Kaskus

News

plonardAvatar border
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
plonardAvatar border
TS
plonard
#226
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed



Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
(Halaman 4)

Dalam surat balasannya, Nabi yang mulia menyampaikan kepada Musaylimah,
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dari Muhammad, Rasulullah, kepada Musaylimah Sang Pendusta. Salam kepada siapa saja yang mengikuti Petunjuk-Nya. Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah. Dialah yang berhak memberikan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”[1]

Sejak saat itu, nabi palsu ini dikenal sebagai Musaylimah Sang Pendusta!

Nahar Ar-Rajjal yang disebutkan sebelumnya sebagai seorang delegasi dari Bani Hanifa, mulai melakukan tindakan. Laki-laki ini tetap tinggal di Madinah ketika rekan-rekan delegasinya yang lain pulang. Ia mendekatkan diri kepada nabi dan memperoleh banyak ilmu tentang Islam. Ia mempelajari Al-Qur`an dan kedudukannya meningkat menjadi seorang “sahabat” nabi yang dihormati. Dalam beberapa bulan, ia telah berhasil membangun reputasi sebagai seorang Muslim yang taat dan ia pun semakin dikenal di seluruh Arabia.

Ketika laporan mengenai tersebarnya kejahatan Musaylimah menjadi semakin mengkhawatirkan, nabi mulai mempersiapkan berbagai rencana untuk melemahkan pengaruh Sang Pendusta. Yamamah terlalu jauh untuk dilakukannya sebuah operasi militer sehingga nabi memutuskan untuk mengirim seseorang dalam menyelesaikan masalah ini. Dan siapa lagi yang lebih tepat untuk menjalankan misi ini selain Rajjal? Ia adalah seorang tetua Bani Hanifah, ia telah mempelajari Al-Qur`an; ia telah memperoleh ilmu dan kedekatan dengan nabi. Maka, Rajjal pun dikirim oleh nabi untuk mengatasi kejahatan yang Musaylimah tanamkan di Yamamah.

Segera setelah ia sampai di Yamamah, bajingan ini ternyata ikut mendukung kenabian Musaylimah. “Aku telah mendengar bahwa Muhammad berkata demikian,” katanya dengan penuh kebohongan [2] dan siapa yang tidak percaya dengan perkataan “sahabat” nabi yang terhormat ini! Kedatangan murtad satu ini menjadi angin sejuk bagi Musaylimah dan semakin banyak Bani Hanifah yang menyatakan kesetiaannya kepada Musaylimah “Rasulullah”!

Musaylimah dan Rajjal sekarang membentuk sebuah persekutuan jahat dan terlaknat. Rajjal menjadi tangan kanan Musaylimah dan si nabi palsu tidak membuat keputusan penting sebelum berkonsultasi dengan Rajjal.

Dengan wafatnya nabi, kekuasaan Musaylimah kepada Bani Hanifah menjadi total. Kaumnya bergabung dengan gerakannya dan Musaylimah mulai membuat aturan-aturannya sendiri dalam masalah moral dan keagamaan. Ia menghalalkan minuman memabukkan. Ia memerintahkan kepada laki-laki yang telah memiliki anak laki-laki untuk meninggalkan hubungan seksual, kecuali anak laki-lakinya itu mati, sampai ia mendapatkan seorang anak laki-laki lagi.

Kaumnya mulai mempercayai bahwa Musaylimah memiliki mukjizat, dan Rajjal membantu untuk memperkuat kesan ini pada kaumnya. Suatu ketika, Rajjal menyarankannya untuk mengusap kepala setiap bayi yang baru lahir, seperti yang Nabi Muhammad biasa lakukan sambil mendoakan. Aturan ini pun diberlakukan. Setiap bayi yang baru lahir dibawa kepada Musaylimah untuk diusap kepalanya. Para sejarawan menyampaikan bahwa ketika anak-anak ini tumbuh menjadi laki-laki atau perempuan dewasa, mereka tidak memiliki sehelai rambut pun di kepala mereka! Namun tentu saja, hal ini tidak diketahui sampai setelah Musaylimah mati. Kebanyakan dari tindakan-tindakan Musaylimah yang meniru perbuatan Muhammad berakhir dengan hasil-hasil yang bertolak belakang dan membawa hasil yang buruk.

Meskipun semua Bani Hanifah mengikutinya, tidak semua percaya pada kenabiannya, apalagi di antara mereka yang cerdas. Beberapa orang hanya mengikutinya untuk kepentingan politis, sebagian lagi termotivasi oleh loyalitas kesukuan. Suatu hari, Musaylimah menunjuk seorang Muadzdzin baru untuk memanggil orang agar melaksanakan shalat. Laki-laki ini bernama Jubayr bin ‘Umayr dan ia adalah seorang yang meragukan kenabian Musaylimah. Dalam adzannya, Musaylimah memerintahkan untuk mengganti nama Muhammad dengan namanya sendiri dalam kalimat, “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Tetapi, Jubayr mengubahnya sedikit dengan suara tidak terlalu jelas, sehingga menjadi, “Aku bersaksi bahwa Musaylimah pikir, ia adalah Rasulullah.”[4]

Suatu hari yang lain, seorang laki-laki yang berakal sehat dan belum pernah menemui Musaylimah, datang mengunjungi si nabi palsu. Ketika ia mengetuk pintu rumah Musaylimah, ia bertanya pada penjaga, “Di mana Musaylimah?” Penjaga itu menjawab, “Tidak sopan! Panggil dia rasulullah.” Pengunjung itu bernama Thalhah, ia menegaskan, “Aku tidak akan menerimanya sebagai rasul sampai aku bertemu dengannya.”

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 600-601
[2] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 505.
[3] Seseorang yang menyuarakan adzan, panggilan untuk shalat.
[4] Baladzuri: hlm. 100.


____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Sang pengunjung bertemu si nabi palsu. “Apakah engkau Musaylimah?” tanyanya.

“Benar.”

“Siapakah yang telah mendatangimu?”

“Rahman,” (yaitu, Sang Maha Pengasih).

“Dalam cahaya atau dalam kegelapan?”

“Dalam kegelapan.”

“Aku bersaksi,” Thalhah mengumumkan, “bahwa engkau adalah nabi palsu dan Muhammad adalah benar-benar nabi. Tetapi nabi palsu dari suku kita lebih aku sukai daripada nabi yang sebenarnya, tetapi dari Quraysy.”[1] Orang ini kemudian ikut bertempur di pihak Musaylimah dan mati di dalam perangnya.

Bentuk fisik Musaylimah tidaklah menarik. Ia adalah seorang laki-laki yang pendek, tetapi bertubuh kuat; kulitnya kuning dengan kedua mata yang berdekatan serta agak sipit; hidungnya pesek. Wajahnya sangat jelek. Tetapi seperti hal yang sering terjadi juga dengan orang jelek bertabiat jahat, ia memiliki cara tersendiri untuk memesona perempuan. Perempuan-perempuan yang menjadi korbannya, biasanya tidak bisa mengatakan, “Tidak!” Ia adalah seorang hidung belang yang sangat berbakat dan pandai merayu. Tidak seorang perempuan pun yang dibiarkan berdua dengannya, bisa lepas dari pendekatannya dan pesona jahatnya.

Namun Sajah si nabiyah palsu tidak mengetahui karakter Musaylimah ini. Ia akan segera mengetahuinya!

Sajah dan pasukannya berangkat menuju Yamamah. Musaylimah mengetahui pergerakannya dan mulai khawatir karena ia tidak mengetahui apakah Sajah datang dengan semangat permusuhan atau persahabatan. Ia tahu bahwa pasukannya bisa mengalahkan pasukan Sajah dalam pertempuran, tetapi Korps ‘Ikrimah mengawasi pergerakannya dari barat. Musaylimah telah menunggu majunya Pasukan Islam selama beberapa pekan. Jika ‘Ikrimah menyerang saat ia bertempur dengan Pasukan Sajah, posisinya akan sangat rentan. Itu artinya, ia harus menghadapi dua pasukan musuh, Sajah dan Muslim. Musaylimah memutuskan untuk membujuk dan menetralisasi Sajah. Ia paham bahwa untuk menghadapi perempuan ini, ia perlu melancarkan keahliannya dalam merayu perempuan.

Ia mengirim pesan kepada Sajah untuk tidak membawa prajuritnya karena tidak ada yang bisa mereka kerjakan di Yamamah. Sajah bisa datang sendirian untuk bernegosiasi. Sajah pun mengikuti pesan ini dan keluar dari tubuh utama pasukannya hanya dengan 40 orang prajurit penjaga untuk menemui Musaylimah Sang Pendusta. Ia tiba di Yamamah dan gerbang kota masih tertutup. Ia menerima instruksi dari Musaylimah untuk meninggalkan prajuritnya di luar, Sajah sendirian yang diizinkan masuk. Sajah setuju dan meninggalkan 40 pengikutnya berkemah di luar benteng selagi ia masuk.

Musaylimah telah mempersiapkan sebuah tenda besar bagi Sajah di halaman depan rumahnya. Karena cuaca saat itu dingin, ia mempersiapkan agar tenda itu dibuat hangat sehingga Sajah nyaman berada di dalamnya. Musaylimah juga membakar dupa parfum khusus dengan harapan bisa memberikan pengaruh pada psikologi Sajah seperti yang ia harapkan. Wewangian ini akan membuat Sajah merasa sangat nyaman tanpa perlu berperilaku formal!

Sajah memasuki tendanya. Tidak lama kemudian, Musaylimah juga masuk. Mereka hanya berdua. Si nabi palsu mulai bekerja dengan perkataan manisnya kepada perempuan. Ia berbicara tentang Allah, politik, dan masalahnya dengan Quraysy yang ia katakan sebanyak “sisik ikan”.

Setelah ia membuka percakapan, ia berkata, “Katakanlah padaku apa yang telah diwahyukan kepadamu.”

“Seorang perempuan tidak seharusnya memulai,” jawabnya. “Katakanlah padaku terlebih dahulu, apa yang diwahyukan kepadamu.” Ia memandang Musaylimah dengan terkagum-kagum ketika Musaylimah menyampaikan sya’ir-sya’ir ayatnya.

“Tidakkah kau lihat Tuhanmu?
Bagaimana ia memperlakukan perempuan hamil? Ia mengeluarkan makhluk hidup,
dari antara pusar dan usus.”

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 508.


____________________________________________________________________________
(Halaman 6)

“Masih ada lagi?” tanya Sajah dengan bersemangat.

“Ia telah mewahyukan kepadaku,” lanjut Musaylimah, “bahwa Ia menciptakan perempuan sebagai sebuah wadah dan menciptakan laki-laki sebagai pasangannya yang masuk dan meninggalkan perempuan itu sesuka hatinya. Dan kemudian seekor domba diciptakan!”

Sajah terpikat dengan kata-katanya. “Engkau sungguh adalah seorang nabi!” ungkapnya.

Musaylimah kemudian mendekat, “Apakah engkau mau menikah denganku?” bujuknya. “Kemudian bersama sukuku dan sukumu, aku akan menaklukkan Arab.”

“Ya,” jawabnya.[1] Musaylimah kembali menaklukkan perempuan.

Sajah tinggal bersama Musaylimah selama tiga hari, kemudian Musaylimah mengantar Sajah kembali ke pasukannya. Sesampainya ia di kemah, ia mengumpulkan tetua-tetua sukunya. Ia mengumumkan, “Aku telah menemukan kebenaran. Aku telah menerimanya sebagai nabi dan menikah dengannya.”

Para tetua itu tidak terlalu terkejut. Mereka bertanya, “Apakah ia memberikanmu mahar?” Sajah mengaku bahwa ia tidak menerima mahar.

Tetua-tetua sukunya lebih mengenal Musaylimah lebih baik daripada Sajah dan mereka khawatir bahwa pemimpin perempuan mereka telah ditipu. Mereka menekannya Sajah, “Jika demikian, kembalilah kepadanya dan jangan pulang tanpa mahar.”

Sajah kembali ke Yamamah bersama 40 prajuritnya. Musaylimah melihatnya dan menutup gerbang. “Ada apa gerangan?” tanyanya dengan marah.

“Berikan mahar kepadaku,” teriak Sajah dari luar.

Musaylimah berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Aku memberi mahar untuk seluruh pengikutmu. Umumkanlah kepada pengikutmu bahwa Aku, Musaylimah bin Habib, Rasulullah, menghapus dua shalat yang telah Muhammad wajibkan: Shalat Shubuh dan Shalat ‘Isya’.”[2]

Dengan mahar ini, Sajah kembali ke pasukannya.

Beberapa hari kemudian, Musaylimah mengirim seorang utusan kepada Sajah untuk memperkuat ikatannya dengan para pengikut Sajah. Musaylimah menawarkan sebuah persekutuan politik dan ekonomi, yaitu bahwa Sajah berhak mendapat setengah hasil panen Yamamah. Sajah menolak. Tetapi Musaylimah mengirim utusan lagi mendesak agar Sajah setidaknya menerima seperempat hasil panen Yamamah. Sajah menerimanya dan kembali ke Iraq. Kejadian ini berlangsung pada akhir Oktober 632 (akhir Rajab 11 H), beberapa saat sebelum serangan ‘Ikrimah terhadap Musaylimah.

Musaylimah telah menyelesaikan permasalahannya dengan Sajah. Dan Sajah merasa cukup dengan posisi politik dan kenabiyahannya. Ia kembali tinggal bersama suku ibunya dan hidup dengan tenang sampai akhir hayatnya. Di kemudian hari, ia masuk Islam dan dikabarkan menjadi muslimah yang taat. Di masa pemerintahan Mu’awiyah, ia pindah ke Kufah, tempat di mana ia wafat di usia yang sangat tua.

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 499.
[2] Ibid.


--Akhir dari Bab 14--
Diubah oleh plonard 25-07-2016 15:03
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.