Kaskus

Story

natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.

Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.


I Am (NOT) Your Sister

Big thanks to quatzlcoatlfor cover emoticon-Smilie

Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
imamarbaiAvatar border
pulaukapokAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465.5K
3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
#1778
A Part 66
Dodot….Drot…drot…drot…drot….

Begitu kali ya suara motor Vespa ? Ah, entahlah, yang jelas kedengaranya seperti itu. Untung saja aku mengenakan celana jeans, kalau pakai rok sih bakal repot kalau naik Vespa. Aku sih baru-baru ini naik Vespa, pengalaman naik Vespa ya begitu deh. Sering diliatin orang. Terus lagi kayaknya rasa soldiaritas pengguna Vespa kayaknya tinggi banget, soalnya tadi pas di jalan papasan sama pengguna Vespa bapak-bapak, kak Egi sama tuh Bapak saling mengangguk dan ngelakson.


“Eh Ni, kebetulan teman-temanku hari ini pada nongkrong, aku bawa kamu ke tempat tongkrongan teman-temanku aja ya.”

“Bebas kak.”

Sore itu jalanan macet banget dan udah mulai magrib. Memang ya Bandung sekarang bukanlah Bandung pas zaman aku SD. Kendaran makin banyak, orang makin banyak ke Bandung, tapi gak salah sih kan Bandung itu ibukota Jawa Barat, pasti rame. Setelah lama di perjalanan akhirnya kita sampai di tempat tongkrongan kak Egi dan teman-temanya. Ternyata tongkrongan kak Egi disebuah rumah. Entah itu rumah siapa aku gak tau. Aku berjalan di belakang kak Egi, aku sebenarnya malu sih soalnya teman-teman kak Egi tidak ada yang aku kenal, belum lagi pas aku lihat teman-teman kak Egi lagi pada nongkrong di depan rumahnya, sepertinya teman-teman kak Egi bukan hanya ada anak sekolahan, diliat dari mukanya sepertinya mereka pada tua-tua.

“Woiii… Ebol… mawa saha maneh ? (bawa siapa kamu)”Teriak salah satu teman kak Egi.
“Ciyee, Egi, ciyeee..”
“Witwiw…”

“ssstt.. ah, ini ade kelas aink.” Kata kak Egi.
“Ade kelas apa ade kelas…”
“Ehem… ehem…”

Aku mulai gak nyaman dengan teman-teman kak Egi, entah kenapa aku mulai berfikir negatif tentang mereka. Total ada 5 orang disana, dua orang rambutnya jabrig/panjang, satu lagi botak, sisanya berambut normal. Yang botak ditindik/pakai anting, yang satu berambut normal ada tatonya.

“Boll.. alus, yuk kajero… aya nu perlu diomongin.” Kata yang botak yang lalu kemudian mengajak kak Egi masuk ke dalam rumah meninggalkan aku di luar di tengah kerumuman empat orang yang lainnya.

“Neng siapa namanya?” Kata yang berambut jabrig.

“Ani A.” Jawabku

“Neng orang mana?”

“Neng sakola dimana?”

“Neng kelas sabaraha?”

“Neng tos kabogoh acan?”

Stop! Aku gak menjawab semua pertanyaan mereka kecuali namaku saja. Jijik banget aku denger pertanyaan dari mereka.

“Neng ih somse..”

Mereka terus menggodaiku. Bahkan duduknya ada yang mulai deket-deket sama aku. Sumpah, Aku benar-benar gak nyaman dan mulai takut. Aku risih, kemana sih perginya kak Egi. Dia pergi meninggalkanku ditengah orang-orang yang kayak gini.

“Neng.. jawab atuh..” Salah satu diantara mereka mencolek daguku. Sumpah demi tuhan, aku merinding ketika kulitnya itu menyentuh kulit wajahku. Aku reflek langsung menampar orang yang mencolekku tadi.

“Wow.. wow.. ganas oge”

Kemudian salah satu dari mereka ada yang merangkulku mencoba mengaleng diriku. Aku pun menangkis tangannya dan langsung berdiri melihat ke arah mereka yang masih pada duduk. Aku baru pertama kali deg-degan karena hal seperti ini, dan aku merasa takut. Aku pun langsung berlari untuk kabur. Namun, salah satu diantara mereka mengejarku dan mencoba meraih memegang tanganku, namun aku bisa menghindar dan sekali lagi berhasil menampar mereka.

“BILANGIN KE KAK EGI! AKU PULANG!!!” Teriaku di depan muka orang itu. Setelah mendengar teriakanku orang itu pun tidak lagi mengejarku.

Aku benar-benar marah, takut, sedih, pokoknya semua perasaan itu bercampur aduk. Aku jadi marah banget sama kak Egi karena hal tersebut, kenapa dia membawaku ke tempat seperti itu, terus dia malah meninggalkanku, sumpah aku gak ngerti lagi. Aku juga takut karena aku dikepung oleh orang-orang yang gak aku kenal, aku nethink sama mereka, mereka sepertinya bukan orang-orang baik, dan mereka berniat jahat kepadaku. Aku pun sedih, aku ingin pulang, aku kangen rumah, seharusnya aku tidak pergi main.

Aku menangis dan berjalan luntang-lantung. Ketika berjalan aku menunduk, sehingga aku tidak tahu kemana arah tujuanku, dan aku sendiri gak tau dimana. Aku baru sadar ternyata ini sudah jam 8 malam lebih ketika aku melihat layar hp. Namun sayangnya hpku off karena low battery. Aku jadi makin sedih dan takut. Aku sekarang pulang bagaimana, aku gak tau ini dimana, terus lagi aku gak bisa menghubungi orang rumah. Aduh, betapa sialnya aku hari ini. 

Aku terus saja berjalan, aku yang terbiasa jadi anak rumahan, malam ini berjalan entah dimana dan SENDIRIAN. Mengingat diriku yang sedang sendirian membuat aku waspada dan takut. Memang sih di jalan ada beberapa motor dan mobil lalu lalang, tapi tetap saja mereka semua orang asing, orang yang gak aku kenal. Pengalamanku bertemu orang yang gak aku kenal di tempat tongkrongan kak Egi tadi, membuatku harus lebih waspada terhadap orang yang gak aku kenal.

Syukurlah aku menemukan sebuah konter HP. Aku pun langsung datang ke konter HP tersebut. Biar enak aku beli pulsa, padahal niat yang sebenarnya aku ingin ngecharge hpku yang sudah mati. Untung saja AA konternya baik banget dan ia mau meminjamkan chargerannya untuk hpku.

“A ini teh dimana?” Kataku yang sedang duduk menunggu.
“Punclut neng..”

“Oh…” Sebenarnya aku gak punclut itu dimana..

Aku pun hanya bisa duduk menunggu batre hpku diisi. Aku Cuma bengong saja, nangkring di konter. Si AA juga malah sibuk dengan komputernya sambil dengerin lagu-lagu indonesia yang populer. Tapi si AA konter juga baik kepadaku, dia menawariku minum dan beberapa cemilan.

“Neng punteun, AA mau tutup, ini Hpnya.” Kata si AAnya. Aduh A plis tunggu dulu, aku gak tau harus kemana lagi malam-malam begini. Aku pun segera mengambil hpku dan pergi meninggalkan si AA yang sedang membereskan konternya karena mau tutup.

Aku lihat hp sekarang udah mau jam 11. Wow, rekor pribadi nih, jam 11 masih keluyuran di luar rumah sendirian. Aku juga baca sms dari ibu nanyain aku dimana dan dia begitu mengkhawatirkanku. Aku pun jadi sedih ingat ibu, dia pastinya sangat khawatir denganku.

Malam memang sudah gelap, tapi makin gelap rasanya ketika aku menyadari aku benar-benar sendirian di jalan karena sudah sepi banget. Horor banget rasanya. Aku makin takut. Aku takut ketemu penculik, perampok, anggota geng motor, dan aku juga takut ketemu hantu. Gara-gara kepikiran hal-hal itu, aku malah nangis lagi karena ketakutan. Aku memang lemah dan cengeng. Aku malu.

Aku terus menelepon ibu dan kak Fe. Aku ingin mengabari mereka kalau aku ingin pulangggggg. Namun, tidak ada dari mereka yang menjawab panggilanku. Iyalah, ini sudah hampir tengah malam, mereka pasti sudah pasti tidur. Aku benar-benar sial hari ini.

Di tengah-tengah diriku yang desprate ini, tiba-tiba hpku bunyi, suara panggilan masuk. Aku lihat itu dari kak Fe. Oh kak Fe, help me!!! Namun begonya diriku. Karena sudah gak bisa berpikir jernih, aku jadi salah mijit tombol, aku malah neken tombol merah sehingga menolak panggilan dari kak Fe. Aku bodoh! Harus ku akui itu. Hiks :’(

Aku pun segera menelepon balik kak Fe.

“Heh! Lo dimana sih !?”
“…..” Aku nyadar dia pasti bakal marah karenaku, jadi aku diam saja tak menjawab.
“…”
“Heh…lu.. Gob..”

“Kak….” Kataku.

“Kak…” Kataku lagi.

“Kakak… tolong…”

“Jemput aku..”

“Aku takut..”

Aku benar-benar gak tau lagi harus gimana, aku benar-benar takut sendirian di sini, jadi aku dengan segenap jiwa raga meminta pertolongan kak Fe buat ngejemput diriku ini.

Kini giliran dia yang diam, lalu memanggil namaku beberapa kali. Kali ini aku bisa merasakan nada bicara kak Fe yang agak tenang daripada di awal tadi yang meledak-ledak.

“Kak… Aku takut…” Aku berkata jujur

“Dimana?” Tanya dia

“Aku gak tau.”

“Aku gak tau dimana… Aku dari tadi jalan kaki..”

“NI!!! Emang tadi kamu dibawa kemana si Egi? Terus Eginya mana Ni?”

“Dago kak…”

Aku benar-benar gak tau ini dimana, yang jelas tadi aku memang pergi ke dago sama kak Egi, tapi karena dibawa ke tempat tongkrongan kak Egi, entahlah aku dimana, yang jelas masih di Bandung.

“Gue di Dago Ni! Lo dimana? ”

“Aku gak tau kak.. aduh kak, aku takut, aku jalan sendirian di jalan.”

“Coba kamu inget-inget kamu deh, sebetulnya kamu tadi habis darimana?”

Aku pun berpikir sejenak, oh iya si AA tadi bilang aku ada di…

“Panclut. Penclut…”

“Punclut Ni!”

“Iya, itu kak.. ”

“, Hpnya jangan dimatiin, gue ke sana sekarang.”

Mendengar kak Fe ngomong begitu entah kenapa membuatku lega dan jadi lebih tenang. Kak Fe benar-benar orang yang pemberani dan tidak kenal takut, beda sama aku yang lemah seperti ini. Aku pun harus berterima kasih karena punya dia.


“Ni…Ni…”
“Kenapa sih bikin repot aja…”
“Klo bukan ade gue, udah gue tingalin.”
“Anita.. Anita, kamu itu ya ngeselin banget.”
“Tapi gue juga bego, kenapa selalu peduli dengan dia.”
“Ahhhh… bodolah, gue mesti jemput dia dulu, kemudian tidur.”

Karena panggilan dari hpnya gak dimatiin, aku jadi bisa denger kak Fe ngoceh sendiri. Aseli mendengar perkataan kak Fe aku jadi senyum-senyum sendiri. Wkwkwkwkkwkw.

Aku pun tidak melanjutkan lagi jalannya, aku diam saja di pinggir jalan, sambil mengamati jalanan menunggu kak Fe.

“Hoammm” Aku ngantuk banget, aku benar-benar sudah tidak kuat lagi, aku capek dan merindukan kasur di kamar, namun aku gak boleh tidur disini, aku gak boleh menyerah, aku harus tetap terjaga. Aku harus ingat, kak Fe juga tidak menyerah kepadaku, dia sedang dalam perjalanan menjemputku.

Dari kejauhan aku melihat mobil, mobil pajero putih, pas mobilnya mulai mendekat aku memperhatikan plat nomornya, dan aku tau, itu mobil ibu! Mobil yang suka di pake ibu sama aku ketika keluar buat belanja. Pantes saja aku kenal, hehe tapi tumben kak Fe memakai mobil yang ini.

Tapi, sayangnya mobil itu malah melaju kencang aja melewatiku. Aku pun kaget, apa itu cuman ilusi mata aja di tengah malam begini berhubung aku sudah hilang konsentrasi karena capek dan ngantuk.

“Kak…. Kemana ?” Teriaku di telepon sekalian buat memastikan kalau yang aku liat itu bukan mobil hantu.

“Heh?!”

“Aku liat mobil kakak lewat barusan..” Kataku

“Oyah..? Tunggu gue muter balik lagi.”

Fyuhhh, untung beneran itu bukan mobil hantu.

Tak lama kemudian mobil itu balik lagi, dan aku pun memberi tanda kalau aku disini. Mobil itu pun menepi. Aku pun segera membuka pintunya dan benar saja aku lihat di balik kemudi itu adalah kakakku, kak Fe. Aku bahagia sekali melihatnya sehingga aku langsung saja memeluk dia dan memberikan kecupan di pipi kirinya. Aku terharu sekali, aku benar-benar harus berterima kasih, kak Fe itu baik sekali kepadaku, entah berapa kebaikan yang dia berikan kepadaku, dia juga selalu melindungiku, ya walaupun dia sering galak dan jahat padaku, tapi dia itu sebenarnya baik banget padaku. Hiks..hiks.. aku terharu…

Di perjalanan pulang aku capek banget dan ngantuk sehingga tertidur pulas. Aku tau pasti malam ini aku merepotkan kak Fe, tapi ya bagaimana lagi, selain ke dia, siapa lagi yang harus aku mintai tolong.

Ah, I love you kak Fe. Aku janji aku bakal jadi saudara yang baik buat kak Fe.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.