding kelas, bagian atasnya dipasangi keramik putih.
Dingin
Gue bersandar pada tiang penyangga yang juga menyatu dengan bangku yang gue duduki saat ini.
Bangku ini bisa duduki oleh enam siswa akan tetapi empat dari enam kapasitasnya sudah gue gunakan sendiri saat ini
Terlihat serakah memang.
Gue rasa gak apa-apa lah, lagipula sekarang ini masih pagi.
Tanpa gue sadari, gue tertidur karena cuaca dingin pagi ini.
..........
.........
........
.......
......
.....
....
...
..
.
“Oi Reno ... Ren ... Reno bangunnnnnn! Ayo bangun!!!”
Seseorang membangunkan gue dari tidur dengan cara menarik hidung gue.
Mata gue terbuka, orang yang membangunkan gue ternyata Adelia.
Adelia dengan rambut bobcut yang hanya bisa dilihat ketika pelajaran Penjaskes.
Pemandangan yang jarang terlihat, karena di hari biasa dirinya mengenakan kerudung.
Pemandangan yang menyejukkan
“Aduh del, kenapa hidung gue di tarik-tarik.“ ucap gue sambil mengelus hidung gue.
“Lima menit lagi Penjaskes mulai. Cepetan ganti baju sana!”
Adelia langsung menyuruh gue ganti baju karena jam pertama adalah Penjaskes
Gue cek jam tangan yang gue kenakan.
Sialan, ternyata beneran lima menit lagi
“Wah telat, kenapa gak daritadi lo ngebangunin gue ?!” ucap gue sedikit panik
“Lo sih daritadi udah gue bangunin, tapi lo nya gak bangun-bangun ... Tidurnya sampai ngiler lagi”
Gue langsung memegang pipi gue setelah mendengar perkataan Adelia tersebut.
“Mau aja gue bohongin hahaha”
Gue di tipu.
Adelia tertawa dan langsung berlari ke gazebo yang berada di dekat koperasi sekolah.
Di tempat itu banyak siswi dari kelas gue yang duduk, sedangkan siswa laki-laki duduk di bangku panjang tepat di depan ruang guru.
Gue langsung beranjak kedalam kelas untuk mengganti pakaian olahraga.
Sesudah mengganti pakaian, gue bergegas ke lapangan dan rupanya gue terlambat.
Disitu sudah ada Pak Hartono dan para murid yang sudah berbaris rapi.
“Reno Saputra mana?” tanya Pak Hartono kepada murid yang berada di depannya.
“Itu pak, Si Arab” Ujar Aan dan siswa lain yang juga menunjuk ke arah gue yang sedang berlari menuju barisan mereka.
“Lari keliling lapangan” ucap Pak Hartono sambil menggerakan jari telunjuknya
“Jangan berhenti sebelum bapak suruh” tambahnya
Beliau mengatakan hal tersebut dengan wajah datar.
Gue lihat di barisan tersebut banyak yang menahan tawa. Sedangkan Adelia tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
Sial, gue di ketawain.
Ini pertama kalinya gue di hukum oleh Pak Hartono
Pak Hartono memanggil para tiga murid per satu giliran untuk melakukan passing bola volly
Passing dilakukan sendiri-sendiri.
Hingga tiba giliran gue dan dua orang lainnya.
Selama 1 menit melakukan passing, gue membuat dua kali keselahan akibat matahari yang terlalu menyilaukan.
Pak Hartono ini pelit ketika menilai muridnya.
Gue harap nilai gue bagus.
Sesudah melakukan pengambilan nilai tersebut, gue langsung beranjak ke dalam kelas untuk menganti pakaian olahraga yang sudah penuh dengan keringat.
Sedangkan siswa yang lain sedang bermain sedang sibuk bermain bola di lapangan.
Di dalam kelas hanya ada Adelia yang sedang mengubek-ubek tas miliknya.
Raut wajahnya menunjukkan bahwa dirinya sedang panik mencari sesuatu.
Gue berjalan ke tempat duduk gue yang berada di samping Adelia.
Ketika melihat gue, dia langsung memasukkan buku-buku miliknya ke dalam tas.
“Nyari apaan Del?” gue mencoba bertanya.
“Gk nyari apa-apa kok, yaudah gue mau ganti baju dulu. Dahhh.”
Adelia tersenyum dan langsung pergi membawa kantong plastik putih. Sudah pasti isinya seragam sekolah.
Aneh ...
Yasudahlah.
Net ... Net ... Net... Istirahat Pertama.
***
Menurut gue makanan yang paling enak di sekolah ini ya ini
Nasi Sop.
Rasanya tak ada duanya
“Eh Don, di kelas kita habis istirahat ini ada razia”
“Razia apa? Razia HP ya ?”
“Bukan, gue juga gak tahu razia apaan. Yang jelas Adelia kehilangan sesuatu, tadi Ibu BK masuk ke kelas.”
Sebuah percakapan dari dua orang siswa yang satu kelas dengan gue masuk ke telinga.
Kehilangan sesuatu ?
Apa ada hubungannya dengan kejadian mengubek-ubek tas tadi ?
Gue yang lagi makan Nasi Sop dikantin, setelah mendengar percakapan tersebut langsung cepat-cepat melahap Nasi Sop yang ada di depan gue.
Gue penasaran. Adelia kehilangan apa sih ?
Net ... Net ... Net... Istirahat Pertama Selesai.
Tanda istirahat telah berakhir itu bertepatan dengan selesainya gue makan.
“Makasih Bu” Ucap gue sambil membayar makanan yang gue makan.
“Sama-Sama”
Gue langsung pergi ke kelas.
Di depan kelas sudah ada Ibu Mawar berdiri.
“Reno Saputra, yang lain kemana?”
“Lagi di kantin Bu.” ucap gue menjawab pertanyaan itu.
“Yaudah, kamu duduk di tempat kamu sana.” perintah Ibu Mawar
Gue jawab perintah tersebut dengan anggukan dan langsung berjalan masuk kedalam kelas.
Di dalam kelas para murid sibuk sendiri, ada yang sedang melipat pakaian olahraga menggambar di buku, menggosip, tak ada yang tegang walaupun akan ada razia.
Mereka semua terlihat biasa saja.
Adelia juga terlihat biasa saja padahal dia kehilangan sesuatu.
“Del, lo kehilangan apa sih?”
“Hussss” Ujar Adelia menaruh jari telunjuknya di hidung.
Percakapan kami berakhir.
Tak lama sesudah percakapan tersebut datang lima siswa dari kelas ini.
Ibu Mawar masuk kedalam kelas dan menutup pintu kelas.
Beliau langsung duduk di kursi guru.
Bertepatan dengan itu Adelia maju kedepan dan duduk di kursi kosong, tepat di samping Ibu Mawar.
“Sudah lengkap kan ?” tanya Ibu Mawar.
“Sudah Bu” jawab kami para murid.
Mendengar jawaban kami, Ibu Mawar membuka buku Absen.
“Aan Sunarwan dan Andi Supriadi, bawa tas kamu kesini.”
Sebelum Aan dan Andi meninggalkan meja guru, kantong celana dan baju mereka diperiksa Ibu Mawar.
Setelah memeriksa orangnya Ibu Mawar langsung memeriksa isi tasnya
Adelia juga ikut mengeledah tas itu.
Satu persatu siswa diperiksa hingga akhirnya tiba giliran gue.
Siswa terakhir yang berada di dalam Absen.
Tak ada perasaan tegang sedikitpun.
Gue sangat tenang.
“Ini kantong celanamu ini isinya apa?” tanya Ibu Mawar.
Gue keluarkan benda yang berada di kantong.
“Ini Bu”Ucap gue membentangkan Sapu Tangan yang tadinya berada di kantong celana.
Adelia sedang memeriksa isi tas gue
Kejadian tak terduga terjadi.
Wajah Adelia yang normalnya putih tiba-tiba saja memerah, mukanya terlihat mau menangis ketika membuka kantong kecil tas gue yang berada di bagian bawah.
“Kenapa Del?” tanya gue yang mulai gugup.
Pertanyaan gue tersebut tidak di jawab.
Adelia berbisik ke Ibu Mawar.
Ibu Mawar terlihat kaget.
“Kamu ikut Ibu ke ruang BK” ucap Ibu Mawar setelah mendengar bisikan Adelia.
Gue benar-benar kaget mendengar ucapan tersebut.
Murid-murid yang ada di kelas ini mulai berbisik-bisik setelah mendengar percakapan itu.
Gue salah apa?
“Bu Mawar saya salah apa?”
“Adelia lo kehilangan apa sih?”
Pertanyaan itu gue tanyakan kepada Ibu Mawar dan Adelia, akan tetapi gue tidak mendapatkan jawaban.
Sesampainya di ruang BK.
Gue, Adelia dan Ibu Mawar langsung duduk di sofa yang tersedia.
Wajah Adelia terlihat mau menangis.
Keringat mulai membanjiri tubuh gue
“Reno Saputra, benarkan ?” ucap Ibu Mawar sambil membuka tas gue.
“Iya bu” Ucap gue
Sesaat setelah duduk Ibu Mawar langsung mengeluarkan sebuah benda dari tas gue.
“Aduhh Renoo, Ibu benar-benar enggak menyangka loh, kamu berani mencuri benda ini dari teman kamu sendiri.” Ibu Mawar berkata sambil memperlihatkan gulungan kain kecil berwarna cream.
Yang setelah beliau lebarkan kain itu di atas meja, ternyata kain kecil itu Celana dalam.
Wow
Celana dalam Adelia
Tunggu sebentar ...
Tunggu ...
GUE BUKAN MALING CELANA DALAM !!!
Chapter 1.5 - Kembali ke masa sekolah 2
“Kenapa Ren?’ Adelia memiringkan kepalanya menengok ke arah gue yang berada di samping kiri.
“Tumben lo ngerjain PR di sekolahan”
“Oh ini? ujar Adelia menunjuk buku yang ada di depannya “Gue lupa gara-gara nemenin sepupu gue beli tas kemaren”
“Bukannya masih bisa pas malam di kerjain?”
“Ya bisa sih, tapi gue udah cape hehehe” ujar Adelia tertawa kecil.
“Lagian gue kemaren selesai mengerjakan tugas bahasa inggris, langsung ngerjain PR ini.” tambah Adelia
“Wih rajin hahaha”
“Yang rajin kan elo. Belum setengah tujuh sudah ada di kelas, selalu peringkat satu;selain itu gak pernah ngerjain PR di sekolahan.”
Wow, sebuah pujian buat gue di pagi hari ini.
Apakah hari ini akan menjadi hari yang baik buat gue ?
Apakah Ini hari keberuntungan gue ?
Semoga saja
“Lah bukannya lo juga sama? belum setengah tujuh udah datang ke sekolahan.” tanya gue.
Gue menanyakan itu karena Adelia ini sering datang setelah gue menaruh tas di atas kursi
“Ya tetap aja masih cepetan lo datangnya.” katanya sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah gue.
“Yah, tapi kan lo juga murid—”
“Stop...” Ujar Adelia memotong kalimat gue.
Dia mengatakan itu sambil mengarahkan kelima jarinya yang terbuka lebar ke arah gue.
Lalu dia melanjutkan perkataanya.
“ ...Udah ah Ren daritadi lo ngajakin gue ngobrol terus, ntar gak kelar-kelar ini tugas. Sekarang lo diem aja ya, murid teladan dilarang mengganggu hahaha.”
“Yaudah, gue mau keluar. Hati hati ada penunggu di belakang” kata gue sedikit tertawa.
“Bagus deh kalau lo keluar. ada lo disini gue jadi gak konsen.Gak usah nakutin gue ya Ren, gue gak percaya yang begituan. bwee ” ledek Adelia.
“Terserah lo aja del, gue cuman ngasih tau.” kata gue yang sudah berdiri dari kursi.
Gue berkata seperti itu karena gue pernah melihat benda putih menembus dinding ke warung yang berada di samping kelas delapan ini.
Adelia Putri
Dia adalah ketua kelas
Badannya tinggi, lebih tinggi dari gue.
Kulitnya sangat putih berbeda dengan gue yang kuning langsat cenderung ke coklat karena terlalu banyak bermain di luar rumah ketika SD dulu..
Dia adalah gadis yang cantik dengan rambut bobcut.
Selain itu dirinya juga ramah, gampang bergaul dengan semua orang, suka bercanda, supel, taat aturan, terkenal diantara para guru,membuat banyak lelaki jatuh cinta berlebihan. Termasuk sebagian besar kakak-kakak kelas. Bahkan kakak-kakak kelas dari sekolah lain yang berada di sekitar sekolah ini. Dirinya juga pintar, walaupun masih berada di bawah peringkat gue.
Salah satu alasan gue berteman dengan Adelia karena dia satu-satunya orang yang memanggil gue dengan nama, bukan dengan sebutan ‘Arab’ di sekolah ini.
Walaupun gue memiliki wajah khas orang arab dengan hidung mancung, alis yang lebat, serta bola mata tajam yang hitam; tetap saja gue tidak menyukai panggilan itu.
Gue dan Adelia berada di kelas yang berbeda ketika kelas 7 dan baru di kelas 8 semester awal gue berteman dengannya karena tempat duduk gue dengan dia bersebelahan.
Seandainya dia memanggil gue ‘Arab’ seperti yang lain lakukan, mungkin gue gak mau berteman dengan dia.
Sesudah percakapan kami berakhir, Adelia melanjutkan PR yang belum tuntas dia kerjakan.
Sedangkan gue langsung berjalan menuju bangku panjang yang berada di depan kelas.
Bangku itu menyatu dengan bagian dinding kelas, bagian atasnya dipasangi keramik putih.
Dingin
Gue bersandar pada tiang penyangga yang juga menyatu dengan bangku yang gue duduki saat ini.
Bangku ini bisa duduki oleh enam siswa akan tetapi empat dari enam kapasitasnya sudah gue gunakan sendiri saat ini
Terlihat serakah memang.
Gue rasa gak apa-apa lah, lagipula sekarang ini masih pagi.
Tanpa gue sadari, gue tertidur karena cuaca dingin pagi ini.
..........
.........
........
.......
......
.....
....
...
..
.
“Oi Reno ... Ren ... Reno bangunnnnnn! Ayo bangun!!!”
Seseorang membangunkan gue dari tidur dengan cara menarik hidung gue.
Mata gue terbuka, orang yang membangunkan gue ternyata Adelia.
Adelia dengan rambut bobcut yang hanya bisa dilihat ketika pelajaran Penjaskes.
Pemandangan yang jarang terlihat, karena di hari biasa dirinya mengenakan kerudung.
Pemandangan yang menyejukkan
“Aduh del, kenapa hidung gue di tarik-tarik.“ ucap gue sambil mengelus hidung gue.
“Lima menit lagi Penjaskes mulai. Cepetan ganti baju sana!”
Adelia langsung menyuruh gue ganti baju karena jam pertama adalah Penjaskes
Gue cek jam tangan yang gue kenakan.
Sialan, ternyata beneran lima menit lagi
“Wah telat, kenapa gak daritadi lo ngebangunin gue ?!” ucap gue sedikit panik
“Lo sih daritadi udah gue bangunin, tapi lo nya gak bangun-bangun ... Tidurnya sampai ngiler lagi”
Gue langsung memegang pipi gue setelah mendengar perkataan Adelia tersebut.
“Mau aja gue bohongin hahaha”
Gue di tipu.
Adelia tertawa dan langsung berlari ke gazebo yang berada di dekat koperasi sekolah.
Di tempat itu banyak siswi dari kelas gue yang duduk, sedangkan siswa laki-laki duduk di bangku panjang tepat di depan ruang guru.
Gue langsung beranjak kedalam kelas untuk mengganti pakaian olahraga.
Sesudah mengganti pakaian, gue bergegas ke lapangan dan rupanya gue terlambat.
Disitu sudah ada Pak Hartono dan para murid yang sudah berbaris rapi.
“Reno Saputra mana?” tanya Pak Hartono kepada murid yang berada di depannya.
“Itu pak, Si Arab” Ujar Aan dan siswa lain yang juga menunjuk ke arah gue yang sedang berlari menuju barisan mereka.
“Lari keliling lapangan” ucap Pak Hartono sambil menggerakan jari telunjuknya
“Jangan berhenti sebelum bapak suruh” tambahnya
Beliau mengatakan hal tersebut dengan wajah datar.
Gue lihat di barisan tersebut banyak yang menahan tawa. Sedangkan Adelia tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
Sial, gue di ketawain.
Ini pertama kalinya gue di hukum oleh Pak Hartono
Pak Hartono memanggil para tiga murid per satu giliran untuk melakukan passing bola volly
Passing dilakukan sendiri-sendiri.
Hingga tiba giliran gue dan dua orang lainnya.
Selama 1 menit melakukan passing, gue membuat dua kali keselahan akibat matahari yang terlalu menyilaukan.
Pak Hartono ini pelit ketika menilai muridnya.
Gue harap nilai gue bagus.
Sesudah melakukan pengambilan nilai tersebut, gue langsung beranjak ke dalam kelas untuk menganti pakaian olahraga yang sudah penuh dengan keringat.
Sedangkan siswa yang lain sedang bermain sedang sibuk bermain bola di lapangan.
Di dalam kelas hanya ada Adelia yang sedang mengubek-ubek tas miliknya.
Raut wajahnya menunjukkan bahwa dirinya sedang panik mencari sesuatu.
Gue berjalan ke tempat duduk gue yang berada di samping Adelia.
Ketika melihat gue, dia langsung memasukkan buku-buku miliknya ke dalam tas.
“Nyari apaan Del?” gue mencoba bertanya.
“Gk nyari apa-apa kok, yaudah gue mau ganti baju dulu. Dahhh.”
Adelia tersenyum dan langsung pergi membawa kantong plastik putih. Sudah pasti isinya seragam sekolah.
Aneh ...
Yasudahlah.
Net ... Net ... Net... Istirahat Pertama.
***
Menurut gue makanan yang paling enak di sekolah ini ya ini
Nasi Sop.
Rasanya tak ada duanya
“Eh Don, di kelas kita habis istirahat ini ada razia”
“Razia apa? Razia HP ya ?”
“Bukan, gue juga gak tahu razia apaan. Yang jelas Adelia kehilangan sesuatu, tadi Ibu BK masuk ke kelas.”
Sebuah percakapan dari dua orang siswa yang satu kelas dengan gue masuk ke telinga.
Kehilangan sesuatu ?
Apa ada hubungannya dengan kejadian mengubek-ubek tas tadi ?
Gue yang lagi makan Nasi Sop dikantin, setelah mendengar percakapan tersebut langsung cepat-cepat melahap Nasi Sop yang ada di depan gue.
Gue penasaran. Adelia kehilangan apa sih ?
Net ... Net ... Net... Istirahat Pertama Selesai.
Tanda istirahat telah berakhir itu bertepatan dengan selesainya gue makan.
“Makasih Bu” Ucap gue sambil membayar makanan yang gue makan.
“Sama-Sama”
Gue langsung pergi ke kelas.
Di depan kelas sudah ada Ibu Mawar berdiri.
“Reno Saputra, yang lain kemana?”
“Lagi di kantin Bu.” ucap gue menjawab pertanyaan itu.
“Yaudah, kamu duduk di tempat kamu sana.” perintah Ibu Mawar
Gue jawab perintah tersebut dengan anggukan dan langsung berjalan masuk kedalam kelas.
Di dalam kelas para murid sibuk sendiri, ada yang sedang melipat pakaian olahraga menggambar di buku, menggosip, tak ada yang tegang walaupun akan ada razia.
Mereka semua terlihat biasa saja.
Adelia juga terlihat biasa saja padahal dia kehilangan sesuatu.
“Del, lo kehilangan apa sih?”
“Hussss” Ujar Adelia menaruh jari telunjuknya di hidung.
Percakapan kami berakhir.
Tak lama sesudah percakapan tersebut datang lima siswa dari kelas ini.
Ibu Mawar masuk kedalam kelas dan menutup pintu kelas.
Beliau langsung duduk di kursi guru.
Bertepatan dengan itu Adelia maju kedepan dan duduk di kursi kosong, tepat di samping Ibu Mawar.
“Sudah lengkap kan ?” tanya Ibu Mawar.
“Sudah Bu” jawab kami para murid.
Mendengar jawaban kami, Ibu Mawar membuka buku Absen.
“Aan Sunarwan dan Andi Supriadi, bawa tas kamu kesini.”
Sebelum Aan dan Andi meninggalkan meja guru, kantong celana dan baju mereka diperiksa Ibu Mawar.
Setelah memeriksa orangnya Ibu Mawar langsung memeriksa isi tasnya
Adelia juga ikut mengeledah tas itu.
Satu persatu siswa diperiksa hingga akhirnya tiba giliran gue.
Siswa terakhir yang berada di dalam Absen.
Tak ada perasaan tegang sedikitpun.
Gue sangat tenang.
“Ini kantong celanamu ini isinya apa?” tanya Ibu Mawar.
Gue keluarkan benda yang berada di kantong.
“Ini Bu”Ucap gue membentangkan Sapu Tangan yang tadinya berada di kantong celana.
Adelia sedang memeriksa isi tas gue
Kejadian tak terduga terjadi.
Wajah Adelia yang normalnya putih tiba-tiba saja memerah, mukanya terlihat mau menangis ketika membuka kantong kecil tas gue yang berada di bagian bawah.
“Kenapa Del?” tanya gue yang mulai gugup.
Pertanyaan gue tersebut tidak di jawab.
Adelia berbisik ke Ibu Mawar.
Ibu Mawar terlihat kaget.
“Kamu ikut Ibu ke ruang BK” ucap Ibu Mawar setelah mendengar bisikan Adelia.
Gue benar-benar kaget mendengar ucapan tersebut.
Murid-murid yang ada di kelas ini mulai berbisik-bisik setelah mendengar percakapan itu.
Gue salah apa?
“Bu Mawar saya salah apa?”
“Adelia lo kehilangan apa sih?”
Pertanyaan itu gue tanyakan kepada Ibu Mawar dan Adelia, akan tetapi gue tidak mendapatkan jawaban.
Sesampainya di ruang BK.
Gue, Adelia dan Ibu Mawar langsung duduk di sofa yang tersedia.
Wajah Adelia terlihat mau menangis.
Keringat mulai membanjiri tubuh gue
“Reno Saputra, benarkan ?” ucap Ibu Mawar sambil membuka tas gue.
“Iya bu” Ucap gue
Sesaat setelah duduk Ibu Mawar langsung mengeluarkan sebuah benda dari tas gue.
“Aduhh Renoo, Ibu benar-benar enggak menyangka loh, kamu berani mencuri benda ini dari teman kamu sendiri.” Ibu Mawar berkata sambil memperlihatkan gulungan kain kecil berwarna cream.
Yang setelah beliau lebarkan kain itu di atas meja, ternyata kain kecil itu Celana dalam.
Wow
Celana dalam Adelia
Tunggu sebentar ...
Tunggu ...
GUE BUKAN MALING CELANA DALAM !!!
Chapter 1.5 - Kembali ke masa sekolah 2
Diubah oleh .gatack. 21-08-2016 12:57
0
Kutip
Balas