Kaskus

News

plonardAvatar border
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
plonardAvatar border
TS
plonard
#241
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed



Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
(Halaman 7)

Musaylimah berhasil kembali ke tengah-tengah penjaganya. Tetapi proses ini memberikan pengaruh psikologis yang berbeda kepada kedua pasukan: satu pasukan kehilangan semangat, sedangkan pasukan lainnya mendapat tambahan semangat. Kaburnya ‘nabi’ dan panglima mereka dari Khalid adalah suatu pemandangan memalukan di mata para murtad, dan Pasukan Muslim pun gembira. Untuk memanfaatkan keunggulan dalam hal psikologi ini, Khalid memerintahkan serangan yang baru.

Dengan teriakan Allahu Akbar, Pasukan Muslim kembali maju menyerang. Mereka bertarung dengan semangat dan tenaga yang baru. Pada akhirnya, tanda-tanda kemenangan mulai terlihat. Pasukan murtad mulai terdorong ke belakang. Kemunduran mereka semakin cepat. Semangat Pasukan Muslim meningkat dan menggandakan upaya mereka. Kemudian, barisan kafir mulai terpecah-pecah.

Musaylimah tidak bisa melakukan apa-apa. Komandan utamanya yaitu Rajjal, tewas. Komandan sayap kanannya, yaitu Muhakim, beraksi untuk menyelamatkan pasukan murtadnya. “Bani Hanifah!” teriaknya. “Ke kebun! Ke kebun! Masuklah ke kebun dan aku akan melindungi kalian dari belakang!”

Namun terpecahnya barisan pasukan murtad tidak bisa diatasi lagi. Sebagian besar pasukan melarikan diri, menyebar ke berbagai arah. Hanya sekitar seperempat dari pasukan Musaylimah yang tersisa dan mereka mundur untuk bertahan di dalam kebun berbenteng selagi Muhakim melindungi bagian belakang mereka bersama sebagian kecil pasukannya. Pasukan kecil ini dengan segera dibinasakan oleh Pasukan Muslim dan Muhakim tewas akibat anak panah dari anak Khalifah, Abdurrahman.

Pasukan Muslim sekarang mengejar pasukan murtad dengan menyeberangi dataran Aqraba`, membunuh mereka yang tertinggal. Dengan cepat, mereka tiba di luar kebun berbenteng, tempat sekitar 7.000 murtad bertahan. Musaylimah bersama mereka. Pasukan kafir ini menutup gerbang dan dengan benteng yang tinggi, mereka merasa aman. Namun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi!

Sebagian besar Pasukan Muslim berkumpul di dekat Kebun Kematian. Saat itu adalah siang hari mendekati petang dan Pasukan Muslim gelisah, ingin segera masuk ke dalam kebun dan menyelesaikan tugas mereka sebelum malam tiba. Tetapi tidak ada jalan masuk. Dinding kebun ini terlalu kuat dan gerbang dikunci dari dalam. Mereka tidak menyiapkan peralatan pengepungan dan mereka tidak punya waktu untuk mengepung.

Ketika Khalid mencari ide, seorang prajurit tua bernama Bara`a bin Malik, yang berdiri di bagian pasukan yang tepat menghadap ke gerbang, berkata kepada rekan-rekannya, “Lemparkan aku melewati dinding itu sampai masuk ke dalam kebun.”[1] Rekan-rekannya menolak; Bara`a adalah salah seorang sahabat nabi yang terkemuka dan dihormati dan mereka merasa segan untuk melakukan suatu hal yang bisa saja menyebabkan kematiannya. Tetapi Bara’a bersikeras dan memaksa. Akhirnya, rekan-rekannya setuju dan mengangkatnya dengan bahu-bahu mereka di dekat dinding. Ia berhasil memegang pinggiran dinding, lalu naik dan melompat ke dalam kebun. Dalam satu menit atau lebih, ia sudah membunuh dua atau tiga prajurit kafir yang berdiri di antaranya dan gerbang. Sebelum prajurit musuh lainnya menghalangi, dia sudah berhasil melonggarkan kunci gerbang. Gerbang pun terbuka dan Pasukan Muslim masuk bagaikan air bah yang memecah dinding bendungan sambil meneriakkan seruan perang. Bagian terakhir dan paling brutal dari Pertempuran Yamamah pun dimulai.

Pada awalnya, pasukan kafir mampu menahan majunya Pasukan Muslim yang tertahan dengan sempitnya gerbang dan kurangnya ruangan untuk menggerakkan tangan. Tetapi, sedikit demi sedikit, Pasukan Muslim membuka jalan di tengah badan pasukan murtad yang mulai jatuh, tewas bertumpuk akibat serbuan penyerang. Pasukan murtad mulai terdorong ke belakang dan Pasukan Muslim mulai membanjiri kebun.

Pertempuran semakin brutal. Karena tidak ada ruangan yang cukup untuk manuver, kedua belah pihak bertarung mati-matian dengan siapa saja musuh di depan mereka. Sedikit demi sedikit, barisan pasukan murtad menipis. Namun Musaylimah terus bertempur: ia tidak memiliki keinginan untuk menyerah. Ketika baris depan pasukannya sudah semakin dekat dengan lokasi dirinya, Musaylimah menghunuskan pedangnya dan terjun langsung ke dalam pertarungan, memberikan kejutan kepada Pasukan Muslim dengan kekuatan dan ketangkasannya. Si jenderal yang cerdik ini ternyata juga seorang prajurit pemberani dan terampil. Mulutnya mulai berbusa-busa, situasi yang gawat itu mengubahnya dari seorang nabi palsu berwajah buruk menjadi seorang setan yang nampak perkasa.

Fase terakhir pertempuran sekarang memasuki puncaknya. Pasukan Muslim menekan pasukan murtad di setiap titik dan hanya usaha keras Musaylimah yang mencegah jatuhnya mereka secara menyeluruh. Pasukan Muslim memotong, menyayat, dan menusuk dalam amukan pertempuran. Tubuh-tubuh yang tercabik-cabik dan terpotong-potong bergelimpangan di tanah. Mereka yang jatuh sebelum mati mengalami kematian yang menyakitkan karena terinjak-injak. Pemandangan nampak sangat mengerikan dan debu beterbangan di atas tanah yang mulai menjadi lumpur merah.

Catatan Kaki Halaman 7
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 514.


____________________________________________________________________________
(Halaman 8)

Banyak prajurit murtad mendekati Musaylimah. “Mana kemenangan yang engkau janjikan?” tanya mereka. “Bertempurlah, wahai Bani Hanifah!” menjadi jawabannya. “Bertempurlah sampai akhir!”[1]

Musaylimah paham bahwa ia tidak akan mendapat ampunan oleh Khalid, ia paham bahwa ia akan binasa, dan dengan segala akal licik yang tersisa, ia memutuskan untuk membawa sukunya mati bersamanya. Darah dari sejumlah prajurit Muslim menetes dari pedangnya. Fanatisme pendukungnya tidak mengendur, mereka bertarung di sekitarnya. Lalu ia masuk dalam jalur pandangan Si Barbar. Si Barbar adalah salah satu kriminal perang yang namanya diumumkan oleh nabi yang mulia di malam sebelum Penaklukkan Makkah. Karena khawatir dengan nyawanya, ia kabur dari Makkah dan pergi ke Tha’if dan tinggal bersama Suku Tsaqif selama beberapa waktu. Kemudian pada tahun 9 H, ketika Tsaqif menyerah kepada nabi, ia pun masuk Islam dan secara langsung menyatakan bay’at kepada nabi.

Nabi sudah bertahun-tahun tidak melihatnya dan ia tidak yakin bahwa dialah orangnya. “Apakah engkau Si Barbar?” tanya beliau.

“Benar, wahai Rasulullah!”

“Ceritakan bagaimana engkau membunuh Hamzah.”[2]

Si Barbar menceritakan keseluruhan ceritanya dari awal sampai akhir. Ketika bercerita, ia tidak menahan diri untuk mempertimbangkan sisi etis dari episode kehidupannya itu, bahwa ia telah membunuh salah seorang beriman yang paling mulia dan gagah perkasa. Ia menyampaikan kisahnya seperti halnya seorang veteran perang yang bangga menceritakan kehebatannya di masa dahulu. Dan membunuh seorang prajurit hebat sekelas Hamzah tidak diragukan lagi adalah sebuah prestasi militer. Si Barbar juga ahli dalam bercerita.

Namun tidak ada yang terkesan. Wajah nabi tampak tenggelam dalam kesedihan dan ia berkata, “Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi.”[3] Sesuatu di dalam hatinya memberi peringatan kepada Si Barbar bahwa jika ia tetap di Madinah, ingatannya akan Hamzah akan muncul kembali dan hal ini tidak sehat baginya. Si Barbar pun pergi dari Madinah saat itu juga.

Selama dua tahun, ia tinggal di sejumlah perkampungan di sekitar Tha’if, hidup dengan tidak terlalu menarik perhatian orang dan para musafir. Ia resah dengan hidupnya. Hidupnya penuh penyesalan. Lalu datanglah tren kemurtadan. Si Barbar tetap setia dengan agama barunya dan memilih untuk bertempur untuk Islam melawan kaum kafir. Dan sekarang, ia mengabdi sebagai prajurit di bawah panji Pedang Allah.

Si Barbar mengeratkan pegangannya pada lembing ketika ia melihat Musaylimah. Lembing ini telah mengirim begitu banyak orang pada kematian mereka. Sang Pendusta bertarung dengan gagah berani. Dalam menahan serangan Pasukan Muslim yang berusaha mendekari dirinya, ia bertarung di depan para penjaganya, dan sekarang, bertarung di antara mereka. Sekali-sekali, ia dilindungi oleh penjaganya, tetapi ia tidak pernah lepas dari mata si pembunuh hitam yang tidak berkedip. Si Barbar telah memilih korbannya. Kematiannya mungkin akan meringankan sakit mengganjal di hatinya.

Dari posisinya, agak sedikit jauh dari barisan depan Pasukan Muslim, Si Barbar bergerak maju dengan diam-diam untuk masuk ke dalam jangkauan lembingnya. Kerumunan prajurit yang saling mencaci, berkeringat, berlumuran darah, yang melingkupi Musaylimah dari berbagai sisi, seolah-olah hilang dari pandangannya. Dalam pikiran Si Barbar, hanya calon korbannya yang terlihat.

Catatan Kaki Halaman 8
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 514.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 72
[3] Ibid.


____________________________________________________________________________
(Halaman 9)

Si Barbar melihat Ummu Ammarah, perempuan terkemuka dari Pertempuran Uhud (meskipun pada saat itu, tidak ada Nampak seperti perempuan pada umumnya), berjuang untuk mendekati Musaylimah. Ia berduel melawan seorang prajurit kafir yang menghalangi tujuannya. Tiba-tiba, prajurit kafir itu menyabetkan pedang dan memotong tangannya. Anak laki-laki Ummu Ammarah yang berdiri di sebelahnya, membunuh prajurit itu dengan satu sabetan pedang mematikan dan ia segera menolong ibunya untuk menjauh dari lokasi. Ummu Ammarah merasa sangat kecewa tidak bisa mencapai posisi Musaylimah.

Si Barbar mendekat. Di dalam pikirannya, ia teringat kembali pada syuhada mulia yang ia bunuh dalam Pertempuran Uhud, yaitu Hamzah. Perbuatannya tersebut telah membuatnya sengsara. Ia masih ingat dengan jelas bentuk fisik Hamzah yang enak dilihat, gagah, dan tampan. Ia berusaha untuk membuang kenangan buruk tersebut dan kemudian melihat kembali ke arah Musaylimah. Ia kaget dengan perbedaan keduanya. Penampilan si nabi palsu sangat jelek, kulitnya kuning, berhidung pesek, diperparah lagi dengan wajah penuh kemarahan dan kebencian, serta busa yang mewarnai bibirnya. Tampilannya sangat mengerikan. Semua kejahatan dari laki-laki jahat ini tampak memancar keluar dari wajahnya.

Dengan matanya yang terlatih, Si Barbar mengukur jarak. Lembingnya sudah masuk dalam daerah jangkauan yang tepat. Di saat ia hendak mengambil kuda-kuda untuk melempar sambil membidik, Abu Dujanah (salah seorang yang menjadi tameng hidup bagi nabi dalam Pertempuran Uhud) menyabetkan pedangnya untuk mencapai lokasi Musaylimah. Abu Dujanah adalah seorang ahli pedang dan sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya. Sambil menggeram, Si Barbar melemparkan lembingnya.

Lembing itu menusuk Musaylimah pada bagian perutnya. Nabi palsu itu roboh, raut wajahnya menunjukkan rasa sakit, jari-jarinya mencakar-cakar pegangan pedangnya. Abu Dujanah sudah berada di sampingnya. Dengan satu sabetan akurat, ia memenggal Sang Pendusta. Ketika Abu Dujanah berdiri tegak untuk mengumumkan berita gembira ini, satu sabetan pedang prajurit kafir menjatuhkannya juga ke tanah. Salah seorang prajurit murtad melihat kondisi Sang Pendusta, dan ia berteriak, “Seorang budak hitam telah membunuhnya.” Jeritan ini didengar oleh Pasukan Muslim dan kafir, bersahut-sahutan ke seluruh kebun, “Musaylimah sudah mati!”[1]

Si Barbar kelak terus mengabdi dalam Operasi Militer Syams di bawah komando Khalid. Ketika Syams telah ditaklukkan dan menjadi salah satu provinsi dalam negara Islam, Si Barbar menetap di Emessa dan hidup sampai usia yang cukup tua. Tetapi, ia menghabiskan kebanyakan harinya dalam keadaan mabuk. Ia bahkan beberapa kali dihukum 80 kali cambuk oleh ‘Umar karena tindakan ini (ia adalah Muslim pertama yang dihukum atas pelanggaran ini di Syams)[2], tetapi ia tidak bisa menjauhkan diri dari minuman keras. ‘Umar berkomentar tentangnya, “Mungkin kutukan Allah masih ada di dalam diri Si Barbar karena ia telah menumpahkan darah Hamzah.”[3]

Di Emessa ini juga, kelak ia akan menjadi seorang terkenal dan penarik perhatian pelancong. Pengunjung akan datang ke rumahnya, berharap ia dalam keadaan sadar, kemudian bertanya kepadanya tentang Hamzah dan Musaylimah. Jika ia tidak dalam keadaan mabuk, ia akan menceritakan semua rincian kisah pembunuhan Hamzah dan pembunuhan Musaylimah. Di akhir ceritanya, ia selalu mengangkat lembingnya dengan bangga dan berkata, “Dengan lembing ini, di masa kafir, aku membunuh lelaki terbaik, dan di masa beriman, aku membunuh lelaki terburuk![4]

Kabar kematian Musaylimah Sang Pendusta menyebabkan runtuhnya moral pasukan murtad secara cepat. Sebagian dari mereka putus asa dan mencoba melakukan serangkaian serangan bunuh diri yang brutal, tetapi mereka hanya memperpanjang penderitaan mereka sebelum mati. Kebanyakan dari kelompok murtad kehilangan semangat dan dalam keputusasaan, mereka hanya menunggu waktu kapan pedang prajurit-prajurit Muslim mengakhiri penderitaan mereka. Dengan upaya terakhir, Pasukan Muslim melakukan serbuan di tengah gerombolan pasukan murtad yang kebingungan, memenuhi janji kemurkaan Allah kepada pasukan kafir. Pertempuran tidak lagi terlihat berimbang, lebih terlihat seperti pertarungan yang berat sebelah.

Ketika matahari terbenam, suasana tenang dan hening kembali menyelimuti Kebun Kematian. Pasukan Muslim terlalu lelah untuk mengangkat pedang-pedang mereka. Tidak ada lagi yang tersisa untuk diperangi.

Catatan Kaki Halaman 9
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 73.
[2] Ibnu Qutaybah: hlm. 330.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 73.
[4] Ibid.


0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.