- Beranda
- Sejarah & Xenology
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
...
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Arabia
Bizantin
Double Envelopment
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Garnisun
Ghassan
Imperium
Kavaleri
Kekhalifahan
Khalifah
Levant
Mesopotamia
Negara Vasal
Persia-Sassanid
Romawi
Syam
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.
Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.
Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.
Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.
Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.
Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.
Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.
Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.
Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.
Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.
Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.
Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.
Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.
Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.
Romawi
Lihat Bizantin.
Syam
Lihat Levant.
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
plonard
#224
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
(Halaman 1)
Malik bin Nuwayrah adalah kepala Bani Yarbu’, sebuah klan besar dari suku yang disegani, yaitu Bani Tamim. Mereka mendiami daerah timur laut Arabia, di utara Bahrayn. Karena lokasi ini dekat dengan Persia, sebagian Bani Tamim memeluk agama Zoraster, tetapi sebagian besar dari mereka masih menyembah berhala ketika Islam datang di Arab. Klan Malik sendiri berlokasi di Butah.[2] (Lihat Peta 8).
Malik adalah seorang kepala klan berdarah bangsawan. Ia terkenal dengan kedermawanan dan keramahannya pada tamu. Ia senantiasa menyalakan api penerangan di luar rumahnya sepanjang malam agar musafir yang lalu lalang mengetahui di mana mereka bisa mencari tempat bermalam dan tempat untuk memperoleh bekal makanan. Ia bahkan senantiasa bangun di malam hari untuk mengecek lampu apinya itu. Malik adalah seorang laki-laki yang tampan, berambut tebal, dan wajahnya menurut orang-orang di zamannya “seindah bulan”.[3] Ia terampil dalam menggunakan senjata dan terkenal dengan keberanian serta kekesatriaannya. Ia juga penyair yang handal. Demikiannlah Malik memiliki semua kualitas yang diidam-idamkan semua laki-laki Arab saat itu. Ia memiliki segalanya!
Layla adalah anak perempuan Al-Minhal, ia dipanggil juga dengan nama Ummu Tamim. Ia adalah seorang perempuan yang sangat cantik dan mungkin salah satu yang tercantik di Arab. Kabar tentang kecantikannya ini tersebar secara luas. Ia dikenal memiliki mata dan kaki yang indah. Ia pun memiliki segalanya![4]
Ketika tiba di usia siap nikah, perempuan ini dilamar oleh banyak laki-laki dari berbagai penjuru Arab, tetapi mereka semua ditolak. Kemudian, ia bertemu Malik yang ditakdirkan untuk masuk dalam lembaran kehidupannya. Dengan demikian, Malik dengan segala kelebihan yang ia miliki, sekarang memiliki istri yang paling cantik pula.
Malik bin Nuwayrah benar-benar mendapatkan kehidupan yang sempurna. Sempurna, tetapi tanpa keimanan.
Di Tahun Delegasi, ketika Bani Tamim memeluk Islam, Malik juga mengikuti tren dan masuk Islam. Dengan posisinya yang terkemuka di sukunya, ditambah lagi dengan bakat kepemimpinannya yang tidak diragukan lagi, Nabi yang mulia menunjuknya sebagai wakilnya pada Klan Bani Handzhalah (klan yang menaungi Bani Yarbu’-pent). Tanggung jawab utamanya adalah pengumpul zakat dan mengirimkan zakat tersebut ke Madinah.
Malik menjalankan tugasnya dengan jujur dan efisien untuk beberapa waktu. Kemudian Nabi mulia wafat. Ketika kabar meninggalnya nabi sampai di Butah, Malik baru saja mengumpulkan zakat dalam jumlah besar dan siap untuk dikirim ke Madinah. Ia kemudian lupa dengan sumpah jabatannya dan membuka semua peti zakat, kemudian mengembalikan semua zakat tersebut kepada pembayar zakat semula. Ia kemudian mengumumkan, “Wahai Bani Handzhalah! Harta kalian ini sekarang milik kalian.”[5] Malik telah murtad.
Sajah adalah anak perempuan Al-Harits. Ia lahir di dalam keluarga pembesar suku. Ia memiliki bakat dalam kepemimpinan, kepribadian, dan kecerdasan. Bakat ini tidak banyak dimiliki perempuan di masa itu. Ia juga adalah seorang peramal dan penyair, sampai-sampai hampir semua perkataannya dalam bentuk syair. Ketika orang berbicara dengannya, ia menjawab dengan sajak yang paling cocok.
Di kemudian hari, ia dikenal juga sebagai Ummu Sadirah. Dari jalur ayahnya, ia juga adalah anggota Bani Yarbu’ dan sanak saudara Malik bin Nuwayrah. Tetapi dari ibunya, ia adalah anggota Suku Taghlib, sebuah sub-suku Rabi’ah yang tinggal di daerah Iraq. Sajah hidup di perkampungan Suku Taghlib yang memeluk agama Kristen, dan karena pengaruh ibunya, Sajah juga menjadi seorang Kristen meskipun ia tidak terlalu taat, sama seperti kebanyakan anggota Suku Taghlib lainnya, sebagaimana yang akan kita lihat nanti.
Ketika kemurtadan mulai menyebar, Sajah mendengar kabar tentang Thulayhah dan Musaylimah yang mengumumkan kenabian mereka. Imajinasinya yang terlalu kuat memancingnya untuk melakukan hal yang sama. Mengapa hanya laki-laki yang menjadi nabi? Mengapa perempuan tidak dapat meraih derajat sakral kenabian? Karena dasar sifat hatinya yang juga gemar berspekulasi, ia pun jatuh dalam godaan ini. “Aku adalah seorang nabiyah!” umumnya sambil menambahkan sejumlah sya’ir yang ia klaim sebagai ayat.
Catatan Kaki Halaman 1
[1] Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim. Shahihul Jami’us Saghir No. 7417-7418.
[2] Butah pada masa kini tidak lebih dari perkampungan Arab Badui 14 mil (26 km-pent) di barat daya agak ke selatan dari Kota Ras. Tetapi tampak bahwa perkampungan ini pernah menjadi kota yang lebih besar di masa lalu.
[3] Baladzuri: hlm. 108.
[4] Isfahani: Vol.14, hlm. 65. “Di masanya hidup, dikabarkan bahwa tidak ada kaki yang pernah terlihat lebih indah daripada kakinya.”
[5] Baladzuri: hlm. 107.
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)
Hampir semua anggota klan ibunya menerima dirinya sebagai nabiyah serta menyatakan kesetiaan mereka padanya. Hal ini adalah hal yang cukup aneh mengingat mereka telah memeluk Krsiten. Sajah membentuk pasukan bersenjata dan masuk ke Arabia, pertama ke perkampungan suku ayahnya yang ikut mendukung pergerakannya. Tidak diragukan lagi bahwa kebanyakan dari pengikutnya, dari tetua-tetua sampai anggota klan biasa, termotivasi dengan niat memperoleh harta rampasan perang dan menyelesaikan dendam lama pada sejumlah suku musuh mereka di timur laut Arabia.
Melihat kesuksesannya memperoleh pengikut, ia tiba di Al-Hazn dengan pasukan besarnya ini dan mengirim utusan kepada sanak saudaranya, Malik bin Nuwayrah.[1] Sajah mengajukan sebuah pasal perjanjian: mereka akan beroperasi bersama melawan suku-suku musuh dan kemudian memerangi kekuatan Muslim di Madinah. Untuk memastikan agar Malik yakin bahwa ia tidak memiliki keinginan untuk menyerang Bani Yarbu’, ia mengumumkan, “Aku hanyalah seorang perempuan dari Bani Yarbu’. Tanah ini tetap milik kalian.”[2]
Malik menerima pengajuan Sajah dan ia menyetujui pasal ini. Namun, Malik meredam semangat perang Sajah dan membujuknya untuk tidak berperang melawan Muslim. Kejadian ini berlangsung pada bulan Juni 632 M.
Pasukan gabungan Malik dan Sajah sekarang melancarkan serangan pada suku-suku yang pernah mengganggu Bani Tamim dan Taghlib. Tidak ada motivasi relijius dalam operasi ini, motivasi utama mereka adalah pembalasan dendam dan nafsu untuk merebut harta rampasan perang. Setiap suku yang melawan, mereka taklukkan dan mereka rampas hartanya. Malik pun dengan jelas bergabung dalam gerakan sang nabiyah palsu ini dan pengikutnya bertempur bersama pasukan Sajah dalam serbuan-serbuan tersebut. Namun, tidak tercatat adanya keterlibatan Malik secara langsung pada operasi-operasi ini.
Kemudian, Sajah berangkat untuk menyerbu dan membumihanguskan Nabbaj serta daerah-daerah sekitarnya.[3] Dan di lokasi ini, ia mendapatkan perlawanan keras. Klan-klan lokal yang memiliki kekhawatiran akan kekuatan perempuan ini, bersatu untuk melawan dan berlangsunglah sebuah pertempuran. Pertempuran ini bukanlah pertempuran besar, tetapi Sajah mendapat pukulan telak meskipun menang; sejumlah pimpinan pasukannya tertawan oleh musuh dan musuh menolak untuk melepaskan mereka kecuali Sajah berjanji untuk meninggalkan perkampungan mereka. Sajah pun menuruti kemauan mereka.
Tetua-tetua suku yang mengikutinya sekarang bertanya kepada nabiyah palsu mereka, “Ke mana kita sekarang?”.
“Ke Yamamah,” jawabnya.
“Tetapi orang-orang Yamamah adalah prajurit yang kuat. Musaylimah pemimpin mereka adalah seorang yang sangat berkuasa,” timpal mereka.
“Ke Yamamah!” tegas Sajah dan dilanjutkan dengan sya’ir,
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Lokasi Hazn tidak pasti, tetapi berdasarkan informasi lokal di Hayl, lokasinya sama dengan Hazm yang berada di antara Samirah dan Butah. Hal ini terlihat mendukung pernyataan Yaqut (Vol. 1, hlm. 661) bahwa lokasinya berada di dekat Butah.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 496.
[3] Nabbaj adalah daerah yang sekarang menjadi Nabqiyah (disebut juga Nabjiyah oleh penduduknya), 25 mil (40 km-pent) di timur laut Buraydah. Sekarang, daerah ini hanyalah sebuah desa; di masa lalu, daerah ini merupakan kota yang cukup besar.
[4] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 498.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)
Musaylimah Sang Pendusta adalah musuh negara Islam yang paling kuat dan mengancam keberadaan negara baru ini. Ia adalah anak dari Habib, dari Suku Bani Hanifah, salah satu suku terbesar di Arabia yang mendiami daerah Yamamah.
Musaylimah masuk ke panggung sejarah pada akhir tahun 9 H, Tahun Delegasi. Saat itu, ia pergi bersama sebuah delegasi dari Bani Hanifah menuju Madinah. Delegasi ini terdiri dari dua orang terkemuka yang memiliki pengaruh besar pada Musaylimah dan sukunya. Salah seorang dari mereka membantu Musaylimah memperoleh kekuasaan dan seorang lainnya menyelamatkan sukunya dari kebinasaan. Kedua orang ini secara berurutan sesuai perannya tadi adalah Nahar Ar-Rajjal bin ‘Unfuwah [1] dan Muja’ah bin Mararah.
Delegasi ini tiba di Madinah. Unta-unta mereka diikat di perkemahan mereka dan Musaylimah ditinggal di kemah untuk berjaga sementara delegasi menemui nabi. Delegasi ini mengakui kekuasaan nabi dan masuk Islam. Seperti biasa, nabi memberikan mereka hadiah dan ketika mereka menerima hadiah ini, salah seorang berkata, “Kami meninggalkan rekan kami di kemah untuk menjaga tunggangan kami.” Nabi menitipkan hadiah untuknya sambil berkata, “Ia bukanlah orang yang lebih buruk dari kalian meskipun ia tinggal untuk menjaga barang-barang rekan-rekannya.”[2] Kata-kata ini nantinya akan diselewengkan oleh Musaylimah untuk keuntungan dirinya sendiri.
Sekembali mereka ke kampung mereka, delegasi ini mengajarkan Islam kepada Bani Hanifah. Seluruh suku masuk Islam. Mereka membangun sebuah masjid di Yamamah dan mulai melaksanakan shalat wajib secara rutin.
Kemudian waktu beberapa bulan berlalu. Musaylimah meninggalkan agamanya dan mengumumkan kenabian dirinya sendiri. Ia mengumpulkan anggota-anggota sukunya, lalu mengumumkan kepada mereka sambil membawa kata-kata Muhammad, “Aku telah diberikan sebagian dari kenabiannya. Tidakkah ia berkata kepada delegasi kita bahwa aku tidak lebih buruk daripada mereka? Ini artinya bahwa ia mengetahui bahwa aku mendapatakan bagian dari kenabian.”[3]
Ia kemudian menebarkan pesonanya di kerumunan dengan trik-triknya yang memukau. Ia adalah tukang sulap yang ahli dan bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang umumnya. Ia bisa memasukkan telur ke dalam botol; ia bisa memotong bulu burung dan memasangnya lagi sehingga burung itu bisa terbang lagi; dan ia menggunakan keahlian sulapnya ini untuk meyakinkan orang-orang bahwa ia benar-benar diutus oleh langit. Ia berceramah di depan kaumnya sebagai seorang utusan Allah dan mengarang sejumlah sya’ir yang ia sampaikan kepada kaumnya sebagai wahyu. Kebanyakan dari ayat-ayatnya ini memuji sukunya sendiri, yaitu Bani Hanifah, di atas Quraysy. Namun beberapa di antaranya berisi kata-kata yang sangat konyol seperti halnya,
Dan kaumnya terkagum-kagum dengannya dan mereka menjadi pengikutnya. Anehnya, mereka tidak meragukan atau membantah kenabian Muhammad. Mereka menerima Muhammad sebagai Rasulullah. Tetapi mereka juga menerima Musylimah sebagai nabi rekanannya, sebagaimana yang diklaim oleh Musaylimah.
Sedikit demi sedikit, pengaruh dan kekuasaan Musaylimah meningkat. Sampai pada akhirnya, di akhir tahun 10 H, ia mengirim surat kepada Nabi Muhammad berisi,
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Sejumlah sejarawan awal mencatat namanya sebagai Rahhal.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 576-577.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
(Halaman 1)
“Kiamat tidak akan datang sampai muncul tiga puluh dajjal pendusta, masing-masing mengaku bahwa dirinya adalah seorang utusan Allah, seorang nabi, tetapi aku adalah penutup dari para nabi: tidak ada nabi setelahku.“[Nabi Muhammad (SAW)][1]
Malik bin Nuwayrah adalah kepala Bani Yarbu’, sebuah klan besar dari suku yang disegani, yaitu Bani Tamim. Mereka mendiami daerah timur laut Arabia, di utara Bahrayn. Karena lokasi ini dekat dengan Persia, sebagian Bani Tamim memeluk agama Zoraster, tetapi sebagian besar dari mereka masih menyembah berhala ketika Islam datang di Arab. Klan Malik sendiri berlokasi di Butah.[2] (Lihat Peta 8).
Malik adalah seorang kepala klan berdarah bangsawan. Ia terkenal dengan kedermawanan dan keramahannya pada tamu. Ia senantiasa menyalakan api penerangan di luar rumahnya sepanjang malam agar musafir yang lalu lalang mengetahui di mana mereka bisa mencari tempat bermalam dan tempat untuk memperoleh bekal makanan. Ia bahkan senantiasa bangun di malam hari untuk mengecek lampu apinya itu. Malik adalah seorang laki-laki yang tampan, berambut tebal, dan wajahnya menurut orang-orang di zamannya “seindah bulan”.[3] Ia terampil dalam menggunakan senjata dan terkenal dengan keberanian serta kekesatriaannya. Ia juga penyair yang handal. Demikiannlah Malik memiliki semua kualitas yang diidam-idamkan semua laki-laki Arab saat itu. Ia memiliki segalanya!
Layla adalah anak perempuan Al-Minhal, ia dipanggil juga dengan nama Ummu Tamim. Ia adalah seorang perempuan yang sangat cantik dan mungkin salah satu yang tercantik di Arab. Kabar tentang kecantikannya ini tersebar secara luas. Ia dikenal memiliki mata dan kaki yang indah. Ia pun memiliki segalanya![4]
Ketika tiba di usia siap nikah, perempuan ini dilamar oleh banyak laki-laki dari berbagai penjuru Arab, tetapi mereka semua ditolak. Kemudian, ia bertemu Malik yang ditakdirkan untuk masuk dalam lembaran kehidupannya. Dengan demikian, Malik dengan segala kelebihan yang ia miliki, sekarang memiliki istri yang paling cantik pula.
Malik bin Nuwayrah benar-benar mendapatkan kehidupan yang sempurna. Sempurna, tetapi tanpa keimanan.
Di Tahun Delegasi, ketika Bani Tamim memeluk Islam, Malik juga mengikuti tren dan masuk Islam. Dengan posisinya yang terkemuka di sukunya, ditambah lagi dengan bakat kepemimpinannya yang tidak diragukan lagi, Nabi yang mulia menunjuknya sebagai wakilnya pada Klan Bani Handzhalah (klan yang menaungi Bani Yarbu’-pent). Tanggung jawab utamanya adalah pengumpul zakat dan mengirimkan zakat tersebut ke Madinah.
Malik menjalankan tugasnya dengan jujur dan efisien untuk beberapa waktu. Kemudian Nabi mulia wafat. Ketika kabar meninggalnya nabi sampai di Butah, Malik baru saja mengumpulkan zakat dalam jumlah besar dan siap untuk dikirim ke Madinah. Ia kemudian lupa dengan sumpah jabatannya dan membuka semua peti zakat, kemudian mengembalikan semua zakat tersebut kepada pembayar zakat semula. Ia kemudian mengumumkan, “Wahai Bani Handzhalah! Harta kalian ini sekarang milik kalian.”[5] Malik telah murtad.
Sajah adalah anak perempuan Al-Harits. Ia lahir di dalam keluarga pembesar suku. Ia memiliki bakat dalam kepemimpinan, kepribadian, dan kecerdasan. Bakat ini tidak banyak dimiliki perempuan di masa itu. Ia juga adalah seorang peramal dan penyair, sampai-sampai hampir semua perkataannya dalam bentuk syair. Ketika orang berbicara dengannya, ia menjawab dengan sajak yang paling cocok.
Di kemudian hari, ia dikenal juga sebagai Ummu Sadirah. Dari jalur ayahnya, ia juga adalah anggota Bani Yarbu’ dan sanak saudara Malik bin Nuwayrah. Tetapi dari ibunya, ia adalah anggota Suku Taghlib, sebuah sub-suku Rabi’ah yang tinggal di daerah Iraq. Sajah hidup di perkampungan Suku Taghlib yang memeluk agama Kristen, dan karena pengaruh ibunya, Sajah juga menjadi seorang Kristen meskipun ia tidak terlalu taat, sama seperti kebanyakan anggota Suku Taghlib lainnya, sebagaimana yang akan kita lihat nanti.
Ketika kemurtadan mulai menyebar, Sajah mendengar kabar tentang Thulayhah dan Musaylimah yang mengumumkan kenabian mereka. Imajinasinya yang terlalu kuat memancingnya untuk melakukan hal yang sama. Mengapa hanya laki-laki yang menjadi nabi? Mengapa perempuan tidak dapat meraih derajat sakral kenabian? Karena dasar sifat hatinya yang juga gemar berspekulasi, ia pun jatuh dalam godaan ini. “Aku adalah seorang nabiyah!” umumnya sambil menambahkan sejumlah sya’ir yang ia klaim sebagai ayat.
Catatan Kaki Halaman 1
[1] Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim. Shahihul Jami’us Saghir No. 7417-7418.
[2] Butah pada masa kini tidak lebih dari perkampungan Arab Badui 14 mil (26 km-pent) di barat daya agak ke selatan dari Kota Ras. Tetapi tampak bahwa perkampungan ini pernah menjadi kota yang lebih besar di masa lalu.
[3] Baladzuri: hlm. 108.
[4] Isfahani: Vol.14, hlm. 65. “Di masanya hidup, dikabarkan bahwa tidak ada kaki yang pernah terlihat lebih indah daripada kakinya.”
[5] Baladzuri: hlm. 107.
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)
Hampir semua anggota klan ibunya menerima dirinya sebagai nabiyah serta menyatakan kesetiaan mereka padanya. Hal ini adalah hal yang cukup aneh mengingat mereka telah memeluk Krsiten. Sajah membentuk pasukan bersenjata dan masuk ke Arabia, pertama ke perkampungan suku ayahnya yang ikut mendukung pergerakannya. Tidak diragukan lagi bahwa kebanyakan dari pengikutnya, dari tetua-tetua sampai anggota klan biasa, termotivasi dengan niat memperoleh harta rampasan perang dan menyelesaikan dendam lama pada sejumlah suku musuh mereka di timur laut Arabia.
Melihat kesuksesannya memperoleh pengikut, ia tiba di Al-Hazn dengan pasukan besarnya ini dan mengirim utusan kepada sanak saudaranya, Malik bin Nuwayrah.[1] Sajah mengajukan sebuah pasal perjanjian: mereka akan beroperasi bersama melawan suku-suku musuh dan kemudian memerangi kekuatan Muslim di Madinah. Untuk memastikan agar Malik yakin bahwa ia tidak memiliki keinginan untuk menyerang Bani Yarbu’, ia mengumumkan, “Aku hanyalah seorang perempuan dari Bani Yarbu’. Tanah ini tetap milik kalian.”[2]
Malik menerima pengajuan Sajah dan ia menyetujui pasal ini. Namun, Malik meredam semangat perang Sajah dan membujuknya untuk tidak berperang melawan Muslim. Kejadian ini berlangsung pada bulan Juni 632 M.
Pasukan gabungan Malik dan Sajah sekarang melancarkan serangan pada suku-suku yang pernah mengganggu Bani Tamim dan Taghlib. Tidak ada motivasi relijius dalam operasi ini, motivasi utama mereka adalah pembalasan dendam dan nafsu untuk merebut harta rampasan perang. Setiap suku yang melawan, mereka taklukkan dan mereka rampas hartanya. Malik pun dengan jelas bergabung dalam gerakan sang nabiyah palsu ini dan pengikutnya bertempur bersama pasukan Sajah dalam serbuan-serbuan tersebut. Namun, tidak tercatat adanya keterlibatan Malik secara langsung pada operasi-operasi ini.
Kemudian, Sajah berangkat untuk menyerbu dan membumihanguskan Nabbaj serta daerah-daerah sekitarnya.[3] Dan di lokasi ini, ia mendapatkan perlawanan keras. Klan-klan lokal yang memiliki kekhawatiran akan kekuatan perempuan ini, bersatu untuk melawan dan berlangsunglah sebuah pertempuran. Pertempuran ini bukanlah pertempuran besar, tetapi Sajah mendapat pukulan telak meskipun menang; sejumlah pimpinan pasukannya tertawan oleh musuh dan musuh menolak untuk melepaskan mereka kecuali Sajah berjanji untuk meninggalkan perkampungan mereka. Sajah pun menuruti kemauan mereka.
Tetua-tetua suku yang mengikutinya sekarang bertanya kepada nabiyah palsu mereka, “Ke mana kita sekarang?”.
“Ke Yamamah,” jawabnya.
“Tetapi orang-orang Yamamah adalah prajurit yang kuat. Musaylimah pemimpin mereka adalah seorang yang sangat berkuasa,” timpal mereka.
“Ke Yamamah!” tegas Sajah dan dilanjutkan dengan sya’ir,
“Maju ke Yamamah!
Bersama terbangnya merpati di langit yang tinggi;
menuju tempat pertempuran yang paling sengit;
dan tidak akan ada celaan pada kalian.
Ayo maju ke Yamamah!”[4]
Bersama terbangnya merpati di langit yang tinggi;
menuju tempat pertempuran yang paling sengit;
dan tidak akan ada celaan pada kalian.
Ayo maju ke Yamamah!”[4]
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Lokasi Hazn tidak pasti, tetapi berdasarkan informasi lokal di Hayl, lokasinya sama dengan Hazm yang berada di antara Samirah dan Butah. Hal ini terlihat mendukung pernyataan Yaqut (Vol. 1, hlm. 661) bahwa lokasinya berada di dekat Butah.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 496.
[3] Nabbaj adalah daerah yang sekarang menjadi Nabqiyah (disebut juga Nabjiyah oleh penduduknya), 25 mil (40 km-pent) di timur laut Buraydah. Sekarang, daerah ini hanyalah sebuah desa; di masa lalu, daerah ini merupakan kota yang cukup besar.
[4] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 498.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)
Musaylimah Sang Pendusta adalah musuh negara Islam yang paling kuat dan mengancam keberadaan negara baru ini. Ia adalah anak dari Habib, dari Suku Bani Hanifah, salah satu suku terbesar di Arabia yang mendiami daerah Yamamah.
Musaylimah masuk ke panggung sejarah pada akhir tahun 9 H, Tahun Delegasi. Saat itu, ia pergi bersama sebuah delegasi dari Bani Hanifah menuju Madinah. Delegasi ini terdiri dari dua orang terkemuka yang memiliki pengaruh besar pada Musaylimah dan sukunya. Salah seorang dari mereka membantu Musaylimah memperoleh kekuasaan dan seorang lainnya menyelamatkan sukunya dari kebinasaan. Kedua orang ini secara berurutan sesuai perannya tadi adalah Nahar Ar-Rajjal bin ‘Unfuwah [1] dan Muja’ah bin Mararah.
Delegasi ini tiba di Madinah. Unta-unta mereka diikat di perkemahan mereka dan Musaylimah ditinggal di kemah untuk berjaga sementara delegasi menemui nabi. Delegasi ini mengakui kekuasaan nabi dan masuk Islam. Seperti biasa, nabi memberikan mereka hadiah dan ketika mereka menerima hadiah ini, salah seorang berkata, “Kami meninggalkan rekan kami di kemah untuk menjaga tunggangan kami.” Nabi menitipkan hadiah untuknya sambil berkata, “Ia bukanlah orang yang lebih buruk dari kalian meskipun ia tinggal untuk menjaga barang-barang rekan-rekannya.”[2] Kata-kata ini nantinya akan diselewengkan oleh Musaylimah untuk keuntungan dirinya sendiri.
Sekembali mereka ke kampung mereka, delegasi ini mengajarkan Islam kepada Bani Hanifah. Seluruh suku masuk Islam. Mereka membangun sebuah masjid di Yamamah dan mulai melaksanakan shalat wajib secara rutin.
Kemudian waktu beberapa bulan berlalu. Musaylimah meninggalkan agamanya dan mengumumkan kenabian dirinya sendiri. Ia mengumpulkan anggota-anggota sukunya, lalu mengumumkan kepada mereka sambil membawa kata-kata Muhammad, “Aku telah diberikan sebagian dari kenabiannya. Tidakkah ia berkata kepada delegasi kita bahwa aku tidak lebih buruk daripada mereka? Ini artinya bahwa ia mengetahui bahwa aku mendapatakan bagian dari kenabian.”[3]
Ia kemudian menebarkan pesonanya di kerumunan dengan trik-triknya yang memukau. Ia adalah tukang sulap yang ahli dan bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang umumnya. Ia bisa memasukkan telur ke dalam botol; ia bisa memotong bulu burung dan memasangnya lagi sehingga burung itu bisa terbang lagi; dan ia menggunakan keahlian sulapnya ini untuk meyakinkan orang-orang bahwa ia benar-benar diutus oleh langit. Ia berceramah di depan kaumnya sebagai seorang utusan Allah dan mengarang sejumlah sya’ir yang ia sampaikan kepada kaumnya sebagai wahyu. Kebanyakan dari ayat-ayatnya ini memuji sukunya sendiri, yaitu Bani Hanifah, di atas Quraysy. Namun beberapa di antaranya berisi kata-kata yang sangat konyol seperti halnya,
“Allah telah memberkahi ilmuku.
Ilmuku sekuat hembusan yang keras,
Dari antara pusar dan ususku!”[4]
Ilmuku sekuat hembusan yang keras,
Dari antara pusar dan ususku!”[4]
Dan kaumnya terkagum-kagum dengannya dan mereka menjadi pengikutnya. Anehnya, mereka tidak meragukan atau membantah kenabian Muhammad. Mereka menerima Muhammad sebagai Rasulullah. Tetapi mereka juga menerima Musylimah sebagai nabi rekanannya, sebagaimana yang diklaim oleh Musaylimah.
Sedikit demi sedikit, pengaruh dan kekuasaan Musaylimah meningkat. Sampai pada akhirnya, di akhir tahun 10 H, ia mengirim surat kepada Nabi Muhammad berisi,
“Dari Musaylimah, Rasulullah, kepada Muhammad, Rasulullah. Salam untuk Anda. Aku telah diangkat menjadi sekutu Anda dalam kenabian. Separuh bumi ini adalah untuk kami dan separuh lagi untuk Quraisy. Tetapi kaum Quraisy adalah orang-orang yang melampaui batas.”
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Sejumlah sejarawan awal mencatat namanya sebagai Rahhal.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 576-577.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
Diubah oleh plonard 18-07-2016 10:02
0