Kaskus

News

plonardAvatar border
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
plonardAvatar border
TS
plonard
#237
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed



Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
(Halaman 4)

Komandan-komandan satuan Pasukan Muslim maju ke depan resimen-resimen mereka masing-masing, mereka membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka mengingatkan kepada mereka yang beriman tentang janji surga bagi para syuhada dan ancaman neraka bagi mereka yang pengecut.

Di pagi hari yang dingin, pekan ketiga Desember 632 M (awal Syawwal 11 H), Pertempuran Yamamah dimulai.

Khalid memerintahkan sebuah serangan umum dan semua barisan Muslim maju dengan seruan perang Allahu Akbar. Khalid memmimpin langsung di tengah, Abu Hudzayfah dan Zayd memimpin kedua sayap. Kedua pasukan memulai kecamuk pertarungan dan udara dipenuhi suara-suara keras para prajurit yang saling menyabetkan dan menusukkan senjata mereka. Khalid membunuh setiap musuh yang datang menghampirinya. Para jagoan Muslim mempertunjukkan bakat keberanian mereka dan Khalid merasa bahwa prajuritnya akan dengan segera memecah barisan pasukan kafir.

Namun pasukan kafir bertahan seperti batu. Banyak yang tewas dalam serangan pasukan beriman, tetapi barisan pasukan kafir tidak putus. Para murtad bertempur dengan penuh kefanatikan, mereka lebih memilih mati daripada mundur; dan Pasukan Muslim menyadari dengan sedikit kaget bahwa mereka tidak mendapatkan kemajuan. Setelah beberapa lama waktu dihabiskan dengan serangan yang keras, sedikit ketidakteraturan mulai tampak di barisan Muslim sebagai hasil dari gerakan mereka maju ke arah musuh dan dalam upaya mereka untuk menusuk barisan depan pasukan kafir. Tetapi hal ini tidak menjadi perhatian khusus. Selama mereka tetap dalam fase menyerang dan musuh dalam fase bertahan, sedikit ketidakteraturan bukanlah sebuah masalah.

Kemudian Musaylimah menyadari bahwa jika ia tetap bertahan, peluang pasukan Muslim untuk menembus barisan mereka semakin meningkat. Ia memerintahkan serangan balik di semua baris depan. Pasukan murtad maju seperti air bah dan Pasukan Muslim pun ditekan mundur. Pertarungan semakin keras ketika mereka berupaya sekuat tenaga untuk membendung gerakan maju pasukan murtad. Pasukan murtad harus membayar mahal dengan darah yang tertumpah di setiap meter tanah yang mereka rebut. Tetapi karena mereka diperkuat oleh keyakinan mereka pada janji Sang Pendusta bahwa surga juga menunggu mereka yang tewas, mereka pun tetap maju menyerang. Beberapa lokasi di resimen Muslim mulai menunjukkan berkurangnya kerapihan barisan karena bercampurnya pasukan dari berbagai suku membuat mereka belum terbiasa untuk bertarung berdampingan.

Sedikit demi sedikit, keunggulan jumlah pasukan murtad mulai menunjukkan hasil. Mereka bertempur dalam barisan yang lebih tebal melawan barisan Pasukan Muslim yang lebih tipis. Mereka mulai meningkatkan tekanan serangan. Pasukan Muslim mulai mundur dengan teratur. Kemudian, mereka mundur lebih cepat lagi. Serangan pasukan murtad semakin tegas dan kemunduran Pasukan Muslim berubah menjadi gerakan mundur yang kacau. Beberapa resimen berbalik dan melarikan diri, resimen lainnya juga mengikuti dan menyebabkan Pasukan Muslim secara umum meninggalkan medan pertempuran. Para komandan satuan tidak bisa menghentikan anggota mereka dan mereka pun ikut tersapu dengan gelombang mundurnya para prajurit. Tentara Muslim mundur sampai melewati perkemahan mereka dan terus mundur sampai berhenti agak jauh dari sana.

Ketika Pasukan Muslim meninggalkan dataran Aqraba`, pasukan murtad melakukan pengejaran. Manuver ini tidak direncanakan, tetapi merupakan sebuah reaksi naluriyah, seperti halnya reaksi Pasukan Muslim kepada Pasukan Quraysy pada fase pertama Pertempuran Uhud di masa lalu. Den seperti Pasukan Muslim saat itu, pasukan murtad berhenti di perkemahan musuh dan mulai memungut harta rampasan perang. Lagi-lagi seperti halnya pada Pertempuran Uhud, terhentinya musuh dalam proses ini memberi waktu bagi Khalid untuk mempersiapkan dan melancarkan serangan balasan. Bahkan lebih dari itu nantinya.

Di perkemahan Muslim, berdiri juga kemah Khalid dan di dalamnya, duduklah istri barunya, Layla, dan tawanannya, Muja’ah, yang masih diikat. Sejumlah kecil prajurit kafir yang terdorong dengan kesuksesan awal dan bersemangat dengan pikiran akan mendapat banyak harta rampasan perang, masuk ke dalam tenda Khalid. Mereka melihat dan mengenali Muja’ah. Mereka juga melihat Layla dan bermaksud untuk membunuhnya, tetapi ditahan oleh Muja’ah, pemimpin mereka, “Aku adalah pelindungnya. Bunuhlah para laki-laki!”[1] Dalam keterburu-buruan mereka untuk mengambil harta rampasan perang, prajurit kafir ini pun tidak sempat untuk membebaskan pemimpin mereka itu.

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 51.


____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Dalam beberapa saat, penghancuran kemah terjadi begitu cepat karena para prajurit kafir mengambil apa saja yang bisa mereka bawa dan menghancurkan yang tidak bisa mereka bawa. Mereka menyobek-nyobek kain-kain tenda. Dan secepat itu mereka memulai, secepat itu pula penjarahan ini berakhir. Pasukan murtad dengan segera kembali ke dataran Aqraba` karena di selatan, mereka sudah melihat bahwa Pasukan Muslim telah kembali berbaris rapi dan bergerak maju untuk kembali ke medan pertempuran.

Secara menakjubkan, ketika mereka berhenti untuk menarik napas dan memikirkan tentang apa yang telah terjadi, tidak ada sedikitpun rasa takut dalam hati Pasukan Muslim. Perasaan yang muncul justru rasa marah terhadap kekacauan barisan mereka sendiri dan proses bagaimana mereka mundur dari medan pertempuran. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? Mereka secara kasat mata telah menyebabkan pukulan lebih telak kepada musuh daripada pukulan yang mereka terima.

Keberanian mereka tetap membara, tetapi mereka juga penasaran. Kekesalan mereka dikeluarkan dengan saling menuduh antar suku: satu suku terhadap satu suku, satu klan terhadap satu klan, penduduk kota terhadap badui nomaden. Mereka menyalahkan satu sama lain. Penduduk kota berkata, “Kami lebih paham tentang perang daripada kalian.” Badui penghuni gurun menjawab, “Tidak, kami lebih paham.” Intensitas keributan meningkat, “Ayo kita berkelompok berdasarkan masing-masing suku. Akan kita lihat siapa yang bisa mempertahankan kehormatannya.”[1]

Khalid sudah bisa melihat apa yang salah. Barisan depan pasukan murtad bisa menahan serangan Pasukan Muslim. Terlebih lagi, pasukan murtad melancarkan serangan balik ketika Pasukan Muslim mulai kehilangan kerapihan barisannya. Pasukan Muslim kehilangan keseimbangan mereka dan dalam tekanan serangan balik, mereka tidak mampu mengembalikan keseimbangan tersebut. Penyebab hal ini bukanlah keberanian mereka yang kurang.

Khalid juga mengevaluasi bahwa membentuk resimen dari campuran berbagai suku adalah sebuah kesalahan karena perasaan kesukuan masih sangat kuat di antara orang Arab. Hal ini justru memberikan tambahan kekuatan bagi keunikan yang sudah dimiliki Tentara Muslim, yaitu semangat Islam, keberanian, dan bakat individu. Dalam menghadapi musuh yang unggul jumlah satu banding tiga serta memiliki fanatisme pada Musaylimah, hilangnya loyalitas kesukuan dari Pasukan Muslim melemahkan kesatuan resimen-resimen Muslim.

Khalid memperbaiki kesalahan ini dan mengelompokkan ulang pasukannya. Ia menyusun pasukan dalam formasi yang masih sama dengan komandan yang sama pula, tetapi prajurit-prajuritnya sekarang dibentuk dalam unit-unik klan dan suku. Jadi, setiap prajurit akan bertempur bukan hanya untuk Islam, tetapi juga untuk kehormatan klannya. Dengan ini, akan muncul persaingan sehat antar klan.

Setelah reorganisasi selesai, Khalid dan komandan-komandan seniornya kembali maju ke resimen masing-masing dan berpidato untuk menguatkan kembali niat mereka untuk menghukum Musaylimah setelah hal memalukan yang mereka alami. Para prajurit bersumpah bahwa jika memang diperlukan, mereka akan bertempur dengan gigi mereka.

Khalid juga mengumpulkan sejumlah kecil prajurit dan membentuknya menjadi pasukan penjaga pribadinya. Tujuannya tidak lain bahwa ia akan memberi contoh kepada para pasukannya dengan turun langsung bertarung di medan pertempuran. Pasukan penjaga kecilnya ini nantinya akan sangat berguna. “Tetaplah berada di belakangku,” perintahnya kepada mereka.

Pasukan Muslim yang telah disusun ulang kembali maju dengan barisan yang rapi ke dataran Aqraba`. Mereka kembali dalam pertempuran tidak seperti singa biasa, tetapi seperti singa yang lapar!

Sementara itu, Musaylimah menyusun kembali barisan pasukannya dalam formasi yang sama seperti sebelumnya. Ia menunggu pukulan kedua dari Pedang Allah dengan percaya diri bahwa ia kembali mengusir Pasukan Muslim dari medan pertempuran.

Di bawah perintah Khalid, Pasukan Muslim menyerang dengan seruan Allahu Akbar dan Ya Muhammad[2]. Pasukan Muslim yang lebih sedikit mulai melakukan kontak fisik dengan pasukan murtad yang lebih besar. Sayap bertemu dengan sayap dan tengah bertemu dengan tengah. Komandan sayap kanan Muslim, Zayd, bertemu langsung dengan Rajjal si pengkhianat yang memimpin sayap kiri pasukan kafir. Karena masih berharap menyelamatkan teman lamanya dari api neraka, Zayd memanggilnya, “Wahai Rajjal! Engkau telah meninggalkan agama yang benar. Kembalilah padanya. Itu jauh lebih mulia dan baik bagimu.”[3] Si pengkhianat menolak dan dalam duel sengit setelahnya, Zayd mengantarnya ke neraka.

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 513.
[2] Ada kesalahpahaman di sini. Slogan yang sebenarnya adalah “Ya Muhammadah! (Untuk Muhammad!)”, bukan “Ya Muhammad! (Wahai Muhammad!)”. Ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Vol. 6, hlm. 397. Seruan ini sama seperti halnya “Ya Islamah! (Untuk Islam!)”. Kata “ya” adalah penguat, bukanlah sebuah bentuk doa seperti dalam pernyataan nabi (saw), “Ya tuba lisy Syam!” (“Semoga ada sukacita bagi Syam!”), dan hal ini dikonfirmasi dengan akhiran “ah”. Para sahabat (nabi-pent) paham bahwa mereka tidak mungkin berdoa kepada nabi (saw)!
[3] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 511.


____________________________________________________________________________
(Halaman 6)

Pasukan Muslim melancarkan serangan brutal disepanjang front dan pasukan murtad menahan mereka sekuat tenaga. Barisan mereka tidak juga putus. Ratusan pasukan murtad tewas dan korban di pihak Muslim juga mulai meningkat. Dengan keunggulan jumlah pasukan murtad dan keunggulan keterampilan-keberanian Pasukan Muslim, kedua pihak bertempur dengan imbang. Baris depan kedua pihak terkunci dalam pertarungan hidup mati, saling menekan dan tertekan. Debu beterbangan akibat jejakan ribuan kaki, menggantung di udara seperti awan di atas kepala para pasukan. Pedang-pedang dan tombak-tombak yang patah, berserakan di wadi dan medan pertempuran, demikian juga dengan tubuh-tubuh yang terkoyak dan terpotong menumpuk di atas tanah yang basah dengan darah. Pemandangan paling mengerikan tampak di sungai kecil yang mulai mengalirkan darah manusia dan bermuara ke wadi. Sebagai akibatnya, sungai kecil ini dikenal dengan nama Sungai Darah, Syu’aybud Dam, dan sampai sekarang, masih dikenal dengan nama tersebut. Namun pertempuran masih berjalan imbang dan tidak menunjukkan akan berakhir dengan kemenangan pasukan tertentu.

Khalid mulai memahami bahwa dengan keyakinan fanatik pada nabi palsu mereka, para murtad ini tidak akan menyerah. Sangat jelas, hanya kematian Musaylimah yang dapat mematikan semangat pasukan kafir. Patahnya semangat mereka akan dengan cepat berubah menjadi kekalahan fisik. Tetapi Musaylimah tidak terjun langsung dalam kontak senjata, tidak seperti Khalid. Ia harus dipancing keluar dari zona aman di belakang barisan pasukan murtad, ia berdiri dikelilingi oleh para pengikut setianya.

Ketika ketegangan dalam pertempuran brutal itu menurun, para prajurit mulai menarik napas kembali. Pertarungan reda sementara. Kemudian Khalid maju ke arah bagian tengah musuh dan melemparkan tantangan untuk berduel, “Aku anak Al-Walid! Ada yang berani berduel denganku?” Sejumlah jagoan keluar dari barisan pasukan murtad untuk menyambut tantangan ini. Khalid mungkin hanya menghabiskan satu menit untuk membunuh masing-masing penantang. Setiap setelah selesai berduel, ia selalu membacakan sya’irnya sendiri,

“Aku adalah anak dari para bangsawan.
Pedangku tajam dan mengerikan.
Pedang ini adalah benda paling perkasa,
ketika perang mendidih dengan ganas.”[1]

Sedikit demi sedikit, Khalid maju ke arah Musaylimah, membunuh jagoan musuh satu demi satu. Sampai akhirnya tidak ada lagi yang berani maju untuk melawannya. Namun ia sudah cukup dekat dengan Musaylimah untuk berbicara dengannya tanpa berteriak. Sang Pendusta masih dikelilingi para penjaganya dan Khalid tidak bisa mendekatinya.

Khalid mengajaknya berbicara. Musaylima menanggapinya. Ia maju dengan hati-hati dan berhenti di luar jangkauan duel. “Jika kita bernegosiasi, syarat apa yang akan kau terima!”[2] tanya Khalid.

Musaylimah menelengkan kepalanya ke salah satu sisi seolah-olah ia mendengarkan bisikan seseorang yang tidak kelihatan berdiri di sampingnya, ia terlihat juga berbicara sendiri. Seperti itulah ia “menerima wahyu”! Melihat kelakuannya itu, Khalid teringat pada perkataan nabi yang mulia bahwa Musaylimah tidak pernah sendiri, selalu ada Setan di sampingnya. Ia tidak akan pernah menentang perintah Setan dan dalam percakapannya, biasanya liur berbusa akan berkumpul di bibirnya. Setan melarang Musaylimah untuk menyepakati syarat apapun, dan Sang Pendusta kemudian menoleh kepada Khalid sambil menggelengkan kepala.

Khalid memutuskan untuk membunuh Musaylimah. Ajakan bicara hanyalah umpan untuk memancingnya keluar dan mendekat. Khalid harus bekerja cepat sebelum Musaylimah mundur ke lokasi aman bersama para penjaganya. Lagi-lagi, Musaylimah menelengkan kepalanya untuk mendengarkan “suara”. Di saat itu juga, Khalid melompat ke arahnya.

Khalid cukup cepat. Tetapi Musaylimah lebih cepat. Dalam sekejap, ia berbalik arah dan melarikan diri kembali ke zona aman!

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 513.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.