- Beranda
- Stories from the Heart
Tanaka, Aku Padamu!!!
...
TS
Wah Cantiknya
Tanaka, Aku Padamu!!!
Quote:
WARNING!!!Cerita yang ada dalam thread ini adalah fiksi semua. Jadi gue saranin supaya kalian bacanya jangan terlalu baper.

Kalo gag sibuk, cerita bisa TS update setiap hari, kalo sibuk ya minimal seminggu sekali insya Allah update.




RULES :
JANGAN NGEFLAME!
JANGAN NGEFLAME!
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Wah Cantiknya 08-02-2017 21:50
anasabila memberi reputasi
1
16.7K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Wah Cantiknya
#74
Ingatan yang menyakitkan
Quote:
Syukurlah Ayu kembali dalam keadaan selamat. Ini kabar baik untuk Kakek dan Nenek. Sepulang dari Garut, Ayu dan Tanaka segera berpisah. Ayu kembali kerumahnya dan Tanaka kembali ke hotel.
Baru saja menginjakkan kakinya dihotel, Tanaka sudah mendapatkan panggilan telepon lagi. Dari siapa lagi kalau bukan dari Bos Besar yang juga Ayah angkatnya.
Quote:
Bos : Tanaka, aku minta besok lusa kau mulai jalankan misi ini. Kau sudah bertemu dengan dani kan?
Tanaka : Iya sudah, pak.
Bos : Ikuti semua, arahan darinya. Jangan ada yg berbeda dari petunjuknya. Mengerti?
Tanaka : Ya, saya mengerti.
Bos : Baiklah. Kalau begitu lebih baik kau sekarang istirahat. Siapkan staminamu untuk menjalankan misi esok lusa. Ingat, ini bukan misi biasa.
Tanaka : Saya mengerti, pak. Saya, akan lakukan semua sesuai dengan yg anda inginkan.
Bos : Bagus. Kalau begitu selamat beristirahat.
Tanaka : Selamat malam.
(Pembicaraan berakhir)
Tanaka : Iya sudah, pak.
Bos : Ikuti semua, arahan darinya. Jangan ada yg berbeda dari petunjuknya. Mengerti?
Tanaka : Ya, saya mengerti.
Bos : Baiklah. Kalau begitu lebih baik kau sekarang istirahat. Siapkan staminamu untuk menjalankan misi esok lusa. Ingat, ini bukan misi biasa.
Tanaka : Saya mengerti, pak. Saya, akan lakukan semua sesuai dengan yg anda inginkan.
Bos : Bagus. Kalau begitu selamat beristirahat.
Tanaka : Selamat malam.
(Pembicaraan berakhir)
Tanaka membaringkan tubuhnya dikasur. Terdiam menatap langit2 kamar. Ruangan mewah itu terasa sepi dan hampa, berbeda jika ada Ayu. Pasti ramai dan penuh tawa. Ah, apa Tanaka sedang memikirkan Ayu!?
Pria itu hanya bisa mengeluh pendek. Kenapa sepertinya pikirannya tak bisa lepas dari Ayu? Padahal ia yakin, ia tidak memiliki perasaan khusus pada Ayu, hanya perasaan bersalah karena sudah melibatkan Ayu dalam urusannya. Ya, hanya itu. Tidak boleh lebih.
Lagi2 sakit kepala itu menyerang, membuat Tanaka kesakitan. Dibenaknya tiba2 muncul memori yg menyakitkan.
Quote:
Dalam memorinya Tanaka kecil bergelantung dijurang yg dibawahnya terdapat aliran sungai yg deras. Ia berpegangan pada seorang gadis kecil yg kelihatan panik. Wajah mereka buram. Tanaka sendiri tidak tahu apakah itu dirinya dan siapa gadis kecil itu.
“pergilah cari bantuan! Aku akan tunggu ditepi sungai. “
“pergilah cari bantuan! Aku akan tunggu ditepi sungai. “
Ingatan ini membuatnya kesakitan. Ia ingin melupakannya.
“Arrghhh…”
Tanaka bangkit dari tempat tidur, berjalan terhuyung2 mengambil obat nya dari dalam tas.
Setelah minum obat barulah keadannya membaik. Memori itupun hilang, membuatnya merasa lebih baik untuk sesaat.
“Ada apa denganku? Aku sakit apa?” Pikir Tanaka heran.
Terbersit kembali kenangan saat ia masih berumur belasan dulu.
Quote:
Tanaka dipanggil masuk keruangan bos besar. Tadi malam ia merasakan sakit yg luar biasa dikepalanya. Bapak (panggilan Tanaka untuk bos besar) langsung membawanya kerumah sakit saat itu juga. Paginya, Tanaka dipanggil untuk menghadap.
“Tanaka, bagaimana kepalamu? Apa masih sakit?” Tanya bos besar.
Tanaka menggeleng pelan. “Tidak terlalu, pak. Sudah sedikit membaik.”
Bos besar tertawa sambil menepuk2 pundak Tanaka. “Itu hebat. Kau memang anak yg kuat. Ini, obat untukmu, simpanlah.” Bos besar memberikan botol kecil yg berisi pil.
Tanaka tanpa banyak bertanya mengambil botol itu.
“Dengarkan aku, Tanaka. Kalau kepalamu terasa sakit lagi, segeralah minum obaat ini. Jangan sampai obat ini tertinggal. Kalau obat ini habis, segeralah lapor padaku, agar aku bisa menggantinya dengan yg baru.”
“Ya pak, saya mengerti.” Tanaka mengangguk.
Begitulah Tanaka. Sejak dulu ia selalu patuh dengan semua perkataan bos besar. Tidak pernah bertanya, hanya mengiyakan. Apapun yg keluar dari mulut bos adalah perintah baginya. Baginya bos besar lebih dari seorang ayah angkat, tapi juga penyelamat hidup Tanaka yg tidak tahu siapa orang tuanya, bagaimana masa lalunya (baca:lupa).
Sejak pertama kali bertemu bos besar, Tanaka sudah bertekad untuk menuruti semua perintah bos besar, tanpa banyak bertanya, tanpa protes, hanya mengiyakan semua titah pemimpin dari kelompok besar di Singapur ini. Semua itu dilakukan untuk membalas Budi kepada bos besar yg sudah menolongnya.
“Tanaka, bagaimana kepalamu? Apa masih sakit?” Tanya bos besar.
Tanaka menggeleng pelan. “Tidak terlalu, pak. Sudah sedikit membaik.”
Bos besar tertawa sambil menepuk2 pundak Tanaka. “Itu hebat. Kau memang anak yg kuat. Ini, obat untukmu, simpanlah.” Bos besar memberikan botol kecil yg berisi pil.
Tanaka tanpa banyak bertanya mengambil botol itu.
“Dengarkan aku, Tanaka. Kalau kepalamu terasa sakit lagi, segeralah minum obaat ini. Jangan sampai obat ini tertinggal. Kalau obat ini habis, segeralah lapor padaku, agar aku bisa menggantinya dengan yg baru.”
“Ya pak, saya mengerti.” Tanaka mengangguk.
Begitulah Tanaka. Sejak dulu ia selalu patuh dengan semua perkataan bos besar. Tidak pernah bertanya, hanya mengiyakan. Apapun yg keluar dari mulut bos adalah perintah baginya. Baginya bos besar lebih dari seorang ayah angkat, tapi juga penyelamat hidup Tanaka yg tidak tahu siapa orang tuanya, bagaimana masa lalunya (baca:lupa).
Sejak pertama kali bertemu bos besar, Tanaka sudah bertekad untuk menuruti semua perintah bos besar, tanpa banyak bertanya, tanpa protes, hanya mengiyakan semua titah pemimpin dari kelompok besar di Singapur ini. Semua itu dilakukan untuk membalas Budi kepada bos besar yg sudah menolongnya.
“Kenapa selalu bayangan itu yg muncul? Merekaa siapa?” Kata Tanaka agak frustasi memikirkan memori yg sering menyerangnya tadi.
Untunglah hal itu tidak berlangsung lama, karena ponsel Tanaka kembali berdering menandakan panggilan masuk. Dari nomor Ayunda. Sesaat Tanaka terlihat senang. Tapi…
“ Halo.. Tanaka?” Kata Kakek dari seberang sana.
Wajah Tanaka kembali datar setelah mendengar suara kakek. Wkkwwkkk.
“Ah, iya kek. Ada apa?”
“Datanglah besok siang kerumah. Kakek dan nenek ingin mengadakan syukuran kecil2an untuk kepulangan Ayu.”
“Oh.. Iya, kek. Saya akan usahakan datang besok.”
“Baiklah kalo begitu. Sampai jumpa besok.”
Kakek mengakhiri pembicaraan. Suasana kembali sepi. Hatinya kembali kacau memikirkan ingatan yg membuatnya sakit tadi. Dari pada terus menerus memikirkan hal yg membuatnya sakit, Tanaka memilih untuk pergi keluar untuk jalan2 menghirup udara malam dikota Bogor.
Tanaka seperti biasa berkendara dengan motornya, tapi kali ini dalam kecepatan rendah, karna ia sedang tidak Buru2. Tapi, sejak keluar dari hotel tadi Tanaka merasa dibuntuti oleh seseorang. Awalnya ia tidak terlalu curiga karna merasa itu hanya kebetulan.
Tapi setelah jauh melaju, orang dibelakangnya yg juga mengendarai motor ninja, masih ada dibelakangnya. Tanaka, sangat yakin ia sedang diikuti. Iapun dengan sangat tiba2 melakukan rem mendadak. Membuat orang yg membuntutinya kaget dan motornya terguling kekiri.
Tanaka turun membuka helm. Wajahnya terlihat gahar. Tanaka mencengkram jaket pria itu.
“Siapa kau!? Katakan!”
Pria itu tak menjawab. Tanaka berusaha membuka helm si pria bertubuh jangkung itu, tapi pria itu dengan cepat menangkisnya dan melepaskan diri dari cengkraman Tanaka. Tanpa pikir panjang pria itupun Buru2 kabur dari sana dengan mengendarai motornya dalam kecepatan tinggi.
“Siapa dia?” Kata Tanaka berpikir keras. Orang itu jelas2 sedang membuntutinya.
“Pasti ulah Edrick.” Ucap Tanaka yakin
Diubah oleh Wah Cantiknya 31-07-2016 21:36
0
Kutip
Balas