TS
malaikatmaut3
kumpulan puisi MalaikatMaut

Welcome to my home ^^
kisah ini berawal dari keterpurukan yang pedih
masa berjuang menyambung hidup hanya memakan seonggok sampah
berkawan dengan malaikat, bercumbu dengan maut setiap harinya
namun masa telah berganti, roda waktu telah berputar
untaian kata ini mnjadi penanda, serta pengingat gelapku
sehingga nanti aku tak akan silap dan menghitamkan terangku
enjoy ^^

Hall for the words of honor
Aku merasa terhormat bisa menyambut kalian dirumah sederhana ini
Satu hal yang bisa kulakukan adalah membangun ruang untuk mengabadikan kenangan kalian
enjoy, I hope you will come back someday ^^
Spoiler for greetings and appreciation:
Spoiler for Ininubi Poetry:
Spoiler for Sunsmilan Poetry:
Spoiler for Visuapalooza poetry:
Spoiler for angchimo poetry:
Spoiler for Puisi Putri Bulan:
Spoiler for Puisi Akang:

Index puisi-puisi ku ^^, mohon maaf kalu tidak berkenan, hanya seniman kata berusaha membagi nada
Spoiler for first story:
Spoiler for The story goes on:
Spoiler for The art of Angst:
Spoiler for Antologi "Dia":
Diubah oleh malaikatmaut3 13-08-2016 22:11
0
19.6K
132
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Poetry
6.2KThread•6.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
malaikatmaut3
#69
" Wahai kau yang kusebut "dia". Menyayangimu, seperti merajah aksara . Engkau bebas, terbang melampau batas, engkau surga, melayang tanpa pekat warna. Namun mendung yang senantiasa mengikat mega, menghalau pujangga tuk hidup, mengukir senja. Pahit nan kelam, getir nan suram. Jika Dia titipan semesta, maka aku terlahir mencabut jingga
Anomali Kita
Puisi itu bebas, maka biarkanlah ia lepas
Tak terkurung seperti burung
Tak terikat seperti pekat
Diamlah sejenak, lalu menggila
Biarkan pena itu menyetubuhi kertas, pada balutan kata
Puisi itu isyarat hati, maka susupilah dengan arti
Tak semu seperti jemu
Tak roboh seperti bodoh
Hiruplah sejenak, lalu raungkan
Biarlah mata-mata keji itu bergetar, pada bisik rupawan
Puisi itu bahasa cinta, seperti tutur laku rahwana kepada sinta
Walau tak berbalas ia tetap welas
Walau tak berarti ia tetap berdiri
Seperti hujan yang rela mati, melahirkan pelangi
Sepertiku yang tercabik, terkoyak mengejar "dia"
GaVinCi, antologi "Dia" , 26 Juli 2016
Anomali Kita
Puisi itu bebas, maka biarkanlah ia lepas
Tak terkurung seperti burung
Tak terikat seperti pekat
Diamlah sejenak, lalu menggila
Biarkan pena itu menyetubuhi kertas, pada balutan kata
Puisi itu isyarat hati, maka susupilah dengan arti
Tak semu seperti jemu
Tak roboh seperti bodoh
Hiruplah sejenak, lalu raungkan
Biarlah mata-mata keji itu bergetar, pada bisik rupawan
Puisi itu bahasa cinta, seperti tutur laku rahwana kepada sinta
Walau tak berbalas ia tetap welas
Walau tak berarti ia tetap berdiri
Seperti hujan yang rela mati, melahirkan pelangi
Sepertiku yang tercabik, terkoyak mengejar "dia"
GaVinCi, antologi "Dia" , 26 Juli 2016
0