- Beranda
- Stories from the Heart
Punya Banyak Mantan Kekasih = Murahan? (from woman side)
...
TS
lovelymbekmpus
Punya Banyak Mantan Kekasih = Murahan? (from woman side)
Hai Kaskusers..
Ane newbie banget ini, setelah sekian lama jadi SR (dengan akun lain), akhirnya kali ini ane beraniin diri buat ceritain pengalaman ane, terutama dalam berhubungan dengan lawan jenis (baca: kekasih).
Perkenalkan, sebut saja ane Kirana. Usia 26 tahun, sudah lulus kuliah, sekarang sedang meniti bisnis dengan (calon) suami. Berhubung akhir tahun ini ane mau menikah, tiba-tiba ane inget janji ke diri sendiri, bahwasanya "sebelum menikah, kita selesaikan dulu urusan kita dengan mantan masing-masing". Calon suami ane pun setuju - setelah berdebat lama soal ini tentunya. Bagi dia, urusan dengan mantan cukuplah sampai di situ saja, sementara bagi ane gak bisa, harus diselesaikan sampai tuntas jadi silaturahimnya terjaga.
Ane pernah nonton film Barat (lupa judulnya) yang berkesimpulan bahwa "your ex is your very-best friend ever, actually". Secara dia yang udah kenal kita, tau banget siapa kita, bahkan TERKADANG lebih kenal sama kita dibanding diri kita sendiri. Jujur sampai detik ini dari sekian deretan mantan pacar ane, masih berhubungan baik dengan ane dan keluarga. Cuma ada 2 yang kabarnya gak jelas, dan status keihklasannya masih ane pertanyakan.
Buat ane, urusan kayak gini sangat mengganjal. Baik itu hati, pikiran, perasaan.. yang akhirnya juga mempengaruhi keberuntungan ane di dunia nyata. Banyak hal yang saat ini masih terganjal, misal kelapangan hati orang tua kami (calon mertua doang sih sebenernya), kondisi keuangan kami yang mepet, beberapa urusan kecil yang makin hari makin aneh dan bersifat mengganggu kelancaran persiapan kami... Semua itu ane yakini disebabkan oleh ada salah satu pintu rejeki yang masih belum pas bukaannya, mungkin dari silaturahim dengan teman dan mantan. Ane bukan orang suci, begitupun calon suami. Kami punya banyak salah, entah itu disengaja atau tidak. Gak sedikit juga yang menyimpan dendam atau maaf yang mereka berikan gak begitu tulus ikhlas lahir batin, alias cuma di mulut aja. Maka dari itu ane membuat misi ini dengan calon suami.
Ngomongin soal mantan kekasih, ane dengan calon suami punya cerita dan pengalaman berbeda. Yang bakal ane beberin di SFTH ini cuma yang dari sisi ane aja ya.. Terkait jumlahnya, bagaimana pengalaman ane dengan mereka, hikmah apa aja yang bisa ane ambil dari beberapa kejadian, dan soal bagaimana persepsi masyarakat pada umumnya terhadap wanita yang punya banyak mantan pacar, kenapa? karena ini sempat sangat mengganggu kehidupan ane di RL.
Semoga para reader semua bisa membimbing dan bekerjasama dengan ane demi kelangsungan thread ini sampai endingnya nanti
RULES:
- Ngikut rule yang berlaku di KASKUS dan SFTH aja deh ya..
- Kepo silakan PM tapi jangan dibocorin.
- Dilarang OOT.
NB:
- Ane update sekali sehari kalo selo banget, paling telat sekali dalam dua hari.
- Semua tokoh dan tempat ane samarkan jauh-jauh. Jadi gak usah ngabisin tenaga dan pikiran untuk nebak yaa..
- Ini real story, ditambah bumbu penyedap biar enak dibaca dan ane ceritakan bergaya cerita untuk anak muda.
Enjoy
INDEKS
1. Permainan Dimulai
2. It's Time to War!
3. Definisi Pertama tentang Pacaran
4. Mimpikah?
5. Mengapa Tuhan Memilihkanmu Untukku?
6. Moving
7. Babak Baru
8. Are You Kidding Me?
9. Hilangnya Harapan
10. Menanti Cahaya
11. Lelaki Ketiga
12. Apa yang Aku Tak Tahu
13. Lelaki Cadangan
14.Renungan
15. Perpisahan Kedua
16. Titipan
17. Bila Aku Harus Tanpamu
18. Pahit -- UPDATED
Ane newbie banget ini, setelah sekian lama jadi SR (dengan akun lain), akhirnya kali ini ane beraniin diri buat ceritain pengalaman ane, terutama dalam berhubungan dengan lawan jenis (baca: kekasih).
Perkenalkan, sebut saja ane Kirana. Usia 26 tahun, sudah lulus kuliah, sekarang sedang meniti bisnis dengan (calon) suami. Berhubung akhir tahun ini ane mau menikah, tiba-tiba ane inget janji ke diri sendiri, bahwasanya "sebelum menikah, kita selesaikan dulu urusan kita dengan mantan masing-masing". Calon suami ane pun setuju - setelah berdebat lama soal ini tentunya. Bagi dia, urusan dengan mantan cukuplah sampai di situ saja, sementara bagi ane gak bisa, harus diselesaikan sampai tuntas jadi silaturahimnya terjaga.
Ane pernah nonton film Barat (lupa judulnya) yang berkesimpulan bahwa "your ex is your very-best friend ever, actually". Secara dia yang udah kenal kita, tau banget siapa kita, bahkan TERKADANG lebih kenal sama kita dibanding diri kita sendiri. Jujur sampai detik ini dari sekian deretan mantan pacar ane, masih berhubungan baik dengan ane dan keluarga. Cuma ada 2 yang kabarnya gak jelas, dan status keihklasannya masih ane pertanyakan.
Buat ane, urusan kayak gini sangat mengganjal. Baik itu hati, pikiran, perasaan.. yang akhirnya juga mempengaruhi keberuntungan ane di dunia nyata. Banyak hal yang saat ini masih terganjal, misal kelapangan hati orang tua kami (calon mertua doang sih sebenernya), kondisi keuangan kami yang mepet, beberapa urusan kecil yang makin hari makin aneh dan bersifat mengganggu kelancaran persiapan kami... Semua itu ane yakini disebabkan oleh ada salah satu pintu rejeki yang masih belum pas bukaannya, mungkin dari silaturahim dengan teman dan mantan. Ane bukan orang suci, begitupun calon suami. Kami punya banyak salah, entah itu disengaja atau tidak. Gak sedikit juga yang menyimpan dendam atau maaf yang mereka berikan gak begitu tulus ikhlas lahir batin, alias cuma di mulut aja. Maka dari itu ane membuat misi ini dengan calon suami.
Ngomongin soal mantan kekasih, ane dengan calon suami punya cerita dan pengalaman berbeda. Yang bakal ane beberin di SFTH ini cuma yang dari sisi ane aja ya.. Terkait jumlahnya, bagaimana pengalaman ane dengan mereka, hikmah apa aja yang bisa ane ambil dari beberapa kejadian, dan soal bagaimana persepsi masyarakat pada umumnya terhadap wanita yang punya banyak mantan pacar, kenapa? karena ini sempat sangat mengganggu kehidupan ane di RL.
Semoga para reader semua bisa membimbing dan bekerjasama dengan ane demi kelangsungan thread ini sampai endingnya nanti
RULES:
- Ngikut rule yang berlaku di KASKUS dan SFTH aja deh ya..
- Kepo silakan PM tapi jangan dibocorin.
- Dilarang OOT.
NB:
- Ane update sekali sehari kalo selo banget, paling telat sekali dalam dua hari.
- Semua tokoh dan tempat ane samarkan jauh-jauh. Jadi gak usah ngabisin tenaga dan pikiran untuk nebak yaa..
- Ini real story, ditambah bumbu penyedap biar enak dibaca dan ane ceritakan bergaya cerita untuk anak muda.
Enjoy
INDEKS
1. Permainan Dimulai
2. It's Time to War!
3. Definisi Pertama tentang Pacaran
4. Mimpikah?
5. Mengapa Tuhan Memilihkanmu Untukku?
6. Moving
7. Babak Baru
8. Are You Kidding Me?
9. Hilangnya Harapan
10. Menanti Cahaya
11. Lelaki Ketiga
12. Apa yang Aku Tak Tahu
13. Lelaki Cadangan
14.Renungan
15. Perpisahan Kedua
16. Titipan
17. Bila Aku Harus Tanpamu
18. Pahit -- UPDATED
Diubah oleh lovelymbekmpus 27-08-2016 16:52
anasabila memberi reputasi
1
12.4K
56
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lovelymbekmpus
#43
14. Renungan
Jujur aja, punya banyak mantan kekasih gitu sampe angkanya 2 digit begitu ada beban mental tersendiri. Orang-orang pada anggepnya aku murahan, mau aja dipacarin banyak orang, karena apa? Karena pada mikirnya aku udah puas digrepe-grepe banyak lelaki. Karena apa? Karena yang ada di benak banyak orang, yang namanya pacaran itu identik dengan grepe-grepe. Nah, ini yang aku gak setuju.
Aku punya banyak pacar itu kan itungannya dari kelas 1 SMP sampai 3 SMA ya. Ada berapa tadi, 15an ya - anggep aja
. Seperti yang udah kuceritain sebelumnya, aku sering menduakan, mentigakan, mengempatkan, bahkan melimakan Enda selama 4 tahun pacaran dengannya. Itulah masa-masa di mana aku mengumpulkan jumlah mantan kekasih. Tapi jujur aja, dari sekian banyaknya mereka, aku gak punya perasaan apa-apa kecuali gak enak kalo mau nolak mereka. Berbekal perasaan itu, di mana sebenernya aku gak suka sama mereka seperti mereka menyukaiku, aku pun jadi sangat menjaga jarak dan pembicaraan dengan mereka.
Saat berpacaran dengan para selingkuhan itu, aku tak pernah disentuh mereka kecuali bersalaman. Ada yang nekat mau nyentuh tanpa ada keperluan atau mau nyium aku, langsung kutonjok dan kuputusin saat itu juga. Waktu terlama dengan selingkuhan itu 1 bulan pacaran, dan waktu tersingkat 1 hari
. Trus pacarannya ngapain aja? Duduk bareng, makan bareng, SMS-an, telponan, cerita-cerita, udah gitu aja. Ada juga yang merelakan dirinya untuk nulisin catatan pelajaranku, ngerjain PRku, anter jemput sekolah.. Udah gitu doang. Without no skinship.
Betah? Ya betah aja sih pacaran model begitu. Yang gak betah ya langsung kuputusin, makanya paling lama cuma 1 bulan. Sama Enda? Betah betah aja tuh. Karena hubungan cinta yang kami miliki lebih bersifat platonik, di mana kami murni saling sayang tanpa motif melakukan hubungan seksual yang intim. Sejauh-jauh kontak fisik yang kami lakukan hanya belaian kepala, dia mencium keningku, pegangan tangan.
Kalaupun kami berduaan di kamarnya, yang kami lakukan hanyalah sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Entah itu mengerjakan PR, membaca buku, main gitar, menghafal lagu, membuat aransemen musik, atau tidur. Aku beberapa kali melihatnya mengganti pakaian di hadapanku, abis mandi dia cuma berhanduk saja, aku pun mengganti pakaianku di hadapannya, tapi kami masih sama-sama bisa menjaga diri. Rupanya rasa takut dan malu jika sampai kami kebablasan bisa mengalahkan nafsu seksual kami. Memang di daerahku yang merupakan kota kecil dengan penerapan nilai agama dan adat yang sangat kental, di jaman segitu semua hal bisa jadi masalah. Ada kakak kelasku yang ML dengan pacarnya, ketahuan oleh orangtuanya, eh pacarnya langsung dipenjarakan 3 tahun, padahal mereka ML atas dasar suka sama suka dan yang mengajak melakukannya adalah kakak kelasku, perempuan. Bagaimana aku bisa mengetahuinya sedetail itu? Si pacar yang dipenjarakan itu adalah teman nongkrongku, yang sehari-harinya adalah supir angkot, sementara ayah dari kakak kelasku itu salah satu pejabat di kota kami.
Dengan Eja, hubungan kami jauh lebih platonis dibanding dengan Enda. Yaiya, Enda mah deket, hampir tiap hari ketemu, sementara sama Eja jauh gitu. Surat-surat kami banyak berisikan puisi, dan kami seolah hidup dalam dunia novel yang kami buat sendiri. Semuanya indah bak drama romantis, lalu berakhir dengan foto mesranya itu.
Ini yang waktu itu sempat membuatku galau setengah hidup. Dia cuma kekasih kesekianku, tapi kenapa aku harus sakit hati? Apakah aku mulai menaruh harapan padanya?
Rupanya beginilah sakitnya diduakan dan diabaikan. Meskipun sampai sekarang aku tak pernah tau yang sesungguhnya terjadi di balik foto itu, tapi aku baru bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Enda selama menjalin hubungan denganku. Rasa sakit ini sulit dilukiskan, karena ia sendiri penuh dengan kebingungan. Aku bingung, kenapa aku merasa sakit sesakit ini? Tapi di sisi lain aku merasa berhak merasakan sakit itu, dan ada rasa gak rela diperlakukan seperti ini.
Setelah kejadian melihat foto itu, aku menjauh secara drastis dari Eja. Semua bentuk komunikasi kututup jalurnya. Sampai ia kembali ke Indonesia, suratnya tak pernah kubalas. Kubuka isinya selalu sama, kenapa aku menghilang, bla bla bla. Sampai akhirnya surat itu berhenti datang. Legakah aku? Gak pernah lega rasanya. Selalu mengganjal, berat sekali.
Lalu insiden Miki ditonjok Enda. Aku syok minta ampun setelahnya. Mana abis itu Enda mutusin aku
. Tapi gak lama setelah itu kami balikan lagi, tentunya setelah aku meyakinkan Enda bahwa aku sudah gak selingkuh lagi, dan memang benar-benar kubuktikan. Setelah itu aku gak mau lagi menduakannya, apalagi mentigakan dan seterusnya itu. Biarpun sebenernya godaannya banyak
.
Dalam renunganku, aku menyadari beberapa hal yang sebelumnya luput dari perhatianku. Apakah aku ini benar-benar murahan? Gampang aja diajak pacaran. Apakah aku patut berbangga karena memiliki banyak mantan kekasih? Apakah selama ini aku mementingkan perasaan Enda karena kuperlakukan seperti ini? Apakah aku cukup membahagiakan Enda? Terlalu jahat rasanya aku pada Enda selama ini, dia yang tulus mencintaiku, tapi kubalas dengan bermain-main seperti itu, hanya demi rasa gak enak sama lelaki lain yang mendekatiku.
Begitulah, sampai aku lulus SMA aku dan Enda baik-baik saja. Rasa bosan yang menyeruak jelas ada. Ternyata hubungan platonis begitu membosankan juga. Datar. Tapi beruntungnya aku, Enda selalu punya cara untuk mengatasi kebosananku. Ia sering memberiku kejutan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Tiba-tiba dia nongol di Lebah, membawakan makan malam untukku. Biasanya mana pernah
. Di lain waktu, saat ia sedang di panggung, tiba-tiba ia membuka kemejanya, tinggallah kaos putih bertulisan "I Love Kirana" yang melekat di badannya. Atau di perjalanan pulang ke rumah dari studio, dia tiba-tiba berlutut di hadapanku, seperti prosesi lamaran di film-film Barat itu
. Atau gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba ia menggandeng tanganku, yang mana itu jarang banget dilakukan! Makanya gandengan tangan aja sama Enda itu rasanya deg-degan banget, momen langka dan tiba-tiba pokoknya
.
Akhirnya aku lulus SMA dan memutuskan untuk kuliah ke seberang pulau, kembali ke kota di mana aku dulu SMP, kota JK. Aku memilih untuk mengejar impianku yang dulu banget, kuliah di kampus impian Kak Fahri. Entahlah, aku merasa hatiku sudah terbawa di sana. Enda menerima keputusanku ini, dan mengubah haluannya dengan mendaftar di kampus musik di kota JK juga. Kemudian aku lulus seleksi di sana, resmilah aku sebagai mahasiswa kampus XXX. Tapi Enda rupanya belum beruntung, dan ia mencoba mendaftar di kampus musik kota lain, akhirnya ia diterima di kampus GGG. Jaraknya dengan kota JK lumayan jauh, masih dalam satu pulau siiih, tapi beda provinsi. Enda ada di sebelah barat pulau, dan aku di timur-selatan pulau. Harus menempuh perjalanan darat sekitar 12 jam dulu baru bisa ketemu.
Baru kali ini kami terpisah jauh dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Entah bagaimanalah caranya kami menghadapi ini semua. SMS telepon setiap hari tetap intens. Tapi rupanya tak cukup mengobati kerinduan kami yang sebelumnya terbiasa bersama setiap hari. Tak ada lagi ritual tukeran cincin setiap hari, karena kami entah kapan bisa bertemu lagi.
Karena berpisah begini, aku semakin sering melamun. Kusesali kenapa aku begitu jahat pada Enda sebelum ini. Kenapa tak kubahagiakan dia dengan lebih baik sebelum terpisah jarak begini. Kenapa baru sekarang kusadari bahwa aku menyayangi dan membutuhkannya lebih dari yang kurasakan selama ini. Kenapa dan kenapa terus menari di benakku. Kenapa?
Aku punya banyak pacar itu kan itungannya dari kelas 1 SMP sampai 3 SMA ya. Ada berapa tadi, 15an ya - anggep aja
. Seperti yang udah kuceritain sebelumnya, aku sering menduakan, mentigakan, mengempatkan, bahkan melimakan Enda selama 4 tahun pacaran dengannya. Itulah masa-masa di mana aku mengumpulkan jumlah mantan kekasih. Tapi jujur aja, dari sekian banyaknya mereka, aku gak punya perasaan apa-apa kecuali gak enak kalo mau nolak mereka. Berbekal perasaan itu, di mana sebenernya aku gak suka sama mereka seperti mereka menyukaiku, aku pun jadi sangat menjaga jarak dan pembicaraan dengan mereka.Saat berpacaran dengan para selingkuhan itu, aku tak pernah disentuh mereka kecuali bersalaman. Ada yang nekat mau nyentuh tanpa ada keperluan atau mau nyium aku, langsung kutonjok dan kuputusin saat itu juga. Waktu terlama dengan selingkuhan itu 1 bulan pacaran, dan waktu tersingkat 1 hari
. Trus pacarannya ngapain aja? Duduk bareng, makan bareng, SMS-an, telponan, cerita-cerita, udah gitu aja. Ada juga yang merelakan dirinya untuk nulisin catatan pelajaranku, ngerjain PRku, anter jemput sekolah.. Udah gitu doang. Without no skinship.Betah? Ya betah aja sih pacaran model begitu. Yang gak betah ya langsung kuputusin, makanya paling lama cuma 1 bulan. Sama Enda? Betah betah aja tuh. Karena hubungan cinta yang kami miliki lebih bersifat platonik, di mana kami murni saling sayang tanpa motif melakukan hubungan seksual yang intim. Sejauh-jauh kontak fisik yang kami lakukan hanya belaian kepala, dia mencium keningku, pegangan tangan.
Kalaupun kami berduaan di kamarnya, yang kami lakukan hanyalah sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Entah itu mengerjakan PR, membaca buku, main gitar, menghafal lagu, membuat aransemen musik, atau tidur. Aku beberapa kali melihatnya mengganti pakaian di hadapanku, abis mandi dia cuma berhanduk saja, aku pun mengganti pakaianku di hadapannya, tapi kami masih sama-sama bisa menjaga diri. Rupanya rasa takut dan malu jika sampai kami kebablasan bisa mengalahkan nafsu seksual kami. Memang di daerahku yang merupakan kota kecil dengan penerapan nilai agama dan adat yang sangat kental, di jaman segitu semua hal bisa jadi masalah. Ada kakak kelasku yang ML dengan pacarnya, ketahuan oleh orangtuanya, eh pacarnya langsung dipenjarakan 3 tahun, padahal mereka ML atas dasar suka sama suka dan yang mengajak melakukannya adalah kakak kelasku, perempuan. Bagaimana aku bisa mengetahuinya sedetail itu? Si pacar yang dipenjarakan itu adalah teman nongkrongku, yang sehari-harinya adalah supir angkot, sementara ayah dari kakak kelasku itu salah satu pejabat di kota kami.
Dengan Eja, hubungan kami jauh lebih platonis dibanding dengan Enda. Yaiya, Enda mah deket, hampir tiap hari ketemu, sementara sama Eja jauh gitu. Surat-surat kami banyak berisikan puisi, dan kami seolah hidup dalam dunia novel yang kami buat sendiri. Semuanya indah bak drama romantis, lalu berakhir dengan foto mesranya itu.
Spoiler for part sebelumnya:
Ini yang waktu itu sempat membuatku galau setengah hidup. Dia cuma kekasih kesekianku, tapi kenapa aku harus sakit hati? Apakah aku mulai menaruh harapan padanya?
Rupanya beginilah sakitnya diduakan dan diabaikan. Meskipun sampai sekarang aku tak pernah tau yang sesungguhnya terjadi di balik foto itu, tapi aku baru bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Enda selama menjalin hubungan denganku. Rasa sakit ini sulit dilukiskan, karena ia sendiri penuh dengan kebingungan. Aku bingung, kenapa aku merasa sakit sesakit ini? Tapi di sisi lain aku merasa berhak merasakan sakit itu, dan ada rasa gak rela diperlakukan seperti ini.
Setelah kejadian melihat foto itu, aku menjauh secara drastis dari Eja. Semua bentuk komunikasi kututup jalurnya. Sampai ia kembali ke Indonesia, suratnya tak pernah kubalas. Kubuka isinya selalu sama, kenapa aku menghilang, bla bla bla. Sampai akhirnya surat itu berhenti datang. Legakah aku? Gak pernah lega rasanya. Selalu mengganjal, berat sekali.
Lalu insiden Miki ditonjok Enda. Aku syok minta ampun setelahnya. Mana abis itu Enda mutusin aku
. Tapi gak lama setelah itu kami balikan lagi, tentunya setelah aku meyakinkan Enda bahwa aku sudah gak selingkuh lagi, dan memang benar-benar kubuktikan. Setelah itu aku gak mau lagi menduakannya, apalagi mentigakan dan seterusnya itu. Biarpun sebenernya godaannya banyak
.Dalam renunganku, aku menyadari beberapa hal yang sebelumnya luput dari perhatianku. Apakah aku ini benar-benar murahan? Gampang aja diajak pacaran. Apakah aku patut berbangga karena memiliki banyak mantan kekasih? Apakah selama ini aku mementingkan perasaan Enda karena kuperlakukan seperti ini? Apakah aku cukup membahagiakan Enda? Terlalu jahat rasanya aku pada Enda selama ini, dia yang tulus mencintaiku, tapi kubalas dengan bermain-main seperti itu, hanya demi rasa gak enak sama lelaki lain yang mendekatiku.
Begitulah, sampai aku lulus SMA aku dan Enda baik-baik saja. Rasa bosan yang menyeruak jelas ada. Ternyata hubungan platonis begitu membosankan juga. Datar. Tapi beruntungnya aku, Enda selalu punya cara untuk mengatasi kebosananku. Ia sering memberiku kejutan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Tiba-tiba dia nongol di Lebah, membawakan makan malam untukku. Biasanya mana pernah
. Di lain waktu, saat ia sedang di panggung, tiba-tiba ia membuka kemejanya, tinggallah kaos putih bertulisan "I Love Kirana" yang melekat di badannya. Atau di perjalanan pulang ke rumah dari studio, dia tiba-tiba berlutut di hadapanku, seperti prosesi lamaran di film-film Barat itu
. Atau gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba ia menggandeng tanganku, yang mana itu jarang banget dilakukan! Makanya gandengan tangan aja sama Enda itu rasanya deg-degan banget, momen langka dan tiba-tiba pokoknya
.Akhirnya aku lulus SMA dan memutuskan untuk kuliah ke seberang pulau, kembali ke kota di mana aku dulu SMP, kota JK. Aku memilih untuk mengejar impianku yang dulu banget, kuliah di kampus impian Kak Fahri. Entahlah, aku merasa hatiku sudah terbawa di sana. Enda menerima keputusanku ini, dan mengubah haluannya dengan mendaftar di kampus musik di kota JK juga. Kemudian aku lulus seleksi di sana, resmilah aku sebagai mahasiswa kampus XXX. Tapi Enda rupanya belum beruntung, dan ia mencoba mendaftar di kampus musik kota lain, akhirnya ia diterima di kampus GGG. Jaraknya dengan kota JK lumayan jauh, masih dalam satu pulau siiih, tapi beda provinsi. Enda ada di sebelah barat pulau, dan aku di timur-selatan pulau. Harus menempuh perjalanan darat sekitar 12 jam dulu baru bisa ketemu.
Baru kali ini kami terpisah jauh dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Entah bagaimanalah caranya kami menghadapi ini semua. SMS telepon setiap hari tetap intens. Tapi rupanya tak cukup mengobati kerinduan kami yang sebelumnya terbiasa bersama setiap hari. Tak ada lagi ritual tukeran cincin setiap hari, karena kami entah kapan bisa bertemu lagi.
Karena berpisah begini, aku semakin sering melamun. Kusesali kenapa aku begitu jahat pada Enda sebelum ini. Kenapa tak kubahagiakan dia dengan lebih baik sebelum terpisah jarak begini. Kenapa baru sekarang kusadari bahwa aku menyayangi dan membutuhkannya lebih dari yang kurasakan selama ini. Kenapa dan kenapa terus menari di benakku. Kenapa?
0