- Beranda
- Stories from the Heart
SAYUR ASEM RASA GULALI
...
TS
spv7hqfj
SAYUR ASEM RASA GULALI
Ini adalah Sequel cerita 'Aku dan Gadis Lugu'.
Saya mencoba untuk merubah gaya bahasa dan sudut pandang penulisan agar lebih enak dibaca dan lebih mudah dipahami. Mohon maaf karena cerita sebelumnya sangatlah KENTANGuntuk anda semua. Sedikit demi sedikit akan saya jelaskan di cerita ini.
biasakan Baca dulu baru komentar ya
Selamat menikmati.
Saya mencoba untuk merubah gaya bahasa dan sudut pandang penulisan agar lebih enak dibaca dan lebih mudah dipahami. Mohon maaf karena cerita sebelumnya sangatlah KENTANGuntuk anda semua. Sedikit demi sedikit akan saya jelaskan di cerita ini.
biasakan Baca dulu baru komentar ya

Selamat menikmati.
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh spv7hqfj 11-08-2016 10:36
tien212700 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
11.8K
69
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#2
Eps 1 - Bangun Pagi
Backsound yang disarankan : C.U.T.S – Beringas
Suara alarm handphone di pagi hari, lebih tepatnya jam sebelas pagi memaksa Tobi untuk bangun lebih cepat dari biasanya. Bagi Tobi, waktu jam yang menunjukkan angka sebelas hanya ada dua. Jam sebelas pagi dan jam sebelas malam. Tidak ada yang namanya jam sebelas siang. Bingung? Sama saya juga bingung.
Dentuman musik keras dari band indie asal bandung itu berhasil membuat mimpi indah yang sedang ia nikmati terpaksa bersambung, dilanjut esok hari. Setelah berhasil mematikan alarm dengan susah payah karena matanya tak kunjung membuka sempurna, Tobi bergegas ke kamar mandi untuk sekedar melakukan ritual sehari-harinya yakni, berak sambil ngerokok.
Bentuk jamban original alias jongkok memang lebih ia sukai ketimbang model kloset duduk yang sekarang sedang tenar bak artis luar negeri yang mendapat piala Oscar. Alasannya sederhana, tai jadi bisa lebih mudah untuk keluar karena posisi lubang anus yang tidak terjepit oleh gumpalan lemak di kiri dan kanannya atau yang biasa disebut pantat. Pernah sekali ia buang air besar di kloset duduk, hampir setengah jam tai tak kunjung keluar. Alhasil, Tobi yang frustasi karena tidak bisa berak memutuskan untuk mengubah posisinya menjadi jongkok di atas kloset duduk. Anti mainstream pikirnya. Sejak saat itu, dia tidak mau lagi berak di Closet duduk. “Tempat macam apa ini!!” Bentaknya sambil menunjuk-nunjuk kearah Kloset duduk.
Sepuluh menit berlalu. Entah sudah berapa buah tai yang keluar dari mesin penggiling alami alias perut Tobi. Kepulan asap rokok yang ia hisap sudah memenuhi seisi ruang kamar mandi, menandakan bahwa Tobi harus menyudahi ritual pagi. Maklum saja, di kamar mandinya tidak ada ventilasi udara. Rumah kontrakan minimalis nomor 11 di daerah Tangerang Selatan adalah tempat tinggalnya. Sedikit jauh dari keramaian kota menurutnya adalah pilihan yang tepat. Tobi lebih menyukai suasanya pedesaan. Pepohonan masih banyak yang tumbuh dengan kokoh disekelilingnya, orang-orang yang ramah, udara yang sejuk dan jauh dari polusi, serta kesunyian disaat malam.
Bagi Tobi, malam hari adalah waktu yang pas baginya untuk bekerja karena kesunyian dan hawa malam yang terasa nikmat di sekujur tubuh membuat pikirannya menjadi lebih jernih. Itulah alasan mengapa ia selalu bangun jam sebelas pagi. Iya, jam sebelas pagi.
“Ahhh puas.” Batinnya sambil cebok. Bagi Tobi,, Buang air besar mempunyai nilai kenikmatan yang luar biasa. Perut mulas, tiba-tiba saluran pecernaan seperti mendapatkan tekanan yang luar biasa dan seakan-akan ingin mengeluarkan sesuatu yang spesial. Bibir anus sudah kembang kempis karena efek tekanan tersebut. Dan setelah berusaha keras akhirnya sesuatu itu keluar. Nikmat sekali. Dia bersyukur memiliki lubang pantat yang masih perawan. Tidak seperti kebanyakan Bencong yang setiap tengah malam mangkal di bawah jembatan penyebrangan depan kantor Telkom BSD City.
Setelah memakai celana kolornya kembali, Tobi berjalan melangkah kearah depan kontrakan sambil tangan kanannya masuk kedalam celananya tersebut dan sesekali menggaruk sesuatu.
“woy jam berapa ini?” sapa seorang bapak-bapak penggila burung yang setiap hari menghiasi telinga Tobi. Tobi hanya nyengir kuda kearahnya. Panggil saja Pak Burhan.
Pak Burhan ini adalah seorang pengangguran yang sangat menggilai dunia perburungan. Pernah ia jauh-jauh pergi ke Semarang hanya untuk mengikuti lomba kicauan burung. Ekspetasi yang luar biasa bahwa dirinya akan menang ternyata tidak sesuai dengan realita. Yang ada malah kasian burungnya karena hampir setiap hari harus dipaksa berkicau. Kalau tidak mau berkicau, bersiaplah untuk tidak dapat jatah makan selama tiga hari.
Pak Burhan juga termasuk dalam kategori STI alias Suami Takut Istri. Pernah sekali Tobi melihat Pak Burhan sedang dimarahi oleh istrinya. Dengan segala perabotan rumah tangga berterbangan di sekitar TKP karena ia ketahuan selingkuh dengan janda beranak tiga kampung sebelah.
“jangan keseringan begadang Bon, nggak baik buat kesehatan.” Ujar Pak Tobi. Pak Burhan tahu betul apa yang setiap malam Tobi kerjakan. Tobi selalu saja sibuk didepan Laptopnya untuk membuat sebuah Cheat Game. Lalu keesokan harinya dijual kebeberapa kenalannya.
Lagi-lagi Tobi hanya mendengar ocehan Pak Burhan tanpa menanggapinya. Memilih untuk duduk di teras kontrakan sambil melamun mengumpulkan nyawanya yang sebagian masih berada di alam mimpi. Tak lama ia berdiri lagi dan berjalan kearah Pak Burhan yang sedang duduk di sebuah kursi yang berada di bawah pohon mangga.
Tobi mengambil sebatang rokok milik Pak Burhan lalu berniat menyalakannya. Ia melihat sekeliling tetapi tidak ada korek di sekitarnya.
“korek korek.” Ucap Tobi kepada Pak Burhan sambil memperagakan orang yang sedang menyalakan korek gas.
“ahhh gak modal Lu!” kata Pak Burhan lalu ia mengeluarkan korek gas dari saku celananya.
Kepulan asap rokok Djarum Super keluar dari mulut Tobi. Tak lupa setelahnya dengan sigap ia menyelipkan korek tersebut ke celana kolornya.
“mandi dulu ah.” Ujar Tobi sambil mengepulkan asap. Beranjak lagi dari tempatnya dan berjalan masuk kedalam rumah kontrakan.
Tobi langsung menuju ke kamar mandi. Tak lupa sebelum itu ia sudah mengambil handuk yang sedang di jemur di depan kontrakan. Baru saja ia menyalakan air kran, samar-samar terdengar teriakan dari arah luar. “Tobiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, korek gue manaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!”
-SAYUR ASEM RASA GULALI-
Backsound yang disarankan : Closehead – Selamat Pagi Terang
Pakaian terbilang ala kadarnya. Kaos regan warna putih yang belum digosok, celana jeans pendek selutut yang sedikit robek, sendal jepit legendaris warna putih biru merk Swallow dan tas selempang kecil menjadi penampilan sehari-hari Tobi. Siang ini ia pergi untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Tobi biasa menyebut dengan istilah Bisnis Toge.
Panas terik sinar matahari menyinari jalanan yang dilalui Tobi. Tampak dari kaca spion Vespa-nya segerombol pemuda yang berkendara di belakangnya. Jalan yang ramai membuat lajunya terhambat. Acap kali ia harus menarik tuas gas lebih dalam saat melewati jalan yang sedikit menanjak. Membuat kepulan asap knalpot motor Vespa bututnya yang menghalangi pandangan pengendara lain di belakang Tobi.
“Anjing lu.” Kata-kata itu terdengar saat kepulan asap mengenai pengendara yang berada tepat dibelakang Tobi. Ia tidak menghiraukan, malah oper gigi dan tancap gas menambah kecepatan. Tobi menyempatkan diri menoleh kebelakang lalu mengacungkan jari tengah kearah orang yang bilang “anjing” pada mereka.
Tobi tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan genk Akamsi alias Anak Kampung Sini.
“berhenti Lu!” bentak seorang pengendara yang tiba-tiba berhenti tepat di depan Tobi. Dengan santainya Tobi berhenti dan membuka kaca helmnya. “Apaan?” tanya Tobi tak kalah garang.
Seorang pengendara lainnya yang juga termasuk dalam genk tiba-tiba memukul wajah Tobi tepat di hidung. Tobi tersungkur jatuh dari Vespanya. Tobi yang tidak terima langsung berdiri dan membalas pukulan. Adu jotos pun tak terelakan. Tiga lawan satu. Jelas Tobi kalah. Hanya butuh waktu lima menit untuk membuat Tobi tersungkur kembali. Ia hanya meringkuk melindungi kepalanya dengan kedua tangan untuk menghindari hantaman lawan. Setelah puas mengeroyok Tobi, tiga orang genk Akamsi pun pergi. Tak lupa mereka meludahi tubuh Tobi yang tersungkur di pinggir aspal. Sementara itu orang disekeliling hanya melihat kejadian tersebut tanpa berusaha merelai entah karena takut atau apa.
Tobi dengan susah payah berusaha berdiri. Tak lupa ia berteriak kearah tiga pemuda tadi yang sudah terlihat jauh. “Banci lu semua!”
Sekujur tubuh Tobi penuh dengan bekas pukulan. Baju dan Celananya pun kotor karena tersungkur di tanah pinggir jalan. Dengan susah payah ia berusaha berdiri dan mengendarai kembali Vespanya. Tak lupa ia menyempatkan diri menyalakan sebatang rokok dan memakai kacamata hitam ala Bon Jovi yang ia ambil dari tas kecilnya.
“lanjut bos!” pekik Tobi lalu melaju menembuh ramainya penghuni Tangerang Selatan.
-SAYUR ASEM RASA GULALI¬-
Backsound yang disarankan : Rocket Rockers – Malam Satu Suro, Sleepin’ Dogs Lie
Langit yang sedari tadi terlihat cerah tiba-tiba berubah menjadi kelabu setelah Tobi men-standar-kan motornya di depan sebuah Ruko di daerah kota Tangerang Selatan. Lebih tepatnya BSD City.
“Cuaca tahun ini udah kayak pikiran ABG, labil banget.” Batinnya . Tak lama hujan pun turun. Untung saja Tobi sudah lebih dulu berteduh di depan teras Ruko.
Tobi lalu merogoh tas kecilnya berusaha untuk mengambil sesuatu. “Ah dapet lu.” Ujar Tobi setelah berhasil mengambil Hp dari dalam tasnya. Sekarang ia sibuk men-skroll layar Hp-nya. Mencari-cari kontak nomor telepon temannya.
Tobi : Hal, dim si? (halo, dimana posisi?)
Ujang : Ap? Ruk. Lu dim si? (Apa? Ruko. Lu dimana posisi?)
Tobi : dibaw, buk (dibawah, bukain)
Ujang adalah sahabat Tobi. Gaya bicara mereka memang seperti itu jika sedang telepon satu sama lain. Mereka memang sengaja membuat gaya bahasa baru agar orang yang mendengarkan percakapan mereka menjadi sulit untuk mengerti. Meminimalisir terjadinya kuping menguping jika percakapan mereka bersifat intim. Intim disini bukan bermaksud menekankan bahwa mereka adalah sepasang manusia Homo. Akan tetapi lebih kearah privasi soal bisnis yang mereka lakukan.
“Lama amat lu ah.” Ujar Tobi setelah pintu Ruko dibuka oleh Ujang.
“sabar dikit sih lu udah kayak orang mau ngelahirin aja.” Balas Ujang tak kalah sebal.
Tobi pun masuk kedalam Ruko mengikuti langkah kaki Ujang. Setelah duduk di sebuah kursi, Tobi meletekkan tas kecilnya diatas meja yang ada didepannya. Sesekali ia melihat sekeliling ruangan tempat ia sekarang. Begitu terasa panas. “gerah banget sih disini. Remote AC mana Jang?” muka polos
Senyum sinis terukir di raut wajah Ujang.” Lu nanya apa ngeledek gue hah?” Jelas saja Ujang merasa tersinggung karena sudah jelas bahwa di tempat mereka sekarang tidak ada AC. Sebelum Tobi mendapat jitakan dari Ujang, ia sudah berdiri lagi untuk berjalan menuju Dispenser sekedar mengambil segelas air dingin.
Mata Tobi tak henti-hentinya melihat kesana kemari seperti orang sedang mencari sesuatu lalu berkata,”Gelas mana Jang?”. Yang dicari Tobi adalah gelas plastik satu renteng yang biasa ada di samping Dispenser milik Ujang. Emosi Ujang sepertinya sudah mencapai puncaknya, dilemparnya sebuah penggaris kecil kearah Tobi. Untung saja tidak mengenai target.
“Ebusettt!! Itu penggaris besi Jang bukan ager-ager.”
“Itu mata rabun atau apa? Udah jelas Gelas ada di depan lu.”
Tobi tertawa keras mendengar jawaban dari Ujang yang emosi. Mereka memang selalu begitu. Gaya bercanda mereka berbeda dengan orang lain. Mungkin orang yang baru kenal akan mengira mereka sedang bertengkar.
-BERSAMBUNG-
Suara alarm handphone di pagi hari, lebih tepatnya jam sebelas pagi memaksa Tobi untuk bangun lebih cepat dari biasanya. Bagi Tobi, waktu jam yang menunjukkan angka sebelas hanya ada dua. Jam sebelas pagi dan jam sebelas malam. Tidak ada yang namanya jam sebelas siang. Bingung? Sama saya juga bingung.
Dentuman musik keras dari band indie asal bandung itu berhasil membuat mimpi indah yang sedang ia nikmati terpaksa bersambung, dilanjut esok hari. Setelah berhasil mematikan alarm dengan susah payah karena matanya tak kunjung membuka sempurna, Tobi bergegas ke kamar mandi untuk sekedar melakukan ritual sehari-harinya yakni, berak sambil ngerokok.
Bentuk jamban original alias jongkok memang lebih ia sukai ketimbang model kloset duduk yang sekarang sedang tenar bak artis luar negeri yang mendapat piala Oscar. Alasannya sederhana, tai jadi bisa lebih mudah untuk keluar karena posisi lubang anus yang tidak terjepit oleh gumpalan lemak di kiri dan kanannya atau yang biasa disebut pantat. Pernah sekali ia buang air besar di kloset duduk, hampir setengah jam tai tak kunjung keluar. Alhasil, Tobi yang frustasi karena tidak bisa berak memutuskan untuk mengubah posisinya menjadi jongkok di atas kloset duduk. Anti mainstream pikirnya. Sejak saat itu, dia tidak mau lagi berak di Closet duduk. “Tempat macam apa ini!!” Bentaknya sambil menunjuk-nunjuk kearah Kloset duduk.
Sepuluh menit berlalu. Entah sudah berapa buah tai yang keluar dari mesin penggiling alami alias perut Tobi. Kepulan asap rokok yang ia hisap sudah memenuhi seisi ruang kamar mandi, menandakan bahwa Tobi harus menyudahi ritual pagi. Maklum saja, di kamar mandinya tidak ada ventilasi udara. Rumah kontrakan minimalis nomor 11 di daerah Tangerang Selatan adalah tempat tinggalnya. Sedikit jauh dari keramaian kota menurutnya adalah pilihan yang tepat. Tobi lebih menyukai suasanya pedesaan. Pepohonan masih banyak yang tumbuh dengan kokoh disekelilingnya, orang-orang yang ramah, udara yang sejuk dan jauh dari polusi, serta kesunyian disaat malam.
Bagi Tobi, malam hari adalah waktu yang pas baginya untuk bekerja karena kesunyian dan hawa malam yang terasa nikmat di sekujur tubuh membuat pikirannya menjadi lebih jernih. Itulah alasan mengapa ia selalu bangun jam sebelas pagi. Iya, jam sebelas pagi.
“Ahhh puas.” Batinnya sambil cebok. Bagi Tobi,, Buang air besar mempunyai nilai kenikmatan yang luar biasa. Perut mulas, tiba-tiba saluran pecernaan seperti mendapatkan tekanan yang luar biasa dan seakan-akan ingin mengeluarkan sesuatu yang spesial. Bibir anus sudah kembang kempis karena efek tekanan tersebut. Dan setelah berusaha keras akhirnya sesuatu itu keluar. Nikmat sekali. Dia bersyukur memiliki lubang pantat yang masih perawan. Tidak seperti kebanyakan Bencong yang setiap tengah malam mangkal di bawah jembatan penyebrangan depan kantor Telkom BSD City.
Setelah memakai celana kolornya kembali, Tobi berjalan melangkah kearah depan kontrakan sambil tangan kanannya masuk kedalam celananya tersebut dan sesekali menggaruk sesuatu.
“woy jam berapa ini?” sapa seorang bapak-bapak penggila burung yang setiap hari menghiasi telinga Tobi. Tobi hanya nyengir kuda kearahnya. Panggil saja Pak Burhan.
Pak Burhan ini adalah seorang pengangguran yang sangat menggilai dunia perburungan. Pernah ia jauh-jauh pergi ke Semarang hanya untuk mengikuti lomba kicauan burung. Ekspetasi yang luar biasa bahwa dirinya akan menang ternyata tidak sesuai dengan realita. Yang ada malah kasian burungnya karena hampir setiap hari harus dipaksa berkicau. Kalau tidak mau berkicau, bersiaplah untuk tidak dapat jatah makan selama tiga hari.
Pak Burhan juga termasuk dalam kategori STI alias Suami Takut Istri. Pernah sekali Tobi melihat Pak Burhan sedang dimarahi oleh istrinya. Dengan segala perabotan rumah tangga berterbangan di sekitar TKP karena ia ketahuan selingkuh dengan janda beranak tiga kampung sebelah.
“jangan keseringan begadang Bon, nggak baik buat kesehatan.” Ujar Pak Tobi. Pak Burhan tahu betul apa yang setiap malam Tobi kerjakan. Tobi selalu saja sibuk didepan Laptopnya untuk membuat sebuah Cheat Game. Lalu keesokan harinya dijual kebeberapa kenalannya.
Lagi-lagi Tobi hanya mendengar ocehan Pak Burhan tanpa menanggapinya. Memilih untuk duduk di teras kontrakan sambil melamun mengumpulkan nyawanya yang sebagian masih berada di alam mimpi. Tak lama ia berdiri lagi dan berjalan kearah Pak Burhan yang sedang duduk di sebuah kursi yang berada di bawah pohon mangga.
Tobi mengambil sebatang rokok milik Pak Burhan lalu berniat menyalakannya. Ia melihat sekeliling tetapi tidak ada korek di sekitarnya.
“korek korek.” Ucap Tobi kepada Pak Burhan sambil memperagakan orang yang sedang menyalakan korek gas.
“ahhh gak modal Lu!” kata Pak Burhan lalu ia mengeluarkan korek gas dari saku celananya.
Kepulan asap rokok Djarum Super keluar dari mulut Tobi. Tak lupa setelahnya dengan sigap ia menyelipkan korek tersebut ke celana kolornya.
“mandi dulu ah.” Ujar Tobi sambil mengepulkan asap. Beranjak lagi dari tempatnya dan berjalan masuk kedalam rumah kontrakan.
Tobi langsung menuju ke kamar mandi. Tak lupa sebelum itu ia sudah mengambil handuk yang sedang di jemur di depan kontrakan. Baru saja ia menyalakan air kran, samar-samar terdengar teriakan dari arah luar. “Tobiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, korek gue manaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!”
-SAYUR ASEM RASA GULALI-
Backsound yang disarankan : Closehead – Selamat Pagi Terang
Pakaian terbilang ala kadarnya. Kaos regan warna putih yang belum digosok, celana jeans pendek selutut yang sedikit robek, sendal jepit legendaris warna putih biru merk Swallow dan tas selempang kecil menjadi penampilan sehari-hari Tobi. Siang ini ia pergi untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Tobi biasa menyebut dengan istilah Bisnis Toge.
Panas terik sinar matahari menyinari jalanan yang dilalui Tobi. Tampak dari kaca spion Vespa-nya segerombol pemuda yang berkendara di belakangnya. Jalan yang ramai membuat lajunya terhambat. Acap kali ia harus menarik tuas gas lebih dalam saat melewati jalan yang sedikit menanjak. Membuat kepulan asap knalpot motor Vespa bututnya yang menghalangi pandangan pengendara lain di belakang Tobi.
“Anjing lu.” Kata-kata itu terdengar saat kepulan asap mengenai pengendara yang berada tepat dibelakang Tobi. Ia tidak menghiraukan, malah oper gigi dan tancap gas menambah kecepatan. Tobi menyempatkan diri menoleh kebelakang lalu mengacungkan jari tengah kearah orang yang bilang “anjing” pada mereka.
Tobi tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan genk Akamsi alias Anak Kampung Sini.
“berhenti Lu!” bentak seorang pengendara yang tiba-tiba berhenti tepat di depan Tobi. Dengan santainya Tobi berhenti dan membuka kaca helmnya. “Apaan?” tanya Tobi tak kalah garang.
Seorang pengendara lainnya yang juga termasuk dalam genk tiba-tiba memukul wajah Tobi tepat di hidung. Tobi tersungkur jatuh dari Vespanya. Tobi yang tidak terima langsung berdiri dan membalas pukulan. Adu jotos pun tak terelakan. Tiga lawan satu. Jelas Tobi kalah. Hanya butuh waktu lima menit untuk membuat Tobi tersungkur kembali. Ia hanya meringkuk melindungi kepalanya dengan kedua tangan untuk menghindari hantaman lawan. Setelah puas mengeroyok Tobi, tiga orang genk Akamsi pun pergi. Tak lupa mereka meludahi tubuh Tobi yang tersungkur di pinggir aspal. Sementara itu orang disekeliling hanya melihat kejadian tersebut tanpa berusaha merelai entah karena takut atau apa.
Tobi dengan susah payah berusaha berdiri. Tak lupa ia berteriak kearah tiga pemuda tadi yang sudah terlihat jauh. “Banci lu semua!”
Sekujur tubuh Tobi penuh dengan bekas pukulan. Baju dan Celananya pun kotor karena tersungkur di tanah pinggir jalan. Dengan susah payah ia berusaha berdiri dan mengendarai kembali Vespanya. Tak lupa ia menyempatkan diri menyalakan sebatang rokok dan memakai kacamata hitam ala Bon Jovi yang ia ambil dari tas kecilnya.
“lanjut bos!” pekik Tobi lalu melaju menembuh ramainya penghuni Tangerang Selatan.
-SAYUR ASEM RASA GULALI¬-
Backsound yang disarankan : Rocket Rockers – Malam Satu Suro, Sleepin’ Dogs Lie
Langit yang sedari tadi terlihat cerah tiba-tiba berubah menjadi kelabu setelah Tobi men-standar-kan motornya di depan sebuah Ruko di daerah kota Tangerang Selatan. Lebih tepatnya BSD City.
“Cuaca tahun ini udah kayak pikiran ABG, labil banget.” Batinnya . Tak lama hujan pun turun. Untung saja Tobi sudah lebih dulu berteduh di depan teras Ruko.
Tobi lalu merogoh tas kecilnya berusaha untuk mengambil sesuatu. “Ah dapet lu.” Ujar Tobi setelah berhasil mengambil Hp dari dalam tasnya. Sekarang ia sibuk men-skroll layar Hp-nya. Mencari-cari kontak nomor telepon temannya.
Tobi : Hal, dim si? (halo, dimana posisi?)
Ujang : Ap? Ruk. Lu dim si? (Apa? Ruko. Lu dimana posisi?)
Tobi : dibaw, buk (dibawah, bukain)
Ujang adalah sahabat Tobi. Gaya bicara mereka memang seperti itu jika sedang telepon satu sama lain. Mereka memang sengaja membuat gaya bahasa baru agar orang yang mendengarkan percakapan mereka menjadi sulit untuk mengerti. Meminimalisir terjadinya kuping menguping jika percakapan mereka bersifat intim. Intim disini bukan bermaksud menekankan bahwa mereka adalah sepasang manusia Homo. Akan tetapi lebih kearah privasi soal bisnis yang mereka lakukan.
“Lama amat lu ah.” Ujar Tobi setelah pintu Ruko dibuka oleh Ujang.
“sabar dikit sih lu udah kayak orang mau ngelahirin aja.” Balas Ujang tak kalah sebal.
Tobi pun masuk kedalam Ruko mengikuti langkah kaki Ujang. Setelah duduk di sebuah kursi, Tobi meletekkan tas kecilnya diatas meja yang ada didepannya. Sesekali ia melihat sekeliling ruangan tempat ia sekarang. Begitu terasa panas. “gerah banget sih disini. Remote AC mana Jang?” muka polos
Senyum sinis terukir di raut wajah Ujang.” Lu nanya apa ngeledek gue hah?” Jelas saja Ujang merasa tersinggung karena sudah jelas bahwa di tempat mereka sekarang tidak ada AC. Sebelum Tobi mendapat jitakan dari Ujang, ia sudah berdiri lagi untuk berjalan menuju Dispenser sekedar mengambil segelas air dingin.
Mata Tobi tak henti-hentinya melihat kesana kemari seperti orang sedang mencari sesuatu lalu berkata,”Gelas mana Jang?”. Yang dicari Tobi adalah gelas plastik satu renteng yang biasa ada di samping Dispenser milik Ujang. Emosi Ujang sepertinya sudah mencapai puncaknya, dilemparnya sebuah penggaris kecil kearah Tobi. Untung saja tidak mengenai target.
“Ebusettt!! Itu penggaris besi Jang bukan ager-ager.”
“Itu mata rabun atau apa? Udah jelas Gelas ada di depan lu.”
Tobi tertawa keras mendengar jawaban dari Ujang yang emosi. Mereka memang selalu begitu. Gaya bercanda mereka berbeda dengan orang lain. Mungkin orang yang baru kenal akan mengira mereka sedang bertengkar.
-BERSAMBUNG-
0