Kaskus

Story

alfie24Avatar border
TS
alfie24
Walau Habis Terang
CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA. APABILA ADA KESAMAAN NAMA TOKOH, KARAKTER, TEMPAT, WAKTU, DAN PERISTIWA, MAKA ITU SEMUA HANYALAH KEBETULAN YANG TIDAK DISENGAJA SEMATA.


INDEKS:

1. Ketika Hasrat Mengalahkan Logika
2. Survey
3. Investigasi
4. Arah Angin
Diubah oleh alfie24 24-07-2016 01:31
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
1.6K
6
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
alfie24Avatar border
TS
alfie24
#3
Investigasi
“Hei Rin, lo dimana?” suara di seberang telepon terdengar panik dan tidak sabar
“Di kampus, kenapa Mir?”
“Lo cepetan kesini deh, gua butuh banget bantuan lo”
“Sekarang?”
“Iya, cepetan yah. Gua tunggu!”

Klik, telepon itu segera ditutup. Telepon dari Mirza, sahabat dan satu-satunya teman yang diakui oleh Rin. Seorang security salah satu Hotel Berbintang di Jakarta. Bagi Rin, Mirza sudah seperti saudara nya sendiri. Jadi, apapun rintangan nya, Rin akan sebisa mungkin membantu Mirza.

Butuh waktu setengah jam untuk Rin bisa sampai di tempat kerja Mirza. Begitu sampai parkiran hotel, Mirza langsung datang dengan tergopoh-gopoh.

“Rin, ayo cepat!” perintah nya tak sabar

Rin pun langsung mengikuti. Tak lama mereka sudah masuk ke dalam ruangan kontrol Hotel itu. Disana sudah ada salah satu Manager hotel yang bernama Bondan.

“Pak Bo, ini teman saya yang saya ceritakan tadi”
“Oh, kamu Rin? Perkenalkan saya Bondan. Manager keamanan hotel ini. Saya sudah dengar cerita Mirza kalau kamu ahli dalam urusan-urusan beginian. Saya sudah panggil beberapa ahli IT datang kesini, tapi gak ada satupun yang berhasil. Mudah-mudahan kamu bisa ya” ujar pak Bondan cemas.
“Saya akan usahakan sebisa mungkin pak”

Dengan sigap, Rin langsung mengeluarkan laptop khusus yang cuma dia pakai untuk hal-hal “spesial”. Dan kali ini hal spesial itu sudah terjadi. Hotel tersebut mendapatkan serangan cyber yang membuat sistem keamanan lumpuh total selama beberapa jam. Tentu merupakan hal yang sangat gawat untuk sebuah hotel berbintang. Dan Rin tahu seberapa genting masalah ini. Cukup 15 menit dia bermain-main dengan laptop nya, sistem keamanan kembali pulih seperti sedia kala.

“Saya senang sekali Rin kamu akhirnya bisa mengembalikan sistem keamanan kami.”
“Saya juga sudah merasa sangat senang sudah bisa membantu. Oh ya Pak beberapa celah dari sistem keamanan nya sudah saya perbaiki, sehingga dalam waktu dekat serangan itu tidak akan datang lagi. Tapi sebaiknya nanti saya akan bicarakan lagi beberapa hal yang perlu Bapak lakukan agar sistem keamanan hotel ini semakin lebih baik. Mungkin paling lama saya akan kesini lagi untuk bicara hal itu”
“Oh terima kasih banyak Rin sudah membantu sampai segitu jauh. Tapi saya penasaran siapa yang menyerang sistem keamanan hotel kita ini ya?”
“Saya juga belum paham pak, karena serangan ini memakai sistem enkripsi tingkat tinggi, hampir setara militer. Butuh waktu bagi saya untuk bisa mencari tahu siapa dalang nya. Tapi paling tidak, saya bisa mengantisipasi serangan-serangan mereka nanti. Saya janji akan memberikan 100% usaha saya untuk itu.”
“Waduh, saya benar-benar berterima kasih sekali Rin. Saya sangat merasa beruntung bisa kenal dengan anak muda seperti kamu. Cerdas dan inisiatif.”
“Wah, kalau si Rin ini mah bukan cerdas lagi pak. Dia ini jenius! Dia dapat medali emas olimpiade matematika internasional pas SMP dan SMA. Dia lulus UI tanpa tes dan dapat beasiswa penuh pula. Dan dia masuk UI umurnya masih 14 tahun lo pak. Kurang jenius apa dia coba. Urusan beginian pak, itu cuma mainan bagi dia!” Celutuk Mirza bangga. Pak Bondan hanya tertawa.
“Ah bisa aja lo Mir. Kalau gak ada masalah lagi, saya permisi pak”
“Oh tunggu dulu Rin. Tunggu sebentar. Saya mau ke ruangan saya dulu, kamu sama Mirza tunggu saja di Lobi. Nanti saya susul, gak lama kok, tunggu ya”
“Baik pak”

Mirza dan Rin berjalan keluar ruangan kontrol tersebut. Tak lama mereka sudah duduk di lobi.

“Lo cerita apa sama pak Bondan tentang gua?”
“Gua cerita aja ama dia kalau gua punya temen yang pasti bisa perbaiki masalah IT dan jaringan. Awalnya sih dia gak percaya pas gua bilang elo masih mahasiswa dan masih 17 tahun. Tapi setelah gua yakinin berkali-kali, plus setelah beberapa orang datang coba perbaiki sistem keamanan lagi tapi gagal, akhirnya beliau nyerah dan suruh buat manggil lo kesini. Dan kebukti kan kalau omongan gua emang bener. Lo emang paling bisa Rin.”
Rin cuma tersenyum.
“Kuliah lo aman kan Rin?” tanya Mirza
“Lancar Mir, seperti biasa.”
“IPK lo masih 4 kan?”
“Yoi man”
“Awas kalo turun barang satu aja, gak gua temenin lagi lo!”
“Hahaha, tenang aja Mir, insya Allah enggak.”

Tak lama Pak Bondan datang dan langsung menyerahkan amplop ke tangan Rin. Rin langsung tahu kalau itu adalah uang.

“Gak usah lah pak. Saya bener tulus cuma niat bantu aja”
“Rin jangan gitu. Yang udah kamu lakukan tadi sangat luar biasa. Jangan anggap sepele. Udah 7 orang ahli IT saya datangi kesini tapi mereka semua gak bisa. Itupun setelah berhari-hari mereka disini. Tiba-tiba kamu datang, eh 15 menit langsung beres semuanya. Kamu itu profesional, jadi tolong jangan tolak ya. Ini adalah bentuk dari profesionalisme juga. Ayo terima!”
“Waduh makasih banyak loh pak.”
“Kami, saya dan anak buah saya yang makasih. Oh iya, saya boleh minta kartu nama kamu, siapa tahu nanti kalau ada masalah lagi, saya bisa langsung hubungi kamu.”
“Saya gak punya kartu nama pak. Tapi bapak bisa simpan saja nomor saya. Sebentar saya catat dulu”.
Rin pun mengeluarkan pena dan secarik kertas dari tas kuliah nya, menuliskan nomor nya disitu, lalu menyerahkan nya kepada Pak Bondan.
“Ini pak, kalau ada yang bisa saya bantu jangan sungkan-sungkan hubungi saya ya pak”
“Oh tentu, terima kasih Rin, terima kasih banyak”
“Baik pak saya permisi dulu”

Rin pun keluar dari hotel ditemani Mirza. Mereka segera menuju ke parkiran.

“Mir, ini buat lo, buat tambah-tambah Nasrah ngelahirin”
“Ah gila lo Rin. Gua gak mau terima! Lo belum buka aja amplop nya main serah-serahin gitu aja. Enggak-enggak!”
“Udah deh gak usah kebanyakan gaya. Gua lagi gak butuh duit. Gua masih ada. Lo pegang aja dulu. Kan lo juga dapet jatah karena lo yang kasih job ke gua.”
“Jatah sih jatah man cuma gak semuanya juga kali”
“Lo pegang dulu, gak usah sok-sok kaya deh lo.”
“Lo yang sok kaya!”
“La emang gua udah kaya!”
“Sialan lo!” Bentak Mirza sambil tertawa
“Lo pegang dulu Mir, kasih ke Nasrah. Biar dia yang simpen. Perempuan kan paling paham soal urusan atur-atur duit. Ya udah kalo lo gak mau semuanya, bilang ama dia bagian gua setengah, bilang ama dia gua nitip.”
“Nah gitu dong. Eh lo udah makan?”
“Ntar aja deh di kos-kosan”
“Eh jangan gitu dong Rin. Ayolah kita makan dulu, gua traktir yok!”
“Besok siang aja deh traktiran nya, besok gua ke rumah lo. Ada yang pengen gua ceritain, penting. Masalah hidup dan mati gua.”
“Ah apaan Rin? Jangan buat gua panik lo ya? Masalah apaan?”
“Udah besok aja ya. Gua mau ngerjain tugas kuliah dulu. Oke?”
“Ya udah terserah lo deh. Tapi inget besok jangan sampai gak dateng di rumah ya, gua tunggu.”
“Iya gua janji. Ya udah gua cabut dulu ya.”
“Iya hati-hati Rin. Kalau udah sampe kos-kosan lo kabarin ya!”
“Oke bro!”
Diubah oleh alfie24 24-07-2016 01:17
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.