- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#193
Update Part XVIII
22 April 2011
Diary, sepertinya sudah lama sekali aku tidak menuliskan tentang ‘mereka’ di lembaranmu ya?
Setelah hampir sebulan rasanya tidak ada sesuatu yang cukup besar yang terjadi karena ‘mereka’ yang cukup untuk membuatku menuliskannya di lembaranmu.
Sampai hari ini…
Cerita yang akan kuceritakan ini masih sedikit mengguncangku, jadi maafkan aku ya Diary kalau aku tidak menggambarkannya dengan baik. Tapi aku berusaha untuk bisa menceritakan semua detailnya padamu.
Aku sudah cerita padamu kan? Kalau hari ini aku menengok salah seorang temanku yang sedang terbaring di rumah sakit karena sakit parah?
Iya, temanku R**** sedang berjuang mengalahkan kanker yang sedang menggerogoti tubuhnya.
Dia adalah salah satu teman baikku dan Cindy.
Pria penakut yang baik hati, yang langsung akan melarikan diri setelah mengetahui kalau sedang ada ‘mereka’ di dekat aku atau Cindy.
Sebenarnya aku sudah sangat enggan untuk pergi ke rumah sakit xxxxx xxxxx setelah pengalaman dengan arwah anak-anak Lauren yang tidak pernah dilahirkan itu.
Tapi bagaimanapun R**** adalah teman yang sangat baik. Cindy juga berpikir demikian. Karena itulah kami menahan keengganan kami dan pergi ke rumah sakit itu.
Seperti biasa, aku menumpang di mobil Cindy.
Sesampainya kami di rumah sakit itu, tidak perlu waktu lama sebelum kami didatangi oleh ‘mereka’.
Segera setelah mobil selesai diparkir, kami berdua merasakan hawa yang sangat dingin datang dari kursi belakang mobil Cindy.
“Kakak datang main?”
“Kakak datang main?”
“Kakak datang main?”
Duduk di kursi belakang, ketiga arwah anak-anak Lauren yang meninggal sebelum dilahirkan menyapa kami.
Aku menatap wajah Cindy dan bisa menangkap pertanyaan dibaliknya “Bagaimana mungkin mereka masih ada di sini?”
Pertanyaan itu juga timbul pada diriku. Setahuku Cindy telah mengatakan pada Lauren perihal arwah anak-anak kecil itu.
Tapi di sinilah mereka, di jok belakang mobil Cindy menyapa kami dengan senyuman mereka.
Cindy berbalik ke arah mereka dan berkata dengan wajah iba “Tidak, kakak datang untuk menjemput teman kakak, dia sedang sakit”
Ketiga arwah anak kecil itu saling celingukan melihat satu sama lainnya. Kemudian berkata lagi bergantian.
“Tidak boleh..”
“Tidak boleh..”
“Tidak boleh..”
Gantian kini diriku dan Cindy yang saling berpandangan heran karena jawaban dari anak-anak itu..
“Tidak boleh apa?” tanya Cindy dengan lembut.
Ketiganya saling berpandangan, kemudian wajah mereka berubah menjadi wajah ketakutan.
“Si Hitam jahat..” kata yang satunya.
“Si Nenek menakutkan..” sambung yang satunya.
“Si Merah suka mencekik..” sambung anak yang terakhir.
Aku dan Cindy saling berpandangan ngeri. Sebelum kami sempat menanyakan apa maksudnya ketiga anak kecil itu sudah menghilang dari jok belakang.
Menahan perasaan tidak enak yang kami berdua rasakan, kami memutuskan untuk segera pergi menemui Randy di kamarnya dan pulang sesegera mungkin.
Dan kamipun naik tangga, menuju lobby dari rumah sakit itu…
Aku tidak pernah menyukai rumah sakit, apalagi karena kutukanku ini..
Tapi seberapa banyakpun rumah sakit yang pernah kudatangi, belum pernah aku melihat rumah sakit yang dipenuhi oleh ‘mereka’ sebanyak ini…
Normalnya, arwah-arwah yang berada di rumah sakit terbagi dua jenis. Yaitu arwah yang tidak terlihat seperti arwah dan arwah yang sudah sangat jelas adalah ‘mereka’ karena luka-luka ataupun kondisi mereka yang tidak memungkinkan untuk dianggap sebagai manusia hidup.
Dan normalnya lagi, biasanya akan lebih banyak arwah-arwah yang bagaikan manusia hidup biasa, yang meninggal karena umur dan belum melanjutkan perjalanan mereka. Sedangkan arwah-arwah dengan wujud mengerikan biasanya hanya berkumpul dan terlihat di tempat-tempat tertentu saja di rumah sakit.
Tapi tidak di rumah sakit ini…
Dimanapun aku melihat, seluruh rumah sakit ini penuh dengan arwah-arwah dengan kondisi yang mengenaskan.
Seorang pemuda dengan leher terbelah separuhnya.
Seorang pemuda lainnya yang menyeret-nyeret tubuhnya di lantai rumah sakit.
Dan beberapa arwah lainnya yang masih menderita luka terakhir yang mereka dapatkan sebelum meninggal.
“Lis.. rumah sakit ini kayaknya beneran tempat orang-orang kecelakaan deh” bisik Cindy.
Aku hanya bisa mengangguk setuju. Melihat pemandangan di depanku aku hanya bisa menyetujui perkataannya. Bau amis darah dan bau busuk bangkai sangat kentara tercium di seluruh rumah sakit ini.
Aku menggenggam tangan Cindy dan menariknya ke resepsionis.
Dan jantungku hampir berhenti…
Di resepsionis, duduk seorang suster muda. Namun suster itu tidak sendirian, entah dia sadar atau tidak.
Di belakangnya, dia menggendong seorang nenek di bahunya. Nenek itu memakai kebaya berwarna ungu dan wajah nenek itu terlihat sangat tua karena seluruh kulit wajahnya seakan menggelantung karena keriput yang memenuhinya.
Mata nenek itu hampir tertutup separuhnya karena kulit wajahnya yang sangat kendur ditambah lagi rambutnya yang berantakan dan panjang hingga menutupi wajahnya.
Perlahan-lahan nenek itu mendongakkan kepalanya.
Dan dibalik keriput wajahnya, bola mata bersinar terang berwarna merah menatap padaku.
Mata itu begitu dingin dan penuh kejahatan.
“RAAAHHHHHHH!!” teriak nenek itu, menunjukkan mulutnya yang tanpa gigi.
Kemudian nenek itu melompat dari bahu suster itu dan mendarat di hadapan kami.
Kami segera berbalik dan lari, tidak peduli bagaimana suster itu memandang keheranan pada kami.
Nenek itu mengejar kami dengan kaki pendeknya dan lengannya yang panjangnya mencapai lantai, membuatnya lebih menyerupai binatang ketimbang manusia.
“RAAAHHHHHHH” teriaknya lagi.
Kami menengok ke belakang dan melihat si nenek mengejar kami dengan melompat-lompat dari punggung ke punggung orang-orang.
Nenek itu hampir menyusul kami dengan lompatan-lompatannya, namun tiba-tiba sesosok dengan kimono merah lewat dengan cepat.
Sosok itu menggunakan semacam tali merah yang menjerat leher nenek itu dan menyeretnya pergi menjauh dari kami,
Tidak lama kemudian keduanya menghilang di kerumunan orang.
“Hei, jangan lari-lari di rumah sakit” teriak seseorang di belakang kami. Seorang suster tua yang berwajah galak “Kalian sudah gede masih lari-lari” marahnya.
Cindy maju bicara “Maaf suster, tapi kami dengar teman kami lagi gawat, makanya kami buru-buru mau ke UGD” jelasnya. Cindy memang jagonya buat alasan.
“Oh gitu, UGD di sana, di sayap barat, paling ujung. Jangan salah belok, bisa nyasar ke kamar mayat nanti” ujarnya sambil beranjak pergi.
Kami paham mungkin suster itu tidak bermaksud apa-apa mengatakan hal demikian. Tapi setelah dikejar-kejar nenek tadi, kami jadi merasa sepertinya suster itu mengetahui sesuatu.
Kami melangkah dengan cepat menuju ke unit UGD sesuai dengan petunjuk dari suster tadi.
Tepat pada batasan sayap barat rumah sakit terdapat lorong yang sangat panjang. Namun sebelum kami mencapai lorong itu, aku dan Cindy sudah merasakan hawa dingin yang sangat pekat.
Di lorong itu kami melihat puluhan ‘mahluk’ yang mengenakan jubah berwarna hitam berkeliaran di lorong itu. Masing-masing dari mereka membawa rantai-rantai yang tampaknya tertambat pada sesuatu di dalam kamar-kamar yang banyak jumlahnya di sepanjang lorong itu.
Salah satu dari ‘mahluk’ itu melihat kami, aku dan Cindy langsung buru-buru lari dari situ dan sesegera mungkin menuju ke UGD tempat R**** di rawat.
Kami berjalan dengan terus melihat ke belakang, namun kami merasa beruntung tidak satupun dari mahluk itu yang mengikuti kami.
Kami sampai ke UGD tempat teman kami sedang di rawat.
Belasan ‘mahluk’ hitam itu berkumpul di samping salah satu tempat tidur yang terletak di UGD itu.
‘Mahluk-mahluk’ hitam itu semuanya menunduk ke arah seseorang yang terbaring di ranjang tersebut.
Aku memperhatikan lebih seksama ‘mahluk-mahluk’ itu dan melihat, kalau mereka sedang menghisap sesuatu seperti asap yang keluar dari tubuh orang yang terbaring itu.
“Apa mereka lagi makan arwah Lis?” bisik Cindy.
Aku menggeleng, karena akupun tidak mengerti apa yang kulihat.
Kemudian ‘mahluk-mahluk’ itu meluruskan tubuh mereka dan berdiri tegak berbarengan.
Tidak lama setelah itu, dokter dan para suster menyerbu masuk menuju ke arah orang yang terbaring itu sementara ‘mahluk-mahluk’ itu lari pergi menembus tembok dan menghilang.
“Lisa dan Cindy?” sebuah suara memanggil kami.
Kami berdua berbalik dan mendapati kakak R**** sedang berjalan ke arah kami.
Aku dan Cindy mengobrol dengan kakak dari R**** , sesekali aku menengok ke arah kamar UGD. Aku melihat dokter sedang memicu jantung dari orang yang dikerumuni oleh ‘mahluk’ hitam itu.
Kemudian aku merasakan pandangan dari belakangku.
Aku menengok…
Jauh di ujung lorong, berdirilah wanita dengan kimono merah yang sepertinya adalah kimono rumah sakit. Dia berjalan perlahan sambil menyeret seutas tali berwarna merah menyala juga. Wajahnya terlihat berwarna sangat putih yang tertutupi sedikit oleh beberapa utas rambut yang berantakan.
Aku menyenggol Cindy dengan sikuku, segera Cindy mendongak dan menatap ngeri pada wanita itu.
Kami segera berpamitan pada kakak perempuan R**** dan menjauhkan diri kami dari wanita itu segera.
Tapi di luar dugaan kami, wanita itu tidak berjalan mengikuti kami, namun segera berbelok dan berjalan menuju kamar UGD.
Kami tidak kembali ataupun menengok kebelakang lagi. Tapi langsung pergi ke menuju ke parkiran dan memasuki mobil kami.
“Kakak.. “ ujar tiga suara berbarengan dari belakang mobil.
Ketiga arwah anak kecil itu kembali duduk di jok belakang kursi Cindy.
“Lari.. si merah datang..”
“Lari.. si merah sudah dekat..”
“Lari.. dia di sini..”
Mereka bertiga menunjuk berbarengan.
Kami mengalihkan pandangan pada arah jari mereka menunjuk.
Di ujung mobil yang diparkir, si wanita berbaju merah jalan perlahan-lahan menuju mobil kami.
“Cin!!! Jalan!!!” teriakku pada Cindy.
Cindy segera menyalakan mobilnya dan menjalankannya.
Mobil Cindy melesat secepat mungkin untuk meninggalkan si wanita berbaju merah di parkiran mobil.
“Ahh sial!!” umpat Cindy ketika kartu prabayarnya kembali mengeluarkan tanda error pada mesin palang pintu keluar.
“Cin!!” teriakku ketika melihat si merah sudah berjalan di belakang kami dengan terseok-seok. Wajahnya menyunggingkan senyuman jahat. Tali merahnya kini diangkat dan dibentangkan di kedua tangannya.
“mbak!! Berapa parkir saya? Cepetan mbak saya buru-buru!!” teriak Cindy pada penjaga pintu parkir rumah sakit itu setelah menyerah untuk menggunakan kartu prabayarnya.
Cindy segera memberikan uang 50ribu pada penjaga parkir itu sambil memintanya membuka palang.
Tanpa menunggu kembalian, Cindy segera melesatkan mobilnya begitu palang penghalang terbuka.
“KRIIIIIITTTTTT”
Terdengar bunyi suara dari belakang mobil.
Aku menengok dan ternyata si wanita berkimono merah itu sudah mencapai mobil kami, sebelah tangannya sudah menggapai kap belakang mobil.
Hampir saja…
Setelah jauh dari rumah sakit itu, kami merasakan hawa dingin kembali pada jok belakang mobil.
Mereka kembali.. ketiga arwah itu.
“Si merah murka..”
“Si merah ingin menangkap kakak..”
“Si merah menyiksa yang lainnya sekarang..”
Kami mendengar kata-kata anak kecil itu dalam diam. Tidak ada satupun diantara aku dan Cindy yang mampu berkomentar apa-apa.
“Apa kalian tidak apa-apa?” tanya Cindy.
Ketiga anak itu memasang wajah bingung atas pertanyaan Cindy.
“Kami kan sudah mati..?”
“Kami kan sudah mati..?”
“Kami kan sudah mati..?”
Tanya mereka bertiga berbarengan.
“Iya… maksud kakak.. apa kalian tidak apa-apa dengan si merah?” tanya Cindy kembali.
Mereka bertiga saling melihat satu sama lainnya.
“Kami tidak bisa kembali..” kata yang satunya.
“Si merah mencari kami…” sambung satunya lagi.
“Kami akan bersama mama..” kata yang satunya lagi mengakhiri.
Cindy terlihat sedih, kurasa akupun juga pasti terlihat sedih mendengar kata-kata itu.
“Apa…. Mama kalian belum mengantarkan kalian dengan layak?” tanya Cindy lagi, suaranya bergetar.. kurasa dia sedang menahan tangis. Hal yang sama seperti yang sedang kulakukan.
Mereka menjawab berbarengan “Sudah..!” wajah mereka terlihat bahagia sekali.
“Kami mendapat nama..”
“Kami mendapat nama..”
“Kami mendapat nama..”
Ujar mereka bertiga sambil tersenyum sangat bahagia.
“Aku Samuel.. yang keempat”
“Aku Shane.. yang kelima”
“Aku Simon.. yang keenam”
Aku memandang Cindy, kali ini air mata sudah berurai di pipinya, dia berusaha keras untuk tidak menangis dengan keras.
“Samuel.. Shane.. Simon.. apa kalian tidak ingin untuk pergi ke surga?” tanyaku.
Ketiganya mengangguk. “Mau!” jawab mereka berbarengan.
“Kalau begitu kalian harus pergi ke surga yah? Mama sudah mengantar kalian kan?”
Ketiganya menggeleng. Kemudian mereka tersenyum lagi.
“Kami menjaga Stiven”
“Kami menjaga Stiven”
“Kami menjaga Stiven”
“Menjaga Stiven?” tanyaku.
Mereka kembali mengangguk.
“Si hitam mau mengambil Stiven…” kata Samuel.
“Si Merah juga mau mencekik Stiven…” sambung Shane.
“Kami melindungi Stiven…” sambung Simon mengakhiri.
Jujur, saat itu aku begitu terkejut mendengar penuturan mereka. Begitu juga Cindy karena dia segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Apa maksud kalian?” tanya Cindy sambil menyeka air matanya.
“Kami bertiga di makan si hitam..” kata Samuel.
“Kami bertiga di ikat si merah..” kata Shane.
“Kami bertiga diambil dari mama..” sambung Simon.
Aku dan Cindy saling bertatapan.
“Kami melindungi Stiven..”
“Kami melindungi Stiven..”
“Kami melindungi Stiven..”
Bisik mereka bertiga sambil perlahan menghilang dari jok belakang mobil Cindy.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami dengan membawa banyak pertanyaan belum terjawab di benak kami.
Apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit itu? Bagaimana bisa sebuah rumah sakit ditempati puluhan dari ‘mereka’? apa sebenarnya si hitam dan si merah itu?
Oh ya Diary, hampir lupa, tadi Cindy menelponku, katanya kap belakang mobilnya mendapat empat goresan benda tajam. Yang anehnya, goresan itu benar-benar mirip cakar.
Spoiler for Part XVIII:
22 April 2011
Diary, sepertinya sudah lama sekali aku tidak menuliskan tentang ‘mereka’ di lembaranmu ya?
Setelah hampir sebulan rasanya tidak ada sesuatu yang cukup besar yang terjadi karena ‘mereka’ yang cukup untuk membuatku menuliskannya di lembaranmu.
Sampai hari ini…
Cerita yang akan kuceritakan ini masih sedikit mengguncangku, jadi maafkan aku ya Diary kalau aku tidak menggambarkannya dengan baik. Tapi aku berusaha untuk bisa menceritakan semua detailnya padamu.
Aku sudah cerita padamu kan? Kalau hari ini aku menengok salah seorang temanku yang sedang terbaring di rumah sakit karena sakit parah?
Iya, temanku R**** sedang berjuang mengalahkan kanker yang sedang menggerogoti tubuhnya.
Dia adalah salah satu teman baikku dan Cindy.
Pria penakut yang baik hati, yang langsung akan melarikan diri setelah mengetahui kalau sedang ada ‘mereka’ di dekat aku atau Cindy.
Sebenarnya aku sudah sangat enggan untuk pergi ke rumah sakit xxxxx xxxxx setelah pengalaman dengan arwah anak-anak Lauren yang tidak pernah dilahirkan itu.
Tapi bagaimanapun R**** adalah teman yang sangat baik. Cindy juga berpikir demikian. Karena itulah kami menahan keengganan kami dan pergi ke rumah sakit itu.
Seperti biasa, aku menumpang di mobil Cindy.
Sesampainya kami di rumah sakit itu, tidak perlu waktu lama sebelum kami didatangi oleh ‘mereka’.
Segera setelah mobil selesai diparkir, kami berdua merasakan hawa yang sangat dingin datang dari kursi belakang mobil Cindy.
“Kakak datang main?”
“Kakak datang main?”
“Kakak datang main?”
Duduk di kursi belakang, ketiga arwah anak-anak Lauren yang meninggal sebelum dilahirkan menyapa kami.
Aku menatap wajah Cindy dan bisa menangkap pertanyaan dibaliknya “Bagaimana mungkin mereka masih ada di sini?”
Pertanyaan itu juga timbul pada diriku. Setahuku Cindy telah mengatakan pada Lauren perihal arwah anak-anak kecil itu.
Tapi di sinilah mereka, di jok belakang mobil Cindy menyapa kami dengan senyuman mereka.
Cindy berbalik ke arah mereka dan berkata dengan wajah iba “Tidak, kakak datang untuk menjemput teman kakak, dia sedang sakit”
Ketiga arwah anak kecil itu saling celingukan melihat satu sama lainnya. Kemudian berkata lagi bergantian.
“Tidak boleh..”
“Tidak boleh..”
“Tidak boleh..”
Gantian kini diriku dan Cindy yang saling berpandangan heran karena jawaban dari anak-anak itu..
“Tidak boleh apa?” tanya Cindy dengan lembut.
Ketiganya saling berpandangan, kemudian wajah mereka berubah menjadi wajah ketakutan.
“Si Hitam jahat..” kata yang satunya.
“Si Nenek menakutkan..” sambung yang satunya.
“Si Merah suka mencekik..” sambung anak yang terakhir.
Aku dan Cindy saling berpandangan ngeri. Sebelum kami sempat menanyakan apa maksudnya ketiga anak kecil itu sudah menghilang dari jok belakang.
Menahan perasaan tidak enak yang kami berdua rasakan, kami memutuskan untuk segera pergi menemui Randy di kamarnya dan pulang sesegera mungkin.
Dan kamipun naik tangga, menuju lobby dari rumah sakit itu…
Aku tidak pernah menyukai rumah sakit, apalagi karena kutukanku ini..
Tapi seberapa banyakpun rumah sakit yang pernah kudatangi, belum pernah aku melihat rumah sakit yang dipenuhi oleh ‘mereka’ sebanyak ini…
Normalnya, arwah-arwah yang berada di rumah sakit terbagi dua jenis. Yaitu arwah yang tidak terlihat seperti arwah dan arwah yang sudah sangat jelas adalah ‘mereka’ karena luka-luka ataupun kondisi mereka yang tidak memungkinkan untuk dianggap sebagai manusia hidup.
Dan normalnya lagi, biasanya akan lebih banyak arwah-arwah yang bagaikan manusia hidup biasa, yang meninggal karena umur dan belum melanjutkan perjalanan mereka. Sedangkan arwah-arwah dengan wujud mengerikan biasanya hanya berkumpul dan terlihat di tempat-tempat tertentu saja di rumah sakit.
Tapi tidak di rumah sakit ini…
Dimanapun aku melihat, seluruh rumah sakit ini penuh dengan arwah-arwah dengan kondisi yang mengenaskan.
Seorang pemuda dengan leher terbelah separuhnya.
Seorang pemuda lainnya yang menyeret-nyeret tubuhnya di lantai rumah sakit.
Dan beberapa arwah lainnya yang masih menderita luka terakhir yang mereka dapatkan sebelum meninggal.
“Lis.. rumah sakit ini kayaknya beneran tempat orang-orang kecelakaan deh” bisik Cindy.
Aku hanya bisa mengangguk setuju. Melihat pemandangan di depanku aku hanya bisa menyetujui perkataannya. Bau amis darah dan bau busuk bangkai sangat kentara tercium di seluruh rumah sakit ini.
Aku menggenggam tangan Cindy dan menariknya ke resepsionis.
Dan jantungku hampir berhenti…
Di resepsionis, duduk seorang suster muda. Namun suster itu tidak sendirian, entah dia sadar atau tidak.
Di belakangnya, dia menggendong seorang nenek di bahunya. Nenek itu memakai kebaya berwarna ungu dan wajah nenek itu terlihat sangat tua karena seluruh kulit wajahnya seakan menggelantung karena keriput yang memenuhinya.
Mata nenek itu hampir tertutup separuhnya karena kulit wajahnya yang sangat kendur ditambah lagi rambutnya yang berantakan dan panjang hingga menutupi wajahnya.
Perlahan-lahan nenek itu mendongakkan kepalanya.
Dan dibalik keriput wajahnya, bola mata bersinar terang berwarna merah menatap padaku.
Mata itu begitu dingin dan penuh kejahatan.
“RAAAHHHHHHH!!” teriak nenek itu, menunjukkan mulutnya yang tanpa gigi.
Kemudian nenek itu melompat dari bahu suster itu dan mendarat di hadapan kami.
Kami segera berbalik dan lari, tidak peduli bagaimana suster itu memandang keheranan pada kami.
Nenek itu mengejar kami dengan kaki pendeknya dan lengannya yang panjangnya mencapai lantai, membuatnya lebih menyerupai binatang ketimbang manusia.
“RAAAHHHHHHH” teriaknya lagi.
Kami menengok ke belakang dan melihat si nenek mengejar kami dengan melompat-lompat dari punggung ke punggung orang-orang.
Nenek itu hampir menyusul kami dengan lompatan-lompatannya, namun tiba-tiba sesosok dengan kimono merah lewat dengan cepat.
Sosok itu menggunakan semacam tali merah yang menjerat leher nenek itu dan menyeretnya pergi menjauh dari kami,
Tidak lama kemudian keduanya menghilang di kerumunan orang.
“Hei, jangan lari-lari di rumah sakit” teriak seseorang di belakang kami. Seorang suster tua yang berwajah galak “Kalian sudah gede masih lari-lari” marahnya.
Cindy maju bicara “Maaf suster, tapi kami dengar teman kami lagi gawat, makanya kami buru-buru mau ke UGD” jelasnya. Cindy memang jagonya buat alasan.
“Oh gitu, UGD di sana, di sayap barat, paling ujung. Jangan salah belok, bisa nyasar ke kamar mayat nanti” ujarnya sambil beranjak pergi.
Kami paham mungkin suster itu tidak bermaksud apa-apa mengatakan hal demikian. Tapi setelah dikejar-kejar nenek tadi, kami jadi merasa sepertinya suster itu mengetahui sesuatu.
Kami melangkah dengan cepat menuju ke unit UGD sesuai dengan petunjuk dari suster tadi.
Tepat pada batasan sayap barat rumah sakit terdapat lorong yang sangat panjang. Namun sebelum kami mencapai lorong itu, aku dan Cindy sudah merasakan hawa dingin yang sangat pekat.
Di lorong itu kami melihat puluhan ‘mahluk’ yang mengenakan jubah berwarna hitam berkeliaran di lorong itu. Masing-masing dari mereka membawa rantai-rantai yang tampaknya tertambat pada sesuatu di dalam kamar-kamar yang banyak jumlahnya di sepanjang lorong itu.
Salah satu dari ‘mahluk’ itu melihat kami, aku dan Cindy langsung buru-buru lari dari situ dan sesegera mungkin menuju ke UGD tempat R**** di rawat.
Kami berjalan dengan terus melihat ke belakang, namun kami merasa beruntung tidak satupun dari mahluk itu yang mengikuti kami.
Kami sampai ke UGD tempat teman kami sedang di rawat.
Belasan ‘mahluk’ hitam itu berkumpul di samping salah satu tempat tidur yang terletak di UGD itu.
‘Mahluk-mahluk’ hitam itu semuanya menunduk ke arah seseorang yang terbaring di ranjang tersebut.
Aku memperhatikan lebih seksama ‘mahluk-mahluk’ itu dan melihat, kalau mereka sedang menghisap sesuatu seperti asap yang keluar dari tubuh orang yang terbaring itu.
“Apa mereka lagi makan arwah Lis?” bisik Cindy.
Aku menggeleng, karena akupun tidak mengerti apa yang kulihat.
Kemudian ‘mahluk-mahluk’ itu meluruskan tubuh mereka dan berdiri tegak berbarengan.
Tidak lama setelah itu, dokter dan para suster menyerbu masuk menuju ke arah orang yang terbaring itu sementara ‘mahluk-mahluk’ itu lari pergi menembus tembok dan menghilang.
“Lisa dan Cindy?” sebuah suara memanggil kami.
Kami berdua berbalik dan mendapati kakak R**** sedang berjalan ke arah kami.
Aku dan Cindy mengobrol dengan kakak dari R**** , sesekali aku menengok ke arah kamar UGD. Aku melihat dokter sedang memicu jantung dari orang yang dikerumuni oleh ‘mahluk’ hitam itu.
Kemudian aku merasakan pandangan dari belakangku.
Aku menengok…
Jauh di ujung lorong, berdirilah wanita dengan kimono merah yang sepertinya adalah kimono rumah sakit. Dia berjalan perlahan sambil menyeret seutas tali berwarna merah menyala juga. Wajahnya terlihat berwarna sangat putih yang tertutupi sedikit oleh beberapa utas rambut yang berantakan.
Aku menyenggol Cindy dengan sikuku, segera Cindy mendongak dan menatap ngeri pada wanita itu.
Kami segera berpamitan pada kakak perempuan R**** dan menjauhkan diri kami dari wanita itu segera.
Tapi di luar dugaan kami, wanita itu tidak berjalan mengikuti kami, namun segera berbelok dan berjalan menuju kamar UGD.
Kami tidak kembali ataupun menengok kebelakang lagi. Tapi langsung pergi ke menuju ke parkiran dan memasuki mobil kami.
“Kakak.. “ ujar tiga suara berbarengan dari belakang mobil.
Ketiga arwah anak kecil itu kembali duduk di jok belakang kursi Cindy.
“Lari.. si merah datang..”
“Lari.. si merah sudah dekat..”
“Lari.. dia di sini..”
Mereka bertiga menunjuk berbarengan.
Kami mengalihkan pandangan pada arah jari mereka menunjuk.
Di ujung mobil yang diparkir, si wanita berbaju merah jalan perlahan-lahan menuju mobil kami.
“Cin!!! Jalan!!!” teriakku pada Cindy.
Cindy segera menyalakan mobilnya dan menjalankannya.
Mobil Cindy melesat secepat mungkin untuk meninggalkan si wanita berbaju merah di parkiran mobil.
“Ahh sial!!” umpat Cindy ketika kartu prabayarnya kembali mengeluarkan tanda error pada mesin palang pintu keluar.
“Cin!!” teriakku ketika melihat si merah sudah berjalan di belakang kami dengan terseok-seok. Wajahnya menyunggingkan senyuman jahat. Tali merahnya kini diangkat dan dibentangkan di kedua tangannya.
“mbak!! Berapa parkir saya? Cepetan mbak saya buru-buru!!” teriak Cindy pada penjaga pintu parkir rumah sakit itu setelah menyerah untuk menggunakan kartu prabayarnya.
Cindy segera memberikan uang 50ribu pada penjaga parkir itu sambil memintanya membuka palang.
Tanpa menunggu kembalian, Cindy segera melesatkan mobilnya begitu palang penghalang terbuka.
“KRIIIIIITTTTTT”
Terdengar bunyi suara dari belakang mobil.
Aku menengok dan ternyata si wanita berkimono merah itu sudah mencapai mobil kami, sebelah tangannya sudah menggapai kap belakang mobil.
Hampir saja…
Setelah jauh dari rumah sakit itu, kami merasakan hawa dingin kembali pada jok belakang mobil.
Mereka kembali.. ketiga arwah itu.
“Si merah murka..”
“Si merah ingin menangkap kakak..”
“Si merah menyiksa yang lainnya sekarang..”
Kami mendengar kata-kata anak kecil itu dalam diam. Tidak ada satupun diantara aku dan Cindy yang mampu berkomentar apa-apa.
“Apa kalian tidak apa-apa?” tanya Cindy.
Ketiga anak itu memasang wajah bingung atas pertanyaan Cindy.
“Kami kan sudah mati..?”
“Kami kan sudah mati..?”
“Kami kan sudah mati..?”
Tanya mereka bertiga berbarengan.
“Iya… maksud kakak.. apa kalian tidak apa-apa dengan si merah?” tanya Cindy kembali.
Mereka bertiga saling melihat satu sama lainnya.
“Kami tidak bisa kembali..” kata yang satunya.
“Si merah mencari kami…” sambung satunya lagi.
“Kami akan bersama mama..” kata yang satunya lagi mengakhiri.
Cindy terlihat sedih, kurasa akupun juga pasti terlihat sedih mendengar kata-kata itu.
“Apa…. Mama kalian belum mengantarkan kalian dengan layak?” tanya Cindy lagi, suaranya bergetar.. kurasa dia sedang menahan tangis. Hal yang sama seperti yang sedang kulakukan.
Mereka menjawab berbarengan “Sudah..!” wajah mereka terlihat bahagia sekali.
“Kami mendapat nama..”
“Kami mendapat nama..”
“Kami mendapat nama..”
Ujar mereka bertiga sambil tersenyum sangat bahagia.
“Aku Samuel.. yang keempat”
“Aku Shane.. yang kelima”
“Aku Simon.. yang keenam”
Aku memandang Cindy, kali ini air mata sudah berurai di pipinya, dia berusaha keras untuk tidak menangis dengan keras.
“Samuel.. Shane.. Simon.. apa kalian tidak ingin untuk pergi ke surga?” tanyaku.
Ketiganya mengangguk. “Mau!” jawab mereka berbarengan.
“Kalau begitu kalian harus pergi ke surga yah? Mama sudah mengantar kalian kan?”
Ketiganya menggeleng. Kemudian mereka tersenyum lagi.
“Kami menjaga Stiven”
“Kami menjaga Stiven”
“Kami menjaga Stiven”
“Menjaga Stiven?” tanyaku.
Mereka kembali mengangguk.
“Si hitam mau mengambil Stiven…” kata Samuel.
“Si Merah juga mau mencekik Stiven…” sambung Shane.
“Kami melindungi Stiven…” sambung Simon mengakhiri.
Jujur, saat itu aku begitu terkejut mendengar penuturan mereka. Begitu juga Cindy karena dia segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Apa maksud kalian?” tanya Cindy sambil menyeka air matanya.
“Kami bertiga di makan si hitam..” kata Samuel.
“Kami bertiga di ikat si merah..” kata Shane.
“Kami bertiga diambil dari mama..” sambung Simon.
Aku dan Cindy saling bertatapan.
“Kami melindungi Stiven..”
“Kami melindungi Stiven..”
“Kami melindungi Stiven..”
Bisik mereka bertiga sambil perlahan menghilang dari jok belakang mobil Cindy.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami dengan membawa banyak pertanyaan belum terjawab di benak kami.
Apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit itu? Bagaimana bisa sebuah rumah sakit ditempati puluhan dari ‘mereka’? apa sebenarnya si hitam dan si merah itu?
Oh ya Diary, hampir lupa, tadi Cindy menelponku, katanya kap belakang mobilnya mendapat empat goresan benda tajam. Yang anehnya, goresan itu benar-benar mirip cakar.
jenggalasunyi dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas