- Beranda
- Stories from the Heart
Generation With No Mythologies To Follow
...
TS
konigswood
Generation With No Mythologies To Follow
Love? What is that? Seems legit, can I have some on it?
Everybody talk about love, but what the true love mean?
Everybody sayin love more than his/her love
But I have Love for You more than words I can say
It is real? Nope maybe it is rael
Everybody talk about love, but what the true love mean?
Everybody sayin love more than his/her love
But I have Love for You more than words I can say
It is real? Nope maybe it is rael
Hai untuk seseorang disana, Aku sayang padamu ketika aku benar benar membencimu saat ini, maafkan aku yang terlalu angkuh untuk mengatakan aku sayang padamu, maafkan aku yang ternyata tidak berusaha saat engkau hendak meninggalkan ku terdampar disini
Just enjoy it, If there was same name, same place, same stories (Copy Paste) at this story, i just said So sorry im to terrible to hear that, cz My stories gonna using similar name similar place, if you wanna share it, please dont forgot the copyright
Moral? I dont give a fuck with it, so here we go!
Kita coba sedikit pengindexan ya, sebelumnya ga ada indexnya
Spoiler for Sop Iler:
Diubah oleh konigswood 11-01-2018 11:35
0
92.2K
501
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
konigswood
#48
NA
Kemudian Chynthia merangkulku dan mengajak ke balkon rumahnya, rangkulkan hangat dan mesra, mungkin kalian akan cemburu jika melihatnya
“Seems good right? Kalo nanti papa sama mama udah menikah, kita akan terus sedekat ini kan? Kita bisa ngobrol – ngobrol bisa bercanda bareng kan?” Ucapnya
“Yeah, why not?”
Sambil bersandar di bahuku kita melalui malam bersama, tanpa tersadar jam di arlojiku sudah menunjukan pukul 23.00, saat aku turun dari balkon, kudapati Papa tengah tertidur
“Pa”
“Udah sih, biarin aja tidur disini nggak papa kok” Ucap Thia
“Lah gua pulang gimana Thia”
“Ya tinggal naik mobil aja kan?”
“Pa, bangun pa, yuk pulang”
Kemudian Papa terbangun dari tidurnya, sambil mengelap sekitar mulut dan mengucek matanya
“Pulang yuk pa, keasyikan ngobrol di atas sampai lupa”
“Papa sih Cuma nganterin orang pacaran tadi hahah, lupa kalau sebenarnya yang nganterin siapa”
“Hehehe, mengakrabkan diri doang pa sama calon kakak”
“Halah, yuk pulang”
Kemudian kami melangkah meninggalkan rumah itu, dan mobil ini dengan cepat melaju menembus gelapnya kota
“Kamu yakin?”
“Yakin untuk?”
“Chynthia, papa liat kamu deket banget loh, papa bisa aja bilang sama Lisa, kalau kalian berdua akan dinikahkan setelah selesai kuliah kalian nanti, jadi papa dan lisa bisa jadi besan, kalau papa menikah kan otomatis nggak mungkin suami istri jadi besan”
“Yakin, Im so sure pa”
“Oke, kalau papa nanti sudah menikah dengan Lisa, tapi kamu secara tiba – tiba ingin lebih dari kakak adik, berarti salah satu di antara kalian harus ada yang dicoret dari keluarga, supaya kalian bisa menikah”
“OK! Deal with it”
Kemudian papa sudah melintasi alam imajinya
“tenang pa, Laras masih lebih ok dari pada Thia” ucapku dalam hati
Setelah semuanya kembali normal, hidup terasa lebih tenang, dan aku melakoni tugasku sebagai carry dota 2 dengan baik, tanpa ada beban, jadi bisa fokus dalam game
“Ham, kok lu sering masuk ke apartment Theo yah? Ngapain emang?” Begitu isi pesan singkat yang baru kuterima dari Thia, saat aku baru memasuki lobby Apartment milik lucas
“Apartment Theo? Nggak ah”
“Gua hafal plat nomor motor sama mobil lu, jadi ga usah coba bohongin gua, orang gua sering liat kok”
“Salah orang mungkin”
Chynthia belum tahu, kalau aku dan lucas beserta Nathan sedang prospek mendirikan team DotA, dan kandidat personil team lainnya yaitu, Ivan mahasiswa kampus ini entah di kelas mana, cuman dia teman SMA si Lucas, minim skill tapi masih mau belajar, dan adalagi Wanda seorang wanita dan rolenya offlaner sahabat Nathan, Aku dan Lucas rajin rajin bertukar Role sebagai Carry dan Midlaner
Sedang yang susah itu Nathan, Ivan dan Wanda mereka masih sulit berkerjasama
“Cas, nyalain PC gua cas, gua mau pulang dulu, hari ini tulang gua udah normal semua, jadi bisa DotA sampai MMR tembus 1 juta”
“Yaudah”
Hari ini terjadwal aku melepas semua embel – embel dari dokter, dan aku dinyatakan sudah sembuh dan bisa berolahraga lagi, luka – luka operasi plastik juga sudah kering, aku operasi plastik sedikit karena dahiku sobek, jadi biar tidak terlihat cacat langsung di operasi ringan, saat dilobby tanpa sadar, Chynthia membuntutiku
“Dor!”
“Eh Thia, ngagetin aja”
“Tuh sering kesini kan, nengokin Theo ya?”
“Nggak, gua ada tugas kelompok tadi”
“Awas bohong lagi, gua ngambek lagi nanti”
“Theo sekarang makin cantik loh, yakin lu ga mau sama dia?”
“Nggak, dah gua mau pulang, mau ngelepas robot – robotan yang ada di badan”
“Care”
Ingin segera rasanya melepas semua besi yang ada di dalam tubuh, supaya bisa kembali berbasket ria dan juga bisa berenang bebas di rumah, ketika Papa sudah bersiap diri untuk mengantarku, senang sekali rasanya hati ini
Day by day, hidupku semakin membaik, dan Papa sudah mulai memikirkan design undangan pernikahannya, aku sudah rutin DotA dan Basket bersama teman – temanku yang jumlahnya sedikit itu, Basket di kampus tak semenantang basket di rumah, karena menurutku lebih berskill bermain dirumah ketimbang di kampus, bukan bermaksud sombong, aku seperti terlalu imba untuk bermain di kampus ini
“Thia, menurut lu temen – temen di kampus perlu di undang ke resepsi pernikahan orang tua kita nggak?”
“Kayanya nggak usah deh, tapi kalo lu mau ngundang juga gapapa, cuman gua sih ga ngundang mereka”
“Oh, gua paling ngundang Lucas aja, biar amplopnya banyak”
“Oh, yang mobilnya Cayman itu ya? Gua denger – denger dia anak yang punya apartment sebrang?”
“Matre lu”
“Ye, namanya juga cewe, siapa yang mau hidup miskin sih ham?”
“Hahahah, bahagianya gua ga memilih lu jadi pasangan hidup gua”
“I want to be a rich girl, I wont do more hard for a little money”
“Just do it!, dah gua kelas dulu, lu jangan keluyuran ke tempat Theo mulu”
“Sesama model mah nggak papa”
Di dalam kelas aku fokus memerhatikan lecturer yang sedang asik presentasi tentang flow export import procedure, tapi lama – lama entah mengapa godaan untuk menghabiskan waktu di smoking room bersama Lucas berat di tahan, baru 15 menit aku memerhatikan lecturer aku sudah meninggalkan ruang kelas dan menyusuri lobby hall dan menuju smoking room, disana tentunya ada Lucas dan Nathan
“Bagi rokok cas, rokok gua ketinggalan di atas”
“Gua juga ga bawa rokok, gua minta ama cewe gua”
“Nath, bagi dong”
“Nih”
Dengan sigap kunyalakan batang rokok itu, saat itu aku melihat nathan sangat cantik, dengan celana robek – robeknya dan juga Sleevelessnya, ini orang niat kuliah kah? Seingatku dia sangat feminim saat orientasi dan terlihat anggun, namun penampilannya kali ini cukup menawan mata
“I told you don’t smoke more” Ucap Alesia sambil berlari menuju smoking room, entah aku mungkin yang dimaksud
“Cewe lu tuh ham, urus gih” Ucap Nathan enteng
“Bukannya lu sibling?”
“Ga guna sodaraan sama dia”
“Hey, Can you hear me? I said don’t smoke many more Bitch!”
“Bitch? Whose the bitch? You?”
“Shut your fuckin mouth” dan sebuah tamparan telak kearah pipinya
“Theres a big fault honey” Sebuah pukulan telak mengarah ke Ale hingga ia tersungkur
Reflek aku langsung membantu Ale, pukulan upeer cut sangatlah berbahaya, bisa menyebabkan cedera
“Nath, lu apa – apaan sih nath? Kakak lu ini, kalau emang lu nggak boleh ngerokok, ikutin aja, nanti kalau dia udah pergi lu rokok lagi gapapa”
“Urus cewe lu aja Mr.Konigswood, ga usah pake ngatur hidup gua”
Kemudian Nathan meninggalkan aku dan Lucas yang membopong Ale ke Clinic kampus
“Dia emang gitu, kalau berantem keras banget, maklumin aja” Ucap Lucas
“Cas, lu cari bongkahan Es batu dong, ini ada memar di dagunya Ale” ucapku saat memerhatikan dagunya
“Ok, gua ke lobby”
Di dalam clinic ini tidak menyediakan es, hanya ada obat – obatan matras serta kursi roda, namun tidak ada es batu dan alat kompres luka lebam, saat ku cari – cari ada beberapa helai plester kompres demam, ku tempelkan saja ke dagunya, mungkin ini akan membantu meminimalisir sakitnya
Lucas datang membawa Es Batu, langsung saja ku tempelkan ke dagunya, mungkin karena terlalu dingin hingga membangunkannya dari pingsan
“Hey, Feel Better?”
“Yep, thanks anyway”
“Don’t talk to much, let me freezing it”
Kemudian ia menganggukan kepalanya, tanda ia mengerti cara membekukan sarafnya supaya tidak merasakan sakit
“Bro, tas lu gua ambilin nih, terus gua balik dulu ama cewe gua, nanti malem gua tunggu di apartment ya” Ucap Lucas
“Eh, ya ya, thanks anyway”
“Bye Ale, Get well soon”
“Bye too Lucas”
Kemudian sisa kami berdua di dalam clinic
“Doctor Graham, you look so sexy when freezing mine, hahaha, take me home ham”
“Are you sure? Are you feel better?”
“Yeah, It will fine in 2 – 3 days”
“Ok, lets go home”
“Siap, Gendong”
“What? Gendong? OMG”
Kemudian ku gendong lah Ale menuju mobilku
“Wait, its not my car, I bring a car, my car over there” ucapnya sambil menunjuk sebuah mobil Lancer
“Let Lucas drove ur car, I will carry you home with my car”
“Ok sir” ucapnya sambil mengecupku, dan tanpa disadari ada Chynthia yang baru keluar dari hall parkir dengan menekan klaksonnya
Dengan cepat ku arahkan mobil kerumahnya, dalam perjalanan aku meminta Lucas untuk menunggu disana, sebenarnya Lucas mengantar Nathan pulang, dan aku mengantar Ale, padahal Ale dan Nathan satu rumah, aneh kami mengantar 2 orang yang satu rumah dengan kendaraan yang berbeda – beda, padahal bisa dibarengkan
“Hey Nath, Lucas masih didalem?” ucapku
“Masih tuh” sembari membukakan pintu pagar
“Wheres your room Ale?”
“2nd floor at right side”
“Gua kalo jadi lu mending gua tinggal di kampus kalo dia minta di gendong gitu” Gerutu Nathan saat aku menggendong Ale
“Tsk, Its still ur sister”
“Bagus dia ga mati”
“Apa sih Nath?, mending lu ikut gua ambil mobil lu di kampus”
“Mobil gua? Mobil gua masih parkir tuh, liat aja BMW gua tuh”
“Ok, maksud gua ambilin mobil kakak lu yang lancer”
“Ama Lucas aja sana, malas gua”
Setelah aku mengantarkan kekamarnya, aku mengajak lucas untuk mengantar Lancer ke rumah ini
“Bawa mobil lu ya bro, tapi gua yang nyetir”
“Lah? Ya udah dah”
“Gua dari dulu, pengen banget punya mobil tinggi, tapi ngga pernah boleh sama bokap, katanya ngga cocok buat anak muda”
“Hahahah bokap lu suruh jadi lu aja”
“Padahal bokap punya Land Cruiser, cuman megang stirnya aja ngga di kasih”
“Dah nih bawa mobil gua, gua mau rebahan capek gendong Ale dari tadi”
“Bro, leher lu kok merah – merah gitu?”
“Ah? Bercanda lu”
“Liat di spion kalo ngga percaya”
Dengan rasa gundah ku tengok spionku, dan….. damn it, Ale ini ulah Ale
“Besok – besok gua suruh Nathan nonjokin Ale tiap hari aja kali yak? Biar temen gua lehernya merah – merah setiap hari?”
“Wah tega lu cas ama gua, ini nggak sengaja cas”
“Alah nggak sengaja apa doyan?”
Lucas mengemudi dengan cepat, hingga kami lebih cepat tiba di kampus
“Hai Mas, duluan ya” Ucap gege sambil cipika cipiki, saat aku baru turun dari mobil dan menuju ke mobil Ale
“Buru – buru amat mbak?”
“Udah telat mas”
“Oh, hati – hati mbak, high heels nya nanti patah”
“Bisa aja kamu mas”
Kemudian suara Klakson mengagetkanku
“Cakepan Ale bro, dari pada yang tadi”
“Halah, apaan sih lu, cewe lu udah cakep, ga usah neko – neko, kalo neko – neko nanti gua rebut”
“Ngerih – ngerih besok – besok Nathan gua suruh pake kacamata kuda dah”
“Tai, dah yuk gua bawa mobil gua, lu bawa mobil Ale ya, kita adu speed di tol, keluarin semua skill zig – zag lu”
“No, gua bawa mobil lu, lu bawa mobil Ale, itu Adil, kita sama – sama belum biasa pake mobilnya kan?”
“Ok, Kalah apa nih? Traktir makan Sky dining ya?”
“OK!”
Aku yang biasa mengemudi mobil tinggi dan panjang, mengemudi mobil lancer serasa ringan dan ingin terbang, meskipun aku sudah menginjak pedal dalam – dalam tapi entah mengapa sepertinya mobil ini tidak memiliki Accelerasi yang prima, handling yang baik, namun tidak ada accelerasi rasanya sulit untuk di adu
Aku terlalu lihai memainkan steer sehingga di tengah ramainya jakarta, aku masih dapat mengemudikan mobil dengan cepat dan bisa mengasapi Lucas
Entah karena memang Ale yang tidak paham tentang kondisi kendaraannya atau dia memang tidak mau ke bengkel, tapi suasana dalam kabin berisik suara mesin dan terlihat ngoyo saat menginjak kecepatan 140 kpj
Tentu aku lebih dahulu sampai ketimbang Lucas, karena tipe sprinter seperti Lucas tidak cocok untuk beradu zigzag denganku, sesampainya dirumah aku menyalakan keran air di halaman rumah untuk mendinginkan ban mobil yang tergores hangatnya aspal
“Dicuci yang bersih ya pak”
“Eh lu Nath, gua kira siapa”
“Sesudah ini lu bisa pergi ham, jangan mainin perasaan Ale, kalau lu butuh kehangatan gua rasa lu lebih dari cukup secara materi untuk jajan”
“Maksud lu?”
“Lu Cuma pengen badan Ale kan?, gua udah paham gelagat lu, apalagi gua lihat leher lu ada luka segar”
“Nath, tolong lah ya, oke kalau lu nganggep gua seperti itu, ngga masalah buat gua, tapi perlu lu tau gua ga sehina apa yang lu pikir”
“Ya ya ya udah berapa lama kena Lion king?”
“Hahahahaha”
Aku mulai menyikapinya dengan tertawa, karena aku tidak mau ambil pusing, lebih baik setiap ia bicara apa, ku acuhkan saja, atau aku tertawa sekedarnya, beruntung tak lama Lucas datang
“Gua langsung balik cas, mungkin untuk seminggu ini gua ga latihan bareng dulu, gua ada perlu, dan inget cas, Sky dining”
“Iye – iye, buru – buru banget sih lu?”
“Gua sibuk, mau belajar, sebentar lagi liburan soalnya, gua perlu belajar banyak hal”
Waktu itu sudah hampir menjelang masa dimana kita akan menghadapi UTS, padahal baru beberapa minggu kuliah tapi sesaat lagi kita akan UTS, saat aku sedang kesal – kesalnya dengan Nathan, aku pulang kerumah yang jaraknya hanya 400 meter dari rumah Ale, sesampainya dirumah ada telephone dari nomor asing, karena dari kode di depan nomornya yang bukan +62
“Halo, whose speaking” Ucapku
“Graham Xaphier here, Do I Speaking with Larasati?”
“Hahaha kamu ras, ada apa telephone?”
“4 minggu lagi aku pulang ke Jakarta, kamu jemput aku ya” Ucapnya dengan aksen yang aneh
“Maksa kamu ras”
“Hahaha teach me how, Indonesian Accent so difficult”
“Sering – sering ngomong sama aku, pahami pelafalannya aja”
“OK, jemput aku ya, miss you”
“Iya, miss you too”
Kemudian terbayang wajah Laras yang ceria, bukan wajah Nathan yang penuh kebencian, sehingga semalaman itu aku asik berfantasi dan mengandai – andai menghabiskan waktu bersama Laras
Saat asik berfantasi telephone masuk dari Papa membuyarkan semua fantasiku
“Halo pa?”
“Halo ham, papa barusan kirim email ke kamu design undangannya, dan papa rencana mau ada lamaran minggu ini, kamu tolong cetakin Undangannya, dan kamu bisa minta tolong chynthia, Papa kayanya malam ini menginap di hotel, ada survei tempat”
“Iya pa, bye pa”
“Bye”
Sendirian dirumah? Tenang, ada Keket nanti di rumah ini, aku takut kalau tidur sendirian, jadi aku minta di temani keket saja
“Thia, besok ikut gua ke percetakan ya, dan Papa ada rencana melakukan lamaran minggu ini” Sent via Whatsapp to Chynthia
“Ok, jangan lupa pacar lu yang tadi di undang ya ham, kalau perlu itu yang orangnya agak pendek juga”
“Apa sih Thia? Cemburu ya? Hahahaha, itu tadi kan yang gua gendong yang waktu itu demo club basket pas kita orientasi kan!”
“Sorry cemburuin lu mah nggak kelas, dah gua lanjut kerja dulu”
“Kerja apa? Kenapa kerja?”
“Model, karena gua senang”
“Oh, gua kirain lu kerja part time apa gitu, selamat kerja ya”
“Seems good right? Kalo nanti papa sama mama udah menikah, kita akan terus sedekat ini kan? Kita bisa ngobrol – ngobrol bisa bercanda bareng kan?” Ucapnya
“Yeah, why not?”
Sambil bersandar di bahuku kita melalui malam bersama, tanpa tersadar jam di arlojiku sudah menunjukan pukul 23.00, saat aku turun dari balkon, kudapati Papa tengah tertidur
“Pa”
“Udah sih, biarin aja tidur disini nggak papa kok” Ucap Thia
“Lah gua pulang gimana Thia”
“Ya tinggal naik mobil aja kan?”
“Pa, bangun pa, yuk pulang”
Kemudian Papa terbangun dari tidurnya, sambil mengelap sekitar mulut dan mengucek matanya
“Pulang yuk pa, keasyikan ngobrol di atas sampai lupa”
“Papa sih Cuma nganterin orang pacaran tadi hahah, lupa kalau sebenarnya yang nganterin siapa”
“Hehehe, mengakrabkan diri doang pa sama calon kakak”
“Halah, yuk pulang”
Kemudian kami melangkah meninggalkan rumah itu, dan mobil ini dengan cepat melaju menembus gelapnya kota
“Kamu yakin?”
“Yakin untuk?”
“Chynthia, papa liat kamu deket banget loh, papa bisa aja bilang sama Lisa, kalau kalian berdua akan dinikahkan setelah selesai kuliah kalian nanti, jadi papa dan lisa bisa jadi besan, kalau papa menikah kan otomatis nggak mungkin suami istri jadi besan”
“Yakin, Im so sure pa”
“Oke, kalau papa nanti sudah menikah dengan Lisa, tapi kamu secara tiba – tiba ingin lebih dari kakak adik, berarti salah satu di antara kalian harus ada yang dicoret dari keluarga, supaya kalian bisa menikah”
“OK! Deal with it”
Kemudian papa sudah melintasi alam imajinya
“tenang pa, Laras masih lebih ok dari pada Thia” ucapku dalam hati
Setelah semuanya kembali normal, hidup terasa lebih tenang, dan aku melakoni tugasku sebagai carry dota 2 dengan baik, tanpa ada beban, jadi bisa fokus dalam game
“Ham, kok lu sering masuk ke apartment Theo yah? Ngapain emang?” Begitu isi pesan singkat yang baru kuterima dari Thia, saat aku baru memasuki lobby Apartment milik lucas
“Apartment Theo? Nggak ah”
“Gua hafal plat nomor motor sama mobil lu, jadi ga usah coba bohongin gua, orang gua sering liat kok”
“Salah orang mungkin”
Chynthia belum tahu, kalau aku dan lucas beserta Nathan sedang prospek mendirikan team DotA, dan kandidat personil team lainnya yaitu, Ivan mahasiswa kampus ini entah di kelas mana, cuman dia teman SMA si Lucas, minim skill tapi masih mau belajar, dan adalagi Wanda seorang wanita dan rolenya offlaner sahabat Nathan, Aku dan Lucas rajin rajin bertukar Role sebagai Carry dan Midlaner
Sedang yang susah itu Nathan, Ivan dan Wanda mereka masih sulit berkerjasama
“Cas, nyalain PC gua cas, gua mau pulang dulu, hari ini tulang gua udah normal semua, jadi bisa DotA sampai MMR tembus 1 juta”
“Yaudah”
Hari ini terjadwal aku melepas semua embel – embel dari dokter, dan aku dinyatakan sudah sembuh dan bisa berolahraga lagi, luka – luka operasi plastik juga sudah kering, aku operasi plastik sedikit karena dahiku sobek, jadi biar tidak terlihat cacat langsung di operasi ringan, saat dilobby tanpa sadar, Chynthia membuntutiku
“Dor!”
“Eh Thia, ngagetin aja”
“Tuh sering kesini kan, nengokin Theo ya?”
“Nggak, gua ada tugas kelompok tadi”
“Awas bohong lagi, gua ngambek lagi nanti”
“Theo sekarang makin cantik loh, yakin lu ga mau sama dia?”
“Nggak, dah gua mau pulang, mau ngelepas robot – robotan yang ada di badan”
“Care”
Ingin segera rasanya melepas semua besi yang ada di dalam tubuh, supaya bisa kembali berbasket ria dan juga bisa berenang bebas di rumah, ketika Papa sudah bersiap diri untuk mengantarku, senang sekali rasanya hati ini
Day by day, hidupku semakin membaik, dan Papa sudah mulai memikirkan design undangan pernikahannya, aku sudah rutin DotA dan Basket bersama teman – temanku yang jumlahnya sedikit itu, Basket di kampus tak semenantang basket di rumah, karena menurutku lebih berskill bermain dirumah ketimbang di kampus, bukan bermaksud sombong, aku seperti terlalu imba untuk bermain di kampus ini
“Thia, menurut lu temen – temen di kampus perlu di undang ke resepsi pernikahan orang tua kita nggak?”
“Kayanya nggak usah deh, tapi kalo lu mau ngundang juga gapapa, cuman gua sih ga ngundang mereka”
“Oh, gua paling ngundang Lucas aja, biar amplopnya banyak”
“Oh, yang mobilnya Cayman itu ya? Gua denger – denger dia anak yang punya apartment sebrang?”
“Matre lu”
“Ye, namanya juga cewe, siapa yang mau hidup miskin sih ham?”
“Hahahah, bahagianya gua ga memilih lu jadi pasangan hidup gua”
“I want to be a rich girl, I wont do more hard for a little money”
“Just do it!, dah gua kelas dulu, lu jangan keluyuran ke tempat Theo mulu”
“Sesama model mah nggak papa”
Di dalam kelas aku fokus memerhatikan lecturer yang sedang asik presentasi tentang flow export import procedure, tapi lama – lama entah mengapa godaan untuk menghabiskan waktu di smoking room bersama Lucas berat di tahan, baru 15 menit aku memerhatikan lecturer aku sudah meninggalkan ruang kelas dan menyusuri lobby hall dan menuju smoking room, disana tentunya ada Lucas dan Nathan
“Bagi rokok cas, rokok gua ketinggalan di atas”
“Gua juga ga bawa rokok, gua minta ama cewe gua”
“Nath, bagi dong”
“Nih”
Dengan sigap kunyalakan batang rokok itu, saat itu aku melihat nathan sangat cantik, dengan celana robek – robeknya dan juga Sleevelessnya, ini orang niat kuliah kah? Seingatku dia sangat feminim saat orientasi dan terlihat anggun, namun penampilannya kali ini cukup menawan mata
“I told you don’t smoke more” Ucap Alesia sambil berlari menuju smoking room, entah aku mungkin yang dimaksud
“Cewe lu tuh ham, urus gih” Ucap Nathan enteng
“Bukannya lu sibling?”
“Ga guna sodaraan sama dia”
“Hey, Can you hear me? I said don’t smoke many more Bitch!”
“Bitch? Whose the bitch? You?”
“Shut your fuckin mouth” dan sebuah tamparan telak kearah pipinya
“Theres a big fault honey” Sebuah pukulan telak mengarah ke Ale hingga ia tersungkur
Reflek aku langsung membantu Ale, pukulan upeer cut sangatlah berbahaya, bisa menyebabkan cedera
“Nath, lu apa – apaan sih nath? Kakak lu ini, kalau emang lu nggak boleh ngerokok, ikutin aja, nanti kalau dia udah pergi lu rokok lagi gapapa”
“Urus cewe lu aja Mr.Konigswood, ga usah pake ngatur hidup gua”
Kemudian Nathan meninggalkan aku dan Lucas yang membopong Ale ke Clinic kampus
“Dia emang gitu, kalau berantem keras banget, maklumin aja” Ucap Lucas
“Cas, lu cari bongkahan Es batu dong, ini ada memar di dagunya Ale” ucapku saat memerhatikan dagunya
“Ok, gua ke lobby”
Di dalam clinic ini tidak menyediakan es, hanya ada obat – obatan matras serta kursi roda, namun tidak ada es batu dan alat kompres luka lebam, saat ku cari – cari ada beberapa helai plester kompres demam, ku tempelkan saja ke dagunya, mungkin ini akan membantu meminimalisir sakitnya
Lucas datang membawa Es Batu, langsung saja ku tempelkan ke dagunya, mungkin karena terlalu dingin hingga membangunkannya dari pingsan
“Hey, Feel Better?”
“Yep, thanks anyway”
“Don’t talk to much, let me freezing it”
Kemudian ia menganggukan kepalanya, tanda ia mengerti cara membekukan sarafnya supaya tidak merasakan sakit
“Bro, tas lu gua ambilin nih, terus gua balik dulu ama cewe gua, nanti malem gua tunggu di apartment ya” Ucap Lucas
“Eh, ya ya, thanks anyway”
“Bye Ale, Get well soon”
“Bye too Lucas”
Kemudian sisa kami berdua di dalam clinic
“Doctor Graham, you look so sexy when freezing mine, hahaha, take me home ham”
“Are you sure? Are you feel better?”
“Yeah, It will fine in 2 – 3 days”
“Ok, lets go home”
“Siap, Gendong”
“What? Gendong? OMG”
Kemudian ku gendong lah Ale menuju mobilku
“Wait, its not my car, I bring a car, my car over there” ucapnya sambil menunjuk sebuah mobil Lancer
“Let Lucas drove ur car, I will carry you home with my car”
“Ok sir” ucapnya sambil mengecupku, dan tanpa disadari ada Chynthia yang baru keluar dari hall parkir dengan menekan klaksonnya
Dengan cepat ku arahkan mobil kerumahnya, dalam perjalanan aku meminta Lucas untuk menunggu disana, sebenarnya Lucas mengantar Nathan pulang, dan aku mengantar Ale, padahal Ale dan Nathan satu rumah, aneh kami mengantar 2 orang yang satu rumah dengan kendaraan yang berbeda – beda, padahal bisa dibarengkan
“Hey Nath, Lucas masih didalem?” ucapku
“Masih tuh” sembari membukakan pintu pagar
“Wheres your room Ale?”
“2nd floor at right side”
“Gua kalo jadi lu mending gua tinggal di kampus kalo dia minta di gendong gitu” Gerutu Nathan saat aku menggendong Ale
“Tsk, Its still ur sister”
“Bagus dia ga mati”
“Apa sih Nath?, mending lu ikut gua ambil mobil lu di kampus”
“Mobil gua? Mobil gua masih parkir tuh, liat aja BMW gua tuh”
“Ok, maksud gua ambilin mobil kakak lu yang lancer”
“Ama Lucas aja sana, malas gua”
Setelah aku mengantarkan kekamarnya, aku mengajak lucas untuk mengantar Lancer ke rumah ini
“Bawa mobil lu ya bro, tapi gua yang nyetir”
“Lah? Ya udah dah”
“Gua dari dulu, pengen banget punya mobil tinggi, tapi ngga pernah boleh sama bokap, katanya ngga cocok buat anak muda”
“Hahahah bokap lu suruh jadi lu aja”
“Padahal bokap punya Land Cruiser, cuman megang stirnya aja ngga di kasih”
“Dah nih bawa mobil gua, gua mau rebahan capek gendong Ale dari tadi”
“Bro, leher lu kok merah – merah gitu?”
“Ah? Bercanda lu”
“Liat di spion kalo ngga percaya”
Dengan rasa gundah ku tengok spionku, dan….. damn it, Ale ini ulah Ale
“Besok – besok gua suruh Nathan nonjokin Ale tiap hari aja kali yak? Biar temen gua lehernya merah – merah setiap hari?”
“Wah tega lu cas ama gua, ini nggak sengaja cas”
“Alah nggak sengaja apa doyan?”
Lucas mengemudi dengan cepat, hingga kami lebih cepat tiba di kampus
“Hai Mas, duluan ya” Ucap gege sambil cipika cipiki, saat aku baru turun dari mobil dan menuju ke mobil Ale
“Buru – buru amat mbak?”
“Udah telat mas”
“Oh, hati – hati mbak, high heels nya nanti patah”
“Bisa aja kamu mas”
Kemudian suara Klakson mengagetkanku
“Cakepan Ale bro, dari pada yang tadi”
“Halah, apaan sih lu, cewe lu udah cakep, ga usah neko – neko, kalo neko – neko nanti gua rebut”
“Ngerih – ngerih besok – besok Nathan gua suruh pake kacamata kuda dah”
“Tai, dah yuk gua bawa mobil gua, lu bawa mobil Ale ya, kita adu speed di tol, keluarin semua skill zig – zag lu”
“No, gua bawa mobil lu, lu bawa mobil Ale, itu Adil, kita sama – sama belum biasa pake mobilnya kan?”
“Ok, Kalah apa nih? Traktir makan Sky dining ya?”
“OK!”
Aku yang biasa mengemudi mobil tinggi dan panjang, mengemudi mobil lancer serasa ringan dan ingin terbang, meskipun aku sudah menginjak pedal dalam – dalam tapi entah mengapa sepertinya mobil ini tidak memiliki Accelerasi yang prima, handling yang baik, namun tidak ada accelerasi rasanya sulit untuk di adu
Aku terlalu lihai memainkan steer sehingga di tengah ramainya jakarta, aku masih dapat mengemudikan mobil dengan cepat dan bisa mengasapi Lucas
Entah karena memang Ale yang tidak paham tentang kondisi kendaraannya atau dia memang tidak mau ke bengkel, tapi suasana dalam kabin berisik suara mesin dan terlihat ngoyo saat menginjak kecepatan 140 kpj
Tentu aku lebih dahulu sampai ketimbang Lucas, karena tipe sprinter seperti Lucas tidak cocok untuk beradu zigzag denganku, sesampainya dirumah aku menyalakan keran air di halaman rumah untuk mendinginkan ban mobil yang tergores hangatnya aspal
“Dicuci yang bersih ya pak”
“Eh lu Nath, gua kira siapa”
“Sesudah ini lu bisa pergi ham, jangan mainin perasaan Ale, kalau lu butuh kehangatan gua rasa lu lebih dari cukup secara materi untuk jajan”
“Maksud lu?”
“Lu Cuma pengen badan Ale kan?, gua udah paham gelagat lu, apalagi gua lihat leher lu ada luka segar”
“Nath, tolong lah ya, oke kalau lu nganggep gua seperti itu, ngga masalah buat gua, tapi perlu lu tau gua ga sehina apa yang lu pikir”
“Ya ya ya udah berapa lama kena Lion king?”
“Hahahahaha”
Aku mulai menyikapinya dengan tertawa, karena aku tidak mau ambil pusing, lebih baik setiap ia bicara apa, ku acuhkan saja, atau aku tertawa sekedarnya, beruntung tak lama Lucas datang
“Gua langsung balik cas, mungkin untuk seminggu ini gua ga latihan bareng dulu, gua ada perlu, dan inget cas, Sky dining”
“Iye – iye, buru – buru banget sih lu?”
“Gua sibuk, mau belajar, sebentar lagi liburan soalnya, gua perlu belajar banyak hal”
Waktu itu sudah hampir menjelang masa dimana kita akan menghadapi UTS, padahal baru beberapa minggu kuliah tapi sesaat lagi kita akan UTS, saat aku sedang kesal – kesalnya dengan Nathan, aku pulang kerumah yang jaraknya hanya 400 meter dari rumah Ale, sesampainya dirumah ada telephone dari nomor asing, karena dari kode di depan nomornya yang bukan +62
“Halo, whose speaking” Ucapku
“Graham Xaphier here, Do I Speaking with Larasati?”
“Hahaha kamu ras, ada apa telephone?”
“4 minggu lagi aku pulang ke Jakarta, kamu jemput aku ya” Ucapnya dengan aksen yang aneh
“Maksa kamu ras”
“Hahaha teach me how, Indonesian Accent so difficult”
“Sering – sering ngomong sama aku, pahami pelafalannya aja”
“OK, jemput aku ya, miss you”
“Iya, miss you too”
Kemudian terbayang wajah Laras yang ceria, bukan wajah Nathan yang penuh kebencian, sehingga semalaman itu aku asik berfantasi dan mengandai – andai menghabiskan waktu bersama Laras
Saat asik berfantasi telephone masuk dari Papa membuyarkan semua fantasiku
“Halo pa?”
“Halo ham, papa barusan kirim email ke kamu design undangannya, dan papa rencana mau ada lamaran minggu ini, kamu tolong cetakin Undangannya, dan kamu bisa minta tolong chynthia, Papa kayanya malam ini menginap di hotel, ada survei tempat”
“Iya pa, bye pa”
“Bye”
Sendirian dirumah? Tenang, ada Keket nanti di rumah ini, aku takut kalau tidur sendirian, jadi aku minta di temani keket saja
“Thia, besok ikut gua ke percetakan ya, dan Papa ada rencana melakukan lamaran minggu ini” Sent via Whatsapp to Chynthia
“Ok, jangan lupa pacar lu yang tadi di undang ya ham, kalau perlu itu yang orangnya agak pendek juga”
“Apa sih Thia? Cemburu ya? Hahahaha, itu tadi kan yang gua gendong yang waktu itu demo club basket pas kita orientasi kan!”
“Sorry cemburuin lu mah nggak kelas, dah gua lanjut kerja dulu”
“Kerja apa? Kenapa kerja?”
“Model, karena gua senang”
“Oh, gua kirain lu kerja part time apa gitu, selamat kerja ya”
0