TS
whiteshark21
NULL
NULL
more than just none
Cerita ini lebih saya kategorikan ke Action-Mistery,yah apapun itu.
sudut pandang orang ketiga(serba tau) dan bahasa indonesia semi baku.
Sinopsis
Bagas,seorang pemuda biasa dipercaya dan diikutsertakan oleh kepolisian untuk membantu menangani kasus-kasus pembunuhan di Ibu Kota.
Keahliannya berhasil menuntun dirinya bergabung ke dalam 'Divisi 1', sebuah grup berisi sekumpulan veteran anak muda dengan keahliannya di masing-masing cabang ilmu forensik.
Rules
- nggak ada peraturan tambahan,bebas aja.
- batasan-batasannya mengacu penuh ke rules H2H & SFTH.
- komentar & teguran langsung saja dilayangkan via Post atau PM.
Warning!
- Cerita ini benang merahnya adalah tentang jagoan lawan penjahat jadi temanya nggak jauh-jauh dari kekerasan.( dengan kata lain kalau kalian sangat tabu dengan kata 'pembunuhan' dan sebagainya, sebaiknya pindah ke bacaan lain ).
- sebagian dari inti cerita ini bukan untuk ditiru atau diidolakan,begitu. ( Hal baik selalu menang jadi jangan tiru yang buruknya )
- Tokoh,Tempat,Kejadian semuanya Fiksi. (Extremely fiksi mungkin)
- Banyak hal terjadi di cerita ini;beberapa masuk akal,beberapa belum bisa dilakukan di jaman ini dan beberapa mungkin mustahil dilakukan di dunia ini.
- Berdasarkan temanya ane pribadi bilang konten cerita ini untuk umur 17 tahun ke atas atau mereka yang sudah mampu menalar cerita fiksi.
- Kentang, pasti! ( TSnya masih belum lancar menulis jadi jeda per part-nya bakalan cukup lama )
- N/A.
Isi Cerita
Spoiler for Ilustrasi karakter:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Spoiler for CHAPTER 3:
Spoiler for CHAPTER 4:
Pengumuman tutup lapak (closed permanently)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Masukkan dan Update Cerita
Cerita GaJe, 1 hari = 10 chapter ( Random )
0%
Cerita biasa, 1 hari = 1 chapter ( 00:00 - 12:00 )
0%
Cerita lumayan, 1 hari = 1 chapter ( 12:00 - 00:00 )
0%
Cerita bagus, 2 hari = 1 chapter ( 17:00 - 20:00 )
0%
Cerita menarik, 3 hari = 2 chapter ( 12:00 & 17:00 )
0%
NULL, 7 hari = 1 chapter ( 15:00 )
0%
Diubah oleh whiteshark21 11-04-2017 20:43
anasabila memberi reputasi
1
21.4K
98
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
whiteshark21
#33
Chapter 1 - Main story
Index 8 - Ghost in case
pagi sudah bersiap memulai aktivitasnya,begitu pula dengan duo partner yang menginap di ruang kerjanya semalam.
hari minggu yang sewajarnya menjadi kesempatan untuk bermalas-malasan agaknya tidak bisa dimanfaatkan demikian oleh divisi yang satu ini.
lain dengan Doni yang baru bangun dan pergi ke kamar mandi,Bagas dengan bangganya sudah duduk rapih menyantap sarapan pagi berupa 2 bungkus roti gandum dan 1 gelas besar susu vanila instan yang baru ia tuang dari box kemasannya.
"yoh,ada kabar apa sekarang? aku baru mau pergi cari petunjuk lagi" kata Bagas lewat panggilan telfonnya dengan seseorang.
"nggak usah buang tenagamu.. untuk kasus ini,musuhmu bukan lagi seorang idiot atau amatiran" balasnya.
"jadi?" tanya Bagas enteng sambil menggigit roti di tangan kanannya.
"rekaman CCTV kemarin fix palsu.. setiap detail pixelnya dibuat sangat nyata,pengaturan cahayanya juga dicocokkan dengan kondisi suhu ruangan dengan sangat sempurna,semuanya tampak seperti aslinya" jawab lawan bicaranya.
"tunggu duluu.. apa maksudmu 'seperti aslinya' ?" tanya bagas
"well,rekaman itu tampak asli sekali,padahal aku yakin itu hanya animasi semata.."
"jangan karna kamu yakin itu palsu terus kamu bilang rekaman asli itu sebenernya rekaman buatan yang sangat sempurna,sialan!"
"habis mau gimana lagi,aku sudah periksa semalaman dan nyatanya rekaman itu kelihatan asli banget"
"itu emang rekaman asli,brengsek"
-- Tuutt..
{ aaah-ha,aku keceplosan saking enaknya ngomong } batin Bagas pasrah.
yang tak lama kemudian disusul sebuah dering notif chat di HPnya.
[ Jaka ] :
tumbuh dewasa malah membuatmu makin kurang ajar pada kakakmu.
waktu kecil harusnya mati saja dulu.
[ Bagas ] :
kau yang tambah lembek.
minum obatmu cepet sana!
.
.
.
"siap berangkat?" tanya Doni setelah persiapannya selesai.
"nggak jadi,kita udah buntu sampai sini" jawab Bagas.
"kenapa? ada apa?" tanya Doni tidak percaya semangat rekannya tiba-tiba hilang tanpa alasan yang ia ketahui.
"rekaman CCTV mereka palsu, rekayasa digital" jawab Bagas lagi soal pertanyaan Doni.
"kalau gitu ini kasus pembunuhan," tanggap Doni melompat antusias ke kursi kerjanya.
"begitu lah,"
"......"
"perempuan itu berada sendirian di kamar,semua staff tidak memberikan kesaksian palsu yang menandakan ada orang kedua yang masuk ke dalam kecuali pelayan makanan" kata Bagas masih berniat dilanjutkan lagi,
"itu dia,pelayan itu perlu kita periksa" sambar Doni semangat.
"dia bersih,Sarah sudah memeriksanya.. aku juga sudah selesai dengan pelayan itu"
"emangnya kamu periksa apa tentang dia? jangan bilang dia nulis status di facebooknya 'aku nggak melakukan tindakan jahat pada pelanggan wanita itu' ,terus kamu bilang dia bersih"
"apaan! kamu kira aku amatiran," balas Bagas dengan pandangan seriusnya,siap untuk melemparkan penjelasan yang mengesankan pada rekannya,setidaknya itu yang ditangkap oleh pengamatan Doni.
"nah,terus?" tanya Doni langsung pasang telinga bersiap memeras otaknya.
"denger,ini sedikit saran dariku.. berhenti mendownload aplikasi apapun yang sudah umum dicari di playstore"
"kenapa?"
"karena aku sudah menanamkan virus di sana,setiap device kalian akan membuat area medan senseor berbasis GPS dan bluetooth dengan diameter 1 meter dan lebih dari 3600 titik sensor tersebar rata di seluruh lapisannya"
"...." Doni terdiam menyiapkan kapasitas otaknya untuk mencerna teknik yang baru ia dengar itu.
"device milih pelayan itu memang sempat terdaftar berada berdekatan dengan milik korban,itu artinya mereka memang pernah berada satu ruangan.. tapi medan sensor pada kedua devicenya tidak saling bersentuhan sedetikpun" jelas Bagas.
"artinya mereka tidak pernah saling berdekatan kurang dari 1 meter?" tebak Doni.
"benar.. berdasarkan jam,semua riwayat sensor milik perempuan itu tidak pernah bersentuhan dengan yang lainnya semenjak ia masuk kamar"
"dari mana kamu tau kalau HP pelayan itu selalu dibawa? bisa saja setelah keluar mengantar pesanan,dia meninggalkan HPnya di luar dan kembali masuk kamar tanpa membawanya"
"kalau yang kamu katakan itu benar,maka riwayat lokasi HP pelayan itu akan diam di tempat saja,dan di waktu yang sama sensor di HP korban justru bergerak tak teratur karena kemungkinan korban sedang berusaha mati-matian melawan pelakunya"
"hoh,hebat.. terus gimana kalau pelakunya memberikan HP miliknya pada orang lain,dan HP itu kemudian sepenuhnya tidak hanya diam saja di tempat" balas Doni terus melawan.
"sial,otakmu berkembang juga sejak ikut pelatihan" balas Bagas tersenyum kesal karena penjelasannya dipaksa berlanjut lagi.
"aku nggak bilang ini jelek atau kamu amatir dan sebagainya, tapi mekanisme ini penuh celah.." kata Doni meredam intonasi bicaranya.
"aku tau.. tapi orang normal tidak akan memikirkan sejauh itu,mereka bahkan tidak pernah peduli apakah aplikasi mereka aman dan sebagainya.. dan faktanya korban dan tersangka itu adalah orang normal" balas Bagas ikut tenang.
"memang nggak banyak,tapi ada orang gila yang hidup dengan cara orang normal" kata Doni.
"sialan,kamu nyindir aku" balas Bagas.
"semua anggota divisi 1 memang gila kan" kata Doni.
"kami bukan orang gila... kami nggak waras.. orang sakit" balas Bagas lagi kini sambil membuka laptop di atas mejanya.
"....." sementara Doni masih diam sejenak.
dering notif chat masuk lagi ke HP Bagas,masih dari kakaknya.
[ Jaka ] :
belut itu nggak mungkin masuk ke kerongkongannya,
aku barusan coba dengan benda tiruannya dan gagal.
[ Bagas ] :
aku lebih senang tadi kau berhasil dan mati seperti perempuan itu.
[ Jaka ] :
jangan sia-siain percobaanku,belut seukuran itu nggak mungkin bisa masuk ke perutnya.
[ Bagas ] :
tapi kenyataannya belut itu sudah ada di dalam sana sejak kemarin,bodoh!
[ Jaka ] :
shit! bener juga.
percobaanku sia-sia!
[ Bagas ] :
minum obatnya,ka..
kau udah bikin aku kesel berapa kali pagi ini
[ Jaka ] :
tumben panggil kaka?
[ Bagas ] :
namamu Jaka!
{ jarang-jarang kami bisa chating sepanjang ini.. paling dia lagi ketawa nggak jelas,sial } batin Bagas menaruh HPnya dan menyadari Doni sedang memperhatikan gerak-geriknya dari jauh,maksudnya dari meja kerjanya.
"Jaka?" tanya Doni singkat.
"iya.. dia juga yang bilang rekaman itu palsu" jawab Bagas.
"dan kamu percaya?"
"selagi dia yang bilang,aku akan setuju saja"
"......."
"kita anggap pelakunya memang memalsukan rekamannya dan menyadari adanya program pelacakku.. lalu apa?" tanya Bagas sedang kehabisan akal memikirkannya.
"hacker.. laki-laki yang sepadan denganmu,mungkin juga perempuan.. bisa jadi" jawab Doni memecah fokus Bagas begitu saja.
dipandannya rekan satu ruangannya tersebut tanpa berbicara apa pun padanya,rasanya sebuah beban baru saja muncul di pundaknya.
sesuatu yang ingin ia ungkapkan pada siapa pun.
"aku ngerasa malu bilang seperti ini.. semua data yang orang hapus pada dasarnya masih tetap ada di sana,tapi sekalinya seorang tau cara menghapus data itu sampai ke akarnya.. data itu akan benar-benar hilang"
"......."
"aku tau sekali rasanya.. itulah saat dimana perangkat keras digital 'berbohong'... kamu nggak akan bisa membongkarnya,buntu!" balas Bagas mantap.
sejenak pembicaraan mereka terhenti,keduanya berhenti berbicara dan menyudahi kontak matanya.
"baru kali ini aku muak denganmu" kata Doni tiba-tiba saja.
"......."
"dari kalian berlima,kamu memang orang yang paling payah.. aku nggak pernah percaya hal itu sampai hari ini" lanjutnya.
"teruskan" suruh Bagas.
"Raka punya deduksi dan pengetahuan yang luas,Jessyca selalu bisa menangani pembohong terhebat macam apapun"
"......"
"Karina bisa membolak balikan pikiran dan juga membuatkanmu berbagai macam jenis obat,sedangkan Arya seorang dokter bedah yang profesional"
"............."
"dan kamu menyerah di kasus seperti ini" lanjutnya menyelesaikan perkataannya.
"sialan,udah berapa kali aku kesal sepagi ini!?" balas Bagas terbawa emosi.
"pergi sana! tenangkan pikiranmu dan cepet balik ke sini.." kata Doni tetap sebagai sahabat dekat Bagas sampai di situasi seperti ini pun.
"....."
"kita mulai kasus ini besok lagi,ajak Sarah dan Dimas kalau kamu masih nggak berguna kayak sekarang" kta Doni tidak sedang baik-baik saja mengatakan hal tersebut.
keduanya pun akhirnya meninggalkan kantor secara bergantian,diawali Doni yang langsung pergi menggunakan mobil hitamnya.
kemudian Bagas yang sempat bengong menatap langit-langit ruangannya.
.
.
.
"hei,dari mana saja kau?" sapa Dimas yang memergoki Bagas keluar dari pintu masuk utama bagian depan kantor polisi.
"di ruangan" jawabnya singkat sambil terus berjalan menuju trotoar umum hendak menuju halte bus kota.
"dari tadi kami nunggu,aku dan Sarah langsung pergi ke TKP karena mengiramu sudah ada di sana dengan Doni,ada apa? kau mau kemana?" tanya Dimas beruntun setelah penjelasannya.
"aku ingin mendinginkan pikiranku.. kamu ikut atau nggak terserah,aku nggak bakal melarang" jawab Bagas masih belum mendapatkan kembali moodnya setelah bertengkar dengan Doni.
Dimas yang dari awal bertemu tidak terlihat akrab dengan siapapun,agaknya mencoba memahami situasi rekannya tersebut dan memutuskan untuk ikut bersama.
"kau lagi keingat sama mereka berempat yah?" tanya Dimas polos dan sok akrab saja.
"aku tonjok kau berani mbahas soal ini di jalan" jawab Bagas di awali senyum singkat sebelum mengatakannya.
"aku nggak peduli,aku pernah menjuarai pertandingan gulat bebas melawan orang-orang kuat sewaktu di Amerika" balas Dimas masih mencoba mengajaknya berbicara.
"kau cuma dapat juara 3" tanggap Bagas.
"whut!? dari mana kau tau?" respon Dimas spontan.
"ngomong-ngomong tebakkanmu bisa selalu benar itu rada menjengkelkan" balas Bagas setelah cukup lama diam setelah respon terakhir Dimas.
"hebat juga kupikir," tambahnya.
"kau sendiri apa segitu hebatnya jadi detektif di kantor pusat Amerika?" tanya Bagas masih sambil jalan menyusuri trotoar lurus nan panjang.
"....." Dimas hanya diam membisu lagi.
-- drrrttz..
bunyi HP Bagas yang bergetar di saku celananya karena sebuah panggilan telfon.
"hallo,hallo.." kata Bagas membuka duluan.
"....."
"hari ini nyebelin banget,damn!" gerutunya lagi.
"kamu bareng mereka bertiga juga?" tanya seorang pria bersuara berat yang terdengar samar oleh Dimas dari panggilan telfon yang sedang diterima Bagas.
"aku sama Dimas kebetulan sedang dalam perjalanan ke sana" jawab Bagas yang diteruskan oleh beberapa perbincangan lagi sampai akhirnya telfon tersebut ditutup.
"kemana kita? ada apa barusan?" tanya Dimas ingin tau.
"hotel bintang lima cendana kayu putih,kita naik bus dari sini" jawab Bagas yang berhenti tepat saat sampai di halte terdekat dari kantornya.
keduanya saling diam sembari menunggu bus rute jalur selatan datang.
Namun Dimas nampak ingin membahas beberapa hal di sela waktu kosongnya.
"aku bukan veteran seperti yang mereka kira.. aku seorang amatir yang menghabiskan bertahun-tahun waktuku sebagai anggota divisi pembantu" kata ia dengan tenang tanpa memulai basa-basi apapun,sekilas seperti mempercayai temannya dengan sungguh-sungguh.
"ya ampun,jangan sekarang toh.. pikiranku lagi ruwet gila" balas Bagas tersenyum menghargai pengakuan rekannya.
"kau juga sudah tau kan,sejak pertama?" tanya Dimas.
"antara iya dan tidak, anyway kita buktikan di kasus kali ini" jawab Bagas masih membingungkan di telingan Dimas.
"mayat wanita muda ditemukan membeku di kamar nomor 82 lantai 9 hotel cendana kayu putih" tambah Bagas melengkapi jawaban untuk kebingungan Dimas di awal.
"kau dan aku.. veteran atau amatir,kita buktikan di kasus ini" lanjutnya lagi diikuti datangnya sebuah bus yang mereka tunggu-tunggu.
# masalah menghantamnya bertubi-tubi.
Quote:
pagi sudah bersiap memulai aktivitasnya,begitu pula dengan duo partner yang menginap di ruang kerjanya semalam.
hari minggu yang sewajarnya menjadi kesempatan untuk bermalas-malasan agaknya tidak bisa dimanfaatkan demikian oleh divisi yang satu ini.
lain dengan Doni yang baru bangun dan pergi ke kamar mandi,Bagas dengan bangganya sudah duduk rapih menyantap sarapan pagi berupa 2 bungkus roti gandum dan 1 gelas besar susu vanila instan yang baru ia tuang dari box kemasannya.
"yoh,ada kabar apa sekarang? aku baru mau pergi cari petunjuk lagi" kata Bagas lewat panggilan telfonnya dengan seseorang.
"nggak usah buang tenagamu.. untuk kasus ini,musuhmu bukan lagi seorang idiot atau amatiran" balasnya.
"jadi?" tanya Bagas enteng sambil menggigit roti di tangan kanannya.
"rekaman CCTV kemarin fix palsu.. setiap detail pixelnya dibuat sangat nyata,pengaturan cahayanya juga dicocokkan dengan kondisi suhu ruangan dengan sangat sempurna,semuanya tampak seperti aslinya" jawab lawan bicaranya.
"tunggu duluu.. apa maksudmu 'seperti aslinya' ?" tanya bagas
"well,rekaman itu tampak asli sekali,padahal aku yakin itu hanya animasi semata.."
"jangan karna kamu yakin itu palsu terus kamu bilang rekaman asli itu sebenernya rekaman buatan yang sangat sempurna,sialan!"
"habis mau gimana lagi,aku sudah periksa semalaman dan nyatanya rekaman itu kelihatan asli banget"
"itu emang rekaman asli,brengsek"
-- Tuutt..
{ aaah-ha,aku keceplosan saking enaknya ngomong } batin Bagas pasrah.
yang tak lama kemudian disusul sebuah dering notif chat di HPnya.
[ Jaka ] :
tumbuh dewasa malah membuatmu makin kurang ajar pada kakakmu.
waktu kecil harusnya mati saja dulu.
[ Bagas ] :
kau yang tambah lembek.
minum obatmu cepet sana!
.
.
.
"siap berangkat?" tanya Doni setelah persiapannya selesai.
"nggak jadi,kita udah buntu sampai sini" jawab Bagas.
"kenapa? ada apa?" tanya Doni tidak percaya semangat rekannya tiba-tiba hilang tanpa alasan yang ia ketahui.
"rekaman CCTV mereka palsu, rekayasa digital" jawab Bagas lagi soal pertanyaan Doni.
"kalau gitu ini kasus pembunuhan," tanggap Doni melompat antusias ke kursi kerjanya.
"begitu lah,"
"......"
"perempuan itu berada sendirian di kamar,semua staff tidak memberikan kesaksian palsu yang menandakan ada orang kedua yang masuk ke dalam kecuali pelayan makanan" kata Bagas masih berniat dilanjutkan lagi,
"itu dia,pelayan itu perlu kita periksa" sambar Doni semangat.
"dia bersih,Sarah sudah memeriksanya.. aku juga sudah selesai dengan pelayan itu"
"emangnya kamu periksa apa tentang dia? jangan bilang dia nulis status di facebooknya 'aku nggak melakukan tindakan jahat pada pelanggan wanita itu' ,terus kamu bilang dia bersih"
"apaan! kamu kira aku amatiran," balas Bagas dengan pandangan seriusnya,siap untuk melemparkan penjelasan yang mengesankan pada rekannya,setidaknya itu yang ditangkap oleh pengamatan Doni.
"nah,terus?" tanya Doni langsung pasang telinga bersiap memeras otaknya.
"denger,ini sedikit saran dariku.. berhenti mendownload aplikasi apapun yang sudah umum dicari di playstore"
"kenapa?"
"karena aku sudah menanamkan virus di sana,setiap device kalian akan membuat area medan senseor berbasis GPS dan bluetooth dengan diameter 1 meter dan lebih dari 3600 titik sensor tersebar rata di seluruh lapisannya"
"...." Doni terdiam menyiapkan kapasitas otaknya untuk mencerna teknik yang baru ia dengar itu.
"device milih pelayan itu memang sempat terdaftar berada berdekatan dengan milik korban,itu artinya mereka memang pernah berada satu ruangan.. tapi medan sensor pada kedua devicenya tidak saling bersentuhan sedetikpun" jelas Bagas.
"artinya mereka tidak pernah saling berdekatan kurang dari 1 meter?" tebak Doni.
"benar.. berdasarkan jam,semua riwayat sensor milik perempuan itu tidak pernah bersentuhan dengan yang lainnya semenjak ia masuk kamar"
"dari mana kamu tau kalau HP pelayan itu selalu dibawa? bisa saja setelah keluar mengantar pesanan,dia meninggalkan HPnya di luar dan kembali masuk kamar tanpa membawanya"
"kalau yang kamu katakan itu benar,maka riwayat lokasi HP pelayan itu akan diam di tempat saja,dan di waktu yang sama sensor di HP korban justru bergerak tak teratur karena kemungkinan korban sedang berusaha mati-matian melawan pelakunya"
"hoh,hebat.. terus gimana kalau pelakunya memberikan HP miliknya pada orang lain,dan HP itu kemudian sepenuhnya tidak hanya diam saja di tempat" balas Doni terus melawan.
"sial,otakmu berkembang juga sejak ikut pelatihan" balas Bagas tersenyum kesal karena penjelasannya dipaksa berlanjut lagi.
"aku nggak bilang ini jelek atau kamu amatir dan sebagainya, tapi mekanisme ini penuh celah.." kata Doni meredam intonasi bicaranya.
"aku tau.. tapi orang normal tidak akan memikirkan sejauh itu,mereka bahkan tidak pernah peduli apakah aplikasi mereka aman dan sebagainya.. dan faktanya korban dan tersangka itu adalah orang normal" balas Bagas ikut tenang.
"memang nggak banyak,tapi ada orang gila yang hidup dengan cara orang normal" kata Doni.
"sialan,kamu nyindir aku" balas Bagas.
"semua anggota divisi 1 memang gila kan" kata Doni.
"kami bukan orang gila... kami nggak waras.. orang sakit" balas Bagas lagi kini sambil membuka laptop di atas mejanya.
"....." sementara Doni masih diam sejenak.
dering notif chat masuk lagi ke HP Bagas,masih dari kakaknya.
[ Jaka ] :
belut itu nggak mungkin masuk ke kerongkongannya,
aku barusan coba dengan benda tiruannya dan gagal.
[ Bagas ] :
aku lebih senang tadi kau berhasil dan mati seperti perempuan itu.
[ Jaka ] :
jangan sia-siain percobaanku,belut seukuran itu nggak mungkin bisa masuk ke perutnya.
[ Bagas ] :
tapi kenyataannya belut itu sudah ada di dalam sana sejak kemarin,bodoh!
[ Jaka ] :
shit! bener juga.
percobaanku sia-sia!
[ Bagas ] :
minum obatnya,ka..
kau udah bikin aku kesel berapa kali pagi ini
[ Jaka ] :
tumben panggil kaka?
[ Bagas ] :
namamu Jaka!
{ jarang-jarang kami bisa chating sepanjang ini.. paling dia lagi ketawa nggak jelas,sial } batin Bagas menaruh HPnya dan menyadari Doni sedang memperhatikan gerak-geriknya dari jauh,maksudnya dari meja kerjanya.
"Jaka?" tanya Doni singkat.
"iya.. dia juga yang bilang rekaman itu palsu" jawab Bagas.
"dan kamu percaya?"
"selagi dia yang bilang,aku akan setuju saja"
"......."
"kita anggap pelakunya memang memalsukan rekamannya dan menyadari adanya program pelacakku.. lalu apa?" tanya Bagas sedang kehabisan akal memikirkannya.
"hacker.. laki-laki yang sepadan denganmu,mungkin juga perempuan.. bisa jadi" jawab Doni memecah fokus Bagas begitu saja.
dipandannya rekan satu ruangannya tersebut tanpa berbicara apa pun padanya,rasanya sebuah beban baru saja muncul di pundaknya.
sesuatu yang ingin ia ungkapkan pada siapa pun.
"aku ngerasa malu bilang seperti ini.. semua data yang orang hapus pada dasarnya masih tetap ada di sana,tapi sekalinya seorang tau cara menghapus data itu sampai ke akarnya.. data itu akan benar-benar hilang"
"......."
"aku tau sekali rasanya.. itulah saat dimana perangkat keras digital 'berbohong'... kamu nggak akan bisa membongkarnya,buntu!" balas Bagas mantap.
sejenak pembicaraan mereka terhenti,keduanya berhenti berbicara dan menyudahi kontak matanya.
"baru kali ini aku muak denganmu" kata Doni tiba-tiba saja.
"......."
"dari kalian berlima,kamu memang orang yang paling payah.. aku nggak pernah percaya hal itu sampai hari ini" lanjutnya.
"teruskan" suruh Bagas.
"Raka punya deduksi dan pengetahuan yang luas,Jessyca selalu bisa menangani pembohong terhebat macam apapun"
"......"
"Karina bisa membolak balikan pikiran dan juga membuatkanmu berbagai macam jenis obat,sedangkan Arya seorang dokter bedah yang profesional"
"............."
"dan kamu menyerah di kasus seperti ini" lanjutnya menyelesaikan perkataannya.
"sialan,udah berapa kali aku kesal sepagi ini!?" balas Bagas terbawa emosi.
"pergi sana! tenangkan pikiranmu dan cepet balik ke sini.." kata Doni tetap sebagai sahabat dekat Bagas sampai di situasi seperti ini pun.
"....."
"kita mulai kasus ini besok lagi,ajak Sarah dan Dimas kalau kamu masih nggak berguna kayak sekarang" kta Doni tidak sedang baik-baik saja mengatakan hal tersebut.
keduanya pun akhirnya meninggalkan kantor secara bergantian,diawali Doni yang langsung pergi menggunakan mobil hitamnya.
kemudian Bagas yang sempat bengong menatap langit-langit ruangannya.
.
.
.
"hei,dari mana saja kau?" sapa Dimas yang memergoki Bagas keluar dari pintu masuk utama bagian depan kantor polisi.
"di ruangan" jawabnya singkat sambil terus berjalan menuju trotoar umum hendak menuju halte bus kota.
"dari tadi kami nunggu,aku dan Sarah langsung pergi ke TKP karena mengiramu sudah ada di sana dengan Doni,ada apa? kau mau kemana?" tanya Dimas beruntun setelah penjelasannya.
"aku ingin mendinginkan pikiranku.. kamu ikut atau nggak terserah,aku nggak bakal melarang" jawab Bagas masih belum mendapatkan kembali moodnya setelah bertengkar dengan Doni.
Dimas yang dari awal bertemu tidak terlihat akrab dengan siapapun,agaknya mencoba memahami situasi rekannya tersebut dan memutuskan untuk ikut bersama.
"kau lagi keingat sama mereka berempat yah?" tanya Dimas polos dan sok akrab saja.
"aku tonjok kau berani mbahas soal ini di jalan" jawab Bagas di awali senyum singkat sebelum mengatakannya.
"aku nggak peduli,aku pernah menjuarai pertandingan gulat bebas melawan orang-orang kuat sewaktu di Amerika" balas Dimas masih mencoba mengajaknya berbicara.
"kau cuma dapat juara 3" tanggap Bagas.
"whut!? dari mana kau tau?" respon Dimas spontan.
"ngomong-ngomong tebakkanmu bisa selalu benar itu rada menjengkelkan" balas Bagas setelah cukup lama diam setelah respon terakhir Dimas.
"hebat juga kupikir," tambahnya.
"kau sendiri apa segitu hebatnya jadi detektif di kantor pusat Amerika?" tanya Bagas masih sambil jalan menyusuri trotoar lurus nan panjang.
"....." Dimas hanya diam membisu lagi.
-- drrrttz..
bunyi HP Bagas yang bergetar di saku celananya karena sebuah panggilan telfon.
"hallo,hallo.." kata Bagas membuka duluan.
"....."
"hari ini nyebelin banget,damn!" gerutunya lagi.
"kamu bareng mereka bertiga juga?" tanya seorang pria bersuara berat yang terdengar samar oleh Dimas dari panggilan telfon yang sedang diterima Bagas.
"aku sama Dimas kebetulan sedang dalam perjalanan ke sana" jawab Bagas yang diteruskan oleh beberapa perbincangan lagi sampai akhirnya telfon tersebut ditutup.
"kemana kita? ada apa barusan?" tanya Dimas ingin tau.
"hotel bintang lima cendana kayu putih,kita naik bus dari sini" jawab Bagas yang berhenti tepat saat sampai di halte terdekat dari kantornya.
keduanya saling diam sembari menunggu bus rute jalur selatan datang.
Namun Dimas nampak ingin membahas beberapa hal di sela waktu kosongnya.
"aku bukan veteran seperti yang mereka kira.. aku seorang amatir yang menghabiskan bertahun-tahun waktuku sebagai anggota divisi pembantu" kata ia dengan tenang tanpa memulai basa-basi apapun,sekilas seperti mempercayai temannya dengan sungguh-sungguh.
"ya ampun,jangan sekarang toh.. pikiranku lagi ruwet gila" balas Bagas tersenyum menghargai pengakuan rekannya.
"kau juga sudah tau kan,sejak pertama?" tanya Dimas.
"antara iya dan tidak, anyway kita buktikan di kasus kali ini" jawab Bagas masih membingungkan di telingan Dimas.
"mayat wanita muda ditemukan membeku di kamar nomor 82 lantai 9 hotel cendana kayu putih" tambah Bagas melengkapi jawaban untuk kebingungan Dimas di awal.
"kau dan aku.. veteran atau amatir,kita buktikan di kasus ini" lanjutnya lagi diikuti datangnya sebuah bus yang mereka tunggu-tunggu.
# masalah menghantamnya bertubi-tubi.
khuman memberi reputasi
1




















