- Beranda
- Stories from the Heart
SAYUR ASEM RASA GULALI
...
TS
spv7hqfj
SAYUR ASEM RASA GULALI
Ini adalah Sequel cerita 'Aku dan Gadis Lugu'.
Saya mencoba untuk merubah gaya bahasa dan sudut pandang penulisan agar lebih enak dibaca dan lebih mudah dipahami. Mohon maaf karena cerita sebelumnya sangatlah KENTANGuntuk anda semua. Sedikit demi sedikit akan saya jelaskan di cerita ini.
biasakan Baca dulu baru komentar ya
Selamat menikmati.
Saya mencoba untuk merubah gaya bahasa dan sudut pandang penulisan agar lebih enak dibaca dan lebih mudah dipahami. Mohon maaf karena cerita sebelumnya sangatlah KENTANGuntuk anda semua. Sedikit demi sedikit akan saya jelaskan di cerita ini.
biasakan Baca dulu baru komentar ya

Selamat menikmati.
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh spv7hqfj 11-08-2016 10:36
tien212700 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
11.8K
69
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#16
Eps 2 - Masa Lalu
Backsound yang disarankan : Monkey to Millionaire – Strange Is The Song In Our Conversation
Di lantai 1 Ruko tempat tinggal Ujang yang berada di kawasan BSD City.
Tobi sedang asik merokok sambil sesekali menyesap Kopi hitam panas. Diiringi rentetan bit lagu dari Speaker kaleng harga 35ribuan milik Ujang. Jempolnya tak mau berhenti men-skroll layar Hpnya. Kemudian mengetik sesuatu.
Segelas Kopi hitam , tidak ada yang lebih nikmat dari seduhan Kopi hitam sachet bertuliskan Kapal Api. Sedikit miris karena menjadi korban iklan yang sering ditampilkan di channel TV swasta semisal yang berlambang ikan terbang. Kopi dengan merk tersebut adalah kopi pertama yang dirasakan oleh Tobi.
Panasnya cuaca perkotaan yang melewati batas suhu pantat bayi tak menghalangi Tobi untuk menikmati Kopi. Sudah menjadi candu baginya, jika tidak minum kopi 1x24 jam ia harus lapor ke Teteh pemilik warteg sebelah kontrakan untuk sekedar membeli segelas kopi, dengan catatan boleh ngutang jika hanya ada selembar uang bergambar Pahlawan Patimura di dompet Tobi alias Bokek.
“Baaaaahhh mantap!.” Pekik Tobi sehabis menyesap kopinya tersebut. Hingga datanglah Ujang dari arah kamar mandi dengan raut wajah puas bercampur lesu seperti orang yang baru saja berhubungan intim dengan Mama Lemon (Nama sebenarnya). Tatapan Ujang saat melihat kopi milik Tobi seakan mirip Patkai yang sedang melihat wanita seksi di film Kera Sakti. “Sruuupppppp.” Setengah gelas lebih kopi yang sudah agak hangat masuk ke kerongongan Ujang.
“Astaganaga Jang! Itu Kopi Jang bukan air putih.”
Resah, itu yang dirasakan oleh Tobi jika ada orang sejenis Ujang ada tepat disaat ia sedang meminum Kopi. Tanpa ba, bi dan bu langsung sambar kilat. Tidak peduli dengan pemilik sah kopi yang menikmati kopi sedikit demi sedikit diselingi satu dua hisapan rokok.
Kling!! Suara notifikasi pesan masuk.
Tika : Mas, nanti malem kerumah kan?
Senyum terbentuk dibibir Tobi.
Tobi : Iya dek.
Lima belas detik menunggu balasan.
Tika : Asyik. Jam 8 ya jangan telat lho ya.
Tobi : Kalo Mas yang telat sih gak masalah dek, asal adek gak telat. Delete.. delete.. delete tidak jadi dikirim.
Tobi : siap komandan.
“Cieee, yang lagi sms-an sama Mas Joko. Mentang-mentang di Belanda udah ada legalisasi pernikahan sesama jenis.” Cibir Ujang lalu dilanjutkan tawa keras darinya.
“Apa ciiiihhhh!”
-SAYUR ASEM RASA GULALI-
Backsound yang disarankan : Raisa – Jatuh Hati
Genap satu tahun Tobi pergi dari rumah. Meninggalkan segala hal yang ia punya hanya demi Tika. Kata orang, cinta itu buta. Ketika sedang dimabuk cinta diruang hati yang terdalam, Tobi tidak bisa menampik kenyataan bahwa cinta memanglah buta. Cintanya pada Tika mampu membutakan hati dan logika yang sebelumnya bekerja dengan baik. Ketika cinta datang, semua hal menjadi terlalu indah untuk ditampik dan terlalu bahagia untuk ditolak.
Disaat kedua orang tua Tobi datang setelah lama tak bertemu, mereka dengan tiba-tiba saja memutuskan untuk menikahkan Tobi dengan Jesi, anak dari teman dekat Ibunya. Angan-angan Tobi tentang semua hal yang akan dilakukannya bersama Tika di masa depan seakan buyar saat Ibunya berkata,”Ibu sudah menentukan tanggalnya. Kamu nurut aja sama Ibu.”
Demi Tika, ia rela meninggalkan semua yang ia miliki, segala hal tentang Jogjakarta.
Hujan rintik jam sepuluh malam jum’at, tiga belas bulan yang lalu.Tepat di depan area Benteng Vredeburg sepasang muda-mudi sedang membicarakan sesuatu dengan serius.
-SAYUR ASEM RASA GULALI-
Backsound yang disarankan : Brand New Eyes – Bikin Malu Ibu.
Dua jam sudah Tobi masih berada di Ruko tempat Ujang tinggal dan bekerja. Tubuhnya sekarang berbaring di kursi panjang. Tangan kanannya dijadikan bantalan kepala.
Bayang masa lalu masih teringat di otaknya seperti tidak mau pergi. Dengan status dan predikat Mahasiswa Drop Out ia nekat ke Tangerang demi Tika dengan hanya berbekal uang Tabungannya yang bisa dibilang kurang dari kata cukup.
Masih membekas dihati, sebuah tamparan keras dipipi Tobi dari Ibunya. Tamparan pertama yang ia dapatkan, sudah cukup menjadi alasan untuk Tobi agar bisa pergi dari rumah. Sebenarnya, cukup mudah bagi kedua orang tua untuk menemukannya. Tapi, gengsi mengalahkan segalanya. Mungkin hanya Ayah Tobi yang peduli. Ayah Tobi tau kemana Tobi pergi, dan dimana Tobi tinggal. Setiap tiga bulan sekali Ayahnya mengiriminya uang dalam jumlah yang sangat besar baginya. Tapi bukan itu yang ia butuhkan. Tobi hanya membutuhkan kedatangan orang tuanya, menurunkan segala ego dan melupakan tentang perjodohan yang membuat hubungan anak dan orang tua hancur.
“Woy!! Awas kesambet bencong Jembatan Genit.” Ucapan Ujang membuat Tobi tersadar dari lamunan.
“Masih mikirin orang tua di kampung?” Tobi tersenyum sinis lantas berdiri dan berjalan kearah Kamar mandi sekedar cuci muka untuk menyegarkan pikiran. “Ujaaaaaaang, jorok amat sih? Ini buah karya lu kenapa gak disiram?” Bukannya pikirannya menjadi jernih, malah bertambah pekat setelah melihat tai milik Ujang yang belum disiram di jamban.
“wkwkwkwk, maap udah kebiasaan.” Teriak Ujang.
“Parah! Masak sih harus nyiram tai orang baru gue bisa berak?” Seperti filosofi WC Umum di terminal Bus, Siram dulu baru pakai.
Dengan wajah masam tobi keluar dari kamar mandi, tak lupa ia mengelapkan tangan kirinya yang masih basah ke wajah Ujang. “Anjritt!! ini anak Anoa songong amat!” kata Ujang kesal. Tobi tertawa puas melihat raut wajah Ujang yang sekilas mirip pelawak Sapri.
-SAYUR ASEM RASA GULALI-
Backsound yang disarankan : Afternoon Talk – There’s Only One Thing You Should Know
19.45 WIB
Pakaiannya rapi. Kemeja kotak-kotak warna merah maroon dominan yang lengannya dilipat sampai sikut, Celana jeans gaya original warna biru, Sandal yang terlihat anak muda banget, juga tak lupa parfum beraroma coklat yang ia beli di minimarket biru kuning merah menjadi andalan Tobi untuk memikat Tika malam ini. Sabtu minggu, seperti menjadi sebuah tradisi tersirat dan sudah menjadi kewajiban dikalangan masyarakat untuk Apel atau jalan kemanapun bersama pasangannya. Termasuk juga pasangan sesama jenis yang diam-diam sudah tampak sebagai akibat dari seringnya masyarakat menonton acara musik di channel berikon Rajawali yang sering menonjolkan gestur kewanitaan seorang pria.
Tobi : OTW
Tika : ditunggu, bawa martabak telor ya buat mbak Rani.
Tobi : siap komandan
”Walau halangan, rintangan, membentang, tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Yahaa”
Sepenggal lirik lagu soundtrack Kera Sakti sedikit menggambarkan perjalanan Tobi menuju tempat tinggal Tika. Seperti sepasang muda-mudi yang berpacaran dan asyik mengobrol sambil mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 20km/ jam, seakan sepanjang jalan hanya ada mereka berdua. Juga si Ratu penguasa jalanan yang tak pernah salah, yang sering lupa menyalakan lampu Sen saat hendak berbelok ke kiri atau ke kanan.
Brakkk!!! Vespa yang Tobi mengendarai menabrak pengendara yang tak lain adalah tante-tante.
“Aduuuhhh mas, kalo naik motor tuh hati-hati dong.” Tobi hanya bisa menarik nafas kasar. Ingin rasanya ia marah, tapi takut jika ternyata tante tersebut adalah selingkuhan Pak RT daerah tempat ia tinggal. Tobi ingin marah, tapi takut jika ternyata tante tersebut termasuk dalam kategori Akamsi. Tobi ingin marah, tapi takut jika ternyata Suami tante tersebut Tampan. Ahh sudahlah
-BERSAMBUNG-
Di lantai 1 Ruko tempat tinggal Ujang yang berada di kawasan BSD City.
Tobi sedang asik merokok sambil sesekali menyesap Kopi hitam panas. Diiringi rentetan bit lagu dari Speaker kaleng harga 35ribuan milik Ujang. Jempolnya tak mau berhenti men-skroll layar Hpnya. Kemudian mengetik sesuatu.
Segelas Kopi hitam , tidak ada yang lebih nikmat dari seduhan Kopi hitam sachet bertuliskan Kapal Api. Sedikit miris karena menjadi korban iklan yang sering ditampilkan di channel TV swasta semisal yang berlambang ikan terbang. Kopi dengan merk tersebut adalah kopi pertama yang dirasakan oleh Tobi.
Panasnya cuaca perkotaan yang melewati batas suhu pantat bayi tak menghalangi Tobi untuk menikmati Kopi. Sudah menjadi candu baginya, jika tidak minum kopi 1x24 jam ia harus lapor ke Teteh pemilik warteg sebelah kontrakan untuk sekedar membeli segelas kopi, dengan catatan boleh ngutang jika hanya ada selembar uang bergambar Pahlawan Patimura di dompet Tobi alias Bokek.
“Baaaaahhh mantap!.” Pekik Tobi sehabis menyesap kopinya tersebut. Hingga datanglah Ujang dari arah kamar mandi dengan raut wajah puas bercampur lesu seperti orang yang baru saja berhubungan intim dengan Mama Lemon (Nama sebenarnya). Tatapan Ujang saat melihat kopi milik Tobi seakan mirip Patkai yang sedang melihat wanita seksi di film Kera Sakti. “Sruuupppppp.” Setengah gelas lebih kopi yang sudah agak hangat masuk ke kerongongan Ujang.
“Astaganaga Jang! Itu Kopi Jang bukan air putih.”
Resah, itu yang dirasakan oleh Tobi jika ada orang sejenis Ujang ada tepat disaat ia sedang meminum Kopi. Tanpa ba, bi dan bu langsung sambar kilat. Tidak peduli dengan pemilik sah kopi yang menikmati kopi sedikit demi sedikit diselingi satu dua hisapan rokok.
Kling!! Suara notifikasi pesan masuk.
Tika : Mas, nanti malem kerumah kan?
Senyum terbentuk dibibir Tobi.
Tobi : Iya dek.
Lima belas detik menunggu balasan.
Tika : Asyik. Jam 8 ya jangan telat lho ya.
Tobi : Kalo Mas yang telat sih gak masalah dek, asal adek gak telat. Delete.. delete.. delete tidak jadi dikirim.
Tobi : siap komandan.
“Cieee, yang lagi sms-an sama Mas Joko. Mentang-mentang di Belanda udah ada legalisasi pernikahan sesama jenis.” Cibir Ujang lalu dilanjutkan tawa keras darinya.
“Apa ciiiihhhh!”
-SAYUR ASEM RASA GULALI-
Backsound yang disarankan : Raisa – Jatuh Hati
Genap satu tahun Tobi pergi dari rumah. Meninggalkan segala hal yang ia punya hanya demi Tika. Kata orang, cinta itu buta. Ketika sedang dimabuk cinta diruang hati yang terdalam, Tobi tidak bisa menampik kenyataan bahwa cinta memanglah buta. Cintanya pada Tika mampu membutakan hati dan logika yang sebelumnya bekerja dengan baik. Ketika cinta datang, semua hal menjadi terlalu indah untuk ditampik dan terlalu bahagia untuk ditolak.
Disaat kedua orang tua Tobi datang setelah lama tak bertemu, mereka dengan tiba-tiba saja memutuskan untuk menikahkan Tobi dengan Jesi, anak dari teman dekat Ibunya. Angan-angan Tobi tentang semua hal yang akan dilakukannya bersama Tika di masa depan seakan buyar saat Ibunya berkata,”Ibu sudah menentukan tanggalnya. Kamu nurut aja sama Ibu.”
Demi Tika, ia rela meninggalkan semua yang ia miliki, segala hal tentang Jogjakarta.
Hujan rintik jam sepuluh malam jum’at, tiga belas bulan yang lalu.Tepat di depan area Benteng Vredeburg sepasang muda-mudi sedang membicarakan sesuatu dengan serius.
Quote:
-SAYUR ASEM RASA GULALI-
Backsound yang disarankan : Brand New Eyes – Bikin Malu Ibu.
Dua jam sudah Tobi masih berada di Ruko tempat Ujang tinggal dan bekerja. Tubuhnya sekarang berbaring di kursi panjang. Tangan kanannya dijadikan bantalan kepala.
Bayang masa lalu masih teringat di otaknya seperti tidak mau pergi. Dengan status dan predikat Mahasiswa Drop Out ia nekat ke Tangerang demi Tika dengan hanya berbekal uang Tabungannya yang bisa dibilang kurang dari kata cukup.
Masih membekas dihati, sebuah tamparan keras dipipi Tobi dari Ibunya. Tamparan pertama yang ia dapatkan, sudah cukup menjadi alasan untuk Tobi agar bisa pergi dari rumah. Sebenarnya, cukup mudah bagi kedua orang tua untuk menemukannya. Tapi, gengsi mengalahkan segalanya. Mungkin hanya Ayah Tobi yang peduli. Ayah Tobi tau kemana Tobi pergi, dan dimana Tobi tinggal. Setiap tiga bulan sekali Ayahnya mengiriminya uang dalam jumlah yang sangat besar baginya. Tapi bukan itu yang ia butuhkan. Tobi hanya membutuhkan kedatangan orang tuanya, menurunkan segala ego dan melupakan tentang perjodohan yang membuat hubungan anak dan orang tua hancur.
“Woy!! Awas kesambet bencong Jembatan Genit.” Ucapan Ujang membuat Tobi tersadar dari lamunan.
“Masih mikirin orang tua di kampung?” Tobi tersenyum sinis lantas berdiri dan berjalan kearah Kamar mandi sekedar cuci muka untuk menyegarkan pikiran. “Ujaaaaaaang, jorok amat sih? Ini buah karya lu kenapa gak disiram?” Bukannya pikirannya menjadi jernih, malah bertambah pekat setelah melihat tai milik Ujang yang belum disiram di jamban.
“wkwkwkwk, maap udah kebiasaan.” Teriak Ujang.
“Parah! Masak sih harus nyiram tai orang baru gue bisa berak?” Seperti filosofi WC Umum di terminal Bus, Siram dulu baru pakai.
Dengan wajah masam tobi keluar dari kamar mandi, tak lupa ia mengelapkan tangan kirinya yang masih basah ke wajah Ujang. “Anjritt!! ini anak Anoa songong amat!” kata Ujang kesal. Tobi tertawa puas melihat raut wajah Ujang yang sekilas mirip pelawak Sapri.
-SAYUR ASEM RASA GULALI-
Backsound yang disarankan : Afternoon Talk – There’s Only One Thing You Should Know
19.45 WIB
Pakaiannya rapi. Kemeja kotak-kotak warna merah maroon dominan yang lengannya dilipat sampai sikut, Celana jeans gaya original warna biru, Sandal yang terlihat anak muda banget, juga tak lupa parfum beraroma coklat yang ia beli di minimarket biru kuning merah menjadi andalan Tobi untuk memikat Tika malam ini. Sabtu minggu, seperti menjadi sebuah tradisi tersirat dan sudah menjadi kewajiban dikalangan masyarakat untuk Apel atau jalan kemanapun bersama pasangannya. Termasuk juga pasangan sesama jenis yang diam-diam sudah tampak sebagai akibat dari seringnya masyarakat menonton acara musik di channel berikon Rajawali yang sering menonjolkan gestur kewanitaan seorang pria.
Tobi : OTW
Tika : ditunggu, bawa martabak telor ya buat mbak Rani.
Tobi : siap komandan
”Walau halangan, rintangan, membentang, tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Yahaa”
Sepenggal lirik lagu soundtrack Kera Sakti sedikit menggambarkan perjalanan Tobi menuju tempat tinggal Tika. Seperti sepasang muda-mudi yang berpacaran dan asyik mengobrol sambil mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 20km/ jam, seakan sepanjang jalan hanya ada mereka berdua. Juga si Ratu penguasa jalanan yang tak pernah salah, yang sering lupa menyalakan lampu Sen saat hendak berbelok ke kiri atau ke kanan.
Brakkk!!! Vespa yang Tobi mengendarai menabrak pengendara yang tak lain adalah tante-tante.
“Aduuuhhh mas, kalo naik motor tuh hati-hati dong.” Tobi hanya bisa menarik nafas kasar. Ingin rasanya ia marah, tapi takut jika ternyata tante tersebut adalah selingkuhan Pak RT daerah tempat ia tinggal. Tobi ingin marah, tapi takut jika ternyata tante tersebut termasuk dalam kategori Akamsi. Tobi ingin marah, tapi takut jika ternyata Suami tante tersebut Tampan. Ahh sudahlah
-BERSAMBUNG-
0