Kaskus

Story

spv7hqfjAvatar border
TS
spv7hqfj
SAYUR ASEM RASA GULALI
Ini adalah Sequel cerita 'Aku dan Gadis Lugu'.
Saya mencoba untuk merubah gaya bahasa dan sudut pandang penulisan agar lebih enak dibaca dan lebih mudah dipahami. Mohon maaf karena cerita sebelumnya sangatlah KENTANGuntuk anda semua. Sedikit demi sedikit akan saya jelaskan di cerita ini.


biasakan Baca dulu baru komentar ya emoticon-Big Grin

Selamat menikmati.

Spoiler for INDEX:
Diubah oleh spv7hqfj 11-08-2016 10:36
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
tien212700Avatar border
tien212700 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
11.8K
69
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
spv7hqfjAvatar border
TS
spv7hqfj
#35
Eps 3 - Kupu-kupu
Backsound yang disarankan : SUMMER FACE – Na...Na....Naa


Bernyanyilah wahai kawanku, Nyanyikanlah lagu kami dengan sepenuh hatimu......

Pukul 20.30 WIB
Tobi menghentikan motor tuanya tepat di samping Pos Satpam penjaga perumahan Sutera Jelita yang masih termasuk dalam kawasan Alam Sutera. “Ada keperluan apa Mas?” tanya seorang satpam dengan wajah garang. Sebenarnya, Tobi sudah bosan ditanya seperti itu setiap kali akan lewat. Sudah sering kali ia lewat sini, tetapi selalu saja tepat waktu dengan Shift Satpam yang otaknya sudah hampir kadaluarsa alias pikun. Setiap kali lewat, selalu saja Satpam tersebut tidak mengenali Vespa tua yang selalu ia kendarai. Panggil saja Satpam tersebut dengan sebutan, Mawar.

Tobi membuka helmnya lalu tersenyum pahit, merogoh saku celananya berusaha untuk mengambil selembar uang bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II yang sebelumnya sudah ia persiapkan. “gak usah pura-pura pikun Pak. Nih buat ngopi..”

“Ahh mas ternyata Tobi, kirain siapa. Monggo mas silahkan masuk. Jangan malem-malem ya pulangnya?” Senyum paling manis.

The Power Of Sepuluh ribu rupiah. Betapa dahsyatnya hingga bisa membuat orang yang lupa ingatan permanent menjadi sembuh total. Sembuh total untuk sementara waktu, besoknya kambuh lagi.

Kini Vespa-nya melaju pelan, berusaha meminimalisir suara desahan knalpot motor tua miliknya agar tidak terlalu menggangu penghuni perumahan yang lain. Dan sampailah ia di tujuan, di depan sebuah rumah mewah yang sedikit mirip dengan tempat tinggalnya dulu. “Sampai juga.” Batinnya. Tobi sampai dirumah milik mbak Rani, tempat tinggal Tika juga. “Beruntung banget ya mbak Rani, punya suami orang terlanjur kaya, ckckck.”


Tak lama setelah Tobi menekan bel, terbukalah pintu rumah.
“Eh kamu Tob, nyari siapa?” Farhan, seorang laki-laki dewasa berusia sekitaran 30 tahun muncul menyapa Tobi. Dia adalah suami mbak Rani. Seorang pria mapan yang pekerjaannya hanya telfon kesana kemari tetapi berpenghasilan Wah! Seorang konsultan teknik, berwajah tampan.

“Eh mas Farhan, saya nyari mbak Rani mas. Mau ngajak jalan. Mbak Rani-nya ada?” Pertanyaan Tobi membuat Farhan menaikan ujung bibirnya mirip Tukul Arwana.

Tobi duduk disebuah ruang tamu. Sebelah kakinya ditekuk keatas, duduk ala Warteg. Dagu kepalanya bertumpu pada lutut. Matanya menatap bungkusan berisi martabak telor yang tadi sempat ia beli dijalan. “kok jadi laper ya.”

“maaf ya mas lama nunggu.” Seorang wanita syannntik muncul dari ruang tengah, menyapa Tobi yang sedari tadi duduk sendiri. Balutan hijab di kepalanya, dress panjang ala Laudya Cintya Bella dan dompet tebal panjang yang mirip punya si artis cetar membahana Syahrini, menjadikan Tika semakin terlihat syannntik (cantik).

“gak kok dek, baru aja.” Sekali lagi, untuk kesekian kalinya Tobi dibuat terpana.

-SAYUR ASEM RASA GULALI-

Backsound yang disarankan : The Changcuters – Awas Angkot.

Tobi dan Tika menunggangi Vespa berdua, bersama-sama menembus ramainya sabtu malam Tangerang Selatan.

“Elissa di Tangerang mas? Sejak kapan?” Tika sedikit mengeraskan suaranya agar tidak kalah keras dengan raungan knalpot kendaraan lain yang melintas.
“Udah dari kemarin Dek. Kemarin dia nyuruh kita mampir kerumah barunya. Masih daerah Tangerang juga kok.” Teriak Tobi sambil sedikit menoleh kebelakang.
“ohhhh yaudah kita kesana.”
“Gak ah besok aja Dek, malem ini mas mau ngajak kamu ke suatu tempat.”
“kemana mas?”
“Ada deh, rahasia.”
“ahhhh mas, paling juga nanti ujung-ujungnya ke Angkringan nasi kucing lagi kayak kemarin.”
“hehehhe tau aja.”

Blassss!!! Secepat kilat melaju dengan kecepatan maksimal melewati batas kecepatan yang diperbolehkan.




Kecepatan maksimal, 40 km/jam. emoticon-Big Grin


Vespa-nya berhenti disebuah tempat Angkringan Nasi kucing, tepat di depan Batalyon Infantri Rajawali yang masih masuk daerah Tangerang Selatan. Sudah jadi kebiasaan Tobi, setiap malam ia selalu ke tempat tersebut. Mengisi perutnya yang lapar, sekaligus bisa sedikit mengobati rindunya pada kota para pelajar, Jogjakarta. Tobi bersyukur, ia tidak begitu kesulitan mencari angkringan di daerah tempatnya tinggal.

Suara notifikasi Hp milik Tobi berbunyi, ia terlihat mengusap layar Hp-nya. Berusaha membuka sebuah aplikasi chatting berwarna hijau.

“Siapa mas?” tanya Tika penasaran.
“mbak Rani dek.”

Mbak Rani : Tobiiiiiiii.... kebiasaan ya kalo bawa martabak pasti ilang sepotong.

Tobi hanya membaca chat tersebut. Tawanya mengembang setelah mengetahui respon balasan dari mbak Rani.
“kenapa mas?” Tika kembali penasaran, tidak hanya saat ini saja. Setiap saat bersama Tobi, setiap kali Hp milik Tobi berbunyi, ia selalu bertanya ‘siapa mas?’.

Tobi dibuat bingung, entah penasaran atau curiga yang dirasakan oleh Tika. Mungkin takut jika ia selingkuh dengan perempuan, mungkin takut jika ia selingkuh dengan laki-laki, atau mungkiin juga takut jika ia selingkuh dengan perempuan yang tenyata adalah laki-laki.

“mbak Rani dek, ngomel lagi.”
“Hmm dasar, pasti gara-gara Martabaknya kamu ambil sepotong lagi ya? Kebiasaan ih!” Tika menggerutu kesal. Tidak hanya sekali, setiap kali Tobi membawa jajanan atau makanan ringan entah itu martabak telor, martabak manis, gorengan, kue cubit, kue pancong, nasi kucing, dan lain sebagainya pasti ada saja yang di cemil oleh Tobi. Pikirnya,” Ah pake duit sendiri kok belinya.”

“waaaa ini, kemana aja Dab (mas)? Malam minggu pasti sama Tika, si Ujang kemana?” sapa ramah pemilik Angkringan, biasa dipanggil Mas Joko. Mas joko ini orang Klaten,dia juga pemilik Angkringan yang setiap malam selalu dikunjungi Tobi, entah itu dengan Ujang, Tika dan kadang juga sendiri.

Tangan kanan Tobi mengambil sebungkus nasi kucing, matanya melihati satu persatu lauk yang tertata rapi di gerobak. Ia mengambil satu tusuk telur puyuh lalu memakannya sebutir. “Si Ujang lagi mangkal di bawah jembatan Telkom mas.”

“Mas, biasa ya, es teh manis sama....” belum selesai Tobi berbicara, perkataannya sudah dipotong oleh Mas Joko. “ Teh anget tawar kan? Buat dek Tika tercinta hahaiiii.”

“ihh Mas Joko apaan sih.” Cibir Tika. Ia ikut mengambil sebungkus nasi kucing dan satu tempe goreng. Duduk dekat Tobi di samping Angkirngan. Beralaskan tikar lebar yang sebelumnya sudah lebih dulu terisi oleh orang lain di kiri dan kanan mereka.

“Eling..Eling.. Kowe mbiyen dodol sego kucing. Bareng saiki dadi wong gedhe, kowe koyo kere munggah bale.”

Sebuah lagu Didi kempot terdengar dari speaker kecil milik Mas Joko sukses membuat Tobi bergumam menyanyikan lagu tersebut. Tika terkekeh melihat kelakuan Tobi. “Apaan sih mas? Adek gak seperti itu kok.”

“Hihi mas bukan nyanyi buat kamu kok Dek. Ini buat mas Joko, siapa tau aja nanti dia jadi penyanyi terus malah lupa sama kita berdua. Kalo Mas Joko jadi penyanyi, nanti kita makan nasi kucing dimana?”

“ahahha, dengan suara pas-pasan apalagi tampang yang bisa dibilang menengah kebawah adek pesimis deh mas.”

Mas Joko yang mendengar memandang sengit kearah mereka berdua.”Hmmmm....ehhmmm.” Tika dan Tobi pun tertawa.


-SAYUR ASEM RASA GULALI-

Backsound yang disarankan : Titiek Puspa – Kupu kupu malam

Syahrini!

Anang!

Raul Lemos!

Andika Kangen Band!

Kupu-kupu malam!

Beragam alasan dikemukakan para wanita malam yang tejerumus di ‘bisnis perempuan’. Mulai dari alasan klasik karena desakan ekonomi, dijebak, sakit hati, coba-coba, sampai keranjingan untuk mencari kepuasan. Entah apa yang dipikirkan mereka. Apakah tidak ada pemikiran tentang masa depan?

Pukul 01.30 dini hari.
Tobi sedang duduk di depan Ruko tempat Ujang tinggal. Tampak ramai mobil mewah terparkir disekitarnya. Juga beberapa wanita malam berpakaian mini berjalan terbata-bata seperti orang mabuk. Pemandangan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari Ujang karena di kiri, kanan dan depan Ruko-nya menjadi tempat Karaoke dan Spa. Dan pemandangan inilah yang membuat Ujang betah berlama-lama nongkrong di depan Ruko sekedar untuk bermain gitar.

“ahhh mau jadi apa tuh cewek ya?” Ujang menenggak seteguk minuman ber-merk ‘Palu’ yang tertuang di gelas plastik kecil sampai habis lalu meletakkan kembali gelas tersebut. Tangannya melempar Sukro ke atas lalu menangkapnya dengan mulut yang menganga lebar, SUPER! Matanya tak lepas dari para wanita yang terlihat sedang ngobrol dengan suara keras dan tak jarang mengeluarkan kata-kata kasar.

“jadi Ustadzah mungkin. Kelakuan mereka nanti jadi semakin parah, lalu dapet hidayah dan taraaaaaaaa.. tobat dan jadi Ustadzah.” Tobi menuang sedikit kedalam gelas lalu menaruhnya di depan Ujang.

“ahhh curang, barusan gue kok sekarang gue lagi?”
“ishhh apaan gue udah kok barusan. Sekarang lu Jang gak usah protes.”

Dengan terpaksa Ujang meminum lagi. Matanya sudah mulai memerah, kepalanya terasa berdenyut nikmat, pandangannya sedikit kabur, kunang-kunang. Hidung berdarah, bibir pecah-pecah, susah buang air besar. Tobi terkekeh melihat ekspresi Ujang yang sudah mulai terlihat teler.

Satu jam berlalu sejak gelas pertama terisi. Sudah setengah botol mereka habiskan hanya berdua. Otak mereka sudah mulai kacau. Mobil-mobil yang tadi terlihat banyak terparkir sudah tidak ada lagi, hanya ada satu atau dua. Suasana dini hari sudah mulai sepi, maklum saja waktu sudah hampir memasuki Subuh.

“Bang, lagi ngapain?”

Seorang wanita tiba-tiba menyapa, membuat Tobi dan Ujang kaget sekaget-kagetnya. Tobi dan Ujang diam menatap wanita yang sekarang sedang berdiri dihadapan mereka berdua. Senyum tipis terbentuk di bibirnya. Matanya sayu menatap Tobi dan Ujang.

Ujang berpindah tempat, mendekatkan mulutnya ke telinga Tobi.
“Bro? Kita gak lagi berhalusinasi kan?” bisik Ujang.
“kayaknya halusinasi deh bro.” Pandangan mata Tobi belum mau lepas dari wanita tersebut.
“hantu bukan ya bro? Gue kok jadi merinding gini ya?” bisik Ujang lagi.

“ihh apaan sih, gue orang bukan hantu.” Wanita tersebut berkata dengan ekspresi sebal.

“ahhh sorry sorry..maap. bercanda hehe.” Jawab Tobi.

Ujang tak mau kalah. “iya bercanda, maap ya? Ini kita lagi menghangatkan diri. Mau?” tawar Ujang.

Wanita tersebut duduk disamping Tobi. Seperti malu-malu mau memandang ke arah botol minuman yang masih terisi setengah.”eh iya sorry, kenalin gue Winda.” Tangannya terlujur kearah Tobi mengajak berkenalan.

“gue Tobi.” Tobi membalas uluran tangan Winda dengan mata sedikit terpejam karena menahan rasa pusing di kepala akibat dari minuman botol.

“Gue Ujang. Masih saudara sama Ariel Peterpan, tapi semenjak Andika kangen Band potong rambut, gue dikira saudara Andika. Jadi terserah lu mau anggap gue saudaranya siapa, yang penting lu panggil gue..Sayang” Ujang tak mau kalah. Membuat wanita tersebut tertawa keras.

"Gak jelas.” Cibir Tobi dalam hati.

-BERSAMBUNG-
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.