- Beranda
- Stories from the Heart
Tanaka, Aku Padamu!!!
...
TS
Wah Cantiknya
Tanaka, Aku Padamu!!!
Quote:
WARNING!!!Cerita yang ada dalam thread ini adalah fiksi semua. Jadi gue saranin supaya kalian bacanya jangan terlalu baper.

Kalo gag sibuk, cerita bisa TS update setiap hari, kalo sibuk ya minimal seminggu sekali insya Allah update.




RULES :
JANGAN NGEFLAME!
JANGAN NGEFLAME!
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Wah Cantiknya 08-02-2017 21:50
anasabila memberi reputasi
1
16.7K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Wah Cantiknya
#91
Mulai muncul kekecewaan
Quote:
Tanaka kaget bukan main saat membuka helm dari orang yang membuntutinya. Dia adalah salah seorang anak buah bos besar. Tanaka memang tidak begitu dekat dengannya, tapi Tanaka kenal dia. Kalung dengan logo kelompoknyapun jelas menggantung dileher pria tadi.
“Siapa yang menyuruhmu?” Kata Tanaka menatap pria itu tajam.
Pria itu diam tak bisa menjawab. Tanaka menguatkan cengkramannya, pria itu terlihat kesakitan.
“Jangan begini, Tanaka. Aku bisa mati.”
“Katakan! Apa bos besar yang menyuruhmu?” Sentak Tanaka.
“Ya, iya.. Bos besar yang menyuruhku.”
“Kenapa dia menyuruhmu? Hah!”
“Aku tidak tau, aku hanya menjalankan perintah untuk melaporkan semua kegiatanmu disini.”
Tanaka terlihat kecewa. Dengan menyuruh orang mengikuti nya, itu artinya bos besar tidak sepenuhnya percaya padanya.
“Apa dia tidak mempercayaiku, sampai aku harus diikuti seperti ini.”
“Aku tidak tau, Tanaka. Aku sungguh tidak tau. Untuk hal itu kau tanyakan saja pada bos besar langsung.”
“Sejak kapan kau membuntutiku? “
“Sejak seminggu yang lalu.”
“Arrghh!” Tanaka menendang ban motornya dengan kesal. Dia tidak sadar sudah dibuntuti selama seminggu ini.
“Pergi kau dari hadapanku. Jangan ikuti lagi!” Bentak Tanaka.
Tanpa bicara pria itupun pergi. Sepertinya memang pria tadi dilarang melakukan kekerasan pada Tanaka. Hanya memata2i semua gerak gerik Tanaka setiap harinya.
Tanaka kembali kekamar hotelnya dengan hati yang sedih. Ayah angkatnya sepertinya tidak sepenuhnya percaya padanya, padahal Tanaka sangat mempercayainya. Ini menyakitkan untuk Tanaka. Tanaka selama ini bekerja setulus hati dan selalu percaya apapun yg dikatakan bos besar, tanpa pernah protes sekalipun, tapi ternyata bos besar malah memata2inya dengan memerintahkan orang lain. Kenapa memberikan tugas itu padanya, kalau dia tidak percaya pada Tanaka?
Tanaka mencoba menghubungi ponsel bos besar tapi nada sambungannya selalu sibuk. Berkali2 ia mencoba menghubungi tapi hasilnya tetap sama.
Tanaka membaringkan tubuhnya diatas kasur. Ia kembali teringat kata2 Ayu saat mereka masih baru2 bertemu, saat Tanaka berkataa harus mengantarkan sebuah paket dan ia tidak tau apa isi paket itu.
“Nurut bgd jadi orang, gimana kalo itu isinya BOM.”
“Gue ngeri aja kalo tu paket isinya barang haram atau bom buku.”
Tanaka menatap paket yg tergeletak diatas meja. Haruskah ia membukanya untuk memusnahkan rasa penasarannya. Tanaka yakin ini bukan barang biasa. Bos besar pasti takut barang ini kenapa2, maka dari itu ia menyuruh orang untuk membuntutinya.
Tanaka berdiri menghampiri paket tersebut. Tangannya perlahan meraih paket dalam ukuran sedang itu. Tapi tiba2 ponselnya berdering. Panggilan masuk dari bos besar.
Tanaka kembali berbaring menatap langit2. Pikirannya benar2 kusut. Rasanya ingin bertemu Ayu agar suasana hatinya sedikit lebih terhibur, karna setiap bersama Ayu, Tanaka sangat mudah tertawa dengan semua tingkah laku Ayu.
Tanaka memandangi ponselnya hendak menekan tombol panggil dikontak Ayu, tapi urung dilakukan. Tidak mungkin ia menghubungi Ayu, ia takut Ayu akan merasa diberi diharapan, padahal kemarin Tanaka sudah jelas2 melarang Ayu untuk memberikan perhatian lebih padanya.
^^^^
Ternyata hal yg sama pun dilakukan Ayu. Ia berbaring memandang langit2 kamar sambil memegang ponselnya. Ingin rasanya menghubungi Tanaka, tapi tidak mungkin. Jelas2 Ayu sudah dilarang untuk memberi perhatian pada pria itu. Ayu takut Tanaka akan marah lagi kalau Ayu masih menghubunginya.
Keduanya terjebak oleh pikiran masing2. Tidak ada yg mau mengalaah satupun untuk membuka hatinya, mencari tau apa yg sebenarnya terjadi. Kalau begini, susah untuk memperbaiki hubungan seperti sedia kala.
“Ayu.. “ Kata nenek yg masuk sambil membawa segelas susu.
“Iya, nek.”
“Sebenarnya ada apa antara kamu dan Tanaka? Kalian pasti sedang ada masalah. Kakek mungkin bisa dibohongi, tapi nenek tidak.” Kata nenek sambil meletakkan segelas susu tadi diatas meja.
Ayu menghela nafas sebentar. “Nek, gimana kalo Ayu sama Tanaka itu gak bisa sama2 lagi? Gimana kalo Ayu dan Tanaka harus berpisah?”
Nenek merangkul Ayu. “Kenapa kamu malah tanya nenek? Harusnya tanya sama hatimu sendiri. Bagaimana hatimu kalau Tanaka pergi dari hidupmu.”
Ayu terdiam, berpikir. Kalimat nenek ada benarnya juga. Hati Ayu sudah jelas pasti terluka kalau harus berpisah jauh dari Tanaka. Tapi Ayu juga tidak bisa memaksakan keadaan.
“Tapi, Ayu lihat nenek berharap banget sama Ayu dan Tanaka bisa menikah. Ayu takut kakek dan nenek kecewa.”
Nenek tersenyum menenangkan. “Nenek memang berharap. Setiap kali nenek melihatmu bahagia bersama seseorang, nenek selalu berharap itu adalah pria terakhir yg akan menemani kamu. Tapi, semua itu kan kamu yg jalanin, kamu yg rasain, kalo memang kamu merasa sudah gak bisa mempertahankan hubungan kalian, ya nenek dan kakek gak mungkin ngelarang.”
Ayu tersenyum haru. “Makasih, nek.”
“Lakukan, apa yg menurut kamu terbaik untuk hubunganmu.”
Ayu memeluk erat sang nenek.
^^^
Pagi harinya, Tanaka sudah bersiap untuk pergi mengantarkan paket. Walau hatinya masih galau dengan kenyataan bahwa bos besar memata2inya.
Dengan perlengkapan yg secukupnya, Tanaka pun pergi melaju dengan motornya. Satu jam pertama perjalanan terasa baik2 saja. Tapi sejam berikutnya mulai terasa, ada yg tidak beres.
Dari spion Tanaka melihat beberapa orang dimotor seperti sedang mengikutinya. Semakin lama jarak motor itupun semakin dekat. Tanaka kesal dibuatnya. Tanaka menepikan motornya.
“Ada apa?” Tanya Tanaka sambil membuka helmnya.
Tapi orang2 itu tidak menjawab. Mereka malah menyerang Tanaka. Satu lawan lima. Perkelahianpun tak terelakkan lagi. Tanaka hampir kewalahan menghadapi orang2 itu, karna salah satu dari mereka ada yg membawa senjata tajam.
“Serahkan paket itu!” Teriak salah seorang gerombolan pria tadi.
“Tidak akan.” Kata Tanaka sambil menangkis pukulan.
Untungnya ilmu bela diri Tanaka sudah diatas rata2, sehingga menghadapi lima orang seperti ini tidak terlalu sulit. Tanaka bahkan bisa mengunci salah satu dari gerombolan pria tadi. Tapi naas, Tanaka sempat lengah, hingga salah satu dari mereka berhasil melukai Tanaka dengan pisau belati dilengannya. Lengan Tanaka mengeluarkan darah.
Tapi walau begitu, Tanaka tetap berusaha sekuat tenaga melindungi paket itu agar tidak berpindah tangan. Untunglah, saat paket itu hampir direbut, terdengar sirine polisi dari kejauhan. Orang2 itu kocar kacir ketakutan, tanpa pikir panjang mereka pergi meninggalkan Tanaka.
Tanaka juga ikut pergi karena tak ingin berurusan dengan polisi. Kalau sampai ia berurusan dengan polisi, pasti tugasnya akan lebih lama selesai atau2 bisa2 gagal sama sekali. Dengan lengan yang berdarah2 Tanaka mengemudikan motornya. Tapi karena darahnya keluar terus, Tanaka mulai kewalahan, akhirnya ia berhenti disebuah Rumah Sakit untuk mengobati lukanya.
Baru saja selesai menebus obat, telepon Tanaka berdering. Bos besar memanggil.
Tanaka memandangi ponselnya terlihat heran. Rasa penasarannya semakin kuat tentang paket itu. Dengan yakin ia mengeluarkan paket itu dari tasnya dan mencoba membukanya, tapi tiba2 ponselnya kembali berdering. Dari Edrick.
Tanaka terbelalak mendengar suara Ayu yang bergetar dan seperti akan menangis. Tanaka bimbang harus bagaimana. Menyelesaikan misinya? Atau menyelamatkan Ayu yg terdengar ketakutan?
“Siapa yang menyuruhmu?” Kata Tanaka menatap pria itu tajam.
Pria itu diam tak bisa menjawab. Tanaka menguatkan cengkramannya, pria itu terlihat kesakitan.
“Jangan begini, Tanaka. Aku bisa mati.”
“Katakan! Apa bos besar yang menyuruhmu?” Sentak Tanaka.
“Ya, iya.. Bos besar yang menyuruhku.”
“Kenapa dia menyuruhmu? Hah!”
“Aku tidak tau, aku hanya menjalankan perintah untuk melaporkan semua kegiatanmu disini.”
Tanaka terlihat kecewa. Dengan menyuruh orang mengikuti nya, itu artinya bos besar tidak sepenuhnya percaya padanya.
“Apa dia tidak mempercayaiku, sampai aku harus diikuti seperti ini.”
“Aku tidak tau, Tanaka. Aku sungguh tidak tau. Untuk hal itu kau tanyakan saja pada bos besar langsung.”
“Sejak kapan kau membuntutiku? “
“Sejak seminggu yang lalu.”
“Arrghh!” Tanaka menendang ban motornya dengan kesal. Dia tidak sadar sudah dibuntuti selama seminggu ini.
“Pergi kau dari hadapanku. Jangan ikuti lagi!” Bentak Tanaka.
Tanpa bicara pria itupun pergi. Sepertinya memang pria tadi dilarang melakukan kekerasan pada Tanaka. Hanya memata2i semua gerak gerik Tanaka setiap harinya.
Tanaka kembali kekamar hotelnya dengan hati yang sedih. Ayah angkatnya sepertinya tidak sepenuhnya percaya padanya, padahal Tanaka sangat mempercayainya. Ini menyakitkan untuk Tanaka. Tanaka selama ini bekerja setulus hati dan selalu percaya apapun yg dikatakan bos besar, tanpa pernah protes sekalipun, tapi ternyata bos besar malah memata2inya dengan memerintahkan orang lain. Kenapa memberikan tugas itu padanya, kalau dia tidak percaya pada Tanaka?
Tanaka mencoba menghubungi ponsel bos besar tapi nada sambungannya selalu sibuk. Berkali2 ia mencoba menghubungi tapi hasilnya tetap sama.
Tanaka membaringkan tubuhnya diatas kasur. Ia kembali teringat kata2 Ayu saat mereka masih baru2 bertemu, saat Tanaka berkataa harus mengantarkan sebuah paket dan ia tidak tau apa isi paket itu.
“Nurut bgd jadi orang, gimana kalo itu isinya BOM.”
“Gue ngeri aja kalo tu paket isinya barang haram atau bom buku.”
Tanaka menatap paket yg tergeletak diatas meja. Haruskah ia membukanya untuk memusnahkan rasa penasarannya. Tanaka yakin ini bukan barang biasa. Bos besar pasti takut barang ini kenapa2, maka dari itu ia menyuruh orang untuk membuntutinya.
Tanaka berdiri menghampiri paket tersebut. Tangannya perlahan meraih paket dalam ukuran sedang itu. Tapi tiba2 ponselnya berdering. Panggilan masuk dari bos besar.
Quote:
Bos besar : Dengarkan aku, Tanaka. Jangan berpikir macam2! Tetap jalankan tugasmu besok sesuai dengan perintahku. Mengerti!?
(Tanaka hanya diam mendengarnya, sampai bos besar mengakhiri pembicaraan)
(Tanaka hanya diam mendengarnya, sampai bos besar mengakhiri pembicaraan)
Tanaka kembali berbaring menatap langit2. Pikirannya benar2 kusut. Rasanya ingin bertemu Ayu agar suasana hatinya sedikit lebih terhibur, karna setiap bersama Ayu, Tanaka sangat mudah tertawa dengan semua tingkah laku Ayu.
Tanaka memandangi ponselnya hendak menekan tombol panggil dikontak Ayu, tapi urung dilakukan. Tidak mungkin ia menghubungi Ayu, ia takut Ayu akan merasa diberi diharapan, padahal kemarin Tanaka sudah jelas2 melarang Ayu untuk memberikan perhatian lebih padanya.
^^^^
Ternyata hal yg sama pun dilakukan Ayu. Ia berbaring memandang langit2 kamar sambil memegang ponselnya. Ingin rasanya menghubungi Tanaka, tapi tidak mungkin. Jelas2 Ayu sudah dilarang untuk memberi perhatian pada pria itu. Ayu takut Tanaka akan marah lagi kalau Ayu masih menghubunginya.
Keduanya terjebak oleh pikiran masing2. Tidak ada yg mau mengalaah satupun untuk membuka hatinya, mencari tau apa yg sebenarnya terjadi. Kalau begini, susah untuk memperbaiki hubungan seperti sedia kala.
“Ayu.. “ Kata nenek yg masuk sambil membawa segelas susu.
“Iya, nek.”
“Sebenarnya ada apa antara kamu dan Tanaka? Kalian pasti sedang ada masalah. Kakek mungkin bisa dibohongi, tapi nenek tidak.” Kata nenek sambil meletakkan segelas susu tadi diatas meja.
Ayu menghela nafas sebentar. “Nek, gimana kalo Ayu sama Tanaka itu gak bisa sama2 lagi? Gimana kalo Ayu dan Tanaka harus berpisah?”
Nenek merangkul Ayu. “Kenapa kamu malah tanya nenek? Harusnya tanya sama hatimu sendiri. Bagaimana hatimu kalau Tanaka pergi dari hidupmu.”
Ayu terdiam, berpikir. Kalimat nenek ada benarnya juga. Hati Ayu sudah jelas pasti terluka kalau harus berpisah jauh dari Tanaka. Tapi Ayu juga tidak bisa memaksakan keadaan.
“Tapi, Ayu lihat nenek berharap banget sama Ayu dan Tanaka bisa menikah. Ayu takut kakek dan nenek kecewa.”
Nenek tersenyum menenangkan. “Nenek memang berharap. Setiap kali nenek melihatmu bahagia bersama seseorang, nenek selalu berharap itu adalah pria terakhir yg akan menemani kamu. Tapi, semua itu kan kamu yg jalanin, kamu yg rasain, kalo memang kamu merasa sudah gak bisa mempertahankan hubungan kalian, ya nenek dan kakek gak mungkin ngelarang.”
Ayu tersenyum haru. “Makasih, nek.”
“Lakukan, apa yg menurut kamu terbaik untuk hubunganmu.”

Ayu memeluk erat sang nenek.
^^^
Pagi harinya, Tanaka sudah bersiap untuk pergi mengantarkan paket. Walau hatinya masih galau dengan kenyataan bahwa bos besar memata2inya.
Dengan perlengkapan yg secukupnya, Tanaka pun pergi melaju dengan motornya. Satu jam pertama perjalanan terasa baik2 saja. Tapi sejam berikutnya mulai terasa, ada yg tidak beres.
Dari spion Tanaka melihat beberapa orang dimotor seperti sedang mengikutinya. Semakin lama jarak motor itupun semakin dekat. Tanaka kesal dibuatnya. Tanaka menepikan motornya.
“Ada apa?” Tanya Tanaka sambil membuka helmnya.
Tapi orang2 itu tidak menjawab. Mereka malah menyerang Tanaka. Satu lawan lima. Perkelahianpun tak terelakkan lagi. Tanaka hampir kewalahan menghadapi orang2 itu, karna salah satu dari mereka ada yg membawa senjata tajam.
“Serahkan paket itu!” Teriak salah seorang gerombolan pria tadi.
“Tidak akan.” Kata Tanaka sambil menangkis pukulan.
Untungnya ilmu bela diri Tanaka sudah diatas rata2, sehingga menghadapi lima orang seperti ini tidak terlalu sulit. Tanaka bahkan bisa mengunci salah satu dari gerombolan pria tadi. Tapi naas, Tanaka sempat lengah, hingga salah satu dari mereka berhasil melukai Tanaka dengan pisau belati dilengannya. Lengan Tanaka mengeluarkan darah.
Tapi walau begitu, Tanaka tetap berusaha sekuat tenaga melindungi paket itu agar tidak berpindah tangan. Untunglah, saat paket itu hampir direbut, terdengar sirine polisi dari kejauhan. Orang2 itu kocar kacir ketakutan, tanpa pikir panjang mereka pergi meninggalkan Tanaka.
Tanaka juga ikut pergi karena tak ingin berurusan dengan polisi. Kalau sampai ia berurusan dengan polisi, pasti tugasnya akan lebih lama selesai atau2 bisa2 gagal sama sekali. Dengan lengan yang berdarah2 Tanaka mengemudikan motornya. Tapi karena darahnya keluar terus, Tanaka mulai kewalahan, akhirnya ia berhenti disebuah Rumah Sakit untuk mengobati lukanya.
Baru saja selesai menebus obat, telepon Tanaka berdering. Bos besar memanggil.
Quote:
Bos besar : dimana kau? (terdengar marah)
Tanaka : aku dirumah sakit.
Bos besar : sedang apa kau disana!? Bukankah sudah kubilang lakukan semua sesuai perintah jangan ada yang berubah sedikitpun. Satu hal saja berubah, misimu bisa berantakan!
Tanaka : sekelompok orang menyerangku. Aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan dalam keadaan terluka. Bagaimana jika aku kehabisan darah dan paket ini tidak sampai pada tempatnya?
Bos besar : aku tidak peduli! Seharusnya kau menuntaskan misimu terlebih dahulu!
(Menutup telepon dengan kesal)
Tanaka : aku dirumah sakit.
Bos besar : sedang apa kau disana!? Bukankah sudah kubilang lakukan semua sesuai perintah jangan ada yang berubah sedikitpun. Satu hal saja berubah, misimu bisa berantakan!

Tanaka : sekelompok orang menyerangku. Aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan dalam keadaan terluka. Bagaimana jika aku kehabisan darah dan paket ini tidak sampai pada tempatnya?
Bos besar : aku tidak peduli! Seharusnya kau menuntaskan misimu terlebih dahulu!
(Menutup telepon dengan kesal)
Tanaka memandangi ponselnya terlihat heran. Rasa penasarannya semakin kuat tentang paket itu. Dengan yakin ia mengeluarkan paket itu dari tasnya dan mencoba membukanya, tapi tiba2 ponselnya kembali berdering. Dari Edrick.
Quote:
Tanaka : Kenapa? Apa kau kecewa aku belum mati?
Edrick : hei.. Santailah kawan.. Kenapa kau selalu berpikiran buruk padaku, hah?
Tanaka : sekelompok orang baru saja menyerangku, siapa lagi yg biasanya menggaangguku kalau bukan kau?
Edrick : sudah kubilang bukan, bisinis bos besar itu, banyak yg menginginkan bisnisnya hancur, saingan bos besar akan berusaha keras untuk mengacaukan semua rencana bos besar. Dan itu bukan aku! Aku justru ingin membawamu keluar dari lingkaran hitam bisnis bos besar, Tanaka.
Tanaka : Berhenti bicara, Edrick! Aku tidak punya waktu untuk mendengar ocehanmu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.
Edrick : Oh.. Begitu.. Apa setelah mendengar ini kau masih tak mau mendengarkanku?
(Telepon dipindahkan ke seseorang)
Ayunda : Tanaka.. Ini gue.. Kemarilah.. Gue mohon.. (suara Ayu bergetar)
Edrick : hei.. Santailah kawan.. Kenapa kau selalu berpikiran buruk padaku, hah?
Tanaka : sekelompok orang baru saja menyerangku, siapa lagi yg biasanya menggaangguku kalau bukan kau?
Edrick : sudah kubilang bukan, bisinis bos besar itu, banyak yg menginginkan bisnisnya hancur, saingan bos besar akan berusaha keras untuk mengacaukan semua rencana bos besar. Dan itu bukan aku! Aku justru ingin membawamu keluar dari lingkaran hitam bisnis bos besar, Tanaka.
Tanaka : Berhenti bicara, Edrick! Aku tidak punya waktu untuk mendengar ocehanmu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.
Edrick : Oh.. Begitu.. Apa setelah mendengar ini kau masih tak mau mendengarkanku?
(Telepon dipindahkan ke seseorang)
Ayunda : Tanaka.. Ini gue.. Kemarilah.. Gue mohon.. (suara Ayu bergetar)
Tanaka terbelalak mendengar suara Ayu yang bergetar dan seperti akan menangis. Tanaka bimbang harus bagaimana. Menyelesaikan misinya? Atau menyelamatkan Ayu yg terdengar ketakutan?
Diubah oleh Wah Cantiknya 04-08-2016 13:08
0
Kutip
Balas